Oct 23, 2020

43. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya

    Pukul 07.10, bus eksperimental provinsi tiba di Universitas Tunghai.

     Pukul 7.30, Jing Ji memasukkan tas sekolah ke dalam bus sesuai dengan instruksi Guru Zhao, dan berjalan ke ruang ujian dengan hanya membawa perlengkapan yang diperlukan.

     Tepat pukul delapan, kualifikasi Olimpiade Matematika Nasional secara resmi dimulai.

     Setelah mendapatkan kertas ujian, Jing Ji pertama-tama mengisi identitas, kemudian matanya menyapu dari soal pertama sampai akhir seperti biasa untuk memahami kesulitan ujian.

     Skor penuhnya adalah 120 poin, tingkat kesulitannya hanya sedikit lebih tinggi dari ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi Jing Ji kurang beruntung, dia menemukan teori bilangan dalam pertanyaan.

     Teori bilangan bisa dikatakan menjadi batu sandungan, banyak kontestan yang akan menyerah begitu saja ketika melihat teori bilangan, memilih menghabiskan waktu untuk soal lainnya.

     Dibandingkan dengan wajah suram kontestan lain di ruang pemeriksaan, Jing Ji cukup tenang. Teori bilangan juga sulit baginya, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi.

     Dia menatap jam dinding, mengambil pena dan mulai menjawab pertanyaan itu.  Selama cukup waktu yang disisihkan, dia merasa bisa menyelesaikan pertanyaan ini.

     Waktu untuk lomba matematika sangat ketat, walaupun jumlah soal sepertinya tidak banyak, namun karena sulitnya soal tersebut maka waktu yang dihabiskan juga sama.

     Jing Ji telah mencari banyak topik kompetisi sebelumnya, dan sudah mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap pertanyaan. Dia dengan tenang menyelesaikan mengisi kekosongan, melewatkan teori bilangan, dan mengerjakan soal lain terlebih dahulu.

     Pada percobaan pertama, jawabannya lancar, dan pada akhirnya ia menuliskan jawaban tersebut dengan sempurna pada teori bilangan.

     Namun dalam kualifikasi, yang terpenting bukanlah uji coba pertama, melainkan uji coba kedua dengan total 180 poin.

     Meski banyak nilai pada tes kedua, sebenarnya hanya ada empat soal.

     Tiap soal mempunyai kesulitan dengan waktu yang ketat, tanpa kekuatan yang cukup, sama sekali tidak mungkin untuk mengharapkan keberuntungan besar.

     Sebelum datang, Guru Zhao sudah memberi tahu mereka. Nilai setiap soal pada tes kedua sangat tinggi, sehingga selama langkah-langkah pemecahan masalah benar, mereka akan diberikan poin, mereka wajib menulis proses pemecahan masalah secara lengkap.

     Jing Ji mengingat kalimat ini, berpikir sejenak, mengambil pena dan hendak menghitung rumus, tiba-tiba pelipisnya sakit tanpa peringatan.

     Perasaan ini terlalu familiar. Saat Jing Ji mengetahuinya, dia langsung mengerti bahwa ini adalah target jahat dari protagonis di dalam buku.

     Tapi sebelumnya, jelas bahwa dia hanya akan terluka saat melihat Qiao Anyan, kenapa ini terjadi sekarang?

     Rumus soal yang baru saja dipikirkan Jing Ji di benaknya menghilang seketika, ujung jarinya bergetar, dia menutup mata, dan mencoba menenangkan dirinya.

     Rasa sakit ini tidak berarti apa-apa, dia sering mendapat lebih menyakitkan. Waktu kecil dia sering dianiaya pengurus panti, tetapi dia berusaha keras bertahan di panti asuhan dan menjadi kebanggaan panti asuhan.

     Tidak ada yang tidak bisa dia lalui.

     Dalam delapan belas tahun hidupnya, Jing Ji telah mengalami pengabaian, kekerasan, ejekan, dan hal suram lainnya yang belum pernah dilalui orang normal, sehingga dia telah memahami hal ini sejak usia yang sangat muda--

     Matamu akan menipumu, telingamu akan menipumu. Pengalamanmu akan menipumi, imajinasimu akan menipumu, tetapi matematika tidak akan menipumu.

     Selama bertahun-tahun, Jing Ji telah bekerja keras untuk belajar dan mencoba yang terbaik untuk mengubah takdirnya, Keyakinan ini tidak berubah bahkan di dunia lain.

     Matematika adalah rekan terdekatnya.

