Nov 27, 2020

51. Malam Pertama

 

     Para guru dalam percobaan provinsi juga bangun lebih awal untuk menunggu hasil Jing Ji.

     Guru Liu duduk di sofa pagi-pagi sekali, menatap ponsel dengan mata tajam, menunggu Zhao Feng melapor kepadanya.

     Akhirnya, ketika hampir jam delapan, pobselnya berdering.

     Begitu terhubung, tanpa basa-basi Guru Liu langsung bertanya, "Berapa?"

     Napas Zhao Feng berat, tidak bisa lagi menahan kegembiraan di hatinya, hampir meraung, "226! Jing Ji mendapat 226!"

     Guru Liu tidak terlalu memperhatikan Olimpiade Matematika Nasional, namun semenjak Jing Ji masuk kelas kompetisi, ia telah banyak belajar tentang kompetisi matematika. Mendengar angkanya, dia tiba-tiba melompat dari sofa, tidak percaya, "Berapa banyak? Berapa banyak yang kau katakan?"

     Provinsi Donghai adalah provinsi yang terkenal lemah dalam kompetisi.

     Secara umum, dalam kompetisi lima mata ujian masuk perguruan tinggi tingkat nasional, minimal tiga sampai lima orang dari tiap mata pelajaran di tiap provinsi bisa menjadi finalis. Tetapi Provinsi Donghai yang aneh sendiri, tidak ada yang bisa lolos dalam kompetisi matematika.

     Hasil terbaiknya adalah beberapa tahun lalu, seorang gadis dari provinsi percobaan diterima di Universitas Tsinghua setelah masuk final.

     Tahun ini, meski para guru optimis dengan Jing Ji, mereka tidak berharap banyak.

     Lagipula, Jing Ji tidak pernah menerima pelatihan Olimpiade yang sistematis, dan dapat dilihat dari tes terakhir bahwa tidak banyak perbedaan antara dirinya dengan Zhou Chao dan Jiang Chong.

     Tidak seperti Guru Liu yang penuh ekspektasi, satu-satunya harapab Zhao Feng untuk Jing Ji dalam kompetisi ini adalah merasakan suasana kompetisi, kemudian istirahat setahun, lalu bekerja keras tahun depan.

     Saat melihat hasilnya di pagi hari, Zhao Feng sedang meniup secangkir teh panas.  Mengetahui skor Jing Ji, pikirannya kosong pada awalnya, kemudian dia kehilangan akal, tidak sadar menuangkan seluruh cangkir teh panas ke dalam perutnya dalam satu tegukan, dan berhasil membuat mulutnya melepuh.

     Tapi! Zhao Feng tidak merasakan sakit apapun!

     Lepuh ini, apakah lepuh normal?!

     Ini adalah lepuh kegembiraan, secercah harapan!

     226 Ah!

     Provinsi Donghae tidak pernah memiliki skor setinggi ini selama bertahun-tahun!

     Tidak perlu menunggu pemberitahuan resmi, Zhao Feng tahu bahwa kuota tim provinsi untuk Jing Ji stabil.

     Merayakan terlebih dahulu sama sekali tidak masalah!

     Jing Ji sangat bekerja keras!!

     “226! Luar biasa, luar biasa.” Zhao Feng berseru bangga, namun tiba-tiba teringat bahwa Jing Ji adalah murid di kelas Guru Liu, bukan muridnya sama sekali, seketika berkata dengan masam, “Lao Liu, kau benar-benar beruntung."

     Pada saat skor dikonfirmasi, sekuntum bunga meledak di benak Guru Liu, dan dia tidak mendengar kata-kata Zhao Feng selanjutnya.

     Beberapa hari yang lalu, dia masih khawatir tentang fakta bahwa Jing Ji tidak akan mendapatkan poin dalam ujian masuk perguruan tinggi matematika, tetapi dia tidak berharap untuk berbalik saat ini.

