Nov 29, 2020

52. masih mau coba menyentuhnya lagi?

 

     Pipi Jing Ji memerah, pikirannya lumpuh.

     Ying Jiao menahan tawa, mengulurkan tangannya dan meremas daun telinga Jing Ji, "Aku bertanya padamu, kenapa diam saja?"

     Seluruh tubuh Jing Ji akan terbakar, dia dengan erat meremas garpu di tangannya, dan setelah beberapa lama, dia menoleh dengan susah payah, "Jangan membuat masalah ..."

     “Siapa yang membuat masalah denganmu?” Ying Jiao memegang tangan Jing Ji dan berkata dengan sungguh-sungguh, “aku ingin kau mengalami dua peristiwa bahagia serentak dalam keluarga.”

     Dia berhenti, tampak termenung, "Ngomong-ngomong, apa ada masih lilin di rumah? Atau aku ..."

     “Berhenti bicara!” Jing Ji terengah-engah, kepalanya berasap, melepaskan tangan Ying Jiao, dan berdiri.

     Ying Jiao memandang penampilannya yang tampak sangat malu sehingga rasanya ingin menemukan tempat untuk mengubur diri. Dia bertahan dan bertahan, tetapi dia masih tidak tahan. Dia berdiri dan menempelkan kepala Jing Ji ke dadanya, berkata dengan suara berat, "God Jing, bagaimana kau begitu sangat mengagumkan dan imut?"

     Detak jantung Jing Ji hampir melonjak dari tenggorokannya. Dia ingin mundur, melarikan diri, dan mengurung diri di kamar tanpa siapa pun, perlahan-lahan menenangkan dirinya sendiri.

     Tapi dia enggan menyingkirkan Ying Jiao.

     Jing Ji mencoba yang terbaik untuk memasang wajah dingin, mengerucutkan bibirnya dan tidak berbicara.

     Ying Jiao menunduk dan melihat pucuk kepala Jing Ji, hatinya gatal. Dia baru saja menguji garis bawah Jing Ji, dan berencana untuk berhenti, tetapi dia tidak bisa menahan untuk tidak menggodanya lagi, "Mengapa kamu tidak bisa mengatakannya, bukankah kau istri kecilku."

     "Kau……"

     Ying Jiao memiringkan bibirnya dan menunggu kata-kata berikutnya.

     "K-kau belum menyelesaikan PR matematika kan?"

     Ying Jiao, "..."

     Ying Jiao mengertakkan gigi, dengan enggan mengusap kepala Jing CJ dua kali, dan melepaskannya, "Oke, aku mengerti, matematika adalah cinta sejatimu, kapan dan dimanapun kau tidak akan pernah bisa melupakannya."

     Dia duduk kembali dan menyerahkan sepasang sumpit kepada Jing Ji, "Makan dulu, aku akan mengerjakan PR setelah makan, oke?"

     Jing Ji mengambil sumpit, memasukkan garpu ke dalam kotak makanan penutup, dan mengangguk.

     Bibi dirumah Ying Jiao memiliki keahlian yang sangat bagus dan ahli dalam setiap masakan.

     Datang di pagi hari, ketika melihat bahwa Ying Jiao membawa seorang teman, bibi menanyakan preferensi Jing Ji.  Mendengar Jing Ji suka masakan Kanton, yang ada di meja hari ini adalah masakan klasik Kanton, dan juga tidak lupa menambahkan kue puding Portugis.

     Libur tahun baru selama tiga hari dirumah Ying Jiao, Jing Ji merasa santai dan nyaman.

     Selama periode ini, ayah Jing tidak menghubunginya, apalagi menyebutkan biaya hidup.

     Jing Ji tidak bertanya atau menelepon untuk bertanya. Dia mungkin menebak apa yang sedang dipikirkan ayah Jing, tetapi tidak berniat menundukkan kepalanya.

     Guru Liu berkata bahwa sekolah akan menghadiahinya untuk kompetisi ini. Meskipun tidak tahu berapa banyak, mendengarkan nada Guru Liu, itu pasti bukan nominal yang kecil.

     Ujian terakhir sekitar 20 Januari, dan liburan musim dingin akan diadakan di akhir bulan.

     Lebih baik setelah liburan musim dingin. Tidak sulit untuk mencari pekerjaan sebagai tutor berdasarkan nilai. Biaya sekolah untuk setiap semester percobaan provinsi ditambah biaya akomodasi kurang dari dua ribu yuan, yang pasti akan diperoleh.