     Beri dia harapan, beri dia kepercayaan diri, beri dia masa depan yang cerah, hibur dia dan temani dia saat dia depresi dan panik.

     Semua emosi yang tidak bisa dia ceritakan dapat dilepaskan dengan matematika.

     Tidak ada yang bisa main-mainnya selama dia tengah mengerjakan soal matematikanya, bahkan protagonis dunia sekalipun.

     Jing Ji menghela napas perlahan, menahan sakit kepala yang menyakitkan, dan mulai membaca pertanyaan lagi.

     Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah semacam ini untuk saat ini, tetapi pada hari hasil ujian kemarin, perhatian orang lain dapat menghilangkan sakit kepalanya, dan itu memberinya ide.

     Selama dia terus berada dipuncak dan mendapatkan pengakuan lebih banyak orang, akankah suatu hari pengekangan Qiao Anyan padanya akan gagal?

     Jing Ji menggambar pola geometris padat di atas kertas dengan susah payah, menenangkan diri dan terus memikirkan ide-idenya.

     Ketika pikirannya secara bertahap terkonsentrasi, dampak sakit kepalanya menjadi semakin berkurang, dan pada akhirnya, itu bahkan dapat diabaikan.

     Pada saat yang sama, di ruang kelas 11, Qiao Anyan melihat antarmuka game seluler dengan tidak percaya dan bergumam, "Apa, apa yang terjadi?"

     Wajah teman satu mejanya juga penuh dengan keterkejutan, "Kenapa kau sangat tidak beruntung hari ini? Jelas, kita bisa menarik hadiah setiap saat sebelumnya. Kita bahkan mendapat begitu banyak emas, tetapi kenapa kali ini tidak mendapatkan apa-apa?! Apa yang terjadi?!"

     “Entahlah.” Qiao Anyan mengerutkan kening tidak sabar.

     Setelah terlahir kembali, dia merasa semakin tidak bahagia.

     Jari emasnya selalu gagal dari waktu ke waktu, bahkan keberuntungan yang menyertainya juga hilang sekarang.

     Dia melempar ponsel ke laci meja dengan kesal, dan merosot dengan ekspresi suram.

     Apa yang salah?

     Di tempat-tempat yang tidak terlihat dengan mata telanjang, keberuntungan yang telah dirampas secara paksa oleh Qiao Anyan dari orang lain untuk membalikkan kehidupannya di kehidupan sebelumnya menghilang sedikit demi sedikit.

°°°


     Di Universitas Tunghai, segera setelah Jing Ji menulis nomor terakhir di lembar jawaban, bel serah terima berbunyi.

     Kedua pengawas langsung berdiri, dengan ekspresi serius, menyuruh mereka berhenti menjawab pertanyaan, dan mengumpulkan kertas secepat mungkin.

     Jing Ji mengemasi barang-barangnya, mengikuti kerumunan keluar dari kelas, dan datang ke tempat berkumpul SMA percobaan provinsi.

     Zhou Chao telah tiba lebih dulu. Dia sangat frustrasi. "Sudah berakhir, aku sudah tamat! Pertanyaannya terlalu sulit, kurasa aku bahkan tidak bisa lolos kualifikasi!"

     "Tidak." Jing Ji menghiburnya, "Aku juga merasa sulit, jangan terlalu banyak berpikir."

     "Wish." Zhou Chao menghela nafas, dan saat berjalan di dalam bus, berkata, "Ibuku sudah memperingakanku sebelumnya, mengatakan ini adalah terakhir kalinya dia mengizinkanku berpartisipasi dalam sebuah kompetisi."

*Wish disini, kondisi mental positif bagi seseorang dapat terus melangkah maju, berpikir bahwa ia masih dapat mencapai tujuan.

     “Ah?” Jing Ji tidak begitu mengerti.

     "Dia memintaku untuk fokus pada buku teks di tahun ketiga nanti," Zhou Chao menemukan tempat untuk duduk, menoleh dan berkata, "ibuku khawatir kompetisi akan menunda ujian masuk perguruan tinggiku."

     Memang, jika tidak bisa mendapatkan hasil di kedua kompetisi, lebih baik menyerah dan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

     Jing Ji tidak bisa membujuknya kali ini, jadi dia hanya bisa diam.

     Disisi lain, Zhou Chao memang mengharap tanggapan Jing Ji. Dia melirik Guru Zhao yang dikelilingi oleh beberapa siswa, dan berbisik di telinga Jing Ji, “aku takut Guru Zhao akan datang dan bertanya bagaimana hasil ujianku. Aku akan berpura-pura tidur dulu, jangan panggil aku."

