Mar 21, 2022

99. Return of the King

 

    Olimpiade Internasional tahun ini melanjutkan kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, dengan kesulitan tiga soal di kertas ujian dari awal hingga akhir.

     Tahun lalu, seluruh tim ditanamkan pada pertanyaan terakhir dari ujian pertama, yang menyebabkan skor total ditarik dan tim kehilangan tempat pertama.

     Setelah mendapat kertas soal, Jing Ji membaca terlebih dahulu. Dia menetapkan posisi untuk setiap pertanyaan dalam pikiran. Setelah menstabilkan suasana hati, dia mengambil pena dan mulai menghitung di kertas konsep.

     Ujian empat setengah jam seharusnya lama dan sulit, tetapi Jing Ji tidak memiliki gangguan dan hampir tidak merasakan berlalunya waktu.

     "Ya Tuhan, aku kebelet." Di kamar hotel, Wang Qiong keluar dari toilet dan menghela nafas lega, "Setelah buang air kecil, aku merasa hidupku telah disublimasikan."

     Jing Ji tidak mau berbicara dengannya tentang masalah sublimasi, karena dia juga tidak dapat menahan lagi. Dia mendorong Wang Qiong minggir dan bergegas ke toilet dengan cepat.

     Ini adalah pertama kalinya Wang Qiong melihatnya terlihat cemas, agak aneh entah kenapa. Dia bersandar ke dinding dan berkata dengan keras ke dalam, "Hei, berpikir kita harus makan di hotel lagi, aku merasa tidak nafsu makan. Rasanya terlalu tidak enak, sungguh, aku menyesal tidak membawa Laoganma."

*merek saus cabai

     Jing Ji tidak berbicara.

     Setelah air toilet terdengar, suara Jing Ji datang dari pintu, "Apakah menurutmu pantas membicarakan makanan denganku saat ini?"

     "Ada apa?" Wang Qiong tidak peduli, dan berkata dengan penuh kemenangan, "Aku masih bisa mengemut permen saat buang air besar."

     Jing Ji, "..."

     Dia akhirnya tahu bagaimana lemak tubuh Wang Qiong berasal.

     Jing Ji mencuci tangannya, membuka pintu dan keluar, "Ayo pergi, kau harus makan meskipun tidak ingin."

     “Ya.” Wang Qiong menghela nafas dan mengeluarkan kartu kamarnya, “Pergi.”

     Setelah bersatu kembali dengan anggota tim lainnya, beberapa orang turun bersama. Termasuk ketua tim, semua orang diam-diam tidak menyebutkan soal ujian, mereka berbicara, tertawa, dan makan, lalu kembali ke kamar untuk beristirahat.

     Keesokan paginya, masih ujian.

     Tapi kali ini ujian benar-benar terbebaskan. Dari ekspresi santai yang jelas dari para peserta setelah meninggalkan ruang ujian, dapat dilihat bahwa kondisi mental benar-benar berbeda dari pertama kali.

     Kedua team leader ini sangat berpengalaman. Setelah ujian selesai, hasilnya sudah ditentukan. Sama sekali tidak perlu menanyakan hasil untuk memperkirakan skor.

     Harus belajar dengan giat ketika Anda belajar, dan bermain sebanyak yang di inginkan ketika ada waktu luang.

     Oleh karena itu, dalam dua setengah hari berikutnya, ketua tim membawa Jing Ji dan lainnya, tidak hanya berkeliling di tempat-tempat wisata landmark setempat, tetapi juga pergi ke beberapa restoran dengan reputasi yang baik.

     Meskipun waktu singkat, dan melelahkan, mereka semua sangat senang.

     "Foto ini diambil dengan sangat baik." Pada sore hari, Wang Qiong sedang berbaring di ranjang hotel, melihat-lihat pesan grup WeChat, sambil berkata kepada Jing Ji, "Sepertinya berat badanku turun banyak."

     Saat akan keluar bermain, sekelompok orang banyak berfoto dengan bendera nasional. Terlalu merepotkan untuk mengirim ke peserta satu per satu, jadi mereka semua dimasukkan ke dalam grup.

     Jing Ji menunduk dan melirik, itu benar-benar bagus. Dia belajar dari Wang Qiong, masuk ke grup untuk menyimpan foto-foto di dalamnya, dan sesekali mengirim satu atau dua karya menarik ke Ying Jiao.

     Saat ini, Jing Ji dan Ying Jiao tidak banyak terhubung. Karena ada perbedaan waktu hampir tujuh jam dan sangat sedikit terjadi tumpang tindih waktu luang antara keduanya. Ying Jiao juga memulai ujian akhir, Jing Ji tidak ingin mengalihkan perhatiannya.

