Jan 20, 2020

84. Kau benar-benar cinta pertamanya

Untuk jawaban Gu Yu, Bo Shangyuan tidak terkejut.

Pandangannya beralih pada bibir merah Gu Yu yang membengkak dan tanda cupang yang memenuhi lehernya, dan kemudian bertanya. "... Kau yakin mau pulang sekarang?"

Gu Yu tertegun. Pada awalnya, tidak mengerti apa itu, tetapi ketika dia menemukan bahwa matanya selalu menatap lehernya, dia tiba-tiba menyadarinya.

Gu Yu dengan cepat meraih lehernya dan memerah.

Dia berkata dengan keras, "Itu, kalau begitu aku pulang dulu!"

Jika sebelumnya, dia pasti akan mempertimbangkannya. Tetapi sekarang, jangankan tidur dengan Bo Shangyuan, saat ini saja dia merasa cemas.

Karena itu, seakan takut Bo Shangyuan menangkapnya lagi, dia bergegas melarikan diri.

Dia kini berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, menyentuh leher dan menjilat bibirnya.

Gu Yu menepuk wajahnya untuk memudarkan suhu, mengambil napas dalam-dalam dan pura-pura seakan tidak ada yang terjadi, dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Aku pulang."

Kedua orangtuanya yang tengah berada diruang tamu menoleh ke arahnya.

Ibu Gu tertegun, bertanya bingung. "Apa yang terjadi pada leher dan bibirmu? Bagaimana bisa begitu merah?"

Ayah Gu juga menatapnya aneh.

Gu Yu terlihat tenang dan berbohong. "... Aku baru saja makan hot pot dengan teman sekelasku."

Saat itu bulan Februari, musim dingin yang besar, hari-hari yang dingin dan teman-teman sekelas pergi makan hot pot, itu normal.

Ibu Gu bergumam mengerti, tidak ada keraguan sama sekali.

Dia mengalihkan pandangannya ke leher merah Gu Yu dan mengerutkan kening, "Lalu lehermu? Tidak ada nyamuk di musim dingin ini."

"... Sepertinya aku alergi apa yang baru saja aku makan di restoran hot pot."

Ibu Gu buru-buru berdiri dari sofa dan datang ke depan Gu Yu, lalu menundukkan kepalanya dan dengan hati-hati melihat tanda merah di lehernya.

Ibu Gu khawatir. "Apa tidak gatal? Apa ini alergi makanan? Kau ingin pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya?"

Di bawah perhatian ibu Gu, Gu Yu diam-diam dengan hati nurani yang bersalah mengalihkan matanya dan menatap dinding putih. Dia balas dengan pelan. "... tidak apa-apa, besok akan baik-baik saja."

Ibu Gu masih belum yakin. "Tidak perlu pergi ke rumah sakit? Ini sepertinya sangat serius ..."

Di leher Gu Yu, tanda merah hampir menutupi seluruh lehernya.

Semakin banyak ibu Gu khawatir, semakin dia merasa bersalah.

Gu Yu takut ibu Gu akan benar-benar membawanya ke rumah sakit. Dia dengan cepat kembali menolak lalu segera masuk ke kamar tanpa menunggu reaksi ibu Gu.

Pada saat pintu ditutup, dia tidak bisa lagi menjaga ketenangan dari momen sebelumnya, dan merosot dengan lembut di lantai.

Gu Yu duduk di lantai dan menutupi wajahnya.

Apa yang harus dilakukan?!

Detak jantungnya sangat cepat sehingga tidak bisa berhenti.
.
.

Malam ini, Gu Yu secara alami tidak bisa tidur.

Dia berkedip dan kehilangan rasa kantuk semalaman.

Adegan ketika di lantai atas, ketika Shangyuan menciumnya di rumah, dan kata-kata yang dia ucapkan, terus berputar dalam benaknya.

Memikirkan ini, wajah Gu Yu secara tidak sadar merah.

Besok dia harus bangun pagi untuk membuat kelas pada Jiang Zhenshan. Gu Yu tahu bahwa dia harus tidur, tetapi dia tidak bisa tidur.

Karena itu, keesokan paginya, dia sangat mengantuk.

Ketika sedang membuat kelas, kelopak matanya jatuh, dia mengantuk dan lelah.

Jiang Zhenshan yang baru pertama kali melihatnya seperti ini, tidak tahan untuk bertanya. "Gu Yu, kau tidak tidur tadi malam?"

Gu Yu menguap lalu bergumam mengiyakan.

Gadis itu penasaran. "Kenapa kau tidak tidur? Apa mimpi buruk?"

"Karena tadi malam ..."

Gu Yu berhenti bicara. Dia terlalu mengantuk dan tanpa sadar akan bicara jujur.

Jiang Zhenshan bingung. "Tadi malam? Apa yang terjadi semalam?"

Gu Yu diam sejenak, berbohong. "... mengalami mimpi buruk tadi malam."

Jiang Zhenshan yang langsung percaya ketika mendengar mimpi buruk, dia menggosok lengannya, merinding. "Aku juga mengalami mimpi buruk beberapa malam yang lalu, sangat mengerikan. Aku bermimpi ada hantu yang terus mengejarku. Aku tidak bisa menghentikannya ... "

Disisi lain, Gu Yu menepuk wajahnya sendiri untuk tetap terjaga.

Dia segera memotong ucapan gadis itu  "Oke, aku sadar sekarang, mari kita lanjutkan membuat kelas."

Jiang Zhenshan patuh dan membuka buku.
.
.

Waktu untuk membuat kelas sangat singkat, dan segera berlalu.

Pada siang ini, ketika Gu Yu bersiap pulang, Jiang Zhenshan tidak bisa untuk menahan diri, berkata. "Itu ... teman sekelas Gu Yu."

Gu Yu berbalik, bingung. "?"

Jiang Zhenshan menunjuk ke lehernya dengan hati-hati, "Apa jejak di lehermu itu..."

Gu Yu membeku.

"... Alergi."

Jiang Zhenshan seketika mengerti.

Cupang di leher Gu Yu, setelah hampir tiga hari, akhirnya sedikit memudar.

Pada hari keempat, Gu Yu berdiri di depan wastafel di kamar mandi, dan mendesah lega melihat cupang yang hampir menghilang sepenuhnya dari lehernya.

Jika masih tidak hilang, dia khawatir ibunya benar-benar akan membawanya ke rumah sakit.

Gu Yu merona lagi dan merenung.

Bo Shangyuan bilang dia tidak mabuk.

Tidak mabuk, bahkan menciumnya.

Dan lebih dari sekali.

Apakah itu berarti ...

Tidak benar...

Tunggu sebentar.

Wajah Gu Yu memucat.

... Bukankah Bo Shangyuan punya kekasih?

Lalu dirinya dianggap apa?

Apa yang baru saja dia pikirkan? Apa dia terlalu percaya diri?

Ekspresi Gu Yu kusut dan perlahan keluar dari kamar mandi.

Debaran dan wajah memerah tadi menghilang tanpa jejak.

Pada saat ini, ponsel tiba-tiba berdering.

Gu Yu mengambil ponsel dan melihat isi pesan masuk.

Setelahnya dia langsung mengirimkan pesan balasan.

[ Bukankah kau punya kekasih? ]

Bo Shangyuan dengan cepat membalas

[ ...... ]

Kapan aku punya kekasih? ]

Gu Yu berkedip.

Tapi bukankah Duan Lun bilang dia punya?

Gu Yu kemudian menyalin tautan di forum tentang gosip Bo Shangyuan dicampakkan kekasihnya.

[ http: //bbs.******.com ]

[ Ini. ]

Di sisi lain WeChat, Bo Shangyuan mengerutkan kening, lalu membuka tautan tersebut.

Tiga menit kemudian.

Kau tunggu. ]

[ ...? ]

[ Tunggu apa? ]

Bo Shangyuan tidak menjawab, keluar dari WeChat, mencari nomor ponsel seseorang lalu menelepon.

Telepon terhubung dengan cepat.

Detik berikutnya, suara Duan Lun yang terkejut dan bingung terdengar dari ujung telepon.

"Bagaimana Bo kami yang tampan tiba-tiba berpikir untuk meneleponku?"

Suara Bo Shangyuan sangat dingin. "Apa maksud pos itu?"

Duan Lun bingung dan bertanya, "Pos apa?"

"Forum sekolah."

Duan Lun menyadari hal ini, dan kemudian tidak bisa menahan senyum. "Kau melihatnya juga? Bukankah orang-orang itu sangat menarik? Aku hanya bicara omong kosong tentang kau dicampakkan, dan mereka sudah membuat drama besar. Apanya yang dicampakkan! ... menarik sekali."

Duan Lun berkata dengan santai, sementara disisi lain, wajah Bo Shangyuan semakin jelek.

"Jelaskan padanya."

Duan Lun mematung sejenak, mengira dia salah dengar. "Ha? Apa katamu?"

Di depan siapa pun selain Gu Yu, tidak ada kesabaran dalam Bo Shangyuan.

"Aku tidak ingin mengulangi yang kedua kalinya."

Duan Lun selalu pintar, meskipun dia belum mengatakan siapa yang harus dijelaskan, tetapi Duan Lu tiba-tiba menebak siapa itu.

Kalau bukan kurcaci kecil, siapa lagi.

Duan Lun mendengus dan bertanya, "Apa kurcaci kecil itu berpikir kau punya kekasih?"

"Waktumu dua menit."

Duan Lun langsung menolak. "Aku sedang balapan dengan yang lain diluar, tidak bisa sekarang, nanti saja saat waktu kosong."

"Setelah dua menit, jika kau belum jelaskan padanya, jangan berpikir untuk balapan lagi bulan depan."

Jangan berpikir untuk balapan lagi, artinya ... Dia akan dikirim ke rumah sakit.

Jika kedua kaki diperban, tidak mungkin untuk bergerak, dan memang tidak mungkin untuk balapan.

Mata Duan Lun berkedut dan tubuhnya bergetar tanpa sadar.

Fck! Xing Bo benar-benar beracun!

Duan Lun menjambak rambutnya, ekspresinya tak berdaya.

"Oke, oke, aku akan meneleponnya sekarang, tapi kau ..."

Pihak lain langsung menutup telepon.

Duan Lun, "..."

Dua detik kemudian, Duan Lun mengumpat lagi.

- Dia tidak lagi memiliki nomor Gu Yu, bagaimana bisa meneleponnya!

Tak berdaya, Duan Lun harus memintanya lewat Shen Teng lagi.

Setelah melalui 'ribuan rintangan', Duan Lun akhirnya menelepon si kurcaci kecil.

Setelah terhubung, Duan Lun langsung bicara lebih dulu. "Dalao, Xing Bo tidak punya kekasih. Jika Xing Bo punya kekasih, berarti itu kau. Dan tentang dia dicampakkan kekasihnya, itu hanya omong kosong. Kau jangan percaya."

Di ujung telepon, mata Gu Yu berkedip, dan akhirnya mengerti arti dari apa yang Bo Shangyuan katakan di WeChat.

Gu Yu terdiam sejenak dan bertanya, "... Apa Bo Shangyuan memintamu menelepon?"

Duan Lun serius. "Ya, dalao."

"..."

Duan Lun lanjut  bertanya, "Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"

"... tidak ada."

Duan Lun tidak tenang, "Kau tidak bertanya apa dia pernah punya kekasih sebelumnya? Dan berapa banyak mantannya?"

Bo Shangyuan tinggi dan tampan, nilainya bagus, bahkan jika dia telah berhubungan dengan banyak gadis sebelumnya, Gu Yu merasa itu normal.

Gu Yu tidak berniat untuk bertanya, tetapi karena Duan Lun sendiri mengatakannya, dia mengikuti.

"Oh ... Berapa banyak mantannya?"

Duan Lun serius. "Tidak ada."

Gu Yu tertegun.

Setelahnya Duan Lun menambahkan kalimat lain. "Kau benar-benar cinta pertamanya."

Wajah Gu Yu seketika memerah setelah mendengar kalimat ini.

Cinta pertama ...

Duan tiba-tiba bertanya, "Ah yaa, hari valentine yang lalu, setelah kau pulang, apa Xing Bo melakukan sesuatu padamu?"

Duan Lun sangat transparan pada watak Bo Shangyuan.

Dia sangat kesal, dan menurut temperamennya, tidak mungkin untuk terus bertahan dan tidak melakukan apa pun.

Tetapi untuk apa yang dilakukannya, Duan Lun tidak bisa menebak.

Namun, ketika Duan Lun penasaran bagaimana Gu Yu akan menjawab, pihak lain seketika langsung menutup telepon tanpa ragu-ragu.

Duan Lun, "..."

Dia menatap ponsel, dan matanya berkedut.

Fck, apa yang disebut bukan keluarga, tidak boleh masuk, dia sekarang mengerti.

Menutup telepon tanpa mengatakan apa pun persis sama dengan Xing Bo!
.
.

Sisi lain.

Setelah menutup telepon, Gu Yu duduk di tempat tidur dan kepalanya kosong.

Tidak punya kekasih ...

Dia adalah cinta pertama ...

Memikirkan ini, Gu Yu langsung membenamkan kepalanya di selimut.

Apa yang harus dilakukan ... Wajahnya panas ... Suhunya tidak bisa turun.

Dia seperti ini sekarang, bagaimana bisa pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering.

Gu Yu melihat isi pesan masuk.

Hanya ada satu kalimat.

Sudah jelas sekarang?  ]

[ ... Hm. ]

Bo Shangyuan membalas sangat cepat.

Kemari.]

[ ... Tidak. ]

Alasan. ]

[ Aku akan pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas. ]

[ ...... ]

Ujung lain WeChat, Bo Shangyuan mendengus tidak senang.


83. Jadi karena ini kau selalu menghindar dariku? ( 16+ )

Mengapa begitu sederhana untuk memilih tempat di lantai paling atas gedung?

1. Tidak ada seorang pun.

2. Tidak bisa lari.

Jika itu di rumah, meskipun Bo Shangyuan dapat mengunci pintu, tetapi Gu Yu bisa saja mendorongnya ketika dia lengah, dan bersembunyi di kamar tidur atau ruang belajar.

Bahkan jika dia membuka pintu dengan kunci, Gu Yu bisa bersembunyi di bawah tempat tidur.

Bo Shangyuan jauh dari kesabaran sehingga dia langsung memilih tempat di lantai atas gedung.