     Jing Ji tersenyum dan mengangguk, "Oke."

     Jing Ji juga sedikit lelah, pertarungan melawan keinginan dunia menghabiskan seluruh energinya.

     Dia hampir tidak bersemangat, mengeluarkan ponselnya dan melihatnya. Ada banyak pesan WeChat yang datang dari Ying Jiao.

     [ Tugas fisika selesai *Gambar* ]

     [ Menunggumu kembali. ]

     [ Aku bawakan kau dessert kelapa. Aku menaruhnya di laci mejamu. ]

     [ Aku tidak tidur siang, sekarang mengerjakan beberapa soal matematika. ]

     [ Apa kau sudah menyelesaikan ujian? ]

     [ Hubungi kakak jika sudah selesai ujian. ]

     Senyum muncul di wajah Jing Ji tanpa sadar, mengetik, membalas pesan ke Ying Jiao——

     [ Sudah selesai ujian, sekarang otw kembali ke sekolah. ]

     Melihat mata Guru Zhao yang terus mengawasi dari waktu ke waktu, dia dengan cepat meletakkan ponselnya kembali di tas sekolah, menopang tangannya dan tertidur dengan bersandar di sandaran kursi dengan nyaman.

     “Kau benar-benar bisa tidur.” Zhou Chao mendorongnya hingga bangun, menunjuk ke luar dan berkata, “ayo pergi makan ke kafetaria kedua.”

     "Kafetaria Kedua?"

     "Ya." Zhou Chao mengangguk, "Guru Zhao mengatakan bahwa sekolah akan mengurus makan siang dan kantin kedua dikontrak secara pribadi, jadi kita bisa pergi ke sana."

     “Oke.” Jing Ji merasa jauh lebih nyaman setelah tidur siang. Dia membawa tas sekolahnya dan pergi ke kantin kedua bersama Zhou Chao.

     Tahu bahwa mereka semua adalah siswa yang dihargai oleh pimpinan sekolah, Stas di kantin kedua tidak berani menjadi monster, dan makanan yang mereka sajikan sangat normal.

     Jing Ji mendapat seporsi nasi babi goreng kembang kol, plus dua buah jeruk.

     Rasanya memang tidak seperti makanan kantin biasanya, tetapi porsinya lebih dari cukup. Jing Ji makan sepiring penuh sampai habis, dan kemudian merasa hidup lagi.

     "Ayo kembali," Zhou Chao meletakkan sendok hampir bersamaan dengan Jing Ji. Dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan dan berdiri dengan ekspresi menghadapi kematian dengan ketenangan hati (idiom), "Kita harus menghadapi apa yang harus dihadapi¹."

¹menjadi optimis tentang apa yang akan terjadi, membiarkan arus mengalir dan menjadi pandai menerima.

     Keduanya membawa piring-piring itu ke tempat daur ulang dan berjalan ke ruang kelas bersama.

     Saat melewati lapangan basket, tiba-tiba teriakan terdengar tak jauh dari situ, "Jing Ji!"

     Ying Jiao melempar bola basket di tangan dan berjalan ke arahnya, "sudah kembali?"

     Jing Ji memandang orang-orang yang dikenalnya di lapangan basket, dan kemudian menyadari bahwa sekarang waktunya kelas pendidikan jasmani.

     Zhou Chao tidak bisa menahan rasa iri, sangat disayangkan bahwa kelas pendidikan jasmani di kelas luar biasa mereka telah dibatalkan sejak lama, dan mereka hanya dapat kembali ke kelas dengan ekspresi pahit.

     Ying Jiao mengambil alih tas sekolah Jing Ji secara alami dan bertanya kepadanya, "Apa kau sudah makan?"

     "Ya." Jing Ji mengangguk, "Aku makan di kafetaria kedua."

     "Kafetaria Kedua? Kenapa makan disana?" Ying Jiao mengerutkan kening dan menyentuh perut Jing Ji, "Apa kau kenyang?"

     “Aku kenyang.” Jing Ji mundur, berdiri di dekat rak bola basket, menyapa beberapa orang di Kelas 7, dan berbalik lanjut mengobrol dengannya, “Sekolah mengurus makanan, dan hanya bisa makan di kafetaria kedua, rasanya cukup enak."

     Cukup enak?

     Ying Jiao tidak bisa menahan tawa, seolah dia belum pernah makan makanan di kantin kedua.

     Dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Jing Ji, dan berkata dengan lembut, "cukup enak karena di disediakan makan?"

     Jing Ji tertawa, melihat tali tas sekolahnya dibahu Ying Jiao miring ke samping, dia mengulurkan tangan untuk mengaturnya lebih rapi, "Aku tidak pilih-pilih makanan."

