Showing posts with label I Won't Fall in Love with School Beauty. Show all posts
Showing posts with label I Won't Fall in Love with School Beauty. Show all posts

Feb 15, 2022

Jan 21, 2020

120. EKSTRA

Dalam satu setengah tahun terakhir, Gu Yu tidak berani mengendur, dan terus mengulas pelajaran sepanjang hari, takut nilainya akan jatuh.

Meski memang pahit, namun hasilnya memuaskan.

Gu Yu berhasil lolos ke universitas yang sama dengan Bo Shangyuan.

Namun sayangnya, karena departemen yang dipilih berbeda, mereka tidak sekelas.

Bo Shangyuan sangat tidak puas dengan ini, tapi Gu Yu merasa bahwa mereka satu universitas itu sudah cukup.

Karena hal ini juga, Gu Yu harus berusaha keras menghibur Bo Shangyuan agar suasana hatinya membaik lagi.

Mereka tidak berada di departemen yang sama, itu berarti mereka tidak bisa selalu bersama saat ketika masih SMA. Ditambah, program akademik yang tidak sama dan gedung pengajaran yang jauh, keduanya lebih sulit bertemu.

Namun, setelah kuliah, hati Gu Yu lebih dewasa jadi meskipun tidak selalu bersama, tetapi karena saling kontak hampir sepanjang waktu jadi dia berpikir tidak ada perbedaan.

… Sedangkan Bo Shangyuan tidak berpikir begitu.

Bo Shangyuan menjadi semakin tampan. Jadi setelah memasuki universitas, belum dua hari, dia sudah dipilih sebagai mahasiswa paling tampan dalam sejarah departemen XX.

Tidak hanya itu, setelah satu bulan kuliah,  Bo Shangyuan dengan kejam sudah menolak lima gadis dan tiga laki-laki (?) yang menyatakan cinta padanya.

Disekolah menengah ataupun di perguruan tinggi, Bo Shangyuan selalu sangat populer.

Gu Yu merasa agak terganggu.

Watak Bo Shangyuan masih sama, dingin dan tidak mudah didekati.

Dengan ini, dia secara alami populer di kalangan anak perempuan, tetapi pada anak laki-laki, itu membuat orang tidak senang.

Kali ini, tiga orang di asrama mulai membahas tujuan untuk pergi diakhir pekan. Namun entah bagaimana, pembahasan mereka berbelok tentang Bo Shangyuan.

Mereka yang satu asrama dengan Gu Yu, menggertakkan gigi tidak senang saat membicarakannya.

“Sial, gadis yang aku incar benar-benar mengatakan dia suka Bo Shangyuan!”

“Gadis yang aku sukai dua hari lalu menyatakan cinta padanya!”

“Sial, hanya tampan saja, memangnya nilainya bagus?”

Salah satu dari mereka tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh ya, bukankah Gu Yu dan Bo Shangyuan dari SMA yang sama?”

“SMA yang sama bukan berarti mereka saling mengenal.”

“Benar, lihat saja watak Bo Shangyuan. Dia tidak suka berinteraksi dengan orang lain.”

Gu Yu ingin mengatakan bahwa dia benar-benar mengenal Bo Shangyuan, tetapi setelah mendengar kalimat terakhir, dia kembali menutup mulutnya.

Pada saat ini, Bo Shangyuan mengiriminya pesan WeChat.

Suami [ Dimana? ]

Bo Shangyuan yang secara pribadi mengganti nama id-nya di ponsel Gu Yu.

[ Di kamar asrama. ]

Keluar makan. ]

[ Oh. ]

Gu Yu bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk pergi keluar.

Setelah melihat gerakannya, tiga orang lainnya segera berbalik untuk bertanya. “Siswa Gu Yu, kau mau kemana?”

“Makan.”

Ketiganya tersenyum tengil dan menepuk pundaknya. “Bagaimana mungkin kau tidak mengajak tiga brother pergi bersama.”

“… Aku pergi dengan seseorang.”

Wajah ketiga lelaki itu berubah gosip. “Siapa.”

Gu Yu diam.

Melihat reaksi Gu Yu, ketiganya segera memutuskan untuk tetap pergi mengikutinya, tidak peduli siapa orang itu.

Sambil memegang bahu Gu Yu, mereka turun ke bawah bersama.

Sosok Bo Shangyuan terpampang nyata tengah berdiri tanpa ekspresi di lantai bawah.

Reaksi pertama dari ketiganya adalah tidak mungkin itu Bo Shangyuan.

Namun, pemikiran itu terbantahkan saat Bo Shangyuan berbalik dan menatap dengan dingin ke arah mereka.

Matanya jatuh pada tangan mereka di bahu Gu Yu, kemudian perlahan menggerakkan matanya ke mereka bertiga, tidak berbicara.

Karena dia tidak bicara, itu semakin terkesan mengerikan.

Gu Yu menunjuk ke arah Bo Shangyuan, dan bertanya. “Itu dia, apa kalian masih ingin ikut?”

Ketiganya segera menggelengkan kepala.

Gu Yu paham, lalu meninggalkan ketiganya, dan menghampiri Bo Shangyuan.

Setelah Gu Yu pergi, ketiganya terhenyak.

“Sial, bukankah kau bilang Bo Shangyuan tidak suka berinteraksi dengan orang lain?”

“Bagaimana aku tahu!”

“Fck, aku menemukan sesuatu! Gu Yu sebenarnya mengenal Bo Shangyuan!”
.
.

Disisi lain, Gu Yu dan Bo Shangyuan sudah pergi jauh.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah …

Bo Shangyuan sangat marah.

Meskipun tidak tahu dimana letak salahnya, Gu Yu berkata, “Aku salah.”

Bo Shangyuan balik bertanya dingin. “Apa yang salah.”

Gu Yu berpikir sejenak dan berkata, “… Aku tidak tahu.”

Gu Yu dengan hati-hati memikirkannya, dia benar-benar tidak tahu di mana dia salah.

Bo Shangyuan hanya menatapnya diam.

Gu Yu menghela nafas.

Oh, cinta sangat sulit untuk dibicarakan.
.
.
.

Pada liburan musim dingin tahun pertama, Bo Shangyuan kembali ke rumah utama Bo bersama Gu Yu.

Dalam hal ini, Gu Yu awalnya menolak.

Karena rumah utama Bo benar-benar menyeramkan. Itu besar dan luas, ada banyak orang, mereka semua mewah dan good looking, penuh momentum.

Dia duduk di sana tampak seperti burung pegar di antara phoenix.

Tetapi nenek Bo secara pribadi memintanya datang untuk tinggal selama beberapa hari.

Gu Yu tidak mungkin menolak, jadi dia hanya bisa setuju.

Setelah setuju, Gu Yu gugup selama beberapa hari.

Namun, ayah dan ibu Gu lebih gugup.

Setelah mereka tahu seperti apa kekayaan keluarga Bo, mereka sekarang melihat Bo Shangyuan bukan lagi orang yang hidup, tetapi cek besar yang bisa berjalan dengan bebas. Pada cek besar itu, tertulis sebuah kata.

Uang.

Dua hari sebelum pergi ke rumah keluarga Bo, ayah dan ibu Gu takut Gu Yu akan mempermalukan keluarga Gu, jadi mereka secara khusus membeli beberapa pakaian baru untuk dia kenakan selama tinggal disana.

Sekalipun keluarga miskin, kau harus mengenakan pakaian yang indah dan cerah, jangan sampai menjatuhkan martabat keluarga!

Sementara ayah dan ibu mertua terlalu banyak berpikir.

Bagi nenek Bo, selama Gu Yu bisa datang untuk menghabiskan liburan saja dia sudah sangat senang. Untuk pemikiran lain, itu tidak ada sama sekali.
.
.

Pada hari H, setelah tiba dirumah utama Bo, pantat Gu Yu masih belum stabil duduk disofa, nenek Bo sudah menekan lembar cek baru ke tangannya tanpa berkata apa-apa.

Gu Yu melihat cek dan matanya kosong.

“?”

Nenek Bo tersenyum dan berkata, “Nenek tidak tahu apa yang kau suka jadi hanya bisa memberikan ini. Di atas sudah dicap, berapa uang yang kau inginkan, kau bisa isi sendiri.”

Gu Yu, “???”

Setelah beberapa saat, Gu Yu bisa menangkap maksud nenek Bo. Dia reflek ingin mengembalikan cek di tangannya. “Aku tidak bisa …”

Bo Shangyuan mencegat pergelangan tangannya.

“Ambil.”

Gu Yu ragu-ragu, “Tapi ini …”

Bo Shangyuan menatapnya dengan tenang dan tidak berbicara.

Gu Yu akhirnya mengurungkan niatnya.

Setelah menyimpannya, Gu Yu tidak bisa menahan diri untuk berbisik, “Nenekmu …”

Bo Shangyuan mengoreksi, “Nenek kita.”

Gu Yu memerah lalu meralat ucapannya, “Nenek … Apa dia sangat murah hati pada semua orang?”

“Tidak.”

Gu Yu berkedip, tanpa sadar bertanya, “Lalu kenapa …”

“Karena kau istri cucunya.”

Gu Yu semakin memerah dan tidak memiliki kata-kata.

Melihat adegan lovey-dovey dua orang itu, nenek Bo merasa bahagia.

Karena setelah bersama Gu Yu, nenek Bo mendapati suasana hati Bo Shangyuan lebih baik dan wajahnya tidak lagi suram dan dingin seperti sebelumnya.

Pada awalnya, ketika ibu Bo berbicara kepadanya bahwa orang yang Bo Shangyuan sukai adalah seorang anak laki-laki, dia tidak setuju. Meskipun dia menyayangi Bo Shangyuan, tetapi bagaimanapun juga, ia adalah generasi yang lebih tua, pemikirannya lebih tradisional. Karena itu, ketika mengetahui hal ini, dia sangat sulit menerima untuk sementara waktu.

Namun, setelah dia benar-benar melihat Gu Yu, prasangka di bawah hatinya tiba-tiba menghilang.

Anak yang disukai Bo Shang Yuan … sangat imut dan tampak baik.

Jika dengan anak ini, dia sepertinya bisa terima.

Nenek Bo tersenyum, “Jika kalian punya waktu, kembalilah kesini dan tinggal bersama nenek.”

Bo Shangyuan dengan lembut melirik nenek Bo. “Baik.”

Mendengar itu, nenek Bo terharu.

Berbicara dengan Bo Shangyuan begitu lama, ini pertama kalinya dia merespon dengan mengucapkan kata baik.

Pada saat ini, putri kecil bibi besar Bo Shangyuan mendatangi mereka.

Anak kecil itu berusia empat tahun, lucu dan lengket, dan baru-baru ini belajar berbicara.

Dia melangkah kecil ke meja kopi dan mengambil jeruk, bersiap untuk mengupasnya.

Tapi jari-jarinya kecil dan pendek jadi hanya bisa seperti menggaruknya dan setelah waktu yang lama, dia masih tidak bisa mengupasnya.

Jadi dia langsung mengulurkan tangan dan menyerahkan jeruk itu ke Gu Yu yang berada paling dekat.

Dia dengan manja berkata, “Kakak, bisa bantu aku mengupas jeruk ini?”

“Oke.”

Gu Yu dengan hati-hati mengupasnya sampai selesai kemudian kembali menyerahkannya.

“Sudah.”

Anak kecil itu tersenyum bahagia dan berkata, “Terima kasih, kakak!”

Kemudian berjinjit dan dengan cepat mencium pipi Gu Yu.

Wajah Bo Shangyuan seketika hitam.

Dia memutuskan untuk menarik kembali kata ‘baik’ tadi.

.
06 April 2019 – 24 September 2019

119. END

Setelah figur Bo Shangyuan menghilang dari pandangan. Ayah Gu kembali mengarahkan matanya ke Gu Yu.

Ekspresi ayah Gu serius dan berkata. “Katakan, jelaskan semuanya dengan rinci.”

Gu Yu mengencangkan jari-jarinya dengan gugup dan perlahan membuka mulutnya.

Satu jam kemudian.

Setelah mendengarkan, ayah Gu terdiam lama.

Disebelahnya, Ibu Gu terisak sambil berkata, “Ini semua salahku. Jika bukan karena aku yang selalu mendesaknya untuk berhubungan baik dengan Bo Shangyuan, ini tidak akan terjadi …”

Mendengar ibu Gu terus terisak dan bicara tanpa henti membuat ayah Gu semakin jengkel. “Sekarang baru kau menyesalinya? Kemana saat aku sudah memberi tahumu dari awal, kau tidak mendengarkanku kan?”

Ibu Gu terus menangis, “Bagaimana aku tahu … kalau akan …”

Ibu Gu tidak bisa melanjutkan.

Ayah Gu mengerutkan kening dan berkata dengan tidak sabar, “Heh, tidak ada obat untuk penyesalan di dunia ini. Sekarang menyesal apa gunanya…”

Ibu Gu tidak lagi berbicara.

Ayah Gu kembali menatap Gu Yu dan bertanya, “Bagaimana menurutmu sekarang?”

Gu Yu menunduk dan meremas jemarinya, diam. Karena terlalu erat, kuku-kukunya mulai memutih.

Setelah sekian lama, ia tampaknya telah mengumpulkan keberanian dan berbisik, “Aku ingin bersamanya.”

Lagi pula, dia … tidak ingin putus.

Meskipun dia tidak mau mengakuinya kalau dia sangat menyukai Bo Shangyuan.

Ayah Gu terdiam lagi.

Di sisi lain, ibu Gu menangis lebih keras sambil terus meracau. “Ini salahku.”

Ayah Gu akhirnya angkat bicara, “Tidak bisa, kalian harus putus.”

Meskipun sudah diperkirakan, tetapi setelah mendengar kalimat ini, mata Gu Yu tetap mulai memanas.

Dia memang sering berbohong di depan mereka, tetapi dia tidak pernah memberontak.

Tapi kali ini, Gu Yu berkata sambil terisak. “Tidak mau.”

Sikap ayah Gu tampak tegas. “Ayah tidak berbicara denganmu, ayah memberitahumu. Putuskan dia besok. Jika kau tidak bisa mengatakannya, kami akan membantumu bicara.”

