Oct 28, 2020

45. Apa Milikku Bisa Dibandingkan?

 

    Jing Ji dan Ying Jiao tidak tinggal di klinik sekolah terlalu lama, setelah luka Ying Jiao ditangani, keduanya langsung pergi ke ruang kelas.

     Guru Liu sedang menulis di papan tulis ketika mereka tiba. Ying Jiao menunggunya selesai menulis paragraf, lalu mengetuk pintu dan berteriak, "Lapor."

     Guru Liu melirik ke pintu dan berkata, "Masuk."

     Ying Jiao membuka pintu dan membiarkan Jing Ji melangkah lebih dulu. Segera setelah menutup pintu, suara Guru Liu kembali terdengar, "Oh, kau kembali begitu cepat, apakah penyakit Henpecked Male-mu sudah sembuh?"

     Para siswa Kelas 7 tertawa terbahak-bahak, dan beberapa anak lelaki bahkan bersiul.

     Ying Jiao, "..."

     Dia tersenyum, melihat ke arah He Yu dan dua lainnya. He Yu merasa bersalah. Dia segera mengambil buku dan meletakkannya di depan wajahnya, menyusutkan tubuhnya seakan dia tidak ada.

     Guru Liu tidak terlalu memikirkan. Dia sudah mengetahui tentang Ying Jiao yang terluka dari He Yu. Jadi menganggap hal itu hanya lelucon. Bukan hal lumrah siswa laki-laki di kelasnya bertingkah begitu.

     Bahkan ada yang berpelukan atau berlagak seperti ciuman ketika ia memotret mereka saat pihak sekolah mengadakan kegiatan latihan sosial tahun lalu.

     “Ah...” Di bawah tatapan seluruh kelas, Ying Jiao masih dalam mode menyebalkan, dia tersenyum, “bagaimana keadaanku, jangan bertanya padaku, tapi harus bertanya pada Jing Ji.”

     Sorakan penonton lebih keras, beberapa orang bahkan bertepuk tangan.

     "Luar biasa! Kakak Jiao keren!"

     Guru Liu speechless.

     Dia salah, dia seharusnya tidak memulai, itu hanya membuat Ying Jiao semakin bertingkah.

     Guru Liu membuang kapur, dan berkata dengan tidak sabar, "say you're fat and you're still breathing. Kembalikan ke tempat duduk!"

*Ketika dipuji orang lain, dia malah semakin memuji diri sendiri. Berkulit tebal. Semakin dikatain semakin me menjadi-jadi.

     Jing Ji adalah satu-satunya orang di kelas yang berada di luar situasi tersebut, Dia memandang Guru Liu dan Ying Jiao dengan bingung, sama sekali tidak menyadari apa yang telah terjadi.

     Ying Jiao mendekat padanya dan dengan berbaik hati menjelaskan, "Guru bilang kau adalah istri kecilku."

     Dia mengangkat matanya dan melirik Guru Liu, berkata dengan serius, "Kita sekarang secara resmi diakui sebagai pasangan."

     Guru Liu, "…………"

     BACOT! Dia tidak pernah mengatakan omong kosong seperti itu!

     Jing Ji, "..."

     Jing Ji terhuyung-huyung dan hampir menabrak meja.

     Guru Liu sangat marah sehingga wajahnya menjadi gelap seperti dasar pot, dia menampar meja dan berteriak, "Ying Jiao, tutup mulut! Tidak sadar sekarang masih jam kelas?! Bicara lagi sekali lagi, aku hanya menyuruhmu ke papan tulis untuk mengerjakan soal!"

     Memangnya Ying Jiao takut?  Bagaimanapun, nilainya sekarang sudah diatas KKM.

     Setelah akhirnya bisa pamer secara lancar, dia tidak mau mengakhiri. Namun, melihat wajah Jing Ji yang tidak wajar di sebelahnya, jakunnya bergerak ragu sejenak, dan akhirnya berhasil menahan diri.

     Lupakan saja, istri kecilnya sensitif.

*berkulit tipis, lawan dari berkulit tebal yang tidak tahu malu.

     Setelah kelas usai, Guru Liu pergi dengan buku di tangannya.

     Jing Ji masih belum memahami tentang apa yang terjadi barusan, dan Ying Jiao tanpa malu-malu membuang panci ke He Yu, "Bukankah aku meminta He Yu untuk meminta cuti kita berdua? Dia berpikiran buruk dan sengaja memberi tahu Lao Liu bahwa aku pergi ke klinik sekolah karena kontrol istri yang ketat."

*melimpahkan kesalahan, menuduh.

     Dalam tatapan tidak percaya He Yu, Ying Jiao melanjutkan, "Itulah mengapa Lao Liu mengatakan itu."

     Telinga Jing Ji merah, dia melirik ke arah He Yu dengan datar, diam-diam marah.

     Memutuskan dalam hati untuk tidak meminjamkan pekerjaan rumahnya pada He Yu selama dua hari.

     He Yu tampak bodoh, setelah bereaksi, dia seketika emosi, bersiap membongkar sisi jelek Ying Jiao.

     Ying Jiao menggulung lengan bajunya secara metodis dan berkata pada dirinya sendiri, "Entah mungkin karena jatuh, tanganku jadi gatal ..."

     Dia mengangkat matanya untuk melihat He Yu dan tersenyum, "Lao He, bagaimana menurutmu?"

     He Yu tiba-tiba menginjak rem darurat, lemak di wajahnya bergetar, dan kemudian diam-diam kembali ke kursinya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

     Mulai hari ini, nama Jing Ji oleh siswa di Kelas 7 berubah.

     Mereka awalnya hanya memanggil nama, tetapi sekarang semuanya memanggil Kakak Jing.

*Ge

     Mengapa?

     Tentu saja predikat untuk bos adalah Ge.

*Kalo dalam pertemanan, Ge biasanya buat ketua geng, atau yang dipandang tinggi.

°°°


     Di forum percobaan provinsi, masih ada yang membahas lomba babak penyisihan.

     [ Aku tidak tahu apakah God Jing bisa lolos ditingkat provinsi, kapan hasilnya akan keluar? ]

     [ Ditingkat provinsi pasti akan stabil. Kalau tidak ada peserta top dari sekolah kita yang lolos, maka sekolah lain pun  sia-sia. Sekarang kita lihat apa kita bisa sampai ke final. ]

     [ Ah ah ah ah berdoa untuk pria dewaku, pasti akan masuk final! Ketika saatnya tiba, biarkan orang-orang dari provinsi lain melihat bahwa ada orang hebat di Provinsi Donghai, ya kan? ]

     [ Aku tidak bisa berkata-kata, bagaimana kalian begitu percaya diri tentang Jing Ji? Apa kalian lupa tentang Jiang Chong saat itu? ]

     [ Memang, tahun lalu dikatakan bahwa Jiang Chong pasti akan masuk final. Tapi hasilnya? ]

     [ Bandingkan Jiang Chong dengan Jing Ji i? Tidak selevel, oke? Jiang Chong keluar dari lima besar ujian bulan ini. ]

     [ Kakak Jing pasti akan lolos ke final!  Jika tidak, aku akan live streaming makan kotoran. ]

     [ … Gaya tulisan siswa kelas 7 begitu mudah dikenali. Btw, kenapa menyebut Kakak Jing? Bukankah sebelumnya panggil Jing Ji saja?  ]

     [ Karena Kakak Jing sekarang adalah bos kami. ]

     [ Apa-apaan? Maksudmu apa? Apa kalian mengabaikan Ying Jiao? ]

     [ Henpecked male, hehehe! ]

      [ ?  ?  ?  Apakah ada yang mengerti? ]

      [ Tidak mengerti…… ]

     Bagaimanapun mereka semua adalah siswa yang mendapat nilai tinggi dalam tes bahasa, meskipun orang yang menyampaikan pesan itu tidak jelas, hal itu didasarkan pada konteks dan analisis berdasarkan satu-satunya petunjuk.

     Henpecked male ini sepertinya berbicara tentang Ying Jiao?

     Dan orang-orang di Kelas 7 kini menyebut Jing Ji, kakak Ji.

     Jadi yang disebut istri Ying Jiao adalah ... Jing Ji?

     Wah, kelas 7 seru ya?

     Meskipun orang lain tidak berani membicarakan Ying Jiao secara terbuka di forum, mereka berani secara pribadi.

     Akibatnya, hal-hal yang tak terlukiskan antara Jing Ji dan Ying Jiao menyebar semakin luas, bahkan Zhou Chao pun mulai memanggilnya Kakak Ji.

     “Kakak Ji, ini!” Setelah kelas kompetisi, Zhou Chao mengeluarkan apel kemasan dari tas sekolahnya dan memasukkannya ke tangan Jing Ji, “Ping An Guo.”

*Buah damai bagi orang Tionghoa menyambut Malam Natal untuk mengekspresikan berkah berharap  kedamaian dan kebahagiaan seumur hidup.

     Natal akan segera datang, dan toko kecil sekolah siap lebih awal.

     Tidak hanya ada pohon Natal di pintu, stiker Sinterklas digantung di pintu, jeruk dan apel dikemas, dan dijual kepada siswa dengan nama indah Buah Ping An seharga masing-masing lima yuan.

     Murid-murid SMA baru menginjak masa remaja, siapapun pasti mengalami naksir diam-diam, biasanya bersembunyi dan tidak berani mengungkapkan, dan tentu saja menjadikan momen ini sebagai alasan untuk mengirimkan buah damai.

     Sekalipun pihak lain tidak tahu isi hatinya, namun mereka akan senang saat berhasil memberikan hadiah.

     Tentunya orang yang naksi siapa-siapa juga harus membelinya, lagipula mereka juga pasti punya teman dekat. Jadi, meskipun Buah Ping An dijual lebih dari sepuluh kali lebih mahal dari biasanya, penjualannya tetap bagus.

     Besok adalah Malam Natal, dan Jing Ji telah menerima banyak buah damai sejak beberapa hari yang lalu.

     Pada awalnya, dia masih mengingat nama pihak lain dalam hati, jika seseorang memberinya apel, dia akan mengembalikan jeruk. Jika seseorang memberinya jeruk, dia akan mengirim apel kembali.

     Tetapi saat Natal semakin dekat dan semakin dekat, setiap kali kembali, dia akan melihat beberapa buah damai lagi di meja, dan tidak tahu siapa yang memberikannya.

     Tanya orang sekitar, mereka tidak jelas.

     Belakangan, dia menerima terlalu banyak buah Ping An. Li Zhou membuat sebuah kotak besar untuknya dan meletakkannya di bawah meja. Sekarang kotak itu hampir penuh.

     “Terima kasih.” Niat baik dari teman meski sudah menerima hal yang sama berkali-kali, Jing Ji akan tetap bahagia. Dia tersenyum dan menerima kebaikannya.

     “Tidak perlu sungkan.” Zhou Chao tertawa dan melambaikan tangannya, keduanya kembali ke kamar tidur bersama.

     Setelah Jing Ji memasuki pintu, dia membuka ritsleting tas sekolahnya dan meletakkan apel yang diberikan oleh Zhou Chao di atas meja.

     Li Zhou tercengang saat melihat ini, "mengapa kau bisa menerima begitu banyak buah damai?!"

     Ada sebuah kotak di ruang kelas, tapi sekarang semuanya dibawa ke kamar tidur!