     Hati Ying Jiao dilembutkan oleh tawanya. Baru saja hendak mengatakan sesuatu, Zheng Que tiba-tiba berteriak dari belakang dengan suara nyaring, "Kakak Jiao, kau masih mau main lagi tidak? Ayo dengan Jing Ji!"

     Mata Jing Ji langsung berbinar.

     Tidak ada anak laki-laki yang tidak menyukai jenis olahraga yang hangat seperti ini. Di dunia sebelumnya, dia terkadang sendirian di lapangan basket.  Setelah datang ke sini, secara tidak sengaja, dia bahkan belum menyentuh bola basket.

     Ying Jiao memperhatikan pandangannya dan bertanya, "Ingin bermain?

     Jing Ji mengangguk.

     "Jika kau ingin bermain, tunggu sepuluh menit lagi," Ying Jiao membuka tutup botolnya dan meminum cola, "Tidak baik untuk perutmu, kau baru selesai makan."

     Jing Ji mendengarkannya, "Oke."

     Sepuluh menit kemudian, Ying Jiao pergi ke tengah lapangan bersama Jing Ji.

     Beberapa orang hanya bermain dengan santai, tidak ketat dalam permainan lima lawan lima seperti dalam permainan bola biasa. Jika seseorang bergabung, masih dapat terus bermain walau jumlah lawan tidak seimbang.

     Hanya saja Ying Jiao memiliki skill yang bagus, dan Zheng Que sangat senang dengannya di tim utama, jadi dia secara khusus mengajaknya bergabung.

     Ying Jiao mencetak tiga gol berturut-turut dan Jing Ji juga mencetak satu. He Yu sangat marah dengan mereka berdua. Dia membuang jaket seragam sekolahnya dan menggosok tangannya, "Ayo, lanjutkan!"

     Ying Jiao menatapnya, lalu mengoper bola ke Jing Ji.

     Zheng Que, yang sudah menggosok kepalan tangan dan mengusap telapak tangan (idiom): bersemangat untuk beraksi  dan menunggu untuk menangkap bola, "..."

     Kasihan, dalam bermain bola basket pun juga tidak dianggap!

     Jing Ji bergerak menuju ring basket sambil menggiring bola. He Yu yang sadar diri tidak bisa menahan Ying Jiao, menyerahkan tugas itu ke Peng Chengcheng dan Wu Weicheng, dan memblokir bagian depan Jing Ji.

     Dia sangat besar sehingga dia hampir bisa memblokir pergerakan Jing Ji sepenuhnya. Jing Ji mengelak dari kiri dan kanan namun tidak berhasil, melompat dan mencoba mengoper bola ke Ying Jiao yang paling dekat dengannya.

     He Yu tanpa sadar juga melompat dan mengulurkan tangan untuk memblokir.

     Sayang sekali dia melebih-lebihkan keseimbangannya, dan alih-alih memblokir bola, dia malah membentur Jing Ji.

     Tubuh kecil Jing Ji tidak bisa menahan benturannya, dia terhuyung beberapa langkah dalam sekejap, dan hampir jatuh.

     Pada saat bersamaan, Ying Jiao bergegas dan untuk meraih Jing Ji dengan kuat.

     Namun karena kehilangan keseimbangan, keduanya jatuh bersama.

     Pada saat dia akan mendarat, otak Ying Jiao belum bereaksi, tangannya sudah memeluk Jing Ji, melindunginya dengan erat di pelukannya, dan membuat bantalan yang kokoh untuk Jing Ji.

     Melihat bahwa dia dalam masalah, He Yu berjalan dengan kaki gemetar ke arah mereka, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa kalian.. kalian berdua baik-baik saja?"

     “Aku baik-baik saja.” Jing Ji menenangkan diri sejenak sebelum menjawabnya. Dia dilindungi dengan baik oleh Ying Jiao jadi tidak terluka sama sekali.

     “Ying Jiao, apa kau terluka?" Jing Ji mengangkat kepalanya dari pelukan Ying Jiao, menopang tangannya ke tanah, dan hendak bangun, tetapi tiba-tiba merasakan sesuatu yang salah.

     Tubuhnya membeku dalam sekejap, membuat kepalanya tidak bergerak, wajahnya perlahan semakin hangat ...

     Ying Jiao benar-benar tidak memikirkan apa-apa pada awalnya, melihat Jing Ji akan jatuh, dia bergegas dengan instingnya.

     Namun, ketika tubuh keduanya saling bergesekan, semuanya mulai menjadi tidak beres.