Setelah mendengarkan kata-kata ini, isakan Gu Yu semakin menjadi, “Kenapa … laki-laki tidak bisa bersama laki-laki, haruskah mereka bersama perempuan? Aku tidak mengerti … Jelas sudah ada undang-undang pernikahan sesama jenis di luar negeri, tetapi aku bahkan tidak bisa bersamanya …”

Ayah Gu acuh tak acuh. “Apa kau pikir karena kalian berdua laki-laki jadi ayah menyuruh kalian putus?”

Isakan Gu Yu tertahan, terkejut.

Bukan?

Ekspresi ayah Gu serius. “Kalian hanya siswa tahun kedua, 17 tahun, dan masih di bawah umur. Bahkan jika aku setuju sekarang, apa kalian bisa menjamin akan terus bersama selamanya dan tidak akan pernah putus?”

Gu Yu menjilat bibirnya dan akan berjanji pada ayah Gu, tapi ayah Gu menyela.

Dia melanjutkan, “Kalian berada di masa remaja, hati kalian tidak pasti. Perasaan kalian saat ini Mungkin hanya kesegaran dan gejolak. Setelah beberapa waktu, rasa itu akan hilang dengan cepat. Begitu rasa kesegaran menghilang, akan terjadi perpisahan. Ayah jelas pernah seusiamu dan disaat itu begitu banyak anak perempuan dan anak laki-laki yang secara diam-diam berkencan tanpa sepengetahuan guru, mereka sudah membahas akan menikah setelah lulus, dan bahkan sudah memilih nama calon anak mereka nanti … Dan ternyata, baru setengah tahun, mereka putus.”

Gu Yu ingin membantah, tetapi ayah Gu memotongnya lagi.

“Bo Shangyuan tinggi dan tampan, dan keluarganya baik. Dia benar-benar menyukaimu sekarang, tetapi apa kau bisa menjamin dia tidak akan menyukai orang lain di masa depan? Ada begitu banyak gadis… dan laki-laki yang menarik diluar sana. Apa kau bisa menjamin dia hanya akan selalu menyukaimu?”

Gu Yu diam.

Dia … tidak bisa menjamin.

Karena itu, ekspresi ayah Gu menjadi semakin serius.

“Untuk gender atau apapun itu, sebenarnya, ayah tidak masalah. Tetapi jika prestasi dan keluarga kalian sama, mungkin, ayah akan memikirkannya, tapi … kesenjangan antara dia dan kau terlalu besar dan…..”

Nada bicara ayah Gu berubah. “Keluarganya sangat kaya, apa mereka akan setuju dia bersama seorang lelaki?”

Secara umum, dikeluarga kaya, hal terpenting adalah memiliki pewaris.

Tidak masalah jika kondisi keluarga pasangan tidak baik, tetapi harus dapat memiliki anak.

Setelah cerita panjang ayah Gu selesai, Gu Yu sama sekali tidak mengucapkan apa pun.

Dia … tidak bisa membantah.

Karena itu, suasana hatinya semakin sedih dan tertekan.

Gu Yu menunduk, menahan rasa sakit ditenggorokannya, mencegah air matanya yang menggenang agar tidak jatuh.

Ibu Gu seberang masih terus meratap dengan sedih, menyeka air mata dan juga menyeka hidungnya membuat permukaan meja hampir dipenuhi tisu bekas.

Ayah Gu melihat jam, lalu berkata. “… Sudah larut, masuk ke kamar dan tidur. Beberapa hari ini, kau tidak boleh keluar, tetap dirumah dan pikirkan baik-baik.”

Gu Yu menggigit bibir bawahnya, dan merespon pelan.

Ayah Gu memandangi penampilannya yang menyedihkan dan tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang.

Dia kemudian menarik ibu Gu untuk bangkit. “Ayo tidur, sudah larut. Jangan menangis lagi, tetangga dilantai bawah akan mendengarmu.”

Ibu Gu patah hati. “Kenapa Yu Yu kita menjadi seperti ini, apa ini semua karena aku? Apa itu karena aku selalu membahas nilainya dan membandingkannya dengan yang lain …”

“Apa gunanya ini sekarang? Jangan bicara lagi, ayo tidur.”

Setelah itu, ayah Gu langsung menyeret ibu Gu masuk ke kamar.

Disisi lain, Gu Yu masih duduk diam di ruang tamu untuk waktu yang lama, kemudian perlahan berdiri dan berjalan ke kamarnya.

Dia menatap lurus ke depan, matanya kosong.
.
.

Dalam sekejap mata, satu minggu berlalu.

Tujuh hari berlalu dengan cepat, dan Bo Shangyuan masih belum mendapat kabar.

Ayah Gu bilang akan berbicara dengannya dalam beberapa hari, tetapi satu minggu berlalu dan tidak ada info apapun.

Entah itu untuk pesan, telepon, atau datang langsung menemuinya. Mereka seperti menghilang di udara.

Bo Shangyuan lambat laun tidak ada kesabaran.

Dia tahu jelas seperti apa watak Gu Yu.

Lemah lembut, rendah diri, rentan dan tertutup, sangat mudah goyah … Dan jika terus begitu, Bo Shangyuan yakin dia akan minta putus dengannya.

Tapi Bo Shangyuan tidak akan pernah setuju untuk putus.

Tapi sekarang dia tidak bisa menemuinya, tidak bisa menghubunginya, dia tidak punya cara untuk tidak setuju.

Karena itu, seiring berjalannya waktu, suasana hati Bo Shangyuan menjadi semakin buruk.
.
.

Pada hari kesepuluh Gu Yu menghilang, Festival Musim Semi tiba.

Bo Shangyuan tidak ingin pulang, tetapi setelah desakan berulang dari nenek Bo, dia akhirnya dengan enggan harus kembali.

Saat ini, lampu-lampu di rumah utama Bo cerah dan berkilauan, tetapi Bo Shangyuan hanya duduk diam disofa seolah benar-benar terisolasi dari pandangan.

Nenek Bo juga mengundang ibu Bo, lagipula, dia juga ibu dari Bo Shangyuan.  dan belum pernah kembali sekali dalam setahun belakangan ini, tetapi untuk kali ini adalah keharusan.

Nenek Bo sedikit gelisah karena tahu betapa Bo Shangyuan tidak suka pada ibunya itu dan berpikir raut Bo Shangyuan akan berubah jelek setelah melihat kedatangan ibu Bo. Namun, anehnya Bo Shangyuan mengabaikan seolah tidak melihat kehadiran ibu Bo sama sekali.

Dari saat memasuki rumah, setelah menyapa nenek, Bo Shangyuan tampaknya benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri, dan semua yang lain dia abaikan.

Meskipun biasanya memang tidak banyak bicara, tetapi dari penampilannya, Nenek Bo dapat menebak bahwa perasaan Bo Shangyuan tidak terlalu baik.

Jadi, nenek Bo dengan lembut bertanya. “Yuanyuan, ada apa, bad mood?”

Bo Shangyuan tidak menanggapi, seakan tidak mendengar.

Nenek Bo mengangkat nada sedikit lebih tinggi. “Yuanyuan ah, apa kau tidak dengar suara nenek?”

Bo Shangyuan terhenyak, merespon. “Hm? Apa?”

Nenek Bo dengan sabar mengulangi. “Apa suasana hatimu sedang buruk?”

“Tidak.”

Nenek Bo menghela nafas panjang.

Dia neneknya, tentu bisa melihat dia berbohong.

Tetapi karena Bo Shangyuan mengatakan tidak, itu berarti dia tidak ingin mengatakannya.

Jadi Nenek Bo tidak akan bertanya lagi.

Nenek Bo tersenyum, dan beralih bertanya, “Benar, bagaimana dengan gadis yang kau sukai? Kenapa tidak membawanya kali ini? Nenek akan mempersiapkan amplop merah.”

Mendengar itu, bibi besar ( istri dari om paling tua ) Bo Shangyuan yang duduk samping tidak bisa menahan senyum. “Bu, ini benar-benar … Yuanyuan kita masih dibawah umur.”

“Memangnya kenapa dengan anak di bawah umur? Tidak bisa menerima amplop merah?”

Bibi besar menghela nafas. “Bu, maksudku bukan ini … maksudku, Yuanyuan belum dewasa, masih kecil, tidak harus berbicara soal pasangan kan? Ibu malah memintanya membawa gadis yang dia suka untuk diberi amplop merah … “

Tanpa menunggunya selesai bicara, Bo Shangyuan dengan dingin memotong. “Cukup.”

Bo Shangyuan berdiri dari sofa, menarik perhatian semua orang.

Dia kemudian berkata pada nenek Bo, “Nenek, aku akan naik ke kamar.”

Setelah itu, tidak menunggu nenek Bo untuk menanggapi, dan berjalan naik ke lantai atas.

Melihat aura dingin Bo Shangyuan yang tidak wajar, ibu Bo mengerutkan kening, menerka-nerka.
.
.

Setelah tinggal di rumah utama Bo selama tiga hari, Bo Shangyuan bersiap kembali kerumah. Nenek Bo terus membujuknya untuk tinggal lebih lama, tetapi dia tidak goyah, dan akhirnya tetap kembali.

Setelah masuk kerumah dan berdiri ruang tamu besar yang kosong, Bo Shangyuan memejamkan matanya sejenak.

Dia merasa agak menyesal.

Dia menyesal, ketika Gu Yu masih tinggal bersamanya, kenapa dia tidak bertindak dengan tegas dan membawanya pergi?

Saat ini, sisi lain.

Gu Yu terkurung selama hampir dua minggu.

Dalam dua minggu terakhir, Gu Yu tidak pernah keluar bahkan tidak nafsu makan.

Melihat ini, ibu Gu tidak tahan lagi dan memohon pada ayah Gu untuk mengijinkannya pergi keluar se-kali.

Keluar dengan kata lain, bertemu Bo Shangyuan.

Tapi Gu Yu masih terkurung dirumah.

Dia tidak memikirkan apa-apa, hanya duduk dan tidak bergerak.

Tetapi dia merasa … sangat lelah.

Hatinya lelah.

Selama periode ini, Shen Teng, Jin Shilong dan bahkan Duan Lun mengirim pesan kepadanya, tetapi dia tidak membalas.

Termasuk Bo Shangyuan.

Berbeda dari ketiganya karena dia tidak ingin bergerak, sementara untuk Bo Shangyuan, ayah Gu tidak mengijinkan untuk menghubunginya.

Situasi yang tetap menemui jalan buntu ini terus berlanjut sampai awal semester berikutnya. Pada saat ini, Gu Yu menerima dua pesan.

Aku sakit. ]

Tubuhku panas dingin. ]

Gu Yu mematung sejenak, dia perlahan berdiri dari kursi dan bersiap untuk pergi.

Tapi sebelum dia sampai di pintu masuk, ayah Gu menghentikannya.

Ayah Gu mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Mau kemana?”

Gu Yu memandangi wajah ayahnya yang curiga dan perlahan menundukkan kepala.

“… Dia sakit.”

Ayah Gu tidak bodoh, dia disini tentu merujuk pada Bo Shangyuan.

“Sakit apa.”

Gu Yu menundukkan kepalanya dan dengan gugup berkata, “Aku tidak tahu, dia bilang … tubuhnya panas dingin.”

“Mungkin demam.”

Gu Yu ingin mengatakan sesuatu, tetapi ayah Gu kembali bicara. “Ayah akan membawakan obat untuknya, kau tetap tinggal di rumah.”

Mendengar itu, Gu Yu merasa tidak berdaya. “Aku … Aku ingin … ingin melihatnya.”

Ini pertama kalinya dia mendengar Bo Shangyuan sakit, dia khawatir.

Tapi ayah Gu sangat dingin.

“Ini bukan penyakit serius. Kau tidak boleh pergi menemuinya. Tetap diam dirumah.”

Mata Gu Yu merah.

Dia terisak, “Aku hanya pergi untuk melihatnya … Ayah.”

“Tidak.”

Setelah itu, ayah Gu pergi mengambil obat dan bersiap untuk pergi ke rumah sebelah.

Gu Yu menatap punggung ayahnya dengan kesedihan, dia terus menyeka air matanya.

Ayah Gu tengah mengganti sepatu namun pada saat ini, pintu diketuk dari luar.

Kemudian suara wanita lembut dan manis terdengar.

“Permisi, apa ini rumah siswa Gu Yu?”

Mendengar itu, ayah Gu dengan ragu membuka pintu.

Setelah melihat sosok seorang wanita tinggi dan cantik di luar pintu. Ekspresi ayah Gu bingung. “Benar ini rumahnya, tapi kau …?”

Ketika melihat wanita di luar pintu, Gu Yu yang tengah sibuk menyeka air mata seketika tertegun.

Wanita itu memandang ayah Gu dan tersenyum. “Halo, aku ibu dari Bo Shangyuan.”

Ayah Gu terkejut sejenak.

“Oh… halo, tetapi ada apa kau datang untuk mencari anakku …”

Ibu Bo tersenyum ringan. “Anak kami Shangyuan tampak tidak terlalu baik belakangan ini, jadi aku datang dan ingin bertanya pada anakmu apa dia tahu penyebabnya.”

Ayah Gu terdiam beberapa saat, kemudian menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk ibu Bo.

“Masuklah, aku akan memberitahumu.”

Ibu Bo mengangguk, “Oke.”

Setelah mengganti sepatu, ibu Bo melangkah masuk dan tersenyum lembut pada Gu Yu yang berdiri di ruang tamu.

“Kenapa kau menangis? Apa kau bertengkar dengan ayah dan ibumu?”

Gu Yu meremas jari-jarinya, tidak berbicara.

Meskipun dia telah melihat ibu Bo sebelumnya, namun itu hanya dari jauh dan tidak benar-benar berinteraksi.

Karena itu, dia tidak yakin, bagaimana reaksi ibu Bo setelah tahu dia berkencan dengan Bo Shangyuan.

Saat memikirkan ini, Gu Yu tidak berani mengangkat kepalanya.

Ayah Gu menatapnya dan berkata, “Masuk ke kamarmu dulu.”

Gu Yu bergumam patuh dan hendak kembali ke kamar, namun dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Dia kembali menatap ayah Gu.

Ayah Gu mengerti, rautnya berubah jelek. “Jangan pikirkan itu, kau tidak boleh pergi, kembali ke kamar.”

Mendengar itu, Gu Yu dengan sedih menggigit bibirnya dan berjalan kembali ke kamar.

