Jan 3, 2022

80. Happy new year

     Mereka berdua selesai main-main dan mengemasi semuanya, saat itu sudah tengah malam. Jing Ji menyusut di selimut dan membungkus dirinya menjadi kepompong.

     Ying Jiao tanpa daya, mengupasnya dari selimut dan menariknya ke dalam pelukannya, "Bukankah kita baru saja menggunakan mulut satu sama lain, apa perlunya menutup tubuhmu?"

     "Ja-jangan bahas ..." Jing Ji mengulurkan tangannya untuk menutupi mulutnya, ambruk, "Kakak, jangan bicarakan itu ..."

     “Oke, tidak bahas.” Ying Jiao menundukkan kepalanya dan menciumnya di telapak tangannya, dan mengubah topik pembicaraan, “Siapa yang kau temui saat kau keluar hari ini?”

     “Tidak ada.” Jing Ji menurunkan matanya, membiarkan Ying Jiao mengusap pinggangnya dengan perlahan, “Aku baru saja ... tiba-tiba mengalami kejang.”

     Ying Jiao terkekeh, karena tahu dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi tidak masalah, dia mungkin bisa menebaknya.

     "Sayang," Ying Jiao mengulurkan tangannya dan mengangkat dagunya, dan berkata dengan serius, "Jangan mengatakan hal seperti itu untuk menusuk hatiku di masa depan, oke?"

     "Maafkan aku." Jing Ji meminta maaf, dan berjanji, "Aku tidak akan melakukannya lagi."

     "Jangan khawatir tentang apa pun," Ying Jiao dengan lembut membelai rambut dan bagian belakang lehernya, dan berkata dengan lembut, "Ada aku."

     Jing Ji mengucapkan, "hmm".

     "Jadi ..." Ying Jiao menatap rambutnya dan menyeringai, "Kau mau pergi bersamaku besok untuk membeli satu set pengaman? Rasa apa yang kau suka?"

     Jing Ji membeku, tidak mengerti mengapa tiba-tiba berubah lagi ke topik awal.

     "Kudengar ada bermacam-macam tipe, lubricating, granular, threaded, icy ... yang mana yang kau suka?"

     Jing Ji membenamkan kepalanya di dadanya dan tidak mengatakan apa-apa.

     "Aku bertanya padamu," Ying Jiao terus bertanya, "Atau kau ingin memilih sendiri saat tiba di supermarket?"

     "Se-semuanya ..." Jing Ju mengepalkan jarinya erat-erat, menutup matanya, dan berkata, "Terserah padamu ..."

     Ying Jiao terkekeh, mengetahui bahwa dia hampir mencapai batas, menundukkan kepala dan menciumnya, dan mematikan lampu samping tempat tidur, "Tidurlah."

     Jing Ji terlalu lelah, dan tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.

     Dalam kegelapan, Ying Jiao mendengarkan napasnya yang teratur, memeluknya, dan mendesah pelan.

°°°


     Beberapa hari kemudian, itu adalah Malam Tahun Baru.

     Ying Jiao dan Jing Ji telah setuju menghabiskan malam tahun baru bersana He Yu dan yang lainnya. Di malam hari, mereka makan ayam kelapa bersama dan berangkat ke alun-alun tempat kembang api dinyalakan.

     “Aku dengar kembang api ini adalah yang termegah dalam sepuluh tahun terakhir.” Zheng Que sangat gembira sehingga dia tidak bisa duduk diam, bukan karena dia menyukai kembang api, tetapi karena dia terinfeksi oleh suasana Malam Tahun Baru yang berseri-seri di sekitarnya, "Itu berlangsung selama sepuluh menit."

     "Lao Zheng, tenanglah." He Yu memegang kelapa, sambil minum, berkata, "Kau lagi-lagi gagal mengajak gadis kencan jadi apanya yang menyenangkan."

     Zheng Que langsung layu. Dia melirik dengan iri pada Ying Jiao dan Jing Ji di sebelahnya, dan berkata dengan masam, "Aku hanya sekedar mengajaknya saja saat itu."