     Jing Ji baru saja berolahraga dengan penuh semangat, dan jatuh dalam pelukannya, suara napas Jing Ji terengah-engah dan menyapu lehernya, hampir menggoda secara ambigu.

     Seorang remaja laki-laki berumur tujuh belas atau delapan belas tahun, sangat energik, dan memeluk orang yang disukainya dengan sepenuh hati dalam pelukannya, Ying Jiao bahkan tidak bisa merasakan sakit, seketika langsung bereaksi.

     Pikiran Ying Jiao mendadak kosong, melupakan situasi disekitarnya.

     Dia hanya ingin dengan gila menekan Jing Ji di bawah tubuhnya, merobek pakaiannya hingga terlepas, membelenggu tangannya, menggigitnya dengan keras, menciumnya, melakukan hal lebih berlebihan padanya ...

     "Kau ..." Jing Ji juga laki-laki, tentu saja dia tahu apa yang terjadi pada Ying Jiao.

     Jing Ji merasa canggung dan malu, antara mau bangun atau tidak, dan hanya bisa membeku, "Bagaimana kau bisa ..."

     Segala sesuatu di sekitar telah menjadi papan set, dan tampaknya hanya keduanya yang tersisa didunia ini.

     Jakun Ying Jiao bergulir beberapa kali. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya, "Aku kenapa?"[]


43. Aku Merasa Tidak Senang

 

     Dia mencium mulutku.

     Ciuman pertamaku dicuri ...

     Aku tidak tahu berapa kali pria ini mencuri ... ciuman pertamaku, tapi setidaknya dia harus memberitahuku agar kami bisa menikmatinya bersama, ya kan?

     Ini sangat tidak nyaman, karena ini ciuman, bagaimanapun juga dua belah pihak seharusnya saling memandang dengan penuh kasih, berpelukan mesra dan berciuman. Apa ini? Kau bersenang-senang sementara aku harus berpura-pura menjadi aktor, berbaring kaku seperti mayat.

     Berpura-pura tidak tahu apa-apa sebenarnya adalah ujian akting.

     Hati pahit.

     Manis di mulut.

     Ji Lang mungkin sangat suka menciumku hingga lupa diri. Dia menggunakan sedikit kekuatan di mulutnya, dan bahkan ingin membuka gigiku dengan lidahnya. Tepat ketika aku berpikir untuk membuka mulut, Ji Lang berhenti. Dia meremas pantatku dengan keras, dengan enggan dan hati-hati menggulingkanku kembali ke atas kasur.

     Kembali ke kasur.

     Hm, kembali ke kasur.

     "..."

     Ya, dia meninggalkanku setelah selesai.

     Orang bodoh ini, tidak peduli seberapa hati-hati dia, dia tetaplah bodoh.

     Aku sangat marah karena dia benar-benar hanya memuaskan dirinya sendiri ... Sulit dipercaya, penutup mata masih ada di mataku, tetapi aku tahu bahwa ada dinding di depanku, dan dia telah pergi.

     Dia telah menggodaku berkali-kali di pagi hari dan dia pergi begitu saja. Aku merasa seperti boneka kain yang baru saja dirusak. Sangat menyedihkan.

     Ji Lang adalah anjing yang konyol.

     Begitu dia memasuki kamar mandi, aku mengangkat penutup mata, mengambil ponsel dan mengklik postinganku.

     OP [ Jangan ekspos aku, aku hanya punya satu anjing, dan yang lainnya bodoh, itu saja. ]

     2 [ Sial, siapa, apakah OP melepas rompinya sendiri? 😯 ]

*membongkar penyamaran

     3 [ Ini pasti Xueba sangat kesal dengan OP idiot tetangga sebelah sehingga dia mengambil inisiatif untuk melepas rompinya. 😯 ]

     4 [ Melepas rompi dipagi buta, hahahaha, 😱 ]

     5 [ Menunggu suaminya untuk mengenali satu sama lain, memanggil OP idiot tetangga sebelah! 🥳 ]

     Mengenali kentut, aku tidak ingin mengenalinya lagi. Banyak yang online jam lima pagi ini ... Apakah semua orang bangun pagi-pagi atau tidak tidur?  Lupakan, aku tidak terlalu peduli.

     Yang paling penting adalah Ji Lang tidak menggodaku dengan kata-kata, tapi secara fisik ... bagaimana aku bisa tenang?

     Aku benar-benar tidak mengerti, kepalaku besar.