     Dan sesuai dengan praktik di tahun-tahun sebelumnya, percobaan provinsi akan memberikan bonus kepada 20 siswa terbaik yang diterima di kota tersebut.

     Dengan perhitungan ini, meskipun pendapatan lain-lain tidak bertambah banyak, dia masih bisa bertahan jika menabung.

     Setelah menghitung dan memposting, Jing Ji merasa jauh lebih mudah.

     Ayah Jing tidak menunggu untuk melihatnya, dan dia tidak ingin terlibat dengan keluarga Jing lagi. Sekarang adalah cara terbaik untuk tidak saling mengganggu.

     Sekolah dimulai pada hari Selasa, Jing Ji berangkat lebih lambat dari yang diharapkan karena Ying Jiao sangat susah bangun pagi, dia harus memangginya beberapa kali sebelum menyeret orang itu bangun dari tempat tidur.

     Ketika turun ke bawah, Ying Jiao masih tidak punya energi, mengabaikan mata orang lain di lift, dengan malas bersandar pada Jing Ji dan menutup matanya.

     Baru setelah meninggalkan pintu dan tertiup angin dingin dia menjadi sadar, mengusap wajahnya dan bertanya kepada Jing Ji, "mau sarapan apa?"

     Jing Ji mengulurkan tangan untuk mengambil kunci sepeda di dalam tas sekolah Ying Jiao secara alami, berpikir sebentar dan berkata, "mie panas kering."

     "Oke." Ying Jiao mengangguk dan melangkah ke kursi sepeda, "Ayo, ada mie panas kering saus di depan yang sangat enak, biarkan kau mencobanya."

     Setelah sarapan, mereka berdua pergi ke sekolah tanpa penundaan.

     Mereka datang agak terlambat, ketika memasuki pintu, sudah ada lebih dari separuh orang di kelas.

     Guru Liu memberi tahu hasil di grup, jadi tidak ada seorang pun di Kelas 7 yang tidak mengetahui skor kompetisi Jing Ji. Melihat dia datang, Wu Weicheng memimpin dengan bertepuk tangan dan berteriak heboh——

     "Selamat kepada Kakak Ji karena telah memasuki final!"

     "Kakak Ji luar biasa!"

     "Kakak Ji sangat bagus, tepuk tangan."

     Di ruang kelas, tepuk tangan, tawa, dan selamat bercampur, dan orang-orang yang lewat di koridor kepo untuk melihat ke dalam.

     Hati Jing Ji menghangat saat mendengar kata-kata berkat yang tulus satu demi satu.

     Kelas 7 sangat baik.

     Betapa beruntungnya dia menjadi bagian dari kelas ini.

     Jing Ji mengucapkan terima kasih dengan tulus, dan duduk di kursinya dan mulai membaca.

     Bagi banyak orang, Januari adalah liburan musim dingin dan Festival Musim Semi yang akan datang. Tapi bagi Jing Ji, itu adalah bulan yang berat.

     Ujian final dan ujian akhir dari Olimpiade Matematika Nasional hampir dilaksanakan berdampingan.

     Untungnya, tempat final tahun ini berada di Yangcheng, yang berbatasan dengan Provinsi Donghai, dan jalannya tidak jauh, jika tidak ada hambatan.

     Sebelumnya, buku pelajaran dan kompetisi waktu belajar mandiri Jing Ji dibagi menjadi dua, tetapi sekarang dia telah memutuskan bahwa dia akan dapat memasuki final 100%, dia secara alami harus mengalihkan fokusnya ke Olimpiade.

     Setelah belajar mandiri awal dimulai, Guru Liu datang dan berjalan-jalan, tinggal di sampingnya sebentar, melihat dia mengerjakan soal kompetisi, mengangguk dan pergi.

     Sekarang Jing Ji adalah harapan percobaan di seluruh provinsi, dan bahkan provinsi Donghai.

     Tanpa pelatihan sistematis, ia masuk final Olimpiade Matematika Nasional. Jing Ji adalah yang pertama di Provinsi Donghai.

     Setelah kejutan besar, kepala sekolah dan semua guru mulai berharap Jing Ji bisa memecahkan rekor lain——

     Di final, mereka memenangkan enam puluh tim nasional saja.