     Li Zhou bertanya-tanya, "aku biasanya tidak melihat gadis mana yang kau dekati. Mengapa mereka datang untuk memberimu buah damai?"

     Jing Ji juga tidak tahu apa yang sedang terjadi.

     Dia memiliki nilai dan penampilan yang sama di dunia sebelumnya seperti sekarang, tetapi di kelas dia seperti orang yang transparan, dan hanya sedikit orang yang berinisiatif untuk berbicara dengannya.

     Jing Ji bukanlah orang yang mudah berbaur, jadi dia tidak memiliki teman dekat di kehidupan sebelumnya.

     Namun, setelah datang ke dunia ini, situasinya sangat berlawanan.

     Teman-teman sekelasnya sangat antusias, dan guru-guru memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan siswa lain yang tidak sekelas selalu membahasnya di forum.

     Jing Ji juga memikirkan pertanyaan ini, masuk akal bahwa dunia saat ini adalah sebuah buku atau buku dengan sebagian darinya. Peran protagonis dan pendukung telah ditetapkan, dan keberuntungan yang sesuai untuk semua orang telah ditetapkan.

     Dia sebagai role villain canon fodder, bukankah seharusnya dia secara tidak sadar ditolak oleh seluruh dunia? Mengapa situasi sebenarnya sangat berlawanan?

*figuran yang tidak dianggap.

     Ada banyak misteri yang tak terpecahkan di benak Jing Ji, tapi dia tidak punya kunci untuk membukanya.

     "Ngomong-ngomong," Li Zhou mengambil buah damai dan melihatnya, lalu bertanya Jing Ji, "Bagaimana kau mengatur begitu banyak apel dan jeruk ini? Bukankah akan membusuk kalau tidak dimakan habis?"

     Jing Ji juga sedikit khawatir, dan berkata dengan putus asa, "aku hanya bisa makan dengan cepat."

     Namun, keesokan harinya, Ying Jiao menyelesaikan masalah ini untuknya.

     Belakangan ini, Ying Jiao sedikit frustrasi. Para fans gila yang biasanya halu tentang Jing Ji di forum, sekarang dengan beraninya datang ke kelas!

     Sungguh konyol!

     Dia melihat sekotak buah-buahan di antara tempat duduk mereka berdua dan mencibir, "Teman sekelas, popularitasnya cukup tinggi."

     Jing Ji mengatupkan bibir bawahnya sedikit malu, “Tidak juga.” Dia memainkan buah apel, khawatir, “Ini harus cepat dihabiskan, kalau tidak, akan segera membusuk.”

     Ying Jiao tahu kebiasaannya untuk tidak menyia-nyiakan, dia menambahkan bahan minyak dan cuka, "Cuaca sangat lembab, tentu saja akan cepat membusuk, entah berapa banyak yang harus dibuang nanti."

     “Ah.” Jing Ji merasa tertekan hanya dengan memikirkannya, dia mengerutkan kening tanpa sadar, “Apa yang harus aku lakukan?”

     Sesuai harapan, Ying Jiao mencondongkan tubuh ke telinga Jing Ji dan berbisik, "mau kakak bantu mengatasinya?"

     "Bagaimana caranya?"

     "Pergi ke kantor dan berikan kepada guru. Bagaimanapun, ini hari raya, jadi guru pasti bahagia."

     Mata Jing Ji berbinar, "Oke."

     Tidak baik meneruskan hadiah dari orang lain kepada teman sekelas lainnya, tetapi tidak ada masalah dengan memberikannya kepada guru.

     Ketika selesai berbicara, Jing Ji bersiap ingin mengambil kotak itu. Begitu dia menundukkan kepalanya, Ying Jiao menjetik dahinya pelan.

     Ying Jiao terkekeh dan menggulung lengan bajunya, "ada aku, kau tidak perlu melakukan pekerjaan ini, oke?"

     Dia membungkuk, mengambil sekotak buah-buahan dan menaruhnya di atas meja, "Lao Zheng, datang dan bantu aku membagi buah di kantor."

     Zheng Que sedang bermain game dengan headphone terpasang. Dia tidak mendengarnya. He Yu dan Peng Chengcheng tidak ada di kelas. Ying Jiao harus berjalan ke arahnya.

     Jing Ji melihat kepergiannya, lalu memandang tumpukan buah damai di bawah kursi Ying Jiao, matanya tertuju pada apel kemasan pink.

     Belakangan ini, Ying Jiao juga banyak buah damai seperti dirinya. Dia tidak peduli tentang hal lain, tapi warna pink ini ...

     Jing Ji menunduk dan ragu-ragu sejenak, lalu dengan cepat mengambil apel itu, memasukkannya ke dalam kotak buahnya dengan hati yang bersalah.

     Ketika apel ini dikirim, Ying Jiao tidak ada, tetapi hanya dirinya. Ia ingat bahwa siswa yang membantu mengirimkan mengatakan bahwa itu dari Qiao Anyan.

     Pertama kali dia melakukan hal semacam ini, jantung Jing Ji berdebar sangat kencang sehingga telapak tangannya sedikit berkeringat. Tidak masalah apakah dia tercela atau licik, tapi dia hanya tidak ingin Ying Jiao menerima sesuatu dari Qiao Anyan.

     Disisi lain, Ying Jiao menghampiri Zheng Que.

     Zheng Que masih bertanya-tanya, "Kakak Jiao, mengapa kau berpikir untuk mengirimkan buah damai kepada guru?"

     Mereka tidak pernah melakukan ini di tahun-tahun sebelumnya.

     Ying Jiao meliriknya, "Apa kau tidak memiliki tingkat kesadaran tinggi? Guru dengan kerasnya mengajari kita dalam angin dan hujan setiap hari. Mengapa kita tidak bisa memberikan hadiah dihari raya?"

     Zheng Que, "..."

     Zheng Que menatapnya seperti ikan mati, dan saat berjalan menuju pintu, dia mengeluh, "Oke, kau memiliki tingkat kesadaran yang tinggi. Kami tidak memenuhi syarat untuk menjadi penerus sosialis kecuali kau."

     Ying Jiao mengabaikannya dan melirik ke arah buah damai di dalam kotak milik Jing Ji dengan tatapan hina, "Apa mereka semua siswa sekolah dasar? Memberikan buah damai saat Natal. Ck, kemasan pink apa ini? kekanak-kanakan dan naif sekali."

     Zheng Que yang sudah menunggu dipintu, tidak tahan. "Kakak Jiao, jadi pergi tidak?"

     "Pergi."

     Ying Jiao pergi ke kantor dengan sekotak Buah Ping An, dan membagikannya dengan Zheng Que kepada para guru satu per satu, langsung membuat Guru Liu menjadi obyek iri semua orang di kantor.

     Ketika mereka berdua pergi, para guru melihat ke arah buah Ping An yang dikemas dengan indah di atas meja dan berkata dengan terharu, "EQ siswa dikelas 7 sangat tinggi ah."

     "Tentu saja, bagaimanapun, lingkungan rumah berbeda. Hal ini telah terpapar sejak kecil. Bisa dilihat bagaimana perilaku mereka."

     "Lao Liu diberkati ah, anak-anak di kelas kami tidak akan memikirkannya."

     Guru Liu sangat senang ketika dia mendengar itu, tetapi masih berpura-pura tidak peduli, dan berkata dengan tidak senang, "Apanya yang berkat ah, ini hanya trik para pedagang. Ketika kembali ke kelas nanti, aku akan membicarakannya dengan mereka, jangan menghabiskan uang lagi di masa depan."

     Mendengar itu, para guru di kantor memutar mata di dalam hati, jika bukan karena tidak bisa mengalahkan, mereka sudah buru-buru memberinya dua pukulan.

     Akhirnya menyelesaikan hal-hal yang mengganggu itu, Ying Jiao merasa senang.  Setelah kembali ke kelas, dia mengeluarkan buah damai dari tas sekolahnya dan menyerahkannya kepada Jing Ji.

     Jing Ji membeku sejenak, "untukku?"

     Bukankah dia baru saja mengatakan bahwa mengirim Ping An Guo itu kekanak-kanakan?

     "Ya." Ying Jiao menopang tangannya di kursi dan mengangkat alis, "Tidakkah menurutmu buah damai dariku berbeda dari yang lain?"

     Jing Ji mengamati buah ditangannya cukup lama, tapi tetap tidak melihat perbedaannya, dia tetap diam.

     Ying Jiao mengulurkan jarinya yang ramping, memainkan kemasan luar Ping An Guo, dan mencibir, "Warna pink apa itu, kau lihat, aku menggunakan warna merah, begitu dewasa dan stabil, apa milikku bisa dibandingkan dengan hal kekanak-kanakan itu?"

     Jing Ji, "..."[]

Oct 25, 2020

44. Henpecked Male

 

    Yang lain tidak tahu bagaimana situasi keduanya sekarang.

     He Yu berdiri satu meter dari mereka, dan melihat dengan waspada, karena takut Ying Jiao tiba-tiba menjadi marah dan memukul kepalanya.

     Wu Weicheng memegang bola basket dengan konyol, melihat ini dan itu, tetapi tidak berani berbicara terlebih dahulu.

     Peng Chengcheng seperti biasanya, tidak mengatakan apa-apa.

     Sementara Zheng Que, si naif malah tertawa ngakak di belakang, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa yang kalian berdua lakukan? Bermain matryoshka?"

*boneka kayu susun asal Rusia

     Jing Ji menurunkan matanya dan tidak melihat ke arah Ying Jiao, telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdebar kencang dan dia hampir tidak bisa berbicara. Ada kekacauan dalam pikirannya, tapi tanpa sadar masih mementingkan Ying Jiao, "Aku, aku tidak akan bergerak ... untuk memblokir, kau cepat atasi."

     Mata Ying Jiao stagnan, dia tadinya memikirkan bagaimana berbagai macam respon Jing Ji di dalam hatinya.

     Apa mungkin malu, marah, atau bahkan jijik, tetapi dia tidak menyangka Jing Ji justru mengatakan hal seperti itu.

     Jing Ji sensitif, dan wajahnya sudah sangat tidak wajar saat ini, Ying Jiao mengira dia akan langsung bangkit dan ditendang olehnya, tetapi nyatanya ...

     Ying Jiao memejamkan mata, menetralkan deru detak jantungnya, tidak membiarkan dirinya terus kehilangan kesabaran.

     Bagaimana mungkin ada orang yang begitu pengertian dan baik seperti Jing Ji di dunia ini, membuatnya hari demi hari semakin menyukai Jing Ji.

     Dia menatap telinga merah Jing Ji dan menghela nafas di dalam hatinya.

     Si bodoh kecil ini, jika dia tidak bergerak, itu malah semakin tidak bisa mengatasi sesuatu dibawah sana.

     "Maaf," Ying Jiao mengusap kepalanya, "Aku membuatmu malu."

     "... Tidak," Jing Ji berbaring di dadanya, merasakan naik turun napas Ying Jiao yang tidak tenang, "Kau juga tidak sengaja."

     Ying Jiao menarik napas, tanpa daya: "Kau jangan menggodaku lagi."

     Ini benar-benar akan terbakar jika lebih lama lagi.

     “Hah?” Jing Ji bingung.

     “Bukan apa-apa.” Ying Jiao mencoba menguasai diri, mengangkat matanya untuk melihat ke arah He Yu, dan berkata dengan suara serak, “Lao He, lempar jaket seragam sekolahku.”