Karena tidak ada begitu banyak kekhawatiran.

Lantai atas tidak berpenghuni, dan bahkan jika berteriak, tidak ada yang bisa mendengar.

Jika ingin bersembunyi, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Jika ingin melarikan diri, itu bahkan lebih mustahil. Karena itu perlu menunggu lift datang, setidaknya menunggu sekitar tiga menit.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain untuk Gu Yu selain tetap berdiri di tempat yang sama.

Bo Shangyuan menekannya ke dinding dan menciumnya.

Satu tangan memegang wajah Gu Yu, dan tangan lainnya langsung memegangi belakang kepalanya dengan kuat, dan tidak diizinkan untuk menolak. Kemudian, ujung lidah Bo Shangyun membuka giginya dan mengaitkan akar lidahnya untuk mulai mengisap dan melekat.

Gu Yu tampak bodoh, dan mematung. Hanya bisa membiarkan tindakan itu.
Lidahnya terus disedot hingga menjadi mati rasa dan menyakitkan.

Semakin sedikit oksigen di rongga dada, Gu Yu tidak bisa bernafas, ia membuka mulut dan ingin mengambil napas. Akibatnya, siapa sangka, Bo Shangyuan mengikuti gerakannya dan lebih memperdalam ciumannya.

Bibir dan lidah tersumbat lagi, dan Gu Yu tidak bisa bernapas dan tubuhnya menjadi lebih lemah.

Tubuhnya perlahan merosot namun Bo Shangyuan peka dan langsung memeluk pinggangnya.

Pasokan oksigen di dada menjadi semakin tipis membuat Gu Yu mendorongnya tetapi kekuatannya lemah, di mata Bo Shangyuan hanya seperti rasa geli.

Bo Shangyuan tetap menyedot bibir Gu Yu, tidak ada respon, Gu Yu merasa oksigen terakhir di dadanya hampir habis, dia dengan susah payah membuka suara. “Bo …”

Suara Gu Yu serak dan napasnya tidak stabil tampak seperti orang yang sedang birahi. Pandangan Bo Shangyuan menggelap dan tangan yang memegang bagian belakang kepalanya mengencang tanpa sadar.

Meskipun Bo Shangyuan masih belum melepaskan Gu Yu, dia memberikannya napas langsung menggunakan mulut.
Meskipun metode ini agak tidak dapat diterima, tetapi sekarang, Gu Yu tidak punya waktu untuk bergulat dengan detail yang tidak penting ini. Dia meraih jaket di dada Shangyuan dan berjinjit, menyambutnya.

Sikap Gu Yu seperti menyenangkan bagi Bo Shangyuan, raut wajahnya membaik dan tindakan berciuman secara bertahap lebih lembut.

Bo Shangyuan mencium bibir Gu Yu yang sedikit bengkak dengan lembut, menguraikan bentuk bibirnya, dan kemudian perlahan turun ke bawah …
Karena perbedaan tinggi, Bo Shangyuan harus menunduk.

Dia menundukkan kepalanya dan mencetak beberapa tanda cupang di lehernya. Setelahnya mungkin merasa bahwa Gu Yu sangat lelah, jadi satu tangannya melepas pelukan dari pinggang Gu Yu beralih memegangnya bokongnya dan langsung menggendongnya.

Merasakan tubuhnya terangkat, Gu Yu reflek memeluk leher Bo Shangyuan dengan erat, takut dia akan jatuh secara tidak sengaja.

Satu tangan Bo Shangyuan menahan bagian belakang kepala Gu Yu terus menjelajah lehernya, Gu Yu menggigit bibir, tangannya yang lemah menekan pundak Shangyuan, membiarkan tindakan itu, tubuhnya gemetar.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan akhirnya dengan enggan menjauhkan kepalanya setelah meninggalkan beberapa tanda ciuman di tulang selangka Gu Yu.
Namun tangan yang menahan belakang kepala Gu Yu meluncur turun ke leher putihnya.

Jari-jari dingin menabrak leher belakang Gu Yu yang halus dan sensitif, membuat Gu Yu gemetar, dan kepalanya jatuh dengan lembut di pundak Bo Shangyuan, dia hampir berubah menjadi genangan air.
Gu Yu terengah-engah, suaranya rendah dan serak, tergagap. “Jangan sentuh… disana… geli …”

Jari Bo shangyuan tiba-tiba berhenti.
Tetapi di detik berikutnya, jari dingin itu turun lagi, berhenti di pinggang, dan kemudian, mengangkat ujung pakaian Gu Yu, menyelinap masuk secara fleksibel.
Kulit hangatnya tiba-tiba disentuh ujung jari dingin membuat tubuh Gu Yu tersentak dan hampir jatuh dari pelukan.

Gu Yu dengan cepat menepis tangan Bo Shangyuan.

Tetapi karena dia tidak memiliki kekuatan, gerakan itu sangat ringan, tidak bisa menepisnya.

Gu Yu bersandar di telinganya dan dengan suara serak bertanya. “… Apa kau mabuk lagi?”

Pergerakan jemari Bo Shangyuan berhenti.
Gu Yu berpikir bahwa jika Bo Shangyuan sadar, dia tidak akan mungkin untuk menciumnya yang seorang lelaki. Oleh karena itu, kesan pertamanya adalah Bo Shangyuan tengah mabuk.

Lagi pula, ketika menciumnya terakhir kali, Bo Shangyuan juga mabuk.

Bo Shangyuan mengerutkan alis.

Hm? … Lagi?

Dengan kata lain, itu sudah pernah terjadi.
Gu Yu yang bersandar pada bahunya mengendus aroma tubuh Bo Shangyuan, ekspresinya agak bingung.

Aneh, tidak ada bau anggur.

Apakah itu anggur tanpa bau? Atau baunya sudah hilang?

Gu Yu merenung.

Karena dia tidak pernah minum dan tidak pernah tahu tentang anggur, dia sama sekali tidak tahu bahwa tidak ada anggur tanpa tidak bau sama sekali.

Adapun bau alkohol, sangat sulit untuk hilang. Bahkan jika sudah mandi dan menyikat gigi, setidaknya butuh satu hari penuh untuk memudar.

Gu Yu mengangkat kepalanya untuk menatap Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan juga menatap lurus padanya, matanya dalam dan gelap.
Gu Yu menatapnya sejenak.

… tidak ada yang berbicara.

Setelah menunggu sebentar dan Bo Shangyuan tidak bicara, jadi dia dengan cepat menyimpulkan.

– Bo Shangyuan mabuk.

Suasana hatinya rumit.

Gu Yu bergumam. “Kau mabuk lagi …”

Mata Bo Shangyuan semakin dalam dan lebih dalam.

… lagi.

Gu Yu tidak menyadari tatapannya, hatinya kini terasa tidak nyaman.

Dia sekali lagi disalahpahami sebagai kekasihnya.

Gu Yu menunggu kekuatannya pulih, seolah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya, dia menjauhkan jemari Shangyuan dari balik pakaiannya dan kemudian melompat turun dari gendongannya.

Karena kakinya belum sepenuhnya pulih, saat menyentuh lantai, kaki Gu Yu yang lemah reflek goyah dan siap merosot.

Bo Shangyuan tanpa sadar siap untuk menjangkau dan memegang Gu Yu, tetapi teringat sesuatu, tangannya berhenti.

Disisi lain, Gu Yu dengan cepat menangkap sudut pakaian Bo Shangyuan, tidak membiarkan bokongnya mencium lantai.
Setelah berdiri stabil, Gu Yu melihat ke belakang pada Bo Shangyuan yang tetap diam, sekali lagi mengkonfirmasikan kesimpulannya.

Bo Shangyuan mabuk.

Jika dia terjaga. Ketika Gu Yu akan jatuh, Shangyuan akan langsung bereaksi.
Memikirkan ini, suasana hati Gu Yu menjadi rumit dan sulit dipahami.

Gu Yu mendongak dan bertanya pada Bo Shangyuan. “Apa ada masalah dengan kekasihmu lagi?”

Setelahnya dia bergumam sendiri. “Oh, aku lupa, kau mabuk dan tidak bisa menjawab.”

Bo Shangyuan hanya menatapnya, diam.
Gu Yu kemudian memegang pergelangan tangannya dan berjalan perlahan menuju lift dan menekan tombol lantai tempat tinggal mereka.

Butuh beberapa menit untuk lift tiba.

Keduanya diam.

Gu Yu menatap dirinya di cermin lift, dan pikirannya melayang.

Apa Bo Shangyuan juga akan mencium orang lain saat dia mabuk?

Selama dia mabuk, dia akan mencium orang, tidak peduli siapapun itu.

Pikiran Gu Yu tanpa sadar membayangkan adegan Shangyuan mencium orang lain.
Entah kenapa, dia agak … tidak senang.
Memikirkannya, emosi Gu Yu menjadi semakin rendah.

Dia menunduk dan lemah.

Setelah beberapa saat, lift tiba.
Gu Yu mengambil pergelangan tangannya dan berjalan ke lift.

Dia menekan tombol lantai dan menunggu lift turun.

Gu Yu dalam diam memperhatikan jumlah lantai pada layar tampilan elektronik di lift.
Adegan Bo Shangyuan akan melakukannya pada orang lain berputar dalam pikirannya dan melayang.

Meskipun Gu Yu tahu bahwa Bo Shangyuan tidak akan mendengar ini, dia tidak bisa menahan diri untuk bicara. “… Jangan minum alkohol lain kali. Jika kau ingin minum, tunggu saat kekasihmu ada di sana.”

Secara alami, tidak ada respon.
Setelah Gu Yu mengatakan kalimat ini dengan hambar, dia menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dua menit kemudian, lift terbuka.

Gu Yu memegang pergelangan tangan Bo Shangyuan menuju depan pintu rumahnya. Seperti terakhir kali dia mabuk, Gu Yu mengeluarkan kunci pintu dari sakunya dan kemudian membuka pintu.

Gu Yu membawanya masuk dan menekannya duduk ke sofa ruang tamu.
Setelahnya Gu Yu berbalik ke dapur untuk membuat air madu.

– Sama seperti ketika Bo Shangyuan mabuk terakhir kali.

Bo Shangyuan melihat gerakan Gu Yu yang familier, matanya sedikit menyipit.

Jawabannya sedikit demi sedikit semakin jelas.

Mengapa Gu Yu mulai menghindar darinya setelah mabuk, mengapa dia tidak berani menatapnya, dan mengapa gelas itu tergeletak di karpet …

Ekspresi Bo Shangyuan secara bertahap menjadi semakin halus.

Gu Yu yang berdiri membelakanginya sama sekali tidak sadar.

Setelah membuat air madu dengan sangat cepat, Gu Yu membawa gelas itu dengan perlahan-lahan berjalan ke arah Bo Shangyuan.

Gu Yu menginjak karpet lembut dan berjongkok didepannya.

Dia sedikit mendekat dan menyandarkan cangkir dingin itu ke bibir Bo Shangyuan. Namun, mulut Bo Shangyuan sama sekali tidak bergerak dan tidak merespon.

Jadi, Gu Yu berbisik pelan. “Buka mulutmu …”

Bo Shangyuan perlahan mengangkat mata dan menatapnya.

Perhatian penuh Gu Yu ada pada gelas air di depannya, jadi dia tidak siap ketika Bo Shangyuan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.

Gu Yu tersentak kaget dan menatapnya.
Kemudian, Bo Shangyuan tanpa ekspresi bertanya. “Jadi karena ini kau selalu menghindar dariku?”

Ekspresi Gu Yu linglung dan tanpa sadar dia bertanya, “… Apa kau sudah sadar?”

“Aku tidak mabuk.”

Gu Yu seketika membeku dengan bodoh.
Pikirannya kosong.

Gelas ditangannya kendur dan siap jatuh, namun Bo Shangyuan dengan sigap mengambil alih.

Dua kata muncul di benak Bo Shangyuan.

– Seperti perkiraannya.

Gu Yu disisi lain benar-benar dalam kondisi lamban.

Dalam pikirannya hanya tiga kata yang tersisa.

Aku tidak mabuk…

Aku tidak mabuk…

Tidak mabuk…

Tidak

Kalimat ini terus berulang.

Setelah waktu yang lama, Gu Yu dengan ekspresi bodoh bertanya. “Itu… yang kau lakukan… apa kau sadar?”

Gu Yu tergagap dan hampir tidak bisa mengatakan kalimat lengkap.

Karena itu terlalu sulit dipercaya.

Bo Shangyuan menatapnya dengan tenang, tanpa kata-kata.

Jawabannya telah diceritakan pada Gu Yu dalam diam.

… tentu saja sadar.

Wajah Gu Yu tiba-tiba menjadi merah.
Telinganya panas dan wajahnya merah, dan dia benar-benar lupa apa yang akan dia katakan.

Dia berulang kali membuka mulut namun tidak bisa berkata apa-apa.

Bo Shangyuan memandangnya penuh minat.

Setelah mengetahui alasan Gu Yu sengaja menghindarinya. Suasana hatinya yang telah lama suram seketika hilang dan berubah bahagia.

Bo Shangyuan masih memegang pergelangan tangan Gu Yu, dengan sabar menunggu dia berbicara.

Gu Yu membuka mulut beberapa kali, dan akhirnya berkata. “Itu … kau, kenapa, kenapa kau menciumku?”

“Menurutmu?”

Melihat Gu Yu yang tidak mengerti, Bo Shangyuan melanjutkan. “Menurutmu, kenapa aku memberimu kelas tambahan, membiarkanmu tinggal di rumahku, membeli makanan ringan untukmu, dan menghabiskan uang untuk membelikanmu pakaian … dan kenapa hanya padamu?”

Gu Yu mematung.

Dia kemudian bertanya. “Ke-kenapa …”
Bo Shangyuan menarik pergelangan tangan Gu Yu untuk mendekat.

Detik berikutnya, Bo Shangyuan menahan bagian belakang kepala Gu Yu dan menciumnya.

Setelah ciuman, Bo Shangyuan menggigit pelan bibir bawahnya, lalu melepaskannya.
Dia menatap Gu Yu yang tampak bodoh, “Kau pikir sendiri.”

Gu Yu tiba-tiba lemah dan merosot terduduk di karpet lembut, mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirnya yang sudah bengkak.

Otaknya benar-benar tidak mampu berpikir sekarang.

