Jan 18, 2020

61. Menandai

Tidak lama setelah mengunjungi pusat pameran, Guo Zhi sudah membawa banyak hal menggantung ditubuhnya. Di depan mereka, ada seorang gadis mengenakan rok berpotongan rendah yang terbuka, yang sulit untuk tidak menarik perhatian. Dilihat dari cara berpakaian, itu pasti kaisar wanita. Sedikit kontak dengan anime membuatnya cukup tahu tentang hal klasik, Guo Zhi memicingkan matanya.

Kaisar wanita pura-pura tidak melihat Guo Zhi dan Shi Xi, dia melewati mereka. Guo Zhi tiba-tiba menjerit. "Sepupu, apa itu kau?"

Guo Ruojie mempercepat langkahnya, Guo Zhi mengejar dari belakang dan meraihnya. Memperhatikan dari kepala ke kaki, ini Guo Ruojie, ia tidak bisa mempercayai matanya. Guo Zhi merasa tidak puas dengan pakaian itu. "Kau sepertinya juga memiliki hobi." Guo Zhi tidak menyangka bertemu sepupunya disini dengan penampilan seperti ini.

"Ya."

"Kau juga bisa berpakaian seperti sepupu, manusia, hewan, pohon." Dia dengan tulus memberi nasihat, tidak ada ironi.

Guo Ruojie memutar matanya. "Aku akan mainkan apapun sesuai keinginanku, kenapa kau mengaturnya?"

"Aku memikirkanmu."

"Terima kasih!" Guo Ruojie menggertakan giginya, dia pikir keduanya sulit untuk datang ke sini, tetapi akhirnya bertemu mereka juga. Mereka cukup percaya diri dengan pakaian mereka sendiri.

Ketika mendengar suara yang akrab, Hua Guyu melihat Guo Zhi dan kaisar wanita cantik dari belakang. Dia tertarik untuk maju. Guo Zhi yang melihat Hua Guyu pertama kali dengan senang menyapa. "Hua er, kau juga datang." Hua Guyu tidak memperhatikannya, dia ingin sekali melihat Guo Ruojie. Dia langsung membungkuk dan berkata dengan penuh semangat. "Kakak perempuan ini, tanpa dada besar, tanpa wajah cantik, jangan berpakaian seperti ini! Kau juga harus menghargai cosplay!"

"Kenapa kau berkata kasar pada sepupuku?" Guo Zhi membela sepupunya tetapi Guo Ruojie tidak menerima niat baik itu. "Jangan katakan padanya, kau tidak bisa pergi ke mana pun. Siapa lagi ini?"

Dengan cara ini, Hua Guyu dan Guo Ruojie bertemu untuk pertama kalinya. Jangan berpikir bahwa akan ada reaksi kimia yang tiba-tiba. Kenyataannya adalah tidak ada hal romantis. Visi Hua Guyu sangat tinggi sehingga sulit untuk dipahami. Banyak hal tidak bisa menarik minatnya.

"Kalian belum saling mengenal, izinkan aku memperkenalkan."

"Tidak." Kedua orang itu tegas menolak dan saling jijik satu sama lain.

"Hua er, siapa yang kau mainkan?"

"Oh, ya ~" Hua Guyu menyeringai, dan dengan bangga menyentuh wajahnya. "Siapa yang ingin aku mainkan? Hanya semua orang yang ingin bermain denganku. Ketika aku bertemu Shi Xi, aku punya sesuatu yang penting untuk diperlihatkan."

Guo Zhi kembali ke tempat Shi Xi berdiri namun tak menemukannya. "Tadi jelas-jelas dia disini denganku."

Tidak jauh dari sana ada sekelompok gadis di sekitar, intuisi mengatakan kepadanya bahwa Shi Xi ada di sana. Ketika mereka berjalan kesana, Shi Xi sedang melihat-lihat buku komik yang ditempatkan di luar. Pandangan para gadis itu jelas tidak menyenangkan untuk Guo Zhi. Dia berhenti sejenak kemudian berbalik pergi.

Hua Guyu berpura-pura tanpa sengaja berdiri didekat Shi Xi, menghalangi pandangan dan mengangkat tangannya untuk tebar pesona, dia tidak cukup tergantikan oleh Shi Xi, tetapi didalam hatinya berteriak: lihat aku, lihat aku, semua lihat aku.

Hua Guyu mengeluarkan ponselnya di depan mata Shi Xi, "Gadis di foto ini sangat cantik bukan? Gadis populer dengan dada besar, ingin mengejarku, hahaha." Shi Xi merasa telinganya sangat bising, ia merebut ponsel itu dan membuangnya ke lantai, lanjut memilih komik.

Hua Guyu mengambil ponselnya dan berkata dengan marah, “Aku baru saja membeli ponsel ini!” Dia menyentuh ponselnya dengan wajah sedih. Dia tidak berani marah pada Shi Xi. Dia hanya bisa melampiaskan emosinya pada orang yang tidak ada hubungannya. "Apa kalian belum pernah melihat suasana hati buruk seorang lelaki tampan sepertiku? Aku bisa mengerti, tapi aku tidak bisa memberi kalian apa-apa. Apakah kalian mengerti, mengerti? Cepat pergi." Gadis-gadis itu menjauh dengan wajah bosan.

Ketika ada tangan didekatnya, Shi Xi mengira itu adalah kenakalan Hua Guyu. Dia meraih pergelangan tangan itu dan mulai meremasnya namun mendengar jeritan rasa sakit membuatnya mendongak dan melihat wajah Guo Zhi dengan tangan yang memegang topi hitam. Karena tertangkap, topi itu berhenti, melayang diatas kepala Shi Xi.

Guo Zhi menjelaskan, "Sembunyikan wajah ini baik-baik." ia tersenyum lebar menunjukkan gigi taringnya. Kalimat ini sepertinya pernah didengar sebelumnya, Shi Xi melepaskan tangannya, Guo Zhi langsung memakaikan topi dikepala Shi Xi, menekannya kebawah, menekan emosi kedalam tubuh Shi Xi.
.
.

Pada jam berikutnya, Guo Zhi membeli banyak barang, ia merasa aneh dan ingin membeli apa pun. Masa kanak-kanak dan remaja tidak dapat melakukan banyak hal karena pengelolaan yang ketat dari ayahnya. Ia tidak dapat berpikir bahwa banyak hal yang tidak dapat dimiliki. Selain belajar tanpa henti, bahkan mainan tidak dapat dibeli. Bermain hal-hal adalah kesedihan, itu adalah kata-kata paling umum yang pernah ia dengar ketika masih muda. Di bawah pendidikan seperti itu, kebiasaan tidak membeli barang tanpa pandang bulu adalah ia lebih menyukainya daripada hanya melihatnya saja. Kamera sudah menjadi barang paling mahal yang pernah ia beli, jadi ia sangat menghargainya. Hari ini, dia tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak terkendali dan membiarkan membeli banyak.

Bahkan jika ada tembok tinggi, ia akan selalu bisa melewatinya demi Shi Xi.

Guo Zhi belum pernah mempertemukan Shi Xi dan Guo Yunyong satu sama lain, dan hal ini sudah mulai bersaing dibenaknya.
.
.

Empat orang duduk di depan meja bundar di area makanan ringan. Guo Ruojie menyelesaikan gigitan terakhir dari makanan dan bersandar. "Aku tidak bisa melakukannya lagi, aku kenyang." Hua Guyu tidak makan banyak, mengatakan bahwa ia harus menjaga keseimbangan otot dan kekuatan tempur. Guo Ruojie dan Hua Guyu pada dasarnya sama. Kalori yang terbakar hari ini harus ditambahkan kembali untuk menjaga keseimbangan.

Guo Zhi menatap Guo Ruojie dengan penuh belas kasihan. "Sepupu, Tuhan benar-benar tidak adil padamu."

"Jangan katakan hal aneh." Guo Ruojie memperingatkan, dia tahu tidak akan ada kata-kata baik selanjutnya, Guo Zhi berkata dengan kesal. "Tuhan keterlaluan, kenapa tidak membiarkanmu makan terlalu banyak?"

Hua Guyu tertawa terbahak-bahak, Guo Ruojie menghentakkan kakinya di bawah meja dan berdiri. Hua Guyu juga berdiri. Guo Ruojie ingin kembali, dia tidak tahan lagi melihat mereka bertiga. Terutama berada sebelah narsisme ini. Hua Guyu juga memikirkan tempat pameran. Di mana dia bisa menarik napas dan tidak terobsesi oleh mayoritas penggemar perempuan, tapi dia tidak boleh sendirian dengan perempuan disebelahnya ini, itu akan menurunkan gayanya. Keduanya menunggu untuk melihat ke sisi mana yang lain akan pergi, dan kemudian satu dari mereka tidak akan pernah pergi ke sana.

Guo Zhi mengambil banyak belanjaannya dilantai dan mulai memilah-milahnya. Dia mengambil pena dan menggambar grafik sederhana pada semuanya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Ada terlalu banyak, aku takut bingung dengan yang lain, jadi aku akan menandainya." Guo Zhi dengan hati-hati menandai kata-kata dan melihat buku komik Shi Xi, dan mengambilnya. Tidak ada kisah cinta kampus, semuanya komik lucu. "Kau baru saja melihat ini?"

"Hm."

Setelah membaca beberapa halaman, isinya membuat Guo Zhi tidak bisa berhenti tertawa sampai meneteskan air mata. Dia melihat wajah Shi Xi yang tidak bergerak. "Kenapa kau tidak tertawa?!"

"Humormu terlalu rendah."

"Aku tidak, ah, apa kau mau aku memberi tanda untukmu?"

"Tidak, biar aku saja." Setelah mengatakan itu, Shi Xi tiba-tiba mendekat dan menggigit leher Guo Zhi. Otaknya tidak bisa bekerja karena serangan Shi Xi, ia bisa merasakan kehangatan dan mengisap dengan kuat membuatnya tak berdaya. Shi Xi melepasnya kemudian memandangi cupang segar di leher Guo Zhi, dia tampak sangat puas. "Sudah aku tandai."

Dia mengambil permainan yang buruk.

Guo Zhi memegang lehernya dengan wajah memerah menatap Shi Xi, "Kau, kau!" tidak tahu harus berkata apa, ia melihat sekeliling, tetapi untungnya keduanya terhalang dinding depan. Hua Guyu yang mendengar itu menoleh dan mendapati Guo Zhi dengan wajah memerah. "Apa yang sudah kalian lakukan?"

"Tidak ada." Guo Zhi berkedip, dia terlihat semakin curiga. Hua Guyu menampakkan wajah syok dan berlutut untuk membuka taplak meja. "Kalian tidak boleh saling menyentuh tubuh bagian bawah di bawah meja, itu terlalu memalukan."

"Pikiranmu yang paling memalukan!" jerit Guo Zhi.

60. Sesekali bermain

Kelas saat ini sangat bising, karena pusat pameran yang tidak jauh dari sekolah, mengadakan festival animasi, dibuka hari ini. Orang-orang yang tertarik dengan anime mengobrol satu sama lain dan mendiskusikan kapan harus kesana.

Guo Zhi belum pernah ke festival anime, dan ayahnya selalu mengatakan itu adalah mainan untuk anak-anak untuk bermain dengan keluarga mereka. Dia agak penasaran, dan kemudian berpikir serius, ini sebenarnya kesempatan yang baik untuk menemukan materi, dan Shi Xi pasti juga berpikir itu benar. Ini benar-benar nyaman, gunakan alasan ini untuk menemukan materi. Guo Zhi memegang ponselnya, memikirkan banyak alasan dan keterampilan bahasa dengan persiapan yang getir, ia mengirim pesan teks pada Shi Xi.

[ Shi Xi, mau tidak kita pergi ke pusat pameran dan melihat festival animasi? ]

Dia menunggu pesan penolakan dengan gugup, dan ponselnya bergetar.

[ Oke ]

Shi Xi benar - benar setuju! Apakah ini terlalu mudah? Guo Zhi tidak bisa mempercayainya.

[ Benarkah? ]

[ Tentu saja itu benar, aku setuju dengan apapun yang kau katakan, sayang. ]

Membaca satu kata itu membuat tangan Guo Zhi gemetar. Ia menyeka matanya, mengira ia mungkin mengidap presbiopia¹, melihat Shi Xi sungguh menyebut dirinya sayang, bibir Guo Zhi berkedut dan tertegun, akhirnya Shi Xi memiliki keberanian untuk mengatakannya. Optimisme yang tidak dipertanyakan ini juga mengagumkan.

¹gangguan mata yang ditandai dengan penurunan kemampuan lensa mata untuk berfokus melihat suatu objek pada jarak pandang yang dekat.

[ Tiba-tiba aku tidak tahu bagaimana membalasmu. ]

Guo Zhi tertarik untuk mengirim pesan teks, dan ada juga orang yang tertarik, Hua Guyu memegang ponsel Shi Xi dan tertawa seperti orang cabul.

[ Apa ini tidak sepertiku? Kau membuatku sedih ~~] Kesempatan ini untuk menghancurkan citra Shi Xi.

[ Shi Xi, apa yang terjadi padamu hari ini? ]

[ Tidak ada apa-apa, hanya merasa tertekan, sekarang aku tahu kalau Hua Guyu benar-benar jauh lebih tampan dariku. Aku akui aku kalah. Kau akan mengirim riwayat obrolan kami secara anonim di jaringan sekolah, cukup tunjukkan namaku. Aku ingin membuktikan kebahagiaan ini untuk semua orang, oke, sayang, kau mau kan berjanji padaku? ]

Masih asyik mengerjai, Hua Guyu merasa punggungnya dingin. Ketika dia berbalik, Shi Xi tengah menatap layar ponsel. Suara itu dingin dan mengerikan. "Kenapa tidak mengirimnya?"

Setelah lima menit, Guo Zhi menerima pesan teks lagi.

[ Hua Guyu adalah manusia sampah, sampah busuk dan keledai busuk. ]

Hua Guyu dengan penuh darah dan air mata secara pribadi mengirim pesan ini.

Kepala Guo Zhi masih dalam kabut ketika Shi Xi menelpon. "Kau baru saja dikerjai Hua Guyu, kecuali informasi ini, pesan sebelumnya tidak valid."