     “Oh oh oh.” He Yu secara sadar tanpa bertanya mengapa, dengan cepat melempar seragam sekolahnya.

     “Kau bangun dulu, jangan khawatir, tidak ada yang tahu.” Ying Jiao melepaskan pinggang Jing Ji dan merendahkan suaranya, “apa kau terluka?”

     “Tidak.” Jing Ji melihat sekeliling dengan tenang, dan bangkit sedikit demi sedikit dalam postur yang canggung untuk menutupi Ying Jiao.

     Ying Jiao merasa masam dan lembut di hati oleh gerakan lambat dan perhatiannya, ketika Jing Ji sudah bangkit, dia segera menutupi seragam sekolah di antara kedua kaki dan duduk dengan kaki lurus.

     Saat ini, Ying Jiao merasakan sakit yang luar biasa di siku dan punggungnya.

     Takut Jing Ji merasa bersalah, dia mencoba bersikap dengan tenang, menunggu reaksi menghilang dengan hampa.

     “Kakak Jiao, kau baik-baik saja?” Melihat dia cukup lama tidak bangun, He Yu menjadi cemas, “Apa kakimu sakit? Atau pinggangmu tidak berfungsi?”

     Siapa itu kakak Jiao-nya? Pisau ditikam ke lehernya pun tidak akan membuatnya takut. Sejak kapan dia tidak bisa bangun hanya karena jatuh?

     Tapi sepertinya kali ini benar-benar serius.

     "Mau aku membantumu berdiri?" Kata He Yu, mengulurkan tangannya.

     Ying Jiao meliriknya, menepis tangannya, dan mencibir, "Terima kasih, pinggangku baik-baik saja."

     Setelah dia selesai berbicara, dia menundukkan kepala dan mengikat lengan jaket seragam sekolah dibelakang agar bagian yang menggantung bisa menghalangi bagian depan.

     Ying Jiao berdiri, menarik Jing Ji dan berjalan pergi, "Kalian bermain saja, kami akan beristirahat sebentar."

     "Oh." He Yu mengangguk dengan tatapan kosong, kemudian menoleh ke Zheng Que, "Apa terjadi sesuatu yang tidak kita ketahui barusan?"

     Zheng Que menggelengkan kepalanya dengan bingung, "aku tidak tahu."

     “Lupakan, terserah mereka saja.” He Yu mengambil bola basket dari Wu Weicheng dan memantulkan dua kali di tanah, “Ayo, ayo lanjutkan.”

     Ditepi lapangan, reaksi fisiologis Ying Jiao telah mereda, dia melepas seragam sekolahnya dan hendak memakainya, namun Jing Ji menghentikannya.

     "Kenapa?"

     Jing Ji mengambil jaket seragam dari tangannya, "Tutup matamu."

     “Apa yang kau lakukan?” Ying Jiao meliriknya, kemudian menyeringai, “Ingin mengambil kesempatan untuk menciumku secara diam-diam?”

     Dia menundukkan kepalanya, mendekat di depan wajah Jing Ji, "melihat bagaimana hubungan kita berdua. Jika ingin berciuman, kau tidak perlu diam-diam, aku ..."

     Jing Ji mengulurkan tangannya untuk menutupi mulutnya, dan berkata dengan tenang, "Biarkan aku melihat lukamu."

     Ying Jiao tercengang, reflek menutup matanya dengan patuh.

     Jing Ji dengan hati-hati mendorong lengan sweternya.

     Ketika jatuh ke tanah, Ying Jiao menopang dengan sikunya. Kedua sikunya telah patah saat ini, dan mengeluarkan darah tanpa henti. Untungnya, dia mengenakan sweter hitam hari ini, jika tidak, dia akan pingsan setelah melihat darah.

     Siku saja sudah seperti ini, bagaimana dengan badannya?

     Tiba-tiba Jing Ji tidak berani untuk melihat lebih jauh lagi.

     "Tidak apa-apa," Ying Jiao tahu bagaimana cederanya. Setelah cukup lama tidak mendapat respon, dia menebak Jing Jing pasti merasa bersalah, dan berkata dengan acuh tak acuh, "sebagai pria, itu hal wajar jika terluka."

     Dia segera menurunkan lengan sweternya dan membuka matanya, "Oke, jangan dilihat. Cedera kecil ini akan sembuh dalam beberapa hari."

     Tiba-tiba Jing Ji berdiri, mengambil tas sekolahnya yang tergantung di palang horizontal, "Ayo pergi ke klinik sekolah."

     Ying Jiao tersenyum, "Tidak perlu, ini hanya masalah kecil."

     Bel sekolah berbunyi.

     Ying Jiao melanjutkan, "Kau dengar, kelas selesai, kau akan ketinggalan kelas lagi. Setelah ini adalah kelas matematika."

     Jing Ji tidak berbicara, tetapi menatapnya tanpa bergerak.

     Ketika seperti ini, Jing Ji terlihat sedikit dingin, dan orang-orang yang tidak mengenalnya secara tidak sadar akan mengambil jalan memutar jika berpapasan. Namun didepan Ying Jiao, dia mudah tersipu, lembut dan menggemaskan, membuatnya ingin memeluk dan menciumnya.

     Siapa yang bisa tahan?

     Dalam beberapa detik, Ying Jiao berkompromi, "Oke, aku mendengarkanmu."

     Setelah menerima jawabannya, Jing Ji mengangkat kakinya dan berjalan ke depan, begitu dia melangkah, tas sekolahnya ditangkap oleh Ying Jiao dari belakang.

     "Aku akan membawanya."

     Jing Ji melihat tangannya dengan ragu-ragu.

     “Ini hanya jatuh, aku tidak selemah itu.” Ying Jiao mengambil alih tas sekolah Jing Ji dan menggantung ke bahunya, menggerakkan tangannya dengan kuat, dan tersenyum, “Jangankan membawa tas sekolah, menggendongmu sampai ke klinik sekolah pun aku bisa. Mau mencoba?"

     Jing Ji berhenti, detak jantung yang baru saja tenang mulai berdebar kencang.

     Dia mengabaikan Ying Jiao, mempercepat langkahnya menuju klinik sekolah.

     Ying Jiao melihat punggungnya yang tergesa-gesa, tersenyum, dan mengejarnya.

°°°


     Akibat bentuk tubuh He Yu, saat Ying Jiao memeluk Jing Ji dan jatuh, benturannya sangat kuat, dan terluka parah.

     Selain siku, juga terdapat goresan besar di punggung, dan darah di sekitarnya terlihat sangat menakutkan.

     "Ini bukan luka kecil," dokter sekolah membersihkan lukanya dengan bola kapas yodium, dia menghela nafas, "benturan keras ini hampir membuat dagingmu hancur."

     Ying Jiao melihat Jing Ji yang menurunkan mata, tidak berkata apa-apa, dia mengerutkan kening, dan sedikit marah pada pembicaraan dokter sekolah.

     "Ini bukan masalah besar," tekan Ying Jiao sambil menarik Jing Ji duduk di sebelahnya, tidak membiarkan dia melihat luka di punggungnya, dan dengan sengaja mengubah topik pembicaraan, "Aku belum sempat bertanya, apakah ujiannya berjalan dengan baik?"

     "Sangat baik," jawab Jing Ji sederhana, mengambil kain katun medis di sebelahnya dan berkata, "Tutup matamu."

     Ying Jiao tertawa, "Tidak perlu dibalut ..."

     “Aku mau melakukannya.” Jing Ji bersikeras.

     Ying Jiao tinggal sendiri, bagaimana jika dia pingsan karena tidak sengaja melihat lukanya?

     Tak berdaya, Ying Jiao hanya bisa memejamkan mata dan membiarkannya Jing Ji membalut sikunya.

     Luka dipunggung belum selesai ditangani, bel sekolah kembali berbunyi.

     “Aku akan meminta He Yu untuk izin.” Ying Jiao mengangkat ponsel, bersamaan dengan pesan dari He Yu muncul di layar, menanyakan di mana mereka berdua dan mengapa belum kembali.

     "Ini kebetulan." Ying Jiao membuka kunci ponsel dan mengklik grup WeChat——

     [ Minta ijin pada Lao Liu untuk kami berdua. Kami akan kembali dalam sepuluh menit. ]

     Disisi lain, tangan He Yu gemetar menerima pesan itu, merasa sangat bersalah.

     Apa situasi Ying Jiao sangat serius?

     Orang yang tidak pernah mau masuk klinik sekolah itu kini pergi kesana ...

     Peng Chengcheng [ Apa yang terjadi? ]

     He Jia Songong [ Apa kau baik-baik saja kakak Jiao? ]

     Di ruang klinik sekolah, Jing Ji dengan hati-hati membantu Ying Jiao merapikan kembali lengan sweter yang dia gulung, kemudian mengikuti kata dokter sekolah untuk mengambil obat dilaci meja.

     Ying Jiao melihat Jing Ji menyibukkan dirinya untuknya, dalam suasana hati yang baik, dan berpikir bahwa meja kecil dan bantet disamping tempat tidur di ruang klinik sekolah itu sangat uwu.

     Dia melirik ponsel, pesan digrup terus merentet di layar.

     Ying Jiao sedang tidak ingin memanipulasi mereka, tetapi He Yu dan lainnya terlalu kepo, dan masih terus bertanya.

     Ying Jiao menghela napas dan mengetik, jangan heran dia melakukannya.

     [ Tidak serius, hanya luka ringan. ]

     He Yu seketika berlinang air mata.

     Walaupun Kakak Jiao ini suka membuat emosi, tapi dia begitu tulus pada adik-adiknya.

     Luka ringan? Dipikir He Yu masih belum mengenalnya apa? Seseorang seperti Ying Jiao yang pernah mengalami demam tinggi 39 derajat bahkan menolak untuk pergi ke rumah sakit, apakah dia mau masuk begitu saja ke klinik sekolah hanya karena luka ringan?

     Kakak Jiao pasti tidak ingin membuatnya cemas, jadi berkata begitu dengan sengaja.

     He Yu menyedot hidungnya dan hendak menjawab namun pesan baru dari Ying Jiao datang——

     [ Jing Ji khawatir, dan bersikeras membawaku kesini. ]

     [ Tidak ada pilihan, aku hanya bisa mengikuti kemauannya. ]

     [ Aku sarankan, kalian jangan berkencan dimasa depan. ]

     [ Ketika berkencan, kalian mendapatkan kebahagiaan sekaligus juga takut kehilangan. ]

     He Yu, Zheng Que, Peng Chengcheng, "..."

     He Yu mengertakkan gigi, ingin menusuk dirinya sendiri sedetik yang lalu.

     Apanya yang tergerak! Mengapa Lao Hooligan ini tidak mati saja sekarang?!

     Kepalanya pusing karena amarah, dan bersiap meletakkan ponsel, namun pesan baru datang lagi dari Ying Jiao——

     [ Tapi untungnya, ketika datang ke klinik sekolah kali ini, aku mengetahui bahwa aku sakit. ]

     [ Penyakit yang tidak akan pernah sembuh. ]

     He Yu sudah bisa melihat maksudnya, haha, tidak membalas.

*Haha, tertawa tapi sering mengungkapkan sarkasme dan penghinaan sambil menyangkal pihak lain.

     Penyakit apa? Sakit gila?

