Dec 4, 2021

11. Sangat tampan

 

     Ketika bel berbunyi setelah kelas, Yan Hao selesai menghitung jawaban.

     Suasana berisik di dalam dan di luar gedung, para siswa dari kelas lainnya lewat di koridor dari waktu ke waktu, dan melirik kelas 1.

     Siswa perempuan melihat Xiaocao, siswa laki-laki menikmati momen.

     Siswa di kelas 1 tidak terpengaruh dengan suasana keluar kelas, semuanya menatap papan tulis dengan wajah heran.

     Guru juga memperhatikan, setelah membaca setiap langkah, dia melihat ke atas dan ke bawah pada siswa di sebelahnya, "Bagaimana kau melakukannya?"

     Yan Hao menyeka debu kapur di tangannya, "Ada soal yang serupa di buku. Aku telah mengerjakannya baru-baru ini."

     Siswa di kelas saling berbisik, pantas saja itu bisa dipahami.

     Pernyataan ini melegakan mereka yang kaget, tidak terima, terpukul, dan menyimpan segala macam dugaan.

     Yan Hao tidak peduli, dia hanya ingin diakui oleh Jiang Muxing.

     Guru itu masih menatapnya, "Soal seperti ini tidak terlihat rumit, tetapi sebenarnya mudah untuk dikerjakan. Ini adalah pertanyaan jebakan pemikiran yang khas. Apa kau menghitungnya sendiri?"

     Orang-orang di bawah podium memandang Yan Hao. Dia tidak ingin menimbulkan masalah, jadi dia menjawab dengan volume yang hanya bisa didengar oleh guru, "aku punya tutor kursus pribadi."

     Guru menunjukkan ekspresi paham, dan berkata dengan nada santai, "Itu cukup bagus, cara belajar yang sangat tepat."

     Yan Hao seketika menggerakkan sudut mulutnya. Jika guru tahu bahwa dia sedang memuji siswanya yang paling dibanggakan, entah apa yang akan dia pikirkan.

     "Kau dapat menghafal seluruh ide, menyelesaikannya dengan jelas dan akurat, memahami dengan analogi, dan cerdas."

     Guru berkata dengan senyum, dia mengangkat cangkir air dan berkata kepada siswa di bawah podium, "Jangan dulu hapus papan tulis, kalian pelajari solusi Yan Hao, kita akan bahas dikelas berikutnya."

     Yan Hao kembali ke kursi, tangan kanannya sedikit sakit, dia menulis dengan kekuatan, sambil memijitnya dengan tangan kiri, dia melirik papan tulis, wajahnya suram.

     Tulisannya jelek sekali.

     Ketika menulis, dia pikir banyak energi yang digunakan, tetapi hasilnya sangat ringan dan halus, tulisannya miring dan bengkok ke sudut kanan atas papan tulis.

     Tulisan Jiang Muxing di papan tulis sangat indah, lebih atmosferik daripada yang tertulis di buku cetak.

     Yan Hao berpikir begitu, melihat ke arah Jiang Muxing.

     Mengingat sorot matanya untuk meminta bantuan dan tanggapan Jiang Muxing, telinga Yan Hao sedikit panas, dia menutup kedua telinganya dan menundukkan kepalanya, melihat buku matematika yang terbentang di atas meja, merasa tak berdaya dan bahagia.

°°°


     Yang Cong dan Xia Shui terbatuk-batuk, menatap Yan Hao dengan empat mata.

     "Uhuk."

     "Ehem."

     "Ehem."

     "Uhuk uhuk ehem ehem."

     "..."

     Yan Hao terus menutupi telinganya dan menoleh, "Apa kalian berdua bernyanyi rap?"

     Yang Cong berpura-pura mencubit taktik, "Teman, siapa namamu?"

     Xia Shui ikut berbicara, "Siapa namamu?"

     Yan Hao, mengangkat alisnya dengan ringan, "Hao Ge."

     Xia Shui nymphomaniac¹, "Keren."