Guo Zhi akhirnya menemukan jawabannya, tetapi dia tidak bisa mengerti. "Apa yang tidak valid? Itu dikirim dari ponselmu. Aku kira setuju untuk pergi ke festival animasi bersama-sama. Atau mari kita membuat satu langkah, kecuali untuk dua langkah pertama. Yang terakhir, yang lain tidak valid."

"Kau akan melakukan bisnis."

"Jangan ajari aku, kecuali untuk kepentinganmu sendiri, yang lain tidak penting."

"Sepertinya kamu tidak bodoh setiap saat."

"Tentu saja, kau berjanji."

"Aku tahu."

Sambungan diputus, Guo Zhi menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas dan menghela napas lega. Sayang, satu kata, bahkan jika itu bukan dari Shi Xi, Ia tetap menganggap Shi Xi yang mengirimnya. Guo Zhi selalu dapat menemukan alasan untuk membuat dirinya sendiri bahagia.
.
.

Pusat pameran dikelilingi oleh air, termasuk penggemar anime yang mengenakan berbagai kostum mencolok, beberapa pakaian sederhana, dan beberapa pernak pernik dari kepala hingga ujung kaki. Wig cerah, kostum warna-warni, alat peraga aneh menghiasi di sini, dan gerbang di luar pusat pameran tampaknya mengisolasi dunia nyata di luar. Guo Zhi berdiri di tim, matanya tetap di sekitar, saya merasa segar dan ingin tahu, dan kadang-kadang ia melihat penampilan karakter anime yang akrab, ia tidak tahan untuk merasa kagum.

Shi Xi selalu paling mencolok, dan orang-orang disekitar terus menatapnya, dan kemudian berbisik dan tertawa. Guo Zhi bisa mengerti, pertama kali ia melihat reaksi ini adalah normal, setelah waktu yang lama, ia akan terbiasa dengan mati rasa, Guo Zhi melihat ke belakang, Shi Xi mengenakan penyumbat telinga dan meletakkan satu tangan di saku celananya. Sisi lain memegang ponsel, dan matahari jatuh di rambut pendeknya yang menyegarkan. Kecepatannya yang berkedip lambat, dan tatapan misterius itu tersembunyi di pupilnya. Shi Xi sadar diperhatikan, dia mendongak. "Kenapa?”

Guo Zhi cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Tidak ada." Sepertinya ia tidak akan terbiasa dengan ini, juga tidak akan mati rasa. Kali ini, sejak pertama kali melihat penampilannya, ia tidak akan bisa mundur!

"Kau benar-benar luar biasa." Guo Zhi berdiri di depan dan menggelengkan kepalanya.

Shi Xi mendorong belakang kepalanya. "Hentikan pujian tidak jelasmu itu."

"Kau membual kalau kau juga cemburu, dan kau menerima pujianku."

Akhirnya, Guo Zhi memasuki pusat pameran dan penuh sesak, sepertinya ia harus berganti pakaian, orang memotret di mana-mana, area tampilan anime, area penjualan barang anime, area makanan ringan dan sebagainya. Guo Zhi tidak mengambil kamera, bukan karena dia tidak ingin mengambil gambar, kamera itu dibeli karena dia ingin mengambil materi, dan dia tidak ingin menggunakannya.

Guo Zhi mengambil wig model api menyala dan menaruh di kepalanya. "Bagaimana menurutmu? Apa aku menjadi tampan?"

“Dari mana kepercayaan dirimu itu berasal?” Shi Xi menjawab asin dan samar, Guo Zhi mengambil wig abu-abu panjang, menutupi setengah mata, dan menatap yang lain dengan mata terbuka. "Apa yang kau rasakan?"

"Aku merasa ingin muntah."

"Aku tidak tahu mana yang bagus!" Guo Zhi mengambil beberapa dengan warna berbeda di tangannya. "Aku ingin membeli yang bagus untuk koleksi."

"Boros uang."

Penjual yang dengan ramah menerima pelanggan menunjukkan senyum enggan, dan Guo Zhi menyentuh siku Shi Xi, dia berbisik, "Terlalu kasar berbicara seperti itu depan orang lain." Untuk menebus hati penjual yang terluka, Guo Zhi masih membelinya. Wig dikenakan dikepala. Belum berjalan beberapa langkah, Guo Zhi kembali tertarik dengan sebuah pedang, ia mengambil pisau besar. Wajahnya bersinar. Tidak peduli berapa usia pria ini, ia masih seperti seorang anak kecil. Dengan naifnya ia mengarahkan ujung pisau pada Shi Xi. "Kalau kau tidak baik padaku, aku akan membunuhmu." Kemudian dengan lebay mengayunkan pedang diudara.

"Jangan mencemari penglihatanku."

"Kau terlalu banyak menghina kosakataku!" Guo Zhi mengerutkan hidungnya, menjepit pedang diketiaknya, menundukkan kepaladan membuka dompet untuk membayar, ia perlahan menghitung jumlahnya kemudian diserahkan kepada penjual, dan penjual itu hanya melambaikan tangannya. "Sudah dibayar." Guo Zhi terkejut, ia mengejar Shi Xi yang sudah berjalan lebih dulu. "Bukannya kau bilang boros uang, lalu kenapa kau membayar?"

Shi Xi mengangkat bahu. "Siapa yang membiarkanku melakukan ini, sudah menipuku."

"Kau menyesal tidak ada gunanya, aku punya senjata sekarang." Guo Zhi menyentuh pisau mengarahkannya pada Shi Xi dengan menyeringai dan menjerit, kegembiraannya terpapar jelas di wajahnya, tidak hanya Shi Xi, siapa pun bisa melihat itu.

"Ya"

"Apa yang ingin kau lakukan dengan dialog itu?"

"Ya"

"Shi Xi!"

59. Konsensus

Diam, diam, tidak ada lagi suara. Berapa lama untuk mengakhiri ini?

Dua orang, selalu ada satu untuk mengambil langkah pertama. Shi Xi datang kesini, berdiri depannya, ini adalah langkah Shi Xi. Sekarang giliran Guo Zhi untuk mengambil langkah.

"Aku pernah bilang aku tidak suka berbohong, dan aku tidak suka berbohong padamu. Aku pernah bilang, menangis untuk orang lain, dan senyum untukmu. Sebagai hasilnya, aku pembohong. Biarkan aku menariknya kembali. Jika dulu aku tidak mengenalmu maka kebohongan terbesar dalam hidupku adalah bagaimana melepaskanmu." Tangannya tetap melekat, tidak mau melepaskan. "Aku peduli dengan studiku, alasan peduliku terlalu kecil, kecil hingga tidak berani memberi tahumu. Aku hanya berpikir, jika aku belajar dengan baik, maka, maka ayah akan memiliki lebih sedikit alasan untuk menolakmu, sehingga dia tidak akan bisa menjanjikan kita dengan lebih mudah. "

Sekali lagi, dia begitu naif.

Memegang semua harapan, tidak akan melepaskan satupun. 

"Tapi aku merasa seperti sia-sia, aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik, aku ingin melakukan sesuatu untukmu, aku ingin melakukan sesuatu untuk hubungan ini."

"Kau tahu, kenapa aku ingin berubah?” Akhirnya dia berbicara.

"Kenapa?"
  
Satu detik, dua detik, Guo Zhi masih menunggu jawaban. Dia hanya bisa melihat busur indah leher belakang Shi Xi. Setelah tiga detik, suara Shi Xi sangat pelan tetapi itu tidak mempengaruhi suaranya. "Aku tidak cukup baik, apa yang harus digunakan untuk melindungimu? Sia-sia kau mengandalkan orang bodoh tidak penting sepertiku." Guo Zhi telah salah sejak saya awal. Ini adalah kesalahan besar, ia tidak rumit, dan perubahan serta evolusi Shi Xi bukan tidak berarti. Jarak antara depan dan belakang juga salah. Shi Xi berjalan didepan tidak untuk meninggalkan Guo Zhi, tetapi dia ingin membawanya dipunggung².
 
²melindungi Guo Zhi

/maniiiss 🙂/

Guo Zhi memiliki banyak ide optimis, tetapi bagi Shi Xi, itu adalah satu-satunya optimisme.

Guo Zhi tidak perlu khawatir tentang apa yang ingin ia rasakan dari ekspresi Shixi. Mata Guo Zhi pada saat ini tidak begitu jernih, namun ia dapat melihat perasaan Shi Xi. Hatinya bersorak, inilah Shi Xi yang sangat disukainya, bukan hanya sedikit.

"Kenapa kau harus mengatakan hal jelek itu? Apanya yang sia-sia, bodoh, aku senang dan juga marah." Wajah Shi Xi tidak bahagia.
   
"Itu lebih jelek."

Guo Zhi mengulurkan tangan. "Salaman. ayo rekonsiliasi saja." Shi Xi acuh tak acuh, Guo Zhi bergegas namun didorong Shi Xi seakan menjauh dariku.

"Setelah bertengkar, jika kau tidak berbaikan, itu tidak baik untuk kesehatan fisik dan mentalmu. Maka kau akan memberiku penyakit."

"Kau punya terlalu banyak kata di mulutmu!" Shi Xi akan berbalik, dan Guo Zhi buru-buru bertanya, "Kau mau kemana?" 

"Kembali."  

"Tapi mataku sakit." Guo Zhi memegang matanya, Shi Xi menatapnya dingin. "Mata kananmu tidak buta."

"Tetap saja menyakitkan." Guo Zhi meletakkan bangku di sebelah Shi Xi, "Kau duduk dulu."

Shi Xi tidak menanggapi, dia duduk dan Guo Zhi mengambil lilin yang sudah dibuang ke tempat sampah saat ia nyalakan tadi. "Shi Xi, selamat ulang tahun, buat permohonan."
    
"Jangan berikan aku set ini."

"Hadiah apa yang kau suka? Aku bisa mengirimkannya."

"Tidak perlu."

"Shi Xi, apa keinginanmu? Bisakah kau memberitahuku? Atau jangan mengatakannya, karena aku dengar jika kau ingin memberi tahu orang lain, itu tidak akan terkabul."
   
"Kau terlalu banyak omong kosong."

"Tiup lilinnya, kuenya nanti aku belikan."

"Aku tidak tertarik pada hal-hal manis."

"Kau hanya perlu makan kue dibawah, aku akan makan krimnya."

"Selamat tinggal."

Guo Zhi yang berpikir Shi Xi ingin pergi, segera meregangkan tangannya ingin menghalangi namun tangannya tiba-tiba ditarik Shi Xi membuatnya terduduk di paha Shi Xi, jarak mereka begitu dekat membuat Guo Zhi berdebar.

"Apa matamu masih sakit?" Shi Xi meniup mata Guo Zhi.

"Yah. Tidak ada akan sakit lagi kalau kau menceritakan sebuah kisah, seperti ketika aku pergi ke dokter gigi di sekolah menengah."

Kali ini, Shi Xi tidak menolak. Dia menceritakan dongeng. Kata demi kata didengar Guo Zhi sampai dihatinya. Benar saja, suara Shi Xi bisa membuatnya melupakan rasa sakit.

Entah sejak kapan, Guo Zhi sudah jatuh tertidur dipelukan Shi Xi, dan ia pasti memiliki mimpi yang sangat bagus, jika tidak, mengapa mulutnya tersenyum begitu manis. Suara Shi Xi berhenti, dan dia memandang Guo Zhi, mengulurkan tangan dan mengelus jarinya ke wajah Guo Zhi.
.
.

Guo Zhi lebih serius dari sebelumnya. Tidak rumit untuk melihat hal-hal dari sudut lain. Lebih baik mengandalkan upayanya sendiri untuk mencapainya sepanjang hari. Jika nilai akhir baik, mungkin Ayah bisa setuju untuk bersenang-senang selama liburan musim panas, maka ia bisa pergi dengan Shi Xi. Dia menggambar pola langkah-langkah di atas kertas, setiap langkah mewakili tujuan.

[ Tujuan pertama: pergi bersama Shi Xi untuk bermain di liburan musim panas.

Tujuan kedua: tidak bertengkar dengan Shi Xi sampai tiga bulan.

Tujuan ketiga: untuk mencapai 5.000 setoran tahun ini.

Tujuan keempat: untuk melihat senyum Shi Xi.

Tujuan kelima: memiliki novel yang penulisnya adalah Shi Xi.

Tujuan kelima: membuat orang tua Shi Xi menyukai dirinya.

Tujuan keenam: membuat orang tuanya membiarkannya bersama Shi Xi.

Dia mengerutkan kening, menggigit pena, mengurutkan sesuai dengan kesulitan target, memikirkan apa dia telah menulis atau melewatkannya. Untuk waktu yang lama, dia menulis tujuan akhirnya.
    
Tujuan ketujuh: tidak lagi dipengaruhi oleh mata, pikiran, dan kritik dari orang lain. Dengan cara ini, baik untuk bersama Shi Xi. ]

Setelah menulis, ia melipat kertas itu ke dalam tas, tidak masalah, perlahan, katanya dalam hati.

Berada bersama Shi Xi adalah keinginan untuk Guo Zhi.

Bersama dengan Guo Zhi adalah suatu keharusan bagi Shi Xi.

Setidaknya pada titik ini, keduanya mencapai konsensus³.
    
³Kesepakatan

58. Kenapa ini sangat menyakitkan ( 3 )

Pukul 11:59 malam, satu menit lagi adalah hari kelahiran Shi Xi. Gambar imajiner menjadi hal yang paling ironis, kue yang dipesan terlebih dahulu sudah dikirim ke kamar tidur Guo Zhi, dan bertengger kesepian diatas meja. Ke Junjie bermain game sepanjang malam di kafe internet, dan hanya Guo Zhi sendirian di kamar. Ia sedang berbaring di tempat tidur, telepon dibawah bantal bergetar, itu alarm yang diatur beberapa hari yang lalu. Guo Zhi ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Shi Xi. Sekarang ingatan itu seperti ironi berulang-ulang. Untuk waktu yang lama, dia mematikan alarm, bangkit dari ranjang dan membuka kotak kue.