     Tidak mengherankan jika Ji Lang tinggal di kamar mandi dalam waktu yang sangat lama. Dia pasti tengah menuntaskan hasratnya. Pria yang hanya peduli dengan perasaannya sendiri, menurutku dia bukan pria menantu idaman lagi.

     Ketika Ji Lang keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, langkah kakinya membeku, terkejut melihatku duduk di samping tempat tidur tanpa ekspresi.

     Ji Lang, "Mengapa kau ... bangun pagi-pagi sekali hari ini?"

     Akting aktor Ji kali ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, aku bisa merasakan kegugupannya, pria yang diam-diam menciumku.

     Aku menyeka mulut dengan punggung tangan dan berdiri, berjalan ke kamar mandi, "Entahlah, aku merasa seperti tersengat tawon."

     Ji Lang, "..."

     Dia melihat bahwa aku juga bereaksi, celanaku yang mengembung terlihat jelas, aku mungkin merasa sangat malu sebelumnya, tetapi hari ini, aku tidak takut.

     Orang yang mencuri ciuman dan tidak berani mengakuinya, itu bukan aku, dia benar-benar kocak.

     Ketika aku sedang membersihkan diri, Ji Lang mengenakan pakaian dan berkeliling di ruang tamu, merasa cemas yang tak bisa dijelaskan. Apakah dia tahu bahwa aku menemukan perbuatan jahatnya dan sedang memeriksanya?

     Tapi dia tidak akan mengatakan jika aku tidak bertanya, jadi biarkan hatinya menderita sendiri.

     Ji Lang, "kau tinggalkan ponselmu."

     Aku memegang tas sekolah di satu tangan, dan Ji Lang menghentikanku ketika aku hendak mengambil ponsel di atas meja.

     Tetapi jelas melihat bahwa dia juga membawa ponselnya, dan itu baru dimasukkan ke dalam saku celananya. Aku bertanya, "Kenapa? Bukankah kau juga membawanya?"

     “kau mau disamakan sepertiku?” Ji Lang melihat bahwa aku masih memegang ponsel dan tidak melepaskan, dia begitu cemas, dia merebut ponselku dan menjejalkannya di bawah bantalnya, “aku akan membiarkan Lai Wenle mengawasimu. Jika kau berani bermain di sekolah sekali lagi, aku akan ..."

     "Akan apa?"

     "Aku akan ..." Ji Lang terjebak, dan mengucapkan kalimat yang tampaknya sangat memalukan untuk waktu yang lama, "Pokoknya, kau akan tahu nanti."

     Aku benar-benar tidak senang, "kau juga membawa ponsel, apa peringkatku lebih rendah darimu? Aku lebih baik darimu, bahkan jika aku bermain di ponsel ..."

     "Patuh, oke? Pekerja yang memasang treadmill hari ini akan menelepon jadi aku harus membawa ponsel."

     Ji Lang menarik ujung lain dari tali tas sekolahku dan membawaku ke pintu, karena takut aku akan mengambil ponselku lagi.

     Aku tidak menyangka Ji Lang menjadi siswa yang perhatian dengan nilai. Well, jangan menilai buku dari sampulnya, ya, seharusnya tidak melihat luarnya saja ...

     Lupakan, kalau tidak dibawa jangan dibawa, kalau bawa, aku akan refresh pos dalam tiga menit, dan mungkin akan kembali diceramahi Lao Cao.

     Aku berjalan di depan, Ji Lang mengunci pintu di belakang dan melompat turun tiga anak tangga untuk menyusulku, "Haruskah kita pergi ke rumahku untuk makan malam selama akhir pekan?"

     “Kenapa?” ​​Aku heran.

     Ji Lang menggaruk kepalanya, "Ibuku belajar banyak tentang masakan baru akhir-akhir ini. Ayo kita kembali dan rasakan bersama."

     "Entah, lihat nanti……"

     “Ngomong-ngomong, kalau kau tidak ke rumahku, Shao Mingan akan mengajakmu makan malam, tapi sebagai perbandingan antara kami berdua, jelas kau lebih banyak membantuku. Aku yang seharusnya mengundangmu, atau kau ingin pergi makan malam dengannya?” Ji Lang memiringkan kepalanya untuk menatapku.

     Apa ini, jelas seperti ancaman, mirip dengan pertanyaan siapa yang kau pilih, aku atau Shao Mingan.

     Tapi aku benar-benar tidak ingin makan dengan Shao Mingan.

     "Ya, tapi aku tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang tua, jadi aku takut keluargamu tersinggung."

     “Terlalu banyak berpikir, keluargaku selalu menghargai kultur orang lain jadi kau tidak perlu canggung.” kata Ji Lang dengan gembira.

