Aug 17, 2020

29. Mau kakak bantu menggosok punggungmu?

 

    Jika ini di masa lalu, Guru Liu sudah melemparnya dengan kapur karena mengganggu ketertiban kelas.

     Namun, Ying Jiao telah berprestasi sangat baik dalam sebulan terakhir, tidak hanya dia ingin belajar dengan giat, tetapi nilainya juga meningkat.

     Guru Liu menatapnya dengan puas, dan kemudian mengambil kapur lagi, "Kalau begitu aku akan menerangkan lagi, dan kalian yang tidak mengerti harus memanfaatkan kesempatan untuk mendengarkan."

     Saat dia berbalik, dia berkata, "Apa kalian melihatnya? Sebagai seorang siswa, kalian harus seperti Ying Jiao, bekerja keras dan termotivasi, dan bertanya kalau masih tidak mengerti! Kalian semua harus belajar dari Ying Jiao."

     Siswa lain di kelas 7 mati rasa, "..."

     Siapa yang may bertanya!!!! Mereka ingin makan sekarang!!!

     Karena khawatir Ying Jiao masih tidak mengerti, Guru Liu menerangkan dengan lebih hati-hati. Saat ketiga pertanyaan diselesaikan, enam atau tujuh menit telah berlalu.

     Dia mendongak melihat jam, sedikit enggan berhenti, matanya beralih ke Ying Jiao, dan bertanya dengan ramah, "Sudah mengerti?"

     Telepon bergetar pada saat yang sama, Ying Jiao mengabaikannya, dan mengangguk, "mengerti, terima kasih guru."

     “Tidak apa-apa.” Guru Liu meletakkan kertas di tangannya, “Cukup sampai disini saja untuk hari ini. Kelas selesai.”

     Setelah berbicara, dia mengambil barang-barang di podium, membuka pintu dan berjalan keluar kelas.

     Waktu sudah banyak terbuang, pergi ke pemandian sudah pasti tidak sempat lagi. Sementara pergi ke kantin juga harus butuh banyak waktu. Siswa di kelas 7 berdiri dengan sedih dan ingin keluar. Zheng Que tiba-tiba berkata dengan suara keras, "Jangan keluar. Kakak Jiao mentraktir kita semua siang hari ini."

     Dia menggoyang ponsel di tangannya, "Makanan telah dipesan, favorit kita semua, Yue Wei Xuan."

     Yue Wei Xuan adalah restoran Sichuan di dekat sekolah. Hidangannya enak dan bahan-bahannya segar. Orang-orang di Kelas 7 sering memilihnya untuk makan. Namun resto ini tidak menerima single order, hanya menerima pesanan rombongan saja, sehingga setiap ingin makan harus menunggu hingga hari libur.

     Ying Jiao meletakkan satu tangan di punggung kursi dan berkata sambil tersenyum, "sebagai permintaan maaf karena membuang waktu kalian semua."

     Orang-orang di Kelas 7 masih sedikit emosional, tetapi ketika mendengar ini, mereka langsung menjadi bahagia.

     Ada yang sudah jadi, kenapa harus capek berdesakan merebut makanan dikantin.

     Beberapa anak laki-laki yang ingin mandi tidak lagi terjerat dengan urusan mandi, dan dengan senang hati meletakkan peralatan mandi mereka.

     Mengapa mereka harus pergi mandi dulu? Minggu besok saja. Sekarang ada yang mengajak mereka makan, kenapa tidak?!

     "Kau terlalu baik, apa yang dikatakan kakak Jiao, bisa mengerti."

     "Kakak Jiao, kau tidak harus keluar nanti, kami bisa mengambilnya saat makanan sudah diantarkan."

     "Itu hanya hal sepele, tetapi Kakak Jiao dengan baik hati menghabiskan uang."

     Yang berani, dia tersenyum dan datang mendekat, "kakak Jiao, kau bisa mengajukan semua pertanyaan diakhir kelas keempat di masa depan. Kami tidak keberatan."

     Anak laki-laki lain juga membeo, "Saran ini bagus."

     Ying Jiao tertekeh dan mengabaikan mereka.

     Dia menoleh ke Jing Ji dan berbisik, "Aku menghambat waktu mandimu, apa kau tidak marah?"

     Jing Ji menggelengkan kepalanya dan berkata dengan serius, "Jika kau masih tidak mengerti, kau harus bertanya."

     Hati Ying Jiao menghangat, kenapa teman sekelas kecilnya begitu baik.