Dengan lembut meletakkan lilin diatasnya kemudian membakar sumbunya. Seketika cahaya hangat menerangi di kamar, tapi itu tidak cukup hangat untuk orang di kamar itu. Nyala api tercermin di matanya. Guo Zhi memandang kedepan. "Shi Xi, selamat ulang tahun, buat permohonan."

"Apa kau suka dompet yang kuberikan? Atau kau suka yang lain?"

"Shi Xi, apa keinginanmu? Bisa kau beritahu aku? Atau jangan mengatakannya, karena aku dengar kalau diberitahukan pada orang lain, itu tidak akan terkabul."

Didepannya kosong. Adegan ini hanyalah imajinasinya. Sekarang ia terlihat seperti orang gila yang bicara sendiri.

"Tiup lilinnya, kau tidak suka krim manis, makan saja kue dibawahnya." Begitu satu-satunya cahaya di kamar itu padam, lilinnya dicabut, dan ia mengambil sendok, menggali kue lalu memasukkannya kemulut.

"Enak! Shi Xi, kenapa kau tidak makan?" Guo Zhi menelan, walau mata kirinya sakit, Ia masih menangis dengan mata kanannya, air mata mengalir dan menyelinap ke mulut, bercampur dengan krim, terasa asin. Dia terus makan sampai mual.

Seharusnya tidak pernah mengenal satu sama lain. Haruskah ia mendengarkan kata-kata Shi Xi? Itu terlalu sulit. Perasaan tidak semudah itu untuk dilupakan. Ia tidak pernah berpikir untuk berpisah, tetapi pasangan yang jatuh cinta dan berpisah, dari kekasih menjadi musuh atau orang asing, selalu terulang seperti ini. Jika ia menjadi orang asing bagi Shi Xi, seperti apa kehidupannya nanti.

Guo Zhi merasa tidak nyaman, dia mengambil ponsel, membuka kontak Shi Xi, lalu meletakkan ponselnya, bergumam pada dirinya sendiri. "Jangan bertengkar, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau kau akan sakit mendengarnya." Dia naik kembali ke tempat tidur, melihat lagi kontak Shi Xi kemudian meletakkan ponsel di bawah bantal. Jarinya tanpa sengaja menekan tombol panggil.

Dia menyusutkan tubuhnya berbaring, menutup mata, bulu matanya sedikit basah, dan tangannya mencengkeram selimut. "Shi Xi, aku ingin menjadi seolah-olah aku tidak mengenalmu tetapi aku tidak bisa melakukannya."
.
.

Di luar kamar apartemennya, Shi Xi memakai penyumbat telinga, menonton kampus di malam hari dipagar. Ponselnya bergetar. Dia meletakkan ponsel di telinganya, dan suara diseberang sangat samar dan tidak bisa didengar. Shi Xi mendongak, cahaya bulan jatuh di wajahnya yang tampan, dan malam menjadi terpesona. Rasa sakitnya meningkat di sekitar Guo Zhi dan kesepiannya mereda di sekitar Guo Zhi.

Jika dulu tidak mengenal Guo Zhi, maka dia tidak akan tahu Guo Zhi yang penuh dengan kesedihan, dia ditusuk tanpa tindakan pencegahan. Perasaan sakit yang sebenarnya tidak dapat diungkapkan dan kamera tidak dapat memotretnya. Shi Xi menutup telepon, melangkah turun kedalam kegelapan malam.

Belum lama tertidur, Guo Zhi bangun karena Hua Guyu menyelinap masuk kekamarnya. "Guo Zhi, kau tahu apa yang paling dibenci Shi Xi? Aku ingin memberikan padanya."

"Aku tidak tahu." Ketika mendengar nama Shi Xi, ia terpaku sesaat kemudian lanjut mengumpul pakaiannya.

"Kenapa matamu?"

"Cedera saat main basket."

"Benarkah? Lalu hadiah apa yang kau kasih ke Shi Xi?"

"Dompet." Guo Zhi pura-pura seakan tidak terjadi apa-apa, ia tidak ingin memberi tahu Hua Guyu, ia mungkin sedikit egois, tetapi ia juga ingin mempertahankan hubungannya dengan Shi Xi, tidak mau mengakui kenyataan.

"Dompet yang mana? Seseorang sudah yang memberikan itu. Terlalu banyak orang yang memberikan hadiah pada Shi Xi kemarin. Itu semua ditumpuk di laci. Dia bahkan memberikannya padaku tanpa melihatnya. Dompet itu dicuri oleh seorang pria di kelas mereka."

"Dia tidak melihat?"

"Ya."

"Dia tidak tahu siapa yang mengirimnya?"

"Kemampuan berpikirmu sangat buruk! Begitu banyak orang yang memberikan hadiah, siapa yang tahu siapa pengirimnya."

Jadi Shi Xi tidak sengaja? Mengetahui satu hal, Guo Zhi tidak bisa melepaskannya. Masalah sebenarnya antara keduanya bukan pihak ketiga. Ini adalah inferioritas yang dirasakan dan kesenjangan yang tidak dapat disepakati pada hal yang sama. Guo Zhi tidak ingin hanya diam disampingnya, ingin menjadi satu-satunya orang yang dibutuhkan. Terobsesi dengan ide ini agak konyol, ia ingin memberikan segalanya pada Shi Xi, tetapi ia tidak memiliki apa pun kecuali dirinya sendiri, ia membenci dirinya sendiri.
.
.

Ketika Guo Zhi kembali, Hua Guyu sudah menghilang. Ia membungkus pakaian yang sudah dicuci dan meletakkannya di baskom untuk dijemur di balkon. Dia melihat wajahnya melalui kaca. Mata kiri semakin bengkak. Rasanya ia ingin membuka matanya dengan paksa. Seketika pintu kamar ditendang, suara tendangan itu terdengar menakutkan. Pintu terbuka, Shi Xi berdiri disana, kekecewaannya kontras dengan glasir Shi Xi. Bagaimana dia melakukannya, dan tidak ada yang bisa mengguncangnya? Guo Zhi mencoba tenang dan bertindak kejam, ia bergegas dan berusaha menutup pintu namun ditahan Shi Xi.

"Watakmu tidak kecil."

Shi Xi melangkah maju dibalik pintu, Guo Zhi mendorongnya keluar, Shi Xi masih bergerak maju, dan Guo Zhi terus mendorong. "Kau!" kata-katanya diinterupsi Shi Xi. "Aku kesini tidak untuk bertengkar."

Shi Xi mendudukkan Guo Zhi di bangku dan mengeluarkan salep. "Tutup matamu." Guo Zhi tidak menutup mata dan hanya melihat Shi Xi, ia benar-benar tidak bisa melihat hatinya, Shi Xi menampakkan wajah yang sama ketika membuang bukunya, menyulutnya dengan wajah yang sama, mendorongnya dengan wajah yang sama, dan sekarang ia menggunakan wajah yang sama untuk menyeka salep untuknya.

"Shi Xi, aku benar-benar tidak mengerti dirimu."

Shi Xi hanya menyeka salep, dia tidak bicara, dan keduanya terdiam. Akhirnya, dia meletakkan salep di atas meja, berbalik dan hendak pergi. Guo Zhi menunduk. "Bukankah ini bodoh¹?" Dia masih tidak berbicara, Guo Zhi menahan celananya. "Kau bicaralah! Katakan sesuatu, apa pun itu, aku ingin mendengar." Terlalu bodoh, ingin berbicara dengannya, walaupun itu menyakitkan.

¹Dalam artian ignorant.

"Tidak ada yang perlu dikatakan, ah, aku tidak berubah pikiran, kau melarikan diri dari jurang maut." Shi Xi terdengar dingin, Guo Zhi mengangkat kepala. Apakah ini kelembutannya yang terakhir, membiarkannya pergi? Jangan bercanda, jangan membuka lelucon semacam ini. Shi Xi pergi, dan Guo Zhi tidak menahannya. Shi Xi benar-benar ingin pergi. Apa itu rendah diri, apa itu ketidaknyamanan, dan apa itu harga diri seketika menjadi tidak berarti dibandingkan dengan kepergiannya. Guo Zhi berlari dan meraih ujung baju Shi Xi. "Bagaimana dengan aku secara sukarela jatuh ke dalam jurang maut karena ada kamlu disana?!"

Shi Xi, aku lebih suka dibelenggu dengan rasa kejammu, aku tidak ingin dipisahkan oleh kelembutanmu.

Apa yang akan kau lakukan, tetap pergi atau berbalik?

57. Kenapa ini sangat menyakitkan ( 2 )

Guo Zhi sering lupa alasan pertengkaran dan hanya mengingat hasil pertengkaran itu. Ada banyak hal yang tidak bisa dikatakan, dia tidak ingin menempatkan dirinya dalam posisi yang terlalu rendah hati, ketika dia berdoa, Shi Xi akan mencintai dirinya. Mulai dari waktu dengan Xi Shi, dia mungkin akan tiba-tiba membenci dirinya suatu hari, berpikir setiap hari, apakah dia sedikit menyukai dirinya hari ini.

Hanya dalam waktu singkat, dia begitu baik untuk ditakuti, apakah ia berani memilikinya? Awalnya ia ingin Shi Xi melihat semua hal baik, membuatnya tidak lagi kesepian, dan membantunya ketika dia membutuhkan sesuatu. Adalah baik untuk mengiriminya pena kertas dan menemukan bahan untuknya. Pada saat itu, hanya dia yang bisa melihat keindahannya. Sekarang dirinya terekspos, apapun yang dikatakannya, banyak orang dengan suka rela melayaninya. Dan seberapa besar eksistensinya sendiri, dan itu menjadi hal yang mengerikan berkaitan dengan Shi Xi.

Bahagia untuk Shi Xi, sedih untuk dirinya sendiri.

Guo Zhi melempar bola basket ke keranjang, bola mengenai bingkai lalu terpental dan berguling ke bawah. Ke Junjie bertepuk tangan. "Guo Zhi kenapa kau melakukannya. Kau harus mengoper bola padaku." Lapangan basket di stadion sedang digunakan. Mereka hanya bisa bermain di luar. Cuaca yang panas membuat orang merasa cemas. Guo Zhi mengelap keringat yang mengalir masuk ke mata. Ia mengamati rumput di belakang stadion¹, apa Shi Xi ada disana? Apa ia sedang memangku laptop dengan kaki bersilang seperti biasanya? Apa dia butuh kertas?

¹stadion disini juga sama maksudnya dengan gedung olahraga yang chapt Shi Xi jadi wasit, jadi kedua nama itu tempat yang sama. Wkwk, translatenya emang gitu sih makanya q sempat bingung tapi baru ngeh.
  
Ketika memikirkan itu, Guo Zhi melihat seorang lelaki berjalan kesana dengan selembar kertas. Jika ia tidak melihat ekspresi orang itu ia mungkin akan menggunakan berbagai alasan untuk melegakan dirinya sendiri namun optimismenya dihancurkan oleh rasa sakit karena ekspresi lelaki itu seperti ekspresinya. Tempat yang menjadi rahasia dirinya dan Shi Xi dimasuki oleh orang ketiga. Apa Shi Xi meminta orang itu untuk memberikan kertas padanya? Guo Zhi lemah, ia tidak berani memikirkannya lagi.

Bola basket melesat menghantam wajah Guo Zhi tepat dimata kirinya yang seketika menguar rasa perih. Yang lain berlari mendekat, "Apa kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan?"

Guo Zhi menutup mata kirinya dan menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa, tidak ada yang perlu dicemaskan."

"Perlihatkan matamu."

"Ini akan membaik dengan cepat." Guo Zhi melepaskan tangannya dan membuktikan matanya tidak serius.

"Apanya yang membaik, mata bengkak seperti ini, pergi ke klinik untuk diperiksa."

"Aku akan pergi ke supermarket dan menempelkannya dengan botol ait es." Dia menepuk debu di wajahnya, terlihat seperti serigala konyol.

Hidup itu seperti kejahatan yang kejam. Ketika Guo Zhi harus melewati stadion, lelaki itu keluar dari belakang dan mereka saling melirik. Anak-anak lelaki itu membawa kertas ditangannya, Guo Zhi tidak bisa menekan suasana hatinya, ia berjalan beberapa langkah dari orang itu, dan menutup mata kirinya erat, tidak ingin membiarkan orang lain melihatnya.

Keduanya pergi ke supermarket, lelaki itu mengambil permen karet, dan Guo Zhi mengambil botol air es, mereka bertemu lagi di meja kasir. Lelaki itu menyentuh dompetnya dan mengeluarkan uang untuk membayar. Penglihatan Guo Zhi tertuju pada dompet, dan didalamnya ada foto Shi Xi yang ia masukkan sendiri. Guo Zhi benar-benar berharap ia salah. Wajahnya memucat dan ingin menemukan seratus atau seribu alasan untuk menjelaskannya, tetapi dia bahkan tidak dapat memikirkan satu alasan.

Jemari Guo Zhi yang memegang air es bergetar, dia meletakkan botol itu di mata kirinya, dan rasa sakit berbaur dengan rasa dingin.

Apa dia bisa dengan mudahnya cemburu? Apa dia bisa dengan mudahnya berpikir bahwa Shi Xi hanya marah dan menghukumnya? Bisakah dia tersenyum lalu bersikap acuh tak acuh? Jika itu masalahnya, maka betapa bagusnya itu.

Dia berbalik dan perutnya terus berkedut. Shi Xi berdiri tidak jauh, mata mereka bertemu. Ia menunduk masih dengan botol yang menutup mata kirinya dan hendak melewati Shi Xi namun Shi Xi meraih lengannya dan menariknya kembali. Shi Xi ingin menyingkirkan botol itu tapi Guo Zhi menghindar.

Dengan wajah dinginnya, Shi Xi mengambil botol itu paksa, meremasnya membuat air didalam menyembur keluar mengenai wajah Guo Zhi, botol itu dibuang dan terguling dilantai dengan air yang terus mengenang tumpah. Guo Zhi merasa semakin perih karena air yang masuk ke mata kirinya.
  
"Kenapa bisa seperti itu." Tidak ada kelembutan juga khawatir disuara Shi Xi.
 