Pada saat ini, Bo Shangyuan tiba-tiba teringat sesuatu.

Suatu hal yang membuatnya tidak senang sejak lama.

Dia bertanya dengan tanpa ekspresi. “… Apa kau ada sesuatu dengan Jiang Zhenshan?”

Gu Yu mendongak.

Karena otaknya benar-benar kehilangan kemampuan untuk berpikir, dia tidak mengerti apa yang baru saja Shangyuan tanyakan.

Bo Shangyuan ulangi pertanyaan yang sama.

Gu Yu berkedip sejenak, “… tidak ada apa-apa.”

“Apa yang kau lakukan di rumahnya?”

Gu Yu tidak mau berpikir. “Aku membuat …”

Sadar sesuatu, dia dengan cepat menutup mulutnya.

Tetapi situasi saat ini tidak lagi seperti masa lalu, selama Gu Yu tidak mau mengatakan, Shangyuan tidak akan mendesak.

Dia kali ini turun dari sofa dan datang ke depan Gu Yu, lalu mengangkat dagunya.
Jari-jari putih ramping perlahan berayun di dagu Gu Yu, membelai, dan mencubitnya.
Kelopak matanya rendah, suaranya magnetis dan rendah. “Tidak jawab, aku cium.”

Benar saja, seperti yang sudah lama ditunggu-tunggu, wajah Gu Yu tiba-tiba semakin memerah dari sebelumnya.
Tubuh Gu Yu terkejut, dan alam bawah sadar segera bergerak mundur.

Reaksi Gu Yu sama sekali tidak terduga. Dia menatapnya dengan tenang. “Bilang atau tidak.”

Gu Yu sedikit mengeluh lewat pandangan, dan kemudian patuh menjawab. “… membuat kelas.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan mengangkat alisnya, sedikit terkejut.

“Dia memberimu kelas tambahan?”

“Tidak … aku yang memberikannya.”

“Dia mencarimu?”

“Hm.”

“Kenapa tidak mencari orang lain.”

“… Dia tidak nyaman dengan orang asing.”

Bo Shangyuan mengamati ekspresi wajah Gu Yu sejenak.

Gu Yu menyusutkan tubuhnya.

Melihat Gu Yu tidak berbohong, Bo Shangyuan akhirnya mengembalikan penglihatannya.

“… Kalian punya janji untuk valentine hari ini?”

Entah kenapa Gu Yu mendengar makna berbahaya dalam kalimat pendek ini.
Dia balas berbisik. “Tidak … Kami hanya membeli alat tulis dan bahan pelengkap.”

Shangyuan bertanya retorik. “Membeli alat tulis dan bahan pelengkap pada Hari Valentine?”

Suara Gu Yu tiba-tiba menjadi rendah. “Kami baru tahu hari ini adalah Hari Valentine setelah pergi keluar.”

Bo Shangyuan mengamatinya sejenak.
Gu Yu menahan napas dan tidak berani bergerak.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan menarik garis pandang, berkata dingin. “Kau tidak boleh lagi membuat kelas.”

“Tidak, tidak bisa!”

Tanpa diduga, Gu Yu tidak setuju membuat Bo Shangyuan menatapnya tidak senang.

Melihat itu, Gu Yu berkata lemah. “Aku sudah, sudah … berjanji padanya.”

Bo Shangyuan acuh tak acuh dan tidak responsif.

Gu Yu menyusutkan tubuhnya, dan mengeluh pelan. “Festival Musim semi hanya lebih dari seminggu, aku hanya akan membuat kelas beberapa hari lagi…”

Bo Shangyuan menatap Gu Yu tanpa berkedip.

Gu Yu menunduk dan menarik-narik bulu karpet di kakinya.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan bergumam sebagai kompromi.

Dia mendongak melihat waktu yang sudah lewat jam delapan malam.

Dia kembali fokus pada Gu Yu, bertanya samar, “Pulang atau tidur di sini.”

“Pulang!”

82. Semoga beruntung

Gu Yu berpikir bahwa ketika membuat kelas, dia tidak akan bisa membuat Jiang Zhenshan mengerti.

Namun pada kenyataannya, apa yang dia khawatirkan tidak terjadi sama sekali.

Jiang Zhenshan sangat cerdas. Dia bisa langsung mengerti dalam satu kali penjelasan, tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Dalam hal ini, Gu Yu menghela nafas lega, akhirnya dia merasa tenang.

Pada minggu pertama liburan musim dingin, Gu Yu hampir selalu pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Gu Yu tiba pada jam 9 setiap pagi dan sampai 11:30, dia akan pulang untuk makan.

Setelah makan siang dan istirahat sejenak, dia naik bus dan kembali ke rumah Jiang Zhenshan.

Waktu untuk mengisi kembali kelas di sore hari dimulai pukul dua dan berakhir setengah delapan malam.

Total waktunya delapan jam. Ini sama dengan waktu kelas tambahan di luar sekolah.

Meskipun butuh delapan jam sehari, tampaknya ada banyak waktu yang tersisa, tetapi karena dibutuhkan satu jam untuk bolak-balik dengan bus, secara umum, Gu Yu menghabiskan sekitar sepuluh jam sehari.

Selain itu, dia harus menyiapkan pelajaran setiap malam, jadi pada dasarnya, Gu Yu menghabiskan sepanjang hari untuk kelas tambahan.

Meski sedikit lelah, Gu Yu merasa sangat bermanfaat.
.
.

Gu Yu keluar lebih awal dan pulang terlambat setiap hari dan itu sangat rutin, membuat kedua orangtuanya menyadari ada sesuatu yang salah.

Jadi pada siang hari, ketika Gu Yu siap untuk meninggalkan rumah, ayah Gu menghentikannya dan kemudian bertanya. "Kau mau pergi kemana?"

Gu Yu tampak tenang. "... Pergi ke teman sekelas untuk menulis pekerjaan rumah."

Ayah Gu tidak mengerti. "Kau bisa menulis di rumah, kenapa harus pergi ke teman sekelas?"

Gu Yu tertegun sejenak. "Setelah tulis pekerjaan rumah, kami bermain game."

Ayah Gu menyadari ini.

"Oh ... Begitu. Pergilah."

Gu Yu diam-diam menghela nafas lalu pergi.
.
.

Tiga hari kemudian.

Boxing Family Hall bawah tanah.

Bo Shangyuan sedang beradu tinju di atas ring.

Suasana hatinya sedang tidak baik, jadi hampir setiap pukulan menggunakan kekuatan penuh.

Lawan tinjunya juga kuat dan kokoh. Namun, tidak bisa menghindari pukulan Bo Shangyuan.

Baru bermain selama sepuluh menit, petinju itu tidak bisa bertahan lagi dan berteriak untuk berhenti.

Namun Bo Shangyuan benar-benar acuh tak acuh.

Lima menit kemudian, hidung dan wajah petinju itu bengkak.

Setelah petinju itu diseret ke bawah, tidak ada yang berani naik ke atas ring.

Petinju peraih medali emas dari gym tinju ini bahkan babak belur menghadapi Bo Shangyuan, bagaimana dengan mereka.

- Jika tidak ingin mati sebaiknya jangan maju.

Tidak ada yang berani naik ke ring lagi, Bo Shangyuan mendengus lalu melepas sarung tangannya.

Dia turun dan menuangkan segelas air dingin ke wajahnya.

Melihat Bo Shangyuan sudah turun, mereka yang tadi diam segera melompat ke atas ring tinju tanpa ragu, dengan penuh semangat menggosok tangan, siap untuk mencari lawan tinju.

Duan Lun mencebik melihat pemandangan di depannya.

Teringat sesuatu, dia menoleh pada Bo Shangyuan. "Beberapa hari lagi hari valentine. Apa Bo kami yang tampan punya rencana?"

Hari ini 10 Februari, dan ada empat hari lagi adalah hari valentine.

Duan Lun sangat ingin tahu bagaimana Xing Bo melewatkan hari itu.

Bo shangyuan hanya mendelik dingin.

Duan Lun mengangkat bahu dan mengubah topik pembicaraan. "Tidak, maksudku ... Bagaimana hubungan kalian berdua? Masih belum baik?"

Bo Shangyuan tidak merespon.

Duan Lun mengangkat alisnya, "Apa kau butuh bantuanku?"

"Enyahlah!"

Duan Lun mencibir, "Ck, lupakan saja."

Bo Shangyuan berbalik dan pergi.

Duan Lun bingung dan bertanya. "Xing Bo, kau mau kemana?"

... tidak ada jawaban.

Bo Shangyuan tidak keluar gym tinju, tetapi pergi ke sudut di mana tidak ada seorang pun.

Menenangkan diri.

Perasaannya sedang kesal.

Sejak Gu Yu pulang ke rumah, jarak antara keduanya menjadi semakin jauh.

Pada awalnya, mereka masih bisa pulang bersama, tetapi kemudian, jangankan pulang, mereka bahkan tidak bisa mengobrol.

Sekarang bahkan lebih buruk, Gu Yu bahkan tidak membalas pesan.

Pada awalnya, Bo Shangyuan berpikir si pembohong kecil diam-diam memikirkan sesuatu, dan dia tidak bisa memikirkannya untuk sementara waktu, jadi dia membuka jarak dan berpikir untuk menjauh darinya.

Tetapi sekarang, dia akhirnya menemukan alasan sebenarnya.

Itu karena Jiang Zhenshan.

Karena Gu Yu suka dengan gadis itu dan ingin tetap dengannya setiap hari, dia tidak ingin terus menyia-nyiakan waktu untuknya.

Memikirkan hal ini, perasaan Bo Shangyuan semakin kesal.

Dia sebelumnya khawatir akan menakuti pembohong kecil jadi dia menahan diri.

Mereka baru SMA, masa depan masih panjang dan dia punya cukup waktu untuk maju langkah demi langkah membuat si pembohong kecil menyadari perasaannya.

Namun, belum sampai ke tengah jalan, si pembohong kecil sudah pindah ke yang lain.

Dan dengan kejam dan dingin tidak lagi mempedulikannya.

Semakin memikirkannya, suasana hatinya semakin buruk.

Ini bahkan lebih buruk daripada dua tahun setelah Li Shuhui membawa anak haramnya masuk ke rumah utama Bo.

Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Gu Yu.

Secara alami, tidak ada jawaban.

- Seperti sebelumnya.

Bo Shangyuan tidak bisa menahan diri. Dia langsung melakukan panggilan.

Telepon berdering sebentar sebelum akhirnya terhubung.

Bo Shangyuan langsung ke inti. "Dimana."

Gu Yu tertegun. Dia balas dengan pelan. "... Dirumah Jiang Zhenshan."

Suara Bo Shangyuan sangat dingin. "Apa yang kau lakukan di rumahnya."

Gu Yu diam.

Pada saat bersamaan, Jiang Zhenshan yang berada diluar ruang belajar berteriak keras. "Gu Yu, ibuku baru saja membuatkan kita roti kukus. Apa kau ingin keluar dan makan?"

Karena Gu Yu sopan dan pintar, ibu Jiang sangat menyukainya. Selama dia punya waktu, dia akan membuatkan mereka cemilan.

Pada awalnya, Gu Yu terlalu malu dan selalu menolak. Tetapi setelah beberapa kali, perlahan, dia tidak terlalu malu lagi.

Gu Yu berbalik dan segera menjawab, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke telepon.

Gu Yu takut Bo Shangyuan akan menanyakan sesuatu yang tidak bisa dia atasi jadi dengan cepat berkata. "... Aku akan makan roti. Kalau ada sesuatu, bicara saja lain kali."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon.

Tut tut tut...

Bo Shangyuan terdiam.
.
.

Empat hari berlalu dengan cepat.

Pada hari ini, Gu Yu dan Jiang Zhenshan tidak membuat kelas di rumah, tetapi mereka pergi keluar.

Karena kertas konsep dan tinta pena habis, keduanya pergi membeli kertas dan pena. Lalu pergi ke toko buku untuk melihat apakah ada bahan tambahan yang bagus.

Mungkin karena belum pernah berbicara tentang cinta, keduanya tidak sensitif terhadap Hari Valentine, Festival Qixi, dll.

Ketika mereka membuat janji pada tanggal 14 untuk pergi membeli alat tulis, mereka tidak menyadari bahwa hari ini adalah Hari Valentine.

Sampai ketika keduanya melihat banyak pasangan yang penuh kasih di jalan, mereka baru sadar.

Melihat itu, wajah Jiang Zhenshan sedikit merah, cukup malu.

"Aku tidak tahu kalau hari ini adalah Hari Valentine ..."

Gu Yu dengan tenang merespon. "Aku juga tidak tahu."

Dia tidak merasa apapun jadi biasa saja.

Laki-laki dan perempuan berbelanja bersama hari ini, meskipun mereka tahu bahwa hubungan antara keduanya hanyalah teman sekelas, di mata orang lain, itu tidak terlihat seperti hubungan teman sekelas yang biasa.

Memikirkan hal ini, Jiang Zhenshan merasa sedikit malu, tetapi setelah melihat penampilan Gu Yu yang luar biasa tenang, dia kemudian berubah tenang.

Setelahnya Jiang Zhenshan memikirkan sesuatu, dia berbisik, "Apa kau tidak ingin kembali?"

Gu Yu bingung, "?"

"Bukankah ini hari valentine?"

"... Terus?"

Meskipun Jiang Zhenshan tidak berbicara tentang cinta, dia masih bisa memahami maksud hari ini.

Dia berkedip polos dan berkata, "Bukankah di Hari Valentine kau seharusnya bersama gadis yang kau suka?"

Gu Yu diam sejenak.

"... Aku tidak punya gadis yang aku suka."

Tetapi kalau laki-laki, mungkin ada.

Tetapi hal ini benar-benar mustahil untuk dikatakan.

"Oh begitu."

Gu Yu diam.

Setelah itu, Jiang Zhenshan bertanya lagi. "Kalau saat SMP?"

"Tidak ada."

Jiang Zhenshan mengerti lalu balas tersenyum dan berkata. "... Aku juga tidak ada."

Setelah itu, dia menurunkan volume suaranya. Takut pada orang lain untuk mendengar, dia mengecek sekitar lalu dengan pelan berkata pada Gu Yu. "Sebenarnya, aku pikir sebagian besar laki-laki di kelas kita sangat berisik dan masih sangat naif. Tidak ada yang bisa disukai sama sekali. Ah ... Tentu saja, kecuali kau!"