     "Mau kakak mengajakmu pergi mandi di malam hari?"

     “Di malam hari?” Jing Ji terkejut sejenak, “Aku tidak bisa keluar di malam hari.”

     Sambil mengemas buku-buku di atas meja, dia berkata, "Besok aku akan pergi ke pemandian sekolah."

     "Jangan," Ying Jiao bahkan dengan sengaja meminta guru untuk mengulur waktu, hanya karena dia khawarir Jing Ji akan pergi mandi dengan sekelompok pria liar. Bagaimana bisa upayanya harus gagal diakhir, "Ada terlalu banyak orang di pemandian sekolah, dan sering terjadi pemadaman listrik."

     Dia menakuti Jing Ji, "Terakhir kali seseorang di kelas kita mandi, busa di kepalanya belum hilang, air mati, jadi dia harus lari kembali dengan jaket terbungkus di kepalanya."

     Gerakan Jing Ji berhenti.

     Ying Jiao melihat ada celah, dia melanjutkan, "Ada lebih dari satu jam antara makan malam dan belajar mandiri di malam hari. Aku tahu tempat yang dekat dengan sekolah dan hanya memiliki sedikit orang. Kau bisa langsung mandi tanpa perlu mengantri."

     "Kakak punya cara untuk keluar, jangan khawatir, kau tidak melanggar disiplin, bagaimana?"

     Jing Ji masih menolak untuk setuju.

     Ying Jiao menarik napas dalam-dalam dan menggunakan senjata kunci, "Pemandian sekolah kita sudah bertahun-tahun. Baris keran tidak rata. Sedikit lebih tinggi di sini dan sedikit lebih rendah di sana, sangat jelek."

     Jing Ji tidak bisa tahan untuk membayangkan situasi itu, dan tiba-tiba seluruh tubuhnya mulai merasa tidak nyaman.

/Penderita OCD tidak tahan melihat sesuatu yang tidak tertata rapi/

     Dia ragu-ragu, dan akhirnya mengangguk dan setuju, "Oke."

     Ying Jiao mengangkat bibirnya dan merasa puas.

     Di belakang, He Yu menepuk bahu Wu Weicheng dengan kasihan, "ketua kelas, ada sejuta kemungkinan dalam sekejap ah."

     Jangan mimpi bisa mandi dengan Jing Ji dan saling menggosok punggung. Kakak Jiao tidak akan membiarkan itu terjadi.

     Anak ini belum terbunuh, itu murni keberuntungan.

     Wu Weicheng berpikiran sempit, tenggelam dalam kegembiraan karena ditraktir makan, dan hampir lupa tentang rencana mandi. Mendengar ini, sambil menggosok pantatnya, dia tanpa pikir panjang menambahkan, "Harus maju atau menunggu?"

*Penggalan lirik lagu Million Possibilities by Christine Welch.
      'Ada jutaan kemungkinan dalam sekejap
... Harus maju atau menunggu' 😅

     He Yu, "..."

     "Kebodohan sungguh menyenangkan."

     Wu Weicheng meliriknya dengan bingung. Tepat ketika dia hendak mengatakan sesuatu, Zheng Que tiba-tiba berkata, "makanannya sudah tiba! Beberapa laki-laki bantu aku mengambilnya!"

     Dengan suara ini, beberapa siswa laki-laki tiba-tiba berdiri dan bergegas keluar.  Segera, ada tawa dan umpatan berisik di koridor.

     Jumlah siswa dikelas 7 tidak terlalu banyak, hanya empat puluh orang, dan makanan untuk empat puluh orang dipesan. Pemandangannya sangat spektakuler. Para siswa di kelas lain yang lewat, melihat dengan penasaran, semua bertanya-tanya apa yang terjadi di kelas mereka.

     Karena Jing Ji, Kelas 7 sekarang menjadi topik hangat di forum.

     Entah siapa yang mempostingnya di forum.