¹Kegembiraan ekstrim

     Yang Cong berdecak jijik, "Ludahmu muncrat."

     “Bisakah kau mengendalikannya?” Xia Shui menempelkan pena ke mulut Yan Hao, “Hao Ge, saya seorang reporter dari WWW, Xia Meinu², bagaimana perasaan Anda tentang pertama kali Anda maju ke papan tulis dan mengerjakan pertanyaan dengan benar?”

²Beautiful woman

     Yan Hao meletakkan tangan yang menutupi telinganya, menjawab dengan resmi, "Belajar membuatku bahagia."

     Yang Cong menepuk meja dengan ibu jarinya ke atas, "Luar biasa!³"

³Niu = sapi, slang luar biasa

     Dia mengarahkan ibu jarinya ke Xia Shui, "Kau juga sapi, Xia Meinu."

     Xia Shui terlalu malas untuk menghadapinya, dia mengeluarkan kotak bundar kecil yang halus dari tas sekolahnya, "Xiao Hao, aku memberimu permen."

     Yan Hao mengambil alih, "Terima kasih."

     “Jangan sungkan.” Xia Shui meletakkan dagunya di atas buku yang telah ditumpuknya di atas meja dan mengedipkan mata bulat aprikotnya. “Ada beberapa rasa dari permen ini, dan semuanya ada di dalamnya. Rasa original adalah favoritku. Ini agak pahit, tapi lama kelamaan manis. Ini jenis manis yang tidak berminyak, dan enak. Almond juga enak.”

     Yan Hao menaruh gula di laci meja.

     Yang Cong merosot di kursi seperti orang tua, "Di mana milikku?"

     "Tidak ada untukmu."

     "Aku pikir aku perlu penjelasan yang masuk akal."

     “Penjelasan, ada.” Xia Shui berkata, “Kau jelek.”

     Yang Cong menggoyangkan kakinya, "Matamu sangat bermasalah. Saatnya pergi ke departemen oftalmologi. Temanmu ini dengan ramah mensponsorimu 50 sen."

     Xia Shui memutar matanya, memberinya sebungkus dendeng sapi.

     "Seperti yang diharapkan dari Xia Meinu." Yang Cong membalik bungkusnya, "Sialan, pedas, aku menyukainya."

     Xia Shui menyeringai, "Aku berharap kau berjerawat setelah makan itu."

     Yang Cong, "..."

     "Ketua kelas bagikan PR."

     Xia Shui menopang dagunya dengan kedua tangan, menangkup wajah, "Sangat tampan."

     "Hei Xiao Hao, Yang Cong, ketika ketua kelas datang, kalian temukan cara untuk berbicara dengannya, aku ingin melihatnya lebih banyak."

     Xia Shui tersenyum lega seperti seorang ibu tua, "Terlalu tampan, kenapa ada laki-laki setampan itu, sangat tampan."

     Yang Cong mencebik mulutnya dengan jijik, "Kenapa tidak sekalian saja aku membantumu dan memberitahunya kau menyukainya?"

     Tatapan Yan Hao tampaknya tertarik oleh gerakan para siswa di kelas, tetapi pada kenyataannya, sudut matanya telah mengikuti Jiang Muxing, dan ketika dia mendengar apa yang dikatakan Yang Cong, alisnya mengerut.

     "Tidak, tidak," Xia Shui mengulurkan jari telunjuknya dan menggelengkan, "aku suka ketua kelas untuk melihat hal-hal indah, bukan jenis cinta antara pria dan wanita, hanya murni mengagumi, bukan hal lain."

     "Mengatakan ini, rasanya seperti melakukan penistaan padanya hanya dengan berfantasi menciumnya."

     Wajah Yang Cong berkedut.

     Yan Hao melihat ke luar jendela. Dia telah berfantasi berkali-kali dan memiliki banyak hal intim seperti itu. Dia ingin Jiang Muxing lakukan padanya. Tidak peduli apa, dia merasa terlalu ilusi jika dia tidak merasa menistakan.