     Namun, Zheng Que ingat makan atau tidak, jadi dia segera melanjutkan percakapan.

*orang yang tidak belajar dari masa lalu., dalam artian merendahkan.

     Bukan Zheng Que [ Kakak Jiao, apa kau baik-baik saja? sakit apa? ]

     Ying Jiao hanya menunggu kata-kata ini dan segera menjawab——

     [ Henpecked Male. ]

*Suami yang terlalu dikontrol istri. Suami takut istri.

     He Yu, Zheng Que, dan Peng Chengcheng, "..."

     He Yu berbalik marah pada Zheng Que, "Siapa yang menyuruhmu lancang!"

     Zheng Que yang naif, menggelengkan kepalanya dan mendesah, "aku tidak begitu lancang."

     Peng Chengcheng terbatuk keras di samping dan menendang bangku He Yu, tapi He Yu dan Zheng Que yang dimanipulasi oleh Ying Jiao sekarang sedikit mengigau. Tidak menyadari situasi sama sekali. He Yu mengumpat, "Ying Jiao si anjing ini!"

     Suara laki-laki yang seperti tersenyum namun bukan senyuman (idiom) terdengar di telinganya, "Apa yang terjadi dengan Ying Jiao?"

     He Yu tidak menoleh ke belakang dan berkata, "Dia dan Jing Ji pergi ke klinik sekolah!"

     Suara laki-laki itu bertanya lagi, "Apa yang terjadi padanya?"

     He Yu berteriak tidak sabar, "Henpecked Male! Henpecked Male! Dia bilang dia menderita Henpecked Male! Kau terus saja bertanya ..."

     He Yu mengangkat matanya, suaranya berhenti tiba-tiba, dia berdiri dengan gemetar, "Gu-- guru Liu ... ?"[]


Oct 23, 2020

43. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya

    Pukul 07.10, bus eksperimental provinsi tiba di Universitas Tunghai.

     Pukul 7.30, Jing Ji memasukkan tas sekolah ke dalam bus sesuai dengan instruksi Guru Zhao, dan berjalan ke ruang ujian dengan hanya membawa perlengkapan yang diperlukan.

     Tepat pukul delapan, kualifikasi Olimpiade Matematika Nasional secara resmi dimulai.

     Setelah mendapatkan kertas ujian, Jing Ji pertama-tama mengisi identitas, kemudian matanya menyapu dari soal pertama sampai akhir seperti biasa untuk memahami kesulitan ujian.

     Skor penuhnya adalah 120 poin, tingkat kesulitannya hanya sedikit lebih tinggi dari ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi Jing Ji kurang beruntung, dia menemukan teori bilangan dalam pertanyaan.

     Teori bilangan bisa dikatakan menjadi batu sandungan, banyak kontestan yang akan menyerah begitu saja ketika melihat teori bilangan, memilih menghabiskan waktu untuk soal lainnya.

     Dibandingkan dengan wajah suram kontestan lain di ruang pemeriksaan, Jing Ji cukup tenang. Teori bilangan juga sulit baginya, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi.

     Dia menatap jam dinding, mengambil pena dan mulai menjawab pertanyaan itu.  Selama cukup waktu yang disisihkan, dia merasa bisa menyelesaikan pertanyaan ini.

     Waktu untuk lomba matematika sangat ketat, walaupun jumlah soal sepertinya tidak banyak, namun karena sulitnya soal tersebut maka waktu yang dihabiskan juga sama.

     Jing Ji telah mencari banyak topik kompetisi sebelumnya, dan sudah mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap pertanyaan. Dia dengan tenang menyelesaikan mengisi kekosongan, melewatkan teori bilangan, dan mengerjakan soal lain terlebih dahulu.

     Pada percobaan pertama, jawabannya lancar, dan pada akhirnya ia menuliskan jawaban tersebut dengan sempurna pada teori bilangan.

     Namun dalam kualifikasi, yang terpenting bukanlah uji coba pertama, melainkan uji coba kedua dengan total 180 poin.

     Meski banyak nilai pada tes kedua, sebenarnya hanya ada empat soal.

     Tiap soal mempunyai kesulitan dengan waktu yang ketat, tanpa kekuatan yang cukup, sama sekali tidak mungkin untuk mengharapkan keberuntungan besar.

     Sebelum datang, Guru Zhao sudah memberi tahu mereka. Nilai setiap soal pada tes kedua sangat tinggi, sehingga selama langkah-langkah pemecahan masalah benar, mereka akan diberikan poin, mereka wajib menulis proses pemecahan masalah secara lengkap.

     Jing Ji mengingat kalimat ini, berpikir sejenak, mengambil pena dan hendak menghitung rumus, tiba-tiba pelipisnya sakit tanpa peringatan.

     Perasaan ini terlalu familiar. Saat Jing Ji mengetahuinya, dia langsung mengerti bahwa ini adalah target jahat dari protagonis di dalam buku.

     Tapi sebelumnya, jelas bahwa dia hanya akan terluka saat melihat Qiao Anyan, kenapa ini terjadi sekarang?

     Rumus soal yang baru saja dipikirkan Jing Ji di benaknya menghilang seketika, ujung jarinya bergetar, dia menutup mata, dan mencoba menenangkan dirinya.

     Rasa sakit ini tidak berarti apa-apa, dia sering mendapat lebih menyakitkan. Waktu kecil dia sering dianiaya pengurus panti, tetapi dia berusaha keras bertahan di panti asuhan dan menjadi kebanggaan panti asuhan.

     Tidak ada yang tidak bisa dia lalui.

     Dalam delapan belas tahun hidupnya, Jing Ji telah mengalami pengabaian, kekerasan, ejekan, dan hal suram lainnya yang belum pernah dilalui orang normal, sehingga dia telah memahami hal ini sejak usia yang sangat muda--

     Matamu akan menipumu, telingamu akan menipumu. Pengalamanmu akan menipumi, imajinasimu akan menipumu, tetapi matematika tidak akan menipumu.

     Selama bertahun-tahun, Jing Ji telah bekerja keras untuk belajar dan mencoba yang terbaik untuk mengubah takdirnya, Keyakinan ini tidak berubah bahkan di dunia lain.

     Matematika adalah rekan terdekatnya.

     Beri dia harapan, beri dia kepercayaan diri, beri dia masa depan yang cerah, hibur dia dan temani dia saat dia depresi dan panik.

     Semua emosi yang tidak bisa dia ceritakan dapat dilepaskan dengan matematika.

     Tidak ada yang bisa main-mainnya selama dia tengah mengerjakan soal matematikanya, bahkan protagonis dunia sekalipun.

     Jing Ji menghela napas perlahan, menahan sakit kepala yang menyakitkan, dan mulai membaca pertanyaan lagi.

     Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah semacam ini untuk saat ini, tetapi pada hari hasil ujian kemarin, perhatian orang lain dapat menghilangkan sakit kepalanya, dan itu memberinya ide.

     Selama dia terus berada dipuncak dan mendapatkan pengakuan lebih banyak orang, akankah suatu hari pengekangan Qiao Anyan padanya akan gagal?

     Jing Ji menggambar pola geometris padat di atas kertas dengan susah payah, menenangkan diri dan terus memikirkan ide-idenya.

     Ketika pikirannya secara bertahap terkonsentrasi, dampak sakit kepalanya menjadi semakin berkurang, dan pada akhirnya, itu bahkan dapat diabaikan.

     Pada saat yang sama, di ruang kelas 11, Qiao Anyan melihat antarmuka game seluler dengan tidak percaya dan bergumam, "Apa, apa yang terjadi?"

     Wajah teman satu mejanya juga penuh dengan keterkejutan, "Kenapa kau sangat tidak beruntung hari ini? Jelas, kita bisa menarik hadiah setiap saat sebelumnya. Kita bahkan mendapat begitu banyak emas, tetapi kenapa kali ini tidak mendapatkan apa-apa?! Apa yang terjadi?!"

     “Entahlah.” Qiao Anyan mengerutkan kening tidak sabar.

     Setelah terlahir kembali, dia merasa semakin tidak bahagia.

     Jari emasnya selalu gagal dari waktu ke waktu, bahkan keberuntungan yang menyertainya juga hilang sekarang.

     Dia melempar ponsel ke laci meja dengan kesal, dan merosot dengan ekspresi suram.

     Apa yang salah?

     Di tempat-tempat yang tidak terlihat dengan mata telanjang, keberuntungan yang telah dirampas secara paksa oleh Qiao Anyan dari orang lain untuk membalikkan kehidupannya di kehidupan sebelumnya menghilang sedikit demi sedikit.

°°°


     Di Universitas Tunghai, segera setelah Jing Ji menulis nomor terakhir di lembar jawaban, bel serah terima berbunyi.

     Kedua pengawas langsung berdiri, dengan ekspresi serius, menyuruh mereka berhenti menjawab pertanyaan, dan mengumpulkan kertas secepat mungkin.

     Jing Ji mengemasi barang-barangnya, mengikuti kerumunan keluar dari kelas, dan datang ke tempat berkumpul SMA percobaan provinsi.

     Zhou Chao telah tiba lebih dulu. Dia sangat frustrasi. "Sudah berakhir, aku sudah tamat! Pertanyaannya terlalu sulit, kurasa aku bahkan tidak bisa lolos kualifikasi!"

     "Tidak." Jing Ji menghiburnya, "Aku juga merasa sulit, jangan terlalu banyak berpikir."

     "Wish." Zhou Chao menghela nafas, dan saat berjalan di dalam bus, berkata, "Ibuku sudah memperingakanku sebelumnya, mengatakan ini adalah terakhir kalinya dia mengizinkanku berpartisipasi dalam sebuah kompetisi."

*Wish disini, kondisi mental positif bagi seseorang dapat terus melangkah maju, berpikir bahwa ia masih dapat mencapai tujuan.

     “Ah?” Jing Ji tidak begitu mengerti.

     "Dia memintaku untuk fokus pada buku teks di tahun ketiga nanti," Zhou Chao menemukan tempat untuk duduk, menoleh dan berkata, "ibuku khawatir kompetisi akan menunda ujian masuk perguruan tinggiku."

     Memang, jika tidak bisa mendapatkan hasil di kedua kompetisi, lebih baik menyerah dan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

     Jing Ji tidak bisa membujuknya kali ini, jadi dia hanya bisa diam.

     Disisi lain, Zhou Chao memang mengharap tanggapan Jing Ji. Dia melirik Guru Zhao yang dikelilingi oleh beberapa siswa, dan berbisik di telinga Jing Ji, “aku takut Guru Zhao akan datang dan bertanya bagaimana hasil ujianku. Aku akan berpura-pura tidur dulu, jangan panggil aku."

     Jing Ji tersenyum dan mengangguk, "Oke."

     Jing Ji juga sedikit lelah, pertarungan melawan keinginan dunia menghabiskan seluruh energinya.

     Dia hampir tidak bersemangat, mengeluarkan ponselnya dan melihatnya. Ada banyak pesan WeChat yang datang dari Ying Jiao.