     OP [ Aku baru saja bertemu orang-orang dari Kelas 7 memesan makanan kelompok, apa yang mereka lakukan? ]

     1 [ •gambar• •gambar• ]

     2 [ Bahkan Kelas 7 bisa melakukan hal semacam ini. Feng Botak secara tegas melarang memesan makanan di luar. Jika ketahuan, bisa dihukum. ]

     5 [ Kapan mereka di Kelas 7 peduli tentang ini? Tapi aku dengar Jing Ji masuk kelas olimpiade matematika kemarin, apa karena ini yang mereka rayakan? ]

     11 [ Seharusnya karena ini. ]

     13 [ Benarkah? Apa masuk ke kelas kompetisi sekolah kita layak dirayakan?  Orang di Kelas 7 sangat langka dan aneh. ]

     14 [ Komen diatas yang aneh. Memangnya kenapa dengan kelas kompetisi sekolah kita? Meski tidak bisa bersaing di kompetisi nasional, sekolah kita bisa kita mengalahkan sekolah lain di kompetisi provinsi. ]

     20 [ Aku merasa Jing Ji seharusnya tidak berpartisipasi dalam kompetisi, bagaimanapun, kompetisi pendahuluan akan segera dimulai, dan dia tidak pernah belajar. ]

     25 [ Sama kayak komen 20. Jing Ji luar biasa dan nilainya sangat bagus, aku percaya. Tapi kali ini rasanya salah pilih. Yang lain sudah berlatih sekian lama. Dia yang tidak pernah belajar kompetisi hanya akam mendapat hasil yang buruk. Lebih baik menunggu tahun depan. ]

     33 [ Konon kelas kompetisi matematika mengikuti ujian kemari. Ayo tebak berapa banyak poin yang bisa didapat Jing Ji ]

     37 [ Inspeksi visual tidak akan melebihi 20 poin, bagaimanapun, ini adalah pemula. Jiang Chong dari kelas satu katanya sangat baik, namun akhirnya hanya mendapat tempat kedua di provinsi. Aku ngakak sampai mau meninggal, diperkirakan Jing Ji tidak sebaik dia. ]

     40 [ Ah, ah, ah, Jing Ji adalah dewaku! Tak satu pun dari kalian diizinkan untuk mengatakan hal-hal buruk tentangnya! Apa itu 20, mungkin sedikit naik 30 poin! Jika pertanyaannya tidak sulit, jangankan yang ketiga, bahkan tempat kedua pun tidak masalah! ]

     41 [ Bukankah komen diatas itu bodoh? Apa gunanya tempat kedua dan ketiga?  Siswa yang masuk jalur mandiri tidak dipertimbangkan sama sekali, dan ujian masuk perguruan tinggi tidak menambah poin. Di sekolah kita, tempat kedua dan ketiga = tidak ada hasil, ada masalah? ]

     50 [ Jangan berdebat, bagaimanapun juga, hasilnya pasti akan keluar malam ini, kita lihat saja nanti. ]

     66 [ Fokus pada hasil tes Jing Ji, sejujurnya, aku sedikit penasaran, lagipula, kita sudah lama tidak melihat dewa seperti itu dalam percobaan. ]

     Jing Ji menjadi fokus para siswa. Setelah posting ini keluar, mereka menebak berapa banyak poin yang dia miliki pada tes. Ada yang menebak setiap angka dari nol hingga dua puluh.

     OP juga membosankan, dan bahkan mengeluarkan jajak pendapat, menebak bahwa skor 0-10 menyumbang 95%.

     Orang-orang dari Kelas 7 memeriksa forum sambil makan, dan melihat kiriman ini. Beberapa orang berkumpul dan berdiskusi untuk waktu yang lama, tetapi mereka tetap tidak memberi tahu Jing Ji.

     Bahkan bajingan tahu perbedaan antara kompetisi dan ujian biasa. Daripada memberi tahu Jing Ji yang membuat tekanannya tinggi, lebih baik merahasiakannya. Kelas mereka akhirnya menemukan seseorang yang berprestasi, jadi mereka harus menjaganya dengan baik.

     Beberapa orang berdiskusi dalam grupchat kelas satu sama lain, dan memperingatkan semua orang untuk tidak membocorkan mulut mereka.

     Tubuh asli sebelumnya diusir dari grupchat kelas karena selalu @ Ying Jiao dengan kalimat menggelikan. Sekarang, setelah menyeberang, Jing Ji tidak banyak menggunakan ponselnya, jadi lupa untuk menambahkan lagi.

     Ying Jiao selesai makan sayap ayam dan melihat telepon menyala, melirik ke bawah, melihat isi pesan, tersenyum, dan mengunci layar telepon.

     Setelah makan makanan dari Ying Jiao, siswa kelas tujuh tiba-tiba merasa bahwa tiran sekolah tidak begitu menakutkan.

     Orang yang begitu setia seharusnya tidak mematahkan kaki seseorang tanpa alasan.