     Pada saat ini, mengingat Ying Jiao akan pulang untuk belajar mandiri, dia mengirim pesan.

     “Aku mau menonton TV.” Wang Qiong menyelesaikan catatan obrolan dan berkata kepada Jing Ji, “Apa kau akan tidur?”

     “Tidak.” Jing Ji sedang memilah-milah foto-foto itu, dan dia tidak mendongak ketika mendengar itu, “Kau tonton saja”.

     Ketika Wang Qiong menekan tombol, terdengar peluit dan tawa di ruangan itu.  Jing Ji mendengarkan dengan penuh perhatian, itu adalah acara bincang-bincang.

     Wang Qiong mengerutkan kening dan mengubah stasiun. Tapi acara yang biasanya sangat disukai, sekarang terasa sangat berisik. Dia mematikan TV dengan kesal dan melempar remote control ke tempat tidur, "Tidak jadi tonton!"

     Jing Ji menoleh padanya, "Ada apa?"

     “Aku gugup.” Wang Qiong tidak ingin mengatakannya, agar tidak terlihat tidak stabil. Tetapi ketika Jing Ji bertanya, dia tidak dapat menahannya dengan segera menjelaskan, "Hasilnya akan keluar nanti, dan aku tidak tahu bagaimana ujiannya."

     Hasil kompetisi tahun lalu keluar sekitar jam 4 sore waktu setempat, dan sekarang sudah lewat jam 3:30.

     Faktanya, Wang Qiong merasa bahwa dia telah melakukan pekerjaan dengan baik dalam ujian, tetapi selama dia belum melihat skornya, dia tidak tahu sejauh mana pencapaiannya.

     Jing Ji tadinya tidak gugup, tetapi mendengar itu, tiba-tiba menjadi gugup.  Dia meletakkan ponsel, dan berkata dengan tenang, "Mau turun jalan-jalan?"

     Wang Qiong berdiri, menarik tisu dan menyeka keringat dari telapak tangannya, "Jalan-jalan."

     Cuaca di luar bagus, sangat nyaman, tidak panas atau dingin. Mereka berdua keluar dari lobby hotel dan hendak berdiskusi kemana harus pergi, ponsel di saku Jing Ji bergetar, itu adalah video undangan WeChat.

     “Kau bisa menjawabnya.” Wang Qiong berkata dengan bijak, “Aku akan berkeliling.”

     Jing Ji mengangguk, menemukan sudut yang cukup terang dan menekan tombol jawab.

     Wajah Ying Jiao tiba-tiba muncul di layar. Rambutnya basah dan handuk tergantung di lehernya, "aku baru saja mandi dan tidak melihat pesanmu. Apa kau di luar?"

     "Ya." Jing Ji memutar kamera, mengenalkannya pada situasi sekitar, "Lingkungan di sini cukup baik, dan hasilnya akan segera keluar. Aku ... Aku sedikit gugup, jadi aku turun ke bawah."

     YIng Jiao tertawa, sangat jarang melihat Jing Ji gugup karena hasil tes.

     Dia duduk di sofa, "Apa besok tidak adalah kegiatan lain lagi setelah upacara penutupan? Kapan jadwal keberangkatanmu besok lusa?"

     Tiket pesawat dipesan secara seragam oleh ketua tim, dan Jing Ji tidak tahu waktu spesifiknya.

     "Ada pesta makan malam, pesawat akan terbang jam 3 sore lusa, lalu ..." Jing Ji lupa, berkata, "Akan mendarat jam 8 pagi besoknya."

     “Sayang sekali.” Ying Jiao berkata dengan menyesal, “Aku ada di sekolah saat itu.” Dia berhenti, dan kemudian bertanya, “Akan ada pesta makan malam?”

     Jing Ji mengangguk.

     "Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?"

     Jing Ji tidak peduli, "Ini bukan hal besar.” Jika bukan karena Ying Jiao membicarakan tentang besok, dia akan melupakannya.

     “Mengapa tidak?” Ying Jiao mengangkat alisnya, “Apa yang akan kau kenakan?”

     Jing Ji sangat lugas dalam hal ini, dan berkata tanpa berpikir, "Seragam tim, begitu juga Wang Qiong."

     Ying Jiao, "..."

     Ying Jiao terhibur olehnya, “Jangan, sayangku, apa kau akan berpartisipasi atau merusak acaran?” Dia mengambil handuk dan menyeka kepalanya secara acak, berkata, “Jika aku tahu lebih awal, aku akan memberimu satu set jas."