     Ying Jiao membungkus kembali syal Jing Ji yang terbuka dan menatap Zheng Que dengan kasihan, "Penampilanmu yang enggan mengakui kesalahan benar-benar menyedihkan dan membuat orang iba."

     Zheng Que, "..."

     Zheng Que sangat marah hingga hidungnya mengkerut, jadi dia mengabaikannya dan beralih bertanya pada He Yu, "Lao He, apa menurutmu aku harus belajar beberapa alat musik? Orang yang memainkan gitar di atas panggung selama perayaan sekolah kita terakhir kali, aku mendengar bahwa kemudian dia telah menerima banyak surat cinta."

     Dia bertanya-tanya, "Alat musik apa yang bisa menunjukkan kejantananku, tetapi juga menarik perhatian para gadis?"

     He Yu, "Pergi belajar gitar juga?"

     Zheng Que menggelengkan kepalanya, "Ada terlalu banyak orang dalam bidang ini, tidak jarang."

     Jing Ji berpikir sejenak, dan berkata dengan serius, "Piano?"

     Zheng Que menyangkal lagi, "Itu terlalu sulit, ini harus dilakukan dengan cepat."

     Ying Jiao mendengus.

     Zheng Que segera menatapnya dengan waspada.

     "Mulai cepat, menarik, dan maskulin ..." Ying Jiao menghitung tuntutannya satu per satu.

     “Ya!” Zheng Que sangat puas dengan kata penutupnya, “Kakak Jiao, apa kau punya saran yang bagus?”

     Ying Jiao, "Suona."

*suona, shawm Cina (oboe), digunakan dalam festival dan prosesi atau untuk keperluan militer.

     Ada beberapa tawa tak terkendali di sekitarnya, He Yu langsung menimpa Peng Chengcheng, hampir tidak mencekik Peng Chengcheng.

     Bahkan Jing Ji tidak bisa menahan dan tertawa.

     Zheng Que bergegas untuk menerjang Ying Jiao, tetapi pada akhirnya, dia tidak bisa menahan dan ikut tertawa.

     Mereka tiba di alun-alun.

     Ada banyak orang dan penuh sesak. Jika tidak memperhatikan, bisa hilang dari kelompok dalam kerumunan.

     Yingjiao menoleh untuk melihat Jing Ji, dan berkata, "Ikuti aku."

     Jing Ji mengangguk, menunjukkan bahwa dia mengerti.

     Ying Jiao merasa gatal ketika melihat penampilannya yang berperilaku baik, dan dengan usil menarik ujung topi mantelnya.

     Jing Ji juga tidak marah, jadi dia meluruskan topinya kembali dengan emosi yang baik.

     Mereka datang agak terlambat, jadi semua spot terbaik telah ditempat kerumunan. Postur He Yu yang gemuk tidak bisa menyelip dan akhirnya mereka hanya bisa berdiri di sisi pintu masuk kereta bawah tanah.

     11:59.

     Di gedung ikonik alun-alun, angka hitung mundur yang berwarna-warni muncul.

     Seseorang tidak bisa menahan diri dan mulai menghitung mundur, "Empat puluh satu ... empat puluh ... tiga puluh sembilan ..."

     Saat angkanya semakin kecil dan kecil, suara kerumunan yang menghitung mundur semakin nyaring dan nyaring.

     Akhirnya, ketika angka di gedung berubah menjadi nol, deretan kembang api pertama dengan ekor keemasan pucat menyapu langit malam, meledak-ledak di atas kepala, meledak menjadi warna-warna cemerlang.

     Kerumunan tiba-tiba bersorak sorai.

     “Kali ini tidak sia-sia!” He Yu berteriak pada Zheng Que dengan suara nyaring.

     Zheng Que mengangguk antusias, menenangkan seruan di dalam hatinya untuk beberapa saat, melihat sekeliling, dan tiba-tiba berkata, "Dimana kakak Jiao dan kakak Ji?"

     “Hah?” He Yu melihat sekeliling sebentar, tapi dia tidak melihat siapa pun, bertanya-tanya, “Bukankah tadi masih di sini? Mungkin karena terlalu banyak orang, jadi mereka pergi ke tempat lain.