     Berkat makanan ini, Ying Jiao mendapat banyak kesan baik.

•••


     Setelah kelas keempat di sore hari, siswa lain berlari ke kafetaria untuk makan, sementara Ying Jiao berjalan ke gerbang sekolah bersama Jing Ji.

     Percobaan provinsi menetapkan bahwa meskipun bukan siswa yang tidak tinggal diasrama, mereka tetap tidak diizinkan pulang untuk makan malam dirumah. Jadi saat ini, gerbang sekolah sedang sepi.

     Penjaga sekolah sedang duduk di paviliun kecil, menggelengkan kepala dan mendengarkan cerita.

     Ying Jiao meminta Jing Ji untuk menunggunya di luar, mengetuk pintu dan masuk.

     Keduanya mengucapkan beberapa patah kata, dan Ying Jiao mengeluarkan sebungkus rokok dan menyerahkannya. Penjaga pintu menolak untuk waktu yang lama, tetapi tanpa daya akhirnya menerima, dan mengeluh sambil tersenyum, "Kau nak, memberiku kesulitan saja. Cepat pergi dan kembali lebih awal."

     “Aku mengerti, terima kasih.” Ying Jiao mengucapkan terima kasih, mengambil sepedanya di pintu, dan menepuk kursi belakang, “Teman sekelas kecil, naik dan duduk.”

     Jing Ji mengubah tangan kirinya untuk membawa kantong plastik, melompat duduk, dan bertanya, "Cukup jauh?"

     "Tidak jauh," Ying Jiao mengayuh dengan kuat, dan sepedanya bergegas keluar, "Bersepeda lebih cepat, aku khawatir kau ingin lebih bergegas."

     Ying Jiao tidak berbohong padanya, sebenarnya tidak jauh.

     Namun yang mereka datangi bukanlah pemandian yang dibayangkan Jing Ji, melainkan sebuah gedung apartemen.

     “Di mana ini?” Begitu tiba, Jing Ji menunggu Ying Jiao mengunci sepeda dan mengikutinya berjalan masuk, bertanya-tanya, “Bukankah kita pergi ke pemandian umum?”

     "Tidak," Ying Jiao menekan lift ke atas, dan berkata, "bukan ke pemandian umum, tapi ke rumahku."

     "Tidak perlu" Jing Ji mengerutkan kening, ingin mengubah arah, "Aku bisa pergi ke pemandian."

     "Pemandian apa," pintu lift terbuka, dan Ying Jiao menyeretnya masuk dan menekan lantai 22, "Tidak nyaman sama sekali, begitu banyak orang untuk berdesakan. Kebetulan rumahku dekat dengan sekolah. Mandi dirumahku sudah sangat tepat."

     Dia berhenti, takut Jing Ji akan merasa tidak nyaman, dan melanjutkan, "Jangan khawatir, tidak ada orang lain di rumah. Aku tinggal sendiri."

     Jing Ji sedikit terkejut.

     Bagaimana Ying Jiao hidup sendiri?  Dimana orang tuanya?

     Novel ini dideskripsikan dari sudut pandang protagonis. Pada tahap awal, berfokus pada garis karier, dan Ying Jiao adalah protagonisnya. Lebih fokus pada tampilan karakternya sebagai tiran sekolah yang suka berkelahi, dan tidak dijelaskan secara mendalam sama sekali.

     Karena itu, Jing Ji tidak mengetahui keadaan keluarganya.

     Dia tidak bertanya terlalu banyak, takut dia akan secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang tidak boleh disentuh, mengangguk, mengikuti Ying Jiao ke pintu.

     Rumah Ying Jiao adalah tipikal apartemen tunggal dengan area yang luas tetapi hanya satu kamar tidur.

     Ruang ganti, dapur, toilet, dan kamar mandi semuanya tersedia. Ying Jiao membuka lemari es, mengeluarkan dua botol air mineral, dan memberikan sebotol pada Jing Ji, "Minumlah."

     Jing Ji mengambilnya, membuka tutupnya dan menyesap dua kali.

     “Pergi mandi,” Ying Jiao menyeka tetesan air di sudut bibirnya, membawanya ke kamar mandi, dan menunjuk ke keran. “Belok ke kiri adalah air panas, dan kanan adalah air dingin. Saat kau mandi nanti, jalankan dulu. Saat air keluar, awalnya adalah air dingin."