     Apa itu rangking pertama tingkat provinsi? Dengan level Jing Ji, dia bisa memenangkan tempat ketiga ditingkat nasional!

     "Hahahahaha!" Guru Liu tertawa terbahak-bahak, "Aku tahu Jing Ji kami sangat bekerja keras! Bagaimana menurutmu? Hahahahaha."

     Guru Liu sangat senang sampai tidak melihat istrinya sedang menyapu lantai dan menginjak sampah. Setelah ditampar dengan sapu oleh istrinya, dia menyeringai dan menenangkan diri dan bertanya kepada Zhao Feng, "bagaimana yang lainnya?"

     Zhao Feng tidak bereaksi untuk beberapa saat, dan berkata, "Apa?"

     "Aku bertanya skor yang lainnya."

     Zhao Feng, "..."

     Setelah keheningan yang aneh, Zhao Feng bergumam, "Aku ... aku lupa."

     Entah apa karena Jing Ji yanf telah memulai dengan baik, hasil eksperimen provinsi dalam kompetisi matematika tahun ini ternyata bagus. Selain skor 226 Jing Ji, Zhou Chao meraih 198 dan Jiang Chong 170.

     Batas tim provinsi dari Provinsi Donghai tahun lalu adalah 170, jadi kecuali Jiang Chong, Jing Ji dan Zhou Chao bisa lolos ke babak selanjutnya.

     Ketika peristiwa yang begitu membahagiakan terjadi, Zhao Feng dan Guru Liu tidak menahan diri, dan memposting dan membicarakannya, sehingga kejadian ini segera mengambil kecepatan yang menakutkan menyebar di kalangan siswa.

     Ini tepat pada waktunya untuk liburan, dan lalu lintas di forum jauh lebih besar dari biasanya.

     Momen dan Pembicaraan yang diposting oleh para guru memicu diskusi hangat segera setelah tangkapan layar dirilis.

     [ WTF! 226! Aku berlutut kepada Kakak Ji. ]

      [ Apakah itu manusia?! Masih ingatkah kalian pada kuis kelas kompetisi terakhir, meskipun Jing Ji mendapat juara pertama dalam tes, skornya tidak jauh berbeda dengan Zhou Chao, Jiang Chong dan lainnya. Kenapa hanya sebulan? Hasilnya seperti naik roket! ]

     [ ... Biarkan aku membicarakannya dengan nama asliku, aku memiliki hak untuk berbicara tentang masalah ini.  Ketika kakak Ji meraih tempat pertama dalam ujian, aku bertanya kepadanya apakah dia pernah belajar Olimpiade Matematika. Dia bilang dia pernah. Aku sempat berpikir bisa dipahami, karena dia pernah belajar bukan karena begitu jenius. Tapi ternyata dia mengatakan bahwa dia telah belajar sendiri selama beberapa tahun ... Kalian bisa memahami bagaimana perasaanku. ]

     [ Ha ha ha ha ha ha ha ha kasian Zhou Chao ha ha ha ha ha ha ha ha. ]

     [ Ini adalah pemain berbakat legendaris, kan?! Benar-benar tidak ada bandingannya ... ketika Tuhan membuka jendela untuknya, dia membuka pintu pada saat yang bersamaan. Dan aku ... Ketika Tuhan menutup pintu untukku, dia juga memukul kepalaku  _ (: ะท 」∠) _ ]

     [ Izinkan aku mengatakan satu hal lagi, aku pikir aku akan gagal dalam kompetisi ini, tetapi aku tidak menyangka akan mendapat 198. Baru saja aku akan merayakannya, Guru kelas kami memberi tahuku bahwa kakak Ji mendapat 226 ... ]

     [ Hahahahahahahahahah maafkan aku walaupun simpatik tapi tetap ingin tertawa hahahahahahahaha. ]

     [ Jing Ji luar biasa, menunggu hasil akhirnya, aku merasa seperti menyaksikan sejarah. ]

     Pada saat ini, keluarga Jing, Jing Miao, yang baru saja memata-matai forum sekolah menengah percobaan provinsi, dengan hati-hati membersihkan riwayat telusur, memandang ayah Jing dengan sedikit tidak wajar, "Ayah, dimana Jing Ji?"