Setelah menunggu Gu Yu menutup pintu, ayah Gu dengan ragu berkata pada ibu Bo. “Aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti … Ini berat untuk dikatakan…”

Ibu Bo tersenyum, “Apa maksudmu ini mengenai mereka berdua yang berkencan?”

Ayah Gu tertegun.

“Kau tahu?”

Ibu Bo tersenyum, “Ya.”

Setelah itu, dia kemudian menambahkan kalimat. “Tidak heran kalau Shangyuan memiliki suasana hati yang buruk bekakangan ini. Ternyata seperti ini …”

Ibu Bo mendesah.

Melihat reaksi ibu Bo yang tampak tidak masalah, ayah Gu mengerutkan kening.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu tentang ini?”

Ibu Bo ragu, “Apa yang harus dikatakan? Mengenai mereka yang berkencan?”

“Mereka berdua laki-laki….”

“Sesama lelaki tidak bisa berkencan? Tuan Gu, sekarang abad ke-21.”

Ayah Gu menghela nafas. “Aku juga tidak bermaksud begitu. Aku hanya khawatir bagaimana reaksimu … oh, karena kau tidak masalah, itu bagus.”

Ibu Bo tersenyum. “Karena kau bisa mengerti, kenapa tidak merestui mereka?”

“Mereka terlalu muda, dan pikiran mereka tidak pasti. Cepat atau lambat, akan ada perpisahan. Karena akan putus, lebih baik untuk putus lebih awal, mungkin setelah putus … mereka bisa kembali berubah.”

Ibu Bo menggelengkan kepalanya. “Jika orientasi seksual berubah, tidak mungkin untuk bisa kembali. Aku tahu jelas watak anak kami Shangyuan. Jika dia menyukai seseorang, dia tidak akan pernah mengubah hatinya dengan mudah. ​​Sebaliknya, aku lebih khawatir dengan anakmu …”

Bagaimanapun, lingkungan sekolah relatif sederhana, ketika keluar dan berbaur dengan lingkungan yang lebih luas, itu benar-benar kompleks.

Bo Shangyuan tipe bucin. Begitu menetapkan hatinya pada satu orang, dia tidak akan pernah berubah.

Tapi Gu Yu … Ibu Bo tidak bisa menjaminnya.

Jika Gu Yu nanti berpindah hati di masa depan, tetapi Bo Shangyuan masih setia menyukainya, sungguh kasihan sekali anaknya itu.

Tetapi jika Gu Yu tidak akan mengubah hati nantinya, dan saat ini membiarkan keduanya putus secara paksa… Bukankah itu menghalangi kebahagiaan mereka?

Ibu Bo berpikir dalam-dalam.

Dia kemudian mendongak dan tersenyum, “Karena kau hanya khawatir tentang mereka yang masih dibawah umur dan hati yang tidak pasti. Jadi, bagaimana kalau bertaruh denganku?”

Ayah Gu mengernyitkan alisnya.

Ibu Bo melanjutkan, “Karena kau takut kalau mereka hanya sedang dalam gejolak sesaat, mari biarkan mereka berpisah dulu selama satu setengah tahun, yaitu, sampai mereka lulus SMA. Jika mereka masih saling menyukai, maka saat itu, kita tidak bisa menentang mereka lagi.”

Ayah Gu diam.

Setelah waktu yang lama, ayah Gu akhirnya setuju.

Bo Shangyuan tinggi, tampan, dan sangat baik dari segi prestasi dan sikap. Selain menyukai Gu Yu, dia hampir tidak punya kekurangan.

Jika …

Jika mereka benar-benar saling menyukai, lalu akhirnya bersama, dia bisa punya anak angkat yang tinggi dan tampan.

Ayah Gu teringat sesuatu, bertanya. “Ah, keluargamu -“

Ibu Bo langsung menimpali. “Kau tidak perlu khawatir, aku akan kembali dan meyakinkan.”

Ayah Gu bergumam merespon.

Ibu Bo tersenyum lalu pamit dan pergi.

Setelahnya, ayah Gu memanggil Gu Yu keluar dari kamar. “Apa kau sudah mendengar yang baru saja kami bicarakan? Tentang kalian bisa bersama, tetapi tidak boleh saling bertemu atau menghubungi dulu selama satu setengah tahun kedepan.”

Gu Yu mengangguk.

“Bagaimana dengan jawabanmu? Kau bisa patuh kan?”

Gu Yu agak ragu-ragu.

“Jika kau tidak bisa melakukannya selama satu setengah tahun, berarti saat ini kau hanya mengalami perasaan segar yang sementara. Aku sarankan, lebih baik kalian untuk putus sekarang.”

Mendengar itu, Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, “Baik.”

Ayah Gu menatapnya sejenak lalu menyerahkan obat.

Gu Yu tidak mengerti, “?”

“Berikan obat ini dan katakan padanya dengan jelas.”

Gu Yu mengangguk.
.
.

Gu Yu membuka pintu rumah sebelahdengan kunci pemberian Bo Shangyuan.

Ruangan itu sangat sepi dan sunyi.

Tidak ada seorang pun di ruang tamu, jadi Gu Yu langsung berjalan ke kamar tidur.

Saat membuka pintu kamar, sosok Bo Shangyuan tengah terbaring di tempat tidur, tampak pucat.

Dia melangkah maju dan menyentuh dahinya. Seperti kata ayah Gu, dia demam.

Ini pertama kalinya dia melihat penampilan Bo Shangyuan yang begitu lemah.

Dia menggigit bibirnya dengan sedih, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air hangat.

Gu Yu kembali, duduk ditepi tempat tidur, lalu menepuk-nepuk wajah Bo Shangyuan, berbisik lembut. “Bo Shangyuan, bangunlah. Minum obat dulu.”

Bo Shangyuan perlahan membuka matanya.

Setelah melihat Gu Yu, dia berkata. “Orangtuamu akhirnya mau melepaskanmu?”

Gu Yu bergumam dengan suara rendah dan meletakkan gelas ke ujung mulutnya.

“Minum obat.”

Bo Shangyuan mengunci mulutnya.

“Tidak mau.”

Gu Yu mengerjap tidak mengerti.

Bo Shangyuan mengeluh dengan kesal. “Selama dua minggu kau bahkan tidak pernah membalas satu pun pesanku.”

Ekspresi wajah tertulis ‘Aku marah, ayo hibur aku.’

Gu Yu secara sadar merasa bersalah, berbisik. “Maaf, ayahku… tidak mengijinkanku menghubungimu.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan mencubit pipinya dan berkata dengan dingin, “Kau bisa melakukannya diam-diam.”

Mungkin karena terlalu kesal, cubitan Bo Shangyuan sangat keras hingga membuat tanda merah di wajah Gu Yu.

Karena itu, Gu Yu ikut kesal.

Namun, dia tidak lupa bahwa Bo Shangyuan sedang sakit jadi langsung membuka paksa mulut Bo Shangyuan dan memasukkan obat ke dalam mulutnya.

“Minum obat!”

Setelah obat dimasukkan, dia langsung meminumkannya air hangat.

Setelah melakukan semua ini, Gu Yu kembali membenarkan selimut ditubuh Bo Shangyuan.

“Tidur!”

Nada bicara Gu Yu kasar dan tidak lembut sama sekali, tetapi Bo Shangyuan tidak bisa menahan senyum.

Dia dengan lembut memeluk pinggangnya dan perlahan menutup mata.

Merasakan suhu yang telah lama hilang membuat tubuhnya yang lelah akhirnya rileks.

“Ayo kita kabur.”

Gu Yu, “… ah?”

Bo Shangyuan membuka matanya dan berkata, “Aku punya uang, aku bisa menghidupimu selamanya.”

Gu Yu akhirnya mengerti apa yang dia bicarakan.

“Ayahku, baru saja … setuju kita bersama.”

Ini seharusnya menjadi hal yang bahagia, tetapi ekspresi berat di wajah Gu Yu mengatakan pada Bo Shangyuan bahwa masalah ini tidak sesederhana itu.

Gu Yu melanjutkan, “Tapi … kita harus berpisah selama satu setengah tahun. Dan selama itu, kita tidak boleh bertemu juga saling menghubungi.”

Bo Shangyuan mengangkat alis. “Kau setuju?”

Gu Yu ragu-ragu sejenak dan mengangguk.

Bo Shangyuan menghela napas dan berkata, “Oke.”

Nadanya seakan pasrah pada nasib.

Gu Yu tertegun, “Kau setuju?”

“Menurutmu?”

Gu Yu tidak menyangka Bo Shangyuan akan segera menyetujuinya. Dia tadinya berpikir harus berusaha keras untuk membujuk Bo Shangyuan.

Disisi lain, Bo Shangyuan mengulurkan tangannya untuk perlahan mengelus leher Gu Yu, dan berkata, “Apa kau akan menggoda gadis lain saat aku tidak ada… Hm?”

Ancaman dalam kata-kata itu sudah jelas.

Gu Yu menggigil, segera menggelengkan kepalanya.

Ekspresi Bo Shangyuan berubah serius. “Nilaimu tidak boleh turun.”

Gu Yu mengangguk.

“Jika kau tidak meraih 600 poin dalam ujian masuk perguruan tinggi, kau akan menanggung resikonya.”

Gu Yu ragu-ragu dan mengangguk lagi.

“Dan … jangan berpindah hati.”

“Oke.”
.
.

Di paruh kedua semester, entah menggunakan koneksi orang dalam atau uang, Bo Shangyuan bisa kembali ke kelas A. / karena belum kenaikan kelas /

Adapun Gu Yu, tetap tinggal di kelas B.

Dalam hal ini, Duan Lun yang berada di kelas A merasa senang tetapi segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Tunggu sebentar.

Bagaimana dengan kurcaci kecil???

Bo Shangyuan yang tiba-tiba pindah ke kelas A membuat orang-orang di kelas B bingung dan mengajukan pertanyaan pada Gu Yu.

Namun Gu Yu diam.

Jin Shilong dan Yu Miao yang tahu hubungan keduanya, sangat terkejut.

Mereka tahu alasan Bo Shangyuan masuk kelas B agar bisa bersamanya, namun, kenapa baru setengah semester, Bo Shangyuan kembali pindah ke kelas A???

Keduanya secara khusus menyeret Gu Yu keluar dan mempertanyakan apakah dia putus dengan Bo Shangyuan.

Gu Yu menggelengkan kepala dan menyangkalnya, dia menemukan alasan untuk membohongi mereka berdua.

Setelahnya, dia melihat ke arah kelas A dan menghela nafas panjang.

Ah … satu setengah tahun …

Itu terasa sangat lama.
.
.

1,5 tahun kemudian.

Pada hari terakhir berakhirnya ujian masuk perguruan tinggi, Gu Yu bersama Shen Teng dan Jin Shilong meninggalkan ruang ujian.

Ini juga kebetulan, ketiganya berada diruang yang sama.

Ketiga lelaki itu berjalan perlahan, membahas jawaban mereka sambil berjalan menuju gerbang sekolah.

Setengah jalan, Gu Yu tiba-tiba berhenti.

Dia melihat Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan dengan tenang berdiri di gerbang sekolah, seperti sedang menunggu seseorang. Adapun siapa yang dia tunggu, tak usah dikatakan lagi.

Melihatnya, wajah Gu Yu tanpa sadar dipenuhi dengan senyum.

Meskipun Bo Shangyuan masih mengenakan pakaian hitam putih sederhana, itu masih menarik.

Setelah satu setengah tahun ini, watak Bo Shangyuan tampak lebih stabil dari sebelumnya, dan wajahnya juga semakin dingin.

Bo Shangyuan berdiri tanpa ekspresi.

Di antara banyak gadis yang lewat, banyak dari mereka ingin menghampirinya, tetapi karena penampilannya terlalu terasing, mereka mundur perlahan.

Gu Yu dengan senyum merekah berlari ke arahnya dan langsung terjun ke pelukan Bo Shangyuan.

Tepat ketika Gu Yu hendak bersiap untuk berbicara, Bo Shangyuan lebih dulu bertanya dengan dingin. “Kau bisa menjamin 600 poin?”

Gu Yu, “…”

Dia mendongak dengan wajah tidak percaya.

Gu Yu tidak menyangka, setelah satu setengah tahun berpisah, kalimat pertama Bo Shangyuan adalah bertanya tentang apakah ia bisa mendapatkan 600 poin.

Gu Yu diam.

Dia kemudian melepaskan diri dari pelukan dan tampak serius. “Mari kita putus.”

“…?”

Tidak mungkin putus.

Sulit untuk melewati satu setengah tahun ini, bagaimana mungkin putus?

Tentu saja itu hanya rutukan.

Jadi Bo Shangyuan langsung mengabaikannya.

Dia kemudian meraih pergelangan tangan Gu Yu dan berkata, “Ayo pergi.”

Setelah itu, Gu Yu menoleh dengan bahagia melambaikan tangan pada Jin Shilong dan Shen Teng yang tampak syok.

Kemudian, di bawah mata semua orang yang iri, Bo Shangyuan mengajaknya naik ke dalam mobil mahal dan mewahnya.

Bo Shangyuan sekarang sudah dewasa, jadi tidak perlu berpegang pada prinsip bahwa anak di bawah umur tidak diperbolehkan mengemudi di jalan.

Setelah berkendara sementara waktu, Gu Yu sadar bahwa ini bukan jalan pulang.

Jadi dia bingung dan menoleh untuk bertanya, “Kita akan kemana?”

“Rumah utama.”

Gu Yu tampak bodoh. “… ah?”
.
.

Setelah empat puluh menit.

Gu Yu duduk disofa ruang tamu di rumah utama Bo dengan gugup.

Rumah utama Bo sangat luas. Persis seperti istana, sehingga membuat dirinya yang jelata begitu gugup dan gelisah. Apa lagi berada diantara orang-orang di sekitar, meskipun mereka tidak berbicara, tetapi dari sudut pandang momentum dan penampilan, tampak aura sangat kaya.

Bo Shangyuan memegang tangannya dan berkata. “Nenek, seperti permintaanmu, aku membawa seseorang yang aku sukai.”

Mendengar itu, Nenek Bo memandang Gu Yu dari atas ke bawah.

Gu Yu menelan ludah tanpa sadar.

Ketika nenek Bo masih tidak berbicara untuk sementara waktu, Gu Yu menjadi lebih dan lebih gelisah.