     "Kau bisa berendam kalau mau. Bak mandinya bersih," Ying Jiao menunjuk ke deretan perlengkapan mandi di atas, "Sampo dan shower gel semuanya ada di sini, kau bisa menggunakannya sesukamu."

     Jing Ji meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke rak, dan berkata kepada Ying Jiao dengan sedikit malu, "Terima kasih, aku membawanya sendiri."

     Ying Jiao terkekeh, "Apa masalahnya dengan ini, aku yang membawamu datang ke rumahku."

     Dia berhenti, dan bertanya ringan, "Apa kau membawa pakaian dalam? Kalau tidak, aku punya yang masih baru."

     Jing Ji menunduk dan berkata dengan tidak wajar, "Aku membawa semuanya."

     Ying Jiao tersenyum, "Baiklah, milikku terlalu besar untuk kau pakai, itu tidak muat."

     Matanya menyapu seisi kamar mandi. Melihat tidak ada yang bisa dikatakan, dia mengangkat kakinya dan berjalan keluar, "Oke, kau bisa mandi sekarang."

     Jing Ji mengangguk dan hendak menutup pintu, Ying Jiao tiba-tiba mengulurkan tangan dan memegang kusen pintu.

     Dia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Jing Ji sambil tersenyum, dan berkata dengan lembut, "Teman sekelas kecil, mau kakak membantu menggosok punggungmu nanti?"[]


28. Apa kalian akan pergi mandi?

 

    Ying Jiao dalam keadaan sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat, bahkan setelah lapisan tipis sweternya, Jing Ji masih bisa merasakan panas tubuh yang dengan hangat mengelilinginya.

     Ada suara berisik manusia di lapangan, hujan rintik-rintik di langit masih jatuh ke tanah, dan siswa di sekitar melewati mereka silih-berganti, entah tertawa, mengobrol, atau bergegas menerobos hujan.

     Ying Jiao memeluknya dengan satu tangan, dan memegang payung dengan tangan lainnya, ruang kecil di bawah payung tidak diserang oleh angin atau hujan.

     Jing Ji tertegun selama beberapa detik, dan kemudian dengan lembut mengulurkan tangannya untuk mendorong Ying Jiao, "Mau jalan atau tidak?"

     “Jalan” Ying Jiao menariknya kembali untuk tetap berdekatan, takut dia benar-benar marah dan berlari keluar basah kuyup, jadi dia tidak berani menggodanya lagi, dan berkata, “aku hanya khawatir kau kedinginan.”

     Jing Ji menunduk sedikit dan melihat tali sepatunya, "Tidak akan kedinginan karena cepat sampai ke asrama."

     Ying Jiao tersendat, speechless.

     Dia tersenyum, dan berkata tanpa daya, "Oke, itu masuk akal, kau benar."

     Tidak peduli seberapa besar lapangan percobaan provinsi ini, gedung asrama hanya berjarak beberapa menit. Segera, keduanya telah berdiri di depan pintu asrama.

     Ying Jiao menyerahkan tas yang dibawanya ke Jing Ji, "Masuk."

     Jing Ji terkejut, "Apa kau tidak masuk?"

     "Aku pulang."

     "Kau... bukankah kau bilang tinggal malam ini?”

     Ying Jiao melepas tali tas sekolah dari bahu, dan menggantungkannya di lengan, sambil berkata, "Tidak, ada urusan lain jadi aku harus pulang kerumah malam ini, aku hanya mengantarmu karena kau tidak membawa payung. Oke, masuklah!"

     Dia melambai ke Jing Ji, "Kakak pergi, sampai jumpa besok."

     Jing Ji mengerutkan bibirnya. Melihat bahwa Ying Jiao akan berbalik, dia ragu-ragu dan berkata kepadanya, "Hati-hati di jalan."

     Ying Jiao berhenti, kemudian sudut bibirnya bergerak sedikit demi sedikit.

•••


     Jing Ji naik ke lantai tiga dan berdiri di depan pintu asramanya, begitu dia mengulurkan tangan untuk mendorong pintu, pintunya ditarik terbuka dari dalam.

     Li Zhou tercengang saat melihatnya, “aku akan pergi, ini benar-benar kebetulan.” Dia mengguncang payung di tangannya, “Jika kau tidak kembali, aku ingin menjemputmu.”

     Jing Ji mengucapkan terima kasih, meletakkan tas sekolah di atas satu-satunya meja di asrama, menyesuaikan sudutnya beberapa kali, dan berhenti sampai terlihat enak dipandang.

