Oct 29, 2019

6. Maukah kau mencium?

Guru Liu berpikir tentang Jing Ji dan tidak makan dengan baik saat makan malam. Berusaha keras menahan diri hingga tiba jadwal kelas mandiri malam, dia mebawa botol airnya yang besar dan berjalan cepat ke kelas.

Ketika mencapai ruang kelas enam, dia sengaja memperlambat langkahnya dan diam-diam mengintip dari jendela belakang ruang kelas tujuh.

Dia seketika sangat senang.

Jing Ji dengan patuh ​​duduk di posisinya, dan sedang mengerjakan sesuatu dengan buku wusan di depannya. Meskipun kecepatannya sangat cepat, terlihat seperti tidak serius menyelesaikan soal, tetapi melihatnya mau menulis saja, itu sudah baik.

Guru Liu mengangguk puas dan berjalan masuk dari pintu depan.

Ketika dia muncul, ruang kelas yang berisik seketika sunyi, mereka yang berisik dengan bingung mencari buku.

Guru Liu menggulung buku teks matematika di tangannya lalu mengetuk satu per satu kepala mereka dan berteriak marah. "Kalian merasa diri monyet yang suka melompat-lompat? Apa kalian ingin menunjukkan padaku pertunjukan monyet di podium? Ah? ”

Para siswa yang telah ia pukuli duduk dengan patuh, dan mereka tidak berani bicara.

Guru Liu setinggi 1,9m, dan tubuhnya penuh dengan otot. Tangan besar itu sama dengan kipas daun palem. Rambutnya dicukur botak dan mengenakan kalung emas, tampak seperti bos mafia, siapa yang berani menghadapinya.

"He Yu! Zheng Que! Aku lihat kalian berbicara sangat panas, punya banyak waktu, kan?" Guru Liu mencibir. "Kerjakan 'Pipa Xing' dalam minggu ini! Aku akan memeriksanya pada hari Jumat!"

· Lagu Pemain Pipa, puisi panjang karya Tang penyair Bai Juyi.
   
He Yu mendesah, tangan yang memegang buku bahasa bergetar. "Guru, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak tahu, tetapi kau ingin aku mengerjaknnya, aku benar-benar tidak bisa."



Sementara Zheng Que tidak tahu apa itu Pipa Xing.


Dia masih di luar situasi, ketika mendengar nama itu, dia pikir itu mungkin puisi kuno, segera menepuk dadanya dan berjanji, "Tidak masalah."

Kurang dari seratus kata, empat hari, dua puluh kata sehari, bagaimana bisa mengerjakannya.

He Yu memelototinya, rasanya ingin menutup mulutnya dengan lem. Dia membuka halaman Pipa Xing dan meletakkan buku itu di bawah mata Zheng Que.

"Tidak masalah? Apa menurutmu ini baik-baik saja?"

Zheng Que melihat halaman padat kata-kata itu, seketika bodoh.

"Tidak mau..." Guru Liu tampak tidak marah. Dia memandang He Yu. "Konsol game di pagi hari ..."

He Yu menyerah dalam satu detik. "Aku lakukan! Aku lakukan!"

Setelah mengurus beberapa orang, Guru Liu pergi ke sisi Jing Ji dan menatap topik matematika yang sedang dilakukannya.

Guru Liu awalnya ingin memberitahunya, jangan mencoba berada di arah yang salah. Mulailah belajar dan fokus pada dasar-dasar. Jangan terburu-buru.

Secara tidak sengaja menyapu pertanyaan pilihan ganda, dia menemukan bahwa itu benar.

Guru Liu hampir berpikir bahwa dia buta, dan terus menunduk mengamati sampai akhir dari pertanyaan pilihan ganda dan bahkan tidak melihat pertanyaan yang salah.

"Kau ..." Guru Liu melihat Jing Ji dengan tatapan yang rumit.

Jing Ji merasa mendengar bel alarm, berpikir bahwa Guru Liu curiga sesuatu, dan bersiap menyusun kalimat yang meyakinkan namun Guru kembali bicara.

"Apa kau yang menjawab semua soal ini?"

Guru Liu menepuk bahu Jing Ji dan mencoba yang terbaik untuk mendorongnya. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menghela nafas lega. "Ingatan yang bagus, upayamu saat ini meningkat tapi jangan sampai menurun lagi di masa depan."

Jing Ji, "..." dia kemudian merespon, "Baik."

“Jika ada yang salah, pergi ke kantor untuk mencari guru, dan guru punya waktu luang saat belajar mandiri malam.” Guru Liu mengembalikan buku kerja ke Jing Ji dan berkata dengan lega. “Kau bisa juga bertanya guru-guru lain di kantor. Jangan malu, jika ada yamg tidak kau mengerti, kau harus bertanya. Kau harus rajin belajar. Kelas kita tidak jauh dari kantor. Berjalan sebentar tidak membuat menderita."

Jing Ji merasa sedikit hangat, dia mengangguk, "Aku tahu, terima kasih guru."

“Ayo belajar.” Guru Liu menyemangati dia lagi, mengangkat kembali botol air besarnya, dengan waspada melirik ke kelas dan melangkah keluar dari ruang kelas.

Setelah Guru Liu pergi, Jing Ji mengambil pena dan terus mengerjakan topik pertanyaan. Dia selalu menyelesaikan semua latihan dalam satu unit. Dia merasa penuh dengan listrik, dan dia sangat ingin menemukan buku catatan dan mulai mengatur garis besar pengetahuan dari masing-masing subjek.

Ying Jiao melihatnya sebentar dan berbalik.

He Yu dengan setumpuk kartu bermain, mencari seseorang untuk 'Fight the Landlord'. "Kakak Jiao, kemarilah. Sial, lao Zheng sungguh menyebalkan. Aku harus mencari hiburan, atau aku akan mati lemas. Mengerjakan Pipa Xing? Bukankah Bai Juyi gila? Menulis hal-hal ini untuk membahayakan generasi masa depan!"

Zheng Que bermaksud menebus kejahatan seseorang dengan tindakan berjasa, mendekat, "Sini bawa aku satu, aku akan main."

“Enyahlah!” He Yu mendorongnya ke samping, menarik Peng Chengcheng yang sedang berbaring di atas meja untuk bergabung, berteriak. "Kau bodoh, aku menolak."

Zheng Que sangat marah, "Aku bodoh? Aku bisa menarik kakak Ge ketika aku tidak melawan tuan tanah! Langsung dikirim ke pintu sebagai umpan meriam, siapa yang bodoh?"

He Yu menggelengkan kepalanya. "Aku memang bersedia!"

Zheng Que memutar mata, melemparkan ponselnya ke laci di meja. Dia menunjuk He Yu dengan emosi. "Aku pantau kau dari samping bagaimana kau akan kalah!"

Ying Jiao sangat jago bermain poker, hampir tidak pernah kalah dan dia tidak selalu mau bermain dengannya.

“Dua Qs.” Ying Jiao bersandar di meja dan melemparkan dua kartu dengan malas.

He Yu menatap wajahnya dan menyelinap ke Peng Chengcheng. Peng Chengcheng sangat waspada dan segera meletakkan kartu di atas meja. He Yu menarik kembali tatapannya. "Dua 2."

Peng Chengcheng menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa dia tidak turun.

He Yu dengan senang membanting kartu baru, "Tiga tiga."

Peng Chengcheng, "Tiga delapan."

Ying Jiao menyipitkan mata tidak merespons, kartu-kartu di tangan dimiringkan dengan tajam, membuat lawan bisa melihat.

Pikirannya tidak pada bermain kartu, hanya nama Xue Jinxing yang penuh dibenaknya.

Agak akrab, sepertinya sudah pernah mendengarnya ...

He Yu mencoba memanggilnya, "Kakak Jiao, giliranmu."

Ying Jiao melirik ke meja, tampak linglung: "Dua delapan, kan? Aku dua sembilan."

"Lao Peng membanting tiga delapan." He Yu mengoreksinya, "Kakak Jiao, apa yang terjadi padamu? Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Kalian ..." Ying Jiao mengikat kartu di atas meja. Dia berubah serius, "Apakah kalian kenal Xue Jinxing?"

"Aku pernah mendengar nama ini," He Yu berpikir keras dengan memiringkan kepalanya. "Tapi aku tidak ingat."

Zheng Que mengikuti, "Aku sepertinya pernah mendengar itu dari kelompok kelas dua yang abnormal. Sepanjang hari Guru Liu selalu membanggakan jadi aku merasa akrab."

Ying Jiao mengetuk pelan permukaan meja, "Mungkin."

“Apa yang terjadi, Kakak Ge?” He Yu tidak lagi tertarik bermain kartu, dan meletakkan kartu-kartu itu di tangannya. “Apa dia memprovokasimu? Mari kita mainkan dia?”

"Lupakan," He Yu tersenyum, "Bukan apa-apa."
.
.

Batas kelas malam untuk tingkah satu dan dua berakhir pada pukul 9:45, dan tahun ketiga adalah 10:25.

Pada jam 9:45, siswa di tahun pertama dan kedua dapat kembali ke asrama, tentu saja, mereka dapat belajar hingga 10:25 seperti yang dilakukan siswa tahun ketiga.

Tetapi untuk ruang kelas tujuh, jangankan jam 9:45, sebagian besar dari mereka sudah pulang pada jam 9:11.

Jing Ji sudah lebih dulu berkata kepada Li Zhou untuk kembali ke asrama bersamanya. Namun, ponsel Li Zhou bergetar sepanjang waktu. Dia bersembunyi di bawah meja dan menerima telepon. Setelahnya dia berkata ada Jing Ji, "Kau kembalilah dulu, temanku datang dengan seorang gadis!" Dia langsung pergi melarikan diri.

"Hei--" Jing Ji mengulurkan tangan untuk meraihnya. Tetapi tidak menangkapnya dan hanya bisa melihatnya menyelinap pergi.

Hatinya diam-diam khawatir, bagaimana dia bisa menemukan asrama nanti?

Ying Jiao mengerutkan kening melihat Jing Ji yang mencari riwayat chat dengan Li Zhou berulang-ulang, dan mulutnya perlahan tersungging.

Melihat bahwa ruang kelas hampir kosong, He Yu tidak bisa duduk diam. "Kakak Jiao, ayo pergi keluar untuk bersenang-senang? Lao Zheng sudah membooking ruang di 1982."

Itu adalah klub hiburan di dekat sekolah.

"Kalian saja yang pergi." Ying Jiao menolak, "Aku ada urusan lain hari ini."

Peng Chengcheng mengerutkan kening, "Tidak pulang kerumah?"

Ying Jiao mengangguk, dengan senyum di matanya, "Malam ini tidur di asrama."

Zheng Que ragu, "Bagaimana Kakak Jiao tiba-tiba tinggal di asrama? Bukankah kau bilang ranjang di asrama tidak nyaman untuk tidur?"

Ying Jiao membalik pena di tangannya, secara tidak sengaja membuka topik. "Ya, ada sesuatu. Kalia  bersenang-senanglah, tagihan malam ini masukkan di akunku."

He Yu seketika menggila, segera menyanjung. "Jelas Kakak Ge, hangat dan pengertian! Begitu peduli pada adik!"

Zheng Que menyengir dan melemparkan ciuman, "Terima kasih, baba!"

"Jangan betingkah konyol." Ying Jiao menendangnya dan tersenyum merutuk. "Menjijikkan, cepat pergi."

Zheng Que tidak peduli, meraih bahu He Yu dan Peng Chengcheng untuk berjalan pergi.

Jing Ji awalnya ingin berjalan dengan para siswa dari kelas tujuh, setidaknya menemukan asrama terlebih dahulu. Namin para siswa di kelas tujuh pada dasarnya tidak tinggal di asrama. Ketika mereka keluar dari gedung sekolah, mereka langsung pergi ke gerbang sekolah untuk pulang dan tidak pergi ke arah lain.

Hampir dalam sekejap mata, Jing Ji ditinggalkan sendirian di depan gedung sekolah.

Jing Ji merenung apakah dia harus mencari sendiri atau menunggu kelas lain untuk pergi ke asrama setelah kelas. Tiba-tiba ada suara berat di belakangnya. "Hei."

Jing Ji menoleh dan melihat Ying Jiao berjalan kearahnya dari belakang. Lelaki itu tinggi dan ramping, dan wajahnya terkesan malas. Mengenakan T putih yamg longgar menempel pada tubuh, angin berhembus, mengungkapkan garis tubuh yang tipis dan indah.

Jing Ji tampak kosong, "Apa yang ..."

“Ayo jalan bersama,” Suara berat yang dalam kembali terdengar.

Jing Ji tidak berbicara, juga tidak bergerak. Dia tidak melupakan Ying Jiao yang mengerjainya tadi dikelas.

“Ada apa?” Ying Jiao mengangkat alisnya, tersenyum malas. "Apa kau tidak kembali ke asrama? Kenapa tidak jalan?”

Dia membungkuk dan mendekat, "Takut aku mengerjaimu?"

Jing Ji menatapnya dan merutuk dalam hati bahwa orang ini masih memiliki wajah untuk mengatakan itu?

Ying Jiao tertawa rendah, dan suaranya luar biasa magnetik dalam kegelapan. "Teman sekelas kecil, tidak, sangat kecil, betapa kotornya pikiranmu itu. Apa yang bisa kau lakukan agar aku tidak mengerjaimu? Bisakah kau mengucapkan kata-kata lembut? Maukah kau mencium? Bisa ..."

“Diam!” Jing Ji menggertakkan giginya, telinganya merah, dia kemudian mengambil langkah besar ke depan.

Ying Jiao menyeringai, ikut menyusul.

5. Apa kau sudah mengubah hati?

Jing Ji perlahan berbalik, dan pinggangnya tanpa sadar lurus.

"Aku ..." Dia menjilat bibirnya, matanya terkulai. "Aku ingin melihat papan tulis dari sudut pandang yang berbeda."

"Ha?" Ekspresi He Yu semakin aneh. Dia melihat Jing Ji dengan tak percaya. "Kau ... lihat papan tulis? Lelucon abad berapa ini, lihat papan tulis?! Hahahaha."

Zheng Que mengikuti dan tertawa. "Tidak, Jing Ji, kau berubah jadi penggemar Lao Liu? Rambut dipotong, dan juga ingin lihat papan tulis. Jangan katakan hal selanjutnya, kau ingin belajar keras? hahahahaha ..."