     Ketika Jing Ji disebutkan, ayah Jing menjadi marah.

     Jika tidak pulang saat liburan, tidak masalah bermalam di rumah orang lain. Tapi teman sekelasnya, yang tidak tahu siapa dia, mengutuk dirinya secara membabi buta kemarin!

     Ayah Jing bukan orang yang pandai berbicara. Setelah menutup telepon, dia menyadari apa artinya makan obat diare.

     Dia pikir Jing Ji telah berubah menjadi lebih baik, tetapi tidak berharap untuk tetap bercampur dengan orang-orang yang berantakan ini!

     "Aku tidak tahu, apa yang kau pedulikan tentang dia? Belum menyelesaikan PR?"

     “Belum, kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu.” Jing Miao lega melihat bahwa tidak ada emosi lain pada ayah Jing kecuali wajah marahnya terhadap Jing Ji.

     Untung saja, ayahnya tidak mengetahui hasil kompetisi Jing Ji.

     Setelah Jing Miao pergi, ayah Jing merasa semakin suram semakin dia memikirkannya.

     Pasti ada yang dikatakan Jing Ji kepada teman sekelasnya sehingga membuat teman sekelasnya berbicara seperti itu.

     Apakah Jing Ji tidak puas dengannya, atau tidak puas dengan seluruh keluarga?

     Ayah Jing mendengus dingin, dan tangan yang ingin mentransfer biaya hidup Jing Ji tiba-tiba berhenti.

     Anak zaman sekarang terbiasa kabur dari rumah ketika bermasalah dengan orang tua mereka. Lihat apakah dia masih bisa memberontak tanpa biaya hidup lagi.

     Apa yang tidak dia ketahui adalah bahwa setelah kepala sekolah eksperimen provinsi mendengar tentang hasil Jing Ji, tanpa mempedulikan hari masih libur, dia menarik wakil kepala sekolah dan mengobrol dengan Guru Liu selama lebih dari satu jam, dan gagasan utamanya adalah satu: siswa berprestasi harus diberi penghargaan!

     Pujian, tentu saja, tetapi imbalan materi juga diperlukan!

     Dulu, meskipun percobaan provinsi ada beasiswa, semuanya untuk ujian akhir dan jumlahnya tidak besar. Lima kompetisi mata pelajaran universitas mendapatkan bonus, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

     Tidak tertahan karena hasil Jing Ji sangat bagus.

     226 poin!

     Kepala sekolah merasa bahwa dia sedikit melayang, dan sudah mulai berfantasi tentang bagaimana Jing Ji akan mengalahkan peserta dari provinsi lain di final dan masuk ke tim latihan nasional.

     Semakin kepala sekolah memikirkannya, semakin bersemangat dia. Apa itu uang? Jangankan dana dari sekolah, saat ini ia bahkan bersedia merogoh uangnya sendiri untuk bonus!

     Harus diberikan segera setelah sekolah dimulai!

     Setelah berbicara dengan kepala sekolah dan yang lainnya, Guru Liu sangat bahagia, tiba-tiba menyadari bahwa Jing Ji mungkin tidak mengetahui nilainya, jadi dia segera mengklik QQ.

     Namun, Jing Ji sebelumnya terlalu bajingan, dan Guru Liu selalu mengomel padanya sehingga kontaknya sudah dihapus.

     Guru Liu, "……"

     Guru Liu tertawa dan mengutuk, tidak keberatan sama sekali. Siapa yang tidak mengidap penyakit tingkat dua? Jika Jinv Ji pulih dan bisa menjadi Jing Ji sekarang, dia lebih suka kontaknya dihapus dari semua siswa di Kelas 7.