Guo Zhi mencoba untuk membuka mata kirinya, cairan air mengalir keluar. Dia ingin melihat wajah Shi Xi tetapi bahkan jika dia melihat begitu dekat, wajah tanpa ekspresi itu tak ada emosi, dan ia tidak bisa melihatnya hatinya. Guo Zhi ingin bertanya kenapa Shi Xi begitu benar padanya dan ingin bertanya siapa lelaki tadi. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin diajukan, dan kesedihannya menahan semua itu di tenggorokan.
    
"Bukan urusanmu."

"Cukup katakan saja." Shi Xi tidak sabar.

"Apa hanya kau yang bisa menyakitiku, aku hanya bisa menanggungnya tanpa keluhan? Ya, aku menyukaimu, aku pantas mendapatkannya. Melihat orang lain bersamamu, aku hanya bisa tertawa tanpa pilihan lain? Aku benci bertengkar denganmu, aku benci untuk selalu mengganggumu dengan sesuatu yang tidak penting bagimu, kau bahkan tidak peduli dengan perasaanmu, apalagi perasaanku, benar-benar tidak seharusnya. Mungkin kau sudah menebaknya." Ia menatap Shi Xi lurus, menggigit bibir bawahnya, kebohongan itu lebih sulit untuk dikatakan daripada kebenaran, seperti asam sulfat yang membakar di tenggorokan. "Seandainya aku tidak mengenalmu diawal, maka tidak akan seperti ini." Lanjutnya gemetar.

Jika dia tidak mengenal Shi Xi sejak pertama kali, itu akan lebih baik.

Jika kau mengatakan detik terakhir, kau hanya ingin mengambil kembali detik berikutnya. Ilusi? Ketika pupil hitam di Shi Xi ditembak dan terluka. Jemarinya yang memegang lengan Guo Zhi, ia lepas dengan paksa.

"Sekarang belum terlambat untuk mengetahuinya." Shi Xi pergi, meninggalkan kekejamannya, Guo Zhi tidak bisa mencernanya, tubuhnya sedikit gemetar. Hati yang hanya menyakitkan akhirnya terkoyak oleh Shi Xi. Bibirnya yang terus ia gigit sekarang terasa sakit.

/yaaaah putus 😢/

Tanpa harga diri ini, Guo Zhi akan memutar waktu dan mengatakan pada Shi Xi bahwa ia berbohong, bahwa ia salah. Selama ia bisa mengulang semua kembali, dia bisa mentolerir semuanya, tidak peduli Shi Xi dengan siapa, tidak peduli siapa yang mengirim dompetnya, tidak peduli dia tidak mempedulikan dirinya sendiri.
  
Aku, sungguh, sangat mencintaimu.

Jiwanya menangis didalam tubuh dan ingin lari ke Shi Xi dan tubuhnya dengan acuh tak acuh berdiri di tempat yang sama.

Untuk waktu yang lama, harga dirinya terganggu, dia berlari ke kelas Shi Xi dan terengah-engah di pagar.
   
"Hei, Shi Xi," Tiba-tiba seseorang memanggil nama Shi Xi dan Guo Zhi secara tidak sadar bersembunyi di kamar mandi didekatnya.

Kong Hao mengejar Shi Xi di belakang, dan Shi Xi tidak menjawab. Kong Hao melanjutkan. "Tugas dari dosen belum kau kumpul. Aku juga anggota komite studi. Kau akan bermasalah jika tidak mengumpulnya."
    
Shi Xi dengan acuh sudah berjalan lebih dulu ke ruang kelas, Kong Hao melipat tangannya dengan wajah tak senang, bergumam sendiri. "Bagaimana ini? Setelah aku katakan itu terakhir kali, ia mulai membaca buku dengan serius, dan kemudian berubah lagi dalam beberapa saat. Sangat tidak mungkin untuk mengawasinya kapan saja." Setelah mengatakan itu, Kong Hao berjalan memasuki ruang kelas.
    
Harga diri Guo Zhi ditinggalkan terinjak-injak, apa keunggulan Shi Xi baru-baru ini karena seseorang selalu mengingatkannya? Bagaimana ini dibandingkan? Dengan yakinnya ia selalu beharap agar dia akan tetap bersama Shi Xi, dan sekarang ada orang yang lebih baik disekitarnya daripada dirinya sendiri.
    
Rasa sakit apa ini? Lebih menyakitkan dari rotan ayahnya. Dalam ingatannya, hal yang paling menyakitkan adalah ketika berusia 13 tahun. Namun ternyata dunia lebih tak tertahankan daripada rotan. Tubuh terbakar dengan amukan api dan ingin mengubah Guo Zhi menjadi abu. Dia pergi ke bilik toilet dan menutup pintu, meluncur dilantai, menekuk kakinya, dan membenamkan kepalanya di lutut.

Kong Hao berdiri di depan meja Shi Xi. "Itu harus dikumpulkan hari ini."

Shi Xi mendongak, matanya menakutkan Kong Hao, dan sepertinya siap untuk menelan apapun. "Pergi sana."

Kong Hao tidak berani membalas, dengan marah dia kembali ke bangkunya, mulutnya berbisik. "Dia pikir apa hebatnya dia? Selalu saja menakuti orang." Dia ingat soal tadi. Di dalam kelas, hanya Shi Xi yang tidak mengumpulkan tugas rumah, tetapi dosen tidak dapat menemukannya. Kong Hao kebetulan ditugaskan untuk mengumpulkan tugas dan absensi Shi Xi. Sebelumnya dia melihat Shi Xi pergi ke belakang stadion jadi dia ingin mencoba peruntungannya.

Positif dan keegoisannya, ia mengambil kertas yang perlu ditandatangani dan berjalan ke belakang stadion. Dia tidak tahu masih ada tempat yang tersembunyi dan sepi dikampus. Ketika menemukannya, dia tidak bisa tidak melihat wajah Shi Xi. Merasa diperhatikan, Shi Xi mendongak pada Kong Hao yang berdiri disebelahnya. Kong Hao berdehem sejenak. "Dosen memintaku mengumpulkan tugasmu, dan kau harus tanda tangani ini."

"Hey."

"Apa?"

"Jangan muncul lagi disini."

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan. Aku tidak suka."
.
.

Guo Zhi tidak melihatnya, ia tidak mendengarnya dari Shi Xi. Ia salah mengerti superposisi lapis demi lapis dan akhirnya terjerat dalam sebuah simpul.
   
Keduanya terlalu tidak familiar dengan perasaan masing-masing. Guo Zhi tidak berani mencintai, Shi Xi tidak bisa mencintai, mereka masih bersama, tetapi entah sekarang atau nanti, melanjutkan atau menyerah, yang mana akan menentukan akhir dari cerita ini.

56. Kenapa ini sangat menyakitkan ( 1 )

Waktu berlalu, merenggut masa muda itu mengerikan, bahkan lebih mengerikan jika perasaan juga diambil. Dalam kehidupan yang singkat, kita semua akan mati pada akhirnya. Mengapa tidak menghabiskannya sesuai dengan ide dan keinginanmu sendiri, seperti apa yang seharusnya kau sukai, dan pilih apa yang kau inginkan. Tidak dipengaruhi oleh ide-ide orang lain, tidak ragu-ragu tentang konsep masyarakat. Karena ini adalah hidupmu, bagaimana menjalaninya, kau punya keputusan akhir.
.
.

Guo Zhi keluar dari ruang ujian dengan alisnya mengerut kencang. Pada akhir periode, ia tidak perlu memeriksa nilainya. Ia sudah tahu ia tidak akan lulus. Ayahnya secara khusus menelpon memperingatkan mengenai hal ini dua hari yang lalu dan Guo Zhi berjanji akan lulus ujian. Dulu, dia akan melakukan dengan berhasil ketika dia berjanji pada Ayahnya, mengapa sekarang?

Setelah kelas berakhir, Guo Zhi tetap tinggal di kelas sendirian. Dia duduk di podium, kakinya bergoyang, dan melihat papan tulis. Langkah kaki di luar semakin dekat dan lebih dekat, Guo Zhi melihat ke pintu, kehadiran Shi Xi membuatnya nyaman dan merasa rendah diri, kontradiksi dengan dirinya. Pria di depannya terlalu mempesona, dia menjadi lebih baik dan lebih baik, dan dia masih tetap ditempat yang sama. Shi Xi berkembang, dia merosot.

Shi Xi mengguncang kamera ditangannya. "Tertinggal dikamarku."

"Benarkah?" Guo Zhi tersenyum kaku.

Shi Xi berjalan mendekat, mudah baginya untuk mendeteksi keanehan Guo Zhi, terlalu menyamar dan suasana hatinya tertulis di wajahnya.

"Apa ada sesuatu yang perlu aku ketahui?"

"Tidak, aku hanya belum tahu bisa lulus tes bahasa Inggris atau tidak, apa kau yakin kau akan lulus?" Shi Xi tidak menjawab, Guo Zhi tersenyum. "Aku tahu kau akan lulus. Kau adalah orang paling cerdas yang pernah aku temui. Ini sangat bagus. Aku khawatir tentang cara menjelaskan pada orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan jika belum mencapai hasil yang baik nanti?" Setelah menyelesaikan ini, Shi Xi mengerutkan kening, dia melihat Guo Zhi dengan mata dingin yang tidak dapat dimengerti. Guo Zhi sedikit takut ditatap seperti itu, seakan ia telah melakukan keributan besar, dan tidak masuk akal.

Guo Zhi membuat lelucon, ia ingin memperbaiki suasana yang tak nyaman ini. "Mungkin ini tidak penting bagimu, tetapi itu sangat penting bagiku. Mungkin aku tidak bisa terlalu merindukanmu."
    
Akhirnya, Shi Xi berkata dengan dingin, "Jadi, maksudmu aku menghalangi masa depanmu yang penting?"

Guo Zhi terkejut. "Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Tidak? Bukankan kau selalu mengungkapkan inu sepanjang waktu? Aku memengaruhi kau untuk belajar. Aku bilang kalau kau tidak bisa menjelaskannya pada keluargamu. Siapa kau? Siswa yang baik. Jika kau tidak mengenalku, kau akan selalu menjadi murid yang baik. Kau akan menjadi kebanggaan orang tuamu, kau akan memiliki masa depan yang baik, kau masih bisa menemukan seorang wanita untuk menjalani hidup, itu tidak akan menjadi seperti ini. Apa kau tidak berpikir sedikitpun seberapa baiknya aku?" Shi Xi marah, setiap kata dan setiap pertanyaan yang dia buat, menusuk Guo Zhi juga melukai dirinya sendiri. Dia mungkin lebih menghukum dirinya sendiri. Ia sengaja menghindari dan melupakan bekas luka dan penghinaan akan dirinya, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun, kenakalannya sendiri tetapi memilih lagi perasaan ini, ia mengulangi kesalahannya, takut karena teman-temannya tidak dapat mengerti dan membuatnya sedih, takut akar rotan yang akan kembali menggesek tubuhnya. Ia merasa malu pada orang tuanya, dan itu membuatnya selalu ingin menangis.

Awalnya Shi Xi hanya memiliki dirinya sendiri, setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki Guo Zhi.

Masalah yang selalu ingin dihindari masih terbuka.
    
Dirinya lah yang menyeret Guo Zhi ke jurang.
    
Tapi sekarang, keegoisan, kekejaman, tidak bisa lagi bertahan, hanya ingin meninggalkannya di jurang.

Satu-satunya kesalahan Guo Zhi adalah jatuh cinta pada iblis.
 
"Apa aku tak bisa mengeluh padamu? Apa aku bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk melepas bebanku tentang bagaimana hasil nilaiku dan masa depan? Bagaimana denganmu? Kau tidak peduli dengan perasaanku, kesedihanku, dan bagaimana bisa kau peduli jika kau akan menyesalinya?" Ada histeria, inferioritas¹, ketakutan, dan kekhawatiran dimana semua emosi itu akan meletus dalam sekejap, tetapi menyesal saat tahu, ia tidak pernah punya waktu sedetik pun. Lalu cintailah dia dengan kekuatan, dia tidak bisa melihatnya.
 
¹ rendah diri atas aspek tertentu

"Oke, kalau begitu aku akan membiarkanmu melihat betapa aku tidak peduli." Shi Xi menunjukkan ketidakpedulian dan cemoohan, pertanyaan yang diajukannya sebenarnya dihindari. Dia ingin mendengar penolakannya, tetapi malah menggali dirinya sendiri ke dalam lubang. Guo Zhi tidak mau mengakui dirinya terluka. Shi Xi pergi berjalan ke meja Guo Zhi, mengambil semua buku teksnya, dan melemparkannya ke luar jendela. Guo Zhi berlari dan mengambil buku terakhir menahannya dari pegangan Shi Xi. Pandangannya agak kabur. "Aku tidak hanya tertawa, Shi Xi. Aku juga akan marah. Jangan keterlaluan, hatiku sakit."
    
"Kau jangan menangis didepanku, aku tidak ingin lihat." Shi Xi melepas jemarinya dari buku, berjalan melewati Guo Zhi dengan bertabrakan satu sama lain, membuat Guo Zhi terhuyung mundur satu langkah.
 
Ketika ia memulai pertengkaran, dan mengeluarkan kalimat yang seperti itu, ia mendorong semua inferioritasnya pada Shi Xi, takut ia akan ditinggalkan suatu hari nanti, mungkin tidak hanya takut, terkadang perasaan dalam diri Shi Xi membuatnya resah.

/Jangan marah Shi Xi 😢 Guo Zhi emang salah karena terlalu polos menjurus ke bloon, tapi tapi tapi aah menyedihkan/

.
.

Setelah menyeret langkah kakinya yang berat, ia sampai di belakang gedung kelas. Lampu-lampu di gedung kelas tiba-tiba padam. Sisi bangunan itu gelap. Guo Zhi berjongkok di tanah dengan cahaya samar dari lapangan yang jauh, dan membolak-balik buku-buku yang baru saja dilempar Wolverine², buku itu disusun satu per satu, berpelukan erat di tangannya, menjaga tulisan tangan Shi Xi didalam. Dia duduk ditanah bersandar didinding. Membiarkan Shi Xi salah paham bahwa dia menyalahkannya, keliru berpikir bahwa semua salahnya sekarang adalah tidak benar. Guo Zhi mengeluh hanya untuk mendapatkan kenyamanan darinya, dan pada akhirnya, tidak ada yang diperoleh selain rasa sakit.