Tawa Zheng Que menghilang di bawah mata Jing Ji yang tenang.

"S-sial," Zheng Que mengusap lengannya yang merinding, suaranya secara tidak sadar meningkat banyak, "Kau benar-benar akan melakukannya?"

Jing Ji bergumam mengiyakan dengan asal.

Dia mencuri pandang, mengamati mata siswa di sekitarnya, mencoba mendapatkan beberapa petunjuk.

"Lao Liu...," He Yu membelai lemak yang menonjol keluar dari perutnya, menghela nafas, "Punya bakat luar biasa untuk menjadi guru di provinsi kita. Jika ini untuk terlibat dalam MLM, harus direpotkan dengan masalah orang lain."

Jing Ji mengambil buku matematika dari meja dan bertingkah seakan secara tidak sengaja, "Aku pikir posisi disini sangat bagus. Kapan kali berikutnya kita berganti tempat duduk?"

He Yu mencemooh. "Kau tidak tahu, tetapi juga belajar dengan giat. Kelas kita berganti tempat duduk selama dua minggu," Dia nenghitung dengan jari-jarinya. "Aku pikir, posisi baru berubah sehari sebelumnya, waktu berikutnya ... akhir oktober."

Dia mendorong Zheng Que, "Lao Zheng, aku benar kan?"

“Jangan sentuh aku.” Zheng Que mengumpulkan kelompok untuk memainkan permainan. Dia didorong oleh He Yu dan hampir berhenti. Dia menyelinap menjauh dari tangan He Yu kemudian meluangkan waktu untuk melihat Jing Ji dan berkata, “Apa yang kau lakukan?”  Posisi itu hanya dipisahkan oleh lorong dari tempat dudukmu. Apa bedanya?"

Ini kalimat yang ditunggu Jing Ji dari tadi.

Dia segera menoleh dan melihat bahwa baris tengah berada di baris ketiga terbawah di utara, dan kosong.

Ini pasti kursi tubuh asli, tidak salah.

Dia tidak terburu-buru untuk kembali, takut orang-orang akan curiga, jadi dia menundukkan kepala dan mulai melihat buku matematika di tangannya.

Pemilik kursi ini diperkirakan sama dengan tubuh aslinya, setelah satu bulan masuk sekolah, buku ini masih bau tinta baru. Di atas bersih dan tidak ada tulisan tangan.

Jing Ji pertama-tama menelusuri katalog, yang sama sekali berbeda dari buku teks miliknya. Kesulitannya telah meningkat banyak, dan ada banyak hal yang melibatkan tahun ketiga.

Hal yang sama berlaku untuk bahasa, tidak hanya banyak teks yang perlu dibaca, tetapi juga salinan buku pelajaran wajib.

Adapun sains, itu bahkan lebih sulit.  Ada bab dalam fisika yang belum pernah dipelajari Jing Ji.

Membuktikan dirinya sebagai top student, untuk menyoroti kekuatan protagonis, menambahkan hal-hal yang masuk akal dan tidak masuk akal.

Tapi untuk Jing Ji, ini bukan masalah sama sekali.

Dia bukan tipe yang sangat suka belajar juga tidak hanya belajar untuk mengubah nasibnya. Pengetahuan baru, terutama pengetahuan baru dalam sains, merupakan daya tarik yang fatal baginya.

Jika bukan karena situasi tak terduga duduk di kursi yang salah, dia akan mengubur dirinya sendiri dan mulai menyerap pengetahuan baru.

Jing Ji meletakkan buku itu di tangannya dan memilah-milah benda diatas meja yang berantakan lalu dengan tenang kembali ke bangku aslinya.

"Fck." Melihat tingkah Jing Ji, He Yu hampir meragukan kehidupan, dia menoleh ke belakang, Zheng Que sedang mabuk memainkan permainan, seandainya ibunya berdiri di depannya, dia juga tidak akan tahu. He Yu beralih menyentuh Peng Chengcheng, "Lao Peng, jangan tidur, ayo bicara beberapa kata?"

Peng Chengcheng meliriknya sekilas.

Meskipun dia tidak mengatakan sepatah kata pun, He Yu diam-diam mengerti apa yang dia maksud. "Jangan begitu, Lao Peng. Jika kau berani menyebut kakak Jiao, aku tidak mau bicara denganmu."

Peng Chengcheng, "..."

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

He Yu masih merasa tidak nyata. Dia berbisik. "Apa yang Jing Ji katakan itu sungguhan? Bagaimana aku tidak percaya?"

Peng Chengcheng mengusap matanya, tidak tertarik. "Mari kita lihat dalam dua hari."

"Aku mendengar kalau Lao Liu memanggilnya ke kantor sore tadi," He Yu melirik ke arah Jing Ji, menunjuk ke kepalanya dan berkata dengan pelan, "Mungkin kepalanya distimulasi dan jadi tidak normal."

Peng Chengcheng sangat dingin, "Ini bukan urusan kita."

"Lagipula baguslah, setidaknya dia tidak menganggu kakak Jiao lagi." He Yu cemberut. "Aku tidak tahan melihat wajah tebalnya."

Dia kemudian tertawa, "Aku tidak menyangka kita punya seseorang yang belajar di area rekreasi vip ini, hahaha ..."

Ying Jiao memperhatikan kedua orang idiot, He Yu dan Zheng Que, sedikit cocok, mulut mereka seperti senapan mesin. Mereka suka tiba-tiba mengatakan segalanya, dan pikir mereka sangat pintar.

Dia menggosok alisnya dan merentangkan kakinya dan menendang bangku He Yu. "Ubah posisi."

Ying Jiao dan Zheng Qee berada di meja yang sama, di barisan terakhir dari barisan tengah; He Yu dan Peng Chengcheng berada di barisan kedua dari barisan tengah, dan lebih jauh ke depan, itu adalah kursi dari Jing Ji.

“Apa?” He Yu tampak kosong.

“Pindah, kau begitu banyak omong kosong.” Ying Jiao berdiri dengan tidak sabar, dan menyeret He Yu ke belakang, duduk di bangkunya.

“Bagaimana lebih dari satu malam ini menjadi tidak normal,” He Yu bergumam, dan duduk dalam kabut.

Ponsel di saku celana bergetar sedikit, dan dia membukanya.

Ying Jiao mengirimnya amplop merah.

Wajah He Yu seketika penuh senyum, "Oh, tentu saja Kakak Ge. Hanya mengganti tempat duduk tetapi memberi amplop merah, sangat pengertian."

Ying Jiao menatapnya dengan iba, "Beli beberapa kacang kenari untuk mengisi otakmu."

He Yu, "..."

Ying Jiao menopang dagu, sedikit condong ke depan untuk melihat Jing Ji sedang membersihkan laci meja.

Jing Ji memiliki gangguan obsesif-kompulsif yang parah, dan sebagian besar hal harus rapi. Laci meja tubuh asli tidak hanya berantakan, tetapi juga sangat kotor. Entah berapa lama camilan telah tersebar di mana-mana, banyak lumut yang sudah menempel.

Jing Ji menahan perasaan tidak nyaman dari seluruh tubuh, dia menemukan kain di bawah kursi dan menyeka kursi dari dalam ke luar. Setiap sudut tidak ketinggalan.

Sampai noda lama dibersihkan, permukaan meja hampir berkilauan, dan kain dicuci dan ditumpuk dengan rapi untuk mulai mengemas buku teks.

Ada rak buku plastik biru di meja tubuh asli, dan pemasangannya sangat ceroboh sehingga ujung bawahnya tidak rata, dan bergoyang saat disentuh.

Jing Ji tampak kesal, cukup membongkar rak buku dan memasangnya kembali, ujungnya ditempatkan di sudut kiri atas meja. Kemudian, sesuai urutan subjek dan ukuran, sebuah buku teks dimasukkan ke dalam rak buku.

Di meja yang sama, Li Zhou yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tidak tahan untuk menyentuh dahi Jing Ji.

Jing Ji mengerutkan kening, menatapnya tidak mengerti.

Li Zhou bergumam, "Tidak demam ..."

Dia kemudian memandang dengan tidak percaya. "Kau, apa kau gila?"

"Apa?"

"Tadi ..." Li Zhou berkata dengan gestur, "Tadi kau bilang akab belajar keras, ini tidak seperti gayamu."

Jing Ji menatap permukaan meja yang rapi, suasana hatinya membaik. Dia melirik Li Zhou dan bertanya, "Gaya apa yang aku miliki? Bukankah tugas utama siswa memang belajar?"

Li Zhou seketika menggigil, dia berbalik ke arah lain, masih dalam mode syok untuk waktu yang lama.

Disela memilah buku-buku teks, Jing Ji memberikan perhatian khusus dan menemukan bahwa meskipun tubuh asli adalah terak sekolah tanpa kompromi, tetapi buku kerjanya lengkap.

Dasar "ujian masuk perguruan tinggi tiga tahun simulasi tiga tahun /wusan/" dan "solusi lengkap buku pelajaran siswa sekolah menengah", juga ada banyak buku konseling yang belum pernah ia dengar, diperkirakan bahwa guru percobaan provinsi memaksanya untuk membeli.

Salah satu keuntungan Jing Ji, si tubuh asli tidak menulis sepatah kata pun.

Jing Ji telah memiliki rencana studi pada saat ini. Dengarkan kelas selama beberapa hari, amati kemajuan para guru eksperimental provinsi, dan kemudian cukup memilah poin pengetahuan dari setiap mata pelajaran, dan memeriksa celahnya.

Semuanya diatur dengan jelas, kemudian dia membuka topik matematika dibuku wusan dan menyapu beberapa pertanyaan parabola dengan tenang, dan mengeluarkan ponsel tubuh asli dari laci meja.

Jing Ji ingat bahwa situasi keluarga tubuh aslinya dalam novel dimana setelah orang tuanya bercerai, mereka masing-masing membentuk keluarga. Dia memiliki adik tiri laki-laki dari ayahnya dan adik tiri perempuan dari ibunya.

Tubuh asli tinggal bersama ayahnya, tetapi biasanya tidak pergi ke sekolah, tetapi menangani akomodasi.

Tapi karena Jing Ji saat ini memakai novel itu, siapa yang tahu jika ada perubahan di tempat lain, lebih baik untuk memverifikasi itu.

Jing Ji mencoba membuka kunci ponsel dengan sidik jari, mengklik perangkat lunak obrolan, mengikuti kotak obrolan di sebelah kiri, dan melihat ke bawah sedikit.

Tidak ada teman dekat di tubuh aslinya. Satu-satunya orang yang berbicara lebih banyak adalah meja yang sama Li Zhou.  Jing Ji juga menemukan Li Zhou menjadi teman sekamar tubuh aslinya.

Tuliskan informasi kunci di log obrolan, dan terus melihat ke bawah dan melewatkan beberapa percakapan yang tidak sehat. Dia menemukan catatan percakapan antara tubuh asli dengan orang tuanya.

Seperti yang ditulis dalam novel, hubungan antara tubuh asli dan orang tua tidak dekat. Apa yang dilihat Jing Ji bukan sekadar catatan obrolan, melainkan catatan akun transfer.

Hampir tidak ada komunikasi sehari-hari, waktu obrolan ditunjukkan setahun yang lalu.

Menurunkan ponsel, Jing Ji menghela nafas lega.

Ini adalah berita baik baginya, jika tubuh asli dan orang tuanya sangat dekat, dia akan berhati-hati dan dengan cepat terungkap. Menurut situasi saat ini, bahkan jika dia banyak berubah, akan butuh waktu lama untuk orang tua tubuh asli menyadarinya.

Anak laki-laki di masa remaja, tiba-tiba bersemangat, mencoba untuk melanjutkan hidup, tidak ada lagi kebejatan, ini adalah hal yang normal, tidak canggung, tidak aneh.

"Hei, Jing Ji." Li Zhou akhirnya sadar dan kembali mendekat, memandang ponsel di tangannya. "Bukankah kau harus belajar keras? Bagaimana kau mulai melihat ponsel lagi? Katakan yang sebenarnya, apa ini rencana barumu lagi untuk mengejar Ying Jiao?"

Di belakang, telinga Ying Jiao berdiri.

Jing Ji menyimpan kembali ponsel dan membuka"Solusi Lengkap Buku Pelajaran Siswa Sekolah Menengah". Dia dengan tenang menyangkal. "Tidak."

"Ayo beritahu, aku berjanji tidak akan memberi tahu orang lain."

Jing Ji tidak berdaya, "Sungguh tidak."

“Aku tidak percaya.” Li Zhou merebut buku dari tangannya dan terus mendesak, “Kecuali kau menyukai orang lain, kau mengubah targetmu.”

Dalam pikiran Li Zhou, tiba-tiba kilatan cahayanya menyala. Dia membelalakkan matanya, seolah-olah dia telah menemukan Dunia Baru, "Apa kau sudah mengubah hati?"

..."Ya, ya, pasti itu!"

..."Siapa? Siapa orang itu? Apa aku tahu?"

..."Apa prestasinya baik? Apa mungkin siswa top?"

..."Siapa namanya? Katakan padaku! Katakan padaku!"

Li Zhou sangat yakin akan penilaiannya sendiri, tidak peduli bagaimana Jing Ji menyangkal dia dengan tegas percaya bahwa perubahan mendadak Jing Ji adalah untuk orang itu.

Jing Ji tidak berdaya terus didesak dan dia ingin segera menyelesaikan topik soal. Dia melihat sampul "Solusi Lengkap" diatas meja dan dengan santai berkata, "Xue Jinxing."

Di belakangnya, kilat pandangan Ying Jiao meredup.

4. Tulis surat jaminan

Jing Ji tidak menyadari makna tersirat dari pertanyaan Ying Jiao. Karena lelaki itu berulang kali mempertanyakan membuatnya hanya menatap dingin, tidak berbicara.

Ying Jiao menyentuh dengan lututnya, berkata malas, "Aku bertanya, ayo jawab."

Melihat waktu terus terbuang, Jing Ji tidak ingin terus meladeninya, dia dengan tidak sabar merespon. "Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya?"

Melihat reaksi kesal Jing Ji, Ying Jiao merasa baru dan ganjil.

Dia kemudian meminta kertas dan pena pada dokter sekolah kemudian melemparkannya ke Jing Ji, "Tulis surat jaminan."

"... Ini tidak harus diperlukan."

Ying Jiao tersenyum, "Jika kau tidak menulis, kau harus ..."