     "Seharusnya."

     Di pintu masuk kereta bawah tanah saat ini, Ying Jiao menekan Jing Ji ke dinding dan menciumnya dengan keras.

     Saat itu sudah lewat jam 12 tengah malam, dan kereta bawah tanah sudah lama berhenti beroperasi dan tidak ada orang di dalamnya. Semua orang tertarik dengan kembang api tersebut, dan tidak perlu khawatir seseorang akan menerobos masuk.

     Kembang api di luar sangat indah dan meriah. Di dalam, ada dunia kecil mereka yang tenang.

     Ying Jiao meraih tangan Jing Ji dan menggenggam jari-jarinya, menempelkan dahinya ke dahinya, dan berbisik, "Selamat Tahun Baru."

     Keduanya berpelukan erat, mengambil nafas satu sama lain. Jing Ji mengangkat kepalanya sedikit sehingga dia bisa mencium Ying Jiao, "Selamat Tahun Baru."

     Ini adalah Tahun Baru pertama mereka bersama, dan akan ada banyak Tahun Baru seperti itu di masa depan.

     Jing Ji berpikir.

     Dia melirik gelang hitam di pergelangan tangannya, lokasi malam tahun baru akan berubah, bentuknya akan berubah, dan pemandangan di sekitarnya akan berubah, tetapi keduanya tidak akan pernah berubah.

     "Apa yang kau pikirkan? Serius sekali." Ying Jiao menggosok hidung keduanya dengan penuh kasih, dan tersenyum, "Itu karena aku belum bekerja cukup keras."

     "Tidak……"

     Jing Ji ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara akhir menghilang di antara bibir dan lidahnya.

°°°


     Ying Jiao memiliki Hari Tahun Baru yang sangat nyaman. Pada siang hari, menulis pertanyaan dan menggoda Jing Ji. Kemudian akan melepaskan energi di tempat tidur pada malam hari. Satu-satunya penyesalan adalah dia belum sampai ke langkah terakhir.

     Bukannya tidak ingin, tetapi kekurangan alat yang diperlukan.

     Sebelumnya, dia takut Jing Ji akan merasa bahwa dia melakukan sesuatu yang salah padanya, jadi dia tidak menyiapkan pengaman dan pelumas.

     Siapa yang tahu bahwa ketika ingin menggunakannya, itu bertepatan dengan libur Festival Musim Semi jadi toko sedang tutup.

     Ying Jiao juga menolak pergi ke pinggir jalan untuk membeli produk bermerek kecil, takut tubuh Jing Ji tidak akan sehat, jadi dia hanya bisa mengertakkan gigi dan menahan api dan menunggu pengiriman toko online resmi. Pada akhirnya, itu bertepatan saat Jing Ji akan pergi bergabung ke tim pelatihan.

     “Kau bisa berkonsentrasi dalam menjalankan bisnismu, jangan khawatirkan aku.” Di stasiun kereta, Ying Jiao memasukkan sebotol air mineral ke tangan Jing Ji, dan mengusap kepalanya, “Aku akan menunggumu di rumah.”

     Dia berhenti, lalu tersenyum dan menambahkan, "Jangan khawatir, aku akan mengerjakan soal sesuai jadwalmu dan pastikan tidak malas."

     Sebelum mereka berpisah, Jing Ji sudah mulai merindukan Ying Jiao. Dia mengangguk, mencoba mengatakan sesuatu, tetapi hanya satu kalimat yang tersisa di bibirnya, "Kalau begitu aku akan pergi dulu. Sampai jumpa di awal masuk sekolah."

     Setelah berbicara, dia tertegun. Dia merasa bahwa situasi ini agak familiar, tetapi untuk sementara dia tidak dapat mengingat kapan mengalaminya.

     Saat pemeriksaan tiket dimulai, dia sangat ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Ying Jiao, jadi dia tidak berpikir secara mendalam.

     Ying Jiao menjabat tangannya yang tertutup lengan baju dengan penuh semangat, "Sampai jumpa di awal masuk sekolah."