     Li Zhou mengekorinya, semakin dia melihat, semakin dia merasa ada yang tidak beres.

     Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh seragam Jing Ji, bertanya-tanya, "Bukankah kau tidak membawa payung? Mengapa tidak basah sama sekali?"

     Gerakan Jing Ji yang akan memegang baskom terhenti ketika mendengar itu, dia berkata dengan samar, "aku berbagi payung dengan orang lain."

     "Ah benar," tatapan Li Zhou tertuju pada wajahnya, iri dan cemburu, "Senang menjadi tampan, pasti seorang gadis yang memberimu payung kan?"

     Gadis?

     Memikirkan wajah kastanye air Yingjiao yang terdefinisi dengan baik, bibir Jing Ji sedikit melengkung, tidak menjawab.

*manfaat dari water chestnut atau kastanye air ( sayuran umbi air yang tumbuh di rawa-rawa, kolam, sawah dan danau dangkal. ) untuk menggambarkan wajah Ying Jiao yang rupawan. 😁

     Menganggap itu benar, Li Zhou berbaring di tempat tidur, dan menghela nafas, "Sekarang ini semua gadis hanya melihat wajah, tanpa memahami perasaan. Mereka tidak hanya menginginkan seorang pacar, tetapi mereka juga menginginkan yang tampan."

     Jing Ji berjalan keluar dengan baskom. Mendengar apa yang dia katakan, dia tidak menjelaskan apa-apa, tetapi mengubah topik pembicaraan, "juga melihat bakat."

     Li Zhou, "..."

     Sayangnya, dia tidak memiliki wajah maupun bakat.

     Dia menerkam Jing Ji dengan tatapan galak, mengapit lengan ke lehernya, dan berkata dengan kejam, "coba kau katakan sekali lagi?"

     Jing Ji tersenyum, "aku tidak diizinkan untuk mengatakan yang sebenarnya?"

     “Oke, kau!” Li Zhou menekan tangannya untuk menjatuhkannya.

     Pada saat ini, pintu asrama tiba-tiba terbuka, beberapa siswa laki-laki dari Kelas 7 berjalan masuk.

     Melihat tindakan keduanya, satu dari meteka segera menarik Li Zhou, "Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan ?!"

     Wu Weicheng mendorong Li Zhou ke samping dan menatapnya tajam, "Kau! Jauh dari kepala Jing Ji kita! Mengerti?!"

     Wu Weicheng adalah ketua tim Kelas 7 dan satu-satunya yang bisa masuk tiga ratus lima puluh teratas dari kelas tujuh sebelumnya. Dia cukup pandai dalam mata pelajaran lain, kecuali matematika saja, sama seperti Chen Miaomiao, tidak paham.

     Dalam setiap ujian, sembilan dari sepuluh pertanyaan besar tidak dapat diselesaikan dan sering dipanggil Guru Liu ke kantor untuk memarahinya setelah hasilnya keluar.

     Sejak dia melihat Jing Ji mendapat nilai sempurna dalam tes matematika di ujian tengah semester, dia selalu datang untuk mengajukan pertanyaan pada Jing Ji.

     Orang-orang dari Kelas 7 juga bercanda bahwa dia dan Chen Miaomiao harus memberi Jing Ji panji di akhir periode.

*Bendera yang terbuat dari kain sutra merah atau bahan lainnya, yang diberikan kepada kelompok atau individu untuk menyatakan rasa hormat atau terima kasih.

     Kepribadian Wu Weicheng ekstrovert. Setelah keduanya berkenalan, dia membawa beberapa anak laki-laki dari Kelas 7 ke asrama Jing Ji dari waktu ke waktu. Terkadang dia mengambil buku kerja dan menanyakan beberapa pertanyaan di jalan.

     Dia tinggi dan kuat, figur yang sama dengan Guru Liu. Ukuran orang lain adalah nomor normal L, dan ia nomor XXXL. Li Zhou tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk melawan balik. Ia diangkat dan disingkirkan seperti ayam.

     “Bodo amat dengan fans fanatik!” Li Zhou melepeh dan bergumam pelan.

     Beberapa anak laki-laki lain duduk di sampingnya, merangkul bahu Li Zhou, dan bercanda, "Untungnya, Jing Ji bukan seorang gadis, kalau tidak dia akan terjerat oleh Lao Wu dalam kehidupan ini."