     Jing Ji benar-benar tidak berpikir itu perlu. Dia tidak tahu apa yang terjadi di negara lain. Bagaimanapun, beberapa rekan satu timnya tidak seformal itu.

     “Sebaiknya aku harus membuat satu set untuk kau kenakan nanti.” Ying Jiao menurunkan suhu AC di ruang tamu dan bersandar di sofa dengan malas, “Aku tahu ukuranmu, tetapi ada detail yang harus aku konfirmasikan dulu."

     Jing Ji tanpa sadar mengikuti topiknya, "Apa?"

     Ying Jiao menjilat bibir bawahnya dan merendahkan suaranya, "Apa kau terbiasa mengenakan dari kiri atau kanan?"

     Jing Ji sedikit bingung dengan apa yang dia katakan, "Hah?"

     "Saat mengenakan pakaian dalam," Ying Jiao menatap mata Jing Ji dan berkata dengan ambigu, "Kau biasanya ... lebih dulu mengenakan dari sisi mana?"

     Wajah Jing Ji memerah, dia melihat sekeliling dengan malu, dan memprotes dengan suara rendah, "Ge, aku di luar."

     “Memangnya kenapa diluar?” Ying Jiao berkulit tebal, dan tidak berpikir ada apa-apa, “Tidak ada orang di sekitarmu, cepat jawab, atau kau ingin aku bertanya beberapa kali?”

     "Tidak," Jing Ji mengusap wajahnya dengan keras, dan berkata dengan hati tidak PD, "Ki-kiri."

     "Oke, aku akan mengingatnya." Ying Jiao memandangi wajahnya yang merah, gatal di hatinya, dan dengan sengaja usil, "Jing Shen, aku sangat mengenalmu, bukankah kau harus mengerti aku juga?"

     Jing Ji segera mengerti apa yang dia maksud, tetapi menggoda pacarnya di luar di siang bolong agak terlalu berlebihan baginya. Dia mengangkat matanya menatap Ying Jiao, menunjukkan kelemahan, "Ge ..."

     “Ya.” Ying Jiao tidak tergerak, memberi isyarat agar dia melanjutkan.

     Jing Ji menunduk, wajahnya panas membara. Setelah periode perkembangan psikologis yang lama, dia mengertakkan gigi dan bertanya dengan lembut, "Lalu ... Kau lebih dulu ke sisi mana?"

     Semakin patuh dia, semakin Ying Jiao ingin mengganggunya, "Kenapa kau tidak kembali dan lihat sendiri?"

     Jing Ji menjabat tangannya dan lensa bergerak turun beberapa inci.

     "Tidak mau melihat?"

     Jing Ji menoleh karena malu, dan berkata, "... Tidak."

     Ying Jiao tersenyum puas dan hendak mengatakan sesuatu. Tiba-tiba Wang Qiong berteriak sambil bergegas seperti bola meriam.

     Wajahnya memerah, dan bibirnya gemetar. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung memeluk Jing Ji dengan tangannya.

     Tidak siap, Jing Ji berjalan mundur beberapa langkah, ponsel ditanganya hampir jatuh ke tanah. Tapi dia memiliki firasat samar di dalam hatinya, dan dia tidak mendorong Wang Qiong pergi.

     Benar saja, sebelum dia sempat bertanya, Wang Qiong berkata dengan penuh semangat, "Ki-kita yang pertama!!!"

     Dia meraih bahu Jing Ji, matanya memerah, "Guru baru saja berkata dalam grup! Nomor satu, kita benar-benar nomor satu!" Dia menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan dirinya, "Guru meminta kita kembali."

     Mata Jing Ji sangat cerah, dan dia berhasil mempertahankan ketenangannya yang tampak.

     Dia menarik napas dalam-dalam, meremas jari-jarinya yang kaku, dan mengangkat ponsel lagi, "Ge, aku ..."

     “Selamat.” Ying Jiao tidak tahu kapan dia telah berdiri dari sofa. Dia menatap Jing Ji tanpa berkedip, dengan kebanggaan dan keterkejutan yang tak terselubung di wajahnya.

     Bahkan jika sudah berkali-kali, Ying Jiao tetap terkejut olehnya.

     Dia telah melihat-lihat berita yang relevan dan tahu betapa sulitnya baginya untuk menjadi yang pertama di antara berita buruk di luar.

     Ying Jiao menenangkan detak jantungnya yang ganas, dan perlahan berkata, "Jika kau sibuk, aku akan menutup telepon dulu. Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu di sini di China, aku akan memberi tahu Guru Liu dan lainnya."

     Jing Ci mengangguk dengan penuh semangat dan menutup panggilan.