Dibenaknya kini telah berputar banyak adegan yang tak terhitung jumlahnya. Entah nenek akan memberinya uang agar dia pergi, memintanya dan Bo Shangyuan putus sekarang, mengusirnya dari sini … dan seterusnya.

Nenek Bo kemudian mengambil tas dan mengeluarkan sejumlah uang yang banyak dan menyerahkannya.

Wajah Gu Yu seketika pucat.

Benar saja, Nenek pasti memintanya untuk …

Nenek Bo tersenyum. “Yuanyuan membawamu ke sini tiba-tiba jadi nenek tidak sempat menyiapkan dan hanya bisa memberimu seperti ini. Ayo terima. Lain kali, nenek akan menyiapkan amplop merah besar untukmu!”

Gu Yu mengerjap.

… ah?

Dia tampak bodoh hanya menatap uang di tangan nenek Bo.

Bo Shangyuan tampak tidak sabar, dia mengulurkan tangan Gu Yu agar mengambilnya.

“Bilang terima kasih pada nenek.”

Gu Yu dengan patuh berkata, “… terima kasih, nenek.”

Nenek Bo merasa senang. “Aiii!”

Setelahnya Nenek Bo memikirkan sesuatu lalu bertanya, “Nah, kapan kalian akan menikah?”

Gu Yu, “?”

Bo Shangyuan, “Terserah dia.”

Gu Yu, “???”

THE END.

.
24 September 2019

118. Hm.

Malam hari.

Ponsel Gu Yu tiba-tiba menerima pesan.

+179 ******** [ Aku Duan Zixuan, maaf mengganggumu, apa kau luang sekarang? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Karena ini hal pribadi, aku harap kau bisa datang sendiri. ]

Gu Yu mengerutkan kening.

… Hm?

Hal pribadi?

Apa yang Duan Zixuan ingin katakan?

Gu Yu rasa tidak ada yang perlu dikatakan diantara keduanya. Selain itu, bahkan jika ada sesuatu yang ingin Duan Zixuan bicarakan, dia khawatir … itu bukan sesuatu yang baik.

Dia tidak bodoh, setelah situasi direstoran tadi, dia tidak berpikir bahwa Duan Zixuan akan menyukainya.

Disisi lain, Bo Shangyuan mengambil alih ponselnya dan melihat isi pesan.

Gu Yu menatap ekspresi cemooh Bo Shangyuan lalu berbisik, “Apa… Apa aku harus pergi?”

Meskipun dia tidak berpikir bahwa Duan Zixuan akan mengatakan sesuatu yang baik, tetapi bagaimanapun juga, gadis itu adalah adik dari Duan Lun. Jika dia tidak pergi, bukankah … terkesan tidak begitu baik?

Bo Shangyuan kembali menyerahkan ponsel ke tangan Gu Yu. “Pergilah jika kau ingin pergi.”

Gu Yu sedikit terkejut.

Dia pikir Bo Shangyuan tidak akan membiarkannya pergi.

Namun, Gu Yu masih merasa berat untuk pergi.

Dia bersiap untuk menolak, namun Duan Zixuan mengirim pesan lain.

Ini adalah hal yang berkaitan dengan kakak Bo Shangyuan. Apa kau benar-benar tidak ingin datang dan mendengarkan? Dan aku juga ingin minta maaf atas situasi tadi. Aku harap kau bisa datang sekarang. ]

Gu Yu ragu-ragu.

Dia kemudian berkata kepada Bo Shangyuan, “… itu, kalau begitu, apa aku bisa pergi sekarang?”

“Hm.”

Melihat Bo Shangyuan tidak keberatan, Gu Yu pun berdiri dan meninggalkan ruangan.

Pada saat sosoknya menghilang dari pintu, Bo Shangyuan juga beranjak keluar.
.
.

Gu Yu dengan cepat tiba di lokasi yang disebutkan oleh Duan Zixuan.

Karena ada sedikit bias di tempat itu, tidak ada orang di sekitar.

Duan Zixuan berdiri di sana, tidak tahu berapa lama, wajahnya merah.

Dia menatap Gu Yu dan tersenyum ringan. “Kakak Gu Yu sungguh datang ~”

Gu Yu mendekat, menjaga jarak tiga meter dan berhenti. “Bicaralah.”

Duan Zixuan tertawa kecil dan berkata, “Kenapa kakak Gu Yu berdiri begitu jauh? Mendekatlah.”

Gu Yu menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, lagipula, tidak ada orang di sekitar sini.”

Duan Zixuan tertegun dan kemudian tersenyum. “Aku hanya ingin meminta maaf pada kakak. Kenapa kakak menjaga jarak seperti ini? Aku sangat sedih.”

Gu Yu tidak berbicara.

Duan Zixuan mengangkat bahu, dia mengerjap, berkata setengah hati. “Aku minta maaf pada kakak Gu Yu karena sudah bicara tidak jelas seperti tadi. Aku harap kau bisa memaafkanku.”

Gu Yu sedikit terkejut.

Namun kalimat selanjutnya seperti tamparan diwajah.

“Tetapi apa kakak Gu Yu benar-benar berkencan dengan kakak Bo?”

Gu Yu mengerutkan kening, dia beralih bertanya. “Apa maksudmu menanyakan hal ini?”

Sudut Duan Zixuan sedikit melengkung, “Bukan apa-apa. Hanya ingin menjelaskan kalau keluarga kakak Bo sangat kaya. Dia harus menikahi seorang gadis yang juga dari keluarga kaya dan memiliki seorang putra untuk mewariskan keluarga. Jika kakak Gu Yu benar-benar berkencan dengan kakak Bo, sebaiknya putus lebih awal—“

“Kau tidak perlu ikut campur tentang masalah ini.”

Suara dingin Bo Shangyuan terdengar diikiti figurnya yang muncul dari arah belakang tubuh Gu Yu sambil menyeret Duan Lun.

Bo Shangyuan menatap Duan Lun tanpa ekspresi. “Kau yang berikan nomornya?”

Mata Duan Lun melebar dan gemetar di bawah kendali Bo Shangyuan, “Sial, dia hanya bilang ingin meminta maaf. Dia tidak bilang akan mengatakan sesuatu yang lain.”

Bo Shangyuan menatapnya dingin kemudian mendorong Duan Lun ke arah Duan Zixuan dan mengangkat dagu ke arah gadis itu. “Urus dia.”

Duan Lun merapikan mantelnya kemudian berjalan ke Duan Zixuan.

Tidak menyangka dengan situasi ini, Duan Zixuan membeku, reflek melangkah mundur.

Duan Lun tersenyum. “Aku sudah katakan sebelumnya, patuh, jangan menjadi iblis. Karena kau tidak mendengarkan, jangan salahkan aku.”

Duan Zixuan tersenyum kaku. “Aku … aku tidak mengatakan apa-apa … dan yang aku katakan tadi bukan bohong …”

Mendengar itu, Duan Lun mencemooh, “Xing Bo tidak peduli dengan kejujuranmu,  jika kau membuatnya marah, dia tidak akan membuatmu lolos.”

Duan Zixuan meneguk ludah menatap penampilan mengerikan Duan Lun.

Dia tergagap, “Kau tidak bisa … tidak bisa melakukan ini padaku … Jika kau berani menyentuhku sekarang, aku akan kembali … dan bilang pada ayah …”

Duan Lun tidak mendengar, langsung menangkap gadis itu dan menyeretnya pergi.

Duan Zixuan meronta dan berteriak keras.

Setelah sosok dua orang itu menghilang, Gu Yu mengalihkan pandangannya pada Bo Shangyuan.

“Apa kau membawa Duan Lun?”

“Hm.”

“Begitu …”

Gu Yu diam.

Kata-kata Duan Zixuan telah diputar ulang dalam benaknya.

Jika Duan Zixuan berbohong, maka dia tidak akan peduli.

Namun, Duan Lun membenarkan bahwa gadis itu tidak berbohong.

Pada malam musim dingin, angin malam berhembus, Gu Yu berdiri di tempat yang sama, ekspresinya menjadi lebih dan lebih sunyi.

Dia tiba-tiba sadar meski sudah mengenal Bo Shangyuan begitu lama dan tahu lelaki itu sangat kaya, tetapi dia tidak tahu seberapa kaya keluarganya.

Jika itu benar-benar seperti yang dikatakan Duan Zixuan, Bo Shangyuan harus dinikahkan dengan seorang gadis yang juga kaya dan kemudian mendapat keturunan untuk mewarisi keluarga. Maka ia tidak dapat memiliki masa depan bersamanya.

Yah, seperti yang dikatakan Duan Zixuan, dia lebih baik putus dengan Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan menariknya dalam pelukan, “Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan segalanya. Kau hanya perlu … tetap bersamaku.”

“Hm.”

Sesama lelaki berkencan dan tidak diakui oleh publik. Ini selalu menjadi kecemasan Gu Yu.

Jangan khawatir … bagaimana mungkin?
.
.

Hari berikutnya, entah apa yang dilakukan Duan Lun, Duan Zixuan menghilang.

Bahkan dengan barang bawaannya.

Suasana hati Duan Lun tampak jauh lebih baik. Namun, ketika melihat Bo Shangyuan, Duan Lun merasa bersalah.  Bagaimanapun dia yang memberikan nomor ponsel Gu Yu tanpa izin Bo Shangyuan.

Disisi lain, suasana hati Gu secara bertahap merosot.

Karena itu ketika mengunjungi tempat wisata di A City ataupun sedang makan makanan ringan, dia masih tidak begitu bahagia.

Pikiran Gu Yu berat.

Disisi lain, Bo Shangyuan tentu saja ikut tidak baik.

Secara khusus, setiap kali suasana hati Gu Yu sangat buruk, dia melirik ke arah Duan Lun dengan tatapan dingin.

Awalnya, Duan Lun memutuskan untuk berlibur setidaknya dua minggu, tetapi setelah melihat suasana hati Gu Yu yang buruk dan takut cepat atau lambat Bo Shangyuan tidak tahan untuk membunuhnya, jadi setelah tiga hari, mereka memutuskan untuk kembali ke kota S.
.
.

Duan Lun menekan bagasi dan kemudian pergi keluar untuk check out.

Dua lainnya sudah berdiri di tempat parkir.

Duan Lun dengan tertekan membuka pintu mobil. “Ayo pergi, dua leluhurku.”

Perjalanan tiga jam segera berakhir.

Duan Lun mengirim dua orang ke luar komunitas, mengucapkan selamat tinggal lalu kembali melaju.

Melihat pemandangan di depannya, Gu Yu menghela nafas panjang.

“Ayo pulang.”

Dia berjalan lebih dulu. Bo Shangyuan menatapnya diam sejenak, lalu mengikuti.

Di lift, keduanya tidak memiliki kata-kata.

Pikiran Gu Yu berat dan dia tidak ingin berbicara. Bo Shangyuan memikirkan hal lain, jadi tidak berbicara.

Saat pintu lift terbuka, Gu Yu menyeret kopernya untuk bersiap keluar dari lift.

Namun, tiba-tiba Bo Shangyuan menahannya.

Gu Yu berbalik dengan bingung.

“Kau harus beri ciuman perpisahan untuk kekasihmu sebelum pulang.”

Gu Yu, “…”

“Cepatlah.”

Gu Yu berbisik, “Jangan membuat masalah.”

Seolah-olah tidak mendengar, Bo Shangyuan masih menahannya, tidak bergerak.

Setelah keduanya berkencan, tidak hanya kejam dan kekanak-kanakan, Gu Yu juga merasa bahwa Bo Shangyuan semakin tidak tahu malu.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, dan bersiap untuk menciumnya.

Btw, mereka sudah sering berciuman jadi untuk kali ini bukan lagi masalah besar.

Menurutnya begitu.

Namun, saat Gu Yu hendak bersiap untuk menciumnya, terdengar suara wanita yang ia kenal.

“Apa, apa yang kalian lakukan …!”

Suara itu terkesan syok dan gemetar seakan melihat sesuatu yang menakutkan.

Hati Gu Yu bergetar dan segera berbalik.

Ibu Gu berdiri tidak jauh dari sana, memandangi keduanya dengan tidak percaya.

Otak Gu Yu kosong.

Dia sudah memperkirakan untuk memberi tahu ibunya tentang hal ini di masa depan.

Mungkin setelah lulus dari perguruan tinggi, mungkin setelah bekerja … Atau mungkin juga, setelah lulus dari SMA …

Tetapi dia tidak pernah memikirkan akan ketahuan sekarang.

Gu Yu tidak tahu harus berbuat apa, sementara Bo Shangyuan jauh lebih tenang.

Bo Shangyuan menepuk punggung Gu Yu, menenangkan pikirannya, dan kemudian menatap sosok ibu Gu yang masih syok. “Seperti yang bibi lihat, aku dan Yu Yu berkencan.”

Kaki ibu Gu seketika lunak.

Suaranya terdengar sulit. “Shangyuan ah, apa kau bercanda dengan bibi? Bagaimana kalian bisa … bagaimana mungkin …”

Bo Shangyuan tidak bicara.

Ibu Gu kehilangan suaranya.

Kenyataannya ada di sini, bahkan jika Bo Shangyuan mengatakan bahwa adegan itu hanya lelucon, ibu Gu masih tidak akan mempercayainya.

Setelah beberapa saat, ibu Gu memejamkan mata dan berkata kepada keduanya, “Ayo masuk.”

Setelahnya, dia berbalik dan berjalan lebih dulu ke dalam rumah.

Pada saat ini, Gu Yu mulai panik.

Dia mendongak pada Bo Shangyuan, “Bagaimana ini?”

Bo Shangyuan meremas tangannya, menenangkan, “Ada aku.”

Gu Yu merasa sedikit tenang.

Dia menggigit bibirnya dan mengikuti Bo Shangyuan masuk ke dalam rumah.

Ibu Gu sudah duduk di ruang tamu dengan ekspresi serius. Seperti seorang guru yang menunggu pengakuan dosa siswanya.

Jantung Gu Yu membanting.

Ibu Gu memandang keduanya dan berkata, “Duduk.”

Gu Yu duduk, Bo Shangyuan juga duduk.

Ibu Gu langsung ke inti. “Kapan kalian mulai?”