Disaat bersamaan, sebuah mobil sport yang melintas tiba-tiba rem mendadak.

Mobil sport itu menepi lalu jendelanya diturunkan.

Sosok yang duduk dibangku belakang itu memandang situasi didepannya dengan wajah sangat sulit dipercaya.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku, mengambil foto, dan mengirimkannya kepada seseorang.

Dia menambahkan kata-kata.

Bukan photoshop, kalau palsu, aku bersedia mati atas nama seluruh keluarga. ]

Sosok itu mengangkat dagunya dan memberi isyarat kepada sopirnya di depan untuk mendekat.

Melihat sebuah mobil sport berhenti didekatnya, Gu Yu tampak tidak mengerti.

Disaat bersamaan, kaca jendela diturunkan dan wajah Duan Lun yang familier muncul di depan matanya.

Melihat Duan Lun, Gu Yu bahkan semakin tidak mengerti.

Duan Lun dengan santai menopang di bingkai jendela dan memandang Gu Yu. "Mau pergi kemana kurcaci kecil?"

Meskipun bertanya Gu Yu, mata Duan Lun menyapu Jiang Zhenshan di belakangnya.

Dia mengerutkan kening.

Duan Lun benar-benar tidak bisa paham. Xing Bo yang tinggi dan tampan begitu baik bisa kalah dari gadis biasa.

Sementara disisi lain, meskipun Jiang Zhenshan tahu Duan Lun yang juga terkenal di SMA Chengnan tetapi karena mereka tidak pernah berinteraksi, jadi di matanya, Duan Lun mirip dengan orang asing.

Karena itu, dia reflek bersembunyi dibelakang Gu Yu.

Gu Yu sadar namun tidak berpikir apa-apa, tetapi di mata Duan Lun, maknanya sangat berbeda.

Duan Lun berkedip memandang keduanya.

Gu Yu merespon. "Pergi ke toko alat tulis."

"Oh." Duan Lun kemudian bertanya. "Kalian berdua?"

"Hm."

Duan Lun menarik sudut mulutnya. "Setelah pergi ke toko alat tulis?"

Gu Yu dengan tenang membalas. "Pergi ke toko buku."

Duan Lun mengerti, dan kemudian dia berkata. "Pergi bersama, tampaknya hubungan kalian cukup baik."

Gu Yu tidak banyak berpikir, dia hanya bergumam mengiyakan.

Duan Lun masih berniat untuk menanyakan sesuatu, tetapi kali ini, ponselnya berdering.

Duan Lun melihat nama yang tertera dan mengangkat alisnya.

Reaksi pertama Duan Lun bukanlah menjawab telepon, tetapi menatap Gu Yu di sisi jalan.

Sudut bibirnya melengkung, dan perlahan berkata, "Aku masih punya urusan, aku pergi dulu."

Lalu dengan tersenyum cerah menambahkan. "Semoga beruntung."

Gu Yu, "?"

Beruntung apa?

Duan Lun tidak berbicara lagi, menutup jendela lalu dengan semangat memberi isyarat sopir untuk menjalankan mobil.

Setelah sedikit lebih lama, Duan Lun menjawab telepon. "Kurcaci kecil dan kekasihnya benar-benar romantis. Hari ini mereka pergi bersama ke toko alat tulis dan toko buku. Aku pikir mereka mungkin akan makan malam."

Orang diujung telepon tidak berbicara.

Duan Lun sudah menduga itu, dan terus berkata perlahan, "Ketika aku berbicara dengan kurcaci kecil, kekasihnya itu bersembunyi dibelakangnya. Adegan itu, ckck ...begitu intim."

Orang di ujung telepon masih diam.

Setelahnya Duan Lun dengan antusias bertanya. "Menurutmu, apa mereka akan berciuman hari ini?"

Telepon langsung dimatikan sepihak.

Mendengar panggilan terputus, Duan Lun mengangkat sebelah alisnya, merasa senang.
.
.

Malam.

Gu Yu pada awalnya berencana untuk membeli kertas dan pena isi ulang dengan Jiang Zhenshan, dan kemudian ke toko buku lalu kembali ke rumah Jiang Zhenshan untuk lanjut membuat kelas. Tetapi dia tidak menyangka bahwa setelah mengunjungi toko buku, sudah jam lima sore.

Tidak mungkin, dia harus pulang.

Karena toko buku agak jauh dari komunitas, sudah lebih dari jam enam sore ketika Gu Yu akhirnya dapat kembali ke rumah.

Langit di atas kepala semakin gelap, Gu Yu berjalan pulang, merasa lelah.

Dia tidak ingin lagi pergi berbelanja dengan perempuan...

Hanya membeli beberapa notebook dan pena isi ulang, tetapi karena penutup notebook, ketebalan isi ulang dan warnanya berbeda, Jiang Zhenshan memilih hampir satu jam.

Setelah tiba di toko buku, dia bahkan lebih rumit.

Dia merasa semuanya bagus dan ingin membelinya.

Pada akhirnya, jika bukan karena waktu sudah sedikit terlambat, Gu Yu pikir gadis itu akan terus berjuang.

Gu Yu dengan lelah melangkah ke dalam lift.

Dia bersandar di lift dan menunggu lantai naik perlahan.

Dua menit kemudian, lift mencapai lantai tujuh belas.

Pintu lift berbunyi, Gu Yu berdiri tegak dan bersiap mengangkat kakinya untuk keluar.

Tepat ketika berjalan keluar, tiba-tiba pergelangan tangannya dicegat seseorang diluar, belum sempat melihat, Gu Yu langsung diseret kembali ke dalam lift.

Orang itu berdiri dibelakangnya, menekan tombol tutup dan tombol lantai atas.

Gu Yu yang sudah lelah ditambah mengalami adegan aneh ini tidak bisa menahan diri untuk berbalik dan marah. Namun dia kemudian tertegun.

Semua kemarahan menghilang dalam sekejap, menghilang tanpa jejak.

Gu Yu menatap Bo Shangyuan dan mengajukan pertanyaan. "... Kenapa kita pergi ke lantai atas?"

Bo Shangyuan dengan wajah dingin, tidak merespon.

Gu Yu berpikir suaranya terlalu kecil, sehingga Shangyuan tidak mendengarnya jadi dia mengulanginya lagi dengan volume keras.

Namun Bo Shangyuan masih belum merespon.

Entah bagaimana, Gu Yu tiba-tiba merasakan firasat buruk.
.
.

Lift dengan cepat berhenti dilantai atas.

Bo Shangyuan meraih pergelangan tangan Gu Yu dan menyeretnya keluar dari lift.

Gu Yu ingin mengatakan dia bisa berjalan sendiri, tetapi melihat wajah Bo Shangyuan yang gelap dan tidak baik membuatnya mengurungkan niat.

Bo Shangyuan tidak membawanya jauh, sekitar dua atau tiga langkah, dia berhenti.

Ketika mereka berhenti, Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan siap untuk berbicara, tetapi detik berikutnya, Bo Shangyuan menekannya ke dinding dan langsung menciumnya.

Gu Yu seketika membeku.

81. Bagaimana kau tahu?

… Ujian akhir tiga hari berakhir.

Karena kertas ujian tidak dapat dikoreksi dengan begitu cepat, sekolah memberikan cuti dua hari setelah ujian.

Setelah liburan dua hari, tiba saatnya mengumumkan hasil secara resmi.

Pagi ini, Shen Teng duduk diam dibangkunya, sudah bisa memperkirakan nilai. Sementara Jin Shilong takut untuk melihat nilainya turun, memikirkan tidak bisa lagi membeli komik gadis membuat putus asa dan memilih tetap duduk, diam.

Lain halnya dengan Jiang Zhenshan yang ingin melihat nilainya, tetapi dia tidak berani melihat sendiri.

Untuk itu, dia bertanya pada Gu Yu. “Apa kau mau pergi melihat nilai bersama?”

Gu Yu tidak khawatir tentang nilainya jadi dia setuju. Keduanya meninggalkan ruang kelas dan pergi ke papan buletin.

Seperti diperkirakan semua orang, nama yang tertulis di bagian atas papan buletin masih Bo Shangyuan.

Namanya sangat mencolok dan menarik perhatian.

Melihat itu, Gu Yu tidak terkejut. Dia dengan tenang mengalihkan matanya ke kelas E.

Namanya berada di tempat pertama dengan 582 poin.

Bahkan lebih tinggi dari tempat pertama di kelas D.

Jiang Zhenshan merasa sangat iri. Setelah melihat nilainya sendiri, dia tertekan. “Nilaiku turun…”

Dia kemudian bertanya pada Gu Yu. “Kapan kita mulai membuat kelas?”

Gu Yu berpikir sejenak. “… Besok?”

Setelah hasil ujian akhir diumumkan hari ini, guru akan mengatur tugas untuk liburan musim dingin nanti.

Setelah itu, maka, tentu saja hari libur.

Menurut akal sehat, secara umum, kebanyakan orang akan berpikir untuk bermain. Namun, karena Gu Yu tidak bisa memikirkan apa pun untuk dimainkan selama liburan musim dingin, ia merasa bahwa lebih baik pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Jiang Zhenshan tidak menyangka Gu Yu akan mengatakan besok, jadi dia tidak bisa menahan diri untuk mengangguk senang. “Oke.”

Gu Yu mematah jari-jarinya, menghitung, lalu bertanya, “Apa besok pagi pukul sembilan?”

Gu Yu memeriksa di Internet, dan para guru tutor di luar sekolah biasanya mulai jam 9:00 pagi.

Jiang Zhenshan tidak keberatan dan mengangguk lagi. “Oke ~”

Setelah itu, dia tiba-tiba teringat sesuatu. “… Apa aku harus menyiapkan sesuatu?”

Gu Yu mengerutkan kening, ekspresinya rumit. “Aku tidak tahu apa yang harus dipersiapkan. Lihat saja nanti.”

“Oke ~”

Keduanya berbicara tentang rincian pelajaran untuk dibuat besok sambil berjalan ke arah kelas. Ketika kembali duduk, Jiang Zhenshan berkata. “… Berarti besok sesuai kesepakatan.”

Gu Yu mengangguk. “Hm.”

Shen Teng secara tidak sengaja mendengar, mau tak mau penasaran untuk bertanya. “Ada apa?”

Gu Yu seolah tidak mendengar dan Jiang Zhenshan tersenyum malu, tidak menjawab.

Shen Teng, “????”

Tidak lama kemudian guru kelas masuk sambil membawa pekerjaan rumah liburan musim dingin dan berdiri di podium.

“Hasil kalian telah keluar, semuanya ada di papan buletin, jadi aku tidak akan mengatakan lebih banyak. Ini hanya beberapa tugas liburan musim dingin, dan beberapa dari guru matematika, dia akan membawanya untuk dibagikan.”

Mendengar itu, orang di kelas mengeluh pada saat yang sama.

Yang di podium saja sudah banyak, tidak disangka ada tambahan lagi. Kejam!

Tidak lama, guru matematika masuk ke kelas dengan tumpukan tugas liburan musim dingin lalu menaruhnya dimeja podium.

Dia menatap dingin ke arah orang-orang yang hadir. “Siapa yang tidak puas, berdiri dan katakan padaku.”

Para siswa terdiam dalam sekejap, tidak ada yang berani berbicara.
.
.

Setengah jam kemudian, para siswa dengan ekspresi pahit menatap tumpukan tugas dimeja masing-masing.

Guru matematika bertepuk tangan dan berkata ringan. “Hm, ada begitu banyak tugas untuk liburan musim dingin.”

Para siswa yang hadir terdiam.

Dia tersenyum dan menambahkan kalimat khusus. “Jika ada yang berani untuk tidak mengerjakannya atau tidak menyelesaikannya … Aku akan membuat kalian terlihat baik.”

Semua siswa masih diam.

Ketika guru matematika melihat tidak ada yang menjawab, dia segera menepuk meja dan berkata, “Apa kalian mendengarnya!”

Para siswa yang hadir terkejut dan dengan cepat menjawab. “Dengar!”

Guru matematika puas dan melenggang pergi.

Begitu guru matematika itu pergi, guru kelas kembali ke podium.

Guru kelas mengatakan beberapa hal tentang liburan musim dingin dan waktu pendaftaran semester berikutnya. Dia akhirnya berkata, “Oke, kalian bisa pulang.”

Semua orang bersorak dan dengan senang berdiri dari bangku.

Akhirnya, dapatkan liburan!

Shen Teng juga senang.

Dia berbalik berkata pada Gu Yu. “Xiao Yu Yu, ayo pergi ke rumahku untuk bermain game.”

Ketika memikirkan level yang tertahan sudah hampir setengah bulan akhirnya akan bisa dilewati, Shen Teng sangat bersemangat.

“Tidak pergi.”

Gu Yu ingin langsung pulang untuk mempersiapkan pelajaran untuk besok. Tidak ada waktu untuk pergi ke rumah Shen Teng untuk memainkan permainan apa pun.

Mendengar itu, semangat Shen Teng hilang begitu saja.

“Kenapa …”

Gu Yu dengan kejam membalas. “Tidak ada waktu.”

“Oh …”

Disisi lain, Jiang Zhenshan menahan tawa.
.
.

Lantai dua.

Kelas A.

Sama seperti kelas E, setelah guru di podium mengumumkan untuk pulang, orang-orang di Kelas A juga dengan senang hati bersorak.

Namun, dalam sorakan yang memekakkan telinga ini, Shangyuan duduk tanpa ekspresi, sejak awal acuh tak acuh.

Duan Lun diam-diam mengintip ke arahnya dan kemudian menatap langit, pura-pura tidak melihat apa-apa.
.
.

Gu Yu yang baru saja pulang ke rumah dihentikan oleh ayah Gu dan ibu Gu yang duduk di ruang tamu.

Gu Yu dengan bingung berjalan mendekat. “… Apa ada sesuatu?”

Ayah Gu bertanya, “Sangat sulit mendapat hari libur, apa kau ingin kita pergi liburan?”

Gu Yu berkedip, tidak bicara.

Ayah Gu tersenyum dan menjelaskan. “Selama bertahun-tahun, kita sepertinya tidak pernah keluar untuk liburan bersama …”

Karena ayah Gu menemukan bahwa dia terlalu tidak kompeten, ayah Gu ingin menebus Gu Yu sepanjang waktu.