Jing Ji menatapnya, menunggu kalimat berikutnya.

Ying Jiao melanjutkan, "Mulai sekarang, ke mana pun kau pergi, dengan siapa kau berbicara, dan apa yang kau katakan, kau harus melaporkannya padaku. Misalnya, sebelum pergi ke toilet, beri tahu aku apa kau buang air besar atau kecil dan berapa lama. Setelah waktu habis, kau harus menjelaskan alasan, jadi aku bisa menganalisis jika kau mengambil kesempatan untuk mengumbar rahasia."

Jeda sejenak, dia melanjutkan. "Bila perlu ... Aku pribadi akan memeriksa apa alasanmu masuk akal."

Jing Ji menatapnya dengan ragu.

"Kenapa, adik kecil," Ying Jiao tersenyum miring. "Kau sebelumnya selalu menulis surat cinta untukku. Saat ini hanya jaminan saja, kau masih bertahan?"

... "Apa kau ingin aku menuliskannya dengan tanganmu?"

Jing Ji dengan wajah datar merespon, "... Oke, aku akan menulis."

Dia membuka tutup pena dan mulai menulis sesuai dengan permintaan Ying Jiao.

Mata Ying Jiao jatuh pada gesekan pena diatas kertas. Tulisan bocah itu sangat indah, pada pandangan pertama, ini merupakan upaya yang hebat.

Pandangan Ying Jiao semakin dalam.

"Sudah." Jing Ji meletakkan pena dan menyerahkan surat jaminan padanya. "Tidak ada yang lain, aku pergi."

Ying Jiao memperhatikan bahwa Jing Ji meletakkan pena tidak miring dan itu membentuk sudut yang tepat dengan atas meja.

Dia menatap Jing Ji dengan serius dan melambai padanya, menunjukkan bahwa Jing Ji bisa pergi.

Jing Ji lega, dengan cepat berjalan keluar dari klinik sekolah.

Ying Jiao kembali menatap surat jaminan di tangannya.

Untuk waktu yang lama, dia tiba-tiba tersenyum miring. Jing Ji sebelumnya tidak pernah menulis surat cinta kepadanya.

Sekolah eksperimental provinsi sangat luas dan dibagi menjadi dua bagian.

Bagian pertama adalah gedung sekolah baru untuk tingkat satu dan dua, sementara bagian lainnya adalah tingkat tiga dan rute halamannya begitu rumit.

Jing Ji harus berkeliling beberapa kali sebelum menemukan gerbang sekolah.

Ada banyak toko kecil di luar sekolah dan saling berjejer rapat. Sekali memandang, dia menemukan beberapa salon rambut, dia memilih papan nama yang enak dipandang dan langsung masuk.

Ini adalah waktu kelas, tidak ada bisnis di toko. Begitu melihatnya masuk, seorang pria tukang salon segera menyambutnya dan bertanya apakah dia ingin potong rambut atau mewarnai.

Jing Ji menyapu rambutnya dengan tangan. "Potong pendek, lalu warnai hitam, berapa banyak?"

Karena melakukan bisnis di sekitar sekolah, ketika mendengar permintaan ini, tukang salon tahu bahwa itu adalah permintaan dari guru. Dia tidak terkejut, tersenyum dan berkata. "Paket potong rambut dan mewarnai ada 98, 198, dan 298."

"Aku ingin 98."

Si tukang salon mencoba membujuknya. "Tidak perlu 298, 198 sudah cukup. Pewarna 98 tidak baik untuk rambutmu. Rambutmu terlihat halus, sayang sekali kalau rusak."

Jing Ji tidak tergerak dan dengan tegas berkata, "98."

Bagaimanapun, hanya beberapa sentimeter, jika rambutnya rusak, dia bisa memotongnya lagi ketika panjang.

"Ayo mulai." Tukang salon memberinya bib dan menunjuk ke cermin. "Gaya rambut seperti apa yang diinginkan adik tampan?"

Jing Ji tidak mengerti hal-hal ini, dia tidak peduli, dengan santai berkata. "Terserah, yang penting guru tidak menegurku lagi."

Si tukang salon tersenyum. "Oh, kalau begitu aku akan melakukannya."

Biasanya, siswa SMA yang mengecat rambut merasa penting untuk melihat gaya rambut mereka sendiri. Ini pertama kalinya dia melihat siswa yang tidak peduli.

Namun...

Si tukang cukur memandangi cermin dan mendesah dalam hati.

Dengan memiliki fitur wajah seperti ini wajar saja jika tidak begitu peduli dengan gaya rambut. Bahkan jika mencukur sampai botakpun tetap sangat menarik.

Si tukang cukur memperhitungkan preferensi guru dan mulai memotong rambut kuning Jing Ji, mengungkapkan telinga, meninggalkan poni kecil di atasnya, ini gaya rambut yang sangat rapi.

Setelah menyelesaikan pewarnaan dan mengeringkan rambut Jing Ji, tukang cukur melihat hasilnya di cermin dan merasa iri.

Warna hitam rambut sangat pekat seperti tinta, dan terlihat agak tidak biasa pada orang kebanyakan, tetapi tidak ada yang salah jika itu Jing Ji.

Miliki wajah yang bagus, warna apapun tetap cocok.

Jing Ji memandangi rambut barunya yang hitam dan pendek. Itu terlihat seperti orang normal. Dia segera membayar dan berjalan keluar dari salon.

Saat itu hampir pukul tujuh malam, jadi Jing Ji menghabiskan delapan yuan untuk membeli semangkuk nasi daging babi Yuxiang.



Setelah bergegas makan, ia kembali ke sekolah, tepat pada waktunya untuk sesi pertama dari belajar mandiri malam.

Eksperimen provinsi memiliki topik yang lebih ringan, dan ada 12 kelas dalam sains. Di antara mereka, satu kelas adalah kelas super, tiga hingga enam kelas adalah kelas kunci, dan enam kelas sisanya adalah kelas paralel.

Kelas seni liberal memiliki satu kelas tambahan dan dua kelas kunci dari kelas sains. Seluruh tahun ditambahkan bersama, total dua puluh satu kelas.

Ada banyak kelas berarti banyak guru, dan ruang kantor tidak cukup. Saat itu sekolah baru saja membangun gedung pengajaran baru, ruang itu cukup untuk kantor guru seni liberal secara terpisah.

Jing Ji sebelumnya dari kantor sains di lantai 3. Ketika dia berdiri di koridor, dia memperhatikan bahwa ruang yang paling dekat dengan kantor itu adalah kelas super sains: tingkat dua ( kelas 1).

Jika mengurutkan berdasarkan kelas, ruang kelas tujuh tingkah dua harusnya berada di lantai yang sama.

Seperti perkiraannya, ruang tujuh berada di tengah lantai tiga.

Sepanjang jalan dari ruang satu, suasana tampak tenang, termasuk kelas paralel ruang delapan di sebelah ruang tujuh.

Lagi pula, dengan kualitas eksperimen provinsi, siswa yang dari kelas paralel, itu mungkin merupakan calon untuk masuk universitas ternama.

Sementara, ruang kelas tujuh, tidak seperti kelas lain, sebagian besar dari kelas ini merupakan siswa koneksi dari keluarga berada dan pikiran mereka sama sekali tidak pada pembelajaran.

Oleh karena itu, ketika kelas-kelas lain belajar mandiri dengan serius, siswa diruang tujuh hampir sebanding dengan kuda-kuda liar yang terkilir. Dari luar pintu sudah terdengar hiruk pikuk.

Di ruang kelas, He Yu memblokir wajahnya dengan buku ujian simulasi wusan, berbalik untuk mengumpat. "Fck, Li Shi si keparat itu benar-benar mencari bahaya, menemui kakak Jiao secara langsung untuk membuat masalah."

Zheng Que fokus bermain game diponsel, merespon tanpa minat. "Lalu kenapa, kakak Ge tidak mengurusnya."

"Apakah Laozi peduli hasilnya? Ini adalah proses! Proses ini sangat menjengkelkan, apa kau mengerti?" Dia berkata sambil menarik Peng Chengcheng yang duduk disebelahnya, "Bagaimana menurutmu, Chengcheng?"

Peng Chengcheng dengan wajah gelap berkata, "Coba kau memanggilku ChengCheng sekali lagi?"

He Yu mengangkat tangannya dan menyerah, "Mulutku salah! Lidahku salah! Kita disini berjuang demi kakak Jiao melawan Li Shi. Lao Peng, di mana perhatianmu? Kesadaran ideologismu tidak cukup tinggi."

Peng Chengcheng menatapnya, "Lebih tinggi darimu."

He Yu adalah bocah gemuk pendek, Peng Chengcheng saat ini tepat menusuk titik menyakitkannya.

He Yu sangat marah dan melompat untuk menerjang Peng Chengcheng. Zheng Que baru saja menyelesaikan game, meletakkan ponsel untuk menghentikannya, "Apa yang kau lakukan? Bukankah tadi membahas kakak Ge yang mengurus Li Shi?"

Ying Jiao yang sedang bermain lipat kertas, mendengar itu, dia merobek kertas sambil berkata. "Jangan gunakan kata itu, terima kasih."

He Yu menutup mulutnya dengan tangan, tertawa buruk. "Apa yang terjadi dengan kakak Jiao, bicaramu meleset kemana?"

Ying Jiao menatapnya dengan serius, "Aku berpikir, game konsolmu disita oleh Lao Liu pagi tadi..."

Senyum He Yu perlahan menghilang, seketika marah dan menunjuknya, "Apa kau masih manusia? Adik melawan ketidakadilan untukmu!"

Ying Jiao bersandar di dinding, tersenyum. "Bagaimana kau berteriak, aku akan mendengarnya."

He Yu benar-benar meledak, dia berdiri bersiap menerjang Ying Jiao.

Pada saat yang sama, pintu ruang kelas tiba-tiba didorong terbuka, He Yu sangat ketakutan sehingga daging seluruh tubuhnya bergetar. Sudah terlambat untuk berbalik. Dia terburu-buru membuat alibi, memandang Zheng Que "Lao Zheng, penaku jatuh, tolong ambilkan."

Tidak direspon.

Wajah He Yu menggelap, menjerit sebal. "Lao Zheng?!"

Zheng Que mengabaikannya dan menatap kedepan dengan merana. "Menurutmu, kalau aku juga memotong gaya rambut, apa bisa memiliki efek seperti itu?"

Orang yang datang bukan Guru Liu, tetapi Jing Ji.

Dia memotong rambut pendek dan diwarnai hitam tampak rapi dan benar-benar mengungkapkan wajah tampan yang tak terucapkan. Seperti poplar putih kecil, dia hanya berdiri tegak di podium.

He Yu berbalik dan kaget. Dia merespon jujur. "Kau tidak bisa melakukannya, Lao Zheng, perlu kesadaran diri, kau harus mengubah kepalamu untuk mencapai efek ini."

Teman-teman sekelas lainnya juga terkejut, setelah beberapa saat hening, seperti meneteskan air di wajan minyak panas, mereka tiba-tiba meledak.

"WTF! apa itu Jing Ji? Bagaimana dia tiba-tiba menjadi begitu berkelas?"

"Jing Ji ternyata setampan itu?"

Siswa diruang kelas tujuh tidak memahami Jing Ji, seperti lem 502 mencari kesepatan untuk menempel pada Ying Jiao setiap hari. Bagi Teman Ying Jiao bersikap patuh secara berlebihan tetapi dangkal, mendesah kesal: kalau pada orang lain, Jing Ji hanya berwajah gelap, secara tidak sengaja menyentuhnya. Dia akan mengutuk untuk waktu yang lama.

Namun, sekarang, aura itu telah menghilang, dan kini terlihat menyegarkan dan dingin, sangat tampan sehingga membuat orang tidak dapat menutup kaki mereka.

"Hei, aku sudah mengkonfirmasi mataku, gaya rambut ini, aku akan memotongnya besok."

"Oh, sepertinya aku terpesona."

Jing Ji tidak memperhatikan diskusi teman-teman sekelas di bawah podium, ia khawatir tentang bagaimana menemukan bangku tubuh asli.

Dia pikir hanya akan tersisa satu bangku kosong di kelas, dan itu pasti miliknya. Namun, pemikirannya terlalu sederhana. Karena pada saat ini ... Sebagian besar bangku masih kosong.

Jing Ji tidak punya pilihan selain berdiri dan mencoba mendapatkan petunjuk dari bawah.

"Tidak," He Yu bingung, "Apa yang dia lakukan hanya berdiri disana? Pamer gaya rambut barunya?"

Zheng Que, "Mungkin dia sengaja menunjukkannya pada kakak Jiao."

Peng Chengcheng yang tidak banyak bicara, mengangguk setuju.

Sementara Ying Jiao berusaha untuk menahan senyum, menikmati situasi si wajah dingin yang sedang dalam kesulitan didepan sana.

Ketika mata Jing Ji mengarah padanya, Ying Jiao tampak memberi isyarat dengan pandangan menunjuk ke sebuah bangku kosong di depannya.

Menyadari itu, Jing Ji merasa lega, berterima kasih. Dia turun dari podium dan langsung duduk.

He Yu membuka mulutnya dan berteriak dengan wajah aneh. "Jing Ji, kenapa kau tidak kembali ke tempat dudukmu dan duduk dibangku orang lain?"

Tubuh Jing Ji kaku, dia menoleh dengan raut tidak percaya melihat Ying Jiao.

Ying Jiao membenamkan kepala di lengannya, tertawa terbahak.

Si cabul kecil ini benar-benar menarik.

3. Seberapa rapat?

Jing Ji mengikuti Ying Jiao berjalan keluar dari toilet, tiba-tiba dia merasa sedikit gatal di hidungnya, tangannya terulur dan menyentuh darah yang mengalir keluar.

Lelaki tadi memukulnya dengan keras.

Tiba-tiba ada semacam dorongan untuk kembali dan menamparnya beberapa kali lagi dengan pel.

Ying Jiao berjalan di depan, dengan hati-hati merenungkan kelainan Jing Ji hari ini. Begitu terhenyak, dia menemukan bahwa orang di sebelahnya menghilang. Dia memutar kepalanya dan melihatnya Jing Ji berdiri tak bergerak sambil menutup wajahnya.

Ying Jiao ragu-ragu, berbalik dan bertanya, "Apa itu sakit?"

“Tidak, bukan apa-apa.” Jing Ji menurunkan tangannya. “Darah, aku akan kembali untuk membersihkannya.”

