Nov 30, 2019

11. Napas buatan

Tong Tong berdiri dengan menahan rasa sakit dan hanya mengambil satu langkah, dia menginjak botol kaca.

Kakinya terpeleset dan jatuh.

Fck!

Ini terlalu memalukan.

“Ah!” Zhou You di kejauhan berteriak.
Tong Tong dengan tidak punya wajah menoleh ke asal suara, menguatkan lengannya dan berusaha bangkit lagi, untuk menghidupkan kembali citranya.

"Ah! Jangan bergerak." Zhou You melompat bangkit, tidak terlihat sama sekali seperti kakinya keseleo.

Dia datang dua atau tiga langkah dan berjongkok. "Apa kakimu bisa digerakkan?"

“Memangnya seberapa tinggi sampai aku bisa lumpuh?” Tong Tong mendengus, wajahnya tidak bagus.

Zhou You menekan kepalanya tanpa daya, berdiri dan melihat sekeliling, mengeluarkan ponsel di sakunya, dan menyalakan senter.

"Pegang ini.” Zhou You membungkuk dan menyelipkan ponsel di tangan Tong Tong, lalu satu tangan lewat di bawah ketiak Tong Tong, dan yang lainnya melilit kakinya, menggendong orang itu secara langsung.

“Meskipun aku terlihat tampan, bisakah kita menyinari jalan yang gelap ini?” Mata Zhou You tidak bisa dibuka.

Tong Tong memerah, mengubah arah cahaya di tangannya.

Zhou You terkekeh pelan lalu memandang ke depan, mulai berjalan maju.

Ketika sampai ke trotoar, Tong Tong tiba-tiba teringat bahwa Zhou You baru saja jatuh. "Apa kakimu baik-baik saja?"

“Aku tidak keseleo, hanya terpeleset.” Zhou You tanpa sengaja memutar kepalanya ke sisi lain. "Aku mengatakan itu karena terlalu malu jatuh terpeleset."

Tong Tong tertegun, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Zhou You baru pertama kali melihatnya tertawa dan menatapnya untuk waktu yang lama.

Kedua mata saling memandang dan pupil mereka memantulkan wajah berlumpur masing-masing.

"Kau memiliki lesung pipit di wajahmu, tetapi hanya di satu sisi," kata Zhou You tiba-tiba.

"... Oh." Tong Tong merespon.

"Sangat lucu," kata Zhou You lagi.

"........."

Wajah Tong Tong memerah, dia dengan tertekan mendekatkan kepala ke dada Zhou You.

“Apa yang kau lakukan?" Zhou You berhenti dan menatapnya dengan curiga. "Jangan menggosok ingusmu padaku."

"..............."

Pikiran Tong Tong benar-benar mati, dan seluruh kepalanya bahkan lebih pengap.

Dia tidak menanggapi sampai terdengar napasnya terengah.

"Tong Tong?" Zhou You menyadari ada yang salah. "Apa yang tejadi?"

Tong Tong terengah-engah, dan akhirnya mengangkat kepalanya, dengan tidak nyaman meraih kerah Zhou You, membuka mulutnya, dan terus menghirup udara.

"Ada apa denganmu!" Zhou You sangat takut, segera membaringkan Tong Tong di tanah. "Hey, kenapa begini!"

Tong Tong masih terengah sambil menyentuh semprotan di sakunya. Namun tidak ada. Dia ingat bahwa dia tidak mengenakan jaket seragam sekolah ketika dia keluar.

"Apa kau membutuhkan napas buatan!” Zhou You mendekatkan wajahnya dengan cemas, “Aku akan memberimu napas buatan!”

"Aku tidak apa ..." Tong Tong mendorongnya sambil mengatur napasnya sendiri.

Ini tidak terlalu serius, kadang-kadang bisa membaik sendiri.

"Apanya yang tidak apa! Kau sama seperti babi yang menggerok leher! Ini seperti menderita asma!" Zhou You tertegun sejenak, "Kau asma!"

"Aku--"

“Kau masih berbohong padaku kalau paru-parumu kecil?” Mata Zhou You melebar dengan pandangan terluka.

Tong Tong, "............"

Ini bukan saatnya untuk mengatakan ini, sialan!

"Apa yang harus dilakukan ketika asma! Tentu saja napas buatan!" Zhou You dengan cemas kembali mendekatkan wajahnya.

Tong Tong memutar matanya, mengulurkan tangannya, dan mendorong dagu Zhou You menjauh.

Berhenti memikirkan napas buatan saat ini! Nakal!

“Aku akan memanggil ambulans dulu, jangan khawatir!” Zhou You bergegas mengambil telepon genggam di tanah.

"Aku ... aku baik-baik saja ..." Tong Tong akhirnya bisa berbicara dan dengan tegas berkata, "Oke!"

“Huh?” Zhou You mengerutkan kening padanya.

"Aku hanya ... takut dan kehabisan nafas ..." Tong Tong menjelaskan terengah-engah, "bukan penyakit."

"Kalau begitu kau harus punya nyali yang kuat.” Zhou You duduk di sampingnya dengan mendesah sedih.

“Kau bernyali kuat.” Tong Tong menyindirnya.

"Pastilah." Zhou You cukup bangga, "Semua dalam diriku bernyali kuat kecuali otakku!"

"Tidak." Tong Tong berkata, "Kau tidak punya otak, penuh dengan nyali."

"Ah! Sama-sama!" Zhou You melihat keadaannya sudah membaik, kembali menggendongnya lagi.

Tong Tong meliriknya dengan suara rendah, "Kau memiliki temperamen yang baik."

 Zhou You menatapnya, terkekeh pelan. "Aku tidak terlalu baik."

Di trotoar ini, beberapa lampu jalan menyala dan ada yang mati. Bayangan keduanya panjang dan pendek.

Ketika berjalan ke gang, Tong Tong ingat untuk bertanya, "Kenapa kau keluar di tengah malam?"

"Aku dengar kau keluar, dan langkah kakinya sangat tergesa jadi aku ingin tahu apa yang kau lakukan di tengah malam, karena takut akan sesuatu. Aku berteriak dua kali di belakang, tapi kau tidak mendengarnya," Zhou You berkata sambil tersenyum." Ada terlalu banyak tikungan di lorong. Aku kehilangan jejak karenanya."

“Bagaimana kau tahu bahwa aku jatuh ke dalam parit?” Tong Tong bertanya-tanya.

"Aku tidak tahu.” Zhou You berkata, “Ketika aku mencarimu, aku lewat di sana dan tampak samar-samar seperti ada orang di bawah. Aku pikir seseorang akan bunuh diri dengan menyelam di tengah parit. Aku berhenti lalu aku mendengar suaramu."

"Parit itu bahkan tidak mencapai pinggangku," kata Tong Tong.

“Jika ingin mati, baskom airpun bisa menenggelamkan seseorang.” Zhou You melangkah ke dalam gedung sambil tersenyum.

“Kau turunkan aku, aku akan naik sendiri.” Tong Tong memandangi tangga yang sempit.

"Tidak, biebibi." Zhou You dengan mudah berjalan menaiki tangga, "Tidak, maksudku, bisakah kau makan lebih banyak? Aku merasa kau sangat ringan, tidak butuh banyak tenaga."

/Jangan memaksakan/

"Bisakah kau berjanji padaku satu hal," kata Tong Tong.

“Hah?” Zhou You menatapnya.

“Bicaralah bahasa Mandarin, aku mohon,” Tong Tong memelototinya.

"Kenapa lao mei ren?” Zhou You sengaja mengeluarkan aksennya sambil tersenyum, “kau tidak mengerti ah?”

/panggilan buat seorang gadis yang ingin dilindungi/

Tong Tong, "………………"

Zhou You memanjat ke lantai lima dalam satu napas, Tong Tong membuka pintu, dan Zhou You meletakkannya di sofa terlebih dahulu, lalu berjongkok dan mulai melepas sepatu.

"Tunggu!" Tong Tong menyusutkan kakinya, "Apa yang kau lakukan?"

"Lepaskan sepatumu dan lihat bagaimana kakimu," kata Zhou You.

“Aku bisa melepas sendiri.” Tong Tong bersikeras.

"Bisa melepas sendiri," Zhou You menertawakannya, "gadis kecil."

"........."

Tong Tong tidak tahan dan segera menendangnya.

"Aku punya Yunnan Baiyao yang diresepkan oleh dokter, apa aku bisa membantu menyemprot kakimu?” Zhou You menatap kakinya.

Tong Tong memandangi pergelangan kaki yang sudah biru dan mengangguk.

Zhou You pulang rumah dan mengambil dua botol Yunnan Baiyao.

"Aku belum bertanya padamu," Zhou You mengocok botol besi, dan bola kecil di dalamnya ikut terbanting. "Kenapa kau tergesa pergi keluar ditengah malam?"

"Menghubungi ibuku..."

Sssh! gas putih disemprotkan di kaki Tong Tong.

Tong Tong merasakannya suhu dingin dan menyusutkan kakinya, Zhou You meraih betisnya untuk tidak bergerak, menyemprot beberapa kali lagi, "Apa yang terjadi dengan ibumu?"

"Ponsel ibuku mati," kata Tong Tong.

"Ponsel mati karena kehabisan daya, dan kau tergesa keluar di tengah malam?" Zhou You mengganti botol dan kemudian mengocoknya. "Ibumu adalah orang dewasa, tidak mungkin hilang kan?"

Tong Tong diam.

Dia biasanya tidak sekhawatir ini. Ibunya dulu pergi ke salon kecantikan untuk bermain mahjong dengan teman-temannya. Setelah bermain selama beberapa hari, dia juga tidak mendapat kabar.

Tapi sekarang berbeda.

Dia takut ibunya akan diancam dan dipukuli.

“Ada apa?” ​​Zhou You memperhatikan bahwa ada yang salah.

Tong Tong menarik kakinya dan menyodok tempat yang bengkak dengan jarinya, "Hari itu di toilet, kau mendengar apa yang dikatakan Xiao Kai."

“Lengan kecil itu bernama Xiao Kai?” Zhou You mengangkat alisnya.

"Kau ..." Tong Tong menghela nafas, "Apa kau ingin mendengar ceritanya?"

“Kau katakan.” Zhou You melihat kakinya dan menatap Tong Tong dengan serius.

"Keluargaku-" kata Tong Tong berhenti sejenak, dia benci perasaan sangat sedih dan harus menyatakan situasinya sendiri, membuatnya merasa seperti menjual kesengsaraan.

"Ngomong-ngomong, keluargaku berhutang uang pada debt collector. Mereka mengirim orang untuk menagih utang, orang yang suka menghancurkan benda dan memukul seseorang."

Zhou You menundukkan kepalanya dan tidak berbicara.

"Aku hanya khawatir ibuku dihadang mereka,” Tong Tong menggosok wajahnya.

"Jika Ibumu tidak menjawab telepon lain kali, kau panggil aku.” Zhou You tiba-tiba berkata, “Apa gunanya kau pergi sendirian?”

Tong Tong merasa tersentuh, tetapi mulutnya keras. "Apa yang bisa kau lakukan?"

Zhou You dengan cepat berkata, "aku bisa merekam video tentang mereka yang memukulmu dan kemudian memanggil polisi."

"..............."

“Hanya bercanda.” Zhou You tertawa untuk waktu yang lama.

"..." Tong Tong terdiam.

Mereka berdua terdiam untuk sementara waktu, Tong Tong memandangnya, dan tiba-tiba bertanya, "Kenapa kau di sini sendirian? Aku tidak percaya sepatah kata pun yang kau katakan pada ibuku."

"Aku?" Zhou You berpikir sebentar, "Kejar mimpi, temukan jati diri."

“Apa mimpimu?” Tong Tong bertanya-tanya.

"Carilah." Zhou You tertawa, "kalau tidak bagaimana mengejar."

Tong Tong mengerutkan kening padanya.
“Mau tahu?” Zhou You mengangkat alis dan mengangkat bahu, “Oke."

Tong Tong segera duduk dengan baik dan menunggu.