     Pukul 16.09 waktu setempat, hasil dari kompetisi internasional ini diumumkan secara lengkap.

     Setelah kalah empat tahun berturut-turut, timnas menampar orang asing yang arogan itu dengan skor total 213 dan menjadi tempat pertama yang pantas.

     Di antara mereka, Jing Ji memiliki skor tinggi 41, memberikan kontribusi besar bagi tim ini.

     Peserta lain tidak mau kalah, dan mengikuti dari belakang. Cen Hai bersaing dengan mantap, dengan skor total 40.  Wang Qiong tampil luar biasa dan mencetak 38 poin dalam tes tersebut.

     Total skor adalah yang pertama di grup, dan memenangkan satu perak untuk perangkat keras.

     Pada titik ini, timnas menunjukkan kepada seluruh dunia kembalinya raja dengan sikap yang tak terkalahkan.

     Pada upacara penutupan, keenam peserta, di bawah kepemimpinan ketua tim, mengambil bendera nasional dan naik podium secara bergantian.

     Pada layar raksasa di atas mereka, informasi pribadi mereka dengan jelas ditampilkan kepada penonton——

     Republik Rakyat Tiongkok

     Ji Jing

     Hai Cen

     Qiong Wang

     Shutter kamera langsung diklik, yang menetapkan kemuliaan momen ini selamanya.

     Ketika tim Jing Ji mundur, mereka berpapasan langsung dengan tim asing urutan kedua.

     “Dia yang berjalan di depan, dan telah menyipitkan mata pada kita sebelumnya.” Wang Qiong berbisik di telinga Jing Ji, “Apa yang terjadi? Bukankah terlalu berat bagi kita untuk berbalik? Ha! Ha! Ha!”

     Jing Ji mengangkat matanya ke arahnya, hanya untuk memenuhi garis pandang pesaing.

     Dia tersenyum provokatif, lalu sedikit mengangkat tangan kanannya, mengibarkan bendera nasional di tangannya.

     Bendera merah cerah perlahan menyebar di depan matanya, dan pandangan peserta asing itu terhenti, seolah-olah telah ditusuk, dan dengan cepat membuang muka.

     Ketika berita itu kembali ke China, media dan netizen pun meledak.

     Angka satu yang diharapkan setelah empat tahun tidak cukup untuk dijelaskan dalam istilah yang berharga.

     Media bergegas melaporkan kejadian ini, tidak hanya dalam siaran pers, tetapi juga dalam tajuk berita yang sangat berani.

     { Olimpiade Matematika Internasional, tim Tiongkok kembali! Berhasil memenangkan kejuaraan}

     [ Kembali bersejarah! Selamat kepada Timnas karena telah memenangkan tim pertama di Olimpiade Matematika Internasional dan melepaskan satu perangkat keras perak! ]

     [ Siapa bilang Olimpiade Matematika Cina telah jatuhOtak orang Cina tetaplah otak orang Cina. ]

     Foto-foto Jing Ji pada acara penutupan tersebut tidak hanya dicetak ulang oleh media-media besar, bahkan muncul di TV.

     Bahkan media resmi memposting Weibo untuk merayakan kali ini mendapatkan kembali posisi teratas. Sehingga kejadian ini melesat menjadi pencarian panas dalam satu tarikan nafas, meski hanya sedikit dari bawah namun juga menarik banyak perhatian.

     Netizen seketika bodoh. Bagaimanapun, mereka tidak memiliki harapan apa pun sebelumnya. Mereka terus mengatakan bahwa fokusnya adalah pada partisipasi. Siapa tahu mereka telah menunggu kejutan seperti itu pada akhirnya.

     [ Ah, ah, ah, sangat bersemangatLebih bersemangat daripada saat aku diterima di universitas! Ini sangat bagus! ]

     [ Luar biasa! Selamat untuk enam peserta! ]

     [ Luar biasaAku bangun dan menjerit bertiup dengan liar! ]

     [ Tiba-tiba menemukan hal yang mengerikan ... Kenapa para Xueba ini sangat menarikTerutama yang di tengah, tidak hanya lebih pintar dari kita, dia bahkan terlihat lebih tampan dari kita ... ]

     [ Di atas, tutup mulut, aku tidak ingin mendengarkan, terima kasih! ]

     Percobaan provinsi bahkan lebih menyenangkan. Sebuah spanduk besar digantung di gerbang sekolah keesokan paginya——

     < Selamat kepada siswa Jing Ji dari kelas 7 tahun kedua di sekolah kami karena telah memenangkan medali emas di Olimpiade Internasional! >

     Bahkan homepage jaringan sekolah telah diperbarui Kepala sekolah menulis berita secara pribadi, dan memasang foto foto Jing Ji sebelumnya dengan guru sekolah.