     Sungguh memalukan untuk mengatakan bahwa tempat pelatihan diambil alih oleh provinsi kompetitif setiap tahun, dan Provinsi Donghai tidak pernah menyentuh batas.

     Pada awalnya, tidak ada yang mengharapkan final, tetapi tanpa diduga, dia tiba-tiba muncul sebagai kuda hitam.

     Meskipun para guru tidak mengatakan apapun, mereka diam-diam menantikannya. Jika Jing Ji benar-benar masuk ke dalam tim pelatihan, itu akan menjadi event yang luar biasa bagi seluruh komunitas pendidikan di Provinsi Donghai.

     Untuk alasan ini, kepala sekolah juga secara khusus mendesak Guru Liu untuk tidak membiarkan Jing Ji diganggu oleh hal lain. Sekolah tidak memiliki persyaratan untuknya, lakukan apapun yang dia inginkan!

     Bahkan jika dia ingin pergi ke surga, tidak masalah menemukan seseorang di dekatnya untuk memberinya Sky Monkey.

*sejenis petasan yang meroket.

     Hanya sedikit lagi, dia harus bekerja lebih keras di Olimpiade Matematika.

     Di bawah perhatian yang begitu intens, Jing Ji tidak sombong atau gegabah, dan mentalitasnya tetap sama. Dia berjalan dengan kecepatannya sendiri tanpa tergesa-gesa, tanpa pengaruh dari dunia luar.

     Belajar dengan giat di kelas dan keluar sebanyak mungkin setelah kelas, seolah-olah orang yang berada di bawah tekanan besar bukanlah dia.

     “Kakak Ji!” Setelah kelas tiga di pagi hari, Li Zhou berlari mendekat dan tangan kanannya merangkul bahu Jing Ji, “Mau bermain bola di kelas berikutnya?”

     Kelas paralel di tahun kedua sekolah menengah dua kelas pendidikan jasmani dalam seminggu, kelas 7 lebih beruntung, salah satunya pada kuartal keempat dipagi hari.

     Karena itu, siswa bisa pergi ke kantin untuk makan terlebih dahulu, tanpa harus lari gila-gilaan atau antri.

     Jing Ji baru saja menyelesaikan satu set makalah lomba, dan hendak istirahat, Mendengar hal itu ia sedikit bersemangat untuk mencoba bermain.

     Li Zhou membungkuk lebih dekat ke Jing Ji, dan berkata, "Ayo jalan, ada kelas di tahun pertama yang juga memikili kelas pendidikan jasmani. Mari kita pergi ke lapangan dulu, jika tidak ..."

     “Minggir.” Ying Jiao tiba-tiba berdiri, mengalihkan pandangannya ke tangan kanan Li Zhou yang berada dibahu Jing Ji, tersenyum, “Aku ingin keluar.”

     Punggung Li Zhou terasa dingin ketika melihatnya, dia buru-buru menarik tangannya dan bergeser ke samping.

     Kemudian dia melihat Ying Jiao berjalan keluar bangku dari sisi lain dengan santai.

     Li Zhou, "..."

     Li Zhou tiba-tiba sadar. Kursi Ying Jiao dan Jing Ji berada di baris tengah, dengan lorong di kedua sisi. Ying Jiao bisa langsung berjalan keluar dari sisi sebelah. Tidak perlu membiarkan dirinya untuk minggir!!!!!

     Li Zhou juga bukan orang bodoh, dia biasanya selalu bersama Jing Ji, dan dia sudah lebih awal melihat perlakuan Ying Jiao terhadap Jing Ji sedikit tidak wajar.

     Untuk tingkah Ying Jiao saat ini, dia segera mengerti bahwa Ying Jiao tidak suka dia menyentuh Jing Ji.

     Li Zhou berdiri dengan pikiran kacau, batinnya menangis.

     Bahkan jika pria dan wanita tidak boleh intim saat ini, apa pria dan pria juga harus mematuhi aturan ini???! Apa ini semacam hukum alam?!

*Ritual kuno menetapkan bahwa pria dan wanita tidak dapat secara langsung menghubungi, berbicara atau memberi atau menerima benda, dan membatasi komunikasi antara pria dan wanita.

     “Li Zhou?” Jing Ji menatapnya dengan bingung, “Ada apa denganmu?”

     “Tidak apa-apa.” Li Zhou menyeka wajahnya, dan menjauh dari Jing Ji, “Ayo pergi.”

     Jeda antar kelas hanya sepuluh menit, dan umumnya hanya sedikit orang yang bermain bola basket di lapangan.