“Aku bertengkar dengan ayahku.” Zhou You berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Ayahku tidak pernah mengaturku sejak aku masih kecil. Aku seperti pohon di halaman yang ayahku akan menyitamkan air saat mengingatnya."

Tidak ada ekspresi di wajah Zhou You, dan suaranya lemah. "Ketika aku tumbuh besar, ayahku baru sadar dan menemukan putranya yang tiba-tiba muncul. Kemudian dia melihat dan menemukan bahwa putranya terlihat tidak seperti yang dia bayangkan. Dia mulai dengan keras kepala ingin membuat putra yang baik sesuai keinginannya. Tetapi dia tidak pernah memikirkannya, dia tidak mengatakan anak seperti apa yang dia inginkan ketika aku tumbuh besar."

Tong Tong mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ayah Zhou You.

"Aku adalah putranya, ya, tapi aku bukan miliknya." Zhou You berkata, "Dia tidak terlibat dalam proses tumbuh kembangku jadi dia tidak punya hak untuk mengubahku. Aku mandiri, bisa dibilanh aku ayahnya."

"Lalu ... apa yang akan kau lakukan di masa depan?" Tong Tong memikirkannya, "ibumu--"

“Apa kau sering memikirkan masalah ini?” Zhou You memotongnya.

“Apa?” Tong Tong tertegun.

"Apa yang harus dilakukan di masa depan, apa yang akan terjadi di masa depan ... Pertanyaan-pertanyaan ini." Zhou You bertanya sambil tersenyum.

Tong Tong memikirkannya dan menjawab, "Aku tidak terlalu memikirkannya sebelumnya ... keluargaku ... aku punya hari untuk memikirkannya setelah sesuatu terjadi dalam keluargaku."

Mereka berdua diam tentang masalah ini.
"Jangan takut," kata Zhou You tiba-tiba.
Tong Tong menatapnya.

“Meskipun aku tidak suka ayahku, ada kata yang menurutku dia benar.” Zhou You dengan serius menatapnya.

Tong Tong menatapnya penuh antisipasi. 
Zhou You dengan sikap heroik tak berdasar. "Biebibi! Jangan cemas, lakukan saja!"

Tong Tong, "………………"

Dia benar-benar muak.

Tong Tong menghela napas untuk waktu yang lama, bersandar di sofa, menutup matanya.

Zhou You duduk di atas karpet, menyandarkan kepalanya ke belakang, bersandar ditepi sofa.

Keduanya tertidur dalam posisi yang aneh ini.

Tong Tong merentangkan kakinya untuk waktu yang lama karena sofa terlalu pendek untuk tidur nyenyak. Akhirnya meletakkan kakinya dikepala Zhou You.

Zhou You juga menggenggam kakinya yang lain dalam posisi ini, menggerakkan tubuhnya, dan tidur dengan wajah menghadap paha bagian dalam Tong Tong.

Ketika angin hangat bertiup melalui matanya, Tong Tong terkejut menemukan bahwa ia telah memimpikan mimpi ini lagi.

Kemudian dia segera mulai menampar dirinya sendiri.

Dia tidak pernah ingin mendengar Zhou You memanggil sayang lagi.

Detik berikutnya.

"Sayang, apa kakimu masih sakit?" Wajah Zhou You tiba-tiba muncul di depannya, memegangi kakinya, "Aku akan memberi kecupan dan rasa sakit itu akan hilang."

Tong Tong ingin muntah, dan ingin membebaskan kakinya yang ada di pelukan Zhou You.

“Kenapa kau tidak bicara, sayang.” Zhou You bertanya.

“Sobat, bisakah kau berbicara dialek Timur Laut?” Tong Tong menggigil jijik.

Dia tiba-tiba menemukan bahwa dia tidak dapat menerima Zhou You yang berbicara dialek utara.

“Sayang, aku akan memberimu kecupan.” Zhou You mulai mendekat ke kakinya.

"WTF! Tidaaak!" Tong Tong berjuang keras membebaskan diri, kelopak matanya tiba-tiba terbuka.

Pandangannya jatuh pada Zhou You yang memegang kakinya dengan mata tertutup, dan Tong Tong berpikir bahwa mimpi itu menjadi kenyataan.

Dia dengan ketakutan menampar wajah Zhou You.

Zhou You tersentak kaget, masih belum terbangun sepenuhnya, menatap Tong Tong dengan shock.

Tong Tong tidak bisa bernapas karena mual, mengulurkan tangan yang gemetar dan menunjuk padanya. "Manusia sam-"

Zhou You dengan cepat mempelajari kali ini, mengulurkan tangan dan menunjuk padanya, dan dengan cepat berkata, "Manusia sampah!"

Tong Tong tertegun. "Aku--"

"Kau bahkan memukulku saat aku tertidur!” Zhou You mulai menangis.

Tong Tong, "………………"

WTF?  ?  ?

🌻🌻🌻


Nov 29, 2019

5. If I were an Ordinary Student...

Wang Xuzhi terbangun oleh panas, hanya merasa bahwa dia berada di kompor dan ingin keluar dari itu, tetapi tangannya  terasa seperti satu pon, membuatnya tidak bisa bergerak.

Ketika dia membuka matanya, dia dikelilingi oleh warna putih, tetapi melihat bekas cetakan bola basket di langit-langit, dia langsung mengenali bahwa itu adalah ruang medis sekolah.

Lagi pula, ini adalah tempat di mana ia membolos kelas sepanjang tahun sambil memainkan bola basket dan menghancurkan sebagian ruangan medis sekolah, ia menjadi orang yang berisiko tinggi untuk masuk ke ruang medis sekolah. Jadi ketika dia masih sepuluh meter jauhnya, dokter medis sekolah akan langsung mengunci pintu ketika melihatnya.

Dia tidak menyangka bisa masuk kesini lagi! *excited*

Langit di luar agak gelap, jam di meja tempat tidur menunjukkan bahwa sekarang jam 4:30 sore.

Ketika dia memalingkan kepalanya lagi, Wang Xuzhi melihat kepala manusia berbaring di punggung tangannya, familiar dan tampan, dengan bulu mata panjang melengkung, kantung mata merah, dan rambut terurai lembut didahi. Bagaimanapun dilihat, begitu enak dipandang.

Bagaimana bisa tidur seperti ini terlihat begitu menggemaskan? Persis seperti kelinci.

Wang Xuzhi terhenyak, berpikir bahwa setiap orang memiliki dua mata dan satu hidung, mengapa orang ini begitu menarik?

Dimana letak perbedaannya?

Semakin memikirkan hal ini, dia semakin mengamati dengan seksama.

Hei ... apakah kulit orang kaya begitu baik? Kenapa dia begitu putih? Tampak sangat lembut.

Wang Xuzhi mengulurkan jari, menahan napas, dengan gemetar ke wajah Cheng Yueming.

*Tusuk*

Cheng Yueming membuka matanya.

Wang Xuzhi, "?!!"

Cheng Yueming tersenyum samar, Wang Xuzhi tersenyum dengan canggung, "Bro, jari-jariku kram, aku tidak sengaja..."

"Apa kau mau memukul wajahku?” Cheng Yueming meninju dia dengan pukulan.

"Fck! Kau pembunuh ah!!!"

Wang Xuzhi duduk di tempat tidur, menggosok wajahnya, dan menatap mata Cheng Yueming yang penuh dendam.

Ini benar-benar sakit ... Cheng Yueming terlalu kurus, dan hanya tulang muncul, sial, berdenyut perih.

Cheng Yueming batuk dengan sedikit canggung. Dia melihat ke samping dan berkata, "Sebenarnya, kau juga menyakitiku."

Wang Xuzhi tiba-tiba merasa sangat dingin, menatap Cheng Yueming dengan ngeri, memeluk dadanya.

"Apa yang kau pikirkan secara membabi buta? Belum pernah mendengar efek kekuatan saling menguntungkan? Tangan baba sakit."

‘Cepat atau lambat, kau akan jatuh di tanganku.‘ Kepala Wang Xuzhi berkedut dengan olpersimpangan imajiner, mengambil keputusan secara diam-diam.

“Ya, ayahmu dan ayahku tadi di sini.” Cheng Yueming menggosok tangannya dan membawa secangkir air panas dari meja ke Wang Xuzhi.

Wang Xuzhi mengambil dan melihat air panas yang mengepul, "Oh."

"Cheng Yueming, Wang Xuzhi, guru menyuruh kalian pergi ke kantornya." Seseorang yang tampaknya teman sekelas tetapi tidak dapat mengingat nama, melanjutkan, "Ayah kalian juga ada disana."

Wang Xuzhi hampir menyemburkan air dimulutnya, "Belum pergi?"

“Ayo kita pergi dan menemui Ayah.” Cheng Yueming berdiri dan meregangkan pinggangnya, sepertinya dia tidak tidur dengan nyaman.

Wang Xuzhi mengangguk walaupun merasa kalimat ini ada yang aneh.

Menghadapi dua harimau besar, membuat Wang Xuzhi bergidik takut, tapi dia tidak bisa menunjukkan itu di depan Cheng Yueming!

"Halo paman, ayah," Wang Xuzhi menyapa.

Wang Shihong menepuk pundaknya, tampak tidak marah sama sekali.

Wang Xuzhi, "..." Mati, ini bahkan lebih membuat panik.

Ayah Wang Xuzhi yang terlalu pendiam membuat Wang Xuzhi semakin ketakutan. Orang yang berwajah jinak di depannya tampak seperti bukan ayah kandungnya yang biasa mengejarnya dengan sapu.

"Ayah ... aku salah." Wang Xuzhi benar-benar meruntuhkan imejnya, berlutut di lantai memegang paha Wang Shihong, dengan raut wajah sepenuhnya memperbaiki kesalahan seseorang sebelumnya (idiom); untuk bertobat dari kesalahan masa lalu dan membalik lembaran baru.

Beralih melihat ke ayah Cheng Yueming, Wang Xuzhi tidak tahu siapa namanya, "Cheng Zhu, kau masih punya waktu untuk datang ah?" Nah, sekarang dia tahu.

Dia menatap dua yang hampir sama tinggi, satu dewasa dan remaja, mereka hampir serupa tetapi seperti bertemu musuh, sangat menentang satu sama lain, dengan tidak siap untuk memberikan satu inci (idiom). Wang Xuzhi diam-diam mengacungkan jempol dalam hati: 'awesome'

Dia kemudian kembali menatap ayahnya, pihak lain juga meliriknya, yang berarti bahwa kau berani memperlakukan Lao Tzu seperti itu, berhati-hatilah dengan pantatmu!

Wang Xuzhi menggelengkan kepalanya, sama sekali tidak berani.

🌻🌻🌻


4. If I were an Ordinary Student...

"Kau ..." Cheng Yueming memandang Wang Xuzhi dan berkata di telinganya, "Apa pantatmu sudah tidak sakit?"

Setelah diingatkan oleh pihak lain, Wang Xuzhi ingat bahwa dia adalah seorang pasien yang terluka parah dan berulang kali dipukul. Dia seketika membiru, berdiri perlahan dari sofa, wajahnya berkedut menahan nyeri tetapi masih tetap menampakkan senyum.

Dia mengangkat dagunya, memberi sinyal pada dua lainnya untuk melanjutkan.

"Paman Wang, sebenarnya, aku yang bersalah. Karena saat tes matematika, aku ceroboh dan mengisi jawaban yang salah dan hasilnya turun 5 poin, karena itu aku sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi ... setelah beberapa pertengkaran, aku tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya berkelahi dengan teman sekelas Xuzhi."

Wang Xuzhi menyaksikan Cheng Yueming melihat ke belakang pada sudut 45 derajat dan perlahan-lahan mengingat, dengan sedikit kesedihan, lalu menundukkan kepalanya, penuh penyesalan, tampak seperti ketidaktahuan kecilku yang membuatku bersalah atas kejahatan semacam itu. Seluruh rangkaian itu mengalir dengan lancar.

Wow ... kau bisa jadi pemenang the Next Golden Man.