     Hm... Apakah ini terlihat seperti proses yang harus dilalui sebelum seorang wanita memasuki rumah mertua?

     Namun, keluarga Ji Lang menghargai kultur orang lain ... Ini memperkuat gagasanku tentang tidak pernah terlalu tua untuk belajar.
  
*idiom: tidak ada batasan usia untuk terus belajar.

Ketika masih muda, belajar adalah untuk cita-cita dan stabilitas; ketika setengah baya, belajar adalah untuk menambah dan mengisi kembali jiwa yang kosong; ketika tua, belajar adalah suasana hati, perlahan menikmati, dan menikmati diri sendiri.

     Tiba di kelas, Lai Wenle menatapku dengan mata yang lebih tertarik dari sebelumnya.

     “Suatu saat kita tidak berada di meja yang sama lagi. Jika kau melihat teman satu mejamu seperti ini, kau akan dipukuli.” Aku memberi saran.

     “Tidak, aku akan terus mengikutimu dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya.” Lai Wenle mengerucutkan bibir tampak menggelikan.

     Aku, "……"

     Apakah Ji Lang pergi ke loteng untuk memasang treadmill di pagi atau sore hari? tidak tahu.

     Apa dia masih di kelas sekarang? tidak tahu.

     Apakah dia membalas posting tersebut?  tidak tahu.

     Apakah rompiku robek? tidak tahu.

     Lai Wenle menggoyangkan pakaianku ke depan dan ke belakang dengan kedua tangan, "Hao Yu, tolong, jangan terlalu linglung sepanjang hari, betapa menakutkan, Lao Cao mengira aku terlalu mempengaruhi pelajaranmu."

     "Aku tidak linglung, memangnya terlihat begitu?"

     “Siapapun yang memiliki mata dapat melihatnya, itu sangat jelas.” Lai Wenle mengangguk.

     "..." Dikatakan bahwa meskipun tidak menundukkan kepala untuk bermain dengan hal-hal lain selama kelas, guru dapat mengetahui apakah jau mendengarkan kelas atau hanya melamun. Sekarang tampaknya benar.

     Kekuatan magis yang luar biasa.

     Dengan linglung, aku menunggu sampai siang hari. Ji Lang menungguku di koridor. Katanya treadmill dipasang sore hari. Ome, aku sekali lagi linglung sepanjang sore.

     Ketika kembali pada siang hari, aku dengan cepat menghidupkan ponsel dan mengklik postingku.

     Seseorang telah berkomentar karena mengetahui postinganku.

     1 [ Aku bertanya, mengapa hidup begitu indah]

     2 [ ^, karena semua rompi gay dilepas. ]

     3 [ Kakak komen 2, kau tidak bisa berbicara dengan baik, jangan memalukan, berbicara tentang sesuatu yang bergizi, seperti masalah filosofis atau sesuatu. 😌 ]

     4 [ Ya, mari kita bicarakan, misalnya, OP idiot tetangga sebelah tahu tidak ya ada OP  tampan tengah menunggu untuk membuka rompinya. ]

     5 [ Tidak, aku ingin tahu hukuman seperti apa yang akan dijatuhkan kepada OP jika rompinya dilucuti oleh OP idiot tetangga sebelah. 😋 ]

     6 [ @ sleep in, @ sleep in, OP, mari kita bicara. ]

     7 [ OP, berapa umurmu tahun ini, kau bekerja di mana, dan berapa gaji bulananmuApakah ada peluang untuk promosi? Kau punya pacar? Sudahkah kau membeli lima asuransi dan satu dana perumahan*? Susu bubuk merek apa yang akan dikonsumsi anak-anakmu di masa depan]

*Lima asuransi sosial dan satu dana perumahan mengacu pada asuransi pensiun, asuransi kesehatan, asuransi pengangguran, asuransi kecelakaan kerja, asuransi bersalin, dan dana tabungan perumahan.

     8 [ Saudara diatas jangan maruk, biarkan aku bertanya pada OP, berapa umur pacarmu? Apa dia bodoh? Atau konyol? Atau idiot? ]

    9 [ Komen 8, jangan menakuti OP, dia mungkin akan tidak berani keluar. ]

     10 [ OP memposting setelah jam lima pagi, dan sekarang baru jam 10. Dia pasti tidak begitu sibuk, mengapa dia tidak membalas? ]

     11 [ Komen 10 itu bodoh, di mana OP benar-benar pergi bekerja? Dia seharusnya sedang mengerjakan soal sekarang😏 ]

     Hei, melepas rompi, dan krematorium sesudahnya.