     [ Tugas fisika selesai *Gambar* ]

     [ Menunggumu kembali. ]

     [ Aku bawakan kau dessert kelapa. Aku menaruhnya di laci mejamu. ]

     [ Aku tidak tidur siang, sekarang mengerjakan beberapa soal matematika. ]

     [ Apa kau sudah menyelesaikan ujian? ]

     [ Hubungi kakak jika sudah selesai ujian. ]

     Senyum muncul di wajah Jing Ji tanpa sadar, mengetik, membalas pesan ke Ying Jiao——

     [ Sudah selesai ujian, sekarang otw kembali ke sekolah. ]

     Melihat mata Guru Zhao yang terus mengawasi dari waktu ke waktu, dia dengan cepat meletakkan ponselnya kembali di tas sekolah, menopang tangannya dan tertidur dengan bersandar di sandaran kursi dengan nyaman.

     “Kau benar-benar bisa tidur.” Zhou Chao mendorongnya hingga bangun, menunjuk ke luar dan berkata, “ayo pergi makan ke kafetaria kedua.”

     "Kafetaria Kedua?"

     "Ya." Zhou Chao mengangguk, "Guru Zhao mengatakan bahwa sekolah akan mengurus makan siang dan kantin kedua dikontrak secara pribadi, jadi kita bisa pergi ke sana."

     “Oke.” Jing Ji merasa jauh lebih nyaman setelah tidur siang. Dia membawa tas sekolahnya dan pergi ke kantin kedua bersama Zhou Chao.

     Tahu bahwa mereka semua adalah siswa yang dihargai oleh pimpinan sekolah, Stas di kantin kedua tidak berani menjadi monster, dan makanan yang mereka sajikan sangat normal.

     Jing Ji mendapat seporsi nasi babi goreng kembang kol, plus dua buah jeruk.

     Rasanya memang tidak seperti makanan kantin biasanya, tetapi porsinya lebih dari cukup. Jing Ji makan sepiring penuh sampai habis, dan kemudian merasa hidup lagi.

     "Ayo kembali," Zhou Chao meletakkan sendok hampir bersamaan dengan Jing Ji. Dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan dan berdiri dengan ekspresi menghadapi kematian dengan ketenangan hati (idiom), "Kita harus menghadapi apa yang harus dihadapi¹."

¹menjadi optimis tentang apa yang akan terjadi, membiarkan arus mengalir dan menjadi pandai menerima.

     Keduanya membawa piring-piring itu ke tempat daur ulang dan berjalan ke ruang kelas bersama.

     Saat melewati lapangan basket, tiba-tiba teriakan terdengar tak jauh dari situ, "Jing Ji!"

     Ying Jiao melempar bola basket di tangan dan berjalan ke arahnya, "sudah kembali?"

     Jing Ji memandang orang-orang yang dikenalnya di lapangan basket, dan kemudian menyadari bahwa sekarang waktunya kelas pendidikan jasmani.

     Zhou Chao tidak bisa menahan rasa iri, sangat disayangkan bahwa kelas pendidikan jasmani di kelas luar biasa mereka telah dibatalkan sejak lama, dan mereka hanya dapat kembali ke kelas dengan ekspresi pahit.

     Ying Jiao mengambil alih tas sekolah Jing Ji secara alami dan bertanya kepadanya, "Apa kau sudah makan?"

     "Ya." Jing Ji mengangguk, "Aku makan di kafetaria kedua."

     "Kafetaria Kedua? Kenapa makan disana?" Ying Jiao mengerutkan kening dan menyentuh perut Jing Ji, "Apa kau kenyang?"

     “Aku kenyang.” Jing Ji mundur, berdiri di dekat rak bola basket, menyapa beberapa orang di Kelas 7, dan berbalik lanjut mengobrol dengannya, “Sekolah mengurus makanan, dan hanya bisa makan di kafetaria kedua, rasanya cukup enak."

     Cukup enak?

     Ying Jiao tidak bisa menahan tawa, seolah dia belum pernah makan makanan di kantin kedua.

     Dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Jing Ji, dan berkata dengan lembut, "cukup enak karena di disediakan makan?"

     Jing Ji tertawa, melihat tali tas sekolahnya dibahu Ying Jiao miring ke samping, dia mengulurkan tangan untuk mengaturnya lebih rapi, "Aku tidak pilih-pilih makanan."

     Hati Ying Jiao dilembutkan oleh tawanya. Baru saja hendak mengatakan sesuatu, Zheng Que tiba-tiba berteriak dari belakang dengan suara nyaring, "Kakak Jiao, kau masih mau main lagi tidak? Ayo dengan Jing Ji!"

     Mata Jing Ji langsung berbinar.

     Tidak ada anak laki-laki yang tidak menyukai jenis olahraga yang hangat seperti ini. Di dunia sebelumnya, dia terkadang sendirian di lapangan basket.  Setelah datang ke sini, secara tidak sengaja, dia bahkan belum menyentuh bola basket.

     Ying Jiao memperhatikan pandangannya dan bertanya, "Ingin bermain?

     Jing Ji mengangguk.

     "Jika kau ingin bermain, tunggu sepuluh menit lagi," Ying Jiao membuka tutup botolnya dan meminum cola, "Tidak baik untuk perutmu, kau baru selesai makan."

     Jing Ji mendengarkannya, "Oke."

     Sepuluh menit kemudian, Ying Jiao pergi ke tengah lapangan bersama Jing Ji.

     Beberapa orang hanya bermain dengan santai, tidak ketat dalam permainan lima lawan lima seperti dalam permainan bola biasa. Jika seseorang bergabung, masih dapat terus bermain walau jumlah lawan tidak seimbang.

     Hanya saja Ying Jiao memiliki skill yang bagus, dan Zheng Que sangat senang dengannya di tim utama, jadi dia secara khusus mengajaknya bergabung.

     Ying Jiao mencetak tiga gol berturut-turut dan Jing Ji juga mencetak satu. He Yu sangat marah dengan mereka berdua. Dia membuang jaket seragam sekolahnya dan menggosok tangannya, "Ayo, lanjutkan!"

     Ying Jiao menatapnya, lalu mengoper bola ke Jing Ji.

     Zheng Que, yang sudah menggosok kepalan tangan dan mengusap telapak tangan (idiom): bersemangat untuk beraksi  dan menunggu untuk menangkap bola, "..."

     Kasihan, dalam bermain bola basket pun juga tidak dianggap!

     Jing Ji bergerak menuju ring basket sambil menggiring bola. He Yu yang sadar diri tidak bisa menahan Ying Jiao, menyerahkan tugas itu ke Peng Chengcheng dan Wu Weicheng, dan memblokir bagian depan Jing Ji.

     Dia sangat besar sehingga dia hampir bisa memblokir pergerakan Jing Ji sepenuhnya. Jing Ji mengelak dari kiri dan kanan namun tidak berhasil, melompat dan mencoba mengoper bola ke Ying Jiao yang paling dekat dengannya.

     He Yu tanpa sadar juga melompat dan mengulurkan tangan untuk memblokir.

     Sayang sekali dia melebih-lebihkan keseimbangannya, dan alih-alih memblokir bola, dia malah membentur Jing Ji.

     Tubuh kecil Jing Ji tidak bisa menahan benturannya, dia terhuyung beberapa langkah dalam sekejap, dan hampir jatuh.

     Pada saat bersamaan, Ying Jiao bergegas dan untuk meraih Jing Ji dengan kuat.

     Namun karena kehilangan keseimbangan, keduanya jatuh bersama.

     Pada saat dia akan mendarat, otak Ying Jiao belum bereaksi, tangannya sudah memeluk Jing Ji, melindunginya dengan erat di pelukannya, dan membuat bantalan yang kokoh untuk Jing Ji.

     Melihat bahwa dia dalam masalah, He Yu berjalan dengan kaki gemetar ke arah mereka, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa kalian.. kalian berdua baik-baik saja?"

     “Aku baik-baik saja.” Jing Ji menenangkan diri sejenak sebelum menjawabnya. Dia dilindungi dengan baik oleh Ying Jiao jadi tidak terluka sama sekali.

     “Ying Jiao, apa kau terluka?" Jing Ji mengangkat kepalanya dari pelukan Ying Jiao, menopang tangannya ke tanah, dan hendak bangun, tetapi tiba-tiba merasakan sesuatu yang salah.

     Tubuhnya membeku dalam sekejap, membuat kepalanya tidak bergerak, wajahnya perlahan semakin hangat ...

     Ying Jiao benar-benar tidak memikirkan apa-apa pada awalnya, melihat Jing Ji akan jatuh, dia bergegas dengan instingnya.

     Namun, ketika tubuh keduanya saling bergesekan, semuanya mulai menjadi tidak beres.

     Jing Ji baru saja berolahraga dengan penuh semangat, dan jatuh dalam pelukannya, suara napas Jing Ji terengah-engah dan menyapu lehernya, hampir menggoda secara ambigu.

     Seorang remaja laki-laki berumur tujuh belas atau delapan belas tahun, sangat energik, dan memeluk orang yang disukainya dengan sepenuh hati dalam pelukannya, Ying Jiao bahkan tidak bisa merasakan sakit, seketika langsung bereaksi.

     Pikiran Ying Jiao mendadak kosong, melupakan situasi disekitarnya.

     Dia hanya ingin dengan gila menekan Jing Ji di bawah tubuhnya, merobek pakaiannya hingga terlepas, membelenggu tangannya, menggigitnya dengan keras, menciumnya, melakukan hal lebih berlebihan padanya ...

     "Kau ..." Jing Ji juga laki-laki, tentu saja dia tahu apa yang terjadi pada Ying Jiao.

     Jing Ji merasa canggung dan malu, antara mau bangun atau tidak, dan hanya bisa membeku, "Bagaimana kau bisa ..."

     Segala sesuatu di sekitar telah menjadi papan set, dan tampaknya hanya keduanya yang tersisa didunia ini.

     Jakun Ying Jiao bergulir beberapa kali. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya, "Aku kenapa?"[]


43. Aku Merasa Tidak Senang

 

     Dia mencium mulutku.

     Ciuman pertamaku dicuri ...

     Aku tidak tahu berapa kali pria ini mencuri ... ciuman pertamaku, tapi setidaknya dia harus memberitahuku agar kami bisa menikmatinya bersama, ya kan?

     Ini sangat tidak nyaman, karena ini ciuman, bagaimanapun juga dua belah pihak seharusnya saling memandang dengan penuh kasih, berpelukan mesra dan berciuman. Apa ini? Kau bersenang-senang sementara aku harus berpura-pura menjadi aktor, berbaring kaku seperti mayat.

     Berpura-pura tidak tahu apa-apa sebenarnya adalah ujian akting.

     Hati pahit.

     Manis di mulut.

     Ji Lang mungkin sangat suka menciumku hingga lupa diri. Dia menggunakan sedikit kekuatan di mulutnya, dan bahkan ingin membuka gigiku dengan lidahnya. Tepat ketika aku berpikir untuk membuka mulut, Ji Lang berhenti. Dia meremas pantatku dengan keras, dengan enggan dan hati-hati menggulingkanku kembali ke atas kasur.

     Kembali ke kasur.

     Hm, kembali ke kasur.

     "..."

     Ya, dia meninggalkanku setelah selesai.

     Orang bodoh ini, tidak peduli seberapa hati-hati dia, dia tetaplah bodoh.

     Aku sangat marah karena dia benar-benar hanya memuaskan dirinya sendiri ... Sulit dipercaya, penutup mata masih ada di mataku, tetapi aku tahu bahwa ada dinding di depanku, dan dia telah pergi.

     Dia telah menggodaku berkali-kali di pagi hari dan dia pergi begitu saja. Aku merasa seperti boneka kain yang baru saja dirusak. Sangat menyedihkan.