     Dia mengklik untuk membuka kelompok kelas dan mulai berbicara di dalamnya.

     [ Hasil dari Kontes Matematika @ Jing Ji sudah keluar, total skormu adalah 226!  Selamat atas hasil luar biasa!  Guru bangga padamu. ]

     Jing Ji jarang membuka grup chat, karena notif grup terlalu beruntun, dia biasanya mute notifikasi.

     Sebaliknya, Ying Jiao yang lebih dulu menemukan notif mention di layar.

     Dia melirik Jing Ji yang sedang duduk di meja membaca buku, tersenyum, dan mengklik grup.

     [ Pesan telah dibaca, terima kasih atas infonya. ]

     [ Ying Jiao, kau jangan mencari masalah! Ada apa denganmu? ]

     [ Hah? Siapa yang mencari masalah?  Guru, kau salah paham. Jing Ji tidak melihat peaanmu, jadi aku menjawab untuknya. ]

     Jika ini He Yu dkk, mereka pasti akan segera bereaksi dengan waspada. Orang ini pasti akan pamer keuwuan sebentar lagi dan mereka memilih untuk tidak mengobrol dengannya.

     Namun, Guru Liu tidak memiliki pengalaman sama sekali. Begitu dia melihat bahwa Ying Jiao masih bersemangat, dia segera mengetik balasan——

     [ Siapa yang butuh jawaban darimu? PRmu sudah selesai? ]

     [ Selesai, Jing Ji mengajariku satu per satu mata pelajaran. ]

     [ Apa maksudmu? Jing Ji bersamamu? ]

     Kata bersama membuat Ying Jiao merasa nyaman dan diam-diam menghela nafas di dalam hatinya. Seperti yang diharapkan, guru kelasnya, berbicara pada level yang lebih tinggi dari yang lain.

     [ Ya, kami bersama. Dia di sampingku, kurang dari dua puluh sentimeter jauhnya. ]

     Saat Ying Jiao sedang berpikir apakah dia harus mengambil foto dari sudut pakaian Jing Ji untuk membuktikan perkataannya, Guru Liu langsung menelepon.

     "Biarkan Jing Ji menjawab telepon!"

     Ying Jiao terdiam, meskipun guru kelas berbicara dengan baik, emosinya sebenarnya agak pemarah.

     Dia menempelkan ponsel ke telinga Jing Ji, dan dengan mata bingung Jing Ji, dia berbisik, "Guru Liu mau bicara tentang kompetisi ini."

     Jing Ji segera mengambil alih ponsel dan berkata dengan sopan, "Guru Liu."

     Guru Liu terbatuk dan mencoba membuat suaranya yang kasar terdengar sedikit lebih baik, "apa kau sudah memeriksa sendiri hasil kompetisi?"

     Jing Ji berkata dengan jujur, "aku baru saja memeriksa."

     “Hasilmy sangat bagus.” Menghadapi Jing Ji, Guru Liu tidak ragu-ragu untuk memujinya, seolah-olah dewa berwajah hitam itu bukan dia, “Tidak perlu menunggu, guru dapat memberitahumu dengan pasti sekarang, jaminan kau bisa masuk ke tim provinsi!"

     Setelah jeda, dia menambahkan kalimat lain, "Guru merasa sangat bangga memiliki siswa sepertimu."

     Jing Ji tersipu karena pujian, sedikit malu dan berkata, "Terima kasih guru."

     Guru Liu tertawa, "Pergilah makan sesuatu yang enak hari ini dan rayakan. Guru akan memberi tahumu lebih awal bahwa sekolah akan memberimu hadiah materi kali ini."

     Ini benar-benar kejutan, Jing Ji dengan cepat berterima kasih kepada Guru Liu.