²Hewan buas yang rakus ~~ Makhluk buas yang berperilaku seperti serigala // serigala ngamuk alias Shi Xi, lol

Pepatah mengatakan apa yang berada di tenggorokan, seharusnya tidak dikatakan sembarangan.

Bagaimana cara mengumpulkan endgame ini?
.
.

Di tengah malam ketika setengah sadar, Guo Zhi meringkuk, tetapi tidak bisa menahan rasa sakit yang masih segar dan tajam ini. Tangannya meraba dibawah bantal dan menyentuh dompet yang diletakkan disana, itu adalah hadiah ulang tahun yang ingin dia berikan untuk Shi Xi. Sangat bagus dengan motif pesawat ulang-alik³. Jika ia kembali ke usia 13 tahun, ia mungkin tidak memohon belas kasihan dan tidak akan membuat jaminan seperti itu kepada orang tuanya. Jika ia kembali ke masa SMA, dia tidak akan mengangkat topi Shi Xi ketika berada di tahun ketiga. Jika ia kembali ke saat tadi, ia duduk di podium dan didetik pertama melihat Shi Xi, ia akan memanggil namanya, berlari ke arahnya, dan memeluknya. Itu sudah tidak mungkin terjadi.

³Pesawat luar angkasa
.
.

Keesokan harinya, Guo Zhi bangun sangat pagi menuju ruang kelas di Shi Xi yang masih kosong, lalu meninggalkan dompet dilaci meja Shi Xi. Gadis-gadis di kelas tidak tahu bagaimana harus menghubungi Shi Xi diulang tahunnya besok jadi memberinya hadiah lebih awal. Ketika Shi Xi datang ke kelas ditengah hari, laci dan atas mejanya sudah penuh dengan berbagai kotak hadiah.
    
Kong Hao pura-pura membaca buku, tetapi tidak tahan pada perilaku para gadis, tidak terlihat baik, untuk apa? Dia diam-diam melihat ekspresi Shi Xi, pria itu dengan acuh mengabaikan hadiah yang memenuhi meja dan berpindah duduk ke barisan depan.
    
Ketika melintas didepan kelas, Hua Guyu melihat hadiah di meja Shi Xi dan dengan muka tebal bersuara, "Aku suka membongkar hadiah." Melihat Shi Xi tidak merespon dan tanpa menunggu persetujuan, dia langsung membongkar dan melihat isi hadiah, sekali lagi dengan muka tebal dan berkata, "Apa kau tidak menginginkan ini? Yang ini? Yang itu?"

Shi Xi masih tidak menjawab, Hua Guyu berjalan menghampirinya dan mengamati wajah Shi Xi. Nalurinya dalam aspek ini selalu sangat tajam, "Bertengkar?" Shi Xi menatapnya, pandangannya seakan bukan urusanmu. Dengan wajah tersenyum, Hua Guyu meletakkan tangannya dibahu Shi Xi kemudian berbisik, "Tidak mudah membuatmu marah. Aku sangat penasaran apa yang dilakukannya?"
 
"Ambil hadiahnya dan menghilang!"
   
Hua Guyu mengangkat bahu. Lagi pula, dia akan tahu jika bertanya pada Guo Zhi. Dia terus membongkar kado di laci, dan disana ada dompet, dia melihat-lihat dompet dan melihat foto Shi Xi didalam. Kong Hao meraih dompet itu. "Aku, aku mau ini." Hua Guyu menatap Kong Hao dengan pandangan tidak bisa dijelaskan. "Siapa kau?"

"Aku yang seharusnya bertanya siapa kau, dan apa yang kau lakukan dikelas kami?"

"Bertindak kejam pada lelaki tampan ini akan mendapat pembalasan, berhati - hatilah." Lagipula, Hua Guyu tidak ingin mengambil dompet yang berisi foto Shi Xi, dia mengambil banyak hadiah lain dan pergi dengan kepuasan.

Kong Hao mengambil dompet itu, ia menatap Shi Xi lalu memandang ke bawah ke pada fotonya dan menyematkan dompet di tangannya. Benda itu jatuh ke tangan orang lain.

55. Cara menghabiskan setiap hari

Matahari sangat terik dan menyilaukan membuat orang tidak berani membuka mata, angin sepoi-sepoi tidak bisa mengurangi suhu, dan pejalan kaki berjalan dengan payung berwarna-warni. Wajah Guo Zhi tampak memerah, mulutnya menggigit es loli, sebuah buku terbuka diatas kepalanya menghalangi matahari namun bagian belakangnya tetap panas. Dia membawa kantong berisi es loli dengan berbagai rasa di tangannya dan berlari ke apartemen Shi Xi. Dia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa. Shi Xi masih tidur pada akhir pekan ini.

"Shi Xi, buka pintunya, es loli akan segera mencair!" Guo Zhi berkata dengan cemas, untuk waktu yang lama, pintu terbuka, dan Guo Zhi bergegas masuk dan menyimpan es loli ke dalam kulkas. Ia menoleh melihat Shi Xi sudah kembali ke tempat tidur. Guo Zhi begerak ke tepi tempat tidur, berlutut di sana, menopang siku diatas kasur, ia mengeluarkan es loli dari mulut, bibirnya membeku. "Aku tidak tahu rasa apa yang kau sukai, jadi aku membeli semuanya. Kalau kau tidak mau, aku akan menyimpannya untukku saja." Ia kembali memasukkan es loli ke dalam mulutnya, menatap Shi Xi tertidur.

Shi Xi dengan malas membuka matanya, melihat wajah Guo Zhi lalu mengulurkan tangan dan menarik es loli dari mulut Guo Zhi dan memasukkannya ke dalam mulutnya, menggigitnya dan kembali memasukkan sisanya ke dalam mulut Guo Zhi. "Yang ini oke." Sepertinya ada matahari di ruangan ini, wajah Guo Zhi semakin memerah. "Ada banyak di dalam kulkas, kenapa kau memakan punyaku?" Guo Zhi tidak tahu apakah mulutnya beku atau mati rasa, atau alasan lain. Saat berbicara, air liur mengalir keluar dari sudut mulut dan jatuh ke punggung tangan Shi Xi.

/yang ini ngakak, lol/

"Jorok." Shi Xi dengan jijik menyekanya dipakaian Guo Zhi.

"Apanya yang jorok? Nenekku bilang air liur memiliki efek desinfektan dan dapat membunuh bakteri."

"Kalau begitu pergi ke toilet¹."

¹dia nyuruh Guo Zhi bunuh bakteri ditoilet pakai air liur 😅

"Aku tidak mau mengikuti perintahmu, aku, aku tidak begitu menyukaimu, aku juga punya lower limit¹."

²kesabaran

"Lower limit² yang kau miliki hanya tubuh bagian bawahmu."

³bisa diartikan juga 'ukuran terkecil' lol.
.
.

Guo Zhi duduk diatas sofa setelah menghabiskan es loli. Suhu diruangan terasa pas. Guo Zhi menghidupkan TV dan menonton acara promosi produk furniture yang membosankan. Ia tak bisa menahan kantuk lagi, menguap lalu naik ke atas ranjang dan tidur.

Guo Zhi terbangun karena merasakan pergerakan Shi Xi disebelahnya. Ia dengan cepat duduk dan menggosok mata, "Berapa lama aku tertidur?" Dia menyentuh lehernya dan melanjutkan, "Leherku terasa sedikit sakit." Shi Xi tidak bicara, ia mengangkat bantal Guo Zhi, di bawah dipenuhi ponsel, remote AC, remote TV, charger ponsel, dan kamera.

"Sudah berapa kali kukatakan, jangan meletakkan apa pun di bawah bantal."

"Aku bisa segera mendapatkan saat ingin, dan itu lebih aman."

"Bereskan semua." Nada bicara Shi Xi tidak bisa ditolak. Guo Zhi mengambil remot tv dan berbisik, "Aku tidak meletakkannya di bawah bantalmu. Kenapa kau begitu galak?"

"Apa yang baru saja kau katakan?"

Guo Zhi mendongak dan tersenyum riang. "Tidak mengatakan apapun."

"Jika kau melakukannya lagi, lain kali yang aku letakkan dibawah bantal adalah wajahmu."

"Kau selalu menginginkan hidupku." Guo Zhi dengan cepat memindahkan barang-barang itu, bertepuk tangan, dan segera melupakan percakapan yang tidak menyenangkan tadi. "Kulkasnya kosong, apa kau ingin membeli sesuatu?"

"Tidak." Shi Xi tanpa ragu menjawab.

Guo Zhi mematikan AC kemudian membuka pintu, seolah-olah belum pernah mendengar penolakan Shi Xi. "Ayo, pergi! kali ini supermarket tidak ramai."

Shi Xi dengan acuh tak acuh membuka laptop, jika menulis novel, itu tidak masalah, tetapi ternyata dia bermain game. Senyuman Guo Zhi yang menggantung di wajah perlahan memudar.

"Shi Xi, aku berbaik hati mengajakmu."

"Lalu kenapa?"

"Bukankah kau seharusnya menanggapiku dengan sangat antusias?" Guo Zhi selalu memikirkan diri sendiri, dan bagaimana orang lain memperlakukan diri mereka.

"Kapan aku bergairah tentang kau?" Ini adalah kebenaran! Ada kurangnya antusiasme dalam tubuh Shi Xi, dan bahkan kelembutannya pun lemah. Guo Zhi menopang pinggang. "Itu berarti tubuhmu terinfeksi oleh virus. Aku akan membantumu membasmi kuman." Dia bergegas mendekat kemudian melumuri pakaian Shi Xi dengan air liurnya. Shi Xi yang mencoba mendorong wajah Guo Zhi membuat telapak tangannya juga penuh dengan air liur.

/ini manis yang ada jorok-joroknya gitu, lol/

"Kau! Menjauh dari aku."

"Kau! Jangan kabur."
.
.

Pada akhirnya, Guo Zhi berhasil menyeret Shi Xi ke supermarket. Guo Zhi mendorong troli dan mengambil barang-barang. Karena tidak ada dapur di apartemen, ia tidak bisa memasak di tempat Shi Xi, jadi barang yang ia pilih semuanya langsung dapat dimakan. Dia bergegas ke sebelah Shi Xi. "Membeli susu, roti, semangka, keripik kentang, cokelat, kopi, biskuit... kau juga bisa membantuku mengingatnya."

"Apa otakmu tidak bisa mengingat?"

"Aku hanya takut lupa."

"..."

"Benar, beli lebih banyak mie instan."

"Aku tidak makan."

"Aku ingin makan."

"Kau datang padaku setiap minggu hanya untuk makan dan tidur."

"Aku ingin makan denganmu." Respon Guo Zhi dengan tulus dan lancar. Shi Xi memasukkan sekotak susu ke dalam troli. "Diam."

Setelah lebih dari 20 menit berbelanja, Guo Zhi menghitung isi keranjang. "susu, roti, semangka, keripik kentang, kopi, biskuit, mie instan, Sepertinya masih ada sesuatu yang terlupa?" Dia memandang Shi Xi.

Shi Xi mendorong troli. "Kenapa melihatku?"

"Aku tadi memintamu untuk membantuku mengingatnya."

"Kamu memintaku mengingatnya, apa aku harus ingat?"

"Kau lebih pintar dariku, kau harus ingat itu! Sayang sekali, aku tidak bisa menyaksikan IQ-mu."

"Aku tidak butuh metode ini."

Guo Zhi tidak dapat mengingatnya, ia tidak punya pilihan selain untuk check out. Begitu Guo Zhi ingin pergi ke kasir, Shi Xi mendorong troli ke arah lain. Guo Zhi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengikuti, dan melihat cokelat di rak. "Aku mengingatnya. Itu cokelat. Aku benar-benar lupa. Mungkin aku sebenarnya lebih pintar darimu, tetapi otakku tidak berkembang sekarang, haha."

"Aku pikir otakmu sudah berkembang sampai batasnya. Apa perlunya sampai harus sebahagia itu?" Shi Xi menjauh. Dia tidak ingin terlihat bersama orang gila yang tertawa memegang cokelat.

"Aku tidak bahagia karena aku menemukan cokelat. Itu karena aku bersamamu. Segalanya tampak jauh lebih menyenangkan daripada biasanya. Kau tidak terkejut?"

"Aku akan langsung menutup mulut." Shi Xi berjalan duluan mendorong troli menuju kasir. Guo Zhi menyusulnya lalu meletakkan tangan diatas troli, menghadap Shi Xi sambil bergerak mundur. "Kau sengaja membiarkanku menemukan cokelat kan? Kau pikir aku bodoh?"

Shi Xi memasukkan cokelat yang belum dibuka langsung ke mulut Guo Zhi yang dengan cepat kembali diludahkan. "Ini belum dibayar!"
.
.

Tengah malam yang senyap, Shi Xi menekan keyboard untuk waktu yang lama, jari itu berhenti, dia menutup laptop dan berjongkok ditepi tempat tidur. Guo Zhi sudah tertidur, tangannya masih memegang buku. Shi Xi dengan lembut mengambil buku itu dan melemparkannya ke lantai. Baru saja bersiap mematikan lampu, dia melihat alis Guo Zhi kusut, dan wajahnya terlihat tidak nyaman. Tangan Shi Xi meraba ke bawah bantal, dia menyentuh remot TV dan tak tahan untuk marah kemudian menarik bantal membuat Guo Zhi terbangun dan berbalik. "Belum selesai," Shi Xi kemudian menutupi wajahnya dengan bantal, tangan Guo Zhi meronta dan hanya beberapa detik, Shi Xi kembali mengangkat bantal, mata Guo Zhi terbuka lebar, tidak lagi tertidur. "Aku akan mati kehabisan napas! Pria jahat!"

Shi Xi tidak bicara, dia menunjuk benda-benda di bawah bantal. Guo Zhi meratakan mulutnya dan memindahkan barang-barang ke meja samping tempat tidur di sebelahnya. "Ini adalah pembunuhan."

"Kau ingin menuntutku?"

"Tidak, aku tidak akan menuntutmu atas kejahatan apa pun."

"Maka aku harus terus menjadi buruk."