Karena itu, ketika Gu Yu belum pulang, kedua orangtua itu telah mendiskusikannya. Selama bertahun-tahun, keluarga mereka tampaknya belum pernah bepergian sebelumnya.

Jadi, ayah Gu pikir, manfaatkan liburan musim dingin ini untuk bepergian dan bersantai.

Meskipun pada awalnya, ibu Gu sangat menentang dan tidak setuju, tetapi setelah kata-kata sentimental dan masuk akal ayah Gu, ibu Gu pun setuju.

Ketika sebuah keluarga keluar untuk liburan, tentu saja akan menghabiskan banyak uang, tetapi karena itu bisa membuat anak bahagia, itu tidak masalah.

Ayah Gu berpikir begitu.

Tapi Gu Yu menolak tanpa ragu-ragu.

Dia menjilat bibirnya dan balas berbisik, “Aku tidak mau pergi.”

Ayah Gu berpikir bahwa Gu Yu enggan menghabiskan uang jadi dia meyakinkan. “Jangan khawatir tentang uang …”

Gu Yu memotong “… Ada banyak tugas untuk liburan musim dingin.”

Ayah Gu melihat tumpukan PR liburan musim dingin ditangan Gu Yu.

Ekspresi ayah Gu agak menyesal. “… Kalau begitu lain kali saja.”

Gu Yu bergumam lalu ke kamar tidur.

Dia duduk di mejanya dan mulai bersiap untuk ‘persiapan’.

Karena takut diganggu oleh notifikasi WeChat, ataupun Shen Teng, Gu Yu secara khusus mematikan ponsel, dan kemudian mulai berkonsentrasi untuk mempersiapkan pelajaran.

Pada saat bersamaan.

Bo Shangyuan mengirim pesan…

Namun, belum ada tanggapan.
.
.

Karena Gu Yu tidak pernah memberikan pelajaran untuk orang lain, dia mempersiapkannya sepanjang hari.

Saat itu hampir jam dua pagi, dan dia akhirnya menyiapkan isi kursus perbaikan tiga hari.

Dan karena baru tidur jam dua pagi, ketika bangun pagi berikutnya, Gu Yu masih lelah.

Rumah Jiang Zhenshan jauh dari rumahnya, jadi dia harus bangun lebih awal.

Pada jam 8 pagi, Gu Yu dengan masih mengantuk dan lelah bangkit dan bersiap.

Gu Yu menghabiskan sepuluh menit untuk mencuci muka, mengambil pekerjaan rumah dan bahan-bahan yang disiapkan kemarin, mengenakan sepatu lalu pergi ke rumah Jiang Zhenshan.

Namun, ketika dia membuka pintu rumah, Bo Shangyuan tengah bersandar di depan pintu, meliriknya tanpa ekspresi.

“Mau kemana?”

“… Teman sekelas.”

“Teman sekelas yang mana?”

Gu Yu ragu-ragu.

Shangyuan mengamatinya. “Jiang Zhenshan?”

Gu Yu tertegun. “Bagaimana kau tahu?”

Bo Shangyuan tidak menjawab. Dia melihat buku pelajaran dan tugas dipelukan Gu Yu dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di rumahnya.”

Gu Yu diam.

Karena terlalu sulit untuk dikatakan.

Dengan prestasinya dia akan pergi untuk memberi pelajaran pada orang lain.

Jika Bo Shangyuan adalah siswa biasa di kelas F, dia bisa saja bicara jujur.

Tetapi Bo Shangyuan adalah siswa top dari kelas A yang selalu peringkat satu seangkatan.

Ini alasan kedua.

Alasan paling utama adalah jika bukan karena Bo Shangyuan yang membantunya selama beberapa bulan, prestasinya tidak akan sebaik seperti sekarang.

Melihat Gu Yu yang tidak menjawab, Shangyuan berubah dingin. “Tidak mau bilang? Jangan pikir kau bisa pergi.”

Gu Yu seketika mengangkat kepalanya.

Dia ingin protes, tetapi setelah melihat wajah dingin Bo Shangyuan, suaranya seketika melemah. “… Aku sudah membuat janji dengannya.”

Bo Shangyuan dengan acuh tak acuh bertanya retorik. “Kapan? tentang apa?”

Gu Yu terdiam.
.
.

Waktu perlahan berlalu.

Keduanya berdiri di tempat yang sama dan menemui jalan buntu.

Gu Yu tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, jadi dia semakin cemas.

Gu Yu takut waktu telah lewat jam sembilan dan Jiang Zhenshan akan berpikir dia berubah pikiran.

Gu Yu ingin pergi tapi Bo Shangyuan langsung menghalangi jalan.

Dia tidak bisa menahan diri lagi, “… Kenapa kau ingin tahu?”

“Hanya ingin tahu.”

Gu Yu seketika tidak tahu harus berkata apa.

Setelahnya dia memikirkan alasan yang sempurna.

“… Aku pergi ke rumahnya untuk bermain.”

“Kau pikir aku akan percaya?”

“…”

– tidak

Pada saat ini, Gu Yu tiba-tiba melihat sesuatu.

Dia berteriak, “Ibu.”

Bo Shangyuan yang sudah tertipu oleh trik yang dia gunakan terakhir kali, jadi kali ini, dia tidak akan mempercayainya.

Tanpa diduga, detik berikutnya, suara ibu Gu benar-benar terdengar dari belakang Bo Shangyuan.

Ibu Gu yang melihat Bo Shangyuan, terkejut. “Bukankah ini Bo Shangyuan? Kalian mengobrol di sini? Kenapa tidak masuk ke rumah?”

Mendengar itu, Bo Shangyuan berbalik.

Ibu Gu tengah menenteng dua tas plastik bahan makanan dan memandang keduanya dengan terkejut.

Meskipun terakhir kali karena urusan Li Shuhui, ibu Gu merasa sedikit rasa malu ketika melihatnya. Tetapi setelah Gu Yu pulang, perasaan itu perlahan menghilang.

“Halo bibi.”

Ibu Gu tertawa kecil dan berkata dengan antusias. “Kau masih sopan.”

Setelah itu, Ibu Gu berkata dengan hangat, “Jangan berdiri di luar, masuk kedalam dan bicara. Belum makan sarapan? Bibi akan menyiapkannya untukmu …”

Gu Yu membuka suara. “Bu, aku akan pergi ke teman sekelas untuk menulis pekerjaan rumah.”

Setelahnya dia langsung melarikan diri.

Bo Shangyuan menatap kepergiannya dengan suram.

Ibu Gu bingung melihat sosok Gu Yu yang sudah menghilang. “Kalau menulis pekerjaan rumah bisa dikerjakan di rumah. Kenapa harus pergi ke teman sekelas?”

Ibu Gu memalingkan matanya kembali ke Bo Shangyuan.

“Apa kau sudah sarapan? Jika belum makan, apa kau ingin datang ke rumah bibi …”

Bo Shangyuan langsung memotong. “Tidak, terima kasih Bibi.”

Dia melanjutkan dengan suara dingin, “Aku masih punya urusan, aku akan kembali ke rumah lebih dulu.” Setelah itu, dia berbalik masuk kerumahnya.

Ibu Gu hanya bisa menghela nafas.

Hah… Kapan anaknya bisa tumbuh setinggi Bo Shangyuan?
.
.

Sisi lain.

Karena takut terlambat, Gu Yu tidak naik bus dan langsung pergi dengan taksi.

Lingkungan tempat tinggal Jiang Zhenshan luas, bahkan jika Gu Yu naik taksi, dia tetap turun di luar komunitas, dan berlari dengan cepat.

Meskipun begitu, dia masih terlambat sepuluh menit.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.

Pintu dengan cepat dibuka dari dalam.

Gu Yu bersiap untuk minta maaf, tetapi Jiang Zhenshan dengan wajah menangis menyambutnya lebih dulu. “Gu Yu, kau akhirnya datang, aku pikir kau tidak akan datang …”

“… maaf, terlambat.”

Jiang Zhenshan membiarkannya masuk ke rumah. “Tidak masalah, silahkan masuk.”

Setelah memasuki rumah, Jiang Zhenshan bertanya, “Apa kita pergi ke ruang belajar atau ke kamarku?”

“… Ruang belajar.”

“Oke.”

Setelah keduanya memasuki ruang belajar, Gu Yu meletakkan bahan persiapan dan pekerjaan rumah di tangannya. “Aku membuat pelajaran untuk pertama kalinya. Mungkin tidak terlalu baik…”

Jiang Zhenshan merespon dengan mata berbinar. “Tidak masalah, yang penting kau bisa membuatku mengerti.”

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan mulai secara resmi membuat kelas.


80. Apa kau ingin datang ke rumah dan memberiku pelajaran?

Setelah makan, Gu Yu kembali ke kamar untuk mengecek tempat di kota S bagi siswa untuk mengambil bagian dalam kerja paruh waktu selama liburan musim dingin.

Setelah mengetik di kotak pencarian di halaman ponsel, N postingan langsung muncul.

Tentang pekerjaan paruh waktu liburan untuk siswa di kota XX, siswa yang terjebak bekerja paruh waktu di liburan musim dingin, novel entri baru 1000 kata 30 yuan … dan seterusnya.

Semuanya ada di sana, namun tidak ada kota S.

Gu Yu agak kecewa.

Disaat dia hendak keluar dari halaman web, sebuah pop up pesan tiba-tiba muncul.

|Layanan pelanggan Zhengda| 12:23:56

Apakah Anda mencari pekerjaan paruh waktu? ]

Gu Yu tertegun sejenak lalu membalas ya.

12:25:23 [ Kami memiliki pekerjaan paruh waktu di sini, apakah Anda tertarik? ]

12:26:44 [ Ini sangat mudah, cukup ketik di rumah. ]

|Pengguna tidak terdaftar|12:26:58

[ Butuh komputer? ]

12:27:10 [ Ya, Anda membutuhkan komputer. Pekerjaan paruh waktu kami adalah petugas entri novel, yang membantu penulis untuk memasukkan tulisan ke komputer, 1000 kata 20 yuan. Jika Anda memasukkan 5.000 kata sehari, itu adalah 100 yuan dan sepuluh hari adalah seribu buah. Namun, kami membebankan biaya rahasia di muka, karena naskah penulis adalah file pribadi, tidak dapat dibocorkan, jadi Anda harus terlebih dahulu membayar 500 yuan biaya kerahasiaan, dan akan kembali kepada Anda setelah selesainya entri … ]

Pihak lain mengirim ‘kontrak’ secara langsung tanpa menunggu respon Gu Yu.

Gu Yu melihat isi kotak dialog, itu sangat menghangatkan hati.

Namun sayangnya, tidak ada komputer di kamarnya.

Karena ibu Gu takut dia kecanduan game jadi tidak membelikan komputer untuknya.

12:27:51 [ Aku tidak punya komputer di rumah. ]

12:28:03 [ Apakah ada pekerjaan paruh waktu lainnya? ]

Setelah Gu Yu mengeluarkan dua pesan ini, pihak lain terdiam sesaat.

12:28:23 [ Anda dapat pergi ke Computer City untuk membelinya. ]

12:28:30 [ Ibuku tidak akan membelikannya untukku. ]

12:28:36 [ Oh. ]

12:28:47 [ Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. ]

Gu Yu ingin bertanya apakah dia dapat menggunakan ponselnya, tetapi pihak lain telah left the chat.

Gu Yu bingung.

Jadi harus masuk lewat komputer?

Tetapi bagaimana jika dia tidak memiliki komputer di rumah?

Selain itu, situasi keluarganya baru-baru ini tidak baik, dan tidak mungkin membeli komputer.

Memikirkan hal ini, Gu Yu sedikit frustrasi mengubur kepalanya di selimut.

Karena pekerjaan paruh waktu, Gu Yu tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal tentang Bo Shangyuan.

Pada saat ini, sebuah pesan WeChat tiba-tiba muncul.

HEHEHE [ Sial ahhh!! Ayah memainkan bos selama satu jam, dan akhirnya membakar bos hanya dengan sedikit darah, dan hasilnya tidak diperhatikan, jatuh ke tebing dan mati!! ]

Setelah pesan WeChat Shen Teng yang putus asa muncul, ponsel berdering dua kali.

Ini masih prompt pesan WeChat.

Itu pasti pesan dari Jin Shilong dan Jiang Zhenshan.

Meskipun Gu Yu tidak sering berbicara dalam grup, ia tidak membisukan notifikasinya.

Karena kadang-kadang ketika dia tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan, dia juga akan melihat catatan obrolan dalam grup dan melihat apa yang mereka bicarakan.

Ketika memikirkan grup itu, mata Gu Yu bersinar dan tiba-tiba teringat sesuatu.

Ya, tanyakan kepada mereka dan lihat apakah mereka tahu di mana harus bekerja paruh waktu.

Gu Yu dengan cepat bangkit dari bawah selimut dan mengetik pesan.

[ Aku ingin bertanya pada kalian. ]

HEHEHE [ Xiao Yu Yu ingin bertanya apa? ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Apa yang ingin kau tanyakan? ]

(= ∩ω∩ =) [ Apa ini terkait dengan pembelajaran? ]

[ Itu… ]

[ Apa kalian tahu di mana ada lowongan kerja paruh waktu? ]

Tiga orang itu tertegun.

HEHEHE [ Paruh waktu???? ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Gu Yu, apa kau ingin bekerja paruh waktu? ]

(= ∩ω∩ =) [ Benar… ]

[ Hm. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja paruh waktu? ]

[ Bukankah aku menghabiskan banyak uang Bo Shangyuan sebelumnya? ]

Ketiganya tiba-tiba sadar.

HEHEHE [ Jadi kau harus membayar kembali uangnya? ]

HEHEHE [ Bo Shangyuan sangat kaya, dia pasti tidak keberatan menghabiskan untukmu. Jangan bayar kembali. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Meskipun aku pikir begitu, tidak apa untuk membayar kembali. ]

HEHEHE [ Kenapa? ]

Xiao Jin Jin Lucu [ protagonis wanita dalam komik gadis, umumnya hanya menghabiskan uang protagonis pria, mereka pasti akan berpikir tentang pergi bekerja untuk mendapatkan uang, dan membayar kembali pada pria itu. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Lalu, ketika sampai pada pekerjaan paruh waktu, wanita itu pasti akan bertemu pria itu. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Protagonis pria tahu bahwa si wanita bekerja untuk membayar kembali uangnya, dan kemudian dia akan memperhatikan si wanita dan mulai ada perasaan baik yang tumbuh. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Setelah itu, si pria akan sering pergi ke tempat wanita itu bekerja, dan menggodanya. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Ketika melihat tamu lain kadang menggoda si wanita, si pria akan cemburu dan marah … ]

Jin Shilong bicara tanpa henti, dan semakin bersemangat.