Wang Xuzhi sekali lagi hanya dapat mengagumi bug bawaan dari siswa baik ini, apa yang dikatakan, orang tua akan mempercayainya.

“Kejadian ini masih kesalahan putraku Xuzhi,” Wang Shihong menghela nafas.  "Kau dibawah banyak tekanan. Lihat putraku, dia tidak melakukan apapun sepanjang hari, tidak ada tekanan sama sekali."

Wang Xuzhi, "???" merasa serangan jantung.

“Sudah larut, aku sudah menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, Paman Wang, aku akan kembali dulu.” Cheng Yueming mengambil apel, berdiri, dan melambaikan tangan.

“Oke, ini memang sudah sangat larut.” Wang Xuzhi sangat senang, seakan menyalakan petasan.

Wang Shihong menendangnya, "Pergi, antar dia kedepan. Yue Ming ah, hati-hati."

“Ah, selamat tinggal paman.” Cheng Yueming mengangguk dengan sopan dan pergi bersama Wang Xuzhi.

-•-

Ada lampu jalan di luar. Meskipun mereka tetangga, sebenarnya rumah keduanya berjarak tiga atau empat ratus meter. Bagaimanapun, rumah Cheng Yueming mencakup area yang relatif besar, dan secara khusus berada di area hutan belantara. Tidak ada bangunan lain disekitarnya.

Keduanya berjalan perlahan, Cheng Yueming berjalan di depan, dan Wang Xuzhi mengikuti di belakang.

“Kenapa kau membantuku?” Itu terlalu sepi di sepanjang jalan, dan Wang Xuzhi tidak bisa menahan diri untuk berbicara.

Cheng Yueming berhenti sejenak, seolah berpikir, Wang Xuzhi dibelakang tidak tahu apa yang diharapkan.

Keduanya tetap diam sampai mereka mencapai pintu rumah Cheng Yueming, dan seorang pembantu rumah tangga dengan pakaian formal sedang menunggu di pintu.

Cheng Yueming berbalik dan tersenyum, "Seorang ayah selalu menjaga putranya, jika kau game over, aku akan sangat sedih."

Wang Xuzhi juga tersenyum. Dia tidak bisa bertingkah di teritorial pihak lain, hanya melambaikan tangannya dan berkata, "Semoga tempatmu meledak."

-•-

Malam itu aman. Sampai pada level tertentu, Cheng Yueming yang menyelamatkan hidup Wang Xuzhi, jadi dia berencana untuk menyapa dengan baik saat di sekolah kali ini.

Namun, keberuntungan sama tidak terduga dengan cuaca, setiap hari dapat membawa keberuntungan atau bencana (idiom); yang tak terduga dapat terjadi kapan saja, Wang Xuzhi demam hebat.

Wang Xuzhi, "Ayah, aku tidak ingin pergi ke sekolah, rasanya tidak nyaman."

Ayahnya, "Tidak, you wish."

Jadi, dia pergi ke sekolah dengan sempoyongan, seolah bocah idiot  mabuk yang menyengir sambil memegang sebotol alkohol tua, wajahnya memerah.

Cheng Yueming melihatnya dan mengerutkan kening, "Kau kenapa?"

Wang Xuzhi berlutut di kursinya, memundurkan pantatnya, dengan tubuh bersandar di meja Cheng Yueming, tangannya menopang dipipi, berkedip-kedip sok imut. "Hehehe, kakak peri..."

Cheng Yueming mengerutkan kening dalam-dalam, teman-teman sekelas di sekitar tidak menyadari ketidaknormalan kedua orang ini, beberapa menit sebelum kelas dimulai, fokus dengan urusan masing-masing.

"Kakak peri, kau sangat cantik ..." Wang Xuzhi mengulurkan tangan dan memegang wajah Cheng Yueming lalu memajukan bibirnya.

Jantung Cheng Yueming melonjak hebat, wajahnya mulai memanas, matanya penuh antisipasi, meskipun ia harus membangunkan Wang Xuzhi pada saat ini, tetapi ...

BUGH! Wajah Wang Xuzhi mendarat di atas meja, dia pingsan. Suara itu sangat keras sehingga mengejutkan semua orang dan menoleh.

Mereka menyaksikan Cheng Yueming panik, menyentuh wajah Wang Xuzhi, memanggil namanya, dan kemudian berlari dengan menggendongnya dipunggung.

Matanya merah menyala.

🌼🌼🌼





3. If I were an Ordinary Student...

"Kau ingin mati ah?" Cheng Yueming mencemooh.

Wang Xuzhi menelan ludah. "Kau, jangan mendekat! Aku sangat menyakiti orang dan jika kau melakukan ini, aku akan meninggalkanmu dan melarikan diri!"

"Kau berani?"

“Berani, aku berani!” Setelah itu, Wang Xuzhi bersiap melarikan diri, namun pihak lain meregangkan kaki panjangnya membuat Wang Xuzhi tersandung jatuh mencium tanah.

Cheng Yueming duduk tepat di punggungnya, mengunci tenggorokannya, "Berani lari?"

"Tidak berani, tidak berani." Wang Xuzhi merasa setengah nyawanya telah melayang, sibuk mengangguk berjanji, "Aku akan mati, lepaskan!"

“Lari lagi, aku patahkan kakimu!” Cheng Yueming melepaskan Wang Xuzhi, berdiri, menariknya bangun, dan kemudian ... tidak melepaskannya.

Wang Xuzhi menatap tangan Cheng Yueming yang memegangnya lalu mendongak, "Kenapa? Kau tidak bisa melihat jalan dan meminta baba menuntunmu?"

"..." Cheng Yueming hanya diam menatap Wang Xuzhi.

Wang Xuzhi bergidik tanpa alasan, "Baiklah aku menuntunmu~"

-•-

Ketika tiba di rumah, Wang Xuzhi membuka celah pintu dan mengamati situasi musuh. Ruangan itu gelap dan hitam, sepertinya ayahnya sudah tidur!

Wang Xuzhi menghela nafas lega dan segera masuk, namun lampu tiba-tiba menyala. Wang Shihong berdiri di hadapan Wang Xuzhi seperti hantu, memegang kemoceng bulu ayam ditangannya. "Oh, sudah pulang!"

“Oh, astaga!” Wang Xuzhi berjengit kaget dan melesat meninggalkan pintu.

"Kau bajingan kecil! Membuat masalah lagi! Ingin ayah memukulmu lagi!" Wang Shihong mengejar dibelakang dengan kemoceng bulu ayamnya.

Wang Xuzhi ingin menangis tanpa air mata, "Ayah! Apakah kau mencoba untuk menghapus bibit terakhir dalam keluarga kerajaan kita?!"

"Aku akan menghapus bibir terakhir malam ini !!!"

"WTF!!! Ayah, kenapa kau begitu kejam????"

"Ayahmu memang orang yang kejam!" Wang Shihong menemukan sesuatu yang salah, tetapi dia tidak terlalu peduli untuk mengoreksi. Btw, dia bersiap memukul Wang Xuzhi yang tidak bisa lari lagi!

Toktoktok...

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Wang Xuzhi sangat gembira, berpikir dalam hatinya peri mana yang datang disaat yang begitu tepat!! Laozi ingin memberinya kecupan!!

"Ayah! Ada tamu, aku akan membuka pintu!" Dia bergegas ke pintu dengan, semacam kebahagiaan seumur hidup menyambutnya.

Membuka pintu dan nyengir, "Siapa ... Fck! Bagaimana kau disini?"

Cheng Yueming yang berada di luar pintu, tampak lugu, "Tidak menyambut kedatanganku?"

"Selamat datang, bagaimana mungkin kau tidak diterima ~" kata Wang Xuzhi dengan gigi terkatup.

Tidak berdaya, pada saat ini adalah momen spesial, harus bersikap fleksibel, jangan sampai kehilangan wajah!

"Halo, paman Wang." Di depan orang dewasa, Cheng Yueming selalu seperti manusia.

Orang dewasa menyukai siswa yang baik, jadi Wang Shihong yang terbakar amarah seketika meleleh. "Oh, Yueming yang datang. Ingin bermain dengan Xuzhi? Jangan berdiri dipintu, ayo masuk dan duduk."

"Xuzhi? Artinya ~" Wang Xu kedinginan, "Munafik."

"Wang Xuzhi!" Wang Shihong melotot, "Ambilkan apel untuk Yueming dan secangkir air panas!"

Wang Xuzhi terkejut, dan menjawab tanpa berpikir, "Fuuu —— cckk!!!"

“Pfftt!” Cheng Yueming menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka orang ini cukup lucu di rumah.

-•-

"Ini dia, ini adalah salah satu apel terbesar dirumahku." Wang Xuzhi mengangkat sebelah alisnya ke Cheng Yueming dan berkedip, yang berarti katakan sesuatu yang baik tentangku di depan ayahku.

Cheng Yueming antara tertawa atau menangis, melihat apel bersih di tangannya, apakah dia membelinya?

Dia memegang apel itu erat-erat di tangannya dan menatap Wang Shihong, "Paman Wang."

“Brak!” Wang Xuzhi meletakkan gelas air di atas meja dan duduk di sebelah Cheng Yueming, menempel padanya sambil menyilang kaki, tampak seperti dia mendengarkan dengan sikap baik, namun sebenarnya dia diam-diam menarik lengan pihak lain, mengekspresikan keinginan kuat untuk bertahan hidup.

"Wang Xuzhi! Sofa begitu luas, kenapa kau menempel padanya seperti itu?" Wang Shihong memandang Wang Xuzhi, mengerutkan kening, lalu menatap Cheng Yueming lagi, ekspresinya berubah, "Yueming ah, apakah ada yang ingin kau katakan?"

"Aku suka duduk di sebelahnya!” Wang Xuzhi lebih menempel lagi, nafas yang hangatnya menerpa wajah pihak lain, telinga Cheng Yueming agak memerah.

🌻🌻🌻



Nov 27, 2019

23. Shi Xi knows Guo Zhi

•Oh, My Dear! Chapter 22•


Shi Xi sat on the grass behind the stadium which was hidden and quiet, without the crowds, avoiding the sun's rays.

Just like the dark stairs leading to the roof of the school, Shi Xi always chose a place where he could be alone. Other people are always afraid to feel lonely, but that is precisely what Shi Xi wants. He leaned against the wall with a hat covering his handsome face. The pen was interrupted with his fingers rubbing against each other with paper, he continued writing until the pen's ink ran out then threw it away.

He just sat after that for a long time before taking out his cellphone, pinned to his ear.

"Shi Xi!" The voice across the call greeted him cheerfully as usual.

"Pen."

"Where are you?"
    
"Behind the stadium."

A few moments later, Guo Zhi came to stand near Shi Xi, took out several pens while breathing. "Is this enough?"

Shi Xi doesn't answer, his hand moves to pick one up and continues writing.

Guo Zhi put the remaining pen back into the bag then sat a little far away and focused on his reading book. He did not want to disturb Shi Xi to turn each page with a gentle movement.

There was no noise, only silent silence and warmth.

Starting from meeting Shi Xi, when the man was writing fiction in the dark stairs, then when in a small garden near the lake at his school, and at this time Guo Zhi sat not far away, still waiting calmly not wanting to disturb Shi Xi.
    
Shi Xi wants to be alone, so Guo Zhi gives him solitude.

Shi Xi looked up, looked at Guo Zhi who was smiling in his reading as if the book was something to be happy about.
 .
 .

Lunch time is over and class will start soon, Guo Zhi gets up and shakes off the dust in his pants. "I will return to class."

"Guo Zhi, do you always stick to me so I will like you back?" There was no expression on Shi Xi's face, only asking questions.

Guo Zhi shook his head. "No, I never thought that way. I know we are both men. I also know that you are different from me." Guo Zhi is no longer like he used to be sad and in pain remembering the cause of his scar, but now he smiles and accepts himself differently. A smile that will never fade. "I'm good to everyone, but only you I like." Guo Zhi came to his senses then hurriedly ran away.
   