     Di sisi asing, setelah acara penutupan, setiap orang harus kembali ke kamar dan memberikan kabar baik kepada keluarga.  Jing Ji, karena itu adalah skor tertinggi di tim kali ini, harus menerima wawancara pribadi.

     Setelah menyapa reporter, Jing Ji duduk di meja.

     Wajahnya mantap dan matanya stabil seperti biasa, dan tidak ada yang mengelak atau sumpek saat menghadap kamera, seolah-olah dia tidak ada dengan orang yang memotret.

     Sebelum pembukaan, dia bertanya, "Apakah wawancara ini dalam bentuk siaran pers dengan video?"

     Reporter muda di seberang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ketika tatapannya yang samar tersapu, dia tanpa sadar menegakkan punggungnya dan berkata sambil tersenyum, "Kau begitu tampan. Tentu saja dengan video."

     Jing Ji mengangguk, menunjukkan bahwa dia mengetahuinya.

     Wawancara bukanlah hal baru, semuanya berisi konten lama yang sama: perasaan mendapatkan medali emas, pengalaman belajar selama bertahun-tahun, dll. Sampai reporter bertanya, "Apa hobimu?"

     Jing Ji berkata dengan jujur, "Matematika."

     Reporter, "……"

     Reporter mengira dia akan mengatakan sesuatu tentang bola basket dan bulu tangkis, tetapi dia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ketika dia ingin bertanya lagi, dia mendengar Jing Ji berkata, "Yang lebih aku minati akhir-akhir ini adalah batas fungsi."

     Wartawan tersebut teringat bahwa ia telah disiksa begitu banyak saat mendaftar ujian masuk pascasarjana, setelah lulus ia langsung lupa. Seseorang akan tertarik dengan hal ini? Dia mengulangi dengan tidak percaya, "Batas fungsi?"

     "Ya." Ada kertas dan pena di atas meja, Jing Ji mengambil alih dan dengan cepat menulis beberapa kata di atasnya——

     f (x) → A (x → x0)

     Dia mendirikan kertas itu, menghadap kamera, bibirnya sedikit melengkung, "Itu saja."

     Reporter itu tertawa datar, “Seperti yang diharapkan dari seorang Xueba, bahkan hobinya sangat berbeda.” Kemudian dia dengan cepat mengakhiri topik dan terus mengajukan pertanyaan.

     Wawancara berlangsung selama tiga menit, kecuali untuk batas fungsi yang disebutkan di sini, jawaban Jing Ji sangat formal.

     Setelah reporter kembali, dia merevisi video dan mempostingnya di Weibo bersama dengan siaran pers.

     Secara umum, wawancara semacam itu tidak ditonton. Tetapi karena nilai nominal Jing Ji, volume siarannya sangat tinggi, dan akhirnya mengikuti pencarian pencarian yang panas.

     [ Ah ah ah ah ah, adik kecil itu tersenyum saat menyebutkan batas fungsi! ]

     [ Benar saja, dia tersenyum hanya ketika dia berbicara tentang hobinya, sisanya dingin _ (: ะท 」∠) _  ]

     [ Xueshen selalu mengeluarkan sesuatu yang berbeda daripada sampah seperti kita. ]

      [ Hei, hei, aku tidak tahu apa itu batas fungsi. Kedelapan belas kali diulangi, Yan Gou tidak bisa keluar! ]

     Selanjutnya, sambil menjilat layar dengan gila, membahas perbedaan antara Xueba dan Xuezha.

     Hanya Ying Jiao, setelah menonton video tersebut, keluar dari Weibo dan membuka mesin pencari.

     Di kertas putih itu, selain rumus yang tidak bisa dia mengerti, tanda identitas kecil tertulis di sudut kanan atas.

     Apakah Jing Ji mencoba mengatakan sesuatu padanya?

     Dia memasukkan batas fungsi di kotak pencarian dan melihat ke bawah halaman web sedikit demi sedikit. Ketika dia melihat yang tertentu, pupilnya tiba-tiba menyusut--

     f (x) → A (x → x0) juga dicatat sebagai lim f (x) = A

     f (x) mendekati A tak terhingga, dan A adalah limit dari f (x).

     Beberapa siswa sains akan menggunakan definisi batas fungsi untuk menyatakan cinta:

     lim f (x) = A berarti lim aku = kamu.

     Aku sangat dekat denganmu, kau adalah satu-satunya batasanku. Bahkan jika kau memberiku seluruh dunia, aku hanya di sisimu.[]

0 comments:

Post a Comment