     Jiang Muxing menolak pengejaran cinta para gadis-gadis, hanya karena dia belum bertemu dengan orang yang menggerakkan hatinya, dan itu tidak ada hubungannya dengan dia.

     Hati Yan Hao dipenuhi kabut.

     "Ketua kelas adalah Xueba yang tampan, dan dia sangat dewasa. Ada terlalu banyak orang yang mengejarnya dan menyatakn cinta satu demi satu. Faktanya, itu bagus sekarang. Dia tetap menjomblo dan dunia damai."

     Xia Shui melihat ke koridor. Ada beberapa gadis dari kelas lain yang sering terlihat. Mereka membuat jalan memutar kesini hanya untuk melihat ketua kelas. Mereka sudah menjadi pemandangan lama. Tidak ada lelucon, tidak heran.

     "Jika suatu hari dia mengungkapkan hubungan asmaranya, itu akan berakhir, itu akan meledak."

     Ketika Xia Shui menemukan sesuatu, memberi isyarat kepada Yang Cong untuk melihat ke koridor, "ada pacarmu."

     Yang Cong dengan cepat memakan dendeng di mulutnya dan keluar.

     Xia Shui menutupi wajahnya dengan tangannya, dan berbisik ke Yan Hao untuk bergosip, "Cheng Lingling berada di 20 besar di kelas 3, sangat stabil, SMA tersisa satu tahun lagi. Yang Cong masih belum menemukan tutor kursus pribadi?"

     "Hubungan jarak jauh tidak dapat diandalkan, variabelnya terlalu besar, sepuluh pasang tersebar, bahkan jika keduanya tidak dapat diterima di universitas yang sama, setidaknya mereka harus berada di kota yang sama."

     Yan Hao mengambil pena dan merespon, "Ya, setidaknya di kota yang sama."

     Xia Shui tidak mendengar dengan jelas, perhatian teralih melihat pria tampan yang datang, dia tersenyum dan berteriak, "Ketua kelas!"

     Pena di tangan Yan Hao jatuh.

°°°


     Jiang Muxing mendekat dengan membawa tumpukan buku PR, meletakkan buku Yan Hao diatas meja dan berjalan ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lanjut membagikan buku orang lain.

     Jari-jari Yan Hao meringkuk.

     Xia Shui menggelengkan kepalanya, "Ketua kelas benar-benar cuek."

     Teman semejanya memanggilnya untuk menonton berita di ponsel, dan dia berbalik.

     Yan Hao membawa buku kerja itu kedepannya dan menutupnya segera setelah dia membukanya.

     Ada catatan di buku PR.

     Jiang Muxing menulis catatan kepadanya.

     Jantung Yan Hao berdegup kencang, cepat, dan keras, hampir menembus dadanya. Dia membuka tutup cangkir dan minum air. Wajah dan telinganya merah.

     Setelah menenangkan hatinya, Yan Hao membuka buku kerja lagi dan mengintip isi catatan itu.

     [ Hari ini aku tidak membawa ponsel, jadi datang secara langsung padaku jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan. ]

     [ Buat rencana belajar untuk saya sesegera mungkin, dua puluh empat hari sebelum akhir semester. ]

     [ Siapkan dua buku, satu untuk menghafal pertanyaan yang salah dan yang lainnya untuk menghafal masalah yang sulit. ]

     [ Untuk contoh pertanyaan di buku pelajaran hari ini, kau tutup jawaban dan jangan melihatnya. Lakukan sendiri dulu. Biasakan berpikir dari sudut yang berbeda. Jadi kau tidak akan melihat jawabannya lagi. Coba dorong ke belakang, cari penyebab dari hasil, dan tandai apa yang tidak kau mengerti, kau bisa bertanya saat aku datang kerumahmu nanti besok siang. ]

    [ Dengarkan tuturan guru dengan baik, tingkatkan efisiensi dan kualitas, dan cobalah untuk tidak membuat perbedaan kecil. ]

     [ Kau memecahkan masalah di papan tulis dengan sangat baik]

     Sebanyak enam baris kata, penuh dedikasi keras seorang tutor, serta persyaratan dan harapan siswa, tidak menyebutkan luka bakarnya ditangannya.