Jing Ji mengeluarkan banyak darah, dia menyeka dengan tangannya, setengah dari wajahnya merah darah.

Dampak visual yang disebabkan begitu mengerikan.

Kepala Ying Jiao berdengung, wajahnya tiba-tiba pucat.

“Ada apa?” Jing Ji ingin kembali tetapi melihat keadaan Ying Jiao tampak tidak benar, dia kembali mengangkat tangannya dan menggosok hidungnya. “Apa banyak darah di wajahku?”

“Jangan bergerak!” Di dahi Ying Jiao ada lapisan keringat dingin, dan perutnya mual. Dia menutup matanya dan meraih pergelangan tangan Jing Ji, mencegah gerakannya.

“Apa kau terluka?” Jing Ji tidak memahami poin kunci, dan berpikir bahwa keadaan Ying Jiao yang tampak tidak wajar ini karena dipukuli. Dia melihat kembali ke arah toilet, agak cemas.

Setelah perkelahian tadi, dia dipaksa untuk terikat dengan Ying Jiao. Melihat situasi Ying Jiao kini, diperkirakan bahwa cederanya tidak ringan, dan efektivitas tempurnya pasti tidak baik.

Jika sekelompok orang itu keluar sekarang, mereka berdua hampir tidak memiliki perlawanan dan hanya bisa tergeletak dilantai.

Pada saat kritis ini, Jing Ji masih tenang dan tidak kacau. Dia menjilat bibirnya dan tiba-tiba meremas lengan Ying Jiao. Dia berkata dengan bijaksana, "Tahan, kau harus bertahan sampai kita menjauh dari toilet."
 
Dia meremasnya tanpa ampun, menyeret paksa Ying Jiao yang tengah vertigo.

Ying Jiao, "..."

Dia mendesis, secara tidak sadar melihat lengannya yang diremas. "Apa yang kau..."

Tangan Jing Ji bernoda darah, dan bersentuhan dengan kulit Ying Jiao, secara alami ikut ternoda. Lengannya dipenuhi dengan lumuran darah.

Ying Jiao sempoyongan dan roboh menimpa tubuh Jing Ji.

Apa yang terjadi? Jing Ji tertegun.

Dia dengan hati-hati mencerna situasi saat ini, melihat tangannya sendiri, beralih melihat lengan Ying Jiao yang tercetak noda darahnya, dan kemudian memandang lelaki itu yang tengah bersandar ditubuhnya...

Mengulangi ini beberapa kali, dan akhirnya sampai pada kesimpulan: tiran sekolah dari SMA eksperimental Donghai, Ying Jiao yang biasanya dipanggil kakak Jiao!

Dia ... phobia darah.

Tidak mengherankan bahwa buku asli telah menulis Ying Jiao tidak pernah memukul wajah saat berkelahi, dan tidak pernah mencederai kepala.

Disamping itu, Ying Jiao yang membuat banyak penggemar menjerit dan meratap ingin 'give him a child' dan bahkan sampai memberinya gelar tiran sekolah yang lembut. Ternyata bukan karena dia keras dalam memukul dan mengincar cedera internal! Bukan juga karena dia ramah karena selalu menghindar melukai wajah!

Tetapi karena dia phobia darah!

Jing Ji mengurai ingatan tentang kejadian ditoilet tadi. Ying Jiao dengan mudah menghancurkan sekelompok manusia bom nuklir. Pada saat ini, dia tidak berdaya bersandar ditubuhnya, tampak tidak berbahaya seperti bantal besar.

Jing Ji hening beberapa saat sebelum menerima fakta ini.

Dia mendorong Ying Jiao. "Apa kau masih sadar?"

Ying Jiao tidak merespons.

Jing Ji mendorongnya lagi dan dengan tenang berkata, "Jika kau tidak bangun, mereka akan mencari masalah lagi."

Alis Ying Jiao berkerut, masih tidak ada jawaban.

Disaat Jing Ji akan kembali mendorongnya lagi, tiba-tiba Ying Jiao memegang tangannya.

Jing Ji melihat bahwa dia masih memiliki kesadaran dan mencoba bertanya. "Mau aku mengirimmu ke klinik?"

Ying Jiao masih menutup mata, "Bersihkan wajahmu."

Jing Ji dengan jujur ​​berkata, "Aku tidak bisa lihat."

Ying Jiao menghembuskan napas, dukungan kuat untuk melepas jaket seragam sekolah, dan menutup kepala Jing Ji.

Semenit kemudian, Jing Ji dengan seragam sekolah yang membungkus wajahnya, hanya mengungkapkan mata dua mata, mengulurkan tangan kanannya untuk menopang tiran sekolah berwajah dingin setengah tidak sadar, berjalan terhuyung-huyung kedepan.

Tiga menit kemudian, kedua lelaki itu mandi di bawah terik matahari harimau musim gugur, berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, seperti dua ikan asin yang dijemur.

Vertigo Ying Jiao belum mereda, dan sebagian besar pusat gravitasi tubuh hanya bisa mengandalkan topangan Jing Ji. Masih menutup mata, dia mencibir. "Kecanduan bantuan, enggan untuk pergi?"

Jing Ji menoleh untuk menatapnya.

Ying Jiao bisa merasakan pandangannya tanpa membuka mata, dengan malas berkata, "Ada apa? Apa aku tampan?"

"Sangat tampan," Jing Ji dengan sungguh-sungguh mengakui. Dia kemudian mengedarkan pandangan dan berkata, "Aku hanya ingin bertanya, di mana klinik sekolah?"

Ying Jiao, "..."

Dia menggertakkan giginya, "Kau tinggal di eksperimen provinsi selama satu tahun, setiap kali kau dipukuli selalu menetap di klinik sekolah, tinggal disana lebih lama daripada di ruang kelas, dan kau masih bertanya dimana letaknya?"

"..." Jing Ji merespon tanpa rasa takut. "Kau tidak bilang, aku akan membuangmu disini."

Ying Jiao, "..."

Fck, bagaimana si cabul kecil ini sangat tidak normal hari ini.
.
.

Sepuluh menit kemudian, keduanya akhirnya tiba di klinik sekolah.

Situasi Ying Jiao cukup serius, tetapi untungnya tidak perlu menggantungkan glukosa. Dokter sekolah memberinya tempat tidur dan membiarkannya berbaring lurus sekitar lima menit, dan ia juga menyuruh Jing Ji untuk menuangkan secangkir air hangat dan biarkan dia minum lima menit kemudian.

Selesai mengambilkan Ying Jiao air, Jing Ji melepas seragam sekolah dari kepalanya dan meminta air pada dokter sekolah  untuk mencuci wajahnya.

Dokter sekolah mengamati sebentar dan melihat bahwa Jing Ji tidak bisa mencuci tanpa berkaca, jadi dia memindahkan kursi ke depan cermin setengah badan, lalu meletakkan baskom air di atas bangku. Dia berkata Jing Ji, "Cuci wajahmu sambil bercermin."

Jing Ji berjalan ke arah cermin.

“Kalian bocah ah, tidak belajar dengan baik setiap hari, dan hanya berpikir untuk membuat masalah, kalian akan menyesalinya nanti.” Dokter sekolah memberinya arah untuk menyesuaikan kursi, sambil lanjut mengoceh. “Ketika kalian tiba di usiaku, kalian akan mengerti. Aku sangat iri pada kalian ..."

Dia menunjuk pipi Jing Ji, "Kali ini kau beruntung, cederanya ringan, jika tidak, kau akan mendapatkan bekas luka di wajah tampanmu ini. Jagalah dengan baik."

Dokter sekolah berkata, tidak bisa menahan diri untuk melirik cermin.

Remaja di cermin memiliki kulit putih dan fitur wajah yang halus. Bulu matanya panjang dan tebal, seperti dua kipas kecil.  bentuk mata sepenuhnya diuraikan oleh bulu mata, dan ujung mata sedikit terbalik, seolah-olah memiliki eyeliner sendiri, dan itu dingin dan indah ketika tidak tersenyum.

Bahkan rambut kuningnya yang tak terurus tidak bisa menutupi wajah luar biasa ini.

Jing Ji berdiri kaku, bulu matanya bergetar, dan perlahan mengangkatnya. Setelah melakukan beberapa detik konstruksi pikiran, dia melihat ke cermin yang tertutup debu.

Dia seketika tertegun. Bahkan tidak menyadari dokter sekolah mengolesi yodium ke wajahnya.

Wajah ini ... Dia tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Dia terlihat persis sama, dan tanda lahir merah kecil di daun telinganya juga ada.

“Takut?” Dokter sekolah menggelengkan kepalanya dan berpikir, pada akhirnya, bocah ini masih anak-anak. "Jangan membuat masalah lain kali."

Nama yang persis sama, wajah yang sama, apa yang terjadi?

Jing Ji mencerna sebentar, hanya untuk menekan rasa terkejut dan keraguan di hati, dan dengan sungguh-sungguh berterima kasih kepada dokter sekolah. "Aku tahu, terima kasih."

Ying Jiao yang tengah istirahat seketika membuka matanya.

Sejak kapan si cabul kecil ini begitu sopan?

Biasanya dia akan menanggapi dengan wajah kesal: Diam! Ini bukan urusanmu.

Ying Jiao kembali menurunkan kelopaknya untuk menutupi keraguan di matanya.

“Lenganmu, aku akan membantumu untuk menghapusnya.” Jing Ji tidak ingin memiliki lebih banyak kontak dengan Ying Jiao, tetapi pertama, itu adalah noda darahnya sendiri, yang kedua adalah mengirim Sang Buddha ke Barat, sudah sembilan puluh sembilan langkah, membantu sampai akhir.

Ying Jiao mengulurkan tangannya.

Kekuatan Jing Ji tidak ringan atau berat saat membersihkannya, Ying Jiao tiba-tiba tersenyum.

Jing Ji menatapnya seolah bertanya kenapa dia tersenyum.

"Ya, Gege kecil, rutinitas sangat mulus."

Jing Ji tidak mengerti.

“Ketika kau menumpahkan darah padaku, apa kau sudah memikirkan adegan ini?” Bibir Ying Jiao berkedut. "Penguntit, mengejar selama satu tahun, bagaimaba rasanya setelah akhirnya bisa menyentuh lengan orang terkasih?”

Jing Ji, "..."

Dia dengan acuh kembali memasukkan tangan Ying Jiao ke selimut, berdiri jauh darinya, dan tidak menjawab.

"Aku akan kembali."

Dia menatap jam di dinding dan itu sudah lebih dari jam tiga sore. Dia masih harus keluar dan mengecat kembali rambutnya. Tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan itu akan menjadi bencana jika ia terlambat kelas malam.

Dia sudah berjanji dihadapan Guru Liu di satu sisi, dan disisi lain dia memang ingin melakukannya.

Tiba-tiba masuk ke novel, walaupun dia tenang dan terkendali, tidak ada perasaan nyata di hatinya.

Jing Ji saat ini sangat butuh mengerjakan beberapa topik untuk menenangkan diri.

Tidak ada yang bisa memberinya rasa aman kecuali matematika.

Ying Jiao mengangkat alis. "Kembali?"

"Hm," Jing Ji bergumam kemudian berkata, "Aku tidak boleh terlambat untuk kelas mandiri malam."

Ying Jiao tertawa mengejek. Seseorang yang selalu tidur setiap hari, bahkan hanya mengumpulkan lembar ujian kosong saat ujian mengatakan kepadanya tidak ingin terlambat kelas mandiri malam?

Sungguh lucu.

“Tunggu sebentar.” Ying Jiao meletakkan gelas plastik, mengambil band-aid dari atas meja, dan mengisyaratkan Jing Ji untuk mendekat.

Jing Ji dengan ragu kembali mendekat ke sisi tempat tidur, "Apa lagi?"

"Yang terjadi hari ini," Ying Jiao meraih kerah Jing Ji, memaksanya untuk membungkuk, perlahan-lahan menempelkan band-aid dimulutnya dan dengan lembut menepuk dua kali. "Simpan dihatimu, jangan katakan pada siapapun. Mengerti?"

Ketika dia berwajah dingin, mata sempit itu gelap, dan menguar aura berbahaya yang ekstrem, seperti binatang buas besar yang berburu di hutan.

Penuh kekejaman.

Tetapi Jing Ji tidak takut.

Dia memiliki kemampuan untuk melawannya dengan hanya memperlihatkan darah.

“Bicara saja, kenapa harus menyentuhku?” Jing Ji dengan marah merobek plester di mulutnya, “Aku tidak bilang tidak setuju.”

Ying Jiao dengan lembut mengetuk tempat tidur, sekarang dia benar-benar berpikir cabul kecil ini adalah orang yang berbeda.

Sebelumnya, selama dia mengerutkan alisnya, Jing Ji akan langsung bersembunyi jauh, tidak mungkin bersikap keras padanya. Dan ... berdasarkan obsesi gilanya, memiliki kesempatan untuk menyentuhnya, tidak mungkin bereaksi seperti ini.

“Oh?” Ying Jiao tiba-tiba menjadi tertarik. Dia duduk dan menatap Jing Ji, tampak seperti senyum namun bukan senyum. “Kenapa aku harus percaya padamu?”

Jing Ji merasa Ying Jiao meragukan moralitasnya, jadi dia berkata dengan dingin, "Mulutku sangat rapat."

Ying Jiao bersandar di tempat tidur, mengamatinya.

Si cabul kecil memiliki bulu mata tebal dan panjang, bentuk matanya sedikit lebih panjang, dan itu terlihat sangat dingin ketika tidak tersenyum. Tetapi pada saat ini, Jing Ji tengah memandang dengan tidak puas. Mata gelapnya lembab, dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan menepis rasa dingin, dan bahkan tampak agak lembut yang membuat orang sangat ingin membully.

Adapun mulutnya ...

Mata Ying Jiao mengarah ke bibir yang kemerahan alami, dan tiba-tiba tersenyum penuh makna. "Seberapa rapat?"

2. Kau berani memukul kepalaku?

Wajah Jing Ji memerah.

Dia buru-buru menurunkan kemejanya dan menarik ritsleting seragam sekolah ke atas, menatap marah laki-laki di depannya. "Apa yang kau bicarakan! Aku tidak co.. co ..." Dia benar-benar tidak bisa mengatakan itu. "Aku tidak melakukannya!"