"Like?" Shi Xi murmured softly, looking at the pen in his hand.
 .
 .

The men are busy talking about who is the most beautiful girl in the class and Guo Zhi just sits quietly and focuses on his book. One girl, Guo Yiqi, was on the side of the bench busy looking in the mirror while wearing mascara. "What is your name?"
    
"I'm Guo Zhi." the response was reluctant.  In this campus everything is still unfamiliar to Guo Zhi, whether classmates or outside the classroom.

"Guo Zhi, lend me your notes, I want to copy them." Guo Yiqi did not look at Guo Zhi, she still focus mirroring herself. She did not care about her interlocutors, she only cared to widen her eyelashes.

"This." Guo Zhi submitted his notes. After a few moments Guo Yiqi turned his attention from the mirror, opened the notebook, she suddenly found a dried flower tucked, "This flower is very pretty."

"That, don't touch it." Guo Zhi panicked.  Dried flowers are easily broken.
    
"Give it to me, ok?" Guo Yiqi blinked cutely, another man would have been swayed, but Guo Zhi only looked at the dried flowers in the girl's hand anxiously. "No, I can't give it to you. Ah, you can take this." Guo Zhi took out a new pen which he had stocked for Shi Xi.

Guo Yiqi frowned in disgust. "Who needs that cheap pen, I want this flower."

"I'll add one more." Guo Zhi handed over two pens but Guo Yiqi threw them to the floor. She put the flower back in the book roughly make the petals off. Guo Yiqi pretended to be surprised. "Ah, sorry. I didn't mean it."
    
Guo Zhi bit his lip at the dried flower. "It's okay, you didnt do it on purpose."

Guo Yiqi ignored Guo Zhi, she faced the back seat chatting with her friend.

Guo Zhi took the tape from the bag and carefully put the petals together.

Guo Yiqi turned her head back and saw what Guo Zhi was doing that suddenly ignited her emotions, she stood up. As a child who used to be spoiled with money in her family, Guo Yiqi felt humiliated.  "What is the importance of the broken flower? Do you want to make me feel guilty?"
    
Guo Zhi was shocked, he shook his head at Guo Yiqi. "It is not like that."

"I still don't understand what's the point of this." Guo Yiqi seized the newly finished flower Guo Zhi to glue, threw it to the floor and stepped on it. "A man but so concerned about flowers, you abnormal!"

"I'm not abnormal." Guo Zhi suddenly shouted. Maybe before he would have turned pale and apologized but now he is so calm and confident.

"What is the commotion going on here? Come back to your seats." Reprimand the lecturer who just entered the class.

Guo Yiqi looked at Guo Zhi sharply, no longer making a sound, and shifted her stool away. Guo Zhi took the dried flower stalk, which was still left with one petal and slipped it in a book sheet. He listened calmly and focused on filling in the notes.  The flowers are destroyed but there is still Shi Xi so the flower garden is still blooming in his heart.
 .
 .

Afternoon class ended, students went to the cafeteria, when climbing the stairs Guo Yiqi pushed Guo Zhi's back, "Move, don't block the road." Guo Zhi staggered almost to fall but was held by someone.

Guo Zhi looked up, "Shi Xi?"

Seeing that, Guo Yiqi folded his arms. "It is ridiculous, even his friend is strange, who wears a hat in a hot weather like this. If you don't want your ugly face seen, don't go to college."
    
Shi Xi looked at Guo Yiqi coldly. "Does your appearance qualify to call others ugly?!"

"What do you mean?"

"Don't you understand? That means you're ugly."

"How dare you! Don't you know who my father is?" Guo Yiqi shouted in anger.  Whoever looks for trouble with her, she does not hesitate to mention the position of hee parents.

"I don't know. But looking at you, they must be look very ugly."

Guo Yiqi with emotions overflowed wanting to attack Shi Xi but was prevented by his two friends. "Don't bother. Arguing with them will only damage your reputation. You are now a spectacle." Guo Yiqi responded, "Come on, leave." They were moved away followed by a crowd that also scattered.

Guo Zhi lowered his head, muttered to himself. "I'm not abnormal."

This sentence was not only he wanted to convey to Guo Yiqi but also to the world.
    
He is not abnormal!

Shi Xi reached out his hand, stroke Guo Zhi's hair. "You aren't."

Guo Zhi looked up, his eyes sparkling brightly.
 .
 .

Shi Xi said that would make him know the ugliness of the world. That is not a lie.  Shi Xi shows evil and fairy tales, which makes Guo Zhi have learned to lie to his parents and recognize himselves. The bad is gradually getting stronger. Now, Guo Zhi believes God gave this difference to him, not to torture him. This is a gift, and this gift can only be opened if he feels love. It turns out that this is love, as long as he can stay near Shi Xi, he will always feel happiness.

🌻🌻🌻


22. She is also protagonist ( Part 2 )

•Oh, My Dear! Chapter 21•


Dan Ju and Guo Zhi walked around the campus. Dan Ju who was still wearing Shi Xi's shirt did not care about being watched by each pair of eyes.

"Why aren't you and my parents responding the same?" Guo Zhi thought the world would hate that.

"You fool! In this world there are people who oppose it and also accept it. It's fine, Guo Zhi, do you know how many rotten women are in China? In the future, their numbers will increase."

"Rotten woman?"

"Those who want to see you are crushed by Shi Xi in the bed."

"Girl, what are you saying!"

Seeing Guo Zhi's response somehow made Dan Ju want to contact her lover. She pulled out her cellphone and made a call.

After the connection is connected, Dan Ju kisses her cellphone then talks loudly.  "Wei Ye, are you lonely because you separated from me? Being in a different place from your lover must be very torture right?"

"No."
    
"What do you want to eat? I will bring home many goods from this city, or, are you thinking about eating me?" Dan Ju's voice was lamentable.

"Don't force me to hang up."

"When will you follow my wish?" Dan Ju stepped ahead, her eyes watching the young faces passing by.

"When you are reborn."

Dan Ju could not help laughing. "Wei ye, I want to say I love you, will it sound strange?"

"Yes, so shut your mouth!"

 "I love ..." Dan Ju hasn't finished her sentence yet, the connection is turned off unilaterally. "Bastard, he really hang up!"

Guo Zhi had been focusing on attention with a curious expression. Dan Ju's show love are so free, she can show her love at will. Can Guo Zhi do that? His father's nagging voice immediately flashed, making him always shut himself and his feelings tightly.

Seeing the change in Guo Zhi's face, Dan Ju smiled sympathetically. "People cannot choose who to like, who should not like. Your love is not something special. Love is love. Including me, no one can control it. Not everyone can understand. You don't need to tell everyone. Be happy. Do not worry."

Like gaining strength, Guo Zhi nodded quickly.
    
Dan Ju continued, "Those idiots are just jealous. What else can they do? What would they dare to do? You know, those who hate homosexuals are the real gays."

"Is it true?" Guo Zhi is doubtful.

"True."

"It's like I always say to myself."

"See!"

"Turns out like that!"
 .
 .

After two days Dan Ju was at Shi Xi's place to help him make the evil character as a fictional material, Guo Zhi came again to take him to a shop that sells local products. He is happy with Dan Ju, he can tell all doubts and problems.

They bought a few items and then left the shop.
    
"Girl, that's ..."

Guo Zhi detains Dan Ju who is preparing to leave. There are still phrases that block and want to say.

"What?"

"I, I don't want anything from Shi Xi, he doesn't need to like me. But is there a way to make him smile happily?"

"Has he ever written about you?"

Seeing Guo Zhi shaking his head, Dan Ju smiled slightly. "It's about Shi Xi, he has no emotions. He hates everyone. They are ugly, realistic, greedy, evil, so he withdraws from the world and observes them from outside the world, writes them in fiction. But he can't write about you, he might pay attention to himself."

"He didn't write about you either."

Dan Ju wrinkled her nose, "I'm not a good person."

"No. You are a good person."
    
"Because you always praise me, I'll tell you how to make Shi Xi smile."

"Really?"

"I'm not lying. When he was younger, he would smile and then laugh happily because of this."

"Thank you, girl."
.
.

In the afternoon, Dan Ju packs up the items in Shi Xi's room. "Nephew, I'm leaving. Don't cry because you died. I can ignore everyone including you for my man's sake."

"No comment!"

"You're not very funny. Even though I've been kind enough to help surprise you, byebye."
 .
 .

Dan Ju's departure was as usual as her arrival. In this love story, she is only a supporting role, but told by her love, this woman is also the main character. Like other people with their respective love stories.
 .
 .
Moments later, Guo Zhi arrived at Shi Xi's room while gasping for running. "Where is girl?"

"Gone."

"What? She's gone? Even though I took the time to say goodbye." Guo Zhi let out a disappointed sigh.
    
Shi Xi doesn't talk, just focus on the laptop. Guo Zhi was still standing in front of the door, not moving. After a while, he quietly approached then put his hand on Shi Xi's shoulders and bowed, making a soft voice. "Oh, my dear!"

Shi Xi's body instantly froze, the sound breaking through his defenses made him caught off guard. He turned, "What are you doing?"

"Why don't you smile happily? Girl says every time you hear that words you will smile."
    
"Smile? Are you an idiot? You have been cheated many times and you still believe in that woman?"

"She's not that woman, she's girl."
 .
 .

A Christmas-themed movie lights up on the laptop screen. Snowy skies, snowman stacks, cities glittering with light, colorful lights, people in thick coats, wrapped in shawls and burying their faces inside, they hold gifts in their hands, they hold hands, they kiss, in every corner nuanced Christmas with light music.

Guo Zhi watched it with a happy, adorable face. "Maybe the day isn't right. So if I call you like that on Christmas, will you smile?"

"Don't believe what she said."

"Someday if I call you like that, will you smile?"

"You don't understand what I'm saying?"

"You will smile." Guo Zhi hummed to the rhythm of the music.

🌻🌻🌻


21. She is also protagonist

•Oh, My Dear! Chapter 21•


"W-wife?" Guo Zhi could not believe what he had just heard. He saw their intimate actions and all of his senses began to numb. Is this acceptable? Should he accept it? Why Shi Xi isn't telling him? But there's no reason for Shi Xi to tell him right?! Guo Zhi's mind is increasingly raging.

Guo Zhi shook his head strongly and retreated. "Sorry, I didn't know anyone was in. Sorry to bother. I'm leaving. Sorry."  After saying that he prepared to run but Shi Xi held his hand. "Hey."

"I-I don't want to destroy your household."

"Are you stupid?"

"Shi Xi, who is he? Are you cheating on me?" The woman screamed in anger.

"He never cheats, really, we don't have anything to do!" Said Guo Zhi.

"Really nothing happened between you two?" The woman continued to ask.

Guo Zhi's face paled as his memory returned when Shi Xi kissed him. He was nervous, "We were ..." his sentence was held back because Shi Xi immediately covered his mouth.

The woman released her hug then pointed at Shi Xi with a hurt expression. "You! Let him say it!"

Shi Xi looked at the woman coldly. "How long will you be playing?"

"Damn! Even just a little more ..." the woman choked in disgust, she turned to look at Guo Zhi's grim face. "It's great to fooling you."

Guo Zhi looked at the woman when Shi Xi took his hand off. "Fooling on me? Then you're not his wife?" Because he was too shocked, he realized that this woman looked more mature, maybe over twenty years. His face is clean but looks evil.  Two perfect combinations.

The woman seriously responded, "Of course I'm his wife."

Guo Zhi's face turned pale again.

"Can't you close your mouth?!" Said Shi Xi.

"Can't."

Guo Zhi was increasingly confused by the conversation between the two people in front of him. The woman saw Guo Zhi who looked pathetic. "Shi Xi, it looks like your friend doesn't have a high IQ. Listen to me, little bro, can you marry at your age?" Guo Zhi shook his head, his face turning slightly bright. "Then who are you?"

"I'm his fiance." The woman's response was fast with a serious face. Guo Zhi turned pale again.

"She's my aunt." Said Shi Xi.

The woman folded her arms, "Boring, why do you say that?"