     Setelah menunggu sampai sosok Jing Ji menghilang di gerbang tiket, Ying Jiao berbalik dan pulang.

     Jelas hanya ada satu orang yang hilang, tapi rumahnya begitu kosong. Dia menatap kosong ke kursi di ruang belajar. Biasanya saat ini, Jing Ji sudah duduk di sini dengan tenang dan membaca. Selama dia memalingkan matanya, dia bisa melihatnya.

     Ying Jiao duduk di kursi itu dan dengan lembut membuka lemari di bawahnya, ingin mengeluarkan buku latihan dan mengalihkan perhatiannya.

     Dia tertegun.

     Di lemari yang tertata rapi, ada beberapa kotak permen yang dikemas cantik. Dia membungkum, dan dengan lembut mengangkat label di atasnya—

     [ Ge, makanlah saat kau ingin merokok. ]

     Dia saat itu hanya mengarangnya dengan santai untuk membuat Jing Ji bahagia.

     Dia sudah lama melupakannya.

     Tetapi Jing Ji selalu ingat.[] 

79. Maka aku harus menghukummu. Kau setuju?

    Akhir-akhir ini, Jing Ji tiba-tiba menjadi sibuk. Telepon masuk silih berganti dan dia akan berlari keluar dari waktu ke waktu.

     Ying Jiao awalnya mengira itu adalah keluarga Jing yang mengganggunya lagi, tetapi ia sempat melihat ID penelepon beberapa kali dan melihat bahwa itu semua adalah Guru Liu, jadi dia tidak banyak bertanya. Bagaimanapun, Jing Ji akan pergi ke Yangcheng untuk pelatihan setelah tahun baru, mungkin karena ini.

     Jing Ji menghela nafas lega saat melihat bahwa Ying Jiao tidak curiga.

     Faktanya, penelepon bukanlah Guru Liu, tetapi pengacara firma hukum. Hanya saja dia ingin memberi Ying Jiao kejutan, takut dia akan mengetahuinya lebih awal, jadi dia mengubah nama kontaknya.

     Lagipula, dia mempelajari trik ini dari Ying Jiao. Saat itu, mereka baru saja bertemu. Untuk membiarkan dirinya setuju berada di meja yang sama dengannya, Ying Jiao sengaja mengganti nama kontaknya menjadi Liu Shichen, sehingga dia secara keliru percaya bahwa orang yang chat dengannya itu adalah Guru Liu.

     Jing Ji tidak bisa menahan senyum, dia benar-benar marah pada saat itu, tetapi sekarang ketika memikirkannya, itu sangat manis.

     Jing Ji beruntung, setelah berdiskusi dengan pengacara, beasiswanya cair tepat waktu. Setelah membayar uang dan menyerahkan semua informasi yang diperlukan kepada pengacara untuk mempercayakan agen, batu besar di hati Jing Ji akhirnya jatuh ke tanah.

     Secara kebetulan, pada sore hari waktu beasiswa cair, Guru Liu benar-benar meneleponnya. Mengatakan bahwa ada urusan dengannya, tidak jelas jika mengobrol ditelepon jadi menyuruhnya datang.

     Jing Ji setuju dan pergi ke sekolah dengan sepeda Ying Jiao.

     Saat Festival Musim Semi semakin dekat, tahun pertama dan tahun kedua sekolah menengah telah pulang bersenang-senang selama liburan, dan hanya tahun ketiga yang masih berjuang dengan tumpukkan soal ujian. Sekolah jauh lebih sepi, Jing Ji mengunci sepeda dan langsung lari ke kantor.

     Guru Liu menunggu sejak tadi. Dia melihat ponselnya dan mengangkat kepala ketika mendengar gerakan. Dia melihat Jing Ji, senyum muncul di wajahnya, dan dia menepuk kursi di sebelahnya, "Kau tiba sangat cepat."

     Jing Ji duduk di sampingnya, sedikit malu dan berkata, "rumah Ying Jiao dekat dengan sekolah."