     Ji Lang adalah anjing yang konyol.

     Begitu dia memasuki kamar mandi, aku mengangkat penutup mata, mengambil ponsel dan mengklik postinganku.

     OP [ Jangan ekspos aku, aku hanya punya satu anjing, dan yang lainnya bodoh, itu saja. ]

     2 [ Sial, siapa, apakah OP melepas rompinya sendiri? 😯 ]

*membongkar penyamaran

     3 [ Ini pasti Xueba sangat kesal dengan OP idiot tetangga sebelah sehingga dia mengambil inisiatif untuk melepas rompinya. 😯 ]

     4 [ Melepas rompi dipagi buta, hahahaha, 😱 ]

     5 [ Menunggu suaminya untuk mengenali satu sama lain, memanggil OP idiot tetangga sebelah! 🥳 ]

     Mengenali kentut, aku tidak ingin mengenalinya lagi. Banyak yang online jam lima pagi ini ... Apakah semua orang bangun pagi-pagi atau tidak tidur?  Lupakan, aku tidak terlalu peduli.

     Yang paling penting adalah Ji Lang tidak menggodaku dengan kata-kata, tapi secara fisik ... bagaimana aku bisa tenang?

     Aku benar-benar tidak mengerti, kepalaku besar.

     Tidak mengherankan jika Ji Lang tinggal di kamar mandi dalam waktu yang sangat lama. Dia pasti tengah menuntaskan hasratnya. Pria yang hanya peduli dengan perasaannya sendiri, menurutku dia bukan pria menantu idaman lagi.

     Ketika Ji Lang keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, langkah kakinya membeku, terkejut melihatku duduk di samping tempat tidur tanpa ekspresi.

     Ji Lang, "Mengapa kau ... bangun pagi-pagi sekali hari ini?"

     Akting aktor Ji kali ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, aku bisa merasakan kegugupannya, pria yang diam-diam menciumku.

     Aku menyeka mulut dengan punggung tangan dan berdiri, berjalan ke kamar mandi, "Entahlah, aku merasa seperti tersengat tawon."

     Ji Lang, "..."

     Dia melihat bahwa aku juga bereaksi, celanaku yang mengembung terlihat jelas, aku mungkin merasa sangat malu sebelumnya, tetapi hari ini, aku tidak takut.

     Orang yang mencuri ciuman dan tidak berani mengakuinya, itu bukan aku, dia benar-benar kocak.

     Ketika aku sedang membersihkan diri, Ji Lang mengenakan pakaian dan berkeliling di ruang tamu, merasa cemas yang tak bisa dijelaskan. Apakah dia tahu bahwa aku menemukan perbuatan jahatnya dan sedang memeriksanya?

     Tapi dia tidak akan mengatakan jika aku tidak bertanya, jadi biarkan hatinya menderita sendiri.

     Ji Lang, "kau tinggalkan ponselmu."

     Aku memegang tas sekolah di satu tangan, dan Ji Lang menghentikanku ketika aku hendak mengambil ponsel di atas meja.

     Tetapi jelas melihat bahwa dia juga membawa ponselnya, dan itu baru dimasukkan ke dalam saku celananya. Aku bertanya, "Kenapa? Bukankah kau juga membawanya?"

     “kau mau disamakan sepertiku?” Ji Lang melihat bahwa aku masih memegang ponsel dan tidak melepaskan, dia begitu cemas, dia merebut ponselku dan menjejalkannya di bawah bantalnya, “aku akan membiarkan Lai Wenle mengawasimu. Jika kau berani bermain di sekolah sekali lagi, aku akan ..."

     "Akan apa?"

     "Aku akan ..." Ji Lang terjebak, dan mengucapkan kalimat yang tampaknya sangat memalukan untuk waktu yang lama, "Pokoknya, kau akan tahu nanti."

     Aku benar-benar tidak senang, "kau juga membawa ponsel, apa peringkatku lebih rendah darimu? Aku lebih baik darimu, bahkan jika aku bermain di ponsel ..."

     "Patuh, oke? Pekerja yang memasang treadmill hari ini akan menelepon jadi aku harus membawa ponsel."

     Ji Lang menarik ujung lain dari tali tas sekolahku dan membawaku ke pintu, karena takut aku akan mengambil ponselku lagi.

     Aku tidak menyangka Ji Lang menjadi siswa yang perhatian dengan nilai. Well, jangan menilai buku dari sampulnya, ya, seharusnya tidak melihat luarnya saja ...

     Lupakan, kalau tidak dibawa jangan dibawa, kalau bawa, aku akan refresh pos dalam tiga menit, dan mungkin akan kembali diceramahi Lao Cao.

     Aku berjalan di depan, Ji Lang mengunci pintu di belakang dan melompat turun tiga anak tangga untuk menyusulku, "Haruskah kita pergi ke rumahku untuk makan malam selama akhir pekan?"

     “Kenapa?” ​​Aku heran.

     Ji Lang menggaruk kepalanya, "Ibuku belajar banyak tentang masakan baru akhir-akhir ini. Ayo kita kembali dan rasakan bersama."

     "Entah, lihat nanti……"

     “Ngomong-ngomong, kalau kau tidak ke rumahku, Shao Mingan akan mengajakmu makan malam, tapi sebagai perbandingan antara kami berdua, jelas kau lebih banyak membantuku. Aku yang seharusnya mengundangmu, atau kau ingin pergi makan malam dengannya?” Ji Lang memiringkan kepalanya untuk menatapku.

     Apa ini, jelas seperti ancaman, mirip dengan pertanyaan siapa yang kau pilih, aku atau Shao Mingan.

     Tapi aku benar-benar tidak ingin makan dengan Shao Mingan.

     "Ya, tapi aku tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang tua, jadi aku takut keluargamu tersinggung."

     “Terlalu banyak berpikir, keluargaku selalu menghargai kultur orang lain jadi kau tidak perlu canggung.” kata Ji Lang dengan gembira.

     Hm... Apakah ini terlihat seperti proses yang harus dilalui sebelum seorang wanita memasuki rumah mertua?

     Namun, keluarga Ji Lang menghargai kultur orang lain ... Ini memperkuat gagasanku tentang tidak pernah terlalu tua untuk belajar.
  
*idiom: tidak ada batasan usia untuk terus belajar.

Ketika masih muda, belajar adalah untuk cita-cita dan stabilitas; ketika setengah baya, belajar adalah untuk menambah dan mengisi kembali jiwa yang kosong; ketika tua, belajar adalah suasana hati, perlahan menikmati, dan menikmati diri sendiri.

     Tiba di kelas, Lai Wenle menatapku dengan mata yang lebih tertarik dari sebelumnya.

     “Suatu saat kita tidak berada di meja yang sama lagi. Jika kau melihat teman satu mejamu seperti ini, kau akan dipukuli.” Aku memberi saran.

     “Tidak, aku akan terus mengikutimu dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya.” Lai Wenle mengerucutkan bibir tampak menggelikan.

     Aku, "……"

     Apakah Ji Lang pergi ke loteng untuk memasang treadmill di pagi atau sore hari? tidak tahu.

     Apa dia masih di kelas sekarang? tidak tahu.

     Apakah dia membalas posting tersebut?  tidak tahu.

     Apakah rompiku robek? tidak tahu.

     Lai Wenle menggoyangkan pakaianku ke depan dan ke belakang dengan kedua tangan, "Hao Yu, tolong, jangan terlalu linglung sepanjang hari, betapa menakutkan, Lao Cao mengira aku terlalu mempengaruhi pelajaranmu."

     "Aku tidak linglung, memangnya terlihat begitu?"

     “Siapapun yang memiliki mata dapat melihatnya, itu sangat jelas.” Lai Wenle mengangguk.

     "..." Dikatakan bahwa meskipun tidak menundukkan kepala untuk bermain dengan hal-hal lain selama kelas, guru dapat mengetahui apakah jau mendengarkan kelas atau hanya melamun. Sekarang tampaknya benar.

     Kekuatan magis yang luar biasa.

     Dengan linglung, aku menunggu sampai siang hari. Ji Lang menungguku di koridor. Katanya treadmill dipasang sore hari. Ome, aku sekali lagi linglung sepanjang sore.

     Ketika kembali pada siang hari, aku dengan cepat menghidupkan ponsel dan mengklik postingku.

     Seseorang telah berkomentar karena mengetahui postinganku.

     1 [ Aku bertanya, mengapa hidup begitu indah]

     2 [ ^, karena semua rompi gay dilepas. ]

     3 [ Kakak komen 2, kau tidak bisa berbicara dengan baik, jangan memalukan, berbicara tentang sesuatu yang bergizi, seperti masalah filosofis atau sesuatu. 😌 ]

     4 [ Ya, mari kita bicarakan, misalnya, OP idiot tetangga sebelah tahu tidak ya ada OP  tampan tengah menunggu untuk membuka rompinya. ]

     5 [ Tidak, aku ingin tahu hukuman seperti apa yang akan dijatuhkan kepada OP jika rompinya dilucuti oleh OP idiot tetangga sebelah. 😋 ]

     6 [ @ sleep in, @ sleep in, OP, mari kita bicara. ]

     7 [ OP, berapa umurmu tahun ini, kau bekerja di mana, dan berapa gaji bulananmuApakah ada peluang untuk promosi? Kau punya pacar? Sudahkah kau membeli lima asuransi dan satu dana perumahan*? Susu bubuk merek apa yang akan dikonsumsi anak-anakmu di masa depan]

*Lima asuransi sosial dan satu dana perumahan mengacu pada asuransi pensiun, asuransi kesehatan, asuransi pengangguran, asuransi kecelakaan kerja, asuransi bersalin, dan dana tabungan perumahan.

     8 [ Saudara diatas jangan maruk, biarkan aku bertanya pada OP, berapa umur pacarmu? Apa dia bodoh? Atau konyol? Atau idiot? ]

    9 [ Komen 8, jangan menakuti OP, dia mungkin akan tidak berani keluar. ]

     10 [ OP memposting setelah jam lima pagi, dan sekarang baru jam 10. Dia pasti tidak begitu sibuk, mengapa dia tidak membalas? ]

     11 [ Komen 10 itu bodoh, di mana OP benar-benar pergi bekerja? Dia seharusnya sedang mengerjakan soal sekarang😏 ]

     Hei, melepas rompi, dan krematorium sesudahnya.

     Aku tidak ingin membalas lagi, aku telah ditipu, dan kemudian klik ke kiriman Ji Lang untuk melihat.

     Dia memposting sekitar jam tujuh lewat pagi ini. Sepertinya dia telah menyia-nyiakan empat puluh menit lagi kelas mandiri awal. Pria bermuka dua serius yang tidak mengizinkanku membawa ponsel adalah cabul.