Lelaki itu menatap wajahnya yang merah dan dengan samar merespon, "Katakan saja, trik baru apa lagi yang kau mainkan saat ini?"

Jing Ji tidak tahu apa hubungan antara tubuh asli dan orang itu, jadi tidak membuka mulutnya.

“Aku sudah berulang kali kata, jangan menggangguku, kan?” Lekaki itu membungkuk untuk menatapnya, suaranya sangat ringan, nadanya tidak naik turun, tetapi sangat dingin. “Apa, kau coba untuk menguji batas kesabaranku?"

Dia kemudian menepuk wajah Jing Ji dengan korek api dan tersenyum, "Kesabaran baba memang baik."

/ Dia nyebut dirinya baba -ayah- /

..."Aku dengar kau memberi tahu semua orang kalau kau itu mantan pacarku. Katakan, sejak kapan kita pacaran?"

..."Cih..." Dia mendesis, bulu matanya yang tebal tidak bisa menghentikan tatapannya yang tajam. "Kau pergi ganggu orang lain, baba tidak tertarik padamu, mengerti?"

Mantan pacar ...

Kali ini, Jing Ji tidak perlu memikirkannya lagi. Dia tahu siapa orang yang ada di depannya.

Protagonis gong dalam buku, Ying Jiao.

Tidak heran tubuh aslinya terobsesi untuk mengejarnya, wajah lelaki ini sangat tampan.

Melihatnya tidak merespon, Ying Jiao mengerutkan alis, menekan korek api ke wajah Jing Ji. "Apa itu sudah jelas?"

Cangkang logam dari korek api yang dingin membuat Jing Jin terhenyak dan mengangguk tanpa ragu-ragu.

"Kau tenang saja, aku pasti akan menjauh darimu mulai sekarang."

Sebagai umpan meriam yang menyedihkan di masa depan, dia ingin menjaga jarak dari karakter yang terlibat dalam plot. Sweet love teks itu tidak logis. Siapa yang tahu plot apa yang akan keluar untuk membuat protagonis gong dan shou bisa bersatu.

Ying Jiao tadinya berpikir Jing Ji masih terobsesi seperti sebelumnya. Dia tidak menyangka Jing Ji langsung setuju. Ini menyegarkan.

Dia sedikit berkedip, apakah si cabul kecil ingin bermain hard to get  atau dia benar-benar siap untuk menyerah?

"Kau ..." Ying Jiao masih ingin mengatakan sesuatu tetapi tiba-tiba dari luar datang sekelompok orang.

Orang yang pertama masuk adalah lelaki bertubuh tinggi, mengenakan seragam basket tanpa lengan, menampakkan otot-otot lengannya yang kencang, terlihat penuh kekuatan.

Ketika melihat orang didalam, dia membanting bola basket di tangannya ke dinding dan menyeringai. "Hei, bukankah ini kakak Jiao. Apa yang kau lakukan di toilet?"

Bola basket memantul dan akan menabrak Ying Jiao. Dia dengan santai mengulurkan tangan dan menekuk bola basket dengan mudah, lalu melihat si lelaki berotot. "Siapa kau?"

"Ying Jiao! Kau, sialan, jangan membuatku malu!" Lelaki berotot itu emosi. "Aku katakan padamu! Aku Li Shi dari tingkat tahun pertama."

Li Shi, Jing Ji mengangkat kepalanya.

Didalam buku, dia adalah manusia sampah, sama seperti Jing Ji, keluarga mengeluarkan uang untuk membiarkannya masuk ke SMA Donghai. Namun, hanya kurang dari sebulan setelah dia mulai sekolah, dia memaksa seorang gadis di kelas yang sama untuk melompat dari lantai gedung asrama.

Untungnya, mereka bisa diselamatkan, dan Li Shi dikeluarkan dari sekolah.

Setahun kemudian, diperkirakan bahwa masalah ini telah dilupakan, keluarganya kembali mengirim Li Shi ke eksperimen provinsi dan mulai lagi dari tahun pertama.

Ying Jiao kembali mengeluarkan rokok dan dan menggigitnya. "Li Shi?"

"Ya!" Li Shi mencibir, "Kenapa, kau takut? Mereka yang telah diganggu oleh Laozi selama bertahun-tahun ini, sudah tidak bisa dihitung! Jika aku tidak mengambil cuti dari sekolah, kau pikir siapa kau?"

Dia ganas diluar tetapi dalam hati sebenarnya menggigil.

Dia pernah melihat secara langsung Ying Jiao berkelahi. Lelaki yang sedang tersenyum itu berubah dingin dan kejam menekan lawannya di kolam renang, tidak peduli orang itu berjuang meminta belas kasihan tetapi dia tidak melepaskannya dan dengan wajah tanpa ekspresi hanya menyaksikan lawannya menderita tersedak air ...

Tindakan dingin dan kekejaman itu membuat Li Shi ketakutan hingga terbawa dalam mimpi tengah malam.

Tidak hanya itu, setahun yang lalu, Li Shi juga mendengar bahwa Ying Jiao memukul guru SMA Donghai percobaan provinsi, setelah itu, dia tidak hanya tidak menerima hukuman, tetapi juga tetap pergi ke sekolah secara normal.

Kali ini, jika bukan karena tawar-menawar yang tidak bisa ditolak, dia tidak akan datang untuk menemukan orang ini.

Peluang ini tampaknya kebetulan hari ini, bahkan dia sudah menunggu lama.

Dari saat dia melihat Ying Jiao, dia tahu bahwa saatnya telah tiba. Walaupun Ying Jiao lebih kuat, tetapi kedua tinju sulit untuk menyerang empat tangan, belum lagi ada delapan orang di pihaknya, masing-masing dari mereka adalah petarung yang baik, tekanan ini dapat menghancurkannya.

Ying Jiao tersenyum dan dengan malas meludahkan rokok dari bibirnya. "Aku tidak kenal."

"Brengsek kau!" Sekali lagi diabaikan. Ketakutan dihati Li Shi digantikan oleh amarah. Dia bersiap menerjang Ying Jiao. "Cerdaslah sedikit, panggil aku kakak Shi. aku ..."

Ying Jiao menendangnya jatuh lalu menekannya ke dinding beton dengan satu tangan. "Siapa yang brengsek?"

Penampilan malas tadi tergantikan dengan aura yang begitu dingin dan kejam. Dia meninju perut Li Shi  "Ayo, ulangi pada baba, siapa yang kau bilang brengsek?"

Li Shi menjerit kesakitan, dan anggota tubuhnya memberontak. Ying Jiao menghadang tangannya dan memberi tendangan di lututnya.

Lutut Li Shi lembut, dan dia tersungkur ke bawah dan kepalanya terbanting ke dinding, matanya berputar-putar.

Ying Jiao meremas rambutnya, memaksanya untuk melihat ke atas, kekuatan besarnya hampir merontokkan panca indera Li Shi. "Katakan, siapa yang kau sebut brengsek?"

Li Shi menatap matanya, dan mata itu penuh aura dingin, seperti es selama ribuan tahun, hanya sekilas, biarkan Li Shi melahirkan keringat dingin.

“Kalian, apa kalian semua sudah mati?” Li Shi gemetar, hei, akhirnya dia meneriakkan sepatah kata.

Tindakan Ying Jiao terlalu cepat, dan orang-orang yang dibawa oleh Li Shi tidak sempat bereaksi sama sekali, dan mereka hanya berdiri di sana dengan bodoh.

Mendengar teriakan sengit Li Shi, mereka baru ingat bahwa mereka harus membantu.

Namun, kekejaman Ying Jiao yang baru saja diperlihatkan telah membunuh keberanian mereka. Mereka saling melihat satu sama lain, tidak berani terburu-buru untuk maju lebih dulu. Dengan menggertakkan gigi, mereka akhirnya maju bersama.

Seperti melempar karung, Ying Jiao melempar Li Shi ke lantai dan menginjak wajahnya. "Tepat, datang bersama untuk menghemat usaha."

Sekelompok orang itu langsung menjadi grup.

Seorang lelaki pengikut Li Shi, mendapati sosok Jing Ji adalah sasaran bully yang empuk. Dia menyerah bergabung dengan rekannya untuk mengeroyok Ying Jiao dan menerjang langsung ke arah Jing Ji.

Jing Ji tidak ada pengalaman berkelahi, dan tidak pernah melibatkan diri jadi kepala dan wajahnya masih hidup dan sehat.

Selama tidak menyentuh garis bawah, temperamen Jing Ji sangat baik.

Dia tumbuh di panti asuhan, dan telah melalui banyak hal yang tidak adil sejak dia masih kecil. Siapa pun yang mengumpat dan memprovokasinya beberapa kali, Jing Ji tidak pernah peduli.

Namun, ada satu bagian yang sangat Jing Ji jaga.

Kepalanya.

Dia mendengarkan kata-kata motivasi yang telah dituangkan sejak kecil, mengukir kata-kata mengubah nasibnya menjadi tulang belulangnya. Dia juga mendengar di panti asuhan di mana seorang anak mengidap demensia setelah kepalanya pecah. Sejak saat itu melindungi kepalanya sendiri yang disebut kedap udara.

Dalam 18 tahun terakhir, dengan mengandalkan kepalanya yang cerdas ini, dia berhasil mendapat tempat kedua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Melihat bahwa ia akan menjadi populer dan masuk ke universitas idealnya, dia tiba-tiba menyeberang.

Tidak masalah jika dia sedang menyeberang, Jing Ji orang yang masuk akal, dan panik hanya sementara waktu lalu kembali tenang.

Lagipula, sudah terlanjur jadi dia tidak takut.

Tapi sekarang, seseorang berani memukul kepalanya dan bahkan melakukannya beberapa kali!

Jing Ji menatap lelaki itu dan maju selangkah.

Jelas sekali, tidak ada ekspresi di wajahnya, dan lelaki itu benar-benar melihat aura pembunuhan yang mematikan darinya, seketika menguar tekanan.

Ying Jiao melirik situasi Jing Ji, mengerutkan alis.

Meskipun dia tidak suka pada Jing Ji, tetapi situasi hari ini jelas dipengaruhi olehnya, jadi dia tidak bisa mengabaikannya.

Setelah melayangkan satu pukulan pada orang terakhir dan jatuh tergeletak dilantai, Ying Jiao berbalik.

Kemudian dia melihat bahwa Jing Ji biasanya dibully dan takut akan kesulitan, tidak mengatakan apa pun kini mengambil kain pel di sebelahnya dan dengan akurat, tanpa ragu-ragu, menekan kepala pel ke wajah lelaki itu.

Pel baru saja selesai digunakan untuk membersihkan toilet, dan itu ditutupi dengan warna hitam dan kuning. Aromanya menyengat sebanding dengan senjata nuklir. Lelaki itu syok dan kemudian menutup mulutnya, membungkuk dan mual-mual, hampir pingsan.

Ying Jiao, "..."

Jing Ji tampak dingin pada lelaki itu, seperti seekor binatang buas kecil yang akhirnya merobek kulit domba, memegang pel dan terus menghantam wajah lelaki itu, "Kau berani memukul kepalaku? Kau berani memukul kepalaku?!"

Air mata dan air liur lelaki itu bercampur dan menutupi wajahnya. Hampir tidak jelas untuk memuntahkan jantung, hati, dan paru-paru.

Ying Jiao datang mendekat, Jing Ji memutar kepalanya dengan masih memegang pel.

"Ehem," Ying Jiao dengan tinju di bibir, membersihkan tenggorokannya, melihat penampilan tindakan pencegahan itu, bibirnya sedikit miring, dia menunjuk ke pel di tangan Jing Ji, dan berkata. "Biarkan aku pinjam."

Jing Ji ragu-ragu dan menyerahkan pel kepadanya.

Ying Jiao mengambil alih pel, matanya melirik orang yang berbaring di lantai dan menarik Li Shi dengan kuat dari mereka yang tak berdaya.

Dalam tatapan ngeri Li Shi, Ying Jiao menginjak perutnya dan mempelajari aksi Jing Ji, dia menekan pel ke wajahnya. "Apa yang tadi aku tanyakan, bodoh?"

Bau busuk keluar, Li Shi mual dan mau muntah, berjuang mati-matian. Dalam gerakan kasar itu, beberapa helai kain masuk ke dalam mulutnya. Li Shi semakin mual, membuka mulutnya dan bersiap muntah, tetapi suara Ying Jiao terdengar. "Berani meludahkannya, aku akan menyuruhmu menjilatnya kembali."

Li Shi gemetar dan akhirnya tidak dapat menahan serangan ganda fisika dan kimia. Ia runtuh. "Aku, aku salah, kakak Jiao. Lepaskan aku ..."

"Kau tidak mengerti kata-kataku?” Ying Jiao menginjak dadanya dan kembali menekan pel. “Aku bertanya padamu, siapa yang kau bilang brengsek?"

"A-aku yang brengsek..." Li Shi mengguncang tubuhnya dengan sangat buruk, dan ada seruan dalam suaranya. "Aku-aku yang brengsek."

"Cih." Ying Jiao tersenyum dingin. "Terlalu jelek."

Dia menunjuk wajah Li Shi dengan ujung sepatunya dan berbisik dengan acuh tak acuh. "Aku benci orang mengatakan kata itu padaku."

Li Shi dengan putus asa mengangguk. "Aku, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi..."

"Pecundang." Ying Jiao menghempas pel, maju dua langkah, berhenti, dan berbalik menatap Jing Ji. "Ayo pergi."

1. Little Classmate, Self-touching.

"Katakan, kenapa kau berkelahi kali ini?"

Ketika kesadaran sentimentalnya kembali, Jing Ji mendengar suara laki-laki yang asing.

Dia membuka matanya dan mendapati lelaki setengah baya tengah melotot galak sambil menepuk meja, berteriak dengan marah. "Sehari sebelum kemarin, kau sudah berjanji tidak akan bolos dan berkelahi, dan akan belajar keras. Hasilnya kau kambuh dalam sekejap mata! Kau pikir guru tidak bisa mengontrolmu? Ah?"

... "Lihat apa? Aku katakan, kali ini kau jangan berpikir bisa lolos!"

Jing Ji tampak bingung, pikirannya kosong.

Apa yang sedang terjadi?

Dia hanya ingat bahwa setelah hasil ujian masuk perguruan tinggi keluar, dia gagal menempati peringkat pertama dengan selisih hanya satu poin. Dia tertekan, minum beberapa alkohol dirumah lalu tertidur kemudian bangun dan disinilah.