     Tampaknya keduanya rukun, dan Guru Liu merasa lega. Tanpa bertanya lebih banyak, dia melanjutkan, "aku mencarimu kali ini untuk tim pelatihan. Guru Zhao baru-baru ini sibuk, jadi izinkan aku memberi tahumu."

     Jing Ji segera duduk tegak.

     “Sembilan belas orang akan dipilih di babak pertama seleksi, dan enam orang akan dipilih di babak terakhir. Kau seharusnya sudah tahu tentang ini sebelumnya.” Melihat Jing Ji mengangguk, Guru Liu melanjutkan, “Karena enam orang ini mewakili tim nasional untuk berpartisipasi dalam kompetisi internasional, jadi bukan hanya tentang hasil."

     Guru Liu takut dia akan melewatkan sesuatu, dan kecepatan berbicaranya jauh lebih lambat dari biasanya, "Itu tergantung pada kualitas keseluruhan, kecerdasan emosional dan bahasa Inggris."

     "Aku tidak mengkhawatirkan yang lain. Kau stabil dan memiliki kualitas psikologis yang baik. Kau tidak pernah kacau pada saat-saat kritis," Guru Liu berpendapat, "Hanya saja kepribadianmu sedikit dingin."

     Guru Liu memberi nasihat, "Ketika kau masuk ke tim pelatihan, kau harus sedikit lebih antusias pada guru dan siswa di sekitarmu. Tidak perlu berbicara tentang sosialisasi lebih dalam, setidaknya kau jangan membuat mereka berpikir kau terlalu dingin."

     Jing Ji mengetahui kekurangan dalam karakternya, dan tahu bahwa Guru Liu bermaksud baik, dia berjanji, "aku akan melakukannya."

     "Baiklah," Guru Liu melanjutkan, "Tim pelatihan memiliki intensitas belajar yang sangat tinggi. Meskipun ada banyak peserta tahun kedua yang dipilih, aku dengar banyak yang tidak dapat mengikuti setelah bergabung tim."

     Guru Liu memandangnya dan menasihati, "Jangan berada di bawah tekanan, nilaimu sudah sangat bagus sekarang, dan universitas telah ditetapkan. Bahkan jika ini terjadi, jangan khawatir, jadikan sebagai pengalaman hidup."

     Nyatanya, Guru Liu tidak ingin mengatakan ini pada Jing Ji pada awalnya, karena dia takut dia akan terlalu banyak berpikir. Tetapi tim pelatihan adalah pelatihan tertutup. Jika tidak mengatakannya sebelumnya, jika terjadi kesalahan pada saat itu, itu benar-benar di luar jangkauannya.

     "Aku mengerti." Jing Ji tidak sesensitif dan serapuh yang dipikirkan Guru Liu. Dia berkata dengan serius, "aku akan melakukan yang terbaik. Jika aku tidak bisa melakukannya, aku tidak akan memaksakannya."

     Guru Liu menepuk meja, “Itulah alasannya!” Dia berkata, dan dia mengeluarkan setengah kantong buku dari bawah meja, meletakkannya dipangkuan Jing Ji, dan menulis dengan ringan, “Pemilihan tim nasional tergantung tentang banyaknya pemahaman matematika, ini disponsori oleh sekolah, aku membelinya dengan guru Zhao, ambil dan pelajari."

     Jing Ji sedikit terkejut.

     Ini jelas waktu liburan, tapi Guru Liu dan Guru Zhao masih mengkhawatirkannya.

     Setelah melintas ke dunia buku ini, dia tampak beruntung.

     Setiap orang begitu baik, begitu baik sehingga dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikannya.

     “Terima kasih guru.” Jing Ji memandang Guru Liu dan berjanji, “aku akan membacanya sampai selesai.”

     Guru Liu tidak bisa menahan geli olehnya, "Kau tidak perlu membacanya sampai selesai, lakukan saja apa yang kau bisa."

     Dia berpikir sejenak, lalu berkata, "Ngomong-ngomong, kau harus belajar lebih banyak dari Ying Jiao dalam bahasa Inggris, terutama dalam bahasa Inggris lisan. Itu pasti akan berguna."