     "Oke, guru tidak akan mengganggumu. Nilai-nilai yang lalu telah berlalu, bahkan jika kau senang, kamu harus menggunakan waktu untuk mempersiapkan final, dan kau tidak bisa bersantai."

     "Aku mengerti."

     Setelah menutup telepon, Jing Ji menyerahkan telepon kepada Ying Jiao, "Ini."

     Guru Liu bersuara nyaring, dan Ying Jiao berada tepat di sebelah Jing Ji, dia bisa mendengarkan percakapan mereka tanpa melewatkan sepatah kata pun.

     Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel, bergerak maju dan memberi Jing Ji sedikit pelukan ringan.

     "Teman sekelas kecil, selamat."

     Jing Ji bersandar di dadanya, mendengarkan detak jantungnya, sudut bibirnya naik tak terkendali, "Terima kasih."

     Ying Jiao melepaskannya dan meremas jemari Jing Ji.

     Ying Jiao melirik kedua tangan yang saling bertautan itu, menatap mata Jing Ji, dan tersenyum, "aku juga bangga padamu."

     Siang hari itu, Ying Jiao keluar sebelum jam makan. Ketika dia kembali, dia membawakan Jing Ji membawa sekotak kue persegi kecil santan di depannya.

     Jing Ji tiba-tiba teringat bahwa pertama kali makan makanan penutup semacam ini, itu setelah Ying Jiao memberi selamat kepadanya karena mengambil tempat pertama, jadi hari ini ...

     Dia menatap Ying Jiao, yang kebetulan sedang mengawasinya.

     Saling bertukar pandang, tanpa berkata apapun, Jing Ji tiba-tiba mengerti.

     Ying Jiao mengenalnya dan tahu dia tidak suka membuat perayaan yang berlebihan, jadi merayakan untuknya dengan cara ini.

     Jing Ji melihat ke bawah, membuka kotak itu dan memasukkan sesuap kue persegi kecil ke dalam mulutnya.

     Faktanya, pada Malam Natal, keinginan yang dipanjatkan bukan untuk pergi ke Universitas Tsinghua atau Universitas Peking, tetapi untuk pergi ke sekolah yang sama dengan Ying Jiao.

     Sekarang, ketika Tahun Baru semakin dekat, dia dengan rakus memiliki keinginan baru--

     Setiap kali mendapat hasil yang bagus, dia bisa makan kue persegi kecil santan.

     Jing Ji tenggelam lamunan, Ying Jiao tiba-tiba berkata, "Kau ..."

     Jing Ji menatapnya.

     Ying Jiao terkekeh, "God Jing, bukankah memenangkan nilai tertinggi dalam ujian termasuk momen penting kebahagiaan dalam hidup?"

     Itu adalah pertama kalinya Ying Jiao tidak memanggilnya teman sekelas kecil ataupun namanya, seperti yang ada di forum, dia memanggilnya God Jing.

     Jing Ji agak panas, dan tiba-tiba merasa malu, "Tidak, itu tidak masuk hitungan."

     Ini hanya kompetisi, bukan ujian masuk perguruan tinggi.

     “Kenapa?” ​​Ying Jiao meletakkan tangan kanannya di bahu Jing Ji dan mencondongkan tubuh ke depan, “aku pikir tidak apa-apa.”

     Jing Ji sedikit tidak wajar dengan pendekatannya yang tiba-tiba, dan tubuhnya sedikit mundur. Dia tidak ingin menentang Ying Jiao, melihat ke bawah dan berkata, "tidak apa kalau menurutmu begitu."

     "Kalau begitu..." Ying Jiao berbisik ditelinganya, "Dua peristiwa bahagia dalam hidup, sekarang kau berhasil mendapat nilai tertinggi, bagaimana dengan yang lainnya?"

     Jing Ji tertegun, "A-apa?"

     "Malam pertama," Ying Jiao mengurung disofa, menyeringai, "Boleh aku membantumu mewujudkannya?"[]