     OP [ Kemarin dengan saran semua orang. Aku memikirkannya. ]

     2 [ Ini pasti tidak berhasil, kalian bisa melihat bahwa dia bisa terus memposting sekarang. ]

     3 [ Aku mendukung sudut pandang pertama dari komen 2, tapi yang kedua tidak. Bahkan jika OP mengikuti saran, tangannya masih dapat digunakan, tidak akan mempengaruhi dia mengirim postingan. ]

     OP [ Setiap hari kalian kurang manis dari hari sebelumnya. *baba kecewa* ]

     5 [ Kami bukan lagi malaikat kecilmu. Bagaimanapun, cinta di hatiku telah berpindah, dan itu adalah OP yang rompinya telah dirobek. ]

     OP [ Aku tahu, Internet adalah seutas benang, bertemu adalah nasib, jangan memaksa, jangan memaksa, bagaimanapun, kalian memang bukan malaikat kecilku, tentu saja aku tahu. *Ayah tua itu meneteskan air mata sedih* ]

     7 [ Kata-kata patah apa ini, apakah kau datang dari jaman 1980-an? ]

     OP [ Aku sengaja melakukannya. Apakah kalian masih belum terbiasa dengan humorku? ]

     10 [ Aku sudah terbiasa. Haha, aku sedikit respek. Dengan kata lain, poin utama posting hari ini belum dibahas. ]

     OP [ *French Kiss* ]

     12 [ WTF, ciuman lidah? Aku mengerti! ]

     13 [ SemangatSilakan ambil gulungan tisu toilet. Terima kasih. ]

     Jantungku berdebar kencang, melihat Ji Lang langsung digiring ke postinganku oleh semua orang, tapi karena bahasa online-nya terlalu terbelakang, semua orang mengeluh dan lupa tentang hal itu.

     Ji Lang juga benar-benar mulut besar, aku bahkan tidak membuka mulut dan dia dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa itu ciuman lidah ... Aku benar-benar tidak berpikir dia bermuka tebal dan suka membual, aku memandang rendah dirinya jauh di dalam jiwaku.

°°°


     Pada sore hari ketika kelas kosong, aku pergi ke koridor untuk mengambil air dan melihat Liu Yuanji dan Xu Wenqian tengah berdebat ditempat penyimpanan air. Aku tidak peduli dengan mereka, mengambil segelas air biasa dan bersiap untuk pergi.

     Lalu aku mendengar Liu Yuanji memasang mulut loudspeaker besar dan berkata, "Apa yang kau suka darinya! Sialan! Tidak bisakah kau melihatnya seperti burung! Dia dan Ji Lang hampir seperti bayi siam, apa yang kau pikirkan? Xu Wenqian!"

     "..."

     Aku tidak ingin menghajarnya. Jika aku memukulnya, Ji Lang yang akan dihukum karena membelaku. Aku hanya ingin dia lulus dengan tenang.

     Hanya saja tidak tahu berapa banyak orang seperti Liu Yuanji yang akan bertemu di masa mendatang. Dia tidak mengerti juga masih harus menyebarkan rumor tentangmu. Meskipun kau dan dia adalah dua garis paralel, dia akan tetap membuatmu jijik. Orang seperti ini mungkin dilawan seumur hidup, dan tidak mungkin dihindari seumur hidup.

     Apa yang dapat kau lakukan adalah menjauh dari tempat-tempat kecil dan orang-orang seperti dia, kau harus bekerja keras untuk mengangkat dirimu ke ketinggian yang tidak bisa dia daki dalam hidup ini dan menyingkirkan sepenuhnya keterikatan dengan orang-orang seperti itu.

     Harga diri dan hidupnya berada dibawah tapak kakinya.

     Xu Wenqian pada awalnya berdebat dengan Liu Yuanji lalu berhenti berbicara, mungkin melihatku dari belakang.

     Kurasa Ji Lang pasti sudah pergi ke loteng kami untuk memasang treadmill sekarang, jika tidak, Liu Yuanji pada dasarnya akan menghindariku ketika Ji Lang ada disini.

     Ini salah itu kemampuan orang seperti itu.[]


Oct 22, 2020

42. Maukah kau memberiku surat cinta?

 

     Sebenarnya, ini pertama kalinya Jing Ji datang ke bioskop.

     Posisi yang dipilih oleh Ying Jiao berada di tengah baris ketiga, sudut pandang yang sangat bagus.

     Karena bioskop dekat dengan sekolah, kebanyakan yang datang adalah pelajar. Semua duduk dengan tenang dan menonton film tersebut.

     Filmnya oke. Abaikan beberapa plot yang tidak sesuai dan soal matematika yang salah di papan tulis. Cukup menarik untuk melihat kehidupan SMA lain yang sama sekali berbeda dari kehidupannya.

     Sepertiga dari durasi telah berlalu, dan konflik plot menjadi lebih jelas. Jing Ji menyesap boba teh susu dan menunggu dengan penuh perhatian untuk episode berikutnya.

     Dia tidak meletakkan teh susu, tetapi memegangnya untuk menghangatkan tangan.

     Dia tidak tahu mengapa Ying Jiao selalu melarangnya minum Cola, tapi dia tidak banyak berpikir. Dia bukan tipe pemilih, minuman apapun sama saja.

     Jing Ji menelan boba di mulutnya dan menyesap lagi.

     Di layar lebar, plot mulai menampakkan tokoh figuran memprovokasi si protagonis.

     Si protagonis laki-laki, tipe yang dingin minim ekspresi dan irit bicara. Tokoh figuran itu sepertinya kesal dengan responnya, dia membungkuk, mengambil batu bata di tanah, dan memukul langsung ke kepala protagonis pria itu.

     Dalam sekejap, darah mengalir merembes dari kulit kepala. Di setengah layar lebar, wajah berdarah si protagonis terpampang nyata.

     Darah?!

     Jing Ji sangat terkejut, dan tanpa sadar ingin melihat Ying Jiao.

     Belum sempat menoleh, kepala Ying Jiao ambruk dipelukannya.

     Ying Jiao menutup mata rapat-rapat, dengan keringat dingin di kepalanya, sudah dalam keadaan setengah pingsan.

     “Ying Jiao?” Jing Ji memanggilnya dengan suara rendah, dan Ying Jiao tidak bereaksi sama sekali.

     Jing Ji melihat sekeliling. Mereka duduk di tengah, dengan orang-orang di kedua sisi. Ying Jiao belum sadar. Tidak mungkin untuk keluar. Dia hanya bisa menemukan cara untuk membangunkannya.

     Pertama kali dia menghadapi situasi pingsan darah Ying Jiao, Jing Ji membangunkannya dengan menepuknya.

     Tetapi kali ini, Jing Ji mencoba beberapa kali, tetapi tidak berhasil. Jing Ji beralih meletakkan gelas teh susu yang masih hangat di wajah Ying Jiao, dan terus menepuk-nepuk dengan tangannya, berbisik memanggil namanya.

     Alis Ying Jiao bergerak, sepertinya tidak pingsan sepenuhnya. Jing Ji menghela nafas lega, mengesampingkan teh susu, dan memegang erat tangan Ying Jiao yang dingin. Karena takut mengganggu orang lain saat menonton film, dia mendekat pada Ying Jiao dan terus memanggilnya pelan.

     "Tidak apa-apa ..." Setelah lebih dari satu menit, Ying Jiao akhirnya sadar. Dia mengertakkan gigi, menahan guncangan tubuhnya yang tak terkendali.

     “Apa kau tidak bisa menahannya?” Cahaya di bioskop sangat redup, dan Jing Ji tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, sedikit khawatir. Berdiskusi dengannya dengan suara rendah, "Haruskah kita keluar lebih dulu?"

     Ying Jiao tetap diam.

     Jing Ji ingin bertanya lagi, tapi suara lemah tapi bersikeras dari Yingjiao terdengar di telinganya, "kata siapa aku tidak bisa?"

     Dia menarik napas beberapa kali, dan kemudian menambahkan, "Jangan bercanda, seratus delapan puluh menit pun tidak masalah."

     Jing Ji, "..."

     Melihat bahwa dia masih memiliki energi untuk memikirkan hal-hal yang berantakan ini, Jing Ji tidak terlalu khawatir di dalam hati. Dia tidak menjawab pertanyaan itu, dan berpikir sejenak, "kau tunggu disini, aku akan keluar dan mengambilkanmu air panas, oke?"

     Terakhir kali di klinik sekolah, dokter sekolah memintanya untuk membawakan Ying Jiao air panas.

     Ying Jiao jauh lebih baik sekarang karena darah buatan di layar hanya berdampak sesaat padanya.

     “Tidak.” Dia bergerak, mencoba untuk menegakkan tubuh, hanya untuk menyadari bahwa tangannya sedang dipegang Jing Ji.

     Tangan Jing Ji lebih kecil darinya, bahkan jika dia mengulurkan jari-jarinya sebanyak mungkin, dia tidak bisa sepenuhnya membungkus tangannya.

     Ying Jiao sedikit mengangkat sudut bibirnya, dan bertindak agresif, "Bukankah teh susumu panas? Beri aku seteguk."

     Jing Ji tertegun sejenak, "Aku sudah meminumnya."

     "Tidak apa-apa," Ying Jiao masih memejamkan mata, "Kita sudah ciuman, apa kau masih peduli dengan itu?"

     Orang disekitar masih menonton film, Jing Ji tidak mau berdebat dengannya.  Setelah ragu-ragu beberapa detik, dia ingin menukar sedotan bekasnya, namun tidak menyangka Ying Jiao langsung merebut gelas teh susu dari tangannya.

     Dia tampaknya telah banyak pulih melihat begitu gesit merebut gelas. Sebelum Jing Ji sempat menghentikannya, dia sudah menggigit sedotan dan menyesapnya sambil menatap mata Jing Ji.

     Pipi Jing Ji memerah, segera mengalihkan pandangan.

     Akhirnya mereka bertahan nonton film sampai selesai.

     Saat keluar dari bioskop, suasananya agak canggung, dan tak satu pun dari mereka yang berbicara lebih dulu.

     Ying Jiao terus mempertanyakan harga dirinya karena insiden tadi.

     Siapa yang bisa membayangkan ada adegan pertumpahan darah dalam film cinta remaja?

     Kisah cinta, ya fokus dipercintaan saja. Kenapa juga harus ada adegan berantakan ini?!

     Sama sekali tidak sosialis.

     Pasti ada yang salah dengan sutradara dan pengulas film!

     Tidak, dia harus mencoba membuat Jing Ji melupakannya.

     Jing Ji berjalan di samping, tengah berpikir dalam hati bahwa Ying Jiao pasti mempermasalahkan darah pingsan.

     Pertama kali bertemu dengannya, Ying Jiao bahkan memintanya untuk menulis surat jaminan untuk melupakan hal ini.

     Tapi bagaimanapun juga, mereka baru saja menonton film, kalau bukan membahas tentang film, lalu harus tentang apa?

     Haruskah berbicara tentang ujian?

     Keduanya berbalik untuk melihat satu sama lain pada saat bersamaan.

     Ying Jiao, "Kau ..."

     Jing Ji, "Kau ..."

     Ying Jiao terbatuk, "ehem, tadi itu aku hanya mengantuk, kau percaya kan?"

     Jing Ji, "..."

     Sudut bibir Jing Ji berkedut, dia menundukkan kepalanya, "Percaya."

     “Kenapa menurutku kau tidak percaya?” Ying Jiao mengertakkan gigi, mengangkat dagunya, dan menatap matanya, “Apa yang kau tertawakan?”

     Jing Ji yang menahan tawa, tidak bisa menahan lagi dan tertawa lepas.

     "Maaf," dia tertawa disisi lain menjauh dari tangan Ying Jiao, menggodanya, "Apa kau ingin aku menulis jaminan lain lagi?"

     Kepribadian Jing Ji relatif pendiam, dan jarang tertawa seperti ini. Sepasang matanya berbinar karena senyuman.