Sementara Shen Teng yang selalu cerewet dalam grup seketika hening.

Adapun Gu Yu, dia juga mengikuti keheningan.

… Entah berapa lama.

Jin Shilong bicara sendirian dalam grup sebelum akhirnya kembali ke topik.

Xiao Jin Jin Lucu [ Aku tidak tahu di mana ada pekerjaan paruh waktu. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Apa kau sudah bertanya pada orang lain? ]

Meskipun sudah diduga, tetapi ketika melihat jawaban ini, Gu Yu masih tidak bisa menahan diri untuk kecewa.

Dia kemudian memikirkan sesuatu.

Gu Yu bukan tipe yang suka menyusahkan orang lain, jadi ketika dia pikir dia harus menyusahkan orang lain. Dia menjilat bibirnya dan ragu-ragu sebentar.

Namun, memikirkan ratusan ribu yuan, Gu Yu membulatkan tekad.

[ Oh Ya, apa kau punya komputer cadangan? Bisa tidak pinjamkan padaku selama liburan musim dingin? ]

Setelah itu, Gu Yu mengirim isi percakapan yang ditawarkan tadi.

Tapi tiba-tiba …

Xiao Jin Jin Lucu [ Ini tipuan! ]

[ Ah? Tipuan? ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Ya, ada pekerjaan juru ketik khusus dalam kenyataan. Hanya dibayar 10 yuan per 10.000 kata. Ini malah 20 yuan per 1000 kata jelas tipuan. ]

Tanpa diduga, itu ternyata tipuan membuat Gu Yu terdiam lama.

Untungnya, ibunya tidak membelikannya komputer …

Gu Yu memutuskan untuk memikirkan metode lain.

Dia sebaiknya pergi sendiri ke toko untuk bertanya lowongan.

Pada saat ini, Jiang Zhenshan tiba-tiba mengirim pesan.

Tidak dikirim dalam grup, tetapi dikirim 1:1.

Apa kau di sana? ]

[ ? ]

Ah … itu, apakah kau benar-benar ingin mencari pekerjaan paruh waktu? ]

[ … Ya. ]

[ Apa kau tahu di mana bisa bekerja paruh waktu? ]

Ah, aku tidak tahu. ]

Aku hanya ingin bertanya, apa kau ingin datang kerumah dan memberiku pelajaran? ]

Tidak gratis, seperti paruh waktu, tidak ada perbedaan. ]

Gu Yu tertegun.

Jiang Zhenshan takut Gu Yu salah paham jadi memberi penjelasan.

Aku ingin memberi tahumu sebelumnya untuk membuat kelas untukku tapi aku belum punya alasan yang baik. Jadi aku tidak pernah bilang... ]

Karena tahu kau mencari pekerjaan paruh waktu, aku hanya berpikir untuk mengatakannya saja… ]

Meski sangat menghangatkan hati, tetapi Gu Yu menolak.

[ Terima kasih, tetapi masih belum bisa. ]

[ Nilaiku tidak cukup baik, dan belum bisa mengajari orang lain. ]

Jika nilainya tidak biasa seperti Bo Shangyuan yang setiap kali selalu peringkat satu seangkatan, maka ia pasti akan setuju tanpa ragu-ragu.

Tapi Gu Yu merasa nilainya tidak cukup baik.

Nilainya saat ini bahkan tidak bisa masuk kelas A. Jika dia membuat pelajaran untuk orang lain, bukankah itu kesalahan?

Jiang Zhenshan tidak terkejut karena sudah memperkirakan jawaban ini.

Oleh karena itu, dia memikirkan cara untuk membujuknya.

Tetapi bukankah bahasa dan sejarahmu sangat baik? ]

Kau tidak harus mengajari semua subjek, kau hanya perlu mengisi dua subjek ini untukku. ]

Para guru tutor diluar kelas juga hanya mengajari satu atau dua mata pelajaran, mereka tidak membuat semuanya. ]

Gu Yu merasa emotional feeling saat menyadari bahasa dan sejarahnya sangat bagus.

Dibandingkan dengan mata pelajaran lain.

Untuk mata pelajaran lain, Gu Yu akan dikurangkan setidaknya selusin poin untuk setiap ujian. Tetapi dua mata pelajaran ini dikurangkan sangat sedikit.

Terutama di bagian bahasa, kecuali untuk membaca pertanyaan dan esai, ada beberapa poin di tempat lain.

Gu Yu menggosok bibirnya dan tampak sedikit ragu.

[ Aku akan memikirkannya. ]

Oke! ]

Menunggu kabar baik darimu! ]
.
.

Gu Yu memikirkannya selama tiga hari.

Karena Gu Yu tidak pernah membuat kelas untuk orang lain jadi dia sangat ragu-ragu.

… Bagaimana cara dia bisa membuat pelajaran untuk orang lain?

Seperti Bo Shangyuan, dia akan menuntutnya dengan topik pertanyaan sepanjang hari, membelikan wusan dan Huanggang, dan jika Gu Yu salah, dia akan menyuruhnya salin dua puluh kali.

Dia laki-laki, jika menyalin dua puluh kali, itu tidak masalah, tapi Jiang Zhenshan perempuan, menyuruhnya menyalin seratus kali dalam sehari, bukankah itu keterlaluan?

Terlebih lagi, bagaimana jika tidak ada pengaruh dalam membuat kelas?

Pikiran Gu Yu rumit selama tiga hari.

Karena hal ini, dia bahkan meninggalkan semua hal tentang Bo Shangyuan.

Terkadang, karena dia terlalu banyak berpikir, dia bahkan lupa untuk menghindar.

Ketika dia berada di kelas, Bo Shangyuan dan Duan Lun menyusuri lantai satu dan lewat di jendelanya namun Gu Yu tidak memperhatikan keberadaannya.

Untuk keanehan Gu Yu, jelas tidak mungkin luput dari pengamatan tajam Bo Shangyuan.

Akibatnya, suasana hatinya seketika menjadi lebih buruk.

Pada hari keempat setelah tiga hari berpikir, pada sore hari di kelas pertama, Gu Yu akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia bertanya pada Jiang Zhenshan. “Ada begitu banyak siswa terbaik di Kelas A, kenapa kau tidak meminta mereka untuk memberimu kelas tambahan?”

Jiang Zhenshan meremas sudut pakaian dan berkata dengan pelan. “… Aku tidak punya banyak teman. Jika seseorang yang tidak aku kenal memberiku kelas tambahan, aku tidak akan terbiasa dengan hal itu.”

Gu Yu hanya menyadari ini.

Dia ragu-ragu sejenak.

“Jika ujian akhir ini, nilai sejarah dan bahasaku tidak buruk … Aku akan memberimu kelas tambahan.”

Mata Jiang Zhenshan berbinar. “Terima kasih!”

“Sama-sama.”
.
.

Dalam sekejap mata, ujian akhir tiba sesuai jadwal.

Sehari sebelum ujian akhir, ketiga orang teman Gu Yu gelisah.

Shen Teng benar-benar takut akan ujian seperti biasanya.

Jin Shilong takut dia tidak menguji dengan baik. Orangtuanya tidak akan memberinya uang saku. Jika tidak ada uang saku, dia tidak bisa membeli komik gadis terbaru.

Jiang Zhenshan takut nilainya akan turun lagi.

Tes bulanan bulan lalu, kinerjanya turun tajam, untuk alasan ini, ibunya menceramahinya untuk waktu yang lama.

Jika hasil ujian akhir ini lebih buruk daripada hasil ujian bulanan terakhir, dia tidak bisa membayangkan seperti apa reaksi ibunya.

Disisi lain, entah bagaimana, Gu Yu tidak khawatir sama sekali.

Jika bukan karena berkat kelas yang diberikan Bo shangyuan, dia mungkin akan gugup seperti ketiganya.

Memikirkan Bo Shangyuan, Gu Yu sedikit tertegun.

Ngomong-ngomong, dia sepertinya sudah lama tidak berbicara dengannya …

Entah kenapa, suasana hatinya tiba-tiba tertekan.

Tapi kemudian, dia dengan cepat menghidupkan kembali semangatnya.

Besok ujian, ia harus berkonsentrasi meninjau, dan tidak boleh memikirkan kekacauan ini.

Setelah memikirkannya, Gu Yu dengan paksa menyingkirkan pikiran-pikiran berantakan ini dari benaknya, lalu menundukkan kepalanya dan mulai berkonsentrasi untuk meninjau.
.
.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara waktu ujian akhir dan ujian bulanan.

Pagi berikutnya, Gu Yu bangun jam 6:30, lalu berangkat jam 7:30, lalu tiba di sekolah jam 8:00.

Setelah tiba di sekolah, dia mengulas setengah jam pertama sebelum bel masuk.

Subjek pertama masih bahasa.

Untuk bahasa, Gu Yu santai.

Tapi Jiang Zhenshan rumit.

Dia melihat pertanyaan-pertanyaan bacaan di atas kertas ujian dan hanya merasa pusing.

Mengapa penulis menulis ini, apa metafora yang diungkapkan oleh penulis … Bagaimana dia bisa tahu.

Ada juga pertanyaan esai yang bahkan lebih sulit baginya.

Judul pertanyaan esai adalah untuk melihat gambar dan kemudian menuliskan kesan.

Tapi Jiang Zhenshan tidak bisa merasakan apa-apa.

Dia menatap subjek dan kepalanya kosong.

Dia terus memikirkan jawaban namun akhirnya tertekan di atas meja.

… bahasa sangat sulit.

Hanya satu subjek di pagi hari, dari 8:30 hingga 11:30.

Pada pukul 11:30, bel berbunyi, dan pengawas di podium segera memerintahkan semua orang untuk meletakkan pena dan meninggalkan ruang ujian.

Gu Yu sudah menulis semua pertanyaan, jadi dia tidak panik sama sekali.

Dia dengan tenang meninggalkan ruang kelas.

Disisi lain Jiang Zhenshan belum selesai dan terus berusaha mengisi pertanyaan, tetapi pengawas dengan dingin tidak memberikan waktu, langsung mengambil kertas ujian di mejanya.

Jiang Zhenshan rasanya ingin menangis. Dia dengan pasrah mengemas perlengkapannya diatas meja dan meninggalkan ruang ujian dengan yang lain.

Dia keluar kelas dan melihat Gu Yu yang belum jauh. “… Gu Yu!”

Gu Yu berhenti dan berbalik.

Jiang Zhenshan menghampirinya sambil kotak pensil dan kertas draft. Dia menundukkan kepalanya, lalu berbisik, “Apa kita bisa langsung memulai kelas saat hari libur tiba?”

Gu Yu tertegun, tidak menanggapi untuk sementara waktu.

Jiang Zhenshan sangat tertekan. “Banyak yang belum aku belum jawab, kali ini nilaiku pasti turun lagi…”

Gu Yu mengerti dan tiba-tiba teringat sesuatu.

“Apakah ibumu tahu tentang membuat kelas?”

Jiang Zhenshan mengangguk. “Ya, dan ibuku setuju.”

Dia lanjut berkata. “Seandainya skor bahasaku bisa bagus sepertimu …”

Gu Yu dengan tenang berkata. “Sebenarnya, bahasa sangat sederhana, selama kau menemukan metode yang tepat …”

Keduanya mengobrol sambil meninggalkan gedung sekolah.

Karena keduanya bukan tipe yang terburu-buru, mereka berjalan dengan perlahan.

Adegan itu, jika orang lain tidak tahu, mungkin berpikir bahwa keduanya adalah pasangan kekasih.

Tidak jauh dari sana, Duan Lun tanpa sadar melirik Bo Shangyuan, dan kemudian memandang ke langit tanpa suara.

… Di saat melihat Xing Bo, pastinya selalu tidak dalam mood yang baik.


79. Pembohong kecil berbohong lagi

Pada saat ini, kelas E.

Bel kelas sudah berdering beberapa waktu tapi Gu Yu belum kembali ke kelas.

Guru matematika di podium merasa aneh, bertanya pada teman satu mejanya. “Di mana Gu Yu, kenapa dia belun kembali ke ruang kelas?”

Jiang Zhenshan juga merasa sedikit aneh. Dia perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. “… Aku tidak tahu guru.”

Guru di podium mengerutkan kening, dan ekspresinya sangat bingung.

Ini adalah pertama kalinya Gu Yu terlambat untuk waktu yang lama.

Guru matematika beralih bertanya kepada seluruh siswa di kelas.

“Siapa yang tahu ke mana dia pergi?”

Para siswa di bawah podium menggelengkan kepala.

Teman satu mejanya saja tidak tahu, bagaimana mereka bisa tahu.

Guru matematika menjadi lebih bingung.

Dia beralih memegang buku teks di satu tangan dan kapur di tangan yang lain, berbalik dan menulis di papan tulis sambil berkata, “Buka halaman 273 di buku kalian …”

Di bawah podium, Jiang Zhenshan menyelinap mengeluarkan ponsel dan dengan cepat mengetikkan kata pada keyboard ponsel untuk mengirim pesan ke Gu Yu.

Kenapa kau belum kembali ke kelas? ]

Apa yang terjadi? ]

Guru baru saja menanyakanmu. ]

Pihak lain tidak menjawab.

Jiang Zhenshan bingung.

Karena Gu Yu jarang tidak membalas pesan.

… Apa yang terjadi dengan Gu Yu?

Sisi lain.

Pesan masuk WeChat tiba-tiba terdengar di saku Gu Yu, dia reflek menunduk.

Tapi dia lupa seperti apa situasinya sekarang.

Shangyuan dengan tidak senang langsung menangkap dagunya, mempertahankan wajahnya agar tetap menghadap kedepan.

Gu Yu ingin menyiapkan sesuatu untuk dikatakan, tetapi setelah melihat wajah Bo Shangyuan yang tidak bahagia, dia diam-diam menelan kata-kata yang belum diucapkan.