     Oleh karena itu, ketika Jing Ji dan Li Zhou tiba, tidak ada yang berada di bawah empat ring basket.

     Li Zhou berbalik dan bertanya kepada Jing Ji, "Haruskah kita menempati ruang di sebelah kiri?"

     Jing Ji tidak keberatan, menepuk bola basket dan berkata, "Oke."

     Dua orang berdiri di bawah ring basket, bermain bola sambil menunggu teman kelas untuk datang.

     Tapi disisi lain, muncul sekelompok orang yang datang untuk bermain.

     Masing-masing orang ini tinggi, dengan anggota tubuh kekar, dan terlihat sangat sukar ditandingi.

     Li Zhou melempar bola ke dalam keranjang dan berkata dengan pelan, "Mereka pasti siswa atlit di tahun pertama. Katanya sekolah kita banyak merekrut banyak siswa atlit bola dan renang tahun ini."

     Jing Ji mengangguk tidak peduli, dan terus menghadapi Li Zhou satu lawan satu.

     Namun, mereka tidak mencari masalah, melainkan masalah yang mendatangi mereka.

     Hanya ada empat ring basket di lapangan dan hanya dua tim yang bisa bermain secara penuh. Rencana telah direncanakan dengan baik, mereka tersebar, dan kedua tim masing-masing mengambil satu lapangan, tetapi mereka tidak menyangka bahwa ada yang mengambil alih lebih dulu.

     Orang yang berada paling depan melihat sekeliling dan melihat bahwa hanya ada dua orang, Li Zhou dan Jing Ji, dan mereka berdua kurus dan kutu buku, tidak mengancam sama sekali. Dia berjalan langsung, bersandar pada ring basket, dan berkata, "bisa beri kami tempat ini?"

     Jing Ji menangkap bola basket dan berkata dengan ringan, "Maaf, kami juga ingin bermain."

     Orang itu melihat ke atas dan ke bawah mengamati Jing Ji dan mencibir, "Dengan tinggi badanmu ... Lupakan, cepat pergi selama aku masih bicara baik-baik."

     “Kau tidak lihat kami duluan?” Li Zhou sangat marah sehingga dia melempar bola basket ke tanah, “bukankah masih ada tiga rak basket yang tersisa untuk kalian?”

     “Apa kau bilang?” Orang itu mendorong Li Zhou dan dengan arogan berkata, “aku menyuruh kalian pergi, masih menolak? "

     Jing Ji menarik Li Zhou ke belakangnya dan berkata dengan acuh tak acuh, "Kenapa kami harus pergi?"

     "Kenapa?" Ada ledakan tawa dari belakang. Jing Ji menoleh dan melihat seorang dari mereka memutar bola basket ditangan dua kali dan melempar ke arahnya.

     Jing Ji bereaksi dengan cepat dan memiringkan kepalanya tepat waktu, tetapi jarak antara keduanya terlalu dekat. Bagaimanapun, bola basket mengikis kulit kepalanya, membawa ledakan rasa sakit yang membakar.

     Jing Ji menyentuh kepalanya, tiba-tiba wajah untuk melihat pria itu, "Kau memukul kepalaku?"

     Orang itu terpancing oleh pandangannya dan mengambil dua langkah ke depan, "Oh tidak, siapa yang kau lihat? Apa yang salah dengan memukul kepalamu?"

     Jing Ji menatapnya dengan dingin, mundur dua langkah, segera mengambil bola basket, dan berjalan menuju orang itu.

     Setelah melihat ini, pria itu tersenyum dan berkata dengan jijik, "Kenapa, kau ingin bertarung ..."

     Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimat, kekuatan yang kuat tiba-tiba menyerang dari belakang, dia terhuyung, menjatuhkan diri dan berlutut.

     Mata Ying Jiao dingin, berjalan mendekat dengan wajah gelap.

     Dia menjambak rambut pria itu dan menariknya bangun dari tanah. Belum bisa melihat siapa yang memukulinya, kali ini perut pria itu dipukul.

     "AAah ..." Tubuh pria itu membungkuk tajam, dan asam di perutnya langsung naik.

     Ying Jiao melepaskannya, dan menendangnya ke tanah lagi dengan satu kaki, menekan kakinya di wajah pria itu, dan berkata dengan dingin, "kau brengsek masih mau coba menyentuhnya lagi?"[]