Guo Zhi membuka mulut akan berbicara, tetapi ditelan oleh bibir Shi Xi. Ciumannya diam tapi kuat, dan dia terus menghisap aroma Guo Zhi. Guo Zhi tidak bisa bernapas, tetapi dia tidak ingin mendorongnya. Kali ini, ia benar-benar akan mati kehabisan napas.

54. Shi Xi ( Part 3 )

Di kelas, dosen mengambil buku teks dan sambil mondar-mandir mulai memberi kuliah diatas podium. Para siswa di bawahnya sebagian besar ada yang menyimak dengan menahan kantuk juga bermain ponsel. Shi Xi yang duduk disudut menyender pundak ke dinding, santai dan malas.

Dosen itu menulis beberapa baris di papan tulis, dan suaranya menekankan. "Ini adalah titik kunci, kalian harus mengingatnya." Mendengar itu para siswa bergegas untuk membuat catatan, hanya Shi Xi yang tidak bergerak, matanya tertuju di papan tulis beberapa detik kemudian ia mengalihkan pandangan.

“Kau tidak mencatatnya?" Pria di sebelah Shi Xi bertanya, tanpa jawaban, dan sikap Shi Xi tidak membuatnya sangat tidak puas. Pria itu adalah anggota kelas di kelas itu, yang disebut Kong Hao, yang selalu menjadi siswa terbaik di kelas itu, siswa favorit dosen. Pada awal kuliah dia tidak pernah memperhatikan bahkan nama Shi Xi pun tidak bisa diingat. Suatu hari, Shi Xi melepas topinya. Meskipun Kong Hao melihat ekspresi di bawah topi itu, ia masih memperlakukan Shi Xi sebagai vas. Sampai beberapa saat yang lalu, semua aspek studi Shi Xi terus meningkat dalam semalam, bahkan melampaui dirinya. Dia yang merasa terancam memutuskan untuk terus duduk disebelah Shi Xi sambil mengawasinya.

Yang membuat Kong Hao bingung adalah sebagian besar waktu Shi Xi tidak membaca buku teks. Yang dilakukannya kalau tidak tidur, melihat keluar jendela, atau menulis sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Nilai Shi Xi lebih baik dari dirinya. Sedangkan dia belajar keras setiap hari. Ketika orang lain belajar, dia belajar. Ketika orang lain bermain, dia tetap belajar. Dia selalu percaya bahwa jenius adalah 1% bakat +  99% upaya. Tanpa diduga, ada pria yang bernama Shi Xi mematahkan keyakinan yang mutlak baginya.
    
Semakin dia ingin kurang meyakininya, hal itu semakin sulit. "Aku tidak tahu metode apa yang kau gunakan, bahkan jika kau lebih pintar daripada yang lain, bisakah kau tidak memandang rendah orang-orang yang belajar dengan keras?"

Shi Xi menoleh dan menatap Kong Hao. Pupil matanya kosong. Kong Hao rasanya ingin pingsan, dia bertanya. "Apa belajar itu sangat penting?" Kong Hao tidak menyangka Shi Xi menjawabnya, "Hey, hal-hal yang tidak penting bagimu bukan berarti itu tidak penting bagi orang lain. Aku selalu menjadi kebanggaan keluarga. Orang tuaku memiliki harapan yang tinggi padaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, dan aku tidak ingin kecewa dengan diriku sendiri. Kau tahu, Berapa banyak aku berusaha keras dalam setahun? Kelakuan santai apa itu yang kau perlihatkan untuk memamerkan kau lebih baik dariku?" Kong Hao mengencangkan alisnya, kulitnya putih, bibirnya merah dan sekarang amarahnya sebenarnya agak imut. Meskipun Shi Xi memandang Kong Hao, dia mengingat Guo Zhi dan apa yang pria itu keluhkan tadi malam.

Guo Zhi menundukkan kepalanya, memainkan tali sepatu dengan tangannya sambil mengeluh tentang nilainya yang menurun. Pada saat itu, Shi Xi mengendus perasaan tidak enak dari nada bicara Guo Zhi tetapi mengabaikannya. Tak acuh menanggapinya namun Guo Zhi tersenyum, jelas tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri, benar-benar bodoh.
    
Ketika bel berdering, Shi Xi bangkit dan melewati Kong Hao untuk pergi ke luar kelas dan masuk ke kelas sebelah, menemui Hua Guyu yang sedang melihat cermin, menata gaya rambutnya.

"Hei, pergi ke kelasnya dan ambil semua buku teksnya."

"Kenapa kau tidak pergi sendiri?" Wajah Hua Guyu terkesan tidak mau.

"Aku tidak mau pergi."

"Memangnya aku terlihat seperti ingin pergi? Kau tidak mau memikirkannya? Membiarkan aku, pria tampan ini membantu melakukan urusanmu. Bagaimana jika aku keluar dan secara tidak sengaja memikat gadis-gadis?"
    
"Pergi!" Shi Xi menghela nafas ringan, dia tahu Hua Guyu adalah orang bodoh yang mudah dibodohi. Hua Guyu mengambil dua langkah. Dia berbalik dan melotot. "Kenapa aku harus pergi, aneh! Kenapa aku berdiri? Aku tidak ingin pergi, aku tidak mau sampai mati."

"Pergi!" Itu hanya pengulangan mekanis. Hua Guyu sudah berjalan ke pintu ruang kelas. Dia tahu bahwa semuanya tidak dapat diperbaiki. Dia menatap Shi Xi dengan penuh kebencian. "Aku benci kau, aku benar-benar membencimu!" Dia berlagak seperti orang yang baru saja difitnah.

Setelah beberapa saat, Hua Guyu kembali, masuk ke kelas Shi Xi dan melemparkan setumpuk buku dan kunci di atas meja kemudian pergi dengan amarah. Ketika Shi Xi mengambil buku teks milik Guo Zhi itu, Kong Hao sedikit terkejut melihatnya membaca buku. Dia berpikir bahwa Shi Xi memikirkan kehangatan dalam hatinya karena kata-kata yang dia ucapkan. Shi Xi tidak hanya melihat buku teks dari fakultas ekonomi, tetapi juga pergi ke perpustakaan untuk memeriksa informasi selama istirahat makan siang.
.
.

Jarum jam di dinding telah mencapai pukul 12 malam, ruangan masih diterangi cahaya, musik terdengar dari ponsel, laptop di atas meja ditutup, tempat tidur penuh buku, dan matanya dialihkan lalu membuang pena di tangan kemudian berguling dan terbaring di tempat tidur, lampu di langit-langit agak menyilaukan.

Apa yang dia lakukan? Nilai yang baik atau buruk adalah urusan Guo Zhi dan dia tidak mendapatkan manfaat apa pun. Itu adalah perilaku yang tidak dewasa dan naif. Dia bukan orang yang bodoh. Shi Xi bangkit dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi dan mandi, kemudian kembali duduk ditempat tidur dan menggosok kepalanya, melihat buku-buku yang berserakan, aksinya berhenti sebentar, melepas handuk di kepala dan melemparkannya ke atas meja. Lanjut membolak-balik buku teks.
    
/dia bantuin Guo Zhi 😢 padahal beda fakultas. Pengen satu yang kek gini, lol/
.
.

Beberapa hari berlalu, Shi Xi saat ini sedang duduk di ruang kelas dan bersandar di sandaran kursi, kakinya di atas meja, satu tangan memegang buku, dan tangan lainnya membalikkan pena. Dia merasa ada yang memperhatikan dari luar kelas, dan dia tidak menemukan sosok ketika dia mendongak. Setelah beberapa hari tidak menghubungi Guo Zhi, dia menyentuh ponsel, isinya penuh dengan pesan yang dikirim orang itu. Setelah menatap selama beberapa menit, dia kembali meletakkan ponsel di sebelahnya dan lanjut membalik beberapa halaman terakhir buku teks.
 
Ketika bel kelas berdering, Shi Xi membawa buku teks itu dan berjalan keluar dari ruang kelas, langit tampak kelabu, membuat seluruh kampus terlihat mati. Dia membuka pintu kamar dengan kunci, disambut penerangan yang tidak terlalu bagus. Dia meletakkan buku itu di atas meja kemudian duduk dibangku. Ia membuka laci pertama di meja belajar, semua barang milik Guo Zhi bertumpuk berantakan. Lalu laci kedua, dan menemukan banyak hal di dalamnya, barang yang berkaitan dengan dirinya, ada kamera, kotak pena, kertas, topi aneh, dan amplop yang tertulis nama Shi Xi. Hanya ada satu tangkai bunga dan satu draf yang hampir dia buang ke tempat sampah.
    
Shi Xi mengeluarkan selembar kertas, menulis sesuatu di atasnya, dan meletakkan kertas itu di tumpukan draft setelah menulis.

Kamar tidur yang tenang diserang oleh hujan deras dengan tiba-tiba. Suara hujan ada di mana-mana. Gantungan di balkon diterbangkan bersama oleh angin membuat pakaian yang tergantung terguncang. Shi Xi dengan enggan berdiri. "Kenapa menjemur pakaian dicuaca seperti ini?" Dia pergi ke balkon, pakaian Ke Junjie terlepas dan jatuh di tangannya. Shi Xi hanya melihat sekilas lalu melepaskan tangannya dan pakaian putih itu jatuh ke lantai. Dia mengambil pakaian Guo Zhi dan memasukkannya ke dalam lemari dan kemudian duduk lagi. Dia benar-benar mengabaikan pakaian luntur¹ lainnya di balkon dan dengan bosan bermain dengan kamera, menggeser satu per satu foto didalamnya.

¹Luntur / weather-stained ~ berubah warna karena terpapar cuaca.

Shi Xi bisa saja meninggalkan buku itu dan kemudian langsung pergi. Novelnya perlu ditulis, dan ada film yang akan ditontonnya. Masih banyak hal lagi yang harus dilakukanmya. Kenapa dia tetap menunggu, tampaknya dia hanya ingin melihat Guo Zhi sebentar.
    
Sepuluh detik, jika dia tidak datang, pergi.

Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.
    
Pintu didorong terbuka, dan Guo Zhi berdiri di luar pintu. Dia terpaku disana, bersuara dengan hati-hati tetapi sulit untuk menyembunyikan kebahagiaannya. "Shi Xi?" Ketika mendengar bisikan itu, senyuman samar terukir dibibirnya menyamarkan cahaya kelabu.

53. Berbohong untukmu

Asrama siswa diselimuti langit malam, diterangi dengan lampu yang menyala tidak rata. Ada beberapa orang yang bersandar di pagar, ada juga orang berlalu lalang pergi kamar tidur, sesekali ada jeritan dan umpatan dari mereka yang sedang bermain game. Shi Xi berdiri di lantai bawah, Guo Zhi ada di sampingnya, berjongkok dan memainkan tali sepatunya sendiri.

Shi Xi memasukkan tangan ke dalam saku celana, langit malam tak bisa menutupi wajah tampannya. Dia menyenggol punggung Guo Zhi dengan lututnya. "Jangan begitu, berdiri!"

Guo Zhi semakin membenamkan kepalanya. "Nilaiku menurun dan tugas rumahku banyak yang salah."

"Kalau tidak ada yang penting, aku akan pergi." Shi Xi tidak peduli, dia sulit memiliki emosi untuk apa pun, dan sulit untuk memikirkan hal baik atau buruk. Baginya, ini adalah sesuatu yang tidak penting sama sekali. Pernyataan ini kejam. Dia tidak bisa berpura-pura khawatir tentang masalah seperti itu dan dia tidak bisa khawatir pada Guo Zhi. Bahkan jika dia seorang kekasih, Shi Xi tetap Shi Xi. Sulit untuk mengubah kepolosan Guo Zhi dan juga sulit untuk mengubah ketidakpedulian Shi Xi.

Guo Zhi hanya tersenyum dan tertawa, menganggap angin lalu tanggapan acuh Shi Xi terhadap masalah prestasinya. Shi Xi juga punya urusan sendiri. Ketika dia tidak bisa menulis novel, dia tidak berdaya. Maka dari itu, nilai Guo Zhi yang semakin buruk itu karena dia memang tidak berusaha keras. Sikap Shi Xi seperti itu diterimanya begitu saja. Kepolosan Guo Zhi adalah perut yang kuat, dan bisa menyerap¹ ketidakpedulian Shi Xi kapan saja.

¹mengabsorbsi - ibaratnya kek kerja usus, lol

"Hua er bilang nilaimu selalu yang terbaik. Bagaimana kau melakukannya, tidak terpengaruh oleh efek negatif dari cinta? Aku sering terganggu sekarang karena selalu memikirkanmu."

"Kau benar-benar bisa berbicara tentang meat²."

²bagian paling vital dari suatu pemikiran

"Jangan mengalihkan topik pembicaraan."

"Lebih baik kembali kekamarmu dan baca buku sekarang."

"Benar juga. Kalau begitu aku naik dulu." Guo Zhi berdiri, meregang kakinya sejenak kemudian kembali kekamarnya.
.
.

Tiga hari kemudian setelah kelas berakhir, Hua Guyu muncul di kelas Guo Zhi dan mengatakan ingin meminjam semua buku teks Guo Zhi dan langsung memasukkan ke dalam tasnya.

"Apa yang kau lakukan Hua er? Aku harus menggunakannya di kelas berikutnya." Guo Zhi dengan tidak senang mengulurkan tangannya berusaha meraih tas namun ditepis Hua Guyu.

"Apa hanya ini buku teksmu?"

"Masih ada yang lain dikamar, apa yang akan kau lakukan dengan bukuku?"

"Aku mau ke toilet, berikan kunci kamarmu." Hua Guyu menengadahkan tangan, Guo Zhi mengambil tisu toilet dari laci dan menaruhnya ditangan Hua Guyu. "Ketika kau pergi ke toilet, gunakan tisu ini. Kalau sampai kau gunakan buku teks ku, aku akan menggaruk bokongmu."

"Berikan kuncinya." Hua Guyu meremas tisu toilet itu dan melemparnya ke atas meja. Guo Zhi menatapnya yang terlihat marah, ia lalu menyerahkan kunci kamarnya. "Apa kau terkena wasir?"

"Bocah ini! Jangan main-main denganku sekarang. Aku pinjam semua bukumu." Tanpa menunggu jawaban Guo Zhi, Hua Guyu beranjak pergi keluar kelas.
.
.