     Aku tidak ingin membalas lagi, aku telah ditipu, dan kemudian klik ke kiriman Ji Lang untuk melihat.

     Dia memposting sekitar jam tujuh lewat pagi ini. Sepertinya dia telah menyia-nyiakan empat puluh menit lagi kelas mandiri awal. Pria bermuka dua serius yang tidak mengizinkanku membawa ponsel adalah cabul.

     OP [ Kemarin dengan saran semua orang. Aku memikirkannya. ]

     2 [ Ini pasti tidak berhasil, kalian bisa melihat bahwa dia bisa terus memposting sekarang. ]

     3 [ Aku mendukung sudut pandang pertama dari komen 2, tapi yang kedua tidak. Bahkan jika OP mengikuti saran, tangannya masih dapat digunakan, tidak akan mempengaruhi dia mengirim postingan. ]

     OP [ Setiap hari kalian kurang manis dari hari sebelumnya. *baba kecewa* ]

     5 [ Kami bukan lagi malaikat kecilmu. Bagaimanapun, cinta di hatiku telah berpindah, dan itu adalah OP yang rompinya telah dirobek. ]

     OP [ Aku tahu, Internet adalah seutas benang, bertemu adalah nasib, jangan memaksa, jangan memaksa, bagaimanapun, kalian memang bukan malaikat kecilku, tentu saja aku tahu. *Ayah tua itu meneteskan air mata sedih* ]

     7 [ Kata-kata patah apa ini, apakah kau datang dari jaman 1980-an? ]

     OP [ Aku sengaja melakukannya. Apakah kalian masih belum terbiasa dengan humorku? ]

     10 [ Aku sudah terbiasa. Haha, aku sedikit respek. Dengan kata lain, poin utama posting hari ini belum dibahas. ]

     OP [ *French Kiss* ]

     12 [ WTF, ciuman lidah? Aku mengerti! ]

     13 [ SemangatSilakan ambil gulungan tisu toilet. Terima kasih. ]

     Jantungku berdebar kencang, melihat Ji Lang langsung digiring ke postinganku oleh semua orang, tapi karena bahasa online-nya terlalu terbelakang, semua orang mengeluh dan lupa tentang hal itu.

     Ji Lang juga benar-benar mulut besar, aku bahkan tidak membuka mulut dan dia dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa itu ciuman lidah ... Aku benar-benar tidak berpikir dia bermuka tebal dan suka membual, aku memandang rendah dirinya jauh di dalam jiwaku.

°°°


     Pada sore hari ketika kelas kosong, aku pergi ke koridor untuk mengambil air dan melihat Liu Yuanji dan Xu Wenqian tengah berdebat ditempat penyimpanan air. Aku tidak peduli dengan mereka, mengambil segelas air biasa dan bersiap untuk pergi.

     Lalu aku mendengar Liu Yuanji memasang mulut loudspeaker besar dan berkata, "Apa yang kau suka darinya! Sialan! Tidak bisakah kau melihatnya seperti burung! Dia dan Ji Lang hampir seperti bayi siam, apa yang kau pikirkan? Xu Wenqian!"

     "..."

     Aku tidak ingin menghajarnya. Jika aku memukulnya, Ji Lang yang akan dihukum karena membelaku. Aku hanya ingin dia lulus dengan tenang.

     Hanya saja tidak tahu berapa banyak orang seperti Liu Yuanji yang akan bertemu di masa mendatang. Dia tidak mengerti juga masih harus menyebarkan rumor tentangmu. Meskipun kau dan dia adalah dua garis paralel, dia akan tetap membuatmu jijik. Orang seperti ini mungkin dilawan seumur hidup, dan tidak mungkin dihindari seumur hidup.

     Apa yang dapat kau lakukan adalah menjauh dari tempat-tempat kecil dan orang-orang seperti dia, kau harus bekerja keras untuk mengangkat dirimu ke ketinggian yang tidak bisa dia daki dalam hidup ini dan menyingkirkan sepenuhnya keterikatan dengan orang-orang seperti itu.

     Harga diri dan hidupnya berada dibawah tapak kakinya.

     Xu Wenqian pada awalnya berdebat dengan Liu Yuanji lalu berhenti berbicara, mungkin melihatku dari belakang.

     Kurasa Ji Lang pasti sudah pergi ke loteng kami untuk memasang treadmill sekarang, jika tidak, Liu Yuanji pada dasarnya akan menghindariku ketika Ji Lang ada disini.

     Ini salah itu kemampuan orang seperti itu.[]