"Aunt?" Guo Zhi paid attention to the woman and seemed to make a final decision.

The woman took her pants on the floor and wore it in front of the two men.  Fortunately, the t-shirt is quite long so it can cover parts that should not be shown.  She wears it no matter the surroundings.  She came in a hurry last night without carrying a change of clothes. As soon as she showered, Shi Xi gave her his shirt and went to sleep in the campus dormitory.

"Are you blind? There are still others here."

"I only show my beautiful image in front of my man. If I pretend to be shy, you need to be careful."

Shi Xi is too lazy to care about his aunt, he turns to look at Guo Zhi. "Why come here?"

"Ah, right. Hua er asked me to stick the poster in your room." Guo Zhi said as he handed over the poster scroll, Shi Xi took it and thrown it into the trash can. "You can leave."

"Let him go, you call me to come and say you are dying even though you only need material. You are truly an understanding nephew, I am very touched." His aunt continued while bluffing her teeth. "Do you know how painful it is to leave my lover? It feels like being stabbed by thousands of knives."

"Why don't you look like someone got hurt?"

"No way, love strengthens my vitality." The woman said shamelessly. She glanced back at Guo Zhi, "Hello, little bro. My name is Dan Ju.

"I'm Guo Zhi." He was a little shy, respecting the elders.

"You like Shi Xi, right?" The frontal question made Guo Zhi instantly paler. He stepped back, shaking his head in panic. "I-I didn't!"

"How dare you dodge! Our family does not accept things like this!" Said Dan Ju seriously.

Guo Zhi's face contracted. "I didn't mean to, really."

"You're still not done yet?" Shi Xi glared at his aunt.

"Of course. How can I stop teasing people with personalities like this." In the eyes of Dan Ju, Guo Zhi is very funny. The more bullied, the more funny the response makes it unable to stop. Dan Ju continued, "Take it easy, little bro. I am an open minded person. Such a small thing, I can accept it."

Guo Zhi's eyes widened in disbelief at his hearing. He carefully observed Dan Ju's expression, her words were the same as hee expression. Guo Zhi's face brightened. "Are you okay with me liking men?"

"Good? Not only you, I also like men. We're both the same."

"But I'm a man. Don't you think men like men is a very serious thing?"

"Is it that serious?" Muttered Dan Ju touched her chin. She never thought male and male relationships were surprising things. She continued, "Maybe it has something to do with education in childhood. Isn't that right, Shi Xi?"

Shi Xi opened the laptop. "I don't want to discuss it."

"I replaced your mother and tried to recommend you get out of there, don't you appreciate and thank me?"

"I told you, I don't want to discuss it."

"How can I let you be?" Dan Ju smiled bitterly, of course she would not let go of her nephew. When she told Shi Xi's mother, the school could develop Shi Xi's talent.  The broad campus makes students more open minded. An elegant environment allows students to behave more elegantly, with sophisticated facilities, quality education, and gentle teachers who love students. Actually, this is all bullshit, school is not a nightmare, teacher is a nightmare.

Shi Xi glares at Dan Ju, making her turn to pat Guo Zhi's shoulder. "Brother, I'm bored. Take me for a walk to your campus."

"I suggest you don't do anything stupid."  Shi Xi warns Guo Zhi.

"But I want to invite ..." What should he call? It's not polite to just call names.

"Just call me girl, lady, or beautiful ..."

"But I want to take girl around."

Shi Xi looked at Guo Zhi. "You want to find death."

"Girl is really a good person. She doesn't think I'm a freak." Guo Zhi feels that people who don't hate same-sex relationships are good people.

"You're right, I'm a good person." Dan Ju who never received praise from others felt proud while patting Guo Zhi's back. She turned to look at Shi Xi, "Hey, Shi Xi. What are you waiting for? I think Guo Zhi is a good kid. You can prees him down on your bed." Shi Xi doesn't respond.

For first time heard such a words, Guo Zhi blushed to the ear. "Girl, w-what are you talking about?!"

🌻🌻🌻


Nov 25, 2019

2. If I were an Ordinary Student...

"Yue Ming ah, kau sekarang sudah tingkat dua, bagaimana kau bisa berkelahi dengan orang lain? Bahkan Wang Xuzhi, kau selalu menjadi siswa yang paling dikhawatirkan guru, bagaimana bisa terjadi seperti ini?" Guru kelas kecewa.

Wang Xuzhi menatap Cheng Yueming yang menundukkan kepalanya, menerima kritikan guru kelas. Ini pasti pertama kalinya dia dipanggil ke kantor oleh guru kelas. Hati Wang Xuzhi merasa sedikit tidak senang, tetapi dia mengaku salah. "Aku yang memprovokasinya duluan."

“Aku yang memukulnya lebih dulu,” Cheng Yueming melirik Wang Xuzhi.

Guru kelas mengambil secangkir teh dan meneguknya. "Oh, apa kalian berdua berencana untuk bertanggung jawab satu sama lain? Oke, minta orang tua kalian datang besok!"

"Jangan, guru ... ayahku, dia ... Uh ... dia ..." Wang Xu panik dan melangkah maju untuk menarik lengan guru kelas, bibirnya mulai bergetar.

Guru kelas mengubah wajahnya, "Apa yang terjadi pada ayahmu? Apa yang terjadi di rumah?"

"Ayahku, tubuhnya ..." Wang Xuzhi menutupi wajahnya dan mulai terisak.

“Baiklah, baiklah, kalau begitu kalian kembali dan tulis lima ribu kata untuk diperiksa, tidak perlu memanggil orang tua.” Guru kelas tidak berniat mendesak, mengayunkan tangannya, simpatik kepada Wang Xuzhi, menitikkan air mata.

“Tidak!” Mendengarkan lima ribu kata, Wang Xuzhi dengan cepat melepaskan tangannya, wajahnya tampak serius. “Guru, ayahku sangat tangguh, ketika dia memukulku,‘ brak brak’! Tentu saja dia bisa datang ke sekolah.”

Cheng Yueming, "..."

-•-

"Jangan mengikutiku!" Teriak Wang Xuzhi. Ketika berjalan pulang dengan tas sekolahnya, dia menoleh dan melihat Cheng Yueming ada di belakangnya.

Sebagai siswa sekolah menengah, jam pulang sekolah setelah kelas malam, hari sudah larut, tidak ada seorang pun di jalan.

Cheng Yueming mengikutinya di belakang dan memandangnya seperti orang idiot. Dia berkata, "Aku tetanggamu. Kita searah."

"Ck!" Wang Xuzhi tidak bisa membantah, dia berbalik dan lanjut berjalan, memikirkan sesuatu. "Ini pertama kalinya kau mendapat panggilan orang tua 'kan?"

Rumah Wang Xuzhi berada di desa yang jauh dari kota, gubuk jerami biasa, dan rumah Cheng Yueming adalah vila mewah. Alasan mengapa ia menjadi tetangganya adalah karena ketika ibu Cheng Yueming mengandung dirinya. Ayahnya ingin mencari tempat dengan udara yang baik dan akhirnya datang ke sini.

Dua kehidupan yang sangat berbeda.

Biasanya Cheng Yueming diantar jemput dengan mobil khusus, jadi karena ini pertama kalinya mereka pulang bersama, Wang Xuzhi masih sangat tidak nyaman.

"Hei, kau lambat sedikit." Cheng Yueming dengan cepat menyusul Wang Xuzhi, keduanya berjalan berdampingan. Dia terus melihat sekeliling, ekspresinya agak kaku dan tidak wajar.

Wang Xuzhi melirik ke atas untuk menatapnya, tinggi keduanya tidak berbeda jauh, tetapi menurut sudut pandang, Cheng Yueming memberi kesan lebih tinggi karena dia sangat kurus dan kakinya seperti dua sumpit. Bisa ditebak, dia tidak pernah melakukan pekerjaan fisik, tidak berguna. Tetapi Wang Xuzhi tidak sama, setiap hari dia membersihkan rumah, melakukan pekerjaan pertanian, dia tidak gemuk, bahunya lebar dan pinggangnya sempit, otot tipis yang menempel di tulang, sangat indah.

"Jangan dekat-dekat Laozi!” Wang Xuzhi mendorongnya, dan secara tidak sengaja melihat wajah Cheng Yueming yang pucat.

Hei! Orang ini sepertinya takut gelap!

Batin Wang Xuzhi muncul niat usil, "Xiao Yue Yue~ takut gelap? Muehehe ..."

"Hm?" Jawab Cheng Yueming, ketika dia menoleh, hanya udara hampa tersisa, Wang Xu sudah melesat pergi, berlari meninggalkannya ...

"WTF! Wang Xuzhi!!!" Wang Xuzhi berlari di depan, diikuti oleh teriakan panik oleh Cheng Yueming.

Dia berlari lebih keras dan lebih keras, tetapi dia tidak melihat Cheng Yueming mengejar untuk waktu yang lama, dia akhirnya berhenti, menoleh ke belakang, dan tidak melihat sosok Cheng Yueming.

"Dimana dia?” Wang Xuzhi berdiri di tempat yang sama untuk sementara, berbalik, berlari kembali.

"Cheng Yueming !! Cheng ..." Wang Xuzhi berteriak sambil melihat sekeliling. Baru saja memanggil suara kedua, dia melihat seonggok manusia tidak jauh didepan. Ketika mendekat, dia menemukan Cheng Yueming tengah berjongkok, tidak bergerak di tanah.

Wang Xuzhi ikut berjongkok dan menepuknya, "Hei, tidak apa-apa? Hei."

Cheng Yueming mendongak, matanya berkaca-kaca, ekspresinya penuh ketakutan. Setelah melihat Wang Xu, dia berteriak, "Wang! Xu! Zhi!"

Hati Wang Xuzhi gemetar, mulai menyesal. Apanya yang berhati lembut?! Dia memandang aura hitam yang menguar dari Cheng Yueming, dan mundur selangkah dalam hati nuraninya yang bersalah. "Bro..."

🌻🌻🌻



20. Pathetic Words

Oh, My Dear! Chapter 20.

-•-

Military training takes place under the hot sun. Guo Zhi's face turned red, sweat poured out from the camouflage hat worn, occasionally he licked his dry lips. Other new students complained but Guo Zhi enjoyed it. He thinks military training like this is very good for health.

The trainer blew the whistle, "Stand all up! Rest for 30 minutes! Line up!"

Students began to scatter, some went to eat, chat with each other, some sat on the grass and rested.

Guo Zhi took off his hat and hung it on his shoulder. He went to the convenience store and bought mineral water. He sees Shi Xi sitting under a tree not too far from the field when he will return.

"Shi Xi!" Call Guo Zhi with pleasure.

Shi Xi doesn't respond, busy reading a book.

"You don't need military training?"

"No."

"Why?"

"Because I'm weak."

Guo Zhi's face turned worried. "What's wrong with your body? Can it be cured?"

"No." Shi Xi answered calmly, still focused on the book in his hand. Even fools know it's just a lie, but Guo Zhi believes.

"What do you do? Don't be pessimistic, there must be a way to get well. I'll call 120 to send an ambulance and take you to the hospital." Guo Zhi took out his cellphone.

"I am kidding." Prevent Shi Xi while raising his head to look at Guo Zhi.

Guo Zhi was not angry, he sighed in relief.  "Luckily you don't have a deadly disease."

"You really are not a species of this world."

"The alien I saw on TV doesn't look like me."

Shi Xi no longer responds to this insignificant conversation.

Guo Zhi switches to sit next to Shi Xi.  Observing their classmates who mingled to interact full of jokes and laughter in the field, wearing camouflage uniforms.

"Look how happy the world is."

"I didn't write about a happy world!"

"Happiness is happiness, how can you write sad story?" Guo Zhi doesn't believe it.

Shi Xi raised his hand, moved his fingers.  Guo Zhi immediately took out paper and pen from the pocket of his camouflage uniform. He really brought it!

Guo Zhi pointed to male and female couples who were joking in the field. The man broke her hair into a mess then ran, the woman chasing behind with a flushed face while grumbling.