"Aku ..." Dia secara tidak sadar mengikuti alur pria itu dan berkata, "Aku tidak berkelahi..."

"Tidak berkelahi?!" Pihak lain semakin marah. Suaranya nyaring hampir memecah gendang telinga Jing Ji. "Kau masih berani bilang tidak berkelahi?! Orang itu pingsan dan apa maksudmu tidak berkelahi? Apa kau anggap itu menyentuh? Sini, sini, Laozi akan menyentuhmu hari ini!"

Jing Ji menghirup udara dingin, ketika melihat pria itu bersiap untuk memukul, dia dengan cepat mengangkat tangannya untuk mencegah. "Paman, tunggu sebentar..."

Ketika tangannya menjangkau, dia merasa ada sesuatu yang salah.

Sejak kecil posisi menulis Jing Ji tidak standar dan guru sudah mengoreksi berkali-kali, tetapi dia tidak bisa mengubahnya. Sehingga di jari tengah kanannya, ada sedikit benjolan karena sering menulis.

Tetapi jari tangan di depannya saat ini putih mulus dan tanpa cacat, tidak ada jejak sering menulis.

Ini bukan tangannya.

Otak Jing Ji berdengung dan jantungnya berdetak seperti drum.

Dia mengambil napas dalam-dalam dan menenangkan diri selama beberapa detik, lalu perlahan menundukkan kepalanya, mengamati penampilannya.

Tubuh itu tidak mengenakan kemeja putih miliknya, tetapi seragam biru-putih, pola aneh dicetak di sisi kiri dada, dikelilingi oleh beberapa karakter kecil: Donghai Province Experimental High School.

Jing Ji sempoyongan dan pinggang belakangnya menghantam tepi meja.

Ini bukan tubuhnya, atau sekolahnya.

Dia ... menyeberang.

"Kau memanggilku apa? Paman?" Pria itu menatap Jing Ji dengan tidak percaya, dia sangat marah sehingga nafasnya sangat berat. "Aku mengatakan beberapa kalimat, dan kau sudah tidak mau memanggilku guru sekarang?"

"Tenang, Guru Liu, tenanglah." Seorang guru bertubuh pendek dan gemuk dengan kacamata datang mendekat, menahan guru Liu yang emosi. "Jing Ji hanya reflek bicara karena akan kau pukul, tidak ada maksud lain."

Dia kemudian menoleh pada Jing Ji. "Cepat, minta maaf pada guru kelasmu."

Pada saat ini, jantung Jing Ji sudah memicu gelombang besar, wajahnya pucat, berusaha menenangkan dirinya.

"Maaf, guru, aku salah."

Guru Liu mendengus, menyingkirkan tangan guru gemuk pendek yang menahannya. Dia kemudian berjalan ke depan Jing Ji, berkata, "Orang tuamu mengeluarkan banyak biaya dan mengirimmu ke sekolah ini agar memiliki lingkungan belajar yang baik! Kau malah belajar untuk berkelahi, belajar untuk bolos, tapi tidak belajar pelajaran! Apa kau ingin mengecewakan mereka?"

Dia melanjutkan, "Aku tidak mengerti. Kau diruang kelas tujuh dan Qiao Anyan diruang kelas sebelas, ruang kelas kalian tidak di lantai yang sama. Bagaimana dia bisa memprovokasimu?"

"Qiao Anyan?"

Qiao Anyan, SMA Eksperimental Provinsi Donghai, Jing Ji ...

Mata Jing Ji terbuka lebar, bukankah ini konten dari novel remaja rebirth yang telah dia baca sebelumnya?

Sang protagonis shou Qiao Anyan sangat malang dikehidupan terakhirnya, depresi dan mati. Setelah suatu kebetulan, ia terlahir kembali menjadi siswa SMA tahun kedua, dari siswa biasa menjadi siswa berprestasi.

Novel ini berisi teks yang manis dan menyegarkan, tetapi penulis hanya fokus pada si protagonis shou untuk menjadi peringkat pertama, dan perasaan dengan gong tidak punya waktu untuk berkembang.

Para pembaca tidak suka digantung dan Jing Ji juga ikut merutuk saat itu.

Dia tidak menyangka secara misterius benar-benar masuk ke dalam plot cerita itu.

Dalam novel itu, *tubuh aslinya hanyalah umpan meriam. Karena obsesi gila dengan protagonis gong Ying Jiao, dia melakukan banyak hal bodoh dan bahkan membual sebagai mantan pacar Ying Jiao. Pada akhirnya, mengajak protagonis shou untuk berkelahi saat pulang sekolah dan meninggal dalam perkelahian geng

*tubuh aslinya: ini maksudnya karakter Jing Ji yang berada didalam novel ( yang juga saat ini dia sedang alami ) Dibawah bakal ada kalimat ini juga jadi jangan bingung.


Alasan perkelahian ini adalah karena tubuh aslinya mendengar bahwa Qiao Anyan suka pada Ying Jiao, dia merasa marah dan mencari masalah, mengeroyoknya.

Jing Ji dengan hati-hati mengingat plot dalam novel itu, penemuan yang menyedihkan, karena insiden inilah yang menyebabkan kelahiran kembali Qiao Anyan.

Dan saat ini hanyalah awal dari novel.

"Qiao Anyan? Apa maksud bicaramu itu?" Guru Liu sangat marah. "Kalian berdua berkelahi. Jangan bilang kau tidak tahu siapa namanya! Apa kau masih membuat serangan yang berbeda?"

Jing Ji mengambil napas dalam-dalam dan menghela nafas dengan tangan sedikit bergetar. Dia memandang Guru Liu. "Guru, aku tahu itu salah. Aku berjanji untuk belajar keras di masa depan dan tidak akan pernah berkelahi lagi."

Dia tidak tertarik pada Ying Jiao, juga tidak berniat untuk terus menjadi umpan meriam bagi protagonis shou.

Memangnya menyelesaikan soal matematika dan buku kerja tidak menyenangkan, untuk apa pacaran?

Dia hanya ingin menghindari plot dan menjalani hidupnya sendiri, mungkin suatu hari dia akan kembali.

Mendengar itu, Guru Liu sedikit melunak, nada suaranya melembut tetapi wajahnya masih jelek. "Kenapa harus menunggu guru berteriak dulu baru kau berjanji ah!"

Dia melangkah maju, meraih helai rambut disisi telinga Jing Ji, "Lihat rambutmu, aku sudah bilang beberapa kali untuk mengganti warnanya kan? Kau masih tidak mendengar? Ah?"

Jing Ji dikejutkan oleh warna kuning dari rambutnya, dia langsung berkata dengan sopan. "Guru, aku minta maaf, aku akan segera mengubahnya kembali."

Melihat pengakuan salah Jing Ji yang sangat sopan, Guru Liu merasa itu sangat tidak nyata.

Dia dengan skeptis melihat ke atas dan ke bawah dan menyipitkan mata. "Apa kau ingin lolos dari hukuman jadi dengan sengaja mengatakan ini?"

Jing Ji sibuk menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku memang salah. Guru bisa menghukumku. Aku hanya ingin mengubah pikiranku dan bersikap baik di depanmu."

"Oh," Guru Liu senang. Rambut kuning Jing Ji seketika menyenangkan mata. "Mengajarimu lebih dari setahun, ini adalah pertama kalinya aku melihatmu mengakui salah begitu tulus."

Dia mulai mengajar Jing Ji dari tahun pertama sekolah, Jing Ji memilih kelas sains dan berada di kelasnya.

Anak itu entah apa yang terjadi, sangat suka memberontak. Semakin dilarang, dia semakin sering melanggar.

Karena itu Guru Liu telah berusaha keras mengontrol Jing Ji, entah sudah berapa kali dia menegurnya, tetap saja tidak bisa menariknya ke jalan yang benar.

Tanpa diduga, ketika dia akan menyerah, Jing Ji tiba-tiba berubah.

"Yang baru saja kau katakan pada guru, apa ini serius?"

Jing Ji mengangguk, berbisik. "Ya, aku sudah menyusahkan guru. Aku berjanji tidak akan membuat masalah lagi."

Guru Liu berlidah tajam tetapi berhati lembut, ditambah sudah lama mengatur Jing Ji, hatinya lembut dalam sekejap. "Karena kau sudah mengatakan ini, guru akan mempercayaimu sekali, dan aku tidak akan bertanya alasan kau berkelahi, selama kau tidak mengulangi lagi, guru membiarkanmu lolos."

"Tapi," Guru Liu dengan serius lanjut berkata. "Ini adalah yang terakhir, dan waktu berikutnya, guru tidak akan membantumu."

Lalu melirik rambut kuning Jing Ji. "Kalau begitu, kau tidak harus mengikuti kelas sore. Guru memberimu ijin untuk pergi mengubah rambutmu. Bagaimana?"

Jing Ji langsung setuju.

Guru Liu menghela nafas. "Pergilah, ingatlah untuk kembali dikelas malam."

Jing Ji merespon lalu keluar dari kantor.

Pada saat ini, kelas sedang berlangsung jadi suara guru terdengar dari waktu ke waktu diluar koridor. Jing Ji berdiri diam sejenak, mendengarkan, lalu berbalik dan berjalan menuruni tangga.

Dia tidak memiliki ingatan tentang tubuh aslinya, dia berkeliling dan mencoba menemukan toilet.

SMA Donghai adalah sekolah menengah terbaik di provinsi ini, dengan sejarah panjang dan toilet yang sangat kontemporer.

Squat hitam dipisahkan oleh lapisan semen pendek dengan deretan faucet sederhana.

Jing Ji mencuci wajahnya, tangannya di wastafel, membiarkan tetesan air turun ke pipi.

Angin bertiup, dan mendatangkan kesejukan, sehingga kepalanya sadar.

Dia tidak tahu mengapa dia menyeberang, juga tidak tahu ke mana jiwa asli dalam tubuhnya pergi, tetapi karena sudah begini, dia akan mengikuti arus.

Jangan mati, jangan dekat dengan karakter plot, dan hidup dengan cara sendiri.

Dia menanamkan pemahaman ini dan perlahan menghela nafas, dirinya jauh lebih rileks.

Disaat ini, dia merasa sedikit perih.

Saat menyentuh tubuhnya dari balik pakaian, itu terasa sakit.

Dia terluka secara fisik.

Jing Ji membuka ritsleting jaket seragam sekolah dan menarik kemeja putih pendek di dalamnya.

Pada tubuh remaja yang kurus ini, ada beberapa memar merah dan tampak sangat mengerikan karena kulitnya terlalu putih.

Tampaknya kali ini dia dan si protagonis baru saja berkelahi, dan tubuh aslinya tidak bisa menahan serangan.

Telapak tangannya menekan di bagian atas memar, untunglah, cedera itu hanya tampak menakutkan, tidak terlalu serius, dan akan baik-baik saja menunggu sampai memar hilang.

Khawatir ada luka di tempat lain dan kebetulan tidak ada orang di toilet, Jing Ji menemukan sudut, membuka jaket seragam sekolah dan menggantung di lengannya, lalu menahan ujung kemeja putih bagian belakang dengan mulutnya, dan menarik keluar pinggang celananya dengan satu tangan, memutar lehernya untuk melihat tubuh bagian belakang.

Tepat saat lehernya akan patah, langkah kaki datang dari luar.

Jing Ji reflek memandang ke asal suara.

Seorang lelaki yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya terlihat sangat tampan, berjalan masuk dengan santai.

Rambut hitamnya acak-acakan, dahinya cukup basah. Selama berjalan, keringat mengalir menuruni garis wajahnya dan akhirnya melintasi leher dan jatuh ke tulang selangkanya.

Ada rokok yang belum dinyalakan di bibir tipisnya, matanya yang sempit terkulai, fokus pada rokok, tangan kanannya membuka korek api, dan akan membakar, namun seakan sadar situasi, dia menoleh kearah Jing Ji.

Toilet lembab dan gelap, dan cahayanya sangat buruk. Lelaki itu mengerjapkan mata untuk melihat lebih jelas.

"Jing Ji?"

Jing Ji tertegun, orang ini mengenalnya?

Dia mengangguk pelan.

Lelaki itu tersenyum, menurunkan rokok lalu perlahan berdiri didepan Jing Ji.

Dia setengah kepala lebih tinggi dari Jing Ji, dan hampir menenggelamkan tubuh Jing Ji di bawah sosoknya. Ketika mata hitam yang sempit itu menatapnya, ada perasaan penindasan yang tidak beralasan dan membuat Jing Ji mundur tanpa sadar.

"Kenapa takut padaku?" Lelaki itu mengangkat alis dengan senyum sembrono di wajahnya.

Dia melihat ke atas dan ke bawah pada penampilan Jing Ji dan matanya jatuh pada kemejanya yang ditarik ke atas dan satu tangan dipinggang celananya. Lelaki itu bersiul, "Wow, apa kau ... sedang c*li?"

... "Menakjubkan, teman sekelas kecil." Lelaki itu dengan malas bertepuk tangan. "Fungsi baru dari toilet pria telah dikembangkan."

Intro

Judul: 穿成校草前男友[穿书]
Penulis: 连朔
Length: 104 Chapter
Genre: Sweet, Wearing Book, School life, Yaoi.
Bahasa asli: China
Status novel: Tamat

Translated by Chocosalty


.
.
Setelah gagal mendapat skor tertinggi diujian masuk perguruan tinggi, Jing Ji yang tertekan, mabuk lalu jatuh tertidur dan ketika tersadar, dia sudah menyeberang masuk ke dalam suatu novel remaja rebirth yang mempertemukannya dengan xiaocao (school beauty, most handsome boy in school) yang tidak tahan melihat darah, Ying Jiao.

Ketika keduanya get along, Ying Jiao mendapati bahwa Jing Ji berbeda dengan sebelumnya.

Awalnya hanya sekedar menggoda/memprovokasi, kemudian dia akhirnya tertarik pada Jing Ji.

Jing Ji yang begitu serius menjalani hidup, memengaruhi Ying Jiao yang berandalan dan mulai belajar dengan serius. Dia berusaha keras untuk masa depan keduanya. Disaat bersamaan, Jing Ji juga bergabung dengan keluarga besar diruang kelas 7 dengan bantuan Ying Jiao.

Kebenaran tentang kehidupan masa lalunya dan alasan dia masuk ke plot novel perlahan terkuak.

.