     Wu Weicheng mendesis dan mengerutkan kening, "Omong kosong apa yang kalian bicarakan."

     Setelah melihat Jing Ji tampak tidak peduli, Wu Weicheng merasa lega.

     Sebelumnya, karena tubuh asli terus mengejar Ying Jiao, semua orang di Kelas 7 setuju bahwa Jing Ji menyukai laki-laki.

     Namun semenjak Jing Ji berubah menjadi lebih baik, ia tidak pernah lagi mengejar Ying Jiao, bahkan sebaliknya, Ying Jiao sering bercanda dengannya.  Orang-orang di Kelas 7 tidak mengerti prespektif rasa suka Jing Ji pada Ying Jiao, entah itu karena iseng atau murni secondary disease.

*中二病 kata pinjaman dari bahasa Jepang chūnibyō: istilah Jepang untuk tahun kedua SMA. Dipahami secara harfiah sebagai kesadaran diri patologis tertentu dari remaja di kelas dua SMA. Karakteristik perilaku aneh seorang remaja yang sedang melewati masa pubertas.

     Penasaran untuk sementara waktu dan tidak melihat apa-apa, lama-kelamaan, mereka tidak peduli.

     Tidak masalah jika dia menyukai laki-laki atau perempuan.

     Jika Jing Ji suka laki-laki, semua siswa laki-laki di sekolah tidak ada yang bisa menyaingi ketampanan Ying Jiao, jadi mereka tidak khawatir sama sekali. Jika menyukai perempuan, maka itu tidak ada hubungannya dengan mereka.

     Tapi mereka tetap berhati-hati untuk tidak membuat lelucon seperti itu dengan Jing Ji, jangan sampai dia tidak wajar.

     Beberapa anak laki-laki tersenyum dan memberi isyarat memohon ampun pada Wu Weicheng.

     Mereka datang, Jing Ji tidak merasa begitu baik untuk mandi, jadi dia meletakkan baskom di dekat kakinya dan tinggal untuk mengobrol dengan beberapa orang.

     Wu Weicheng menghitung waktu dan berkata, "Ini sangat cepat. Besok adalah hari Sabtu."

     "Apa yang salah pada hari Sabtu." Li Zhou meringkuk dan mendesah di atas selimut yang terlipat, "Tidak ada hari libur."

     "Ya," laki-laki di sebelahnya berkata, "aku sangat iri melihat sekolah lain libur. Ayahku juga benar-benar ah. Aku bukan orang yang harus belajar, tetapi dia ingin menempatkanku di experimental provinsi. Tempat ini tidak tepat."

     Jing Ji tersenyum dan tidak ikut menanggapi, dia mengeluarkan sekantong roti Prancis dari laci dan melemparkannya kepada mereka.

     Dia sering lapar setelah kembali pada malam hari, jadi dia menyiapkan beberapa kantong roti Prancis di kamar tidur.  Makanan ini murah dan tahan lama, dan makan sedikit saat lapar jauh lebih baik.

     Yang lainnya tidak sungkan, mengambil satu per satu, menyobek dan memasukkannya ke dalam mulut.

     Mereka semua berusia enam belas atau tujuh belas tahun, dan semuanya bisa masuk ke dalam perut.

     Setelah seorang selesai makan, dia hanya ingin meletakkan kantong kemasan di atas tempat tidur. Jing Ji menatapnya dengan ringan. Dia tanpa sadar mendorong punggungnya dan membuangnya ke tempat sampah.

     "Pemandian sekolah akan buka besok," kata Wu Weicheng sambil makan, "Apa kalian akan pergi mandi?"

     Di musim panas, anak laki-laki biasanya mandi di kamar mandi asrama.

     Tapi sekarang cuaca semakin dingin, dan kalau pakai air dingin akan sakit, biarpun daya tahan tubuh kuat, mereka tidak mau menyiksa diri.

     Jing Ji berpikir sejenak dan mengangguk, "Aku akan pergi."

     Percobaan provinsi secara ketat mengontrol siswa asrama, dan mereka tidak diizinkan meninggalkan sekolah sama sekali. Pemandian sekolah hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, jadi ketika bukan musim panas, mereka harus memilih mandi pada dua hari tersebut.

     Beberapa orang lainnya setuju, "Pergi."

     "Kalau begitu kalian bawa sekalian perlengkapan mandi besok pagi. Kita tidak akan makan pada siang hari dan langsung pergi ke pemandian." Wu Weicheng menelan gigitan terakhir roti di mulutnya dan berkata, "Jika tidak, kita tidak bisa mendapat tempat."