     Yan Hao membaca beberapa kali dari awal hingga akhir, mengambil catatan itu, meraba-raba laci meja, melipatnya dengan hati-hati, dan memasukkannya ke dalam saku terdalam tas sekolah.

°°°


     Hanya beberapa lecet karena memasak, bukanlah apa-apa bagi Jiang Muxing, yang hidup dalam kehidupan yang sulit, tentu tidak masuk akal untuk bertanya. Yan Hao meyakinkan dirinya sendiri.

      Namun ketika Jiang Muxing datang ke apartemen untuk memberinya poin penting dan bertanya tentang luka bakar setelah makan, dia benar-benar tertegun.

     Jiang Muxing meletakkan salep di atas meja, "Oleskan dua kali sehari, lepuh kecil bisa sembuh dalam dua atau tiga hari."

     Yan Hao melirik merek obat yang belum pernah dia lihat sebelumnya, "Dari mana ini?"

     “Ads seorang teman memberikannya.” Jiang Muxing memandangi lengannya, “Lepuh yang lebih besar lebih lama disembuh.”

     Yan Hao berdiri dengan bingung.

     Jiang Muxing bertanya, "Apa ada korek api?"

     Yan Hao menggelengkan kepalanya, "Tidak."

     Jiang Muxing menoleh, "Apa ada jarum?"

     Yan Hao menatapnya dengan tatapan bingung.

     Jiang Muxing mengulangi dengan tenang, "Jarum untuk menjahit pakaian."

     Yan Hao akhirnya mengerti, "Tunggu sebentar, aku akan bertanya pada Bibi."

     Apartemen dibersihkan oleh Bibi Zhang, dan dia akan bertanya jika tidak dapat menemukan apa pun.

     Bibi Zhang membuat makan siang dan pergi. Ketika Yan Hao memanggilnya, dia sedang dalam perjalanan pulang.

     "Jarum?" Bibi Zhang berkata di telepon, "Ya, ada beberapa di laci kiri bawah TV."

     "Xiao Hao, apa seragam sekolahmu perlu dijahit? Bibi akan pergi untuk menjahitkannya di malam hari, jangan menyentuhnya sendiri, kau akan terluka."

     "Seragam sekolah tidak sobek, Bibi, aku akan menutup telepon dulu."

     Yan Hao membuka laci paling kiri di bawah lemari TV dan mengeluarkan kotak jahit putih.

     "Ketua kelas, jarumnya ada di sini."

     Jiang Muxing memintanya untuk mengeluarkan kotak obat kecil lagi.

     "Kau ambil beberapa iodophor untuk menyeka lepuh besar di lenganmu, ambil jarum dan panggang di atas kompor gas untuk menghilangkan racun, tusuk lepuh, gunakan bola kapas untuk membersihkan cairan yang keluar, dan kemudian oleskan obat-obatan."

     Yan Hao sakit kepala mendengarkan, "Kenapa sangat merepotkan?"

     "Seluruh proses hanya memiliki lima langkah." Jiang Muxing berkata, "Langkah mana yang merepotkan?"

     Yan Hao menjilat bibirnya, "Satu, dua, tiga, empat, lima."

     Jiang Muxing menatapnya, "Kenapa kau tidak mengatakan semua?"

     Yan Hao lihat lantai, "Semua."

     Jiang Muxing, "..."[]

Dec 3, 2021

78. Aku suka melakukannya secara lisan

 

     Jing Ji tidak tahan dan menggosok apa yang ada di tangannya, matanya merah.

     "Kau ..." Tenggorokannya bergerak, menelan kembali suara menahan haru, "Kapan kau mendapatkan ini?"

     “Beberapa waktu yang lalu.” Ying Jiao tersenyum, dan tidak ingin mengatakan lebih banyak tentang itu. Dia menarik lembut Jing Ji ke sisinya, dan berbisik, "Aku tahu kau tidak ingin menghubungi pihak lain lagi. Karena kau ingin putus hubungan, maka kau harus memutusnya secara menyeluruh dan bersih, benarkan?"