     Ying Jiao menatapnya, hatinya melembut, seketika tidak peduli lagi dengan harga dirinya yang sempat pingsan tadi.

     Dia mengulurkan tangannya untuk mencubit wajah Jing Ji, berkata suara rendah, "Jangan jamin kali ini, aku ingin tulisan lain."

     Jing Ji bingung, "Apa?"

     "Teman sekelas kecil," Ying Jiao tersenyum, mensejajarkan pandangan keduanya, menatap lekat, antara bercanda dan serius, "Maukah kau memberiku surat cinta?"

     Jing Ji tercengang sejenak, lalu wajahnya langsung menjadi tidak nyaman.  Dia mendorong Ying Jiao, mengangkat kakinya dan berjalan cepat.

     Melihat punggung Jing Ji, Ying Jiao menenangkan dirinya sendiri untuk jangan terburu-buru. Lalu mempercepat langkahnya untuk mengejar ketinggalan.

     "Kenapa kau lari?"

     "... Aku tidak lari."

     "Naik," Ying Jiao mengambil sepeda disisi jalan, dan menepuk jok belakang, "Kakak mengajakmu makan, bagaimana dengan ikan bakar lemon?"

     Jing Ji menunduk untuk mengabaikannya, dan melompat ke kursi belakang, "apa saja terserah."

     Ying Jiao menoleh sedikit dan bertanya, "Apa mau sudah duduk?"

     "Ya."

     Ying Jiao menginjak pedal dengan keras, dan terus maju.

     Angin bertiup ke seragam sekolahnya dan mendorong bagian atas untuk sedikit melayang, memperlihatkan sweter hitam di pinggangnya.

     Setelah melihat ini, Jing Ji diam-diam menarik seragam sekolahnya ke bawah, menekan keluar angin, lalu melepaskannya.

°°°


     Usai ujian bulanan, para siswa percobaan provinsi santai sebentar. Jing Ji adalah kebalikan dari mereka, karena penyisihan provinsi dari Olimpiade Matematika Nasional telah dimulai.

     Sehari sebelum kompetisi, Guru Zhao tidak meminta mereka untuk melakukan pertanyaan apapun, tetapi dengan hati-hati menjelaskan kepada mereka hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum ujian——

     "Meskipun banyak dari kalian di sini telah berpartisipasi dalam Olimpiade Matematika, kalian tidak boleh mengandalkan ini untuk tidak memperhatikan, jika tidak, jika ada masalah muncul, kerja keras tahun ini akan sia-sia."

     Guru Zhao menyesap air, menyapu perlahan siswa dibawah podium, "Berkumpul di depan gedung pengajaran tahun kedua pada pukul 5.30 besok pagi. Tidak boleh terlambat! Kelas kompetisi matematika kita berbaris di pilar paling kanan di depan gedung. Setiap orang harus mengenakan seragam sekolah."

     "Kali ini aku tekankan lagi. Jadwal kompetisi diadakan di Universitas Tunghai dan ujiannya dimulai jam 8. Dari jam 8 sampai jam 9:20 adalah ujian pertama, dan dari jam 9:40 sampai 12:10 adalah ujian kedua."

     Kemudian melirik Jing Ji, "Tidak peduli apa situasinya, kalian tidak boleh mengumpul kertasmu lebih dulu, sudah dengar?"

     Jing Ji, "..."

     Jing Ji dan teman sekelas lainnya menyahut, "dengar."

     “Oke, aku tidak akan berbicara terlalu banyak omong kosong.” Guru Zhao sedang membuat pernyataan penutup, tiba-tiba seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, dia berkata, “Tunggu, ada satu hal lagi, aku hampir lupa mengatakan.”

     "Besok kalian semua bangun pagi, dan kafetaria tidak akan buka pada waktu itu. Tidak masalah. Sekolah akan mengurus sarapan. Setelah kalian berkumpul dan naik bus, sarapan akan dibagikan."

     Guru Zhao berpikir sejenak, kali ini benar-benar tidak ada hal lain lagi untuk diingatkan, jadi membiarkan mereka pergi.

     “Besok pagi, aku akan menunggumu di pintu masuk koridor di lantai tiga. Kira-kira jam berapa kau akan keluar?” Zhou Chao bertanya pada Jing Ji setelah meninggalkan kelas.

     Jing Ji berpikir sejenak, "Sekitar 5:10."

     Zhou Chao bertepuk tangan, "Aku juga  sama. Mari bertemu jam 5:10 disana, oke?! "

     Jing Ji mengangguk, "Oke."

     "Sampai jumpa besok pagi."

     "Sampai jumpa."

     Setelah kembali ke kelas, Jing Ji tidak membaca buku dan mengerjakan soal seperti biasa, melainkan mengeluarkan tas arsip transparan dan mulai mengatur alat tulis yang akan dibawa besok.

     Ying Jiao meletakkan penanya dan bertanya, "Jam berapa kalian berkumpul besok pagi?"

     "5:30," Jing Ji meletakkan penghapus di tas arsip dan mengangkat wajahnya, "Di depan gedung pengajaran." Setelah memikirkannya, dia menambahkan, "Sekolah juga mengurus sarapan."

     Melihat Jing Jing yang tampak seperti menemukan harta karun, Ying Jiao tertawa, "Kau terlihat sangat senang. apa kau akan membawa ponsel besok?"

     Jing Ji juga memikirkan hal ini, tetapi dia tidak segera menjawabnya.

     “Bawa saja,” Ying Jiao mengambil alih tas arsipnya. Meskipun dia tahu bahwa Jing Ji tidak akan melupakan perlengakapan ujian, dia tetap memeriksanya lagi, “Jika ada sesuatu, kau bisa menghubungiku. Taruh saja di tas sekolahmu."

     "Oke." Jing Ji mengangguk, "Kalau begitu aku akan membawanya."

     Dia berpikir sejenak dan mengingatkan Ying Jiao, "Besok pagi belajar mandiri dan disisa waktu istirahat makan siang, kau menyelesaikan set soal fisika. Kau membuat banyak kesalahan di fisika dalam ujian ini. Aku akan memeriksanya ketika aku kembali."

     "Jangan khawatir," Ying Jiao mengembalikan tas arsipnya, terkekeh, "Tugas yang kau berikan akan aku selesaikan tanpa pergi ke toilet setelah kelas."

     Jing Ji memasukkan tas arsip itu ke dalam tas sekolah, mengabaikan Ying Jiao, tetapi perlahan mengangkat sudut bibirnya.

°°°


     Tepat sebelum fajar keesokan harinya, Jing Ji bangun, dan setelah cuci muka, dia pergi ke koridor untuk menemui Zhou Chao. Sambil berbicara, keduanya datang ke depan gedung pengajaran tahun kedua.

     Saat mereka tiba, banyak orang sudah berdiri di depan gedung. Bus yang disewa oleh percobaan provinsi diparkir di dekatnya, dan mesinnya mati.

     "Aku tidak tahu ternyata banyak yang sudah tiba," keluh Zhou Chao sambil mengusap perutnya, "Aku sedikit lapar. Kapan kita dibagikan sarapan."

     Jing Ji memeriksa waktu, masih kurang sepuluh menit setengah enam, dia menghibur, "Sebentar lagi."

     Zhou Chao menghela nafas, "Okelah."

     Jing Ji ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba bahunya ditepuk, dia menoleh dan tertegun.

     "Kau ... kenapa kau di sini?"

     "Ayo," Ying Jiao tidak menjawab kata-katanya. Dia menarik Jing Ji ke tempat berlindung di belakang pilar, dan mengeluarkan kotak makan siang dan minuman dari tas sekolahnya, "Jangan makan apa pun dari sekolah, rasanya tidak enak, aku membawakanmu ini."

     Dia membuka kotak makan siang yang terisolasi, memperlihatkan pangsit kukus di dalamnya, "Ayo makan, bibi tukang masak di rumah membuatnya sangat bersih. Ada dua jenis isian, satu adalah ayam jamur, dan yang lainnya adalah daging domba."

     Jing Ji menatapnya lekat, dan bertanya dengan suara rendah, "Kau, apa kau datang ke sini untuk membawakanku sarapan?"

     "Tentu saja," Ying Jiao tersenyum. Melihat Jing Ji tidak bergerak, dia berinisiatif memasukkan pangsit kecil ke mulutnya, "Jangan hanya terus menatapku, buka mulutmu! Bagaimana mungkin aku tidak datang ketika kau akan berpartisipasi dalam kompetisi untuk pertama kalinya?

     “Terima kasih.” Jing Ji merasa hangat di dalam hatinya, mengunyah pangsit dan melirik Zhou Chao di sana dengan perasaan bersalah. Entah kenapa, dia tiba-tiba tidak mau membagikan sarapan dari Ying Jiao kepada orang lain.

     Ying Jiao melihat lebih dekat dan mendapati Jing Ji makan dengan lahap. Sepertinya itu sesuai dengan seleranya. Merasa lega, dia membuka tutup termos dan menyerahkannya, "Minumlah susu kedelai."

     Jing Ji mengangguk, menyesap dari cangkirnya.

     Masakan bibi dirumah Ying Jiao sangat bagus, pangsit kukusnya segar dan asin, dan susu kedelai juga kaya rasa dan lembut. Jing Ji ingin menyesap lagi, tetapi dihentikan oleh Ying Jiao.

     “Jangan minum terlalu banyak.” Ying Jiao tersenyum ringan, dan berbisik di telinganya, “takutnya kau harus ke toilet ketika ujian.”

     Memikirkan kebiasaan Jing Ji yang tidak menyisakan makanan, dia berkata lagi, "Jangan khawatir, aku akan minum sisanya dan tidak akan membuangnya."

     Bagaimana dia bisa makan sisa makanannya?

     Pipi Jing Ji panas, dia ingin mengatakan bahwa akan menyimpan susu kedelai ini dan meminumnya lagi setelah ujian. Sebelum dia bisa berbicara, Guru Zhao mengangkat pengeras suara dan berteriak, "Absensi dari kelas kompetisi matematika. Zhou Chao! Jiang Chong ..."

     “Pergilah.” Ying Jiao mengambil kotak makan siang di tangan Jing Ji, memasukkannya ke dalam tas sekolah, dan memeluknya, berbisik di telinganya, “Teman sekelas kecil, semangat ikut kompetisi, aku berharap yang terbaik untukmu, semoga kau menang."

     Jing Ji menurunkan matanya, dan perlahan-lahan menjadi rileks setelah kaku selama beberapa detik, balas memeluknya dengan cepat, mengucapkan terima kasih, dan berbalik ke antrian.

     Saat naik bus, Jing Ji menoleh ke belakang, Ying Jiao masih berdiri di sana.

     Dia membawa tas sekolahnya dengan satu tangan dan bersandar dengan malas di pilar. Karena langit masih agak gelap, Jing Ji tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, tapi dia bisa melihat wajahnya menghadap ke arahnya.

     Tiba-tiba, jantung Jing Ji berdegup kencang, dia naik bus beberapa langkah, berdiri di tangga tertinggi, dan melambai ke arah Ying Jiao.

     Ying Jiao tercengang, lalu tersenyum, balas melambai dengan tangan kanannya.

     Bus perlahan melaju keluar dari sekolah, Ying Jiao masuk ke ruang kelas dan mulai mengerjakan soal fisika, dan Jing Ji secara resmi memulai kompetisi.[]