Gu Yu ingin berbicara, tetapi Bo Shangyuan lebih dulu. “Tengah semester pertama.”

Ibu Gu tertegun. “Dari tengah semester pertama….”

Bo Shangyuan merespon mengiyakan.

Ibu Gu meremas dadanya.

Dia jelas tidak memiliki penyakit jantung, tetapi setelah mendengar jawaban ini, dia memiliki ilusi bahwa serangan jantung akan segera terjadi.

Ibu Gu mengambil gelas yang berisi teh herbal diatas meja dan segera meneguknya. Setelah sedikit tenang, dia kemudian lanjut bertanya. “Siapa … siapa yang memulai lebih dulu.”

Bo Shangyuan, “Aku.”

Wajah ibu Gu sedikit lebih baik.

Tapi kemudian, ibu Gu tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya. “Kau begitu baik pada Yu Yu, memberinya kelas tambahan, membelikannya pakaian juga makanan ringan, apa karena …”

“Ya.”

Ibu Gu seketika bodoh.

Dia tiba-tiba ingat saat mulai sekolah tahun pertama, dia terus mendesak Gu Yu untuk pergi ke rumah sebelah dan menjalin hubungan yang baik dengan Bo Shangyuan.

Jangan-jangan ini semua karena dia …

Ibu Gu tidak berani berpikir lagi, lalu melanjutkan, “Kalian tahu kalau hubungan kalian ini tidak normal kan?”

Bo Shangyuan merespon, “Dimana yang tidak normal.”

Tidak menyangka mendapat respon seperti itu, ibu Gu sulit untuk mengatur suaranya. “Kalian berdua laki-laki! Bagaimana bisa laki-laki bersama dengan laki-laki?!”

“Kenapa tidak?”

Ibu Gu cemas. “Kalian keluar dan lihat, hanya ada pasangan laki-laki dan perempuan. Bagaimana mungkin ada laki-laki dan laki-laki?”

“Jika ada, apa bibi akan setuju Yu Yu bersamaku?”

“Tetap tidak mungkin! Bagaimana sesama laki-laki bisa bersama, kalian cepat putus!”

Mendengar ini, Gu Yu akhirnya tidak bisa menahan diri.

“Bu …”

Ibu Gu menyelanya dengan dingin. “Diam! Aku tidak punya anak sepertimu!”

Mata Gu Yu merah, kembali menutup mulutnya.

Ibu Gu merasa sesak, berbisik. “Aku sudah bertanya sebelumnya, apa kau berkencan dan kau menjawab tidak. Tetapi hasilnya kau berbohong padaku!”

Gu Yu tidak berbicara.

“Bagaimana aku bisa memiliki putra sepertimu?! Ini… memalukan!”

Pada titik ini, Bo Shangyuan tidak bisa lagi mendengarnya, dia mengerutkan kening dan berkata, “Jika bibi merasa malu, bibi bisa memutuskan hubungan dengannya sekarang dan aku akan membawanya pergi. Aku punya uang untuk menghidupinya seumur hidup.”

Ibu Gu tertegun.

Melihat ekspresi Bo Shangyuan yang serius, sikapnya melunak.

Ibu Gu dengan lembut membujuk. “Shangyuan ah, ini juga untuk kebaikanmu. Jika kalian berdua bersama, bagaimana akan memiliki anak di masa depan?”

“Bisa adopsi.”

Ekspresi ibu Gu kaku. “Tapi bagaimanapun juga, tidak ada hubungan darah … bahkan jika kau membesarkannya …”

Bo Shangyuan sedikit mengejek. “Apa hubungan darah itu penting? Ada orangtua yang bahkan mengabaikan anak kandung mereka sendiri.”

Bo Shangyuan menyinggung ayah Bo dan ibu Bo.

Tentu saja, orang-orang seperti itu juga ada dalam berita, bukanlah hal yang tidak biasa, dan bukan hal yang baru.

Ibu Gu kembali membujuk dengan lembut. “Bahkan jika bibi setuju sekarang, kalian akan didiskriminasi oleh masyarakat di masa depan … dan bibi benar-benar tidak ingin melihat kalian seperti itu … Jangan dulu bicara soal Yu Yu, Bo Shangyuan kau sangat tampan, prestasi sangat baik, kau bisa mendapat gadis cantik yang baik, kenapa harus berkencan dengan laki-laki? Seandainya bibi setuju, keluargamu tidak akan setuju.”

Bo Shangyuan tanpa ekspresi. “Jika bibi setuju, aku akan membawanya ke nenekku sekarang.”

Ibu Gu terkejut.

Dia akhirnya menyadari Bo Shangyuan benar-benar serius.

Di sisi lain, Gu Yu juga terkejut.

Disaat bersamaan, ayah Gu berjalan masuk ke ruang tamu dengan tas kerja dan mengerut bingung melihat situasi didepannya, “Apa yang terjadi?”

Ibu Gu tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Sementara Bo Shangyuan langsung bicara ke inti. “Paman, aku ingin bersama Yu Yu, kuharap paman bisa setuju.”

Ayah Gu tertegun, “Apa?”

Dia menatap wajah serius Bo Shangyuan dan kemudian memalingkan matanya pada Gu Yu yang sedang menunduk, dan akhirnya memandang ibu Gu.

Ibu Gu tidak berani mendongak menatap ayah Gu.

Jika bukan karena dia yang awalnya memaksa anaknya untuk berhubungan  dengan Bo Shangyuan, hal seperti ini… mungkin tidak akan terjadi.

Ayah Gu beralih lagi pada Bo Shangyuan. “Apa maksudmu?”

“Aku dan Yu Yu berkencan.”

Ayah Gu tertegun.

Dia perlahan menatap ibu Gu.

Ibu Gu tidak berbicara, hanya mengangguk.

Reaksi ayah Gu jauh lebih stabil. Dia terdiam sesaat lalu bertanya, “Kapan itu dimulai?”

“Tengah semester pertama.”

Ayah Gu agak kaget lalu bertanya. “Apa orangtuamu tahu?”

Bo Shangyuan merespon tanpa ekspresi. “Aku tidak punya orang tua, hanya nenek.”

“Paman mengerti, kau bisa kembali dulu.”

Bo Shangyuan mengerutkan alis.

Ayah Gu menjelaskan, “Paman dan bibi butuh waktu untuk memikirkan ini. Kau kembalilah. Tunggu beberapa hari, paman dan bibi akan bicara serius denganmu.”

Bo Shangyuan perlahan berdiri. “Aku mengerti.”

Dia kemudian dengan lembut membelai kepala Gu Yu sejenak lalu beranjak pergi.

Ayah Gu dan Ibu Gu yang melihat tindakan sayang Bo Shangyuan seketika merasa rumit.


117. Oh.

Tempat di mana mereka pergi adalah A City.

Karena keluarga Duan Lun tinggal di kota ini, lokasi permainan diatur olehnya, juga sopirnya secara khusus mengemudikan mobil untuk mereka.

Dalam perjalanan ke A City, Duan Lun bicara dengan sangat antusias. Karena ini pertama kalinya dia pergi bermain bersama Xing Bo.

Duan Lun sangat bersemangat untuk memperkenalkan semua tempat di A City yang menurutnya menarik, tetapi dua orang yang duduk di kursi belakang tidak menanggapi.

Bo Shangyuan terlalu malas sementara Gu tidak mendengarkan sama sekali.

Gu Yu duduk dengan tenang di kursi belakang, dan pikirannya melayang.

Dia melihat pemandangan yang melewati jendela, entah bagaimana, hatinya sedikit tidak nyaman.

Rasanya seperti merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Disisi lain, Bo Shangyuan melihatnya hanya diam, menoleh untuk bertanya, “Ada apa.”

Gu Yu menggelengkan kepalanya dengan tenang dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

“Apa kau mengantuk?”

Dia tanpa sadar menggelengkan kepalanya lagi.

Bo Shangyuan lanjut berkata, “Aku mengantuk.”

Mendengar itu, Gu Yu menoleh ke arahnya, seperti biasa, tampak tenang dan dingin, dia mengerjap dan berkata, “… kau tidurlah.”

Kursi belakang luas, jadi tidak masalah untuk berbaring.

Bo Shangyuan tidak bergerak, tetapi dia mengaitkan jarinya.

“Duduk lebih dekat.”

Gu Yu bingung tetapi tetap dengan patuh menggeser duduknya lebih dekat.

Kemudian detik berikutnya, Bo Shangyuan berbaring di pangkuannya.

Menjadikan paha Gu Yu sebagai bantal, kedua tangannya secara alami memeluk pinggangnya.

Gu Yu memerah, secara tidak wajar menatap ke arah lain.

Duan Lun yang duduk di depan tidak tahan lagi.

“Hei! Aku masih di sini!! Apa yang kalian lakukan di mobilku!!!”

Gu Yu segera tanpa sadar meminta maaf. “Oh, ma—“

Bo Shangyuan tiba-tiba berkata, “Diam.”

Gu Yu mengira Bo Shangyuan bicara padanya jadi dia kembali menutup mulut. Sementara Duan Lun dengan cukup tertekan menanggapi. “Cuih, lebih memilih kekasih daripada teman …”

Gu Yu diam-diam menatap langit, dan hanya ada satu kata yang tersisa di benaknya.

… Kekasih? Dia?
.
.

Setelah hampir tiga jam mengemudi, mereka akhirnya tiba di Kota A.

Tiba-tiba, anak gadis dari ibu tiri Duan Lun menelepon.

Ibu tirinya memiliki dua anak, satu putra tertua dan satu putri kecil. Masalah putri kecil ini, ayahnya baru memberi tahunya belum lama.

Adapun mengapa, mungkin takut kalau Duan Lun akan menyakiti gadis itu.

Adik tiri Duan Lun terlihat baik dan sepenuhnya mewarisi penampilan ibu tirinya. Cantik, tinggi semampai dan menarik perhatian. Cukup masuk akal bahwa menurut temperamen Duan Lun yang suka pada gadis cantik, dia pasti akan peduli pada putri ibu tirinya, tetapi pada kenyataannya, itu terjadi sebaliknya.

Karena dia adalah putri dari ibu tirinya, sikap Duan Lun terhadapnya sangat buruk.

Jadi begitu melihat telepon masuk dari adik tirinya, Duan Lun dengan tidak sabar menekan tombol jawab dan mengumpat, “Aku sudah katakan jangan menghubungiku kan? Apa kau tidak mengerti?”

Pihak lain terkekeh dan berkata, “Jangan marah. Aku juga ingin dekat dengan kakakku.”

Duan Lun semakin emosi, mengumpat lagi dan menjawab, “Pergi cium ibumu, siapa yang mau dekat denganmu? Tidak ada yang penting, aku matikan.”

Gadis di telepon mengeluh bahwa saudaranya begitu kejam, dan kemudian berkata, “Apa kakak pergi ke kota A untuk bermain? Aku ingin ikut.”

“Enyahlah.” Duan Lun langsung menutup telepon tanpa ragu-ragu.

Dia kemudian menoleh untuk melihat Bo Shangyuan yang masih terbaring dipaha Gu Yu dengan raut tidak mengerti. “… Sial, bagaimana si jalang kecil itu tahu aku akan pergi ke kota A untuk bermain?”

Bo Shangyuan yang tengah memainkan jari-jari Gu Yu dengan santai merespon. “Menurutmu?”

Mendengar itu, Duan Lun kemudian mengalihkan pandangannya ke Gu Yu.

Melihat ekspresi Gu Yu yang bingung, Duan Lun dalam diam menatapnya sejenak, dan akhirnya memandangi sopir.

Duan Lun tidak bodoh, tiba-tiba mengerti.

Dia berkata dengan dingin. “Hentikan mobilnya”

Sopir dengan patuh menepikan mobil.

Detik berikutnya, Duan Lun mengarahkan dagunya. “Buka pintu dan cepat turun.”

Sopir itu kaget, menatap Duan Lun tanpa alasan yang jelas.

“Tapi tuan muda …”

Duan Lun tidak sabar. “Aku bilang, turun.”

Si sopir akhirnya membuka pintu dan turun.

Setelahnya Duan Lun pindah ke posisi kemudi dan kembali melajukan mobil.

Disaat bersamaan, dia menurunkan jendela dan mengacungkan jari tengah pada si sopir.

“Kembali dan beri tahu ayahku, aku pergi ke TMD -“

Setelah itu, dia menarik jendela dan pergi.

Dalam perjalanan, ekspresi Duan Lun cukup konyol. “Aku kira ayahku tidak peduli dan meninggalkanku sendirian di S City. Aku tidak menyangka dia begitu peduli sampai mengirim seseorang untuk mengawasiku. Tapi itu benar-benar membuatku sangat tersentuh.”

Selama perjalanan, Duan Lun terus mengumpat tentang masalah ayah dan ibu tirinya.

Bo Shangyuan yang sudah tahu merasa biasa saja.

Adapun Gu Yu, setelah mendengarkan beberapa saat, dia akhirnya tidak bisa menahannya.

“Itu, Duan Lun …”

Duan Lun tidak menoleh. “Kenapa, ingin bersimpati padaku? Aku katakan, tidak perlu … selama aku masih yang pertama dalam keluarga, dua jalang kecil …”

Gu Yu menyela, “Aku tidak bermaksud ini …”

“Ah?” Apa itu?

“Bukannya kau belum dewasa? Jika bertemu polisi lalu lintas, akan…”

Kata-kata Gu Yu terhenti, meskipun belum selesai, tetapi artinya, sudah jelas dimengerti dalam sekejap.

Mata Duan Lun berkedut.

Duan Lun ingat seseorang yang tidak mengemudi, dan sering mengatakan kalimat seperti itu.

– Anak di bawah umur tidak diizinkan mengemudi di jalan.

Saat ini, Duan Lun hanya memiliki satu kesan.

Dua makhluk yang duduk di belakang, benar-benar istimewa!

“Mereka tidak berani menangkapku.”

“Kenapa?”

“Karena keluargaku punya uang.”

Gu Yu tampak mengerti dan mengangguk, lalu bertanya. “Bo Shangyuan juga punya uang, tetapi kenapa tidak mengemudi?”

Duan Lun, “…”

Karena ada yang salah dengan otaknya.

Tentu saja.

Duan Lun tidak mengatakan ini.
.
.

Setelah sekitar setengah jam, mereka akhirnya mencapai tujuan yang mereka pilih.