     Jing Ji mengangguk.

     "Ini cara tercepat untuk mendapatkan tempat tinggal permanen terdaftarmu di real estat," Ying Jiao memahami Jing Ji. Dia bahkan tidak mau meminta bantuan untuk biaya hidup, harus dipaksa berulang kali dia untuk mengatakan yang sebenarnya, apalagi menerimanya properti begitu saja.

     Hanya bisa lebih dulu mengatakan, "hal lain tidak begitu penting, yang terpenting kau bisa keluar dari KK dulu."

     Jing Ji mengangkat matanya dan menatap Ying Jiao dengan lamat, hampir tidak bisa menahan emosi yang membanjiri hatinya.

     Dia tidak tahu seberapa banyak persiapan yang telah dilakukan Ying Jiao dibelakangnya, dia juga tidak tahu bagaimana Ying Jiao mendapatkan buku KK Jing. Sebelumnya, Ying Jiao tidak menyebutkan sepatah kata pun kepadanya.

     Dia melakukan semua pekerjaan dengan baik, dan kemudian dia memegang buah di depannya. Katakan padanya, gigit saja tanpa susah payah.

     Dua buku ini seringan bulu tetapi faktanya memiliki esensi yang berat.

     Ying Jiao melihat bahwa dia sudah lama tidak berbicara, berpikir dia sedang memikirkan alasan untuk menolak, dan berkata dengan tanpa daya, "Jangan merasa terbebani, kau tidak perlu memikirkannya."

     Dia menatap langsung ke mata Jing Ji, dan berkata dengan serius, "Hubungan di antara kita tidak akan pernah berubah, kan?"

     Jing Ji mengangguk keras.

     "Karena itu, milikku juga milikmu. Bukankah tidak ada bedanya siapa yang memiliki rumah ini?" Ying Jiao menunduk dan mencium bibirnya, dan berkata sambil tertawa, "Patuh, jangan paksa aku menggunakan metode khusus agar kau setuju."

     Tenggorokan Jing Ji sepertinya tersumbat oleh sesuatu, dan dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

     Bagaimana Ying Jiao bisa begitu baik? Jelas dia memberikan sesuatu padanya.  Tetapi untuk membuat diriku merasa nyaman, ucapkan kata-kata ini dengan sengaja.

     Dia selalu menjaga dirinya sendiri, mulai dari kehidupan hingga keadaan psikologis.

     Jing Ji meletakkan dahinya di bahu Ying Jiao, mencegahnya melihat matanya yang memerah.

     "Aku ..." Dia menarik napas dalam-dalam, membenci mulutnya yang bodoh untuk pertama kalinya. Dia jelas ingin mengatakan sesuatu, tetapi ketika dia mencapai mulutnya, hanya ada satu kalimat tersisa, "Aku menurutimu."

     Rumah bukanlah sesuatu yang sepele, itu terlalu berharga. Bahkan jika apa yang dikatakan Ying Jiao benar, dia tidak bisa menerimanya dengan nyaman.

     Tapi dia tidak akan menolak saat ini, Itu akan terlalu tidak wajar, terlalu tidak bijak, dan membuat niat baik dan usaha Ying Jiao sia-sia.

     Mendengar ini, Ying Jiao merasa lega pada awalnya, dan kemudian segera menyadari bahwa suaranya salah.

     “Ada apa?” ​​Ying Jiao ingin menarik wajahnya untuk melihat, tetapi Jing Ji semakin membenamkan kepalanya di bahunya.

     Ying Jiao terkekeh, tidak memaksanya, mengulurkan tangan untuk membelai rambut dan bagian belakang lehernya, dan tiba-tiba berkata, "Sayang, menurutku ada sesuatu yang salah."

     Jing Ji tenggelam dalam sentuhan dan tidak bisa menahan diri, dan tanpa sadar menjawab, "Hm?"