Gu Yu menutup mulutnya dan berdiri diam, tidak lagi bergerak.

Melihat itu, raut wajah Shangyuan telah sedikit mereda.

Dia perlahan melonggarkan tangan yang menekuk dagu Gu Yu.

Jari-jarinya meluncur turun dengan lembut dan menjelajahi saku Gu Yu, mengeluarkan ponsel.

Sementara Gu Yu menghela nafas lega, kini bisa lebih banyak bersantai.

Bukan hanya itu, tetapi suhu yang terus meningkat di wajahnya tampak perlahan-lahan turun.

Gu Yu berpikir bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan diponselnya, jadi dia tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Isi pesan teksnya hanya dari Bo Shangyuan, dan tidak ada foto yang menarik, juga hanya ada beberapa teman di WeChat-nya.

Adapun pesan masuk WeChat tadi, Gu Yu mungkin bisa menebak apa isinya.

Jika tidak salah, itu pasti dari Shen Teng atau Jiang Zhenshan yang mengiriminya pesan dan bertanya alasan belum kembali ke kelas.

Tapi perlahan, Gu Yu tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang salah.

Tunggu sebentar.

– Riwayat obrolan dalam grup masih ada.

Ya, setelah malam itu, keesokan harinya pada hari minggu, ia mengobrol dengan ketiga temannya digrup.

Semua masih ada, tidak terhapus sama sekali.

Bo Shangyuan sangat cerdas.

Meskipun dia lupa apa yang terjadi pada sabtu malam, jika dia melihat catatan obrolan, dia bisa langsung menyadari apa yang terjadi pada malam itu.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah, jika dia melihat riwayat obrolan itu, dia akan segera tahu tentang perihal Gu Yu yang mungkin menyukainya.

Saat memikirkan ini, wajah Gu Yu seketika pucat.

Dia mungkin menyukainya tapi siapa tahu Bo Shangyuan tidak.

Tentu saja tidak.

Setelah menyadari bahwa riwayat obrolan dalam grup WeChat belum dihapus, Gu Yu segera mulai berjuang dan ingin meraih ponsel, tetapi Shangyuan langsung menangkap pergelangan tangannya dan menekannya ke dinding.

Shangyuan menatapnya dengan tanpa ekspresi dan bertanya dingin, “Kau tidak ingin membiarkanku melihat?”

Gu Yu menjilat bibirnya dan kemudian berbohong dengan tenang. “… tidak.”

Bibir Shangyuan bergerak ke atas. Jelas tidak mempercayainya.

Dia memasukkan kata sandi dan membuka kunci ponsel.

Gu Yu yang terjebak hanya bisa pasrah melihat aplikasi WeChat terbuka layar ponsel.

Ada empat kolom pesan di beranda WeChat.

Salah satunya adalah Tencent News, satu adalah nomor publik dari Sekolah Menengah Chengnan, satu Jiang Zhenshan dan yang terakhir adalah grup empat orang yang dibuat Jin Shilong ‘Kami tidak suka belajar‘.

Mata Shangyuan melewati nomor publik Tencent News dan Chengnan High School, dan akhirnya jatuh pada grup dan Jiang Zhenshan.

Jantung Gu Yu berdetak kencang, rasanya hampir siap untuk melompat keluar.

Gu Yu tegang, lima jarinya tergenggam, dan telapak tangannya yang gugup berkeringat.

Merasakan situasi Gu Yu, Shangyuan beralih mengamatinya sejenak sebelum pandangannya kembali ke WeChat.

“… Apa yang kau takutkan?”

Gu Yu terus berbohong. “… Tidak takut.”

Shangyuan menebak bahwa Gu Yu tidak akan pernah mengatakan yang sebenarnya, jadi dia tidak lagi menggubrisnya dan mulai membuka riwayat obrolan grup empat orang itu.

Gu Yu semakin pucat.

Jari-jari Gu Yu dingin, matanya gelap.

Dia belum berani memikirkan seperti apa ekspresi Shangyuan nantinya.

Atau, mata seperti apa yang digunakan untuk melihatnya.

… jijik?  … tidak suka?  … sulit dipercaya?

Tepat ketika hati Gu Yu bergetar dan memikirkan hal ini, pada saat ini, jari Shangyuan tiba-tiba berhenti.

Shangyuan mengerutkan alis melihat catatan obrolan dalam grup.

Karena di grup Gu Yu tidak sering mengobrol, jadi isi obrolan pada dasarnya hanya tiga orang lainnya mengobrol bersama.

Ketiganya membanjiri kotak obrolan tanpa henti. Terkadang, Shen Teng bahkan dapat mengobrol dengan Jin Shilong dan Jiang Zhenshan di grup selama satu hari penuh.

Bo Shangyuan terus menggulir sampai lima menit berikutnya, dia hanya bisa melihat Shen Teng mengobrol tentang omong kosong dengan dua lainnya, dan untuk Gu Yu, pada dasarnya tidak ada.

Akibatnya, Bo Shangyuan telah kehilangan minat dalam grup ini.

Dia langsung keluar dari grup.

Setelah melihatnya, Gu Yu diam-diam menghela nafas lega.

Pandangan Shangyuan beralih pada nama akun dengan emoji kucing.

“Siapa.”

“… Jiang Zhenshan.”

Gu Yu diam-diam menatap Bo Shangyuan menyeret akun gadis itu ke dalam daftar hitam.

Setelahnya Wajah Bo Shangyuan tampak jauh lebih baik.

Dia kembali menaruh ponsel ke saku Gu Yu, dan kemudian jari-jari putihnya yang panjang kembali bermain dengan wajah Gu Yu.

Tindakan Bo Shangyuan yang dengan senang lanjut menyentuh dan mencubit-cubit wajahnya, membuat suhu wajah Gu Yu seketika memerah lagi.

Untungnya, ini musim dingin, jadi wajahnya yang merah hanya akan dianggap beku.

Gu Yu sekali lagi hanya bisa pasrah karena tidak berdaya, namun setelah beberapa saat dia tidak bisa menahan diri.

Dia mengeluh dengan pelan. “Kau suka menyentuh wajah, kenapa tidak sentuh dirimu sendiri.”

Shangyuan merespon terus terang.  “Aku hanya suka menyentuhmu.”

Mendengar itu, Gu Yu menahan napas.

Jika sebelumnya dia biasa saja, kali ini sangat berbeda.

Sejak Gu Yu menemukan bahwa dia mungkin suka Shangyuan, meskipun jika itu adalah tindakan yang sangat sederhana, itu bisa membuatnya sensitif.

Jadi, apalagi mendengar ucapannya tadi.

Wajah Gu Yu semakin memerah.

Gu Yu merasa bahwa dia tidak bisa tetap lebih lama lagi di sini.

Jika tidak, dia bisa saja akan ketahuan lebih dulu tanpa bisa menghindar.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan tiba-tiba mendapat ide.

Dia melihat ke arah belakang Shangyuan dan berteriak. “… Halo guru.”

Benar saja, seperti yang diharapkan Gu Yu, Shangyuan sedikit terkejut dan menoleh kebelakang.

Gu Yu mengambil keuntungan saat ini dan segera mendorong Shangyuan lalu melarikan diri.

Gu Yu berlari kencang seakan ada sesuatu yang mengerikan di belakangnya.

Ini mungkin lari tercepatnya selama hidup 16 tahun.

Setelah menyadari tidak ada guru yang lewat, Shangyuan langsung bereaksi.

Pembohong kecil berbohong lagi.

Dia melihat kepergian Gu Yu yang berlari, lalu mengusak rambutnya.

… Ck.

Gu Yu terengah-engah kembali ke kelas E dan akhirnya berhenti di pintu ruang kelas.

Keduanya tadi berada di suatu tempat yang tidak begitu jauh dari gedung pengajaran, tetapi karena Gu Yu takut Shangyuan menyusulnya jadi dia terus berlari sepanjang jalan, tidak berani berhenti.

Ketika berhenti di pintu ruang kelas, Gu Yu merasa kakinya mati rasa.

Guru matematika di kelas melihat kedatangannya, mengerutkan kening. “Gu Yu, bagaimana situasimu saat ini, bisa kau jelaskan pada guru?”

Gu Yu tersentak sedikit, berdiri tegak, dan berkata dengan ekspresi alami. “… Aku sakit perut dan pergi ke toilet.”

Dia berbohong ataupun tidak, ekspresinya tetap sama.

Karena itu, guru matematika langsung percaya.

“Jika kau merasa tidak nyaman lain kali, ingatlah untuk meminta cuti terlebih dahulu pada guru. Jangan sampai guru tidak tahu apa yang terjadi.”

Gu Yu menunduk dan meminta maaf.

Guru matematika itu melambaikan tangannya. “Oke, kali ini, kau bisa masuk.”

Gu Yu menundukkan kepalanya dan berkata terima kasih lalu mengangkat kakinya ke ruang kelas.

Untuk kebohongan Gu Yu, tidak hanya guru matematika, tetapi Jiang Zhenshan juga percaya.

Ketika Gu Yu duduk, dia berbisik. “Apa perutmu masih sakit sekarang? Jika tidak nyaman, aku punya obat perut di sini.”

Karena pencernaan Jiang Zhenshan tidak baik, dia selalu menyiapkan satu set obat perut ke sekolah.

“… Tidak, terima kasih. Sudah membaik.”

Setelah itu, Gu Yu berbaring di atas meja.

Ah…

Wajahnya panas.
.
.

Sisi lain.

Bo Shangyuan berdiri di pintu kelas A dan meneriakkan laporan. Guru di podium melihatnya baru kembali, mengerutkan kening dan bertanya. “Apa yang kau lakukan, bagaimana bisa baru kembali sekarang?”

“Ada sesuatu.”

Guru di kelas tertegun sejenak.

Sikap Bo Shangyuan yang semena-mena sudah membuat para Guru kelas A terbiasa.

Guru di kelas dengan tidak berdaya melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk langsung masuk ke ruang kelas.

“Lain kali lebih perhatikan.”

Shangyuan berjalan ke ruang kelas, lalu duduk tanpa ekspresi.

Begitu dia duduk, Duan Lun yang duduk di belakangnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Bagaimana situasinya?”

Shangyuan tidak merespon.
.
.

Dalam sekejap mata, hanya ada satu minggu tersisa dalam ujian akhir untuk paruh pertama sekolah menengah.

Ujian akhir akan segera datang, menurut akal sehat, keluarga pada umumnya akan membuat makanan yang lezat untuk anak-anak, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi untuk meninjau dan mempersiapkan ujian.

Namun, karena keluarga Gu telah kehabisan ratusan ribu yuan, jadi hampir sampai ujian akhir mereka masih tidak bisa makan enak.

Setiap kali makan, hidangan diatas meja semuanya adalah hidangan vegetarian.

Melihat hari ujian akan segera tiba, mereka hanya bisa makan kubis rebus dan roti kukus sepanjang hari membuat ekspresi ibu Gu sangat frustasi.

“Setiap hari hanya menu vegetarian, orang-orang yang memungut makanan di pinggir jalan lebih baik daripada kita.”

Gu Yu duduk di samping, menundukkan kepala, dan mengunyah makanannya, diam.

Ayah Gu merespon. “Apanya yang lebih baik daripada apa yang kita makan. Mereka itu makan makanan sisa di restoran. Jika kau iri, kau ikut cara mereka saja.”

Ibu Gu tidak berbicara.

Ayah Gu juga tidak mengatakan apa-apa lagi jadi adegan itu hening untuk sementara waktu.

Setelah beberapa saat, Gu Yu tiba-tiba meletakkan sumpit.

“… Aku ingin kerja paruh waktu selama liburan musim dingin.”

Kedua orangtuanya terkejut sejenak.

Ayah Gu kemudian dengan bingung merespon. “Bagaimana bisa tiba-tiba berpikir tentang kerja paruh waktu?”

Suara Gu Yu sangat rendah. “… Bukankah keluarga kita mengalami situasi sulit.”

Keduanya tiba-tiba sadar.

Reaksi pertama ayah Gu adalah diam-diam melirik ibu Gu.

Lihatlah apa yang baru saja kau katakan.

Sekarang anak itu ingin pergi bekerja paruh waktu.

Setelahnya ayah Gu buru-buru berkata. “Yang tadi itu hanya bercanda, bagaimana kau menganggapnya serius?”

Ibu Gu juga dengan cepat berkata. “Ya, ibu hanya bercanda. Ibu tidak ingin makan terlalu banyak minyak baru-baru ini, jadi selalu memasak hidangan vegetarian …”

Ayah Gu menambahkan. “Keluarga kita masih punya uang, ibumu tidak mau membeli daging karena ingin menurunkan berat badan. Jangan khawatir tentang hal-hal di rumah, belajarlah dengan giat.”

Ibu Gu kembali berkata, “Kau masih sangat muda, kami tidak ingin kau pergi ke luar untuk bekerja. Selain itu, berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dengan bekerja paruh waktu? Bagaimanapun liburan musim dingin ini kau pergunakan untuk bermain di rumah dan belajar. Kalau tidak, kau bisa pergi ke teman sekelas lain untuk bermain, jangan khawatir tentang uang …”

Kedua orang tuanya dengan penuh perasaan untuk meyakinkan Gu Yu.

Namun, mereka tidak tahu, begitu Gu Yu memutuskan hal-hal tertentu, tidak peduli apa kata orang luar, dia tidak akan goyah.


78. If You Can't Tell the Truth, Don't Think About Going Back to Class

Guru pendidikan jasmani belum tiba, semua orang berdiri di lapangan, menunggu.

Gu Yu berdiri dengan gelisah.

Karena Shangyuan, tidak jauh di samping.

Selama Gu Yu menoleh, dia akan bisa melihat Shangyuan berdiri tanpa ekspresi di kerumunan Kelas A. Shangyuan hanya berdiri di sana, tidak melakukan apa-apa, tetapi figurnya yang paling menonjol.

Gu Yu tidak berani melihatnya.

Belakangan ini dia terus menghindar hanya untuk membiarkan dirinya melupakan malam itu, dan juga membiarkan suasana hatinya tenang.

Namun … Saat ini adegan malam itu masih tidak dapat dihindari dan mulai berangsur-angsur muncul dalam pikirannya.

Karena siswa lelaki di kelas membicarakan Shangyuan.

Dalam beberapa hari terakhir, wajah Bo Shangyuan menjadi semakin jelek dan ini membuat mereka penasaran.