Tempat yang mereka pilih adalah resort yang menggabungkan mata air panas dan resor ski, sekarang di musim dingin, waktu yang tepat untuk mata air panas dan ski, tetapi karena bisnisnya yang ramai, sulit mendapatkan tempat. Namun, Duan Lun memiliki uang, bahkan jika susah membooking kamar, baginya, itu hanya hal kecil.

Duan Lun menghentikan mobil dan kemudian membuka pintu dan turun.

Baru saja turun dari mobil, senyum diwajah Duan Lun memudar.

Seorang gadis yang mengenakan mantel wol gelap melihat Duan Lun dan melambaikan tangan dengan bahagia, “Kakak ~~”

Duan Lun memelototi senyum cerah di wajahnya, mengumpat.

Sisi lain.

Gu Yu masih di dalam mobil bersama Bo Shangyuan.

Dia menatap wajah Bo Shangyuan yang terbaring di pangkuannya dan berkata, “Ayo, bangun.”

“Aku jatuh.”

Gu Yu. “?”

“Kau jelas berbaring di dalam mobil …”

Ekspresi Bo Shangyuan serius. “Kau harus menciumku agar aku bangun.”

Gu Yu, “…”

Dia langsung menutup mulut Bo Shangyuan dengan telapak tangannya.

Seiring dengan pemahaman jangka panjang tentang Bo Shangyuan, Gu Yu semakin memahami kalau lelaki itu … tidak hanya dingin dan kejam, tetapi juga kekanak-kanakan.

Duan Lun berdiri di luar mobil, dan orang lain juga ada disekitar, Gu Yu terlalu malu untuk menciumnya.

Wajah Gu Yu memerah dan berbisik, “Jangan membuat masalah … Duan Lun ada disebelah.”

Ketika mendengar nama Duan Lun, wajah Bo Shangyuan menggelap.

Dengan suasana hati yang tidak bahagia, dia kembali duduk dengan wajah hitam lalu memandang Duan Lun di luar jendela mobil.

Pada saat bersamaan.

Duan Lun yang berdiri di luar mobil, tidak tahu mengapa, tiba-tiba merinding.

Gu Yu melangkah turun dari mobil lebih dulu diikuti Bo Shangyuan. Gadis kecil dengan make-up tipis dan kulit putih mendatanginya sambil tersenyum dan bertanya, “Halo, apa kau teman kakakku?”

… Kakak?

Gu Yu bingung.

Duan Lun dengan dingin berkata. “Abaikan saja si bodoh ini.”

Si gadis menghentakkan kakinya kesal. “Kakak, apa yang kau katakan!”

Setelah itu, gadis itu secara tidak sengaja melihat Bo Shangyuan.

Dia tertegun sejenak, lalu sekali lagi tersenyum cerah.

Dia berlari ke depan Bo Shangyuan dan menyapa. “Halo, aku Duan Zixuan, apa kau teman kakakku?”

Bo Shangyuan hanya meliriknya sekilas.

Duan Zixuan tidak merasa frustrasi, dia terkekeh dan dengan lembut berkata, “Kakak, kenapa kakak ini mengabaikanku?”

Duan Lun yang berdiri di samping tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerut kesal.

“Jangan panggil aku kakak, aku bukan saudaramu. Enyahlah, kau membuatku muak.”

Duan Zixuan menoleh, “Ayah yang memintaku datang. Ayah bilang kau di sini, biarkan aku datang dan bermain denganmu beberapa hari.”

“Persetan, bermain sendiri, aku sibuk.”

Duan Zixuan menundukkan kepalanya, sedih. “Kalau begitu aku akan kembali dan menjelaskan pada ayah … Oh, ya, ayah bilang jika kau tidak setuju, dia akan membekukan kartumu.”

Duan Lun langsung mengumpat, sengan wajah hitam, berbalik dan pergi.

Gu Yu ikut melangkah bersama Bo Shangyuan, berjalan berdampingan.

Setelah dua langkah, Duan Zixuan tiba-tiba datang ke sisi Gu Yu.

Dia diam-diam menatap Bo Shangyuan dan kemudian berbisik padanya. “… Apa dia punya girfriend?”

Gu Yu tertegun, menatapnya.

Duan Zixuan tersenyum malu, “Aku ingin tahu.”

Gu Yu mendengus dan berkata, “Tidak.”

Girlfriend: tidak ada, tetapi kalau boyfriend: ada.

Duan Zixuan mengangguk penuh pengertian.

Dia berkedip padanya dan tersenyum. “Terima kasih ~”

“Sama-sama.”

Melihat senyum Duan Zixuan, Gu Yu mengernyitkan alisnya, dan hatinya halus.

Ilusi?
.
.

Meja depan resort.

Duan Lun memesan dua kamar.

Awalnya tiga, tetapi setelah mendapat delikan tajam Bo Shangyuan, dia mengubah tiga menjadi dua.

Duan Lun menyimpan satu untuknya sendiri, dan satunya dia serahkan kepada kurcaci kecil.

Setelah melihatnya, Duan Zixuan juga mengulurkan tangannya. “Bagaimana denganku?”

“Tanpamu.”

Duan Zixuan beralih melirik Gu Yu, dan menatap Bo Shangyuan, dan akhirnya melihat kartu kamar di tangan Gu Yu.

Ekspresinya aneh. “Kau membiarkan mereka berdua satu kamar, bukankah itu berarti masih tersisa satu kamar untukku?”

Menurut pemikiran normal, tiga laki-laki berarti juga akan memesan tiga kamar.

Jika Duan Lun disatu kamar, lalu dua lainnya disatu kamar, berarti kamar yang satunya pasti untuknya.

Mendengar itu, Gu Yu dengan tidak nyaman berkata. “Aku … aku naik duluan.”

Setelah itu, seakan takut terciduk, dia langsung masuk ke lift.

Bo Shangyuan juga pergi mengikutinya.

Setelah keduanya pergi, Duan Lun yang telah bertahan dari tadi, tidak bisa menahan lagi.

Nadanya terdengar buruk. “Bo Shangyuan punya orang yang disukai, kau sebaiknya tidak mencari masalah.”

Duan Zixuan menunduk dan berbisik, “Aku … aku tidak.”

Duan Lun mencibir. “Apa kau pikir aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Jangan mengkhususkannya di depanku.”

Mata Duan Zixuan penuh air mata, terlihat menyedihkan.

Duan Lun tampak jijik, berbalik, dan pergi.

Duan Zixuan memulihkan air matanya dan buru-buru bertanya. “Kakak, bagaimana dengan kamarku?!”

Duan Lun tidak berbalik, “Enyahlah! Bukan urusanku!”

Duan Zixuan menghentakkan kakinya, kesal.

Tapi segera, dia punya ide.

Matanya menatap sekeliling lalu berhenti pada seorang pria yang sedang membaca koran.

Duan Zixuan meraih lengan pria itu dan berbisik, “Paman, bisakah kau memberiku kamarmu?”

Pihak lain kaget lalu berkata. “Aku memesannya dengan susah payah—”

Duan Zixuan berkedip dan terus menjadi lunak dan manja. “Paman, aku mohon padamu … Sulit untuk datang ke sini sekali, tetapi tidak ada lagi kamar. Paman bisa datang lagi, tetapi aku tidak bisa. Aku … Aku mengalami serangan jantung, kata dokter hidupku tinggal beberapa bulan lagi …”

Duan Zixuan berbohong dengan wajah penuh kesedihan.

Pihak lain tiba-tiba merasa simpati.

“Baiklah, jangan menangis …”

Duan Zixuan tersenyum puas.
.
.

Sisi lain.

Setelah tiba di kamar, Gu Yu langsung jatuh di tempat tidur yang besar.

Ranjang itu sangat empuk dan lembut. Gu Yu yang telah menjadi bantal Bo Shangyuan selama tiga jam, akhirnya mendesah lega dan merasa bahwa dia ada di surga.

Belum lama Gu Yu berbaring, Bo Shangyuan datang dan menindihnya.

Gu Yu menatapnya bingung, “Disebelah masih luas … oh …”

Bo Shangyuan langsung menciumnya.

Ketika keduanya turun lagi, sudah empat puluh menit kemudian.

Sebenarnya, pada menit kelima belas, Duan Lun sudah menelepon sekali, tetapi tidak ada yang menjawab.

Duan Lun mengerti.

Dia memutuskan untuk tidak lagi menelepon dan duduk di lobi di lantai bawah, menunggu.

Gu Yu muncul dengan jaket berkerudung dengan pola cakar kucing terpampang nyata di mata Duan Lun.

Melihat ekspresinya yang sedikit gelap, Duan Lun mengerti.

Dia bersimpati pada si kurcaci kecil.

Duan Zixuan yang duduk disebelah juga melihat jaket Gu Yu.

Ekspresinya aneh. “Jaket ini … Apa kau membelinya?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya.

Duan Zixuan lega. “Aku katakan, bagaimana bisa anak laki-laki normal memakai pakaian seperti ini? Anak laki-laki normal biasanya memakai hitam atau putih, siapa yang akan memakai pink.”

Gu Yu tidak berbicara.

Disisi lain, mata Bo Shangyuan benar-benar dingin.

Tidak menyadari, Duan Zixuan tersenyum lebar pada Bo Shangyuan dan berkata, “Aku pikir penampilan kakak Bo sangat bagus, aku sangat menyukainya. Kau harus belajar dari kakak Bo. Meskipun tidak terlihat seperti kakak Bo, tetapi pasti jauh lebih baik daripada sekarang.”

Bo Shangyuan bersuara. “Aku yang membeli pakaiannya.”

Senyum di wajah Duan Zixuan berubah kaku.

“Eh… Benarkah?”

Bo Shangyuan mengabaikannya, beralih menatap Gu Yu dan dengan lembut bertanya. “Mau makan apa”

“Terserah.”

“Makanan laut?”

“Oke.”

Setelah itu, Bo Shangyuan mengambil tangannya dan pergi.

Duan Lun buru-buru mengejar.

“Hei, masih ada aku!”

Duan Zixuan menggigit bibirnya, juga mengikuti.
.
.

Lantai dua restoran.

Karena resor ski terbuka dan kolam air panas, jadi ada banyak restoran di dekatnya.

Juga karena itu adalah objek wisata, harganya sedikit lebih mahal dari biasanya.

Tentu saja, Bo Shangyuan tidak kekurangan uang.

Gu Yu dan Bo Shangyuan duduk berdampingan, dan Duan Lun hanya bisa pasrah duduk bersama Duan Zixuan.

Duan Lun menatapnya jijik. “Tinggalkan aku.”

Duan Zixuan merengut. “Kakak, aku belum melakukan apa-apa, kenapa kau membenciku …”

Duan Lun tidak ragu. “Aku jijik saat melihatmu.”

Duan Zixuan diam dan memilih menikmati makanannya.

Pada saat yang sama, Gu Yu yang duduk di hadapan mereka, tidak tahu apa yang telah dia makan, dia meringis.

“Pedas … sangat pedas …”

Mata Gu Yu merah, dan berlinang air mata.

Bo Shangyuan mengerutkan kening, mengambil air dan meminumkannya.  Setelah menunggu Gu Yu lega, dia dengan lembut menyeka air matanya dan berbisik, “Apa yang baru saja kau makan?”

Gu Yu menunjuk benda hijau di piring yang seperti pasta gigi.

“Itu wasabi, sangat pedas.”

Setelahnya, Bo Shangyuan mendorong piring wasabi itu ke depan Duan Lun.

Duan Lun, “…”

– Fck.

Disisi lain, Duan Zixuan memandang keduanya dan berkata, “Kalian terlihat begitu intim, seperti orang berkencan.”

Meskipun gadis itu tidak mengatakan bahwa dia membenci hubungan antara laki-laki dan laki-laki, tetapi dari ekspresi dan nadanya yang aneh, sikapnya jelas.

Gu Yu berubah kaku.

Bo Shangyuan tampak dingin.

Duan Lun seketika marah, “Duan Zixuan, jika kau berani untuk terus berbicara di sini, aku akan mengusirmu langsung.”

Melihat bahwa Duan Lun benar-benar marah, Duan Zixuan menundukkan kepalanya dan berbisik, “Aku hanya sekedar bicara saja … Kenapa kau bereaksi berlebihan?”

Dia kemudian diam-diam menatap Gu Yu.

Karena reaksi mereka sangat besar, itu berarti … dia benar.
.
.

Setelah ucapan Duan Zixuan, Gu Yu tidak lagi memiliki nafsu makan. Setelah memakan sedikit, dia buru-buru berdiri dan bersiap untuk kembali ke kamar.

Jika Gu Yu ingin pergi, Bo Shangyuan tidak akan tinggal. Jadi keduanya pun kembali bersama.

Sadar hanya tersisa dua orang, Duan Lun tidak memiliki nafsu makan dalam sekejap, meletakkan sumpit dan pergi.

Berbeda dengan mereka bertiga, Duan Zixuan makan dengan lahap.

Selesai makan, dia perlahan bangkit dan kembali ke kamar.

Dalam perjalanan kembali, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke Duan Lun.

[ Kakak ~]

Enyahlah. ]

[ Kenapa kakak melakukan ini padaku? Aku tidak mengatakan apa-apa. ]

Diabaikan.

[ Kakak, apa kau membaca pesanku? ]

Masih diabaikan.

[ Kakak ~~~~~~~ ]

Masih tidak ada balasan.

[ Apa kau punya nomor telepon bocah tadi? ]

[ Bukan kakak Bo, tapi bocah yang pendek. ]

Duan Lun segera membalas.

Apa yang ingin kau lakukan dengan nomor teleponnya? ]

[ Aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah, aku ingin meminta maaf padanya. ]

Ck. ]

[ Kau bohong. ]

[ Aku sungguh-sungguh! ]

[ Kita akan bersama selama beberapa hari, aku tidak ingin menjadi canggung dengannya. ]

Benarkah? ]

[ Hmm! ]

Kau tunggu, aku akan mencarinya. ]

[ Baik ~ love you kakak ~]

Enyahlah, love you kentutmu. ]


116. Suka, tidak masalah itu laki-laki atau perempuan.

Setelah sibuk selama hampir setahun, ibu Bo akhirnya punya waktu luang dan pergi ke SMA Chengnan.