Shi Xi starts writing, his face expressionless. After a while, the paper was given back to Guo Zhi. Although the writing is a mess, Guo Zhi has no difficulty reading it.

[ He has no love for her, but an instinctive appearance and physical attraction. Does he know her? Will he marry her? No, his youth is still long. He needs pleasure rather than commitment. He now damaged her hair. He now had tenderness in his eyes, and he would hurt her later.  The woman chased after him, but she could never catch up with him. She was blushing now, and her face would be filled with tears. When she is tired of chasing, she will stop, look at others, and want to chase after others, so the picture is repeated, but can this blame her? Life is always repeated, so that every love in life is repeated, shared, separated, shared, separated, shared, separated and died. ]

Guo Zhi took his eyes off the paper and looked at the couple who was joking there then bit his lip. Guo Zhi turned to point at the man sitting while prying his nostrils.  "How do you write about him?"

The paper was returned to Shi Xi. Not long after, Guo Zhi accepted and began to read.

[ Everyone has an empty space in his heart. If other people cannot enter, they cannot leave. He sat on the hot ground but had no feelings. He could not change his appearance. No one wants to look further.  He wants to attract the attention of others, but he hesitates, hurts, damages his dignity, raises his hand and puts his fingers to his nose, but he suddenly feels that he is silly, and even a little sad, so what is acceptable, only ridicule. It's better to be in the emptiness of his own heart, where no one is hurting him. Even though there's only loneliness, that loneliness won't make it hurt. ]

"He was just digging his nostrils!"

"Very sad."

"Which side is it?"

"Don't be so naive, everyone has their own sadness, you just can't see it."

"But everyone also has their own happiness, why don't you see it?" Guo Zhi's question did not get an answer. He then paying attention to various types of behavior and the appearance of people who are resting in the field. They wear the same uniform but they are different personalities.

Guo Zhi stood up and hugged the tree trunk, added, "Shi Xi, I think you will definitely write good fiction someday and will impress many people. The main character in your fiction will be like in a fairytale where there will only be one thing at the end of the story, from now on they will live happily ever after."

Guo Zhi, who was always boasting Shi Xi, could not see the sadness from his perspective, making Shi Xi unable to write about him

The wind blows slowly, Shi Xi sits and Guo Zhi stands beside him, they are under a tree. Sunlight penetrates the fissures and leaves on the ground to produce various forms of shadow.

Both of them see the same view but have different views. One day their world will blend into one, asked for reason, the answer is of course because of love.
 .
 .

The next day, Hua Guyu came to the afternoon training session to meet Guo Zhi while carrying a scroll.

"Guo Zhi, I will give you an assignment."

"What?"

"Put this in Shi Xi's room."

"What is this?" Guo Zhi asked, starting to unroll the poster but was prevented by Hua Guyu, "Don't let others see it. They will take it. This is my personal photo that I printed on purpose."

"Stick it in Shi Xi's room?"

"I even used Mito Xiu Xiu to make my face more handsome and perfect. I will let Shi Xi be jealous to death." Hua Guyu gritted his teeth.

"Does he want it?"

"Definitely, sure, help me!" Hua Guyu knowledgeably revealed a pitiful expression.

"OK!"

Guo Zhi went off campus with a poster in his hand. He walked cautiously remembering the route he had last taken until he reached Shi Xi's apartment.

After riding the elevator, Guo Zhi arrived in front of Shi Xi's room and knocked on it.  Shortly, Shi Xi opened the door, his hair still wet looked like he had just finished bathing.

"Why come here?"

"I have come to ..." Guo Zhi was about to finish his sentence, there was a lazy voice that interrupted, "Who is that?" A woman's voice from under the blanket on the bed.

Who? Guo Zhi's chest feels tight and the atmosphere is suddenly uncomfortable.  He looked at Shi Xi. Could it be that he started writing erotic fiction so he found a woman to make fictional material? Shi Xi could have done that but Guo Zhi could not believe it. He still thinks about the good side.

"Shi Xi, didn't you say you don't have friends?" Guo Zhi asked awkwardly.

The woman's lips twitched, she brushed the blankets off the bed with messy hair.  She wears Shi Xi's shirt without long pants, exposing her long legs. She looked at Guo Zhi, there was a ridiculous look in his eyes as if to say how could Shi Xi know people like Guo Zhi.

The woman stands behind Shi Xi, hugs Shi Xi's waist tightly, and supports her chin on Shi Xi's shoulder. "I'm not his friend, I'm his wife."

🌻🌻🌻

Nov 24, 2019

19. Guo Zhi to Shi Xi

Oh, My Dear! Chapter 19.

-•-

Guo Zhi chose the faculty of economics, following his father's orders. Whereas Shi Xi chose psychology.

Not in the same class, building or dormitory. Does not make Guo Zhi despair. As long as he can meet Shi Xi, Guo Zhi doesn't care.

Many things he wanted to tell Shi Xi during the two months of his summer vacation.  About the camera he just bought, about him working part time and many other things. Of course he wouldn't say that all the time he always thought of Shi Xi.
 .
 .

After checking his name and class, Hua Guyu turned around and realized Shi Xi was standing next to him. Seeing the change in Shi Xi's appearance, he realized they were also in one faculty. "I hate you. I hate you with all the good looks I have."

"What an idiot."  Shi Xi returned indifferently. Hua Guyu showed an expression of pain knowing Shi Xi was even taller than him.

"Can you just let me be the only handsome?"

"Get lost!"

"What kind of attitude is that? I have decided, I will continue to be around you and blaspheme you until you become ugly and can't see me anymore."

"Did you just confess your feelings?"

"Heh, I don't like you. The weirdo Guo Zhi is enough."

"Hua er." Guo Zhi appeared and entered the registration room. Seeing Guo Zhi's arrival, Hua Guyu froze and quickly revealed a smile, "Guo Zhi."

"Hua er, did you talk to Shi Xi? I didn't know you also chose psychology."

"Nonsense. I want to know why the girls like me so much." He explained without hesitation.

"Really? Of course, because you're handsome!" boast Guo Zhi sincerely.

"Superficial reason."  Hua Guyu spoke like that but his expression was so arrogant.  Before leaving, he turned to Shi Xi. "Don't forget my sight of hatred!"

After Hua Guyu's departure, Guo Zhi turned to look at Shi Xi. "Awesome ah, even Hua er likes you."

Shi Xi has started to get used to Guo Zhi's praise. "Why are you here?"

"Of course to help organize your room."

"I don't live in a dorm."

"Amazing!"

"I live in a dormitory."

"Really amazing."

"I want to hit you now."

"What kind of nonsense is that? Bad guy."  Guo Zhi smoothed his lips.

After waiting for Shi Xi to finish his business. They walked out but Guo Zhi suddenly stop Shi Xi.  "Wait a minute, I'll help you find good material."

Guo Zhi took out his cellphone, called Guo Ruojie. "Cousin, come out to play."

"Lazy." Guo Ruojie said while yawning.

"My parents gave you lots of delicious snacks."

"Where are you?"

"I'm waiting at the campus gate."

Both of them stood at the gate for a few moments before finally the one they were waiting for came over. Guo Zhi enthusiastically turned to Shi Xi. "That's her. What are you going to write? A bitch?"

"There's nothing special from ordinary people like that to write about."

"Why not? She is very lazy. You just see her hair is very messy, her clothes are rarely washed, too lazy to do anything, more often lay in bed, yawning wide and scratching her buttocks. Even if the zipper pants open, she is too lazy to pull it no care her underwear be seen." Guo Zhi explained in detail.

This impolite conversation took place in front of Guo Ruojie.

Guo Ruojie just woke up and was too lazy to respond. "Where's the food?"

Guo Zhi took out a plastic bag filled with snacks from his backpack. He looked back at Shi Xi. "You see, only food can pull her. Isn't it like a dog?"

Guo Ruojie glared at Guo Zhi, "If you were not my cousin, you are dead!"

"Cousin, what are you saying? You look very angry."

Guo Ruojie snatched the bag of snacks from Guo Zhi's hand then turned and left.  Too lazy to deal with both of them.

Guo Zhi opens the photo gallery on his cellphone then shows Shi Xi a moment before resuming storing his cellphone.

"How is it? How will my cousin do prostitution?" Guo Zhi asked nervously.  Others who happened to pass by overheard and stared at Guo Zhi in horror.

"She will only become a prostitute without a customer."

"That's ..." Guo Zhi wanted to talk again but saw that Shi Xi's expression changed even a little, he could realize it. He did not continue his words. Don't want to disturb Shi Xi's idea.
 .
 .

The residence chosen by Shi Xi is still the same as before. Formerly it was a hotel and then converted into an apartment.

In front of the room there is a terrace and then there is a wardrobe, a large bathroom. Almost like a single room in a hotel. There is only one bed, sofa and computer desk, yellow wallpaper, TV hanging on the wall, the campus can be seen from the window. Guo Zhi is standing there. He likes this room, it can't be explained. He felt comfortable either because of the room's decoration, or because Shi Xi was here.
 .
 .

After finishing helping Shi Xi arrange his things, they returned to campus. Outside the apartment many people were passing by with cellphones in their hands, listening to music. Busy with their own lives.

Guo Zhi stopped in front of a shop, peered inside but was hesitant to enter. As soon as he turned around, Shi Xi was nowhere near him. Guo Zhi is not yet familiar with the route here. Although he could see the appearance of the upper part of the university building, Guo Zhi did not know the way to get there.

"Shi Xi." Guo Zhi shouted at the crowd.

A woman saw a confused Guo Zhi approaching. "Handsome brother, we just opened a barber shop with a free creambath promo and haircut. Only applies today. Do you want to come with me? Your hair style also needs to be fixed."

"But,"

"It's free. Our barbershop is very experienced. Come with me."

Guo Zhi watched the woman in front of him. In this hot weather, she works hard to find customers and its free, so what will they get?!

"Where?"

"Across the street. I didn't lie to you. You can see our shop's signboard." With a strategy like this, the actual free offered is not completely free. They can get more money just by persuade with words.

Before Guo Zhi had followed the woman, Shi Xi intercepted him. "Idiot. Don't follow strangers that easily." His tone of voice sounded angry.

The woman turned and looked at Shi Xi.  "Your friend is coming too. Let's go together."

"No!" Reject Shi Xi coldly.

The woman was still trying to show a friendly face.

"Haven't you ever read until you don't understand what I'm saying?"

The woman snorted in disgust and then left to look for another customer.

"That woman is very friendly, you scared her."

"Friendly my ass!"

Guo Zhi lowered his head with frowning lips. Shi Xi's brow furrowed at the sight.  "What expression is that? How can someone as big as you lose direction?"

"I..."

"Use your excessive praise for your brain."  Said Shi Xi then left Guo Zhi who now looked up with his lips still frowning. He sees Shi Xi enter the cellphone shop.

After a while, Shi Xi came out holding a new cellphone. "What were you doing there? Come here!" Guo Zhi approached, "Give me your cellphone!" Shi Xi continued.

"Do you have a cellphone number?" Guo Zhi no longer frowned, his lips curved into a smile.

"With this I can find you." Shi Xi replied reflexively.

Guo Zhi returned to his cellphone, holding it warmly. "Actually, without a cellphone you can find me."

"Quickly delete my number."

"Do not want." Guo Zhi keeps his cellphone behind his back.
 .
 .

They are not aware and it is impossible to change it. As long as time goes on, that change will occur. Nothing will be like before, and nothing will repeat the past.

Guo Zhi wants to show the beautiful side of the world. He doesn't lie about helping Shi Xi find his fictional material, bring a friend for him and then bring his feelings to Shi Xi.

🌻🌻🌻


1. If I were an Ordinary Student...

If I were an ordinary student, would you love me?

Judul asli: ε¦‚ζžœζˆ‘ζ˜―ε­¦ζΈ£δ½ δΌšηˆ±ζˆ‘ε—
Author: ιΊ¦θŠ½ι±Όι±Ό
Length: 13 Chapter
Genre: Danmei, highschool, sweet
Bahasa asli: china
Translated by Chocosalty 



"Apa kau menyukaiku?" Mengeluarkan uang lima yuan.