School bully, xiaocao Gong X Cold outside-Warm inside, OCD, top student Shou.

Ying Jiao x Jing Ji

5. Memakan rotiku berarti kau jadi milikku.

Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Pei Yun datang dengan selimut kecil.

"Tempat tidurnya basah karena air bocor ke bawah." dia menjelaskan, "Zhou You tidur di kamarmu hari ini, kau bantu atur ranjangnya."

Tong Tong tidak bergerak, memegang kaus ditangannya, sangat enggan.

"Tong-"

"Tidak apa Bibi, aku bisa tidur di sofa, lagipula, kamar tidur juga panas. Awalnya aku memang berencana untuk tidur di sofa." Zhou You mengedipkan matanya pada Tong Tong berkata bahwa dia tidak tidur dengannya. "Aku sudah merepotkan malam ini. Aku kesini untuk pamit pada Tong Tong."

"Kau sebut sofa?" Pei Yun mengernyitkan alisnya. "Sofa dirumahmu sama dengan di rumah kami. Duduk dua orang saja sudah penuh sesak. Kau hanya akan tidur sambil duduk sepanjang malam."

"Aku berlatih keras baru-baru ini dan sudah biasa tidur sambil duduk." Zhou You tersenyum senang, berbalik dan ingin pergi, "Sofaku bisa dibongkar pasang dan itu akan lebih lebar."

Tong Tong memiring kepalanya melihat perban putih melilit lengan kiri Zhou You.

"Apa itu bisa dibongkar?" Pei Yun ragu.

"Tentu saja! Ceklek.. Ceklek... terbongkar." Kata Zhou You.

"Itu-"

"Bu, berikan padaku." Tong Tong mendengus dingin, melemparkan kaos ditangannya dan mengambil selimut kecil dari lengan ibunya.

Zhou You tampak bengong.

Pei Yun tersenyum sebentar, berbalik dan pergi.

"Tahan." Tong Tong dengan dingin melemparkan selimut itu ke arah Zhou You lalu naik ke ranjang atas melalui tangga kayu untuk mengepak barang-barang.

Tempat tidurnya dua tingkat mirip dengan tempat tidur anak-anak, yang ditinggalkan oleh keluarga yang dulu tinggal di sini.

Tidak ada banyak barang di ranjang atas, hanya biola dan beberapa buku.

Tong Tong dengan hati-hati mengambil kotak biola dan menaruhnya di lemari. Kemudian semua buku dipindahkan ke atas rak buku.

"Terima kasih sobat." Zhou You meraih bahu Tong Tong.

"Siapa yang sobatmu," Tong Tong menepis tangannya.

"Sisters!" Zhou You kekeuh merangkulnya.

"Minggir." Tong Tong mendorongnya pergi, mengambil kembali kaus yang telah dilepas, dan berbalik ke ruang tamu.

Pei Yun baru saja mengeluarkan susu dan bersiap untuk mengantar ke kamarnya.

"Gelas ini untuk Zhou You." Pei Yun menyerahkannya.

Tong Tong tidak menjawab, membungkuk dan menyesap beberapa teguk.

"Dasar bocah," Pei Yun tersenyum melihat kelakuannya.

"Aku memang masih bocah " Tong Tong mengambil alih gelas itu.

"Besok sudah mulai sekolah, ibu tidak bisa menemanimu." Pei Yun mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya.

"Aku bisa pergi sendiri." Tong Tong menundukkan kepalanya digosok ke tangan ibunya.

"Ya, anakku bisa melakukan apa saja." Pei Yun melambaikan tangannya, "Pergilah tidur. Jangan berkelahi."

Ketika Tong Tong kembali ke kamar, Zhou You sudah mengemasi tempat tidur atas, dan dia juga mengatur buku-buku yang baru saja dia rusak.

Tong Tong merasa puas. Dia mengangkat dagunya dan menyerahkan susu, mengisyaratkan untuk minum.

Zhou You mengambil susu dari tangan Tong Tong lalu meneguknya. "Aku tidak tahu mengapa ... susu keluargamu sangat manis."

Mata Tong Tong beralih pada gelas, teringat bahwa dia telah menyesap susunya.

Dia mengangguk samar dan mengubah topik pembicaraan, "Kau ambil pakaianmu, aku akan mandi lebih dulu baru giliranmu."

"Ya." Zhou You menghabiskan minumannya lalu pergi keluar dengan membawa gelas kosong.

Tong Tong merasa bahwa orang ini cukup tahu diri, jadi suasana hatinya tidak terlalu buruk. Dia bersenandung kecil dan membawa pakaiannya ke kamar mandi.

Setelah Tong Tong selesai, giliran Zhou You untuk mandi.

Dia tadinya berniat untuk mandi dirumahnya saja, namun begitu kembali mengambil pakaian, dia menemukan bahwa tidak ada air.
.
.

Zhou You selesai mandi dan kembali masuk ke kamar. Tong Tong yang sedang mengemasi tas sekolahnya tidak mendongak, "Saat tidur nanti, kau tidak boleh mendengkur atau menggertakkan gigi. Kalau tidak aku akan mengusirmu."

"Aku tidak bernafas saat tidur, tutup mata seperti orang mati," kata Zhou You.

"..."

Tong Tong menarik ritsleting tas lalu berbalik untuk melihatnya.

Zhou You tidak memanjat tangga, menopang pada sisi tempat tidur, membungkuk dan langsung melompat.

Tong Tong tertegun dengan aksi yang menarik dan keren ini, dia diam-diam merasa kagum namun mendatarkan wajahnya, tidak menunjukkan.

Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran. "Bukannya tanganmu patah?"

"Ah? Lagipula, kebidanan dan kandungan tidak mengetahuinya," kata Zhou You.

Tong Tong tidak berbicara.

Setelah menunggu beberapa saat, Zhou You hanya mendengar gumaman kecil di tempat tidur di bawah, tersenyum bodoh, dia dengan baik hati menjelaskan. "Tanganku tidak apa-apa, dokter bilang akan sembuh setelah istirahat selama dua minggu."

Tidak ada suara di tempat tidur bawah.

Mata besar mudah marah, tetapi orang yang baik walaupun sedikit konyol.

Zhou You berkedip dan berpikir bahwa kota ini tidak terlalu buruk.

Tong Tong mengangkat tangannya dan mematikan lampu.

Kamar itu perlahan menjadi tenang, dan dalam kegelapan, hanya angin di luar jendela yang bertiup melalui dedaunan.

Kadang-kadang, akan ada satu atau dua klakson kendaranan di jalanan.

Zhou You mendengar suara bolak-balik di bawah. Selama setengah jam, dia hampir tertidur dan menemukan bahwa Tong Tong belum tidur.

Tiba-tiba teringat kotak biola yang sangat indah yang diambil Tong Tong dari tempat tidur ini.

"Itu biola milikmu?" Suara Zhou You tiba-tiba terdengar di kamar.

Tong Tong kaget.

"Kau bisa memainkan biola?" Tanya Zhou You lagi.

"Tidak." Tong Tong dengan santai menjawab, kembali mengubah posisi, pikirannya penuh dengan hari pertama sekolah besok.

"Aku juga tidak bisa."

"......... Kasihan."

"Sama-sama." Zhou You terkikik.

Tong Tong speechless, dia tidak ingin berbicara dengannya lagi, melayangkan pikirannya dan perlahan jatuh tertidur.

Tidak ada garis hitam dalam kelompok besar dalam mimpi ini.

Angin bertiup di wajahnya, dan Tong Tong mengambil dua langkah maju tanpa sadar.

Dia berada disudut ruang kelas, dan kelas itu berisik.

Tong Tong tidak tahu apakah dia sedang bermimpi atau tidak.

Adegan itu terlalu nyata.

Dia perlahan berjalan masuk ke ruang kelas, dan wajah semua orang tampak asing juga familiar.

Tong Tong berdiri di podium dan tiba-tiba merasa gugup. Dia benar-benar takut. Semua orang tidak mendekatinya hanya menatapnya aneh.

"Aku ... aku ..." Tong Tong ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu bagaimana berbicara.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki membawa sekantung roti kukus memasuki ruang kelas.

Tetapi tanpa melihatnya, dia berjalan melewatinya dan berdiri di tengah podium, mulai memperkenalkan diri.

Setelah mendengarkan sebentar, Tong Tong tahu bahwa ini siswa pindahan.

Bocah itu selesai menperkenalkan diri dan akhirnya melihatnya lalu menyerahkan roti kukus itu padanya.

"Mau?" Kata bocah itu.

Tong Tong tidak tahu apakah dia lapar atau apa, dia menggigit roti kukus itu.

"Dengan begini," bocah itu menambahkan, "Memakan rotiku berarti kau jadi milikku."

Tong Tong ketakutan dan cepat meludahkan, tetapi juga cuih cuih beberapa kali.

Bocah itu menangkapnya dengan marah dan menciumnya.

Tong Tong tertegun.

"Aku sudah lama menyukaimu, mari kita bersama," kata bocah itu lagi.

Tong Tong ingin mengatainya idiot.

Tapi situasi seketika berubah, korsel, kincir raksasa yang berkedip-kedip, bioskop hitam dan gelap, koridor rumah sakit, halaman rumahnya yang dulu.

Tong Tong belum menanggapi, dan adegan itu telah kembali ke ruang kelas.

"Mari kita putus," kata bocah itu.

Tong Tong tidak bernafas, dia merasa bahwa dia ditipu, dan rasa roti kukus seketika tidak enak sama sekali.

"Ha ha ha ha ha ha ha ha, aku sudah menggodamu sepanjang waktu." laki-laki itu tiba-tiba tertawa seperti psikopat, menampakkan gigi putih dengan agak konyol.

Gambar mosaik di sekitar tawa bocah itu tiba-tiba berputar.

Seluruh kelas tertawa sambil menunjuk padanya.

Tong Tong akhirnya terbangun, wajahnya pucat dan keringat dingin. Dada naik turun, terengah-engah.

Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, karena dia tidak bisa bernapas dengan panik merabat semprotan asma di laci.

Tindakan itu terlalu mendesak, dan sikunya terbentur luar kabinet namun dia tidak peduli. Mengepalkan semprotan dan menarik napas panjang.

Tiga menit kemudian, Tong Tong kembali tenang dan mengingat mimpinya yang tidak cukup jelas, aneh dan tampak nyata.

Dia menghubungkan mimpi ini dengan rasa ketakutannya untuk memulai sekolah.

Mimpi ini terlalu palsu.

Kenapa?

Sekolah mereka hanya bisa dimasuki saat ujian masuk setelah lulus SMP.

Sama sekali tidak mungkin untuk memiliki siswa pindahan, apalagi siswa pindahan pada tingkat kedua. Peraturan sekolah tidak boleh dilanggar.

Tidak mungkin ada siswa pindahan, tidak ada siswa pindahan yang akan memberinya makan roti kukus dan serangkaian hal selanjutnya.

Setelah berpikir dua menit, Tong Tong akhirnya kembali bersemangat.

Dia mengenakan pakaian dan melompat dari tempat tidur, begitu berdiri, ia ingat sesuatu dan tanpa sadar mendongak.

Tidak ada Zhou You diranjang atas, selimutnya sudah dilipat dengan rapi.

Seperti blok tahu di militer.

Tong Tong menghela nafas lega dan melihat jam, baru pukul tujuh.

Jadwal hari pertama sekolah jam 8:00.

Tong Tong mandi dan pergi ke ruang tamu. Sudah tidak ada lagi orang.

Ketika dia duduk sarapan sendirian, Tong Tong mengingat nenek Liu yang sebelumnya memasak untuk keluarganya.
Nenek Liu suka mengomentarinya saat makan sarapan. Katanya Tong Tong terlalu kurus, dan kemudian berkata bahwa dia harus belajar keras di sekolah. Nenek Liu juga menyuruhnya untuk tidak berkelahi, dan menjalin hubungam baik dengan teman sekolahnya...

Tong Tong menghela nafas, dia tidak tahu bagaimana kabar nenek Liu setelah kembali pulang.

Setelah sarapan, Tong Tong mulai mengganti seragam sekolah langsung di ruang tamu.

Seragam sekolah disetrika sebelumnya di ruang tamu oleh Li Yun di malam hari.

SMA Mingde adalah sekolah menengah swasta terbaik di kota, selain siswa yang berjuang untuk ujian masuk perguruan tinggi, serta kelas internasional untuk belajar di luar negeri.

Oleh karena itu, seragam sekolah Mingde setara dengan sekolah menengah lainnya di kota.

Ada empat set dan masing-masing set dirancang oleh desainer luar negeri.

Pei Yun kemarin menyetrika set musim panas, kemeja putih, celana hitam.
Dia tidak terlalu suka yang ini, karena set ini memiliki dasi, terlalu merepotkan, dan dia tidak bisa mengikatnya.

Setelah berganti pakaian, Tong Tong mengambil tas sekolah lalu membuka pintu.

Bertepatan dengan Zhou You yang juga keluar dari rumahnya. Wajahnya dingin dan jelek, tetapi dia cepat-cepat tersenyum.

Juga bersiul. "Pakaiannya bagus, tampan!"

Tong Tong malu, tetapi dia menampakkan ekspresi arogan.

"Dasi diikat salah." Zhou You menariknya untuk membantunya.

Tong Tong melangkah mundur. Zhou You menyusuri dasinya dengan satu tangan dan menarik bocah itu kembali, "Jangan bergerak."

Tong Tong memutar matanya dan menatap ke bawah untuk melihatnya mengikat. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak tahu mengikat.

Tapi Zhou You benar-benar tahu.

Ok ... tidak apa-apa. Terikat dengan sangat baik.

Jemari Zhou You lebih besar darinya jiga lebih panjang.

"Apa yang kau lakukan memakai pakaian seperti ini." Zhou You baru saja memikirkan dan bertanya.

"Hari pertama sekolah." Tong Tong melihat dasi indah yang diikat dengan kepuasan, dan bertanya dengan suasana hati yang baik, "Kau?"

"Aku?" Zhou You tersenyum dan berkata, "Aku bekerja di lokasi konstruksi!"

4. Ibumu memintaku tidur denganmu

Pintu ditutup, Tong Tong menarik napas panjang dan melangkah pergi.

Pintu di belakangnya didorong terbuka.

“Hei, mata besar?” Zhou You terdengar ragu-ragu.

Mendengar nama panggil itu lagi, Tong Tong menghitamkan wajahnya dan berhenti.