     “Kenapa kau tidak begitu bersemangat?” Ying Jiao mengangkat alisnya dan berkata tanpa malu, “Aku orang baik yang sulit ditemukan dengan lentera. Jangan bilang kau tidak bisa membandingkannya dengan rumah yang rusak?"

     Jing Ji, "..."

     Jing Ji tidak bisa antara ingin tertawa dan merasa konyol, emosi yang hampir kewalahan langsung menjadi stabil, "Tidak."

     "Kalau begitu kau bisa membuktikannya padaku."

     Membuktikan? Bagaimana membuktikannya?

     Ying Jiao tidak berbicara lagi, hanya bermain dengan jari-jarinya, jelas menunggunya untuk berbicara secara aktif.

     Detak jantung Jing Ji bertambah cepat, diam beberapa saat dan berbisik, "Kau yang paling penting ..."

     Senyum di wajah Ying Jiao perlahan semakin dalam. Dia mengingat kalimat ini beberapa kali di dalam hatinya, suara Jing Ji tidak lagi bergetar, "Oke ..."

     “Kau lebih penting dari apapun.” Jing Ji berkata lagi, suaranya tidak keras, tapi jelas di telinga Ying Jiao.

     Nafas Ying Jiao tersedak, dan kemudian memeluk Jing Ji dengan erat.

     Setelah beberapa saat, ketika suasana hati kedua orang itu hampir tenang, Ying Jiao melepaskan Jing Ji, "ayo pergi sarapan."

     Jing Ji mengangguk dan mengikutinya ke ruang makan.

     Berbeda dengan sebelumnya, sarapan hari ini terkesan sangat sederhana, hanya dengan semangkuk mie di depan Jing Ji.

     "Mi umur panjangmu, aku secara pribadi yang ..." Suara Ying Jiao terhenti saat matanya tertuju pada mangkuk mie.

     Ying Jiao tidak bisa menahan kutukan dengan suara rendah, dia melihat ke mangkuk mie dengan tidak percaya, "Mie rusak macam apa ini! Baru ditinggal sebentar sudah mengembang?!"

     Semula ingin pamer, ternyata memalukan.

     Ying Jiao dengan malu hati, berdiri, mengambil mangkuk mie dan berjalan menuju tempat sampah, mengertakkan gigi, "Jangan makan, aku akan keluar dan membelikanmu semangkuk lagi."

     "Tidak." Jing Ji menghentikannya, bergerak sangat ringan, tetapi mengambil kembali semangkuk mie dengan sangat kuat, "Aku ingin ini."

     "Ah," Ying Jiao berdehem, telinganya sedikit panas, "Lupakan, masih ..."

     Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimat, dia melihat Jing Ji duduk kembali ke posisinya, mengambil sumpitnya, dan mulai makan mie satu suap.

     Ying Jiao menatapnya dengan rumit, untuk waktu yang lama, tersenyum lega, dan tidak berhenti.

     Jing Ji sangat menghargai semangkuk mie ini sehingga dia bahkan tidak melewatkan bawang cincang yang gosong.

     Pada saat ini, suasana hatinya telah stabil, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya kepada Ying Jiao lagi, "Mengapa aku tidak melihat kau mengurus sertifikat real estat?"

     Ying Jiao juga selesai makan. Dia meletakkan sumpitnya, mengambil tisu dari samping, menyeka mulutnya, dan berkata, "Saat aku memberi tahumu bahwa kunci pintu rumah rusak."

     Mata Jing Ji tiba-tiba membelalak, "Jadi kau pergi melakukan ini saat itu?"

     “Kalau tidak?” Tanya Ying Jiao balik, dan tiba-tiba menyadari nada abnormal Jing Ji, “Tidak, lalu mengapa menurutmu aku pergi?”

     "Aku ..." Jing Ji meminta maaf dengan malu, "Maafkan aku."

     Ying Jiao paham sekarang, Jing Ji tahu bahwa dia berbohong, tetapi diam-diam menahannya tanpa bertanya apa-apa.