     Jing Ji mengangguk, "Oke."

     Walaupun bisa juga keluar untuk mandi di hari Minggu sore, tapi libur setengah hari setiap minggu sangatlah berharga. Kebanyakan siswa memilih pergi ke pemandian pada hari Sabtu.

     Jadi siang hari pada hari Sabtu adalah waktu yang paling ramai untuk pemandian percobaan provinsi.

     "Tidak boleh terlambat," Wu Weicheng memandang yang lainnya, memperingatkan, "Begitu bel berbunyi setelah kelas di kuartal keempat, kita harus segera bergegas keluar untuk mengambil tempat. Sudah dengar?"

     Li Zhou memutar mata, meliriknya, "kau masih perlu mengatakannya? Seperti kami belum pernah kesana saja."

     Wu Weicheng mengabaikannya, menoleh ke Jing Ji, standar ganda fans bucin mode on, "Jika kau terlambat, tidak apa-apa. Aku akan membantumu mengambil tempat."

     Jing Ji tersenyum, "Tidak, aku akan pergi bersama kalian."

     Ketika Jing Ji pertama kali datang, dia benar-benar tidak terbiasa dengan suasana serba lomba lari merebut posisi yang ada di percobaan provinsi, tetapi setelah tinggal untuk waktu yang lama, lambat laun dia terbiasa. Terkadang dia pergi ke kafetaria lebih cepat daripada Li Zhou.

     •••


     Keesokan paginya, Jing Ji mengemas sampo, handuk, dan peralatan mandi lainnya di dalam kantong plastik, memasukkannya ke dalam tas sekolah, dan membawanya bersama ke ruang kelas.

     Kantong plastik buram yang dia gunakan dimasukkan ke dalam laci meja ketika dia sampai di kursi, jadi bahkan jika Ying Jiao berada di meja yang sama dengannya, dia tidak menemukannya.

     Sampai kelas ketiga usai, Wu Weicheng berteriak di dalam kelas dengan keras, "Cepatlah saat kelas selesai! Kurasa akan ada banyak orang di pemandian hari ini."

     Beberapa anak laki-laki menanggapi dengan lemah, dan Jing Ji mengangguk.

     Saat itu, Ying Jiao dan He Yu kembali dari luar.

     Melihat pemandangan ini, senyum di bibir Ying Jiao perlahan menghilang.

     Dia menatap He Yu tanpa ekspresi, "hanya halusinasiku, atau mereka mulai maruk? Apa yang akan mereka lakukan dengan mengajak Jing Ji?"

     Bulu kuduk He Yu meremang, dan menyeka keringat dingin di dahinya, dia tergagap, "ma-mandi?"

     Dia ingin mengedipkan mata pada Wu Weicheng memberi peringatan, tapi bukannya menatapnya, Wu Weicheng malah berlari ke arah Jing Ji dan berkata, "Aku membawa scrub mandi, aku akan bantu menggosok punggungmu nanti."

     Jing Ji menunjuk ke laci mejanya, "Aku juga membawanya, kalau begitu aku juga akan menggosoknya untukmu."

     Ying Jiao mencibir dan berjalan untuk mendorong Wu Weicheng ke samping.

     Wu Weicheng sangat marah dan akan meledak, begitu mendapati Ying Jiao, emosinya menciut, dia segera berlari kembali ke kursinya.

     Ying Jiao mengatur suaranya, mencoba setenang mungkin, "Jangan pergi bersama mereka, kakak akan membawamu pergi mandi besok."

     Jing Ji menggelengkan kepalanya dan membalik halaman buku Matematika Olimpiade di tangannya, "aku sudah membuat janji dengan mereka."

     Ying Jiao sangat jengkel hingga rasanya ingin menguyel-uyel wajah Jing Ji.

     Benar-benar berani. Hari ini pergi mandi dengan sekelompok pria. Bagaimana dengan besok? Apa lagi yang dia lakukan besok?

     Ying Jiao menggertakkan giginya dengan ringan, sangat bagus, Jing Ji tidak bisa disalahkan, orang ini memaksanya ...

     Wu Weicheng, yang tengah berbaring di atas meja, tiba-tiba merasa hawa dingin dibalik punggungnya. Dia mengangkat kepala dengan kosong dan melirik, reflek menggaruk punggungnya dua kali, lalu terus berbaring.[]