"Suka!!! Jika gunung menjadi datar, sungai kering, musim dingin bergemuruh, musim panas turun salju, langit dan bumi bersama-sama, aku tetap menyukaimu!" *Memeluk paha*

Jika ditanya, siapa yang paling dibenci didunia ini, itu adalah si tetangga perfect.

Namun suatu hari, kau menciduknya tengah membaca danmei dengan kalian berdua sebagai couple.

Apa yang akan kau lakukan?

Wang Xuzhi: Fck! Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia punya uang.

Kau menyukaiku, aku suka uang dan kau punya uang, kita ditakdirkan satu sama lain!

Siswa cerdas, anak orang kaya, pura-pura takut kegelapan Gong x Siswa biasa, anak orang miskin yang mata uang, kasar dan tidak masuk akal Shou.


🌼🌼🌼

Wang Xuzhi dan Cheng Yueming adalah musuh bebuyutan. Kedua lelaki itu tidak saling memandang. Satu siswa biasa urakan dan satu siswa cerdas tiran. Satu generasi kedua yang miskin dan satu generasi kedua yang kaya, tidak cocok satu sama lain. Setidaknya ini terlihat di mata Wang Xuzhi.

Sampai suatu hari Wang Xuzhi menciduk Cheng Yueming di sekolah benar-benar menonton danmei rate H, dan tokoh utama couple adalah mereka berdua! Danmei! H!

Wang Xuzhi: Apa yang harus aku lakukan? Ini mengerikan ...

🌼🌼🌼

CHAPTER 1

"Wang Xuzhi!! Kau ingin ayah mati karena emosi dan mengambil alih tiga hektar ladang kubisku?!!" Wang Shihong memegang kemoceng bulu ayam dengan tangan yang lain mengibas kertas ujian. "Terakhir kali  50 poin, kali ini hanya 15 poin? Apa yang diserap otakmu?!!"

Wang Xuzhi menciut di sudut, sekarat dan berjuang, "Ayah! Tenang! Ibu melihat kita, huhu ... dia berkata sebelum meninggal, ayah harus menjagaku dengan baik, bagaimana ayah bisa memukuliku di depan wajahnya?!"

"Benar juga ..." Wang Shihong mengangguk, melirik potret mendiang istrinya yang dipajang diruangan itu. Dia berjalan mendekat dengan wajah penuh kasih sayang dan menyentuh kepala Wang Xuzhi. "Putraku ..."

“Ayah~~” Wang Xuzhi mendongak dengan wajah sengsara. Dalam hati, dia bersorak akhirnya bisa lolos.

"Hei!" Wang Shihong menjambak rambut putranya dan menyeretnya, "ayo keluar, aku akan memukulmu diluar."

"WTF!!! Tolong!!! Selamatkan aku~~~"

-•-

"Hei! Kau lihat itu Wang Xuzhi! Bagaimana dia terluka lagi?"

"Sshh, aku dengar dia berandalan dan normal saja ada sedikit luka di tubuhnya."

"Wow! Ini sangat keren!"

Wang Xuzhi menggaruk hidungnya. Bagaimana dia tidak tahu bahwa dia dipandang sebagai berandalan.

Dia kemudian mengelus pantatnya, dan berkata dengan suara berbisik, "Sial, ini sangat sakit, ayah si tua bangka itu benar-benar memukul pantat Laozi dengan sepenuh hati."

Ketika berjalan ke ruang kelas, dia meletakkan tas di atas meja. Karena kebiasaan, dia tanpa sadar mendaratkan pantatnya ke kursi. "Aw!" Dia menjerit dan berdiri lagi.

Seketika menjadi pusat perhatian satu kelas.

"Lihat apa?! Baru sadar kalau aku tampan?! Jangan menatapku!" Wang Xuzhi melototi mereka dan akhirnya memilih untuk berdiri.

Ketika bel kelas berbunyi, seorang siswa laki-laki dengan gaya rambut yang menyegarkan, senyum di wajahnya, matanya sedikit tajam dengan bulu mata yang panjang berjalan masuk. Itu adalah karakter dewa sekolah. Menarik perhatian semua orang.

Cheng Yueming, tetangganya, musuh bebuyutan, teman sekelas, meja depan dan belakang.

"Xuzhi, kenapa kau hanya berdiri? Menghalangi pandanganku." Setelah Cheng Yueming duduk, dia menopang dagunya di satu tangan dan menatap Wang Xuzhi sambil tersenyum.

Cheng Yueming ini adalah tetangga Wang Xuzhi. Tidak ada keraguan bahwa tragedi kemarin pasti dia jadikan bahan tontonan sambil duduk di kursi goyang dan memegang secangkir teh.

Katanya untuk melihat pemandangan ini, dia juga meminta ayahnya untuk membangun sebuah meja pengamat untuknya, seperti akan menikmati pemandangan indah bunga krisan.

Wang Xuzhi yakin bahwa orang ini tahu pantat berharganya menderita dan dia dengan sepenuh hati menjebaknya, ketidakpuasan di hatinya pecah sekaligus.

Dia menoleh, mengangkat jari tengahnya dan berteriak, "TIDAK!"

"Ada apa ini? Wang Xuzhi, jika kau tidak duduk, pergi berdiri di luar." Pada saat ini, seorang wanita dengan wajah galak dan suara tajam memasuki kelas.

Sial! Guru kelas!

Wang Xuzhi diam-diam merutuk Cheng Yueming, membuatnya terjebak lagi. Dia tidak takut pada guru kelas, tapi dia takut panggilan orang tua.

“Baik, aku duduk.” Orang bijak tunduk pada keadaan, Wang Xuzhi membuka bangku, berjongkok, tegap dan sopan.

Apa yang tidak bisa dilakukan Wang Xuzhi, dia bermuka tebal, kuat, dan tampan.

Cheng Yueming yang duduk di belakangnya dan menepuk pundaknya, "Xuzhi, rendah sedikit. Kau menghalangiku."

Wang Xuzhi seketika merasa dahinya berkedut dan dia melafalkan beberapa kata di dalam hatinya, 'Laozi jangan marah, Laozi jangan marah,' dia meliriknya sambil menggigit giginya. "Tidak bisakah kau lebih tinggi?"

Cheng Yueming mengambil kesempatan ketika guru tidak memperhatikan, bergerak ke sisi telinga Wang Xuzhi. Dia berkata pelan, "Tidak."

Udara panas yang keluar langsung mengenai leher Wang Xuzhi, membuatnya merinding, kakinya seketika lunak membuat pantatnya terbanting ke kursi. "Awww!!!" Jeritnya kesakitan.

"Kalian berdua berdiri diluar!!!"

-•-

Di luar kelas, Wang Xuzhi dan Cheng Yueming berdiri bosan, suasana kental.

“Terima kasih.” Wang Xuzhi mengusap pantatnya dan melirik Cheng Yueming, memecah ketenangan.

Cheng Yueming balas menatapnya dengan sedikit keraguan di matanya, "Terima kasih? Kau benar-benar aneh, jelas karena aku, kau dihukum berdiri."

"Aku tidak ingin mendengarkan ocehan wanita tua itu. Kebetulan bisa keluar dengan mudah dan intinya adalah ditemani olehmu." Wang Xuzhi mencondongkan tubuh ke samping dan tersenyum pada Cheng Yueming, kepalanya menempel di dinding, mendengar suara si wanita tua didalam.

Mata Cheng Yueming membelalak, tertegun menatap Wang Xuzhi, wajahnya diam-diam menghangat, pandangannya berkilau.

"Selama kau tidak bisa mendengarkan pelajaran."

Seketika wajah Cheng Yueming langsung berubah menjadi kaku.

Wang Xuzhi tidak menyadari keanehan itu dan melanjutkan, "Kau tidak bisa mendengarkan kelas, itu adalah penghiburan terbesar bagiku."

... Sialan.

"Guru! Cheng Yueming dan Wang Xuzhi berkelahi!"


🌻🌻🌻



Nov 22, 2019

10. Merangkul Tong Tong


Deskmate, wake up! Chapter 10.

.

Suasana di koridor agak sepi.

Zhou You mengerjap beberapa kali, kemudian tidak bisa menahan tawa, "Tidak, apa kau linglung setiap hari?"

"Apa?" Tong Tong salah fokus ke aksennya.

"Maksudku... tunggu sebentar." Zhou You membungkuk dan kembali mengumpul lembaran uang yang tercecer sambil bicara. "Tidak, bagaimana aku pergi ke rumahmu untuk mandi kau sebut nakal? Ini tidak seperti aku pergi ke rumahmu membantumu mandi."

“Kau masih mau bantu aku mandi?” Tong Tong kaget.

 "..............."

Zhou You menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan dua uang kertas 100 yian dari karung dan menyerahkannya ke tangan Tong Tong. "Aku tidak punya air di rumah, apa aku bisa mandi dirumahmu?"

"Bisa." Tong Tong mengangguk.

Ketika suara air berbunyi di kamar mandi, Tong Tong masih tidak mengerti maksud Zhou You.

Tong Tong melirik tas karung didekat kakinya.

Ini benar-benar pertama kali dia melihat begitu banyak uang, bukan hanya deretan angka nol di kartu bank.

Zhou You tinggal di lingkungan seperti ini bisa dilihat situasinya. Selain itu, Tong Tong juga tidak melihat Zhou You tampak seperti orang kaya dan bahkan tidak memiliki arloji.

Tapi tiba-tiba membawa pulang begitu banyak uang, dan itu semua adalah uang tunai.

Tong Tong merasa terlalu mencurigakan.

Ini bukan merampok bank tetapi seperti mengambil celengan anak di lantai bawah.

Suara air di kamar mandi berhenti, Zhou You dengan handuk dikepala berjalan keluar.

Tong Tong memandangnya dan bertanya, "Kenapa kau tidak hadir dikelas mandiri malam?"

"Aku mengambil uang.” Zhou You berjalan mendekat, membungkuk, tersenyum menepuk karung itu.

Otak Tong Tong terkejut, "mencuri uang itu ilegal."

"Apa yang kau bicarakan, aku pergi--" Kalimat Zhou You terhenti.

Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia menagih utang.

Meskipun baru kenal beberapa hari ini, dia bisa melihat Tong Tong sensitif dan tahu bahwa keluarga Tong Tong berada dalam situasi ini. Dia tidak bisa mengatakan ini.

Mata Tong Tong menjadi semakin skeptis, dan tangannya menyentuh ponsel di sakunya.

Zhou You benar-benar tidak menyadari bahayanya semakin dekat, mencoba menjadi samar, dan mabuk oleh alkohol yang tersisa di tubuhnya. "Anjing itu, aku harus minum lebih dari 20 cangkir mengambil kembali uang."

Wajah Tong Tong menjadi rumit, tangannya dikeluarkan dari saku celananya.

Dia berpikir bahwa jika Zhou You mencuri, dia akan memanggil polisi.

Tapi dia tidak bisa melaporkan Zhou You anak di bawah umur yang minum.

Minum 20 gelas anggur bisa kembali membawa banyak uang, detak jantung Tong Tong melonjak, hanya ada satu kemungkinan.

Dia mendengar bahwa beberapa wanita dewasa ada yang suka siswa sekolah menengah seperti Zhou You.

Meskipun Tong Tong tidak banyak bertanya, dia tidak banyak bicara, tapi dia masih memikirkannya dan berbisik, "Kau lain kali jangan pergi, hal semacam ini, tidak terlalu ... tidak terlalu bagus."

"Ah?" Zhou You mengira dia dinasehati karena minum. "Tidak apa, aku sudah terbiasa dengan itu."

Tong Tong, "........."

Zhou You yang masih berdiri di luar pintu, seketika mendapati pintu ditutup dengan suara keras.

Dia menyentuh bagian belakang kepala dan bersiap maju.

Pintu terbuka lagi, dan dia melihat karung uangnya terlempar keluar.