Sudah beberapa hari ini ia tidak menemukan Shi Xi. Dia tidak membalas pesan juga tidak ada belakang stadion. Guo Zhi meremas ponselnya dan memutuskan untuk pergi ke kelas Shi Xi. Guo Zhi melihatnya dari jendela di luar ruang kelas. Dia bersandar di sandaran kursi, kakinya di atas meja, satu tangan memegang buku dan tangan yang lain memegang pena. Suara berisik di sekitarnya terabaikan olehnya. Dia diam dan acuh tak acuh, fokus menulis sesuatu di buku dengan pena.

Hanya ada Shi Xi dimata Guo Zhi tetapi tidak ada Guo Zhi dipandangan Shi Xi.

Guo Zhi harus berhenti, kepanikan yang belum pernah ia alami sebelumnya kini menyeruak dalam tubuhnya. Dia mengalihkan pandangannya tidak berani lagi melihat Shi Xi dan bergegas pergi. Sebelumnya, diabaikan, nilai buruk, olahraga buruk, tidak ada tujuan, tidak ada jiwa, dan mati rasa. Sekarang, Shi Xi semakin dekat dengan kesempurnaan, dan dia tertinggal.

Dia mendongak dan menatap langit, benang merah yang diregangkan pada dua orang yang sedang jatuh cinta, jarak antara bagian depan dan belakang membuat benang merah itu sangat ketat, akankah tiba-tiba putus?

Apa yang ada dipikirannya membuat suasana hati tidak bisa ditenangkan.

Ia belum pernah mengalami masalah cinta, dan masih banyak hal yang membingungkan.
.
.

Pada sore hari, langit yang berada dalam suasana hati yang buruk tak tahan untuk menangis, dan tetesan air mata itu jatuh di dedaunan, jendela, dan atap membuat suara renyah. Guo Zhi tidak membawa payung, tetapi dengan nekat ia berlari dibawah hujan. Ia akhirnya sampai di asrama dalam keadaan basah kuyup. Berjalan menuju kamar, Guo Zhi menyentuh saku celana panjangnya dan ingat bahwa terakhir kali Hua Guyu belum mengembalikan kunci kamarnya. Lagipula akhir-akhir ini, Ke Junjie kembali ke kamar lebih awal darinya dan kemudian pergi lagi jadi sering tidak mengunci pintu.

Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Guo Zhi mendorongnya hingga terbuka lebar, seketika berpikir hanya ilusi. Shi Xi sedang duduk di bangku, memegang kamera di tangannya, ia fokus melihat foto-foto di dalamnya.

"Shi Xi?"

Orang yang duduk disana tidak menjawab, Guo Zhi perlahan mendekat dan menusuk bahu Shi Xi dengan jarinya untuk memastikan tubuh itu nyata kemudian menjerit. "Shi Xi! Bagaimana kau bisa kesini?"

"Aku tidak boleh datang?" Shi Xi menoleh dan melihat penampilan Guo Zhi yang basah kuyup. Dia berdiri dan berjalan ke tempat tidur Ke Junjie, mengambil selimutnya dan melemparkannya ke atas kepala Guo Zhi dan kemudian mengusap dengan kekuatan. Guo Zhi terguncang ke kiri dan kanan oleh kekuatan ini. Ia mendorong lengan Shi Xi. "Jika ada handuk, kenapa menggunakan selimut orang lain?"

"Penyerapan airnya lebih bagus."

"Apa menurutmu ini tidak jadi masalah?!" Guo Zhi masih ingin memarahinya namun Shi Xi menyeka wajahnya sehingga ia tidak bisa bicara. Kemudian, Shi Xi membungkus tubuh Guo Zhi dengan selimut. "Buka celanamu." Guo Zhi dengan patuh menggeliat di selimut dan melepas celananya.

"Sepatu juga. Apa kau anak SD yang masih harus diperintah?" Shi Xi mengencangkan selimut.

"Baik." Guo Zhi menendang sepatu dikakinya hingga terlepas.

Shi Xi membuka lemari, mengambil satu set pakaian dan melemparnya ke arah Guo Zhi yang dengan susah payah menjangkau. "Melempar barang adalah perilaku yang sangat kasar."

"Omong kosong! Cepat pakai!"

Guo Zhi mendatarkan mulutnya dan mulai mengenakan pakaian. Ia melihat selimut Ke Junjie. "Bagaimana dengan selimutnya?"

"Tutup mulutmu. Tak akan ada yang akan tahu." Shi Xi membuka botol air mineral dan minum.

Guo Zhi menatapnya tak percaya. "Kau menyuruhku berbohong? Aku bukan tipe orang seperti itu! Aku akan memberitahunya itu ulahmu."

Shi Xi mengangkat bahu acuh dan membuka pintu kamar untuk pergi. Ancaman seperti itu tidak menyakitkan. Ini sangat santai, dan sangat santai. Bagaimana bisa Shi Xi tiba-tiba datang menemuinya? Ia duduk dibangku bekas duduk Shi Xi dan mengambil botol air yang baru saja diminum Shi Xi, menempelkannya secara tidak sadar dibibirnya dan meneguk lalu tersadar dan mendorong botol air itu. "Bukankah ini perilaku mesum?" Tiba-tiba ekor matanya tertuju pada buku teks di sudut meja. Kuncinya ditempatkan di buku teks. Guo Zhi mengambilnya, menggigit bibir bawahnya. Dadanya bergemuruh.

Didalam buku teks telah dibuat sketsa, dan beberapa tempat memiliki komentar, bahkan lebih rinci dan dapat dimengerti daripada penjelasan dosen. Tulisan tangan yang seperti coretan itu milik Shi Xi dan itu jauh lebih indah dibanding orang lain. Kadang-kadang dicampur dengan kata-katanya sendiri dan sindiran. Kenapa ia ingin lebih banyak tertawa? Guo Zhi mengangkat buku itu dengan kedua tangan, kepalanya dimiringkan ke belakang, memandang buku ditangannya sebentar, sikunya sedikit menekuk, dan kemudian menempelkan buku itu di bibirnya.

Masih terus mencium buku itu dengan mulut penuh, ia tak sadar Shi Xi bersandar kusen pintu sambil melipat tangannya. "Apa yang kau lakukan?"

/lol keciduk/

"Tidak melakukan apapun." Guo Zhi buru - buru melemparkan buku itu ke atas meja, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. "Bagaimana mungkin kau kembali?" Shi Xi maju, dia mengeluarkan sebuah buku dari bawah tumpukan buku teks. "Aku lupa mengambil bukuku." Jelas Shi Xi sambil memberikan tatapan penuh arti, lalu berjalan ke arah pintu.

"Guo Zhi."

"Ah?"

"Setidaknya tutup pintu dulu sebelum melakukan hobi tidak normalmu." Setelah mengatakan itu Shi Xi menutup pintu dan pergi.

Guo Zhi kehilangan wajahnya! Ingin mati saja! Ia menendang kaki meja dengan frustasi.
.
.

Tiba waktu tidur malam, Ke Junjie masuk ke dalam selimutnya, tiba-tiba kembali duduk. "Aneh, bagaimana selimutku basah?" Guo Zhi berbalik menatap Ke Junjie, tubuhnya kaku, dan setelah beberapa detik dia menjadi tenang. "Mungkin karena hari ini hujan sehingga kelembaban di kamar tidur terasa berat."

Hey, ia hanya berbohong untuk Shi Xi. Guo Zhi menutup wajahnya dengan buku.

52. Efek negatif dari cinta

Setelah liburan tiga hari, Guo Zhi mengalami sakit kepala, ia keliru untuk tugas yang ia serahkan terakhir kali dan harus mengirim ulang satu. Guo Zhi selalu mempertahankan hasil yang baik, tetapi sekarang pikirannya berkecamuk dikamar tidur, dan hasilnya hanya akan jatuh pada satu alasan: Shi Xi.

Guo Zhi mengusap dadanya dan berpikir, ia hanya peduli dengan hatinya sepanjang hari, dan ia masih punya hati untuk belajar. Efek negatif dari cinta ini sungguh luar biasa! Akhirnya, dia terkikik dan membawa buku pergi ke ruang kelas.

Ketika kelas dimulai, Guo Zhi mengambil pena dan membuka buku, mulai mendengarkan dengan seksama. Dalam waktu kurang dari dua menit, matanya melirik ke luar jendela. Ketika dia akan mulai bekerja keras lagi, kenapa ia harus dihadapkan dengan Shi Xi yang sedang kelas pendidikan jasmani sekarang?

Kelas Shi Xi dan kelas-kelas lain tampaknya sedang dalam permainan. Seperti olahraga yang muda dan berdarah ini, Shi Xi pasti tidak akan berpartisipasi, dan entah pergi ke mana. Guo Zhi menepuk wajah dan kembali fokus ke depan. Sekarang ia tidak perlu memikirkannya. Dia melihat papan tulis dan membungkuk mulai mencatat.
 
Jeritan para gadis terdengar dari luar jendela. "Ah ~Shi Xi~~ Ayo ~~" Leher Guo Zhi kaku, ingin menoleh kekiri tetapi tidak bisa, ia harus pikirkan hasilnya, pikirkan bagaimana dosen mengajar didepan dengan keras. Pikirkan tentang apa yang telah ia janjikan pada ayahnya, tetapi mengapa gadis-gadis itu memanggil Shi Xi? Mungkin tidak salah, jika ia mengintip sedikit? Tidak berlebihan disaat mendengarkan pelajaran bukan? Guo Zhi akan bekerja lebih keras di pelajaran selanjutnya. 

Setelah akhir dari kegiatan psikologis yang rumit, dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dia terkejut dengan mulut setengah terbuka. Kenapa Shi Xi berdiri di garis start, apa dia tersesat? Ketika peluit berbunyi, Shi Xi membuat awal yang indah, dan gerakannya sederhana dan cepat. Guo Zhi bergegas mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera pada Shi Xi, ia menarik lensa ponsel lebih dekat untuk melihat Shi Xi. Dia melirik ke arah dosen dan menyiapkan buku untuk memblokir ponsel.

Kaki Shi Xi menghantam tanah, tidak ada perlawanan, dan gerakan itu seakan keluar dari gambar MTV, menarik jarak dari orang-orang di belakangnya, dan Guo Zhi menatap layar ponsel tanpa berkedip. Ini bukan sesuatu yang akan dilakukan Shi Xi. Di masa lalu, dia hanya ingin menyembunyikan dirinya, entah itu penampilan, keahlian atau bakat lainnya. Sekarang, dia mulai berubah dengan berlari. Atau ini hanya dia yang biasanya?
 
Ketika mereka mencapai akhir, banyak gadis berkumpul, dan Shi Xi tampak jijik, menjaga jarak dari gadis-gadis itu. Dia pergi ke pohon dan mengambil buku, duduk diatas rumput. Guo Zhi menopang dagu masih terus menatap layar ponsel. Tiba-tiba, Shi Xi melihat ke atas, dia melihatnya. Meskipun hanya sekilas, Guo Zhi tidak bisa menahan tawa. Jari telunjuknya tidak tahan untuk menyentuh Shi Xi di layar ponsel.
   
Tempat yang terhalang oleh batang pohon itu tiba-tiba ada tangan yang terulur, Guo Zhi mendekatkan wajahnya pada layar ponsel. Itu pasti tangan wanita. Kapan wanita itu duduk di sana? Kenapa dia duduk dengan Shi Xi? Kelas pendidikan jasmani yang terakhir kali Shi Xi tampaknya sudah duduk di posisi itu, ia terbiasa menjauh dan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Tidak setiap kali ada wanita yang duduk disana saat kelas pendidikan jasmani bukan? Guo Zhi berharap tidak hanya bisa menggeser layar ponsel tetapi juga bisa menggeser pohon itu.
.
.

Guo Zhi gelisah di ruang kelas, dan Guo Ruojie duduk di bawah pohon menguap dengan malas. Guo Ruojie dan Shi Xi memang mengambil kelas pendidikan jasmani setiap minggu, mereka juga saling kenal dengan baik. Adapun mengapa keduanya duduk bersama, alasannya tidak terlalu rumit.

Karena penampilan Shi Xi, dia dengan cepat menjadi populer di kelas. Setiap kali dia duduk, para wanita selalu ingin datang dan mengobrol dengannya. Dia merubah kelas pendidikan jasmani biasa menjadi area jumpa idola. Sampai suatu saat tidak ada niat untuk berdiri dengan Guo Ruojie, para wanita itu benar-benar melepaskan keterikatan, berdiri di kejauhan dan hanya diam menatap. Ini adalah satu-satunya kegunaan wanita ini. Guo Ruojie tidak bicara banyak, hanya tahu makan dan tidur, tidak ada perbedaan seperti duduk di sebelah hewan.
    
Bagi Guo Ruojie, ketika duduk dengan Shi Xi, gadis-gadis di kelas akan selalu bertanya padanya tentang Shi Xi, dan mereka akan membeli makanan sebagai imbalan. Bagaimana bisa dia menolak hal yang begitu baik? Meskipun tidak ada dari keduanya menyebutkan itu. Tetapi dengan cara ini, kesepakatan itu diam-diam tercapai. 

Guo Ruojie mengantuk setelah makan, dia memejamkan mata dan mulai menundukkan kepalanya, Sayangnya, dia tidak menuangkan sel romantis ini ke bahu pria itu, tetapi pergi ke sisi lain dan jatuh di halaman. Layar memperlihatkan kepala, membuat mata Guo Zhi melebar. Walaupun hanya bisa melihat bagian belakang kepala, tetapi itu pasti seorang gadis.
.
.

Dalam pelajaran berikut, Guo Zhi masih tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan, hanya ada satu pertanyaan di benaknya, Apa bukan hanya ia saja yang bisa duduk disebelah Shi Xi? Mungkin itu hanya boneka dengan wig, mungkin ia mengambil gambar arwah, itu hanya arwah perempuan. Pikirannya sangat optimis, dan dia tidak bisa tidak melihat bagian belakang setiap gadis di kampus, dan menatap curiga.
.
.

Setelah kelas malam belajar mandiri, Guo Zhi berjalan berdampingan dengan Shi Xi. Ia tiba - tiba bertanya tanpa berpikir. "Kau mau memberitahuku sesuatu kan?"
  