     "Baik."

     Setelah mengatakan semuanya, Guru Liu akhirnya berkata, "Hati-hati ketika kau pergi ke Yangcheng. Telepon guru jika kau membutuhkannya. Jangan merasa malu."

     Jing Ji mengucapkan terima kasih lagi dan setuju.

     Guru Liu melirik layar ponselnya, tidak lagi membuang-buang waktu, dan melepaskannya.

     Saat Jing Ji keluar dari kantor, diperkirakan dia hampir pergi. Guru Liu menggulir daftar kontak ponsel dan menelepon Zhao Feng.

     Zhao Feng telah menunggu teleponnya, dan menjawabnya setelah berdering, dengan penuh semangat berkata, "Apakah kau sudah selesai? Apakah kau tidak melewatkan apa-apa?"

     Guru Liu mendengus, "Bagaimana mungkin? Bagaimana kau memberi tahuku, aku baru saja memberi tahu Jing Ji."

     "Itu bagus." Zhao Feng merasa lega dan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, "Mengapa kau mau menggantikanku melakukan ini?"

     Guru Liu tidak ingin mengatakan apa-apa, tetapi takut Zhao Feng akan menngeksposnya, jadi dia harus berkata, "aku membeli beberapa buku matematika untuk Jing Ji dan mengatakan kepadanya bahwa itu disponsori oleh sekolah. Kau jangan menbocorkannya."

     Zhao Feng dengan bodoh berkata, "Oke, aku mengerti."

     Disisi lain, Jing Ji mengikat buku itu dengan kuat ke kursi belakang sepeda dan bersiap pergi.

     Musuh dijalan sempit, begitu dia meninggalkan gerbang sekolah, dia bertemu dengan Qiao Anyan.

*bentrokan yang tak terhindarkan antara faksi yang berlawanan

     Qiao Anyan mengikuti seorang wanita paruh baya dengan ekspresi sangat tidak sabar di wajahnya, dia melihat sekeliling dari waktu ke waktu dan kebetulan melihat Jing Ji.

     Mata Qiao Anyan berubah seketika.

     Jing Ji tidak menghiraukannya, meskipun dia akan pusing saat melihat Qiao Anyan, rasa sakit ini pada dasarnya tidak berpengaruh padanya. Dia hendak pergi, tetapi ada dengungan di otaknya, dan banyak gambar muncul dalam sekejap.

     Pelipis Jing Ji berkedut tiba-tiba, dengan mengerahkan kekuatannya dia beralih menuntun sepeda ke depan, mencegah Qiao Anyan melihat keanehan, dan mencoba memilah informasi yang diterima secara pasif.

     Awalnya, Jing Ji masih sedikit bingung, tetapi setelah beberapa saat, dia mengerti.  Novel yang dia baca saat itu muncul di benaknya dalam bentuk lain hari ini.

     Jing Ji melihat bahwa setelah kelahiran kembali Qiao Anyan, nilainya naik dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

     Melihat netizen di forum begitu memujinya.

     Dan melihat beberapa teman sekelas dan guru yang sangat antusias terhadapnya, sama seperti mereka sekarang.

     Dia juga melihat ... Qiao Anyan selangkah demi selangkah, dengan sengaja mendekati Ying Jiao.

     Teman-teman di sekitar Ying Jiao yang awalnya membencinya, semuanya berbalik dan mulai berbicara dengan Qiao Anyan.

     Tiba-tiba, hati Jing Ji sepertinya terangkat, dan itu sangat tidak nyaman.

     Ada suara langkah kaki di belakangnya, bercampur dengan teguran keras wanita, "Apa kau dengan? Liburan musim dingin ini kau harus belajar ulang dengan baik, dan harus menaikkan nilaimu!"

     Jing Ji mengangkat matanya dan kebetulan melihat Qiao Anyan berjalan melewatinya.

     Pada saat dia akan lewat, pupil Jing Ji tiba-tiba menyusut. Dia tidak salah, pada kenyataannya, Qiao Anyan memiliki telinga yang bersih dan tidak ada apa-apa. Tapi Qiao Anyan dalam pikirannya memiliki tanda lahir kecil berwarna merah.