Zhou You muncul di depannya untuk memastikan, dia terkejut, "Ternyata memang si mata besar, bagaimana kau bisa ada disini?"

Tong Tong dengan serius memperkenalkan dirinya, "Namaku Tong Tong."

Zhou You tampak blank, "Nama panggilan ya?"

"... Nama lengkap."

"Nama lengkapmu sangat imut." Zhou You tersenyum lebar, "Kau masih ingat namaku kan?"

Tong Tong tidak mengerti mengapa orang ini sangat ramah, padahal terakhir kali keduanya sempat berkelahi.

Tapi ... melihat gigi putihnya itu, Tong Tong mendesah, "... Zhou You."

"Tepat sekali!" Zhou You menjentikkan jarinya, "Bagaimana kau disini?"

"Tetanggamu." Tong Tong menyerahkan piring porselen berisi roti kukus dan kue pastri padanya.

“Nasib!” Zhou You mengambil alih.

"Makan," kata Tong Tong.

"Bersama!"

"... tidak, terimakasih." Tong Tong ingin pulang dan menyedot oksigen. Keramahan orang ini tidak normal.

"Kenapa! Jangan! Jangan sungkan!" Zhou You mengambil lengan Tong Tong, menyeretnya masuk ke rumah kecilnya. "Bertemu adalah takdir!"

Tong Tong masih belum bereaksi, pantatnya sudah menempel di sofa dingin ruang tamu. Ada karung besar di depannya dan melengkungkan sumber panas yang sangat besar.

"Kau mau makan yang mana? Roti atau kue? Roti saja, ini masih cukup panas." Zhou You mengambil roti kukus dan menjejalkannya ke tangan Tong Tong.

Tong Tong menatap roti ditangannya dan merasa kesabarannya telah mencapai batas tertentu.

Dia berdiri dengan cepat.

"Mau minum air?" Zhou You menggigit kue sambil menatapnya. "Aku hanya membawa seember air, tetapi tidak ada gelas."

Tong Tong blank, "Aku tidak minum air."

"Aku juga tidak minum." Zhou You mengikuti.

Tong Tong, "........."

..."Apa aku bisa kembali sekarang?"

“Tentu saja.” Zhou You mengambil satu gigitan kue lagi, menelannya, kemudian berdiri, “... Aku mengirimmu?”

"........."

Tong Tong berbalik dan pergi.

Zhou You ikut berjalan ke pintu, tersenyum lebar dan melambaikan tangannya sampai Tong Tong memasuki rumah sebelah dan menutup pintu.

Dia berbalik dan mengangkat alis ke arah piring roti, merasa bahwa mata besar ini sangat konyol, sangat lucu.

Namun, matanya memang besar.
.
.

Setelah menutup pintu, Tong Tong menghembuskan napas besar, lalu menuangkan secangkir air dingin.

Pei Yun keluar dari dapur, "Kenapa kau kembali dengan rotinya? Masih belum kenyang?"

Tong Tong menghela nafas dan meletakkan roti itu di tangan ibunya. "Abaikan saja orang itu nanti, dia tidak normal."

Pei Yun mengedipkan matanya, "Sayang ... Kau tidak iri karena dia tumbuh lebih baik darimu ... lebih maskulin ..."

Jleb ke ulu hati, Tong Tong segera menyangkal, "Aku tidak iri! Aku stainless steel! Bisepku keras!"

Pei Yun tersenyum, "Iya keras! Kau yang paling kuat!"

Tong Tong meremas otot-otot bisepnya untuk waktu yang lama, dan akhirnya menyadari mengapa dia begitu lemah saat berkelahi dengan Zhou You dirumah sakit.

Cukup beralasan bahwa penampilan seperti ini tidak bisa menang, ia tidak begitu impulsif.

Dia akan memikirkannya selama tiga detik sebelum bertarung.

Tapi dia langsung bergegas tanpa ragu untuk memulai perkelahian.

Itu karena Zhou You menyebutnya tampak seperti seorang gadis didalam bilik toilet.

Lagipula dia tidak bisa mengatasi penampilannya ini dari kecil hingga besar.

Dia sangat putus asa ingin seperti ayahnya yang maskulin dan kekar, tetapi semakin bertambah usia, dia terlihat seperti ibunya.

Untungnya, saat kelas satu SMA dia sering bermain jadi tubuhnya cukup tinggi, tidak tampak seperti ayam lemah.

Tong Tong berdiri di ruang tamu selama tiga setengah menit dan perlahan-lahan menjadi tenang.

"Tok! Tok! Tok!"

Tong Tong pergi untuk membuka pintu.

"Hei--" Zhou You tersenyum cerah.

"Bruk--"

Tong Tong menutup pintu tanpa ragu sedikitpun.

Zhou You, "..."

"Siapa? Kenapa kau menutup pintu?" Pei Yun mendengar gerakan itu dan keluar dari dapur.

"Sales asuransi."

"Buka pintunya, ini kasar."

Tong Tong menggigit giginya dan membuka pintu lagi.

"Hei." Zhou You masih tersenyum cerah. "Terima kasih untuk sarapannya, sangat lezat."

Tong Tong mengambil alih piring yang sudah dicuci bersih berkilau.

"Jika kau merasa lezat, makanlah lebih banyak. Bibi akan membuat makanan lezat dan memanggilmu lagi nanti." Pei Yun menghampiri sambil tersenyum.

"Terima kasih, Bibi." Zhou You dengan tersentuh menyeka matanya. "Ini pertama kalinya aku merantau. Bibi seperti ibuku. Jika bibi tidak keberatan, aku akan—"

"Keberatan," kata Tong Tong, "Sangat keberatan jadi kau pulang secepatnya."

“Tong Tong.” Pei Yun menatapnya tidak setuju, kemudian mengangkat senyumnya pada Zhou You.“Tidak apa, jika kau ingin makan, sering-sering datang kesini. Anakku Tong Tong tampak seumuran denganmu. Kalau kau merasa kesulitan, kau bisa bertanya padanya."

"Terima kasih, Bibi!"

Tong Tong sejak tadi menggigit giginya sampai akhirnya pintu kembali tertutup.

“Ibu sudah bilang anak itu sopan, piringnya dicuci bersih, lalu diantar kembali." Pei Yun menyelami perasaan sejenak lalu mulai mengepak tasnya, dan menatap Tong Tong yang tengah bersandar di dinding, ”Ibu akan pergi mengajar musik dan tidak akan kembali pada siang hari. Jangan lupa panaskan makanan di microwave dan antarkan untuk ayahmu."

Tong Tong menempelkan kepalanya ke dinding dan berkata dengan pandangan cemberut, "Aku tahu."

Pei Yun mengedipkan matanya, "Orang besar tidak boleh picik."

"Aku bukan orang besar." Tong Tong menolak, "Aku hanya lelaki kecil -"

"Baiklah lelaki kecil, ibu pergi dulu, sampai jumpa."

"Dadah—" Tong Tong menyeret suaranya.

Setelah lebih dari tiga menit, Tong Tong kembali ke kamarnya dan mulai meninjau kembali pengetahuan yang akan dipelajari di semester baru.

Tiba tengah hari, sambil membawa makanan yang dihangatkan, Tong Tong seperti hembusan angin berlari cepat menuruni tangga sempit.

Dia menahan napas, bergegas keluar dari gang yang panas dan pengap.
.
.

Departemen rawat inap di rumah sakit masih dilalui orang yang datang dan pergi, dan aroma desinfektan ada di mana-mana.

Tong Tong memperhatikan ayahnya minum sup dan mengambil selembar tisu, menyerahkannya.

“Kau belum makan kan?” Tong Jingshen meletakkan sendok dan mengusak rambutnya.

"Sudah makan."

"Makan kentut." Tong Jing Shen tersenyum, "Putraku masih ingin membohongiku."

Tong Tong juga tersenyum.

“Sulit tidak?” tiba-tiba Tong Jingshen bertanya.

Tong Tong mengerti dan mengangkat bahu, membanggakan diri tanpa malu. "Biasa saja."

“Keren.” Tong Jingshen mengacungkan jempol.

Mata Tong Tong tersenyum.

“Kita akan bicara lagi nanti,” Tong Jingshen berkata, “Tapi kau harus berjanji padaku sesuatu.”

“Katakan.” Tong Tong tersenyum.

“Ayah berharap kau akan selalu menjaga dan memiliki hati yang berani dan tak kenal takut.” Tong Jingshen berkata, “Tidak peduli apa situasinya, baik atau menantang.”

"... Aku tidak mengerti." Tong Tong menunduk.

“Seperti yang kau lakukan sebelumnya,” Tong Jingshen tersenyum dan menepuk pundaknya.

Tong Tong tidak berbicara.

“Siang hari kemarin, teman-temanmu menjengukku." Tong Jingshen mencubit dagunya dan memintanya untuk mengangkat kepalanya, “Ini tidak seperti anakku.”

"... Aku tidak bermaksud menghindari mereka," kata Tong Tong.

“Kau juga tidak bisa selalu menghindar.” Tong Jingshen mencibir dan tersenyum, “Jika Laozi-mu jatuh begitu pelan, maka ibumu akan marah padaku.”

"Aku hanya tidak tahu harus berkata apa," Tong Tong berkata dengan jujur, "Aku takut."

“Jangan takut,” Tong Jingshen menepuk pundaknya, “Kau putra siapa?”

"Ayah." Kata Tong Tong.

"Katakan lebih keras!"

“Tong Jingshen!” Teriak Tong Tong.

"Oh! Ini benar," Tong Jingshen tersenyum, "Pemuda itu harus terbuka, mencondongkan kepalanya dan melangkah dengan berani."
.
.

Ketika pulang dari rumah sakit, Tong Tong seketika merasa kurang takut menghadapi hari masuk sekolah.

Meskipun dia masih gelisah. Tapi dia tidak lagi begitu takut.

Karena itu, ketika melewati lorong-lorong kotor, langkahnya ringan dan santai. Jarinya menepuk bagian luar paha, mengetuk melodi dengan irama.

Matahari melewati gedung yang tidak mencolok itu, dan langsung menuju ke kepala Tong Tong.

Dia mengangkat kepalanya dan menghirup udara dari atas.

Zhou You tengah bersandar di ambang jendela, dengan tenang mendengarkan ancaman di telepon.

Sudah sepuluh menit, dan kakak perempuannya masih berbicara, sebagai asisten yang baik untuk ayahnya.

Dia menunduk dan melihat si mata besar itu seperti anak anjing tengah melompati tangga.

Suara keras di telepon seakan tidak pernah berakhir.

Zhou You bosan, dia berjongkok dan menekan suaranya, berteriak ke lantai bawah, "Pria kecil yang tampan, ayo naik dan bermain~"

Tong Tong di lantai bawah ketakutan entah mengganggap itu suara pria atau wanita. Dia melangkah dengan cepat dan berlari ke koridor.

Zhou You tertawa keras, ancaman di telepon semakin kecil di telinganya.

Tong Tong bergegas ke koridor dan mengusap dadanya. Dia bergumam idiot lalu melompat kembali ke rumahnya dengan gembira.

Pei Yun kembali dari kerja pada malam hari, dan memandang Tong Tong yang bersenandung membuat matanya melebar.

Putranya itu sudah lama tidak begitu bahagia.

Pei Yun juga tiba-tiba menemukan bahwa Tong Tong sudah lama tidak bertanya, 'Kapan ayah membaik?'

Tong Tong hanya lebih ... patuh, lebih diam.
Seperti pohon muda yang belum sepenuhnya dewasa, ia mulai belajar menyelinap di kepalanya dengan bahu yang fleksibel tetapi tidak murah hati.

“Bu?” Tong Tong memandangi Pei Yun yang entah sejak kapan berdiri disana.

"Hari ini makan iga jagung dan bebek panggang!" Pei Yun mengedipkan matanya.

Tong Tong mengikuti ibunya ke dapur kecil untuk membantu mempersiapkan bahan makanan sebelum kembali ke kamarnya dan terus mengerjakan soal yang belum selesai.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, suara Pei Yun datang dari luar dan memanggilnya untuk makan.

Tong Tong menghitung pertanyaan terakhir sebelum bangkit, mendorong pintu keluar, dan menyaksikan Zhou You tengah menatap peralatan makan diatas meja, "Bagaimana kau ada di sini?"

"Aku--"

"Ibu yang mengajaknya datang untuk makan bersama. Dia datang pada hari pertama. Tidak ada apa-apa di rumahnya. Dia juga belum makan siang." Pei Yun tersenyum dan mengambil semangkuk sup terakhir. "Zhou You, makan yang banyak, Tong Tong makan lebih sedikit, selalu ada sisa setiap kali makan."

“Terima kasih, Bibi, ini pertama kali aku bertamu jadi aku tidak siap.” Zhou You tersenyum, pergelangan tangannya berputar, seperti trik sulap, tiba-tiba setangkai mawar menyala muncul di depan Pei Yun.

Pei Yun terkejut takjub.

Tong Tong memutar mata. Itu disimpan di belakang celananya. Dia tidak buta.

Ketika Zhou You dan ibunya mengobrol penuh tawa , Tong Tong menjilat mulutnya dan duduk terlebih dahulu.

Dia tidak suka si Zhou You ini.

Terlalu ... terlalu ramah, terlalu tidak normal.

Dia tidak mengerti, keluarganya sudah seperti ini, dan mengapa ada orang yang sangat ramah datang ditengah kehidupan mereka.

Namun, ... Zhou You yang ramah makan bersama saat ini, menghidupkan suasana rumah mereka yang tenang. Setiap Pei Yun bertanya, dia selalu dengan cekatan menjawab.

Tong Tong mempercepat makannya, lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.

Mendengarkan gerakan diluar dengan telinga terangkat.

Obrolan - tertawa - mengobrol - setelah makan malam - mengobrol - tertawa

"Bibi, aku pulang dulu, kau harus istirahat lebih awal."

Akhirnya!

Tong Tong melompat dari kursi dan bersorak diam-diam.

Suara pintu depan ditutup, Tong Tong melepas baju dan melemparnya di udara.

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk, Tong Tong mengira itu adalah ibunya, "Masuk."

Pintu membuka celah kecil.

Kepala Zhou You menyembul masuk. "Itu ..."

Tong Tong yang telanjang dada, "..."

“Ibumu memintaku tidur denganmu.” Zhou You tampak tidak bersalah.

Tong Tong, "........."