"Tidak."
   
"Seharusnya ada, coba pikirkan lagi?"

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Apa kau suka bermain dengan boneka?" Setelah mengatakan itu ia langsung dihadiahi tatapan dingin Shi Xi, "Apa kau ingin mati?"

"Kalau begitu, kau tidak membunuh siapa pun baru-baru ini kan? Apa ada arwah penasaran yang mengikutimu?" Pertanyaan Guo Zhi itu mengerikan.

"Aku hanya ingin mengubahmu menjadi arwah."

“Kenapa kau selalu membuatku takut dengan mengatakan sesuatu yang mengerikan, tetapi kau tidak dapat berkomunikasi dengan benar." Percakapan ini sudah tidak normal sejak awal. Kehadiran Guo Ruojie mengganggu kedua orang itu, Guo Zhi dengan senang menyapanya. "Sepupu, senang melihatmu." Guo Ruojie hanya melambaikan tangannya dan melewati mereka. Guo Zhi melihat belakang kepala Guo Ruojie, bagaimana kepala wanita itu terlihat sedikit seperti bagian belakang kepala sepupunya? Dia bergegas maju, meraih kepala Guo Ruojie dari belakang dengan kedua tangan, dan menggerakkan dari sisi ke sisi, bergumam pada dirinya sendiri. "Rambut yang biasanya tidak terawat dan kering ini dan kepala besar ini, bagaimana terlihat mirip?!"

Guo Ruojie tidak bisa tidak mendengarnya. Dia hampir tidak bisa menahan untuk menghancurkan tangan orang yang menempel di kepalanya ini. "Kalau kau tidak lepaskan, aku akan mulai." Peringatan kasar itu membuat Guo Zhi melepaskan kepala Guo Rujie, mengingat sepupunya dan Shi Xi bersama-sama di kelas pendidikan jasmani, ia mundur selangkah, menatap syok pada Guo Ruojie dan Shi Xi bergantian. "Tidak. Apa itu kau? Tidak mungkin? Tidak hanya rambut, tetapi tangan kuning dan kasar juga sepertimu sepupu."
    
Guo Ruojie mengambil napas dalam-dalam, jika dia tidak terlalu malas untuk bergerak, dia benar-benar akan membunuhnya. "Apa yang kau khawatirkan?"

"Katakan, aku tidak marah, apa kau bermain¹ dibelakangku?" Dia mengatakan bahwa dia tidak marah, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terlihat marah.

¹Ditulisan aslinya, tertulis OOXX istilah gaulnya 'sex' di china, lol.

"Apa?" Shi Xi mengerutkan kening, kata-katanya jijik, "Aku tidak tertarik sedikitpun pada hewan ternak."

"Dan ya, banyak aspek sepupu yang benar-benar membuat pria tidak tertarik." Shi Xi mengatakan tidak, berarti tidak. Dan Guo Zhi tidak akan bertanya mengapa kedua orang itu duduk bersama. Ia hanya percaya pada Shi Xi.
 
"Kalian mengabaikan keberadaanku!" Guo Ruojie meremas tinjunya.

"Aku tidak akan memikirkannya ketika kau mengatakannya lebih awal."

“Apa aku orang yang seperti itu di matamu?” Shi Xi bertanya dengan dingin. 

"Salahku, salahku." Guo Zhi tersenyum meminta maaf.

"Tidak ada gunanya menampakkan wajah bodohmu itu."

Keduanya berjalan maju, meninggalkan Guo Ruojie dan luka-lukanya. Dia ingin membunuh, rasanya dia ingin membunuh dua bajingan didepannya itu.
.
.

Selama perjalanan menuju kamar asramanya, Guo Zhi terus meminta maaf pada Shi Xi atas kecurigaannya. Jika Shi Xi cemburu padanya hanya karena wanita biasa, ia juga akan kesal.
    
"Hey."

"Apa?" Guo Zhi pikir ia akan dimarahi.
    
"Hanya seperti duduk dengan hewan ternak karena aku tak ingin diganggu orang lain." Shi Xi jeda sejenak, seketika merasa jengkel harus mengatakan kalimat selanjutnya. "Jadi jika kau merasa tidak nyaman..." Belum selesai, Guo Zhi sudah menyela, memberi isyarat oke. "Tidak, selama kau tidak menyukai orang lain, aku baik-baik saja!"

51. Keinginan untuk menjadi dekat

Jam alarm di bawah bantal terus bergetar. Mata Guo Zhi seketika terbuka lalu duduk, mengusak kepalanya sebelum mengguncang tubuh Shi Xi disebelahnya. "Bangun, kau kan sudah janji untuk pergi keluar hari ini." Tidak ada gerakkan, Guo Zhi pun kembali berbaring, dan meletakkan tangannya bahu Shi Xi, matanya setengah menyipit, memfokuskan pupilnya pada wajah indah Shi Xi. Dia tak tahan untuk bergumam, "Apa yang bisa aku makan untuk tumbuh seperti ini? Aku biarkan kau tidur selama sepuluh menit, setelah itu kau harus bangun, dengar?" Setelah itu, Guo Zhi tertidur, dan ketika dia bangun lagi, dia melihat ke arah jam yang sudah pukul 11. Sekarang rasa kantuknya hilang, dia langsung melompat dari tempat tidur.

Ketika Shi Xi keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya perlahan, Guo Zhi bergegas ke kamar mandi, dan dia menyikat giginya, "Kenapa kau tidak membangunkanku?"

"Kenapa kau tidak bangun sendiri?" Ketika mendengar itu, ia tidak bisa membantahnya. Guo Zhi meludahkan busa di mulut, berkumur, mencuci wajahnya lalu melepas pakaian dan berjalan keluar kamar mandi, mengganti pakaian bersih dan mengambil tas kemudian berdiri di pintu, "Jangan buang waktu."
    
Shi Xi menampakkan ekspresi enggan, dihari libur nasional ini, yang hanya bisa dilihat hanyalah mobil dan kerumunan dimana-mana. Dulu, Shi Xi tidak akan pernah memilih untuk pergi keluar selama masa libur. Tetapi sekarang melihat ekspresi antisipasi Guo Zhi membuatnya menutup mulutnya, berdiri, mengambil alih tas Guo Zhi, dan keduanya pun pergi bersama.

Bagaimana mengisi waktu untuk liburan tiga hari, Guo Zhi sudah mengaturnya. Pertama-tama mereka akan berjalan menuju halte bus. Begitu melewati bank, ada sebuah truk uang berhenti di depan mereka, beberapa pengawalan turun dari mobil, tanpa ekspresi sambil memegang pistol ditangan mereka, Guo Zhi segera mengalihkan pandangannya. Ia menarik Shi Xi menjauh, "Jangan lihat mereka."
    
"Apa yang kau lakukan?"

"Aku merasa kalau melakukan kontak mata, aku akan panik. Bagaimana kalau mereka berpikir aku ingin merampok bank, lalu menembakku?"    

Shi Xi menatapnya seakan melihat orang idiot. "Seorang pria sangat takut mati."

"Apa takut akan kematian berhubungan dengan jenis kelamin? Apa kau tidak takut?"

"Jika kau lahir, kau harus mati. Bisakah kau meninggalkan dunia dalam keadaan hidup?"
    
"Hei! Baru saja keluar dan mengucapkan kata-kata sial ini, cepat meludah ke tanah, supaya kau bisa mengimbangi apa yang baru saja kau katakan." Entah dari mana Guo Zhi mendengar takhayul ini.
   
 "Aku lebih ingin meludahimu." Shi Xi berjalan ke depan, Guo Zhi mengikuti, "Hei, aku berkata sebenarnya. Jangan jalan terlalu cepat, tunggu aku."
.
.  

Bus sangat berdesakan. Guo Zhi meraih pegangan dan tangan lainnya menyentuh ponsel melihat jadwal. "Berhenti di 5 halte lalu turun dari bus. Apa kita harus makan dulu setelah turun?" Masih menggeser layar ponsel, Guo Zhi tidak mendengar jawaban untuk waktu yang lama. Ia mendongak dan mendapati Shi Xi memakai penyumbat telinga. Guo Zhi tersenyum dan kembali menggeser layar ponselnya.
 
Ketika mereka turun dari bus, mereka membeli beberapa makanan ringan di sisi jalan, Guo Zhi masih menatap ponselnya sambil makan.   
    
"Jangan bermain-main dengan ponselmu ketika kau makan." Shi Xi memandangi Guo Zhi dan melepas penutup kuping. Guo Zhi dengan patuh memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas dan menggigit roti di mulutnya. "Kau baru-baru ini suka mendengarkan lagu?"

"Hanya terlalu bising di sekitar."

"Sekarang sangat bising, kenapa kau melepasnya?"

“Sekarang kau ingin aku mendengarkanmu kan?” Terkadang Shi Xi terlalu, jelas ucapannya itu biasa saja, tidak berarti, tetapi selalu menyentuh perasaan Guo Zhi. Shi Xi menatapnya. "Kenapa kau tidak bergerak?"
    
 "Aku, aku tidak. Selanjutnya, naik bus dan akan turun setelah melewati 8 halte. Laporan selesai. Jika aku menarik jari kelingkingmu, itu berarti kita harus turun. Jika aku menarik jari telunjukmu, hati hati, ada pencuri di dalam bus. Jika yang aku tarik adalah jari manis, itu tidak berarti apa-apa, aku hanya sedikit merindukanmu."
   
"Apa yang kau bicarakan? Bodoh..." Shi Xi tidak selesai bicara. Guo Zhi sudah mengambil penutup kupingnya. "Jadi, tetaplah di duniamu." Dia berjinjit dan meletakkan kembali penutup kuping di telinga Shi Xi. Seketika suara disekitarnya menghilang, dan Guo Zhi di depannya tertawa. Senyumnya seperti meminjam sinar matahari dari keramaian dan hiruk pikuk. Sisi gelap Shi Xi sedikit sulit menghindar, dia mengulurkan tangan dan menutupi wajah Guo Zhi. "Jangan tertawa dengan santai seperti orang idiot."
    
"Aku bahkan tidak tertawa." Guo Zhi mendatarkan bibirnya dan mengikuti Shi Xi.
.
.

Setelah melewati 8 halte, mereka tiba ditujuan dan tidak ada banyak orang di sekitar. Shi Xi melepas penyumbat telinga. "Jika kau melihat bunga dan menikmati rumput, kau akan mati dengan sangat keras."
 
"Hei! Berhentilah mengatakan mati. Hari ini kau harus meludah dua kali dan menghentak kaki enam kali."

Pada saat itu, Shi Xi memandang bangunan megah di depan, dan matahari terpantul di kaca, dan tiga karakter besar di sebelah kiri sangat mencolok: perpustakaan. Ia pikir Guo Zhi akan mengunjungi tempat-tempat menarik seperti pergi ke taman hiburan, tetapi ia tidak menyangka Guo Zhi membawanya kesini.

"Bagaimana, ini adalah perpustakaan terbesar di kota, perpustakaan yang paling lengkap." Guo Zhi sedikit bangga, menunggu pujian dari Shi Xi.
    
"Apa yang kau banggakan, itu bukan rumahmu."    
    
Ada beberapa orang yang duduk di perpustakaan, dan jendela dari lantai ke langit-langit serta deretan rak buku yang rapi luas dan cerah. Mereka berpisah di pintu masuk dan pergi ke partisi buku yang mereka minati. Guo Zhi memilih buku yang ia minati, dari fotografi hingga tutorial PS, dan kemudian melihatnya dan mengambil buku yang dipilih kemudian pergi menemui Shi Xi.
  
Dia berjalan melalui deretan rak buku, buku-buku bergoyang di tangannya, sepatu kanvas menyentuh lantai yang halus, dan dia memandang pasangan yang duduk di sana, mereka intim, si wanita tersenyum dan bersandar bahu si pria, berbisik dengan lembut. Mereka terlihat bahagia. Guo Zhi teringat pasangan dua lelaki yang ia lihat di mal, tetapi mereka terluka oleh semua orang karena mereka berpegangan tangan.
    
Perasaan benar-benar tidak dapat dibandingkan.

Guo Zhi telah bermeditasi berkali-kali di hatinya, tidak peduli, tidak peduli.
 
Tetapi sangat penting untuk menghadapi kenyataan, doa yang tak terhitung jumlahnya, tekad yang tak terhitung jumlahnya, dan tiba-tiba menjadi rentan.
    
Guo Zhi terus berjalan jauh ke dalam perpustakaan dan akhirnya melihat Shi Xi. Dia duduk dilantai dengan kedua kakinya ditekuk, satu tangan memegang buku, satu tangan di lutut, bulu matanya dengan kedipan lambat. Berdetak, bibir yang tidak bergerak itu masih merupakan bentuk godaan, dan segala yang ada di hatinya membuat orang merasa seperti mereka bersedia untuk menyerah. Guo Zhi perlahan mendekati Shi Xi, ia menyelinap duduk di sebelahnya.
  
Apa ini sedikit terlalu berlebihan karena menyukainya, selama berada didekatnya, ia sudah merasa bahagia.

Dia menatap kamera pengintai di kiri atas. "Bukankah itu akan terekam? Jika penjaga melihat dua gambar anak laki-laki duduk bersama, akankah mereka mengusik kita?" Selalu ada banyak pemikiran positif dan optimis tentang aspek ini, namun pada titik ini, optimismenya telah dilumpuhkan berkali-kali, dan ada gejala sisa. Guo Zhi menekan tangannya dilantai dan hanya ingin bergeser untuk duduk sedikit lebih jauh, tetapi lengannya diseret Shi Xi membuat ia tidak stabil dan wajahnya menyentuh bahu Shi Xi.
    
"Tutup mulutmu," Shi Xi sudah lebih dulu mencegahnya bicara lagi.

Guo Zhi kembali duduk, menegakkan tubuhnya dan tangan mereka bersentuhan. Ia meluruskan kakinya, matahari yang masuk baru saja berhenti di kaki mereka. Dia membuka buku dan melihat beberapa halaman, dan tangannya tanpa sadar menempel di lutut Shi Xi.

Orang lain selalu ingin membiarkan mereka berpisah, tetapi mereka selalu berpikir tentang bagaimana ingin menjadi lebih dekat.