     Jing Ji tidak bisa menahan untuk menjangkau dan menyentuh telinganya, pada posisi yang sama, ada juga bintik kecil berwarna merah. Dia telah tumbuh besar sejak dia masih kecil, dan kepala panti sering berkata dia diberkati dengan bintik ini.

     Jantung Jing Ji berdegup kencang.

     Kelahiran kembali Qiao Anyan, hasil yang sama sekali berbeda dari buku asli dan kenyataan, bintik merah kecil yang tiba-tiba menghilang, sakit kepala ketika melihat Qiao Anyan, dan ketika mendapat pujian dari orang-orang di sekitar, sakit kepalanya akan reda ...

     Apakah dia mencuri role protagonis Qiao Anyan?

     Tapi itu tidak masuk akal. Nilai seseorang mungkin berfluktuasi karena keberuntungan, tapi tidak seburuk itu.

     Selain itu ... orang yang menampakkan bintik merah bukanlah dia, tapi Qiao Anyan.

     Juga, pada saat yang sama ketika Qiao Anyan terlahir kembali, dirinya mengetahui bahwa nilai ujian masuk perguruan tingginya satu poin lebih rendah dari juara sains.

     Semua petunjuk di benak menembus garis dalam sekejap.

     Mungkinkah ... Jing Ji mengerutkan bibirnya dan tidak bisa menahan diri untuk berpikir, kelahiran kembali dan serangan balik Qiao Anyan ada hubungannya dengan dia?

     Dia melintas ke buku ini dengan tujuan tertentu.

     Dia sekarang melihat Qiao Anyan, kepalanya tidak lagi terlalu sakit, menunjukkan bahwa tujuan ini perlahan-lahan tercapai.

     Setelah tujuan itu tercapai, apakah dia benar-benar akan menghilang?

     Langkah kaki Jing Ji perlahan berhenti, saat itu tiba, bagaimana dengan Ying Jiao?

     Dia tidak tahan dengan rasa sakit hanya memikirkan adegan itu.

     Jing Ji menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya untuk tenang.

     Masuk akal untuk berpikir seperti ini, tetapi ada keraguan lain: Apa yang terjadi dengan situsdi ketika dia kadang-kadang bermimpi dengan Ying Jiao di perguruan tinggi?

     Jing Ji menepuk wajahnya dengan keras, agar dia tidak memikirkannya, dan mengendarai sepedanya pulang.

     Tidak, sudah pasti tidak akan seperti ini, dia tidak bisa khawatir tentang apa pun.

     Tetapi Jing Ji masih terpengaruh, dan pemulihan otaknya tidak berhenti sepanjang hari. Akhirnya, ketika dia terbaring di tempat tidur setelah mandi di malam hari, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, "Ying Jiao, jika suatu hari aku tidak ada di sini ..."

     Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Ying Jiao mencubit dagunya.

     Ying Jiao menyipitkan mata padanya, dengan badai samar di matanya, "Apa yang kau katakan? Bisakah kau katakan sekali lagi?"

     Jing Ji segera menyadari bahwa dirinya meracau, dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak ada."

     Sayang sekali air telah tumpah.

     Ying Jiao mendengus dan menyeretnya ke dalam pelukannya, "Apakah karakterku  begitu baik sehingga kau berani mengatakan itu."

     Tangannya perlahan-lahan melepaskan ikatan kancing pertama piyama Jing Ji, "Katakan lagi."

     Wajah Jing Ji langsung memerah, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecilkan bahunya, dan memegang tangan Ying Jiao, "Aku salah ..."

     “Sudah larut malam.” Ying Jiao menarik tangannya dan tidak berhenti membuatnya takut, bukan membuatnya takut seperti biasanya. Dia terus melepaskan kancing Jing Ji, menggigit telinganya dan berbisik, "Jing Shen, begitu enerjik. Katakan padaku, mari kita lakukan sesuatu yang lain untuk memadamkan api untukmu."[]