Ibu Bo melangkah ke lingkungan sekolah  dengan sepasang sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter.

Dia tampak muda seperti gadis SMP dan penampilannya indah dan menakjubkan, terutama aura kelas atas yang membedakannya dari orang kaya baru dan para wanita simpanan.

Karena kedatangan terakhir ibu Bo menyebabkan kejutan besar di sekolah. Jadi kali ini, begitu dia muncul, selain siswa tahun pertama, siswa tahun kedua dan ketiga langsung bisa mengenali itu ibu Bo.

Para senior dari kelas dua dan tiga berkumpul dan dengan penuh rasa ingin tahu mendiskusikan apa yang dia lakukan untuk kali ini.

Adapun siswa baru tahun pertama, menahan napas memandang wajah gadis SMP ibu Bo.

Ibu Bo muncul di sekolah, secara alami Bo Shangyuan tahu.

Namun, tidak ada respons.

Karena baginya, orang itu hanya orang asing.

Teman sekelas di kelas penuh hiruk pikuk membahas situasi ini sambil mengarahkan pandangan pada Bo Shangyuan.

Gu Yu penasaran dengan hati-hati melihat sosok ibu Bo dan kemudian menemukan bahwa wajah orang itu tampaknya sedikit mirip Bo Shangyuan.

Sama seperti reaksi orang lain, Gu Yu secara tidak sadar melihat ke arah Bo Shangyuan. Namun, tidak ada ekspresi diwajah lelaki itu.

Ketika memikirkan wajah dingin Bo Shangyuan ketika ditanya tentang keluarganya, Gu Yu ragu-ragu, dan akhirnya tidak bertanya apa-apa.
.
.

Setelah melihat denah sekolah di samping gerbang sekolah, ibu Bo langsung pergi ke ruang guru di lantai empat.

Dia berdiri di pintu kantor, melepas kacamatanya dan tersenyum pada orang di dalam. “Guru, bisakah aku masuk?”

Orang-orang di kantor melihat ibu Bo dan berdiri tanpa sadar dan berkata, “… Silahkan masuk.”

Ketika ibu Bo melangkah ke kantor, reaksi pertamanya untuk menemui guru kelas kelas A tahun kedua namun suara seorang wanita yang duduk di arah kanan kantor, berkata, “Aku dengar saat di tahun pertama sekolah menengah. Apa kau orang tua dari Bo Shangyuan?”

Ibu Bo menoleh. “Ya, dan kau…”

Cao Luoling menatap ibu Bo, memperkenalkan diri. “Halo, aku adalah guru kelas dari kelas B.”

Ibu Bo mengerti, tidak banyak berpikir. “Oh begitu, tapi aku mencari-“

“Bo Shangyuan sekarang berada di kelas B. Jika kau memiliki sesuatu, kau bisa datang dan mencariku.”

Ibu Bo tertegun.

“Dia ada di kelas B? Bagaimana bisa?”

Guru Cao mengangkat alis melihat reaksi ibu Bo, “Dia tidak memberitahumu?”

Mendengar itu, ekspresi ibu Bo sedikit tidak wajar. “Aku biasanya tidak memiliki hubungan yang baik dengan anakku. Dia tidak begitu menyukaiku, jadi apapun yang terjadi di sekolah, dia tidak pernah memberitahuku …”

Guru Cao mengerti, lalu berkata. “Hasil ujian simulasi tahun keduanya tidak ideal jadi dipindahkan ke kelas B.”

Ibu Bo tidak begitu paham, “Dia selalu peringkat pertama di sekolah, bagaimana mungkin-“

Guru Cao memotongnya, “Pada awalnya, kami berpikir nilai siswa Bo benar-benar turun. Setelah dua ujian bulanan, kami menemukan bahwa dia sengaja menjatuhkan nilainya.”

Ibu Bo tertegun, “… Sengaja?”

Guru Cao. “Ya, mungkin demi sekelas dengan teman satu mejanya saat ini.”

Ibu Bo dengan kaget mengulangi. “Demi satu kelas dengan teman satu meja… sengaja menjatuhkan nilai …”

Dia tiba-tiba teringat ucapan nenek Bo dua hari lalu ketika bertanya pada Bo Shangyuan tentang gadis yang disukainya.

Meskipun ibu Bo tidak menjalani tugasnya sebagai ibu yang untuk Bo Shangyuan tetapi setelah dua tahun bertobat, dia sedikit bisa memahami watak anaknya itu.

Dingin, tidak mudah didekati dan tidak pernah peduli pada orang lain …

Dengan watak seperti itu tetapi demi sekelas dengam teman satu mejanya, dia sengaja menjatuhkan nilai…

Jika tidak salah menebak, apa mungkin teman satu mejanya saat ini …

Memikirkan itu, ibu Bo tidak tahan untul bertanya, “Itu… Kalau boleh tahu, siapa teman satu mejanya?”

“Namanya Gu Yu.”

… Gu Yu?

Ibu Bo mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “… bagaimana ini terdengar seperti nama laki-laki?”

Guru Cao mengangkat alisnya, “Dia laki-laki.”

Ibu Bo seketika kaku, “…Laki…laki?”

Guru Cao mengangguk, “Ya.”

Setelahnya, Guru Cao bertanya. “Ah ya, kau tiba-tiba datang ke sekolah, apa ada sesuatu?”

Ibu Bo tersenyum tidak wajar dan berkata, “Oh, tidak ada apa-apa, hanya ingin bertanya tentang prestasi dan keadaannya baru-baru ini.”

Guru Cao mengangguk, tidak banyak berpikir. “Sangat bagus. Kecuali untuk ujian simulasi tahun kedua, yang lainnya dia selalu peringkat pertama. Selain tidak terlalu suka bicara, juga tidak suka menjawab terlalu banyak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Ibu Bo tersenyum dan berkata, “Ya, itu bagus …”

Dia melanjutkan, “Apa aku bisa pergi dan melihatnya sekarang?”

Guru Cao bergumam dan mengangkat tangannya, melihat jam.

“Sekarang kelas sedang berlangsung, apa sebaiknya kau menunggu setelah kelas selesai?”

Ibu Bo berbisik, “Aku hanya ingin melihatnya dari luar, tidak melakukan apa pun.”

Guru Cao ragu-ragu dan akhirnya mengangguk. “… Hm, lihatlah sekarang.”

Ibu Bo mengangguk dan keluar dari kantor setelah mengucapkan berpamitan.

Setelahnya bergerak ke arah kelas B.

Takut dilihat Bo Shangyuan, ibo Bo mengintip dari celah antara pintu depan dan dinding.

Pandangannya menyapu seseisi kelas dan segera menemukan sosok Bo Shangyuan.

Setelahnya, dia beralih ke sosok teman satu meja yang membuat Bo Shangyuan sengaja menjatuhkan nilainya.

Dia sedikit terkejut begitu menatap wajah Gu Yu yang manis, lembut dan polos kekanak-kanakan.

Apa seperti ini anak yang disukai Bo Shangyuan?

Pada saat ini, dia tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya melihat wajah tertekan Gu Yu dan terlihat sedikit marah.

Gu Yu meletakkan pena, memindahkan bangku ke samping, menjauhkan dirinya dari Bo Shangyuan.

Sementara Bo Shangyuan menatapnya dengan penuh senyum.

Sudut bibirnya melengkung lalu mengatakan sesuatu pada Gu Yu, karena jarak yang jauh, ibu Bo tidak bisa mendengar dengan jelas.

Namun, dia benar-benar membeku melihat wajah senyum anaknya itu.

… Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada seorang pun di keluarga Bo yang melihat Bo Shangyuan tersenyum.

Setelah mengamati keduanya, ibu Bo perlahan menarik pandangannya.

Sepertinya dia sangat menyukai bocah itu.

Suka, tidak masalah itu laki-laki atau perempuan.

Ibu Bo pun berbalik pergi dengan tasnya.

Setelah pergi, pandangan Bo Shangyuan jatuh ke arah pintu depan.

Hanya sekilas.
.
.

Sejak terakhir ibu Gu curiga dia berkencan, entah kenapa Gu Yu selalu merasa ibu Gu belakangan ini selalu membahas tentang kencan remaja.

Seperti saat ini, ketika satu keluarga itu tengah makan siang, Ibu Gu tiba-tiba bertanya pada ayah Gu yang sedang membaca koran. “Putra Lao Li di lantai bawah berkencan dengan gadis di kelas. Apa kau tahu ini?”

Ayah Gu tidak mendongak, “Tahu, apa yang salah.”

Alis ibu Gu berkerut. “Saat tahu anaknya berkencan, reaksi pertama Lao Li adalah membiarkan putranya dan gadis itu putus. Akibatnya, siapa sangka, putranya tidak hanya tidak mendengarkan, tetapi juga berkata ingin lari dengan gadis itu.”

Mendengar itu, ayah Gu tidak bisa menahan tawa. “Lari dengan kekasih? Anak-anak jaman now benar-benar menarik.”

Melihat ayah Gu tidak menanggapi dengan serius, ibu Gu meningkatkan nada suaranya. “Apa yang kau tertawakan, aku bicara serius padamu!”

“Anak orang lain yang berkencan, apa urusannya dengan kita?”

“Pencegahan! Bagaimana jika anak kita juga berkencan?”

Ayah Gu akhirnya mengangkat kepalanya dan berkata, “Jika dia ingin berkencan, berkencan saja, apa masalahnya.”

Ibu Gu terkejut, tidak bisa dipercaya. “Apa masalahnya, ini masalah besar! Jika dia berkencan dan tidak belajar dengan baik, bagaimana dia bisa masuk ke universitas yang bagus? Hanya untuk cinta, apa kau ingin dia menghancurkan hidupnya?”

Ayah Gu melambaikan tangannya, tidak setuju. “Ini tidak seburuk seperti yang kau katakan…”

Ibu Gu marah, menyuap nasi ke mulutnya. “Jangan bicara lagi, kau tidak masuk akal!”

Ayah Gu mengangkat bahu dengan polos.

Ibu Gu tidak lagi berbicara, perhatian ayah Gu kembali pada koran, jadi tidak berbicara lagi.

Adapun Gu Yu, diam dan tidak ada yang dikatakan.

Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering.

Gu Yu hanya mengatur notifikasi nada untuk Bo Shangyuan, siapa yang mengirimnya pesan, tak usah dikatakan lagi.

Mendengar suara itu, ibu Gu menatapnya tanpa sadar.

Gu Yu tidak berani mengeluarkan ponselnya, takut konten pesannya dilihat oleh ibu Gu, jadi dia berkata. “… Spam iklan.”

Ibu Gu mengambil kembali garis pandang.

Gu Yu menghela nafas lega dan melepaskan hatinya.
.
.

Dalam beberapa hari ini, ibu Gu selalu berbicara tentang masalah cinta monyet dari waktu ke waktu, dan Gu Yu juga menjadi gelisah.

Sebelumnya, saat pergi ke sekolah di pagi hari atau ketika keluar dari sekolah di malam hari, Gu Yu saling bercanda bersama Bo Shangyuan.

Tapi sekarang, dia takut tidak sengaja dilihat oleh ibu Gu dan merasa curiga, jadi selama itu di rumah, dia akan menjaga jarak tertentu dari Bo Shangyuan.

Meskipun Bo Shangyuan kesal, karena dia menjelaskan alasannya di sekolah, jadi dia tidak bisa mengatakan apa pun.

Bo Shangyuan memberi masukan untuk sebaiknya berterus terang pada ibu Gu, tetapi Gu Yu yang panik langsung menolak.
.
.

Lebih dari sebulan berlalu.

Dalam sekejap mata, itu adalah liburan musim dingin.

Entah apakah itu hati yang baik, atau akhirnya ada naluri manusia dalam kamusnya. Liburan musim dingin ini, Bo Shangyuan memutuskan untuk mengesampingkan kelas tambahan dan mengajak Gu Yu keluar untuk bermain.

Oh, juga bersama Duan Lun.

Secara alami, Duan Lun yang muka tebal pasti ikut.

Setelah menerima pesan, Gu Yu sangat senang dan bertanya mengapa Bo Shangyuan tiba-tiba ingin mengajaknya bermain.

Ini jawabannya.

Karena tidak bisa mencium dan memelukmu di rumah, aku akan melakukannya di luar. ]

[ … Jadi kau membawaku keluar bermain, hanya untuk mencium dan memelukku. ]

Hm. ]

[ … oh. ]

Semua kegembiraan wajah Gu Yu menghilang dalam sekejap tanpa jejak.
.
.

Pergi bermain keluar bersama Bo Shangyuan, secara alami Gu Yu harus mendapatkan izin dari orang tuanya.

Setelah tiga hari gugup, Gu Yu akhirnya berani mengatakan pada orangtuanya.

Di hati ibu Gu dan ayah Gu, Bo Shangyuan memiliki nilai bagus, tampan, dan akademisi yang sangat baik. Dia sempurna. Segera setelah mendengar bahwa dia akan membawa Gu Yu keluar untuk bermain, mereka tentu saja langsung setuju.

Ayah Gu berkata dengan tersentuh. “Nak Yuanyuan benar-benar baik, kalau saja dia jadi anak angkat kita.”

Ibu Gu mencibir. “Keluarganya begitu kaya, bagaimana mungkin jadi anak angkatmu? Jangan pikirkan tentang hal itu, cuci muka dan tidur.”

Ayah Gu mengeluh. “Aku hanya sekedar bicara saja …”

Berbicara tentang ini, ibu Gu tidak bisa menahan perasaannya untuk berkata, “Tapi Bo Shangyuan benar-benar baik pada Yu Yu. Kadang-kadang aku bahkan berpikir itu terlalu baik. Jika saja Yu Yu seorang gadis, aku pasti sudah berpikir dia  menyukai Yu Yu kita …”

Ayah Gu dengan aneh melirik ibu Gu dan berkata, “Kau bicara omong kosong. Anak kita laki-laki.”

“Aku hanya mengumpamakan.”

Disisi lain, Gu Yu, tidak berani mendengarkan lagi. Dia pamit lalu kembali ke kamar.

Setelah masuk, Gu Yu dengan cepat menutup pintu.

Dia duduk di lantai, hatinya penuh rasa khawatir.

Setelah melihat reaksi positif Yu Miao dan Ge Zijin tentang hubungan sesama lelaki, dia punya harapan yang sama terhadap reaksi orang tuanya saat memberitahu mereka nanti.