     Tidak heran Jing Ji tampak tidak wajar setelah dia kembali.

     Saat itu, dia mengira Jing Ji tidak mau dicium olehnya, ternyata karena itu.

     Ying Jiao terkekeh, mengangguk, "Jadi kau tahu bohong, tapi kau tidak bertanya padaku, hanya menebak-nebak dalam hatimu."

     Jing Ji merasa malu dan bersalah lagi, dan sekali lagi meminta maaf.

     Ying Jiao membuang tisu dan berkata dengan ringan, "Di mana kesalahanmu?"

     "Seharusnya tidak meragukanmu ..."

     Ying Jiao tak berdaya, "Kau masih belum mengerti."

     Jing Ji mengangkat matanya dan menatapnya dengan curiga.

     “Bukan hal seperti itu.” Ying Jiao merasa nadanya agak berat, jadi dia santai, dan duduk di sebelah Jing Ji, “Aku berbohong kepadamu, tidak peduli apa karena itu, itu salahku. Kau sudah pasti akan marah dan ragu."

     Dia memegang tangan Jing Ji dan menatapnya dalam-dalam, "Tapi kalau kau tidak senang, kenapa kau tidak mengatakannya?"

     "Itu," Jing Ji menunduk, dan berkata dengan susah payah, "Itu terlalu berlebihan meributkan masalah sepele."

     Masalah sepele seperti itu harus dipertanyakan secara menyeluruh, dan dia takut Ying Jiao akan dipaksa untuk bernapas.

     "Omong kosong." Ying Jiao mencibir, "Saat kau pergi ke Yangcheng, aku marah karena kau pergi keluar dengan Xiao Leyue di malam hari. Apa kau pikir aku meributkan masalah sepele?"

     Jing Ji menggelengkan kepalanya dengan cepat.

     Dia bahkan tidak berpikir begitu, tetapi merasa sedikit bahagia karena tingkah Ying Jiao saat itu.

     Jing Ji mengerti sedikit.

     “Bukan itu.” Ying Jiao mengulurkan tangannya dan mengangkat dagunya, “Berbicara denganmu, lihat aku.”

     "Aku membuatmu marah. Kau bisa kehilangan kesabaran apa pun yang kau inginkan, jangan ditahan. Awalnya masalah sepele, dan menahannya sudah menjadi masalah besar. Jika ini terjadi dalam beberapa dekade mendatang, bagaimana jadinya hubungan kita?"

     Jing Ji mengubah posisinya di dalam hatinya. Jika Ying Jiao seperti dirinya, dia tidak akan mengatakan apa-apa, dan jika dia memiliki emosi yang tidak normal, dia juga akan disembunyikan darinya. Jika mencerna diam-diam, dia akan tidak bahagia.

     “Kakak, maafkan aku.” Jing Ji mengambil inisiatif untuk memegang tangannya, mengabaikan rasa malu, dan berkata dengan cepat, “Aku salah .... Aku tidak akan melakukan ini lagi di masa depan, aku berjanji."

     Melihatnya berinisiatif memanggil Kakak, jelas terlihat bahwa dia sungguh-sungguh mendengarkannya.

     Ying Jiao mengetahui karakternya, dan tidak mudah untuk mengungkapkan sikap yang begitu terus terang. Terlebih lagi, dia juga salah dalam hal ini, dia selalu berpikir bahwa banyak hal yang tidak perlu dijelaskan kepada Jing Ji, dan dia akan melakukannya sampai selesai sendirian.

     Tapi sekarang sepertinya hal ini akan membuat Jing Ji tidak aman. Dia merenung sejenak, dan tidak melanjutkan topik, "Berjanji apa, aku bukan Lao Liu."

     Jing Ji mengira dia masih keberatan, dan hendak mengatakan sesuatu, namun Ying Jiao berkata lagi, "aku orang yang realistis, tidak suka mendengar apa yang dikatakan secara lisan."

     Jing Ji sangat ingin menebus kesalahannya. Untuk sementara, dia lupa apa kebajikannya sendiri, dan dengan cepat bertanya, "Lalu apa yang kau suka?"