"Hei--" Zhou You hanya ingin bertanya apa yang terjadi, dan pintu dengan cepat kembali ditutup.

Zhou You tertegun menatap pintu yang tertutup, menggaruk kepalanya.
.
.

Keesokkan paginya, Tong Tong bersiap pergi ke sekolah, melihat ke pintu seberang yang tertutup.

Dia ingin mengetuk pintu, berpikir sebentar.. mengurungkan niat.

Mereka bukan gadis yang harus ke toilet atau pergi ke sekolah harus bersama-sama btw.
Tapi Tong Tong memikirkan tentang semalam, dia membeli lebih sarapan.

Ketika tiba di ruang kelas, hampir banyak yang sudah datang. Kaki depan Tong Tong baru saja memasuki ruang kelas, ada suara berlari di belakangnya.

“Kenapa kau tidak memanggilku untuk berangkat bersama?” Zhou You meletakkannya di bahunya, terengah-engah, mengeluh. “Aku menunggumu."

Tong Tong tidak terbiasa dengan gerakan intim seperti itu dan menepis tangannya.

Zhou You tidak peduli, kembali merangkulnya, kali ini dengan penuh kekuatan.

Tong Tong sama sekali tidak bisa membebaskan diri, "...."

Zhou You dengan bahagianya membawa Tong Tong memasuki kelas.

Zhuang Qian menghampiri mereka dan melepas tangan Zhou You dengan tidak senang, "Siapa kau main peluk-peluk? Kau tidak boleh memeluknya."

Zhou You mengangkat alisnya, kembali merangkul Tong Tong, "aku memeluknya."

Zhuang Qian meraih Tong Tong dan berkata, "Peluk pamanmu."

Tong Tong, "........."

"Sialan -" Tong Tong baru saja bersiap untuk mengumpat.

Zhou You membungkuk dan dengan sengit kembali merangkul Tong Tong kemudian berlari dengan cepat duduk dibangku mereka.

Tong Tong, "..............."

Zhuang Qian ditinggal berdiri mematung, emosi.

Dengan cepat bergegas dan duduk bersama Tong Tong. Zhou You melempar senyum bahagia ke arah Zhuang Qian.

Setelahnya, keduanya sarapan sebelum direktur Li datang.

Tong Tong selalu lambat makan, jadi ketika dia baru mengunyah dua gigitan roti kukus, Zhou You sudah selesai memakan rotinya.
Zhou You masih lapar dan bersiap untuk minum untuk mengisi perut, namun baru membuka botol air mineral, lengannya terasa sakit.

Zhou You mengerutkan kening dan menatap tangannya. Semalam mengganti perban, dia tidak merasakan sakit.

Seharusnya tidak ada apa-apa, mungkin karena memukul tinju kemarin pagi ja sekarang sedikit sakit.

Tong Tong yang hanya melihatnya menonton botol air mineral mencibir dalam hati, orang ini bahkan tidak bisa membuka botol.

Tidak ada masalah dengan lengannya, Zhou You beralih melihat tatapan Tong Tong dan merasa lucu.

Tutup botol yang longgar di bawah tangannya, diam-diam dia kencangkan, lalu menyerahkannya, "aku tidak bisa membuka tutupnya."

Tong Tong terkejut, tetapi wajahnya tidak menampakkan, dia dengan tenang membukakan tutup botol lalu mengembalikannya.

Disisi lain, pandangan Zhuang Qian yang hina hampir meluap, mencibir orang ini hanya tinggi tetapi lemah, otot-otot diperkirakan tidak minum protein.

"Ada apa bro?” Perasaan ancaman Zhuang Qian dihilangkan. Dia tersenyum pada Zhou You. “Sepertinya kau tidak bisa melatih kekuatanmu. Tidak banyak olahraga ah?”

"Ya." Zhou You merendah.

"Tidak apa, jangan merendahkan dirimu. Meskipun kau tidak memiliki kekuatan di otot, kau sangat tampan. Kau bisa menakuti orang." Zhuang Qian menepuk lengannya yang kuat. "Jika kau merasa kesulitan di masa depan, bisa katakan padaku."

"Zhou You," Zhou You tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Zhuang Qian.” Zhuang Qian juga tersenyum.

Keduanya berjabat tangan.

Masih ada lebih dari 10 menit belajar mandiri pagi, dan para adik yang tersebar telah berkumpul dan melaporkan nama.
Ada 40 siswa di kelas seni liberal, dan siswa laki-laki termasuk Zhou You berjumlah 11 orang. Dan dalam waktu singkat, mereka sudah akrab dengannya.

Untuk menstabilkan posisi pemimpinnya, Zhuang Qian menunjukkan kekuatannya depan para adik.

Kontes adu panco ke-53 segera diumumkan.

“Zhou You brother, ayo adu kekuatan tangan,” Zhuang Qian tersenyum rendah hati, “Aku akan menunjukkan padamu kekuatanku, ayolah.”

Zhou You ingin mempertahankan persaudaraan ini dan sulit memenangkan. Saat pertandingan dimulai, dia menggunakan hanya sedikit kekuatannya.

Tapi dia meremehkan dirinya sendiri dan melebih-lebihkan Zhuang Qian.

Semenit kemudian, para adik yang bersorak seketika speechless.

Dahi Zhuang Qian penuh dengan keringat, dan urat biru mencuat di lehernya.

Sementara Zhou You tampak santai, meluangkan waktu untuk mengambil roti Tong Tong yang tersisa, dan sambil memakan roti, dia membantu Tong Tong mendorong meja yang desak oleh kerumunan para adik disekitarnya.

Dua menit kemudian, Zhou You melonggarkan kekuatan sedikit lebih.

Tapi tak berdaya, Zhuang Qian tampaknya lebih lelah.

Menonton wajah hijau Zhuang Qian, Zhou You ingin menyelamatkan brotherly feeling pada akhirnya.

"Oh," Zhou You menuangkan tangannya ke bawah.

"Sialan!” Zhuang Qian emosi, menggulung lengan bajunya dan berjalan pergi.

Persaudaraan itu rusak.

Zhou You dengan berduka memeluk satu-satunya sisternya.

"Lepas! Jangan mencekikku!" Teriak Tong Tong.

Ketika belajar mandiri malam, Zhuang Qian tidak datang. Mungkin kehilangan muka.

Setelah kelas malam, kedua sister pulang bersama.

Saat akan masuk ke rumah masing-masing, Zhou You bicara dengan sangat serius. "Besok kita akan pergi bersama, kau harus memanggilku."

"Aku tidak mau.” Tong Tong mendengus dan memasuki pintu.

Setelah memasuki rumah, ada senyum di wajahnya.

Letakkan tas, Tong Tong menemukan bahwa ibunya belum kembali.

Tong Tong melihat ponsel dan tidak melihat ada pesan dari ibunya.

Ibunya mengajar kelas malam, kadang-kadang dia lelah dan akan bermalam di tempat les, tetapi biasanya dia akan menghubungi.

Tidak pernah ada situasi seperti tidak menelepon atau mengirim pesan seperti hari ini.

Diperkirakan waktu kelas telah berakhir, Tong Tong memutar alisnya dan menelepon ibunya, mendapati telepon tidak aktif, suasana hatinya mulai tidak tenang.

Keluarganya pindah selain karena murah di sini, juga untuk menghindar dari penagih utang.

Rumahnya yang dulu diserang sekelompok orang sebelum dia pindah.

Orang-orang itu tidak hanya merusak benda, tetapi juga memukuli orang.

Tong Tong menjadi lebih takut, takut orang-orang itu akan menemukan ibunya. Dia bergegas keluar rumah dengan ponselnya.

Tepat di luar gang, di jalan, ponsel Tong Tong tiba-tiba berdering.

Melihat ibunya yang menelepon, Tong Tong dengan cepat mengangkatnya.

Menebak Tong Tong pasti khawatir, ibunya berbicara dengan cepat. "Ada kelas yang terlambat hari ini, orang tua siswa tidak punya waktu untuk menjemput hari ini, ibu mengirimnya pulang, lalu kembali lagi ke tempat les, ibu tadi akan meneleponmu tetapi ponsel ibu lowbat. Kau tidak datang mencari ibu kan?"

"Tidak, aku baru selesai mandi dan akan tidur. Bu, kamlu harus istirahat lebih awal." Tong Tong menghela nafas lega.

"Hm, ibu akan kembali besok pagi dan memberimu sarapan," kata  Pei Yun sambil tersenyum.

“Oke, sampai jumpa.” Tong Tong juga tersenyum dan berbalik, siap untuk kembali.

Tiba-tiba, cahaya sebuah mobil muncul disisi jalan.

Tong Tong terkejut, matanya silau oleh cahaya yang kuat, berpikir tentang menghindari mobil, dia melangkah mundur namun kakinya tersandung sesuatu.

Pengendara mobil itu juga terkejut dan membunyikan klakson. Tong Tong tidak punya waktu untuk menghindar, dia hanya bisa menjerit dan terjatuh.

Butuh beberapa saat sebelum bereaksi.

Tong Tong bangun terduduk dan mendengarkan suara mobil melaju pergi.

Dia memutar alisnya dan mengumpat, memeriksa keadaan tubuhnya, dia tidak tertabrak, hanya terjatuh.

Saat mencoba berdiri, pergelangan kakinya nyeri, dia duduk kembali di tempat yang sama.

Sekarang benar-benar gelap, dan ini bukan tempat ramai. Hanya ada tiga lampu jalan dan dua sudah rusak.

Tong Tong kemudian memandang sekeliling dibawah cahaya redup, dan menilai bahwa dia seharusnya jatuh di parit.

Ada sebuah parit kecil di dekat gang, dan pagar pembatas tepi parit tidak setinggi betisnya. Dia pasti tersandung pagar pembatas.

Untungnya, hanya ada air di tengah danau, dikelilingi oleh lumpur dan beberapa sampah.

"Ada orang di bawah! Apa yang terjadi!" Suara pria tiba-tiba datang dari atas.

Tong Tong tertegun sebentar, menatap tubuhnya penuh lumpur dan merasa terlalu malu. Dia berpikir tentang istirahat dan memanjat sendirian, jadi dia melihat ke atas dan berteriak. "Aku menangkap ikan!"

"Jangan ditangkap! Itu peliharaan orang lain!" Pria di atas berteriak lagi.

Suara laki-laki terdengar akrab, kelopak mata Tong Tong berkedut.

“Oh, kenapa kau tidak mengatakan apa-apa?” aksen utara keluar.

Zhou You???

Mati!

Tong Tong tidak ingin memikirkan apa yang Zhou You lakukan pada malam selarut ini, tetapi dia lebih malu terciduk.

Setelah menyusun ide, Tong Tong takut suaranya dikenali, jadi dia meremas tenggorokannya dan berteriak, "Aku yang pelihara!"

“Tong Tong!” Suara Zhou You terdengar sangat terkejut.

"Bukan!” Tong Tong ketakutan.

“Apa yang kau lakukan di bawah!” Zhou You berteriak.

"Sudah aku katakan! Tangkap ikan!" Tong Tong kesal.

"Di mana kau jatuh! Aku akan turun!"

“Aku menangkap ikan!” Tong Tong masih bersikeras.

“Kaki kiri atau kanan!” kata Zhou You sambil berjalan menuruni tangga besar.

"... kaki kiri." Tong Tong tak berdaya.

Dia berpikir dan berteriak lagi, "Disini licin, jalan pelan-pelan!"

Suara Tong Tong baru saja keluar.

"Ai! Ai! Ai! Ai!" Zhou You berseru seperti menyanyikan Hip hop, tampaknya dia telah terselip dan jatuh.


Setelah berguling dua kali, dia tergeletak tidak jauh dari Tong Tong dan tidak bergerak, juga tidak mengatakan apa-apa.

Tong Tong, "........................"

“Ada apa!” Teriak Tong Tong.

Setelah beberapa lama, suara Zhou You yang tertekan terdengar, "... Sepertinya kakiku keseleo."

 “Tunggu, jangan bergerak!” Tong Tong berdiri dengan kesal.

🌻🌻🌻