Tetapi pada saat ini, itu hanyalah angan-angan.


115. Tidak boleh berkencan.

Bo Shangyuan terdiam lama memandang syal dilehernya.

Disisi lain, Gu Yu akhirnya membuka suara. “… Makanannya akan menjadi dingin.”

Bo Shangyuan tersadar kemudian tersenyum kecil.

Setelah makan malam, Gu Yu duduk di sofa dan menyalakan TV.

Ada berbagai acara di TV, dan tawa terus-menerus di acara itu, ruang tamu yang besar dan dingin telah menjadi hidup untuk sementara waktu.

Namun, perhatian Gu Yu ada di tempat lain.

Lebih tepatnya pada figur Bo Shangyuan yang sedang membersihkan dapur.

Dia tadinya ingin membantu, tetapi ditolak.

Sementara Bo Shangyuan yang tengah membelakanginya tahu bahwa Gu Yu mengawasinya.

“Lihat apa.”

Gu Yu terciduk lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke TV di depan.

Tapi setelah beberapa saat, dia tidak bisa menahan diri untuk kembali menyelinap ke arah Bo Shangyuan.

Kali ini, Bo Shangyuan tidak bertanya lagi, tetapi menyeka tangannya, dan langsung berbalik untuk menatapnya.

Gu Yu menelan ludah dan ragu-ragu.

Di menggigit bibirnya dan mengambil napas dalam-dalam, seolah akhirnya mendapatkan keberanian, dia berkata, “Itu, bisa tidak besok …”

Bo Shangyuan mengangkat alisnya.

Gu Yu kusut untuk waktu yang lama, dan akhirnya berkata dengan kalimat hati-hati. “Bisa tidak besok libur?”

Besok sabtu, jika mengikuti temperamen Bo Shangyuan … Tentu itu adalah kelas tambahan.

Pada saat tahun pertama, Gu Yu merasa bersyukur dan tergerak.

Namun, setelah kelas tambahan yang tidak terputus selama hampir satu tahun, Gu Yu sekarang merasa itu adalah kabar buruk.

Disaat libur akhir pekan musim dingin, orang lain akan berlibur tetapi Bo Shangyuan tetap tidak akan membiarkannya lolos sehari!

Sangat kejam!

Benar saja, setelah mendengar itu, raut cerath diwajah Bo Shangyuan berubah dalam sekejap.

“Tidak.”

Gu Yu, “…”

Semua raut bahagia di wajah Gu Yu juga menghilang.

“… Aku membencimu.”

“Tidak masalah, aku menyukaimu sudah cukup.”

Gu Yu langsung memerah, tidak tahu harus berkata apa.

Melihat Bo Shangyuan yang tampak tenang, Gu Yu mematikan TV, dan berdiri.

Dia tergagap. “Aku … aku marah!”

Selesai bicara, berbalik dan berlari pulang.

Ruang tamu seketika menjadi hening.

Disisi lain, Bo Shangyuan tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

Gu Yu bergegas kembali ke rumah. Setelah tiba di kamar tidur, dia segera mengambil ponsel dan mulai memposting.

Kekasihku hanya ingin membuat kelas untukku setiap hari dan tidak memberiku libur diakhir pekan, apa yang harus aku lakukan? ]

Setelah posting dikirim, seperti yang terakhir kali, dia menerima N tanggapan dalam sekejap.

1L [ Pamer cinta, enyahlah! ]

2L [ Menolak dan menendang mangkuk makanan anjing. ]

Jomblo yang tidak suka liat orang pacaran pamer cinta. /

3L [ FFFFFFF. ]

4L [ Sial, mataku pedas. ]

5L [ Kakak perempuan, bergabunglah dengan para jomblo disini! ]

Setelah membaca beberapa jawaban, ekspresi Gu Yu kusut dan bingung.

Pamer cinta? Dia tidak merasa begitu.

Gu Yu mengambil gambar komentar balasan tersebut lalu mengirimnya ke Bo Shangyuan.

[ ]

[ Kenapa aku disebut pamer cinta? Aku jelas tidak seperti itu. ]

Kekasih? Hm? ]

[ …… ]

[ Gu Yu menarik pesan. ]

[ Sudah larut, aku mau tidur. ]

[ Selamat malam. ]

[ …… ]

Setelahnya, Gu Yu dengan tersipu meletakkan ponsel.

Di sisi lain, nenek Bo tiba-tiba menelepon Bo Shangyuan.

Setelah dihubungkan, suara Nenek Bo terdengar. “Yuanyuan, pulang besok untuk makan? Nenek merindukanmu.”

“Aku tidak akan kembali dua hari ini.”

Mendengar itu, nenek Bo meratap, “Kau sudah lama tidak kembali, apa sudah tidak ingin melihat nenek lagi?”

“Tidak, Nenek, jangan berpikir begitu.”

“Karena tidak, maka pulanglah besok untuk makan. Nenek membelikanmu beberapa baju baru! Sebelumnya, si bocah Bo Cheng itu masih datang dan minta hadiah, nenek langsung menolaknya.”

Nenek Bo menurunkan postur tubuhnya dan hampir berbisik.

Bo Shangyuan mengangkat tangan, mengusap alisnya.

Pada akhirnya, dia setuju untuk pulang.

Nenek Bo berkata dengan gembira, “Kau akan pulang besok, nenek akan memasak untukmu!”

“Baiklah.”

Nenek Bo teringat sesuatu. “Ah benar, gadis yang kau sukai itu, bawa dia juga, nenek ingin melihatnya.”

Bo Shangyuan tanpa sadar memandang ke arah dinding.

“Tunggu beberapa hari. Lagipula, dia bukan …”

“Bukan? Bukan apa?”

“Tidak ada.”

Adapun topik orang yang disukainya adalah laki-laki bisa dijelaskan setelah bertemu langsung nanti.

Nenek Bo tidak banyak berpikir.

Karena sudah agak terlambat, jadi setelah berbicara sebentar, nenek Bo dengan enggan menutup telepon.

Setelah telepon ditutup, Bo Shangyuan mengirim pesan.

Besok libur. ]

Pesan ini dikirim dan segera mendapat balasan.

[ Benarkah???? ]

Bo Shangyuan akan bersiap untuk membalas, tetapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Bukannya tadi kau bilang akan tidur? ]

[ …… ]

[ Oh … tidak … Aku belum tertidur. ]

[ …… ]

Bo Shangyuan tidak lagi membalas.

Gu Yu menunggu beberapa saat lalu dia mengambil inisiatif untuk bertanya.

[ Apa benar besok libur ? ]

Sudah larut, aku mau tidur. ]

[ …… ]

[ Selamat malam. ]

[ ………… ]

Bo Shangyuan sungguh membalas dendam ah!

Gu Yu pergi tidur dengan emosi.
.
.

Keesokan harinya.

Ketika Bo Shangyuan tiba di rumah utama Bo, wajahnya seketika dingin setelah melihat ibu Bo.

Dia hanya melirik sekilas lalu menghampiri nenek Bo yang duduk di kursi utama aula.

“Nenek.”

Nenek Bo senang dan bergegas berdiri, berniat menyambutnya.

Melihat itu, Bo Shangyuan berkata. “Nenek, kau tidak harus datang, aku yang akan datang.”

Nenek Bo berhenti, lalu merasa sangat senang. “Yuanyuan kami semakin tampan.”

Bo Shangyuan memeluk nenek Bo lalu duduk di sofa.

Setelahnya, ibu Bo yang duduk diseberang, bertanya. “… Bagaimana kabarmu di sekolah baru-baru ini? Apa nilaimu bagus? Bagaimana dengan teman sekelas?”

Seolah-olah itu tidak terdengar, Bo Shangyuan tidak responsif.

Ekspresi ibu Bo tampak canggung dan kehilangan muka.

Meskipun dia sudah memperkirakan reaksi ini, namun itu terlalu kejam.

Suasana tampak agak kaku saat ini, nenek Bo melihatnya dan menjelaskan. “Ibumu, dia hanya ingin datang dan melihatmu …”

Mendengar kata ‘ibumu’ membuat wajah Bo Shangyuan semakin dingin.

Dalam 16 tahun terakhir, dia tidak pernah menjadi seorang ibu, dan dia tidak pernah memenuhi tanggung jawab yang disebut ibu. Lalu tiba-tiba ‘pertobatan’, dan ingin dianggap sebagai keluarga.

Melahirkannya tanpa mendidik dan tidak membesarkan, tetapi dengan muka tebal menyebut diri sendiri ibu.

Sungguh hal yang konyol.

Namun, jika nenek Bo bicara, dia tidak mungkin tidak merespon.

Bo Shangyuan bergumam samar, dan kemudian tidak bicara lagi.

Suasana menjadi lebih kental.

Nenek Bo menghela nafas sedikit dan segera mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kabarmu dengan gadis yang kau sukai?”

Ibu Bo tertegun, tanpa sadar bertanya. “Apa ada gadis yang disukai Yuanyuan?”

Nenek Bo tersenyum. “Ya …”

Ibu Bo ingin lanjut bertanya, namun Bo Shangyuan lebih dulu berkata dengan dingin. “Ada atau tidak gadis yang aku suka, apa urusannya denganmu? Bibi ini terlalu ikut campur.”

Ibu Bo membisu.
.
.

Sisi lain.

Pagi ini, Gu Yu sengaja tidur sampai jam sepuluh.

Jika membuat kelas, Bo Shangyuan sudah pasti datang untuk mengetuk pintu rumahnya pada jam 9:05, dan akan langsung menyeretnya.

Tapi ketika sampai jam 10, dan belum melihat sosok Bo Shangyuan, dia merasa yakin hari ini memang libur.

Suasana hati Gu Yu seketika sangat nyaman.

Dia masih berbaring dan memutuskan untuk menghabiskan satu hari di tempat tidur.

Karena hari ini adalah akhir pekan, jadi obrolan bahagia di grup empat orang itu muncul satu per satu.

Xiao Jin Jin Lucu [ Apa kalian sudah bangun? ]

Shen Teng [ ]

Shen Teng [ Hehe ~ ]

(= ∩ω∩ =) [ ]

(= ∩ω∩ =) [ Membaca …]

Xiao Jin Jin Lucu [ Kalian tebak apa yang Gu Yu lakukan sekarang? ]

Shen Teng [ Apa ini masih harus ditebak? ]

(= ∩ω∩ =) [ Ini sudah lebih dari jam sepuluh. Dia pasti sedang membuat kelas bersama Bo Shangyuan. ]

Melihat ini, Gu Yu dari tadi jadi silent reader, membalas dengan dua pesan.

[ …… ]

[ Aku di tempat tidur. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Hah? Apa kau berbaring di tempat tidur dengan Bo Shangyuan sekarang?? ]

[ ?  ?  ? ]

(= ∩ω∩ =) [ ?  ? ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ? ]

Mata Gu Yu berkedut.

[ … Aku di tempat tidurku sendiri. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Oh … ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Sayang sekali. ]

[ ?  ?  ?  ?  ? ]

(= ∩ω∩ =) [ ?  ?  ? ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ?  ?  ? ]

Shen Teng [ Apa yang kau bicarakan?  Kenapa aku tidak bisa mengerti satu kata pun?? ]

(= ∩ω∩ =) [ Aku juga … ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Uhuk, tidak bisa bilang, tidak bisa bilang. ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ? ]

Topik ini dengan cepat dilewatkan.

Tiga lainnya lanjut mengobrol.

Pada pukul 12:30, ibu Gu selesai membuat makanan dan memanggil Gu Yu keluar untuk makan.

Mendengar itu, Gu Yu keluar dari kamar tidur dan terus melihat chat tiga orang dalam grup.

Ketika melihatnya, Ibu Gu bertanya dengan alis berkerut, “Yu Yu, kenapa kau masih memegang ponsel? Kau tidak berkencan kan?”

Gu Yu seketika kaku.

Melihat reaksinya, ibu Gu langsung mengambil ponsel dari tangannya.

Gu Yu menarik napas dan secara tidak sadar mengulurkan tangan ingin meraih ponsel itu kembali. Karena catatan obrolannya dengan Bo Shangyuan masih ada, jika ibunya melihatnya … dia tidak bisa berpikir bagaimana reaksi selanjutnya.

Ibu Gu menepis tangannya dan dengan tenang berkata, “Apa benar-benar berkencan?”

Gu Yu berbisik, “… tidak.”

Ibu Gu tidak mempercayainya.

Dia menatap layar ponsel.

Pada titik ini, tiga orang dalam grup sedang mengobrol dengan gembira.

Ibu Gu mengerutkan alis dan membalik catatan obrolan dalam grup, karena chat tiga orang lainnya terlalu banyak, jadi selama beberapa menit, ibu Gu tidak dapat menemukan apa pun.

Dia pun mengembalikan ponsel itu pada Gu Yu.

Ibu Gu memandangnya dengan aneh dan berkata, “Tidak ada apa-apa di dalam, kenapa kau tidak ingin ibu melihatnya?”

Gu Yu tidak berbicara.

Ibu Gu kemudian berkata. “Ibu tidak melarangmu berkencan, tetapi saat ini bukan waktunya. Setelah lulus dari sekolah, kau bisa berkencan. Tapi selama kau belum lulus, tidak boleh.”

Gu Yu menunduk dan menjilat bibirnya.

Pada saat ini, ayah Gu masuk ke rumah dengan membawa tas kerjanya. Begitu melihat bahwa ekspresi di wajah Gu Yu tidak benar. Dia bertanya dengan santai, “Ada apa?”

Gu Yu balas berbisik, “… tidak ada apa-apa.”

Tapi terlihat seperti ini, sepertinya ada apa-apa.

Jadi ayah Gu menoleh untuk melihat ibu Gu, dan bertanya, “Apa yang kau katakan?”

“Aku hanya tidak ingin dia berkencan saat masih sekolah.”

“Memang apa salahnya berkencan saat masih sekolah? Yang penting bisa menyesuaikan. Saat lulus nanti, sangat menyenangkan untuk bernostalgia mengingat cinta monyet masa sekolah.”

“Bicaramu sangat bagus, tapi bagaimana jika nilainya turun? Benar-benar.”

Ibu Gu bicara tanpa henti.

Disisi lain, mata Gu Yu terkulai, diam tanpa kata.