     Ying Jiao menjilat bibir bawahnya dan berbisik, "aku suka melakukannya secara lisan."

*oral

     Jing Ji terkejut sejenak, dan segera memikirkan beberapa kata yang dia bisikkan kepadanya di sofa tempo hari, wajahnya langsung memerah.

     Ying Jiao bersandar di kursinya dengan malas dan menikmati rasa malu Jing Ji untuk beberapa saat. Kemudian dia membuang hal-hal yang berantakan di benaknya dan mulai berbicara tentang topik awal, "Transfer kepemilikan, akan di lakukan secepat mungkin."

     Jing Ji sangat ingin dia mengubah topik pembicaraan, dan segera mengangguk.

     "Itu harus dilakukan segera setelah semua informasi selesai, dan kau akan memiliki akun independen sepertiku pada saat itu."

     Jing Ji tergerak dalam hatinya, "Apa kau memikili KK sendiri?"

     Ying Jiao bergumam mengiyakan dan berkata, "Ibuku melakukannya saat itu, tetapi bagaimana mendapatkannya, aku tidak jelas."

     Jing Ji mengangguk.

     Semua hal telah dikatakan, Ying Jiao tidak mengulur waktu Jing Ji lagi. Mereka pergi ke ruang belajar dan mengerjakan dua set makalah. Setelah makan siang, mereka pergi tidur sebentar.

     Jing Ji tidak tidur, ketika Ying Jiao tertidur, dia membawa ponselnya ke balkon, mengetik nomor firma hukum yang baru saja dia catat, dan menelepon.

     Karena takut Ying Jiao bangun, dia merendahkan suaranya, "Ya, aku ingin berkonsultasi tentang real estat."

     "Apa properti balik nama bisa dicabut? Non-kerabat, penerima setuju ..."

     "Bisakah kedua belah pihak bekerja sama? Oke, begitu, terima kasih."

     "Juga ..." Jing Ji meremas ponselnya, dan berkata, "Apakah pendaftaran rumah tangga antar non-kerabat bisa berada dalam KK sama?"

     "Semua orang dewasa, tidak ada anak di bawah umur."

     "Afiliasi KK?! Benarkah? Yah, aku punya waktu besok."

     Setelah menutup telepon, Jing Ji pergi ke ruang belajar dengan suasana hati yang baik, mengambil sertifikat real estat, dan memasukkannya ke dalam kotak arsipnya.

     Dia menutup tutupnya dan tidak bisa tahan untuk membukanya lagi pada detik berikutnya. Setelah melihat cukup banyak, dia menutup kotak itu lagi, tetapi belum beberapa lama, dia membuka kotak itu lagi.

     Setelah mengulanginya berkali-kali, dia akhirnya memikirkan cara untuk bisa tatap berlama-lama.

     Jing Ji mengangkat teleponnya dan mengambil beberapa foto dari sertifikat itu.

     Hadiah real estat bisa dicabut, dan besok dia akan memiliki pengacara untuk membahasnya secara mendetail. Dia tidak menginginkan rumah, tetapi dia benar-benar ingin menghargai niat baik Ying Jiao.

     Jing Ji dengan enggan menyentuh sertifikat, jika hak milik berubah, tidak akan menjadi miliknya.

     Tapi itu tidak masalah, mata Jing Ji berbinar ketika dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan pengacara itu.

     Hukou antara non-kerabat dapat dihubungkan, dan sulit bagi anak di bawah umur untuk menanganinya, tetapi dia sekarang sudah dewasa.

     Jika semuanya berjalan lancar, dia dan Ying Jiao akan berada dalam satu KK yang sama.

     Buku hukou, bagian pertama adalah Ying Jiao, dan bagian kedua adalah dia, jadi tidak ada bedanya dengan mereka yang sudah menikah, bukan?

     Diam-diam membayangkan adegan itu, Jing Ji memegang kotak arsip itu, begitu senang rasanya ingin berguling di lantai.[]