Mereka berkumpul dan mulai membahas.

“Wajah Bo Shangyuan baru-baru ini tampaknya semakin tidak baik.”

“Fck, bukankah itu benar-benar karena kekasihnya?”

“Secantik apa sih gadis itu sampai membuat Bo Shangyuan gagal move on?”

“Yang pasti lebih cantik daripada bunga kelas F.”

Mereka terus mengobrol dan entah bagaimana tiba-tiba beralih ke topik ciuman.

“Menurut kalian, apa Bo Shangyuan masih menjaga ciuman pertamanya?”

“Seharusnya sih tidak lagi.”

“Aku pikir masih. Bukankah Bo Shangyuan itu bersih? Menurut wataknya, aku berpikir dia akan memberikan ciuman pertamanya saat menikah.”

“Ada juga kemungkinan ini.”

“Kalau begitu apa kau masih menjaganya?”

“… Fck, baba masih lajang selama 16 tahun, kau pikir bibirku sudah tidak suci?”

Gu Yu yang tidak jauh mendengarkan ini, dan beberapa adegan yang segera dilupakan, kini tiba-tiba muncul dari benaknya.

Gu Yu tampak kaku dan merasa suhu di wajahnya semakin panas.

Shen Teng yang melihat wajahnya, bertanya. “Apa yang terjadi?”

Ekspresi Gu Yu tenang, “Ini agak panas.”

Shen Teng mengerutkan kening, menatap langit musim dingin.

… Panas???
.
.

Karena itu musim dingin dan cuacanya agak dingin, maka guru pendidikan jasmani membiarkan mereka berlari beberapa putaran dilapangan lalu setelahnya bebas bermain sendiri.

Gu Yu tidak berani dekat dengan Bo Shangyuan, jadi ketika orang lain di kelas sedang berlari dan melompat dengan ceria, dia duduk diam di tiang bendera, menunggu bel kelas selanjutnya.

Gu Yu takut Shangyuan akan memperhatikannya jadi sambil memeluk kakinya, dia menyusutkan diri diantara keramaian, untuk mengurangi eksistensi.

Dia takut Shangyuan akan datang mendekat.

Takut Shangyuan akan bertanya tentang alasan dia mengindar akhir-akhir ini.

Gu Yu jelas tahu tentang temperamen Shangyuan.

Jika Shangyuan tidak bisa menahan diri lagi, 100% dia akan datang dan menuntut jawaban.

Tapi tanpa diduga … tidak.

Apa yang ditakutkan Gu Yu tidak terjadi.

Gu Yu duduk sampai kelas berakhir, Bo Shangyuan tidak datang menemuinya.

Ini seharusnya menjadi hal yang membahagiakan.

Tetapi entah bagaimana, Gu Yu tidak senang.

Hatinya terasa ada yang hilang.

Ditanya mengapa, Gu Yu tidak mengerti.

Pada saat bersamaan, Jiang Zhenshan menghampiri Gu Yu. “Itu … Siswa Gu, bisakah kau membantuku?”

Gu Yu mendongak. “Apa yang terjadi?”

Jiang Zhenshan tampak sulit bicara sejenak, “… Apa kau bisa meminjamkanku uang?”

Gu Yu tertegun.

Karena gadis itu bukan tipe orang yang suka mencari seseorang untuk meminjam uang.

Jiang Zhenshan menundukkan kepalanya dan memutar jari-jarinya. “Aku… Aku harus membeli sesuatu … tapi uangku tidak cukup untuk membelinya hari ini, jadi …”

Jiang Zhenshan orang yang introvert dan hanya punya sedikit teman di kelas. Dia sudah meminta bantu pada satu teman gadisnya. Namun, sayangnya, pihak lain tidak membawa uang hari ini. Jadi dia akhirnya tidak punya pilihan selain meminta bantuan pada Gu Yu.

Gu Yu paham lalu merogoh uang di saku dan menyerahkannya.

“Apa ini cukup?”

Wajah Jiang Zhenshan memerah dan malu karena harus meminjam uang. “Cukup … terima kasih … Aku akan mengembalikannya besok.”

Gu Yu merespon, lalu bertanya. “Apa kau ingin aku menemanimu ke supermarket?”

Jiang Zhenshan menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata, “Tidak, aku akan pergi sendiri.”

Saat dia berbalik dan hendak pergi, Gu Yu tiba-tiba memikirkan sesuatu lalu memanggilnya.

Jiang Zhenshan berbalik, menatapnya bingung.

Gu Yu melepas syal di lehernya dan menyerahkannya.

Jiang Zhenshan menerimanya dengan tidak mengerti.

“… Untuk apa?”

Gu Yu menunjuk ke leher kosong Jiang Zhenshan, dan kemudian dengan tenang berkata. “Bukankah kau sedang flu belakangan ini.”

Jiang Zhenshan akhirnya paham. Mata sedikit melengkung, tersenyum, “Terima kasih.”

Ekspresi Gu Yu tenang. “Sama-sama.”

Jiang Zhenshan melilit syal Gu Yu di lehernya dan berbalik pergi.

Setelahnya Gu Yu juga berbalik dan bersiap untuk kembali ke ruang kelas.

Namun baru berjalan dua langkah, tiba-tiba ada yang meraih kerah punggungnya. Tanpa bisa mencegah, Gu Yu langsung ikut terseret dibawa pergi.

Tidak jauh dari sana, Duan Lun memandangi wajah hitam Shangyuan dan adegan kejamnya menyeret Gu Yu pergi, dia mendengus dan menggelengkan kepalanya.

– Dia tahu Xing Bo tidak akan bisa bertahan lama.

Sisi lain.

Ketika Gu Yu sadar, dia sudah diseret ke sudut terpencil yang tidak dilihat siapa pun.

Gu Yu melihat sekeliling lalu mengalihkan pandangannya ke depan mata, dan seketika membeku.

Shangyuan yang sudah kehilangan kesabaran. Setelah menyeret Gu Yu ke sudut terpencil dari siapa pun, ia langsung menekan kakinya ke dinding.

Dia bahkan langsung memegang dagu Gu Yu untuk mengunci pergerakannya membuang pandangan.

Gu Yu memandangi wajah Bo Shangyuan, dan pikirannya berubah menjadi kosong.

Untuk sesaat dia lupa untuk membebaskan diri.

Shangyuan menekuk kakinya mengurung Gu Yu, satu tangan memegang dagunya, tangan lainnya menopang dinding di belakangnya.

Bo Shangyuan sepenuhnya memblokir ruang gerak Gu Yu, kecuali dia bersedia untuk melepaskan, jangan pikir Gu Yu bisa lolos.

Shangyuan mulai membuka suara, tidak ada sedikitpun suhu dalam suaranya. “Jangan bilang, kau sekarang bersama Jiang Zhenshan.”

Gu Yu diam sejenak, berpikir kenapa Shangyuan menanyakan ini, dan setelahnya dia menjawab. “… tidak.”

“Apa yang terjadi barusan.”

“Dia sakit. Aku takut dia akan masuk angin saat kedinginan.”

Suara Shangyuan penuh cemooh. “Kau penuh perhatian.”

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian, Shangyuan bertanya, “Bagaimana dengan air?”

Gu Yu balas berbisik, “Dia hanya membeli lebih, tidak ada artinya.”

Shangyuan terdengar tidak senang. “Jadi kau mengambilnya.”

Gu Yu tidak mau mengambil keuntungan darinya. Tetapi ketika Jiang Zhenshan membelikannya, dia tidak ragu untuk mengambilnya.

Gu Yu mendengar ketidakbahagiaan dalam suara Bo Shangyuan, dan menjawab dengan jujur. “Aku menolak, tetapi dia bilang itu hanya sebotol air, itu tidak mahal …”

Shangyuan memotong. “Saat aku bilang tidak mahal, kenapa kau tidak mengambilnya.”

Gu Yu tertegun sejenak, berbisik. “… itu tidak sama.”

“Apa yang tidak sama.”

Gu Yu tidak bisa mengatakannya, jadi dia tidak mengatakan apa-apa.

Jika ditanya kapan Bo Shangyuan merasakan iritabilitas abnormal, mungkin saat ini.

Dia mengubah topik, bertanya. “Kenapa kau menghindar?”

… tidak ada jawaban.

Mata Gu Yu terkulai dan masih tidak bicara.

Melihat situasinya, Shangyuan dengan kesal mengusak rambutnya sendiri ke belakang.

“Lihat aku.”

“…”

Gu Yu seakan tidak mendengar, tidak ada respon.

Shangyuan tidak bisa menahan diri untuk mencemooh. “Kenapa? Kau begitu bosan dengan wajahku sampai tidak mau melihatku lagi?”

Setelah mendengar ini, Gu Yu menyangkalnya. “… tidak.”

“Lalu kenapa?”

Gu Yu tidak menjawab.

Bo Shangyuan berpikir mungkin ada sesuatu terjadi dikeluarga Gu Yu sehingga dia tiba-tiba ingin menjernihkan hubungannya dan tidak lagi terlibat dengannya, tidak membalas pesan juga menghindar darinya.

Termasuk saat ini, dia enggan bicara, dan tidak mau melihatnya.

Bagaimanapun, pembohong kecil ini belum pernah melakukan hal semacam ini.

Namun, alasan sebenarnya adalah Gu Yu hanya tidak berani menatap wajah Bo Shangyuan.

Segera setelah dia melihat wajah sempurna Bo Shangyuan, suhu di wajahnya tiba-tiba naik dengan cepat.

Bukan hanya itu, tetapi beberapa ingatan dan adegan yang sudah hampir terlupakan, mulai perlahan-lahan muncul di benaknya.

Malam itu, Bo Shangyuan seperti ini dengan tangan memegang dagunya, sedikit membungkuk, menundukkan kepalanya dan menciumnya. Satu tangan lainnya memeluk pinggangnya erat …

Rincian memalukan, secara bertahap, menjadi semakin jelas dalam pikiran Gu Yu.

Jari-jari Gu Yu gemetar dan suhu di wajahnya menjadi semakin panas.

Dia ingin berhenti memikirkannya, tetapi Bo Shangyuan saat ini ada didepannya, sulit untuk tidak memikirkannya.

Oleh karena itu, Gu Yu bahkan lebih takut untuk melihatnya.

Pada saat yang sama, wajah Bo Shangyuan semakin jelek.

Dia menutup matanya untuk menekan amarah dan kemudian bertanya dengan sabar. “… Apa ada yang terjadi dirumah?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya perlahan.

“Apa Duan Lun mengatakan sesuatu?”

Gu Yu masih menggelengkan kepalanya.

Shangyuan menarik napas dalam-dalam. “Lalu karena apa.”

Gu Yu tidak menanggapi.

Bo Shangyuan akhirnya tidak bisa menahan lagi.

“Jika kau tidak bicara jujur…”

Gu Yu tertegun, ekspresinya kosong.

“Jangan harap kau bisa kembali ke kelas.”

Gu Yu kaget dan canggung, dia ingin mengatakan sesuatu tapi setelah melihat wajah dingin Bo Shangyuan tanpa senyum, suaranya tiba-tiba melemah.

“Ujian akhir akan segera tiba … kau tidak bisa melakukan ini.”

“Aku bisa.”

Gu Yu melihat bahwa Shangyuan benar-benar tidak peduli, dia berkata, “… tidak masuk kelas, guru akan menghukumku menulis ulasan.”

Bo Shangyuan tidak merespon.

Gu Yu diam sejenak.

Tubuhnya menyusut dan perlahan berkata. “… Apa bisa aku mengatakannya nanti dalam beberapa hari.”

Setelah beberapa hari, suasana hatinya ‘tenang’, dan kemudian dia akan berbicara dengan Bo Shangyuan … Oh tidak, itu alasan untuk mengelabuinya.

Shangyuan sangat dingin dan kejam.

“Tidak.”

Semua alasan Gu Yu diblokir sejenak.

Tapi jujur ​​saja, Gu Yu tidak bisa mengatakannya.

Jadi, Gu Yu menutup mulutnya lagi.

Bo Shangyuan peringkat satu dan terbiasa bertingkah sesukanya, jadi dia tidak terburu-buru untuk menghadiri kelas.

Bahkan jika dia dan Gu Yu tetapi disini seharian, dia tidak cemas.

Dia bisa menunggu untuk melihat sampai kapan Gu Yu bersedia mengatakan yang sebenarnya.

Gagasannya hanya untuk memaksa Gu Yu mengatakan yang sebenarnya, tetapi disaat menunggu, arti pandangannya perlahan-lahan berubah.

Gu Yu lembut dan putih, dan dengan tidak berdaya terkurung dalam lengannya. Dari tinggi Shangyuan, dia bisa melihat rambutnya yang halus, juga pusar kepalanya yang imut.

Melihat ini, matanya perlahan dalam.

Dalam sentuhan pelukan, Shangyuan tidak suka menahan kesabaran.

Jadi, dia segera menekan Gu Yu ke sudut, satu tangan di atas kepalanya, dan tangan lainnya menyentuh wajahnya.

Jari-jari ramping putih menyentuh pipinya ke cuping telinga, dan kemudian meluncur di sepanjang lekuk sisi wajah hingga ke sudut bibirnya.

Jari-jari dingin itu perlahan meluncur lembut di sepanjang garis bibir, dan kemudian menggosoknya membuat Gu Yu merinding.

Suhu di wajah Gu Yu tanpa sadar semakin meningkat. Dia masih bertahan dan bertahan, sampai akhirnya, dia tidak bisa menahan diri. Dia meraih pergelangan tangan Shangyuan.

Suara Gu Yu bergetar dan pipinya merah. “Kau … jangan sentuh.”

Shangyuan hanya menatapnya. Meskipun tidak berbicara, makna yang diungkapkan jelas.

– Selama Gu Yu mengatakan yang sebenarnya, dia akan berhenti.

Jadi, Gu Yu menutup mulutnya lagi, dan melepas tangannya, membiarkan Shangyuan terus ‘menyentuh’nya.

Bo Shangyuan saat ini begitu senang, dan untuk jawaban dari Gu Yu, dia tidak begitu mendesak.

Dia terus menyentuh dan mencubitnya wajah Gu Yu dengan penuh antusiasme.

Sementara hati Gu Yu terus berdebar lebih kencang mendapat perlakuan ini.